Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasoDei
Warning: OOC, AU, typo(s), shonen-ai, gaje, aneh, dll.
Ada-ada saja ulah para fans untuk menyatukan Sasori dan Deidara, seniman dan artis terkenal yang sedang naik daun. Mereka bahkan membuat sebuah perkumpulan dan menamai diri mereka sebagai 'Reloves'. Apakah 'misi' mereka akan berhasil?
~SasoDei FansClub: Reloves~
"Apa kau terluka?" satu lagi pertanyaan penuh nada khawatir terlontar dari bibir Sasori.
"Tidak, aku ti–" ucapan Deidara terpotong saat ia menyadari betapa dekatnya wajah Sasori dengan wajahnya.
'jepret'
Sasori dan Deidara tersentak.
Suara apa itu?
"Hehehehe~" gadis berambut merah muda yang tadi menabrak Deidara, tertawa pelan seraya menggenggam sebuah kamera yang membidik kearah Sasori dan Deidara.
-Chapter 3-
"Haaah~!"
Deidara merebahkan dirinya di sofa, kegiatan seharian ini memerlukan tenaga yang lebih besar dari biasanya. Di hari-hari biasa ia hanya menjalankan pekerjaannya, hari ini harus ditambah dengan beberapa kali adu mulut dengan Sasori, manager sementaranya.
Perdebatan pertama di mulai di restoran, saat Deidara jatuh dan Sasori menolongnya. Saat wajah mereka berdekatan secara tidak sengaja, seorang gadis mendapatkan foto mereka LAGI. Lalu gadis berambut merah muda sebahu itu pergi begitu saja diiringi tawa yang cukup mengerikan untuk di dengar.
"Ini salahmu un! Kau tidak seharusnya datang kesini untuk menolongku! Aku kan tidak apa-apa un!"
"Kau menyalahkanku? Kau sama sekali tidak tahu berterimakasih."
"Aku tidak memintamu untuk menolongku kan un?"
"Terserah kau saja. Lain kali aku tidak akan menolongmu jika kau berada dalam kesulitan."
"Tapi tadi aku tidak berada dalam kesulitan un!"
"Tch!"
Begitulah pertengkaran mereka. Selanjutnya diiringi dengan pertengkaran-pertengkaran lainnya, tentang berbagai hal, di berbagai tempat.
Deidara sedikit membuka matanya, memperhatikan Sasori yang masih berdiri di dekat pintu. Salah satu tangannya menggenggam sebuah ponsel yang ia tempelkan di telinga kanannya.
"Heh, lebih baik kau cepat pulang. Nanti dimarahi oleh ibumu~" ujar Deidara setengah meledek.
Sasori hanya memberikan sebuah tatapan tidak suka kepada Deidara kemudian kembali fokus dengan pembicaraannya dengan seseorang.
Deidara meregangkan ototnya kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air –yang tentunya untuk dirinya sendiri, bukan untuk Sasori.
"Jadi..." ucapan Sasori menggantung, menatap nanar lantai di bawahnya.
"Maafkan aku Sasori, keadaan adikku cukup parah, jadi aku meminta pertolonganmu untuk menjadi manager Deidara selama tiga hari ke depan atau lebih. Maaf."
Sasori ingin menolak. Berada satu hari saja di dekat Deidara sudah membuatnya gerah dan jengkel. Sekarang harus di tambah tiga hari lagi? Atau mungkin lebih? Astaga, seandainya saja Itachi bukan teman dekatnya.
Sasori menghela napas. "Baiklah."
"Terimakasih banyak. Satu lagi, kuharap selama kau menjadi manager Deidara, kau mau tinggal dirumahnya karena Deidara belum bisa mengurus dirinya sendiri."
"Kau memintaku menjadi manager atau pengasuhnya hm?"
"...Sasori."
Sial! Kenapa Itachi harus menggunakan nada memelas seperti itu? Dan kenapa Sasori tidak bisa menolak permintan temannya itu?
"...baiklah," sahut Sasori pada akhirnya. "Jadi aku tidur di kamar tidur yang mana?"
"Kau bisa tidur di kamar tidurku, juga bisa memakai bajuku. Kamarku berada tepat di sebelah kamar Deidara dan– oh!"
Sasori mengerukan dahinya, "Oh?"
"Sepertinya tadi aku mengunci semua kamar tidur kecuali milik Deidara. Jadi..."
Sasori rasanya ingin sekali membanting ponselnya ke tembok hingga remuk.
"Jadi aku harus tidur sekamar dengan Deidara?" tanyanya menahan amarah.
"Ya...terpaksa," sahut Itachi.
"...aku akan tidur di sofa."
"Tapi Sas––"
"Sudahlah lebih baik kau rawat adikmu itu."
'klik'
Panggilan terputus.
"Uh? Kenapa kau un? Dimarahi oleh ibumu karena belum pulang un?" tanya Deidara yang bersandar di pintu dapur seraya membawa segelas air dingin.
"Itachi mengatakan tidak bisa kembali hari ini jadi aku akan menjadi managermu lebih lama, mungkin tiga hari. Dan aku harus menginap disini," ujar Sasori seraya mengunci pintu rumah Deidara dari dalam kemudian melangkah masuk ke dalam.
"Huh?" Deidara mengerjapkan mata berkali-kali. "Heh! Aku tidak mau un! Lebih baik sekarang kau pulang dan–"
"Aku sedang tidak ingin berdebat, aku lelah," ujar Sasori pelan, memotong perkataan Deidara. Ia melangkah ke sofa ruang keluarga, merebahkan tubuhnya disana setelah menghela napas lelah.
Entah bagaimana, Deidara merasa sedikit iba melihat Sasori yang lelah karena bekerja seharian untuknya. Menjadi manager Deidara bukanlah kesalahan Sasori. Ia hanya dimintai tolong oleh Itachi. Deidara merasa seharusnya ia bisa bersikap sedikit lebih baik kepadanya. Yah setidaknya kali ini saja.
"Um... kau bisa tidur di kamar Itachi atau kamar tamu un."
Sasori menjawab tanpa membuka matanya. "Tidak. Kamarnya terkunci."
"Yang benar saja?" tanya Deidara tak percaya kemudian bergegas ia berlari ke lantai atas, mencoba membuka pintu kamar Itachi. Tapi...
Sial. Terkunci.
Ia melangkah cepat untuk memeriksa dua kamar tidur lainnya, keduanya merupakan kamar tamu. "Ugh! Kenapa terkunci juga?" bisiknya heran.
Deidara kembali ke ruang keluarga, ia melangkah perlahan menuju sofa, melihat Sasori tengah berbaring disana.
"Sasori?"
Tidak ada jawaban. Ia memperhatikan dada Sasori yang naik turun secara pelan dan teratur.
Sudah tidur ya? Batin Deidara.
Deidara tidak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi perlahan ia masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Sasori yang tertidur di sofa ruang keluarga rumahnya. Namun beberapa saat kemudian Deidara kembali dengan membawa selimut. Ia menyelimuti Sasori dengan pelan tanpa maksud membangunkannya, menyelimutinya hingga sebatas leher.
Tatapan mata Deidara untuk sesaat tidak bisa lepas dari wajah Sasori. Wajah itu terlihat begitu tenang, dan Sasori terlihat begitu polos. Untuk beberapa saat Deidara lupa bagimana menjengkelkannya Sasori saat ia tidak tidur. Sebenarnya tidak menjengkelkan bagi banyak orang, sifat Sasori itu hanya menjengkelkan bagi Deidara saja.
Sebelum Deidara berjalan menuju kamarnya, Deidara ingin sekali menggumamkan kata selamat tidur untuk Sasori. Hanya saja ia merasa malu dengan pikirannya sendiri. Untuk apa ia harus mengatakannya? Namun setelah ia tahu Sasori tidak akan mendengarnya, akhirnya ia berani mengatakannya walaupun dengan sangat pelan.
"...oyasumi un."
.
.
Sasori membuka matanya perlahan namun segera memejamkannya lagi untuk menghindari sinar lampu yang menyilaukan. Ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu lalu kemudian membuka matanya kembali.
Ini bukan kamar tidurnya. Tempat yang asing.
Beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa ia tengah berada di ruang keluarga rumah Deidara. Ia menunduk, ia mengerjapkan matanya saat menyadari selimut yang menyelimuti tubuhnya. Selimut? Seingatnya ia sama sekali tidak memakai selimut saat ia tidur, lagipula ia tidak membawa selimut ke rumah ini.
Apa mungkin Deidara? Pikirnya.
Namun ia ragu. Rasanya mustahil Deidara melakukan itu. Tapi jika dipikir lagi, memangnya siapa lagi yang ada di rumah ini selain dirinya dan Deidara?
Sasori menghela napas sebelum melirik jam dinding. Pukul lima pagi. Sepertinya ia harus mandi dan bersiap-siap. Ia menoleh kesekitarnya, mendapati sebuah pintu yang menurutnya adalah pintu kamar mandi.
Ia segera melangkah ke pintu itu dan saat ia mencoba membukanya... ternyata pintu itu terkunci.
Tiba-tiba saja Sasori merogoh ponselnya dan mendapati sebuah pesan singkat tertera di sana. Sepertinya pesan itu masuk saat Sasori tertidur.
From: Itachi
Sasori, kurasa aku mengunci kamar mandi juga. Jadi jika kau ingin mandi, kau bisa gunakan kamar mandi di kamar Deidara.
Sasori menghela napas putus asa.
Akhirnya ia melangkah ke kamar tidur Deidara. Ia cukup terkejut saat pintu kamar Deidara tidak terkunci.
Jadi ia tidak mengunci pintu kamarnya saat tidur? Batinnya.
Ia melangkah masuk dengan perlahan, entah ia sadari atau tidak, ia tidak ingin mengusik tidur Deidara. Begitu ia masuk, ia menutup pintu di belakangnya dengan sangat pelan. Sasori sedikit tertegun saat melihat sosok yang menggulung dirinya di tempat tidur. Alis Deidara sedikit tertaut dan tubuhnya sedikit gemetar. Sasori segera menyadari bahwa Deidara tidak menggunakan selimut. Mungkinkah selimut yang tadi menyelimutinya itu adalah selimut Deidara?
Sasori bergegas menuju ruang keluarga, mengambil selimut di sofa kemudian kembali ke kamar tidur Deidara. Ia segera menyelimuti Deidara hingga sebatas lehernya.
"Bodoh sekali," bisik Sasori pelan.
Beberapa menit kemudian, wajah Deidara terlihat tenang dan ia sedikit tersenyum di dalam tidurnya.
Sasori tertegun. Wajah Deidara terlihat begitu... cantik dan polos.
Sasori menarik dirinya dari pikirannya tersebut kemudian melangkah menuju lemari, membukanya dan mencari baju yang bisa dikenakan olehnya. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia menemukan sebuah kemeja berwarna cokelat muda dan celana kain hitam panjang. Ia memutuskan untuk meminjam kemeja dan celana tersebut. Segera ia menutup lemari pakaian tersebut dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah lima belas menit membersihkan diri, Sasori keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja yang belum dikancing sepenuhnya sehingga menunjukan dada bidangnya yang masih sedikit basah, juga celana hitam se-mata kakinya. Ia mendapati Deidara masih tertidur dengan nyenyak di tempat tidurnya.
Sasori mengacak rambutnya yang setengah basah. "Dasar pemalas," bisiknya. Sasori melangkah mendekati Deidara.
"Deidara, bangun," ujarnya pelan. Namun Deidara masih tertidur lelap.
"Hey, Deidara. Bangun! Ini sudah pagi," ucap Sasori lagi dengan suara yang lebih keras seraya menepuk pelan pipi Deidara.
Deidara sama sekali belum menunjukan ciri-ciri akan terbangun.
"Deidara!" Sasori mengguncang pelan pundak Deidara. Merasa putus asa, akhirnya Sasori mengambil gelas berisi air dari atas meja. Tanpa ragu sama sekali Sasori menyiramkan air ke wajah Deidara.
"Akh!" Deidara seketika terbangun dan segera duduk di atas tempat tidurnya, mendapati wajahnya basah terkena air. Kemudian ia menatap Sasori yang berdiri di sebelah tempat tidurnya dengan membawa gelas kosong di tangannya.
"Kau yang menyiramku un?"
"Menurutmu?" tanya Sasori seraya meletakkan gelas tersebut kembali ke tempatnya semula.
"Kau tidak perlu sampai menyiramku! Kau bisa membangunkanku pelan-pelan kan un?" tanya Deidara dengan nada meninggi karena marah.
Sasori memberikan tatapan datarnya kepada Deidara. "Sudah kucoba tapi kau tidak mau bangun. Sekarang cepat bangun dan mandi lalu buat sarapan untuk dirimu sendiri."
"Eh! Tapi aku tidak bisa memasak un," ujar Deidara seraya mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya.
"Aku juga tidak bisa," ucap Sasori. "Hm aku meminjam kemeja dan celanamu."
Deidara mengusap matanya dan menguap pelan, "Hmm itu bukan milikku un. Ukurannya berbeda dengan milikku."
"Hm?" Sasori memperhatikan kemeja yang ia gunakan kemudian melirik Deidara. Benar juga, tubuh Deidara lebih kecil darinya. Dan kalau boleh dikatakan, tubuh Deidara terlihat sedikit... ramping?
"Lalu ini milik siapa? Aku menemukannya di lemari pakaianmu."
Deidara menggelang pelan seraya menendang selimutnya. Tunggu. Selimut? Deidara mengerjapkan mata memperhatikan selimut yang setengahnya sudah menyentuh lantai. Bukankah kemarin ia menggunakan selimut itu untuk menyelimuti Sasori? Kenapa bisa ada disini?
"Tidak tau un. Itachi mungkin?" sahut Deidara setelah cukup lama terdiam. Kemudian ia turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi. Sekali lagi ia menguap kemudian berkata, "Tunggu di lantai bawah un."
Sasori mengangguk kemudian keluar dari kamar Deidara.
Itachi terlalu memanjakannya, Sasori membatin saat ia turun ke lantai bawah.
Untuk sarapan, jika Sasori mengajak Deidara untuk makan di luar, itu berarti Sasori memanjakannya juga. Selama beberapa hari ke depan Sasori akan selalu berada di sisi Deidara, jadi ia harus berusaha untuk membuat Deidara bisa bersikap mandiri. Sasori berjalan ke dapur dan membuka kulkas, mendapati bahan-bahan mentah seperti sayur, telur, dan daging. Namun juga terdapat mie instant dan ramen instant.
Sasori mengangguk pada dirinya sendiri. Sepertinya ia tidak akan memaksa Deidara untuk memasak karena itu hanya akan membuang-buang waktu. Sasori segera membuat secangkir kopi lalu duduk di sofa ruang keluarga seraya menonton Televisi.
"Sasori! Kita berangkat sekarang un?"
Sasori menoleh ke arah tangga, mendapati Deidara yang sepertinya sudah siap untuk berangkat. Sasori menyeruput kopinya sekali lagi. "Kau perlu sarapan sebelum berangkat."
"Uh. Tapi aku tidak bisa memasak. Kita makan di luar saja un."
"Tidak. Makan di luar akan menghabiskan cukup banyak waktu, jadi lebih baik kau sekarang siapkan sarapan untuk dirimu sendiri," sahut Sasori kemudian kembali terfokus untuk menonton Televisi.
Deidara mengerutkan dahinya. "Biasanya Itachi yang menyiapkan sarapan untukku un."
"Hm," sahut Sasori seadanya.
Deidara menghela napas kemudian melangkah menuju dapur. Ia membuka kulkasnya dan tidak menemukan apapun yang bisa langsung di makan.
Itachi bahkan tidak pernah membeli roti, batin Deidara kesal.
"Sasori! Tidak ada yang bisa dimakan un."
"Itu berarti kau harus memasak," sahut Sasori dari ruang keluarga.
"Tapi aku tidak bisa memasak!"
"Kalau begitu makan sayur atau daging mentah saja."
"Ish! Dasar orang aneh," bisik Deidara pelan kemudian matanya tertuju kepada dua buah ramen instant. Deidara mengambil salah satunya kemudian membaca petunjuk yang tertera pada kemasannya. Ia mengambil ramen tersebut, namun saat ia ingin menutup pintu kulkasnya, matanya tertuju pada ramen lain di dalam kulkas. Setelah berpikir cukup lama, Deidara memutuskan untuk mengambilnya juga.
Sasori meletakkan cangkir yang sudah kosong di atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, sedikit penasaran dengan apa yang tengah Deidara lakukan di dalam dapur, pasalnya sejak sepuluh menit yang lalu Deidara sama sekali tidak bersuara.
"Sasori!"
Akhirnya terdengar juga suaranya.
"Cepat kesini un!"
Sasori memutar bola matanya. Ia tahu Deidara pasti tengah kesulitan dengan sesuatu hal dan memerlukan bantuannya. Dengan membawa cangkir yang sudah kosong, Sasori berjalan menuju dapur.
"Ada apa?" tanyanya saat ia memasuki dapur. Ia mengernyit saat melihat Deidara tengah duduk di salah satu kursi. Di atas meja terdapat dua mangkuk ramen lengkap dengan sumpitnya, juga dua gelas air putih. Sasori memberi tatapan bingung kepada Deidara.
"Cepat duduk dan makan. Supaya tidak terlambat un."
Oh? Deidara menyiapkan makanan untukku juga?, batin Sasori.
Sasori akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Deidara, meletakkan cangkirnya di atas meja. Sasori menatap ramen di hadapannya yang masih panas kemudian ia melirik Deidara yang sudah mulai memakan ramennya. Sasori sedikit tersenyum kemudian mencoba ramen yang Deidara buat untuknya.
"Um, bagaimana rasanya un?" tanya Deidara harap-harap cemas. Pasalnya ini benar-benar pertama kalinya ia membuat makanan, walaupun instant.
"Sedikit hambar, sepertinya air yang kau masukkan terlalu banyak," ucap Sasori jujur.
Deidara terlihat sedikit menunduk, dan seketika Sasori merasa bersalah.
"Mm itu tidak buruk. Aku lebih suka yang seperti ini," ucapnya.
"Benarkah un?" tanya Deidara dengan wajah berseri dan mata berbinar.
Untuk beberapa saat Sasori tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Deidara, namun kemudian ia mengalihkan pandangannya dan mengangguk. Senyuman Deidara tadi benar-benar membuatnya... entahlah, Sasori merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya saat melihat senyuman Deidara tadi.
"Kalau begitu cepat habiskan un!" ujar Deidara bersemangat kemudian kembali menyantap ramennya.
.
.
"Ini skenario terbaru untuk film ini, ada sedikit perubahan, tolong berikan ini kepada artismu," ujar sang sutradara seraya menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Sasori.
Sasori menerimanya dan mengangguk. Kemudian ia membaca tulisan diatas kertas tersebut. Disana tertulis jalan cerita untuk film dimana Deidara berperan sebagai tokoh utama, termasuk dialog para pemeran. Dengan membaca naskah tersebut, Sasori bisa membayangkan jalan cerita dari film ini. Deidara disana berperan menjadi seorang mahasiswa yang sangat mencintai seorang gadis yang hidupnya tidak akan lama lagi karena penyakit kanker. Tentang bagaimana perjuangan Deidara untuk membuat kekasihnya itu sembuh dari penyakitnya.
Kemudian Sasori membaca alur untuk hari ini.
Mata Sasori sedikit melebar saat membaca salah satu adegan yang harus Deidara jalani. Yaitu... berciuman dengan lawan mainnya, seorang perempuan cantik yang belakangan diketahui bernama Hinata.
Belum sempat berpikir lebih lama, Sasori tersentak saat seorang menepuk pundaknya.
"Sasori un!"
"Hm?" tanya Sasori kemudian ia menyerahkan kertas-kertas di tangannya kepada Deidara.
Deidara menerimanya dan membacanya sesaat kemudian mengangguk pelan.
.
Sasori hanya berdiri di dekat sutradara, ia sedari tadi terus memperhatikan bagaimana Deidara sangat serius memainkan perannya sebagai 'Ryu' dalam film ini. Sasori mengakui bahwa Deidara adalah aktor yang hebat. Sangat menghayati dan memiliki spontanitas yang bagus.
Dan tibalah kini adegan yang sedari tadi mengganggu pikiran Sasori. Adegan berciuman. Tangan kiri Deidara melingkar di pinggang ramping Hinata sedangkan tangan kanannya mengelus pipi Hinata. Sasori memutuskan untuk berpura-pura sibuk dengan ponselnya agar tidak melihat adegan tersebut. Ia pun bertanya kepada dirinya sendiri kenapa ia tidak berani melihat adegan itu.
"Err... Pein-san un!"
"Cut!" Sang sutradara memekik. "Ada apa Deidara?"
Sasori pun kini menatap bingung ke Deidara.
"Adegan berciuman ini bisa diganti tidak un?"
Sangat sutradara yang bernama Pein itu menautkan alisnya, "Diganti?"
"Ya un. Mm..." Deidara menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku belum berpengalaman dalam hal ini un."
Sasori tertawa pelan melihat bagaimana polosnya wajah Deidara saat mengucapkan hal itu. Sedang Pein menaikkan sebelah alisnya.
"Cium dahi saja boleh kan un? Ya ya?" tanya Deidara penuh harap.
Pein akhirnya menghela napas. "Baiklah."
"Arigatou Pein-san un!"
Sasori menggunakan tangan kanannya untuk menutupi senyum yang terukir di bibirnya. Ia merasa lega karena adegan ciuman itu bisa diganti.
"Tapi Deidara, untuk besok, adegan berciuman dengan Hidan sama sekali tidak boleh diganti."
Senyum Sasori luntur seketika.
"Uh... baiklah un. Hidan kan teman baikku, jadi kurasa tak masalah un."
Dan Sasori hanya bisa menatap Deidara dengan tatapan kosong.
.
.
_TBC_
Wahaha gimana ending untuk chapter ini? Nah lho, chapter depan Deidara harus ada adegan sama Hidan ;o Lalu apakah second kiss-nya (?) Deidara akan diambil Hidan? Jeng jeng.
Alurnya terlalu cepet ya? Tenang, Sasori sama Deidara BELUM saling suka kok itu. Atau mungkin belum menyadari ;)
Yup. Tunggu chapter 4 ya. Chapter 4 mungkin lebih panjang dari ini. Tapi kasi review boleh dong *kecup satu-satu*
