Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasoDei

Warning: OOC, AU, typo(s), shonen-ai, gaje, aneh, dll.

Ada-ada saja ulah para fans untuk menyatukan Sasori dan Deidara, seniman dan artis terkenal yang sedang naik daun. Mereka bahkan membuat sebuah perkumpulan dan menamai diri mereka sebagai 'Reloves'. Apakah 'misi' mereka akan berhasil?

~SasoDei FansClub: Reloves~

Deidara membuka pintu rumahnya, bernapas lega karena akhirnya ia tiba di rumah. Ia melangkah masuk, tentunya dengan Sasori di belakangnya. Begitu mereka berdua masuk ke dalam rumah Deidara, Sasori segera menutup pintu depan dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa sebuah tas besar.

"Aku tidak tahu kenapa kau membeli semua peralatan melukis itu un," ucap Deidara seraya melepas sepatunya. Kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minuman.

"Karena aku tidak bisa tidak melukis lebih dari satu hari," sahut Sasori yang segera duduk di sofa, memeriksa isi tas besar yang penuh dengan peralatan melukis –yang baru ia beli dari toko kesenian.

Deidara kembali dengan membawa dua gelas jus jeruk, ia menyodorkan gelas di tangan kanannya kepada Sasori. Sasori mengerti dan segera menerimanya.

"Tapi apa yang bisa kau lukis selama menjadi managerku?" tanya Deidara yang kini duduk di sebelah Sasori.

"Entah, melukis itu tidak perlu rencana. Saat kau melihat sesuatu yang menarik, saat itu juga ambil kanvas dan pensilmu."

"Well, aku tidak mengerti tentang yang seperti itu. Karena sebagian besar lukisan itu tidak seni menurutku un."

Sasori tidak membalas pendapat Deidara karena tiba-tiba saja ia teringat perkataan Pein tadi siang.

"Mm... Apa film yang kau bintangi sekarang ini mengandung unsur..." kalimat Sasori menggantung.

Deidara mengedipkan matanya dengan bingung. "Unsur apa?"

Sasori terbatuk pelan, menutupi rasa gugupnya saat menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan. "Yah kau tau... Adeganmu dan Hidan besok itu."
"Oh!" Deidara mengangguk saat mengerti apa yang Sasori maksud. "Itu bukan untuk kepentingan film un. Kami akan membuat film lain, film pendek yang durasinya tak lebih dari tiga puluh menit. Yah film pendek ini dibuat hanya untuk fanservice."

"Fanservice?"

"Ya un. Mm..." Deidara menatap langit-langit, memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan. "Fanservice itu ya adegan yang bisa membuat para fans, terutama para gadis menjerit dan merasa terhibur. Begitulah kurang lebih."
Sasori hanya mengangguk mengerti, walaupun dalam hati ia bertanya-tanya untuk apa harus membuat film pendek untuk fanservice dan hanya untuk membuat para fans perempuan itu menjerit?

Dunia peran memang gila.

"Hidan itu teman baikku sejak kira-kira empat tahun yang lalu, jadi kurasa tak masalah jika harus berciuman dengannya un."

Sasori bergidik saat mendengar penjelasan Deidara. Walaupun teman baik, Hidan itu kan tetap saja seorang laki-laki?
Sasori bahkan hampir lupa bahwa dirinya dan Deidara juga pernah melakukan itu walaupun tidak sengaja.

"Sepertinya aku mandi dulu un," ucap Deidara. Setelah mendapat anggukan dari Sasori, Deidara segera melangkah ke kamarnya.

Sasori mengacak rambutnya, entah mengapa ia merasa sedikit terbebani oleh hari esok. Apa masalahnya? Kalau memang ia tak suka melihat adegan yang disukai para gadis itu, ia hanya perlu berpura-pura sibuk dengan ponselnya atau menatap ke arah lain.

Tapi sepertinya bukan itu masalahnya.

Sasori menghela napas kemudian membaringkan tubuhnya di sofa. Tanpa ia sadari, sikapnya kepada Deidara dan juga sikap Deidara kepadanya sudah mulai melunak.

.

.

Sasori membuka matanya saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia mengganti posisi menjadi duduk di sofa untuk menatap sekeliling. Mata Hazelnya menangkap sosok seorang Deidara tengah membawa selimut.

"Oh kupikir kau sudah tidur, Sasori un," ucap Deidara sedikit terkejut.

"Hm? Belum. Kau sendiri kenapa belum tidur?" tanya Sasori. Sesaat kemudian Sasori menyesali pertanyaannya. Kenapa pertanyaan itu terdengar seperti menunjukan perhatian kepada Deidara?

Kemudian mata Sasori terfokus kepada selimut di tangan Deidara.

Deidara menyadari tatapan Sasori. "Oh ini...Aku hanya tidak ingin kau sakit karena kedinginan lalu tidak bisa melanjutkan tugasmu sebagai managerku un."

"Hm? Kau saja yang memakai selimut itu. Aku tidak ingin merawat orang sakit. Itu merepotkan," balas Sasori.

Deidara membuang muka. Ia pikir sifat Sasori yang menyebalkan itu sudah hilang, ternyata belum.

Deidara berniat kembali ke kamarnya namun ia menghentikan langkahnya karena ragu. Bagaimana kalau Sasori benar-benar sakit karena kedinginan? Deidara menghela napas kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Sasori.

"Mm..." Deidara menggaruk pelipisnya dengan telunjuk. "Ini hanya tawaran. Sebenarnya aku terpaksa tapi... kau boleh tidur di kamarku. Setidaknya disana lebih hangat un."

Sasori terdiam karena malas berdebat, tapi tak disangka ia mengambil tas berisi peralatan lukisnya lalu melangkah kearah Deidara. "Baiklah," ucapnya.

Deidara menghela napas lalu menuntun Sasori ke dalam kamarnya. Sasori segera duduk di sofa yang ada di kamar Deidara. Deidara menatapnya bingung.

"Kenapa?" tanya Sasori saat menangkap kebingungan di wajah Deidara. "Kau tidak berpikir aku mau tidur di tempat tidur yang sama denganmu kan?"

Deidara mengerutkan dahinya. Memangnya apa masalahnya? Mereka berdua kan sama-sama laki-laki.

"Tentu saja aku tidak berpikir begitu un!"

"Yasudah sekarang cepat tidur agar aku tidak perlu bersusah payah membangunkanmu besok pagi," ucap Sasori seraya berbaring di sofa.

Deidara tidak mengatakan apa-apa, dengan wajah kesal ia melangkah ke tempat tidur dan segera berbaring di sana.

Sasori menutup matanya walaupun ia belum mengantuk karena jam sembilan ini bukanlah jam tidurnya. Deidara yang tengah berbaring di tempat tidurnya, diam-diam memperhatikan Sasori yang ia pikir sudah tertidur. Saat menyadari dirinya memperhatikan Sasori, cepat-cepat Deidara menutup matanya dengan erat dan memaksa dirinya sendiri untuk tidur.

Setelah lima belas menit menutup mata, Sasori membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat saat membuka matanya adalah Deidara. Tatapannya tak lepas dari wajah Deidara. Wajah yang diam-diam membuat Sasori kagum.

Ia tak pernah melihat orang seperti Deidara sebelumnya. Entahlah, ia merasa Deidara begitu...berdeda. Melihat Deidara tertidur membuat Sasori seolah-olah melihat sebuah objek yang seni.

Tunggu. Seni?
Sasori segera meraih tasnya kemudian mengeluarkan kanvas dan pensil. Daripada diam tidak melakukan apa-apa, lebih baik ia mengabadikan pemandangan seni tersebut.

.

.

.

Sang sutradara menatap arloji di tangannya berulang kali. Awalnya ia hanya gelisah, namun semakin sering ia menatap arlojinya, ia menjadi kesal pada akhirnya.

"Kemana Hidan?" tanyanya berulang kali.

"Dia tidak pernah datang terlambat sebelumnya un," ucap Deidara yang berdiri dengan gelisah di sebelah Sasori –yang hanya menatap sekelilingnya dengan tatapan datar.

"Tapi sekarang ia sudah terlambat..." Pein menatap arlojinya sekali lagi. "...empat puluh lima menit. Hampir satu jam! Kemana orang itu?"

Deidara hanya menggelengkan kepala, merasa takut terjadi apa-apa dengan Hidan.

"Kakuzu!" panggil sang sutradara.

Datanglah seorang laki-laki berpenampilan serba tertutup. "Hm?"

"Dimana Hidan? Kau sebagai managernya harus bisa bertanggung jawab."

Kakuzu mengangkat bahunya. "Dia tidak menjawab panggilanku."

Lalu Kakuzu mencoba mengirim pesan singkat kepada Hidan.

To: Hidan

Cepatlah datang, Hidan. Semua orang mulai panik

'sent'

Sekitar lima menit menunggu, akhirnya Hidan membalas pesan singkat tersebut.

From: Hidan

Aku tidak bisa datang, Kakuzu. Ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan. Sepertinya kalian harus mencari pemain lain untuk menggantikanku.

Kakuzu terdiam dan tak membalas pesan tersebut.

"Ada apa?" tanya Pein penasaran.

"Katanya ia tak bisa datang dan kita harus mencari pemain pengganti," sahut Kakuzu.

"Apa? Pemain pengganti?" Pein sedikit menjambak rambutnya. "Film ini harus selesai sebelum matahari terbenam dan tidak mungkin kita mencari pemain dalam waktu sesingkat ini. belum lagi sulit sekali untuk mendapatkan pemain yang..."

Kalimat Pein menggantung ketika ia tak sengaja menoleh ke arah Sasori.

"...yang sempurna seperti Akasuna!"

"APA?" "APA UN?"

"Ya. Kita tidak memiliki waktu untuk mencari aktor lain, jadi kurasa Akasuna bisa menolong kan? Lagipula sifat dan mimik wajahnya sudah sangat sesuai dengan peran ini. Bahkan menurutku Akasuna bisa jauh lebih baik memerankan peran ini daripada Hidan." Sang sutradara menjelaskan.

"Tapi aku sama sekali tidak pernah bermain peran sebelumnya. Aku tidak tahu sama sekali tentang—"

"Tidak perlu berperan, Akasuna." Sang sutradara memotong kalimat Sasori. "Sifat Yusuke dalam film ini sama persis dengan sifatmu. Dingin namun perhatian. Dan sepertinya nama Yusuke disini akan kuganti dengan nama aslimu, Sasori."

Sasori dan Deidara menatap Pein dengan tatapan kau-pasti-bercanda.

"Tidak, aku tidak bercanda," ucap Pein yang sangat mengerti dengan tatapan dua orang tersebut. "Dan peran yang dimainkan oleh Deidara bernama Deidara. Jadi yap, kalian berdua menggunakan nama asli kalian."

"Tapi un..."

"Tidak ada tapi-tapian, Deidara. Sekarang berikan Akasuna skenario film ini," ucap Pein lalu ia beralih kepada bawahannya "Semua bersiap-siap."

Deidara mengerutkan dahinya saat menyerahkan dua lembar kertas kepada Sasori.

"Pein-san, apa aku tidak memiliki pilihan?" tanya Sasori kepada Pein yang tengah sibuk memeriksa kamera.

"Tentu saja tidak ada, Akasuna. Tenang, kami akan membayarmu," sahut Pein.

Sasori menghela napas. Ia tahu dirinya tidak memiliki pilihan lain. Karena memenuhi permintaan Itachi, ia jadi terjebak dalam hal seperti ini. Ia menoleh ke arah Deidara yang terlihat cemberut.

"Aku juga terpaksa, Deidara. Jadi jangan menyalahkanku," bisik Sasori.

Deidara menatapnya dengan tatapan bingung. Bukankah dia sama sekali tidak menyalahkan Sasori? Tapi kenapa Sasori berpikir Deidara menyalahkannya?

"Baiklah, semua sudah siap?"

"Sudah, pak."

"Sasori, Deidara, dan pemain lainnya silahkan bersiap-siap di posisi masing-masing."

Setelah mengangguk, Sasori dan Deidara juga beberapa pemeran tambahan segera menuju tempat mereka masing-masing.

.

.

Film pendek yang bertujuan untuk menyenangkan para fangirls ini bercerita tentang dua orang yang diam-diam sudah menyukai satu sama lain sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Lalu beberapa tahun setelah lulus sekolah, mereka bertemu kembali di sebuah taman. Mereka berdua masih menutupi perasaan mereka masing-masing.

"Lama tidak bertemu denganmu, Sasori-danna. Bagaimana kabarmu un?" tanya Deidara yang berperan menjadi seseorang yang sifatnya sama dengan sifat asli Deidara. Dan disini ia memanggil Sasori dengan 'danna' yang berarti 'master'.

Dengan wajah datarnya Sasori menjawab. "Baik. kau bagaimana?"

"Aku juga baik. Apakah danna—"

"Saso-kun~!"
Mereka berdua menoleh saat mendengar seseorang memanggil Sasori. Terlihat seorang gadis berambut merah tengah berlari ke arah Sasori lalu memeluk lengan Sasori.

Deidara terkejut –begitulah yang dituntut oleh skenario.

"Yuuki?" tanya Sasori saat menyadari siapa gadis yang tengah menggelayut manja di lengannya. "Kenapa kau bisa berada disini hm?"

Gadis bernama asli Saara yang kini berperan sebagai Yuuki itu tertawa kecil. "Kebetulan tadi aku lewat di dekat sini dan aku melihat Saso-kun disini jadi aku segera menghampirimu. Kau sedang apa disini, Saso-kun?"

Deidara merasa diabaikan. Ia baru saja bertemu lagi dengan Sasori setelah sekian lama. Tapi kenapa Sasori malah lebih fokus kepada perempuan itu.

"Seperti yang kau lihat, aku sedang—" ucapan Sasori terhenti saat melihat Deidara berjalan menjauh darinya. "Deidara!"

Deidara berpura-pura tidak mendengarkan Sasori. Ia berjalan menjauh dengan perasaan kesal dan juga... cemburu. Ya cemburu.

"Dei!" Sasori menggenggam pergelangan tangan kiri Deidara dari belakang.

Deg.

Deidara tersentak saat jantungnya berdetak cepat –secara nyata.

"Oh um sepertinya aku mengganggu. Saso-kun, aku pulang dulu ya~ Sampai jumpa dirumah~" ucap Saara yang segera pergi meninggalkan mereka berdua setelah ia menyadari kehadirannya mengganggu.

Di rumah? Sasori sudah memiliki istri?

Deidara mencoba melepaskan genggaman tangan Sasori. "Lepaskan aku un!"

"Kenapa kau tiba-tiba pergi?" tanya Sasori datar.

Deidara menatap mata Sasori. "Kau mau tau un?" nada bicaranya terdengar marah. "Aku cemburu un! Aku menyukaimu sejak beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku bertemu lagi denganmu dan aku melihatmu bersama kekasih...atau mungkin istrimu. Aku cemburu!"

Sasori terdiam. Oh betapa indahnya saat Sasori mendengar kata 'aku menyukaimu' terlontar dari bibir Deidara.

"Kekasih? Yuuki itu adik kandungku, Dei."

Deidara terdiam karena terkejut juga malu.

"Dia memanggilku 'Saso-kun' bukan 'kakak' karena itu memang kebiasaannya. Maaf telah membuatmu salah paham," ucap Sasori seraya menatap ke iris Aquamarine mata Deidara. Mata itu sungguh indah dan sanggup menenggelamkan siapapun yang menatapnya.

Deidara terdiam.

"Aku juga menyukaimu," ucap Sasori. "Jujur, aku benar-benar menyukaimu."

Napas Deidara tertahan di tenggorokannya. Ia merasa pipinya memanas. Tunggu, bukankah ini hanya peran? Tetapi kenapa Deidara benar-benar gugup?

Sasori mengangkat dagu Deidara kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Deidara. Lalu perlahan bibirnya menyentuh bibir lembut Deidara. Seketika itu juga Deidara melingkarkan lengannya di leher Sasori untuk membantunya berdiri karena kakinya terasa begitu lemas.

Sasori memejamkan matanya dan memeluk pinggang ramping Deidara. Ini terasa begitu indah dan terasa begitu nyata. Ini memang bukan pertama kalinya bibir mereka bersentuhan. Tapi kali ini mereka benar-benar...menikmatinya.

Semua orang di lokasi tersebut terpaku menatap Sasori dan Deidara. Bahkan Pein sang sutradara pun tak berkedip sama sekali. Mereka mengangumi betapa alaminya peran yang dijalani oleh Sasori dan Deidara.

"Hey , bukankah durasi berciuman itu cukup sepuluh detik saja sesuai dengan skenario?"

"Kurasa juga begitu. Tapi sudah berapa lama mereka berciuman sampai saat ini?"

"Lebih dari satu menit, kurasa."

Dan bisikan-bisikan itu terus berlanjut.

Setelah kira-kira satu setengah menit dan mereka hampir kehabisan napas, Sasori melepaskankan ciumannya.

"Dei..." ia mengelus pipi Deidara. "Aku mencintaimu."

Pipi Deidara semakin memerah dan jantungnya berdetak semakin cepat.

'Ini hanya peran, hanya peran' batinnya.

"Aku juga mencintaimu danna un."

Lalu Sasori membawa Deidara ke dalam pelukannya.

"CUT!"

Semua orang bertepuk tangan atas keberhasilan Sasori dan Deidara. Sedangkan dua orang itu segera melepaskan pelukan mereka. Mereka menghela napas dalam-dalam untuk mengusir rasa gugup yang mereka rasakan.

"Itu bagus sekali!" Pein berdiri dan tetap bertepuk tangan, wajahnya berbinar karena senang. "Aku yakin ratingnya pasti tinggi."

Beberapa orang mengangguk menyetujui.

"Aku juga suka spontanitas kalian berdua, terutama kau Akasuna. Kalimat 'jujur, aku benar-benar menyukaimu' itu tidak ada di skenario, tapi itu membuktikan bahwa kau memiliki spontanitas yang bagus. Kau calon aktor yang berbakat," puji Pein. "Deidara juga. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa membuat wajahmu memerah seperti tadi."

Deidara mengalihkan pandangannya.

'Aku tidak membuatnya' batinnya.

"Kalian mau lihat bagaimana hasilnya?" tanya Pein.

Sasori dan Deidara cepat-cepat menggeleng. "Tidak!" "Tidak un!"

Pein terdiam sesaat. "Kalian kompak juga ternyata."
Dan hal itu membuat Sasori dan Deidara sama-sama mengalihkan tatapan mereka dari Pein.

"Baiklah, semuanya tolong bereskan peralatan lalu setelah itu kalian boleh pulang. Terimakasih atas kerja sama kalian semua hari ini. Film ini akan tayang di Televisi minggu depan, aku jamin."
"Ha'i!"

.

.

Sasori dan Deidara tengah berada di dalam mobil milik Sasori dalam perjalan pulang ke rumah Deidara. Tadi mereka sempat berhenti di supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan. Namun sedari tadi tak ada satupun dari mereka yang bicara. Keheningan yang membuat mereka tidak nyaman masih mereka rasakan sampai saat ini, namun tak satupun dari mereka yang bisa merangkai kata untuk diucapkan.

Deidara sedari tadi hanya menatap keluar kaca mobil, ia sama sekali tidak berani melirik Sasori.

Sasori semakin lama semakin merasa tidak nyaman, akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.

"Apa yang kau lihat di luar?"

Baiklah, pertanyaan yang tidak penting.

"T-tidak ada un."

Mata Deidara melebar saat mendengar jawabannya sendiri, terutama nada yang ia ucapkan. Kenapa ia masih gugup?

"Oh." Hanya itu yang Sasori katakan, lalu keadaan kembali hening hingga mereka tiba di rumah Deidara.

.

.

Kakuzu mengetuk pintu rumah artisnya. Ia penasaran apa yang Hidan kerjakan sampai tidak bisa datang dan meminta orang lain untuk menggantikannya.

"Yo Kuzu!"

Sapa sang pemilik rumah saat pintu terbuka.

"Apa yang kau lakukan sampai tidak bisa datang tadi?" tanya Kakuzu dengan nada rendah.

"Hm?" Hidan terlihat bingung. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku tidak perlu datang karena Pein sudah memilih pemain lain untuk menggantikanku karena pemain itu terlihat lebih cocok untuk film itu?"

Kakuzu mengerutkan dahinya. "Kau sendiri yang memintanya. Kau mengatakan kau sibuk sehingga tidak bisa datang."

"Heh, tapi Ino mengatakan bahwa kau memintaku untuk tidak datang."

"Siapa Ino?"

"Gadis yang tadi hampir kutabrak di jalan. Dia meminjam ponselku untuk menghubungi ayahnya. Saat aku meminta ponselku kembali, ia mengatakan bahwa ia menjawab panggilan darimu. Dia mengatakan bahwa aku tidak perlu datang."

"Bagaimana mungkin? Panggilanku sama sekali tidak ada yang terjawab."

"Eh? Ini aneh."

Lalu mereka hanya bisa terdiam di sana.

.

.

Sedangkan di tempat lain, terlihat belasan gadis yang tengah berdiri mengelilingi seorang gadis berambut biru.

"Ah~ Pein-kun. Kudengar Hidan tidak bisa datang ya tadi? Lalu bagaimana? Apa film tersebut batal?" tanya Konan dengan nada cemas kepada seseorang dibalik ponselnya.

"Iya Hidan tidak bisa datang. Jadi aku memilih orang lain untuk menggantikannya."

"Siapa itu?" tanya Konan.

"Manager Deidara, namanya Akasuna no Sasori," sahut Pein.

"Ah begitu ya. Syukurlah kalau begitu. Mm kau pasti lelah, segeralah beristirahat."

"Iya. Arigatou Konan."

Konan mengangguk kemudian memutuskan pembicaraannya dengan sang kekasih. Ia menatap mata-mata penasaran yang tertuju ke arahnya.

Diiringi dengan seringaian, Konan menjawab pertanyaan yang terlihat jelas dari belasan pasang mata itu. "Pemain penggantinya adalah Sasori."

"YAAAAYY!"

"Hidup SasoDei! Hidup Reloves!"

"Ah~ Ini semua hasil kerja kerasku!" pekik Ino seraya melompat-lompat di tempat karena terlalu senang.

(Flashback)

Hidan tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang di jalan raya yang tidak terlalu padat hari ini. Namun tiba-tiba seorang perempuan berlari ke tengah jalan dan hampir tertabrak oleh mobil Hidan jika saja Hidan tidak segera menginjak rem.

"Oh sial, apa lagi ini?" bisiknya pada diri sendiri lalu ia segera turun dari mobilnya untuk menghampiri gadis yang tengah terduduk di tengah jalan karena terkejut. "Kau tidak apa-apa?" tanya Hidan.

Gadis berambut pirang panjang itu menatap Hidan dengan tatapan takut dan sedikit trauma. "T-ti...tidak apa-apa."

"Ada yang terluka?"

Gadis itu hanya menggelengkan kepala.

"Namamu?" tanya Hidan lagi.

"Yamanaka Ino," sahut gadis itu.

Hidan mengangguk. "Lain kali berhati-hati dalam menyebrang jalan."

"T-tuan?" tanya Ino dengan takut.

"Ada apa?"

"B-boleh saya p-pinjam ponsel tuan? Saya tersesat di Tokyo ini dan tidak tahu harus k-kemana. J-jadi boleh saya ingin menghubungi ayah saya," ucapnya.

Hidan merasa sedikit iba kepada gadis yang wajahnya terlihat begitu ketakutan. Tanpa pikir panjang Hidan menyerahkan ponselnya kepada gadis itu, dan gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar.

"Kita masih berada di tengah jalan," Hidan mengingatkan. "Hm sebaiknya kau duduk di sana dulu sementara aku akan memindahkan mobilku," ucap Hidan seraya menunjuk sebuah taman.

Ino mengangguk kemudian segera duduk di bangku taman yang tak jauh dari lokasi mereka sebelumnya.

Saat Hidan masih sibuk mencari posisi yang tepat untuk mobilnya, Ino tak henti menatap ponsel Hidan.

Kakuzu calling

Ino mengabaikan panggilan tersebut.

Lalu sebuah pesan masuk ke ponsel Hidan.

From: Kakuzu

Cepatlah datang, Hidan. Semua orang mulai panik

Ino menyeringai.

'Aww tepat waktu~' batinnya.

Kemudian gadis itu mengetik balasan dari pesan tersebut.

To: Kakuzu

Aku tidak bisa datang, Kakuzu. Ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan. Sepertinya kalian harus menjadi pemain lain untuk menggantikanku.

'sent'

Saat pesan singkat tersebut sudah terkirim, Ino menghapus pesan masuk dari Kakuzu dan juga menghapus pesan terkirim. Setelahnya, Ino mengetik sebuah pesan lagi dan mengirim ke nomor yang tidak dikenal. Pesan tersebut berisi:

'Tou-san, tolong jemput aku di sebuah taman di depan restoran Sushi, Tokyo.'

Lalu tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel tersebut.

'Tentu, Ino sayang. Tunggu tou-san disana.'

Ino tertawa dalam hati. Nomor tersebut bukanlah nomor ponsel ayahnya.

"Bagaimana? Sudah?" tanya Hidan yang tiba-tiba datang.

Ino segera menghapus seringaian di bibirnya kemudian mendongak untuk menatap Hidan.

"Sudah, terimakasih banyak tuan," ucapnya yang segera memberikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.

Hidan mengangguk.

"Um... Ano..." ucap Ino ragu.

"Ada apa?"

"Maaf, tadi saya tidak sengaja menjawab panggilan dari teman tuan yang bernama Kakuza... um bukan... tapi Kakuzu! Ya Kakuzu!"

"Benarkah? Apa katanya?"

"Katanya tuan tidak perlu datang kesana karena sudah ada pemain pengganti. Saya tidak mengerti tapi teman tuan meminta saya untuk mengatakan itu kepada tuan."

Tentu saja Ino hanya mengarang.

"Oh begitu, baiklah," ujar Hidan lalu pergi dengan mobilnya ke arah yang berlawanan.

"Yatta!" Ino melompat-lompat di tempat karena ia sudah berhasil membuat Hidan kembali ke rumahnya.

"Kerja bagus Ino!"

Ino menoleh saat mendengar pekikan dari seorang perempuan. Ia menoleh dan mendapati seorang berambut biru muncul dari balik pohon yang tak jauh dari Ino.

"Tentu saja, Konan 'tou-san'~" ledeknya.

Konan tertawa. "'Tentu, Ino sayang. Tunggu tou-san disana'"

Mereka berdua sama-sama tertawa.

Oh ternyata nomor tadi adalah nomor ponsel Konan.

"Aku yakin Pein pasti memilih Sasori untuk menggantikan Hidan," ucap Konan dengan sangat yakin.

"Sepertinya kau sudah sangat mengetahui cara berpikir Pein ya."

"Tentu saja. Sudah tiga tahun ia menjadi kekasihku," sahut Konan seraya tertawa kecil. "Hah~ Untung saja misi kita berhasil, kalau tidak... ah malangnya Sasori jika harus melihat Deidei berciuman dengan orang lain."
Ino mengangguk. "Ciuman Deidara hanya untuk Sasori. Yay~!"

Yah, itulah yang terjadi.

_TBC_

Adakah yang mengharapkan momen HidaDei di chapter ini? Maaf saya mematahkan harapan tersebut /plak.

Review?