Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasoDei
Warning: OOC, AU, typo(s), shonen-ai, gaje, aneh, dll.
Ada-ada saja ulah para fans untuk menyatukan Sasori dan Deidara, seniman dan artis terkenal yang sedang naik daun. Mereka bahkan membuat sebuah perkumpulan dan menamai diri mereka sebagai 'Reloves'. Apakah 'misi' mereka akan berhasil?
~SasoDei FansClub: Reloves~
Deidara melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa selembar handuk dan pakaian bersih. Hawa dingin kamar mandi menyapanya, membuatnya menghela napas lega. Sebelum Deidara melakukan apa-apa, ia menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup. Kejadian tadi siang belum bisa ia lupakan. Bagaimana –untuk yang kedua kalinya, bibirnya bertemu dengan bibir Sasori. Deidara mengangkat tangan kanannya, lalu dengan perlahan jemari lentiknya menyentuh bibirnya yang lembut.
Setelah menghela napas, Sasori duduk di tepi tempat tidur Deidara. Dikeluarkannya alat-alat lukisnya dari dalam tas. Ia membuka jendela kamar Deidara agar pemandangan indah langit malam bisa dengan jelas dilihat olehnya. Diambilnya sebatang pensil kayu kemudian ia mengarahkan ujung pensir itu ke permukaan kanvas. Namun jemarinya tak bisa bergerak karena pikirannya yang kacau. Ia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan Deidara.
"Tch. Sial," runtuknya pelan kepada diri sendiri. Ia benci kenyataan bahwa dirinya tak bisa berhenti memikirkan seseorang yang ingin ia benci. Kalau bukan karena Deidara, dirinya saat ini pasti sedang duduk di dalam kamarnya sendiri dan melukis apapun yang melintas di pikirannya.
"Kau suka bintang, un?"
Sasori tersentak bahkan dirinya nyaris menjatuhkan pensil di genggamannya saat mendengar suara Deidara. Namun Sasori berusaha keras untuk menyembunyikan keterkejutannya dari lelaki yang lebih muda darinya tersebut.
"Tidak," sahut Sasori datar.
Deidara duduk di sebelah Sasori dan ikut memperhatikan langit. "Tapi kau terus memperhatikan langit, danna."
Kontan hal ini membuat Sasori menoleh ke arah Deidara dengan tanda tanya besar terbayang di mata Hazel-nya. "Danna?" tanyanya.
Deidara terkejut. "A-ah...aku teringat yang tadi siang," sahutnya canggung.
Sasori tak mengatakan apa-apa. Ia mengambalikan tatapannya kepada langit malam bertaburan bintang.
"Kau keberatan jika aku memanggilmu seperti itu un?" tanya Deidara harap-harap cemas.
Pria berambut merah itu menggeleng pelan namun tidak mengatakan apa-apa. Deidara menganggap ini sebagai jawaban 'tidak' dari Sasori.
Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menemani mereka. Namun keheningan tersebut pecah saat Deidara bertanya "Jika danna tidak menyukai bintang, lalu kenapa menatapnya terus?"
"Bukan bintang yang kutatap. Melainkan langit," sahut Sasori.
Deidara menatap Sasori penasaran, ia sedikit memiringkan kepalanya. "Langit?"
Sasori mengangguk. "Aku menyukai langit," ucapnya.
Deidara berdiri kemudian berjalan perlahan mendekati jendela kamarnya. Ia memejamkan matanya saat merasakan tiupan angin malam yang membelai lembut wajahnya. Sebuah senyum terukir di wajahnya. Entah karena apa, Deidara merasa tidak kesepian lagi.
Ia bahkan tidak menyadari sepasang mata Hazel tengah mengamatinya dari belakang. Sasori mengamati Deidara dari belakang. Bagaimana rambut pirang keemasan itu menari tertiup angin benar-benar membuat Sasori tak berkedip. Di kedua bola mata tersebut terpancar sebuah rasa kagum yang tak ingin ia akui, namun tak bisa ia sembunyikan.
"Tapi..." Suara pelan Deidara berhasil menarik Sasori dari lamunannya. "Langit malam tanpa bintang tidaklah indah. Hitam. Gelap. Tidak indah sama sekali menurutku, un."
Sasori tersenyum tipis, sayang sekali Deidara tak melihat senyuman ini. "Bintang juga tidak indah tanpa langit sebagai kanvasnya."
Deidara terdiam sesaat sebelum berucap "Jangan hubungkan langit dan bintang dengan kanvas atau lukisan, un. Itu tidak adil."
Sekuat tenaga Sasori menahan dirinya untuk tidak tertawa. Nada bicara Deidara terdengar seperti seorang anak kecil yang tengah dipojokkan.
Kembali keheningan yang mengambil alih untuk beberapa saat.
Sasori menatap langit malam bertaburan bintang, kemudian ia memejamkan matanya –dengan senyum tipis masih terukir di bibirnya. "Aku lebih menyukai langit siang daripada langit malam."
Deidara membalikkan tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Sasori. Mengetahui hal ini, dengan cepat Sasori menghapus senyum di bibirnya dan membuka matanya. Matanya menatap lekat ke iris biru mata kanan Deidara.
Untuk beberapa saat Sasori menunggu apa yang ingin Deidara katakan. Tapi ternyata tidak ada. Deidara hanya menguap lalu berjalan ke tempat tidurnya. "Ngh...aku mengantuk," gumamnya.
Sasori hanya menatap sosok yang kini terbaring di tempat tidur,
"Besok jangan bangunkan aku ya, un. Besok kan aku tidak bekerja jadi biarkan aku bangun siang," ujar Deidara dengan malas.
Pria berambut merah yang masih duduk di tepi tempat tidur Deidara hanya bisa memutar bola matanya.
Setelahnya tak ada suara lain yang terdengar selain bisikan angin malam. Tak lama kemudian Sasori bergerak untuk menutup jendela agar angin malam tak lagi memiliki kesempatan untuk masuk. Sekali lagi Sasori menoleh ke tempat tidur untuk memperhatikan sosok yang sepertinya sudah masuk ke alam mimpinya tersebut.
"Dasar bocah," ucapnya pelan sebelum melangkah ke sofa dan berbaring di sana.
.
Deidara melayangkan pandangannya ke segala arah. Sejauh mata memandang ia hanya bisa melihat bunga dan bunga. Bunga berbagai warna mengelilinginya. Ia seperti berada di taman. Tapi taman ini terlihat begitu indah dan Deidara tidak tahu dimana taman ini berada. Deidara tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya yang ia lakukan hanyalah berjongkok untuk melihat bunga-bunga tersebut dari jarak yang lebih dekat.
Ia tersenyum memperhatikan bunga-bunga di taman tersebut. Dirinya tidak terlalu menyukai bunga, tetapi juga tidak membenci bunga. Baginya bunga sangatlah cantik dan mengingatkannya pada seseorang.
"Deidara..."
Deidara tersentak saat mendengar suara yang begitu lembut dan tak asing memanggil namanya. Dengan cepat ia menoleh ke belakang, mendapati seorang perempuan berambut pirang keemasan yang panjang tergerai di punggungnya, tengah tersenyum ke arah Deidara. Gaun putih panjang yang dikenakan perempuan itu menambah kesan anggun padanya. Sepasang mata biru perempuan itu menatap Deidara dengan lembut. Dan bibir tipis kemerahan melengkung membentuk senyum yang terlihat begitu tulus.
"Kaa...Kaa-san?" tanya Deidara terbata.
Perempuan cantik itu tersenyum sekali lagi kepada Deidara sebelum perlahan-lahan menhilang dari hadapan Deidara.
"Kaa-san un!" Deidara memekik memanggil ibunya namun sang ibu telah menghilang.
Deidara tersentak saat taman bunga dimana dirinya berada seketika berubah menjadi sebuah tempat yang terlihat seperti koridor rumah sakit. Deidara mendengar suara ribut dari sebuah pintu. Tak lama kemudian dari pintu itu muncul petugas rumah sakit yang mendorong sebuah tempat tidur rumah sakit dengan seorang perempuan terbaring bersimbah darah di atasnya.
Mata Deidara melebar saat melihat siapa perempuan tersebut.
"KAA-SAN!"
.
Sasori perlahan membuka matanya saat ia mendengar suara seseorang. Hal pertama yang dilihat oleh sepasang mata Hazel-nya adalah jam dinding yang menunjukan pukul tiga dini hari.
"Ka...Kaa-san?"
Sasori menoleh ke arah Deidara saat mendengar suara Deidara. Segera ia mengubah posisinya menjadi duduk di sofa. Cukup lama ia memperhatikan Deidara, menebak-nebak apakah Deidara sedang mengigau.
"KAA-SAN!"
Deidara berteriak lalu seketika duduk di tempat tidurnya. Ia menatap sekeliling dengan mata yang basah.
Segera saja Sasori menghampiri Deidara untuk memastikan apakah Deidara baik-baik saja.
"Deidara?" panggil Sasori lembut agar tidak mengejutkan Deidara.
Deidara tersentak saat mendengar suara Sasori. Air mata terus mengalir dari kedua matanya dan peluh dingin mengalir dari pelipisnya. Deidara tak berani menatap Sasori, tubuhnya gemetar ketakutan.
Dengan pelan Sasori menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah Deidara kemudian menyelipkannya di belakang telinga pemuda itu. "Kau bermimpi buruk?" tanya Sasori pelan.
Deidara mengangguk pelan.
"Kaa-san..." gumamnya.
Sasori mengusap pelan punggung Deidara berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa, itu hanya mimpi. Sekarang lanjutkan tidurmu."
Lagi-lagi Deidara hanya bisa mengangguk pelan.
Saat Sasori berniat kembali ke sofa, tiba-tiba saja Deidara menarik bagian belakang bajunya. Sasori menoleh ke belakang, mendapati Deidara tengah menatapnya dengan tatapan memohon.
"T-tetap disini, d-danna...un," pinta Deidara dengan suara yang bergetar.
Sasori tersentak kaget. Namun perlahan ia mendekati Deidara lalu mengusap pelan kepala Deidara. "Baiklah," sahutnya.
Deidara menggeser posisinya untuk memberi ruang yang cukup bagi Sasori, kemudian berbaring di sisi tempat tidur yang lebih dingin dari sisi lainnya. Sasori perlahan berbaring di sebelah Deidara lalu menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua.
Selama beberapa saat mereka hanya menatap mata satu sama lain, seolah berbicara melalui tatapan tersebut.
Sasori tersenyum seraya berbisik pelan, "Tidurlah."
Deidara perlahan menutup matanya setelah mendengar kata yang Sasori ucapkan. Tubuhnya sudah bergenti gemetar dan napasnya tak terengah seperti tadi. Sasori tak langsung menutup matanya untuk memperhatikan wajah Deidara yang tengah tertidur.
Cantik, pikirnya.
Bukan cantik dalam arti yang sempit. Kata 'cantik' memiliki makna dan arti yang sangat luas bagi Sasori. Dan semuanya... semua makna dan arti itu tersirat di wajah Deidara.
Saat Sasori ingin menutup matanya, Deidara secara tidak sadar merapat ke arah Sasori dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sasori. Sasori terkejut karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Kalau saja Deidara tidak sedang tidur, pemuda berambut pirang itu pastilah bisa mendengar detak jantung Sasori yang begitu cepat.
Dengan pelan Sasori menggerakan tangannya untuk membelai rambut halus Deidara.
"...Oyasumi," bisik Sasori sebelum dirinya terlelap.
.
.
Kesadaran perlahan-lahan menghampiri Deidara, namun ia tak ingin membuka matanya karena ia merasa begitu hangat dan nyaman. Seseorang terasa seperti memeluknya dengan sebelah tangan. Deidara juga bisa mendengar detak jantung yang pelan dan teratur. Bunyi yang monoton namun Deidara begitu menikmatinya. Deidara merapatkan dirinya pada apapun atau siapapun itu yang telah memberikan kehangatan ini padanya.
"Deidara, kau sudah bangun?"
Seketika kedua mata Deidara terbuka begitu mendengar pertanyaan dari suara yang tak asing baginya. Ia mendongak, mendapati Sasori tengah menatapnya. Saat itu juga ingatannya akan kejadian saat subuh tadi membuat wajah Deidara memerah karena malu.
Melihat wajah Deidara yang tiba-tiba memerah, tentu saja membuat Sasori khawatir. Ia menempelkan punggung tangannya di dahi Deidara untuk memastikan apakah Deidara demam atau tidak. Ternyata suhu tubuhnya normal, tetapi wajah Deidara kian memerah. Sasori menurunkan tangannya perlahan ke pipi Deidara, dan pipi itu terasa hangat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasori cemas.
Dengan cepat Deidara mengangguk.
Kemudian Deidara melirik tangan kanan Sasori yang masih memeluk pinggangnya. Mengikuti kemana arah tatapan Deidara, Sasori akhirnya menyadari apa yang membuat Deidara merasa tak nyaman. Dengan cepat Sasori menjauhkan tangannya.
"Ah jadi kau gugup ya?" tanya Sasori seraya tertawa pelan.
Tak ada hal lain yang bisa Deidara lakukan selain menatap Sasori dengan tatapan tidak percaya. Pria dingin itu kini tertawa di hadapannya. Melihatnya tersenyum saja rasanya sulit sekali jika bukan karena tuntutan peran kemarin siang. Tapi kini Sasori tertawa, dan itu adalah sesuatu yang sangat menakjubkan bagi Deidara.
Namun saat Deidara menyadari pertanyaan Sasori, seketika saja pipinya memerah. "T-tidak un!" sahutnya.
Tatapan Sasori melembut saat keseriusan menghampirinya. "Maukah kau menceritakannya padaku?" tanya Sasori.
Raut wajah Deidara pun berubah perlahan menjadi serius. Ia mengubah posisi tidurnya hingga kini dirinya bisa menatap langit-langit kamarnya.
"Kurasa aku akan menceritakannya un," ucap Deidara.
Sasori mengangguk dan tak melepaskan tatapannya dari wajah Deidara.
"Aku..." Deidara mulai bicara. "Aku merindukan kaa-san. Mungkin karena itu aku bermimpi buruk tentangnya."
"Memangnya sekarang dia dimana?" tanya Sasori.
Deidara memejamkan matanya. Dengan pelan ia menjawab "Kaa-san sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu."
Jawaban ini jelas saja membuat Sasori terkejut. Ia berpikir Deidara adalah seseorang yang hidup bahagia dengan orang tua yang lengkap. Tapi ternyata Deidara sudah tidak memiliki ibu lagi.
"Maafkan aku," ucap Sasori, ia merasa sedikit menyesal karena telah menanyakan dimana ibu Deidara saat ini.
Deidara tersenyum. "Tidak perlu meminta maaf, un."
Kini giliran Sasori yang menatap langit-langit kamar tidur Deidara. Lalu setelah cukup lama terdiam, ia berucap, "Aku juga tidak lagi memiliki ibu. Begitu juga dengan ayah."
Deidara seketika membuka matanya dan menoleh ke arah Sasori. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya, namun ia memutuskan untuk diam dan menunggu Sasori untuk berbicara.
"Aku kehilangan mereka saat usiaku masih lima tahun. Setelah itu aku tinggal bersama nenekku, Chiyo, sampai umurku tujuh belas tahun." Sasori menceritakan tentang dirinya. Ia pun tak mengerti kenapa dirinya menceritakan tentang hidupnya kepada seseorang yang pada awalnya sangat ia benci karena telah mengganggu hari-harinya.
"Jadi begitu," ujar Deidara. kini ia kembali menatap hal yang sama dengan Sasori ; langit-langit.
Sasori mengangguk. "Aku sering mengalami mimpi buruk seperti yang kau alami. Mimpi buruk itu bahkan datang padaku hampir setiap malam. Jadi aku masih ingat betul bagaimana rasanya."
Deidara merapatkan selimut yang ia kenakan, tidak tahu harus bicara apa.
"Tapi tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," ujar Sasori seraya menoleh ke arah Deidara. Pada saat yang sama Deidara juga menoleh ke arah Sasori sehingga pandangan mereka sekali lagi bertemu. Sekali lagi mereka biarkan tatapan mereka yang bicara.
"Tapi aku takut menghadapi mimpi itu lagi," ujar Deidara pelan.
Sasori tersenyum. Sekali lagi Deidara tekejut dibuatnya.
"Kurasa ada satu cara untuk melenyapkan mimpi buruk itu."
"Apa un?"
"Kebahagiaan. Kau harus menemukan kebahagiaan."
Tanda tanya besar terbayang di iris mata biru milik Deidara. "Lalu apa danna sudah menemukan kebahagiaan?"
Tatapan Sasori melembut. "Belum."
"Jadi mimpi itu masih mengejarmu, un?" tanya Deidara.
Sasori mengangguk untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Mereka kembali terdiam. Kali ini keheningan mengambil alih dalam waktu yang cukup lama. Mereka sibuk memikirkan kemana mereka harus mencari kebahagiaan itu dan dimana mereka akan menemukan kebahagiaan itu. Mereka sama-sama membenci mimpi buruk yang menghantui mereka setiap malam.
Sasori sudah berusaha untuk menemukan kehabagiaannya di dunia seni. Dengan menjadi seorang senimal –pelukis- terkenal ia pikir bisa untuk membuatnya bahagia. Tapi ternyata tidak. Begitu juga dengan Deidara.
"Danna."
"Hm?"
"Arigatou, un."
Sasori terkejut tentu saja. Ini pertama kalinya Deidara berterimakasih padanya untuk sesuatu yang Sasori tidak ketahui.
"Untuk apa?" tanya Sasori.
"Karena sudah menenangkanku," ucap Deidara.
Keadaan kembali hening beberapa saat.
"Ne, danna."
"Ada apa?"
"Hari ini kita kan libur. Jadi apa kau memiliki rencana untuk melakukan sesuatu?" tanya Deidara.
Sasori berpikir sesaat kemudian menjawab "Hmm ada. Aku ingin melukis. Tapi tidak tahu tempat yang tepat untuk itu."
"Danna ingin tempat yang bagaimana?"
"Entahlah. Tempat yang...indah?" tanya Sasori setengah bertanya.
Deidara terdiam sesaat kemudian ia mengganti posisinya menjadi duduk. "Ah! Aku tahu tempat yang bagus, danna!"
.
.
Saat turun dari mobil Sasori, Deidara tak bicara apa-apa dan langsung berlari menuju sebuah tempat yang ingin ia tunjukan kepada Sasori. Sasori hanya bisa menghela napas saat mengunci pintu mobilnya. Sampai saat ini ia belum bisa menebak sifat Deidara. Semalam ia terlihat seperti seseorang yang lemah dan perlu perlindungan, sekarang ia terlihat seperti seorang anak kecil yang terlalu bersemangat karena diajak masuk ke dalam toko permen. Sasori tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti langkah Deidara. Di tangannya ia membawa tas besar berisi peralatan lukisnya.
Sasori menghentikan langkahnya saat menyadari apa yang terpampang di hadapannya. Hamparan rerumputan yang luas bagai karpet hijau seketika menyejukkan matanya. Di beberapa bagian terdapat kumpulan ilalang yang setinggi orang dewasa. Tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah danau yang luas dengan air yang begitu tenang.
Pemandangan yang indah tentu saja. Tapi yang membuat Sasori terhenyak adalah Deidara yang tengah berlari-lari diantara rumput ilalang, tersenyum lebar dan terlihat begitu bahagia. Tak pernah sebelumnya Sasori melihat senyuman Deidara yang menunjukan kebahagiaan seperti ini.
"Ayo bergabung denganku, danna!" seru Deidara dari kejauhan. Dirinya yang tengah berdiri di tengah ilalang, melambaikan tangannya kearah Sasori.
Sasori hanya menggelengkan kepalanya untuk menolak permintaan Deidara sekaligus untuk menutupi rasa kagumnya.
Sasori duduk bersandar di sebuah pohon yang tua dan rimbun. Ia meletakkan kanvas berukuran sedang di pangkuannya kemudian mengeluarkan peralatan lukis yang lain.
Matanya menatap sekitar, mencoba mencari objek yang menarik untuk diabadikan di dalam lukisannya. Namun setiap mata Sasori terhenti pada Deidara, sulit sekali rasanya untuk mengalihkan pandangannya. Saat ini Deidara tengah membentangkan tangannya, memejamkan mata, melebarkan senyumannya dan menikmati angin yang sejuk. Sasori benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia tahu itu.
Tetapi tanpa sadar, jemari Sasori menggerakkan pensil di atas kanvas.
"Menyenangkan sekali unnn~!" Deidara memekik dengan riangnya.
Hal ini mau tak mau membuat Sasori tersenyum. Entah sudah berapa kali Deidara membuatnya tersenyum seperti ini.
Sasori adalah seorang pelukis yang handal dan berpengalaman. Jadi tak perlu waktu lama baginya untuk melukis. Sekitar satu jam setelah ia mulai melukis, Sasori memperhatikan kanvas yang awalnya kosong itu. Sasori tersenyum sekali lagi saat melihat hasil lukisannya. Tak lama setelahnya ia memasukan kanvas berukuran sedang itu ke dalam tas kemudian menatap dimana Deidara berdiri tadi. Namun ia tak menemukan Deidara berdiri di sana.
"Deidara?" panggil Sasori.
Namun tak ada jawaban.
Sasori memutuskan untuk berdiri agar bisa melihat dengan lebih jelas.
"DANNA!"
Sasori tersentak saat Deidara memekik memanggilnya.
"Deidara?" tanya Sasori seraya melangkah menuju hamparan ilalang mencoba mencari dimana Deidara.
Saat begitu dekat dengan ilalang tersebut, Deidara tiba-tiba saja muncul di hadapan Sasori dengan membawa sebuah bunga berwarna merah di tangannya.
"Lihat ini un!" seru Deidara seraya menyodorkan bunga yang ia bawa kepada Sasori.
"Hmm bunga?" Sasori mengangkat salah satu alisnya.
"Tebak bunga apa ini, un."
"Tulip?" tebak Sasori.
Deidara mengangguk bersemangat. "Danna tahu kenapa aku bersemangat sekali saat melihat bunga ini?" tanya Deidara.
Sasori menggeleng pelan.
"Karena warnanya merah un!"
Sasori berkedip. "Lalu?"
Deidara mendekatkan bunga tulip merah itu pada Sasori, lalu dengan semangat ia berseru "Warnanya sama dengan warna rambut danna!"
Sasori terdiam. Ia masih tak mengerti apa yang Deidara maksud. Satu lagi yang Sasori tidak mengerti adalah, kini Deidara tengah tertawa bahagia. Padahal tidak ada hal yang lucu ataupun hal yang menyenangkan untuk bisa mengundang tawa yang sedemikian lepas.
Sasori berjongkok untuk memetik setangkai tulip liar yang tumbuh di tengah ilalang. Tulip tersebut berwarna senada dengan warna rambut Deidara. Setelah memetiknya, Sasori berdiri kemudian meletakkan bunga tulip kuning itu di atas kepala Deidara.
Deidara berkedip beberapa kali karena bingung dengan apa yang Sasori lakukan. Melihat wajah polos Deidara, Sasori tidak bisa menahan tawanya.
Sasori akhirnya tertawa lepas karena wajah polos dan lugu Deidara. Melihat Sasori tertawa dengan begitu lepas, Deidara pun ikut tertawa.
.
.
"Aaah bagaimana ini sekarang? Kita tidak tahu dimana mereka!" Konan memekik frustasi seraya memegangi kepalanya.
Matsuri dan Temari menatap Konan dengan tatapan bersalah.
"Maaf Konan neechan, tadi kami bangun kesiangan jadi tidak bisa memata-matai Sasori dan Deidara," ucap Matsuri dengan polosnya. Maklum, gadis berambut cokelat pendek ini adalah salah satu anggota termuda di 'Reloves'.
"Lalu sekarang bagaimana? Bagaimana kalau mereka berciuman lagi tapi kita tidak mendapat fotonya? Aaah!" Konan semakin frustasi.
Ino menepuk-nepuk punggung Konan. "Nee, kurasa mereka belum sedekat itu. Maksudku hubungan mereka masih sebatas artis dan manager sementara kan? Bagaimana mungkin mereka bericiuman tanpa tuntutan dari siapapun atau tanpa sebuah 'kecelakaan'?"
Konan yang tadi mulai tenang setelah mendengar bagian awal kalimat Ino, kini kembali memekik frustasi. "Bagaimana kalau 'kecelakaan' itu terjadi dan kita tidak ada disana untuk mengabadikan momen itu?"
Anggota lain hanya bisa menghela napas.
"Kami akan menunggu di dekat rumah Deidara. Saat mereka pulang, kami akan memberi kabar," ucap Temari yang hanya mendapat sebuah anggukan lemah dari Konan.
"Sebaiknya kita pikirkan misi selanjutnya saja."
.
.
_TBC_
Fluff kah? xD Kurang? Chapter depan ditambahin deh xD. Mungkin di chapter depan juga akan ada sedikit drama. Tapi cuma sedikit kok. Gomen ne ini agak lama update-nya soalnya saya lagi susah nyari ide akhir-akhir ini.
Oh ya ada yang mau request scene untuk SasoDei? Silahkan utarakan lewat review ya.
Jaa ne~
Review?
