Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasoDei
Warning: OOC, AU, typo(s), shonen-ai, gaje, aneh, dll.
Ada-ada saja ulah para fans untuk menyatukan Sasori dan Deidara, seniman dan artis terkenal yang sedang naik daun. Mereka bahkan membuat sebuah perkumpulan dan menamai diri mereka sebagai 'Reloves'. Apakah 'misi' mereka akan berhasil?
Di dalam markas reloves, terlihat Konan yang tengah duduk termenung memikirkan sesuatu. Tidak mendapat kabar tentang keberadaan Sasori dan Deidara sejak tadi pagi membuatnya resah. Ia takut terjadi apa-apa kepada Sasori dan Deidara, atau lebih tepatnya ia takut tidak bisa mendokumentasikan apa yang terjadi antara mereka.
"K-konan senpai!" panggil Ino yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Konan tanpa izin. Wajah gadis berambut pirang itu terlihat panik. "Ada yang mencarimu di luar!"
"Siapa?"
"H-h-hidan!"
Mata Konan melebar mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Ino. Bergegas ia menuju tempat di mana sang tamu sudah menunggu. Ternyata memang benar Hidan yang Ino maksud memang Hidan yang pernah mereka jadikan korban! Astaga apakah Hidan datang untuk meminta pertanggung jawaban reloves? Bagaimana cara Konan untuk mengatasinya?
"Ada perlu apa?" tanya Konan ketus seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa di mana Hidan duduk.
"Galak sekali. Bagaimana Pein-san bisa tahan ya?" tanya Hidan seraya terkekeh.
Konan melempar deathglare terbaiknya pada Hidan.
"Tenang, tenang. Aku kesini karena kurasa kelompok kalian ini menarik sekali. Menurut dugaanku, kelompok kalian ini adalah kumpulan orang-orang yang mendukung hubungan Sasori dan Deidara yang lebih dari sekedar manager sementara dengan artisnya kan?" Seringaian muncul di bibir Hidan.
Konan melipat kedua lengannya di depan dada kemudian menyandarkan punggungnya di sofa. "Ya, lalu?"
"Semua anggota kelompok kalian perempuan?"
Konan memutar bola matanya. "Tentu saja. Cepat katakan intinya."
"Intinya aku ingin..."
.
~SasoDei FanClub: Reloves~
.
Deidara bermain-main dengan rerumputan hijau yang menjadi alasnya berbaring. Sesekali dicabutnya rerumputan yang dekat dengan tangannya seraya menatap langit yang warnanya senada dengan warna matanya. Senyum mengembang di bibirnya karena rasa nyaman yang ia rasakan saat ini. Sinar matahari sudah tak terlalu menyengat jadi Deidara bisa berbaring dengan nyamannya di tempat terbuka seperti ini.
"Danna! Apa kau tidak ingin berbaring di sini sebentar dan menikmati indahnya alam, un?" tanya Deidara yang menoleh ke arah dimana Sasori tengah duduk. Tak jauh darinya terlihat Sasori duduk mengamatinya.
"Hm? Untuk apa?"
"Ayolah ini kesempatan yang langka un!"
Sasori memutar bola matanya setelah menyadari betapa keras kepalanya Deidara, namun pada akhirnya ia beranjak dari tempatnya duduk untuk perlahan berjalan mendekati Deidara.
"Kau ini seperti anak kecil saja," ucap Sasori seraya duduk di sebelah Deidara yang berbaring di rerumputan.
"Huh? Benarkah?" Deidara menatap Sasori dengan mata birunya yang besar dan indah. "Saat aku kecil aku tidak pernah melakukan ini, un. Apa danna pernah?"
Sasori mengangkat bahunya. "Tidak juga," sahutnya sekenanya.
"Kalau begitu danna hanya mengarang ya un!"
Pria berambut merah tersebut hanya bisa menghela napas. "Terserah kau saja."
Deidara tertawa melihat raut putus asa Sasori.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Tidak un. Aku hanya sedang merasa senang, jadi aku banyak tertawa."
"Begitu ya?" Senyum tipis terukir di bibir Sasori walaupun ia berusaha untuk menyembunyikannya.
Deidara mengangguk kemudian memejamkan matanya menikmati angin semilir yang berhembus, memberikan kesejukan tersendiri bagi tubuh dan pikirannya. Sasori perlahan mengarahkan tatapannya pada wajah Deidara. Mata biru yang biasanya bersinar itu kini tertutupi oleh kelopak matanya. Senyum tipis tak kunjung sirna dari bibir mungil Deidara. Sebagian kecil dari rambut pirangnya menari-mari tertiup angin.
Satu kata yang terlintas di pikiran Sasori hanya kata "cantik".
Sasori tertegun saat menyadari isi pikirannya. Ia segera menggelengkan kepala dan tersenyum karena menyadari betapa bodoh dirinya memperhatikan Deidara hingga sedemikian dalam.
"Jarang sekali merasakan suasana senyaman ini, un," ujar Deidara yang belum juga membuka matanya karena masih menikmati tiupan angin dengan indera peraba di seluruh permukaan kulitnya.
"Kurasa kali ini aku setuju denganmu," ujar Sasori yang mendongak menatap langit biru.
"Kenapa kau tidak mencoba untuk berbaring sepertiku, danna?"
Sasori menoleh menatap Deidara yang kini sudah membuka matanya dan menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena danna akan merasa lebih nyaman jika berbaring seperti ini un. Bebanmu terasa berkurang. Coba saja."
Karena tidak ingin Deidara mengoceh lebih lama, akhirnya Sasori memutuskan untuk berbaring di sebelah Deidara. Sasori tertegun saat pandangannya langsung tertuju ke langit biru yang cerah. Ia tak perlu mendongak lagi untuk menatap langit, karena sebenarnya mendongak bisa membuat leher bagian belakang terasa pegal. Tapi dengan posisi berbaring seperti ini, Sasori tak merasakan pegal di bagian tubuhnya yang mana pun.
"Benar kan, danna?" tanya Deidara yang menoleh untuk menatap raut wajah Sasori, memastikan apakah Sasori menikmati posisi barunya atau tidak.
Sebuah anggukan kepala Deidara dapatkan sebagai jawaban. Deidara tersenyum puas dan kembali memejamkan matanya. Kali ini ia tak sendirian, karena perlahan Sasori juga ikut memejamkan matanya guna menikmati kenyamanan dan kesejukan yang jarang ia dapatkan di tempat lain.
Sekitar belasan menit mereka menikmati berbaring di tempat terbuka seperti ini, Deidara menghela napas panjang kemudian mengganti posisi menjadi duduk di rerumputan.
Sasori membuka matanya untuk melihat apa yang akan Deidara lakukan.
"Aku ingin bermain di danau un."
.
.
Sasori duduk di dekat danau. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya, punggung bersandar di batang pohon tua, dan –secara tidak ia sadari, senyum tipis terukir di bibirnya. Tidak, ia tidak sedang melihat sebuah panorama alam yang patut untuk diabadikan dalam selembar kanvas. Yang ia perhatikan saat ini hanyalah seorang laki-laki yang lebih muda darinya tengah bermain di air seperti anak-anak. Rambut pirang panjangnya yang basah terlihat berkilau di bawah teriknya sinar mentari. Mata biru Azure-nya bersinar menunjukan kebahagiaan.
"Ayo danna un! Kapan lagi kau memiliki kesempatan untuk bermain-main air seperti ini!" seru Deidara yang mencoba untuk membuat Sasori bermain air danau bersamanya.
"Bermain seperti anak-anak begitu? Yang benar saja," ujar Sasori yang kini mengubah senyumannya menjadi seringaian karena ia tak ingin Deidara melihatnya tersenyum.
Deidara sedikit memajukan bibir bawahnya, seperti anak kecil yang tidak mendapat apa yang mereka inginkan.
Sesaat Sasori tertegun. Di hadapannya kini bukanlah Deidara yang arogan, suka membentak, dan menyebalkan. Sasori melihat Deidara yang berdiri tak jauh darinya itu tak beda dengan seorang bocah yang tidak berdaya setelah permintaannya tidak terpenuhi.
Segera Sasori berpura-pura terbatuk untuk menyamarkan tawanya agar Deidara tidak mengetahui bahwa Sasori tengah tertawa. Mata Sasori terpejam dan ia terus berpura-pura terbatuk.
"Kau baik-baik saja, danna un?" tanya Deidara dari jauh, terdengar kekhawatiran di nada pemuda berambut pirang tersebut.
"Aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku. Lanjutkan kegiatanmu," ujar Sasori setelah berhenti –berpura-pura- batuk.
"Danna yakin tidak ingin ikut?" tanya Deidara sekali lagi.
Sasori hanya mengangguk.
Deidara mengangkat bahunya pertanda ia sudah tidak peduli lagi apakah Sasori akan bergabung dengannya atau tidak.
Sasori memejamkan kedua matanya, menikmati hembusan angin yang meniup lembut wajah dan rambutnya. Sudah lama sekali ia tak merasakan sejuknya tiupan angin di bawah pohon yang rindang. Suasana yang ia rasakan saat ini benar-benar membuatnya nyaman. Kalau saja ia tidak ingat bahwa dirinya tidak sendirian di tempat itu, mungkin saja Sasori akan memutuskan untuk tidur siang di sana.
Saat ia membuka matanya kembali, ia sedikit terkejut karena keberadaan Deidara semakin menjauh darinya.
"Hei, jangan terlalu jauh, nanti kau bisa tenggelam," ucap Sasori sedikit khawatir.
Dari kejauhan Deidara hanya menjulurkan lidahnya. "Aku bukan anak kecil. Mana mungkin aku tenggelam, un!" ujarnya yang kini berenang semakin jauh di tengah danau.
Keras kepala sekali anak itu, batin Sasori yang secara tak sadar membenarkan posisi duduknya sehingga kini ia tak lagi bersandar di batang pohon.
"Danna! Perhatikan berapa lama aku bisa tidak bernapas di dalam air!"
Sasori mengerutkan dahinya.
Deidara menarik napas dalam lalu memasukkan seluruh bagian tubuhnya hingga ujung rambutnya ke dalam air. Sesaat keadaan hening, lalu tiga puluh detik berikutnya kepala Deidara menyembul dari dalam air. Deidara menghembuskan napas kemudian mulai terengah.
"Lama tidak?" tanya Deidara seraya menyeringai.
Sasori tidak menjawab, ia masih tidak habis pikir melihat tingkah konyol pemuda bernama Deidara tersebut.
Tidak mendapat jawaban dari Sasori, Deidara kembali cemberut. "Tadi itu berapa lama, danna?"
"Hm?" Sasori berkedip kemudian berpikir sesaat. "Tidak sampai satu menit."
"Huff." Deidara mengembungkan pipinya. "Baiklah kali ini aku akan mencoba untuk lebih lama lagi un!"
"Sudahlah lebih baik sekarang kau kembali kesini karena hari sudah so—"
Belum sempat kalimat Sasori terselesaikan, Deidara sudah mengenggelamkan dirinya kembali ke danau.
"Tch, bocah itu." Sasori menghela napas seraya berdiri dari posisi duduknya.
Sasori mengamati arloji di tangan kirinya, untuk mengetahui berapa lama Deidara bisa menahan napas di dalam air.
Tiga puluh detik terlewati, Sasori melirik ke danau, ternyata Deidara belum muncul.
Empat puluh lima detik, ia melirik ke danau kembali namun sosok Deidara belum muncul juga.
Kuat juga dia, batinnya.
Satu menit terlewati, Deidara belum juga muncul ke permukaan.
"Cukup Deidara. Sudah satu menit, kau boleh keluar sekarang," ucap Sasori dengan volume suara yang cukup tinggi agar Deidara bisa mendengarnya. Beberapa saat setelahnya berlalu tanpa apapun yang terjadi.
"Deidara!" nada panik terdengar dari suara Sasori. "Deidara! Cepat kembali ke permukaan!"
Tidak ada kemunculan sosok Deidara.
"Deid—"
Mata Sasori melebar saat melihat bagian punggung Deidara muncul ke permukaan, terapung.
"Baka!" Tanpa pikir panjang Sasori melompat ke dalam danau, berenang ke tengah danau untuk menyelamatkan Deidara. Segera ia meraih Deidara untuk memastikan keadaannya, didapatinya kedua mata Deidara tertutup dan pemuda itu tidak bergerak sama sekali, tidak sadarkan diri.
Dengan gerakan cepat Sasori membawa Deidara ke tepi danau kemudian membaringkan Deidara di atas rerumputan.
"Bodoh, buka matamu!" Seru Sasori panik seraya merendahkan tubuhnya untuk menempelkan telinganya di dada kiri Deidara, mencoba memastikan apakah jantung Deidara masih berdetak atau tidak. Ia sedikit bernapas lega saat mendengar detak jantung Deidara yang normal.
"Deidara, buka matamu," bisik Sasori seraya menepuk-nepuk pelan pipi Deidara, berharap Deidara segera membuka matanya. Namun Deidara belum bergerak sama sekali.
Berpikir bahwa Deidara terlalu banyak menelan air danau saat tenggelam tadi, Sasori menekan-nekan dada Deidara dengan kedua telapak tangannya berusaha mengeluarkan air danau yang berada di dalam tubuh Deidara. Sayangnya tak sedikitpun air danau yang keluar dari mulut Deidara.
"Sial!" umpatnya.
Jalan terakhir.
Napas buatan.
Sepertinya Sasori tidak berpikir panjang untuk melalukan langkah terakhir untuk menyelamatkan nyawa Deidara. Ia segera mengambil posisi, mendekatkan wajahnya dengan wajah Deidara.
Matanya melebar saat melihat bibir Deidara melengkung membentuk sebuah seringaian. Segera Sasori menjauhkan wajahnya dari wajah Deidara. Dengan tatapan tidak percaya, ia memperhatikan Deidara yang tiba-tiba saja membuka matanya kemudian tertawa terbahak.
"Ahahaha wajah panikmu itu lucu sekali danna un!" Deidara tertawa keras, terbahak hingga ia berguling di rerumputan seraya memegangi perutnya.
Sasori tersentak.
"Kau..." Sasori tak bisa tahu apa yang harus ia katakan. Ia terlalu terkejut.
"Un! Maaf yang tadi itu hanya bercanda. Habisnya, aku ingin danna masuk ke dalam danau juga!" Deidara melanjutkan tawanya.
Sasori masih terdiam.
"Danna lupa ya? Aku ini seorang aktor!" Deidara masih tertawa. "Aku berhasil mengerjai dan—"
"Kau pikir ini lucu?!"
Tawa Deidara terhenti begitu saja setelah mendengar bentakan Sasori. Raut wajah Deidara pun berubah seketika itu juga saat melihat Sasori yang berdiri mengepalkan kedua tangannya.
"D-danna..."
"Kau pikir berpura-pura tenggelam itu lucu?!" Sasori membiarkan gejolak di dalam dadanya bergemuruh. "Seperti ini caramu untuk mengerjai orang lain? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan dari orang yang mencemaskanmu? Yang tidak pikir panjang untuk menyelamatkanmu?"
Deidara menundukkan kepala, ia tak menduka sama sekali reaksi seperti ini yang akan ia dapatkan dari tingkah lakunya. Ia sudah menduga kemungkinan-kemungkinan lain, tapi tidak yang satu ini.
"M-maaf danna, a-aku..."
"Cukup!" bentak Sasori yang pergi begitu saja meninggalkan Deidara yang masih terduduk di rerumputan menyesali apa yang telah ia lakukan. Namun sebelum Sasori benar-benar pergi, ia menoleh ke belakang dan berucap, "Kau benar. Tadi aku lupa bahwa kau adalah seorang aktor. Karena kupikir yang sedang bersamaku adalah Deidara yang jujur, tulus, dan tidak berpura-pura. Aku harap kita tidak bertemu lagi."
Mata Deidara terbuka lebar setelah mendengar apa yang Sasori katakan. Akan tetapi, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya untuk mencegah Sasori pergi. Pada akhirnya yang bisa Deidara lakukan hanyalah memperhatikan kepergian Sasori dalam diam.
Perlahan kepala Deidara kembali tertunduk, memperhatikan tangannya yang mencabut rumput-rumput tak berdosa yang menjadi saksi kejadian yang terjadi di siang menjelang sore tersebut. Hanya hembusan angin dan bunyi yang ditimbulkan dari gesekan dedaunan saja yang menemani Deidara. Namun hanya rerumputan yang mengetahui setetes air mengalir di pipi Deidara dan menetes dari dagunya.
.
.
.
Dengan tubuh yang menggigil kedinginan, dilangkahkannya kedua kakinya di jalan setapak yang menghubungkan daerah dekat danau dengan jalan raya. Kepalanya tertunduk menatap kaki-kaki jenjangnya yang melangkah seolah tanpa keinginannya. Pemuda itu meringis pelan saat angin sore berhembus, menimbulkan sensasi luar biasa dingin pada tubuhnya yang basah kuyup. Ia memeluk dirinya sendiri seerat mungkin, mencoba mencari kehangatan, namun angin yang terus berhembus sepertinya tak bersahabat sore ini. Samar-samar ia mendengar bunyi kendaraan yang mendekat dari arah depan walaupun ia enggan untuk sekedar mengangkat kepala hanya untuk memastikan dirinya tidak menghalangi jalan dari kendaraan tersebut. Saat bunyi kendaraan semakin mendekat, Deidara tak menyangka sama sekali bahwa kendaraan –yang ternyata sebuah mobil, itu berhenti tepat di sebelahnya. Mau tak mau ia mengangkat kepalanya untuk menatap siapa yang berada di dalam mobil silver tersebut.
Saat kaca mobil turun, menampakkan seorang pria berambut putih keperakan, Deidara merasa sedikit lega karena ternyata ia mengenal orang itu.
"Deidara-chan, apa yang kau lakukan disini?" tanya laki-laki tersebut.
"Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku seperti itu, Hidan un." Deidara mendengus.
"Baiklah Deidara, apa yang kau lakukan di sini seorang diri?" Hidan mengulang pertanyaannya.
Deidara hanya bisa mengalihkan tatapannya dan berbisik, "bukan urusanmu,un."
Terdengar desahan napas dari Hidan yang terdengar sedikit mendramatisir. "Kalau begitu ayo masuk sebelum kau mati kedinginan."
Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya Deidara menuruti perkataan Hidan untuk masuk ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan Deidara hanya menatap keluar jendela, tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang Hidan lontarkan. Jika Hidan memaksa Deidara untuk menjawab, Deidara hanya menjawab sekedarnya saja. Namun seiring dengan waktu yang terus berputar, suasana hati Deidara perlahan membaik terlihat dari caranya merespon pertanyaan Hidan dengan candaan. Sesekali mereka tertawa. Mungkin sudah bisa diterka, mereka memang saling mengerti satu sama lain, mudah saja mereka disebut sahabat.
"Biar kutebak, biar kutebak," ucap Hidan seraya menyeringai. "Masalahmu pasti berhubungan dengan cinta, benar begitu Deidara-chan?"
Deidara memberikan raut wajah terkejut. "Cinta katamu, un? Heh, kau ini memang tidak bisa menebak dengan benar," sahut Deidara seraya mengalihkan tatapannya.
Hidan tertawa pelan. "Dari gerak-gerikmu yang seperti gadis sekolahan itu aku sudah bisa menebaknya, dasar pirang."
"Diam kau un." Deidara mengembungkan pipinya seperti anak kecil yang sedang kesal.
Hidan kembali tertawa melihat tingkah kekanakan Deidara.
"Bahkan dari matamu yang merah itu, aku yakin kau tadi pasti menangis. Benar kan?"
Mata Deidara melebar, raut wajahnya berubah seketika. Deidara sama sekali tidak memutuskan untuk menjawab karena tiba-tiba saja suasana hatinya kembali memburuk mengingat bahwa sesaat yang lalu ia menangis karena menyesal akan tingkah laku konyolnya yang membuatnya dibenci oleh seseorang yang mulai ia percaya.
Melihat respon dari Deidara, yang lebih tepatnya tidak memberi respon, Hidan hanya tersenyum simpul dan kembali fokus mengemudikan mobilnya menuju kediaman Deidara.
Tak lama kemudian mereka tiba di tempat yang mereka tuju, dan tanpa membuang waktu, Deidara segera membuka pintu mobil Hidan dan berjalan cepat ke dalam rumahnya. Hidan hanya bisa menghela napas seraya memberi tatapan iba kepada sahabatnya itu. Setelah cukup lama mengenal Deidara, Hidan tahu apa yang paling dibutuhkan oleh Deidara di saat-saat seperti ini, yaitu waktu untuk sendiri. Oleh karenanya, Hidan memutuskan untuk tidak menyusul Deidara masuk ke dalam rumahnya, melainkan pergi meninggalkan rumah Deidara tersebut.
.
.
"...Maaf Itachi, hanya sampai disini saja tugasku untuk menjaganya."
"Baiklah kalau begitu. Tidak apa-apa Sasori, kau sudah banyak membantu. Terimakasih."
"Hm," sahut Sasori seraya menjauhkan ponselnya dari telinga kirinya. Kemudian ia meletakkan benda tersebut di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidurnya. Ia segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menutup mata, dan menggunakan lengan kirinya untuk menutupi matanya.
Malang baginya, sepertinya keinginannya untuk beristirahat dan melepaskan semua penat yang ia rasakan tidak bisa terpenuhi karena saat ia memejamkan mata, wajah dari seorang laki-laki berambut pirang beriris mata biru yang cerah bak langit siang muncul di benaknya. Sasori menghela napas setelah mengingat kejadian yang menghancurkan harinya. Dijauhkannya lengannya dari matanya kemudian dibukanya kedua mata tersebut secara perlahan, menatap langit-langit kamarnya guna mencari jawaban apakah tindakan yang ia lakukan tadi benar atau salah. Setelah cukup lama terdiam, Sasori kembali menghela napas sebelum menutup mata kembali dan terlelap perlahan.
Beberapa jam berikutnya Sasori membuka matanya kembali, namun beban pikirannya nampaknya sama sekali belum berkurang. Mata Hazel-nya melirik jam yang terpajang di dinding kamarnya. Jam tersebut menunjukkan pukul tujuh malam. Sasori mengganti posisinya menjadi duduk dan mengamati seisi kamarnya yang gelap karena ia belum menyalakan lampu.
Hanya satu hal yang biasanya Sasori lakukan saat ia memiliki masalah, yaitu melukis. Hobinya ini sudah menjadi penyelamat baginya, karena disaat sesulit apapun, ia akan merasa tenang pada saat ia melukis. Namun tiba-tiba saja Sasori teringat sesuatu; beberapa peralatan lukisnya yang tidak ia bawa ke danau tadi siang masih tertinggal di rumah Deidara. Dengan enggan ia meraih ponselnya untuk menghubungi Itachi.
Tak lama menunggu akhirnya Itachi menyahuti panggilnnya.
"Ada apa, Sasori?"
"Peralatan lukisku tertinggal di sana. Kali ini aku yang meminta tolong padamu. Bisakah kau membawakan peralatan itu ke rumahku?" Sasori tidak akan mengatakan alasan sebenarnya bahwa ia tak ingin bertemu dengan Deidara untuk beberapa saat.
"Oh, hmm..." Terdengar Itachi bergumam. "Maafkan aku, kalau hari ini atau besok mungkin tidak bisa. Karena aku harus merawat Deidara."
Sasori memutar bola matanya, jenuh mendengar dua kata terakhir yang diucapkan Itachi. "Bisakah kau berhenti memanjakannya?"
"Aku tidak memanjakannya, Sasori. Bagaimana pun juga orang sakit tidak bisa merawat dirinya sendiri kan?"
Sasori terdiam sesaat untuk mencerna apa yang Itachi katakan.
"Deidara sakit?" tanyanya pada akhirnya.
"Ya, dia demam dan sekarang ia hanya bisa tidur. Kalau kau sangat memerlukan peralatan itu, kau bisa mengambilnya sendiri ke sini. Sudah dulu, aku harus menjaga Deidara."
"Hmm baiklah."
Dan pembicaraan pun terputus. Sasori menurunkan ponsel tersebut dari telinganya kemudian menatap layar ponselnya. Sesaat ia berpikir untuk mengunjungi Deidara guna memastikan keadaanya, karena sedikit banyak Sasori merasa bersalah karena telah meninggalkan Deidara dalam keadaan basah kuyup seperti tadi sore. Tapi, Sasori berpikir ulang, bukankah semua itu kesalahan Deidara? Ia terlalu lama berada di danau dan berpura-pura tenggelam, jadi wajar saja ia sakit.
Sasori duduk di tepi tempat tidurnya, dan sekali lagi menghela napas.
"Anak itu benar-benar merepotkan."
.
.
_TBC_
Yatta! Saya kembali membawa fanfic ini setelah sekian bulan gak dilanjutin dan chapter ini cuma dikit isinya /cries. Gomen ide bener-bener gak bisa ngalir dengan kesibukan yang menggila Dx
Minna masih inget kan sama fic ini? Soalnya jujur saya aja baca ulang dari chapter 1 biar bisa lanjutin ke chapter 6 ini. Huh :'D
Btw, review ya x3
