They Also An Opposite For Each Other
Disclaimer:
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
They Also An Opposite For Each Other by Aoko Himawari
OCs by Aoko Himawari, Aoko Himawari's Friend
Enjoy!
"APA?! Kau berniat mempertemukan Akashi-kun dengan Shinkai-kun?" Seorang gadis berambut pink meletakkan punggung tangan kanannya di dahi seorang gadis lainnya yang berambut oranye-pink.
"Aku tidak gila, dan ya, aku ingin mempertemukan mereka. Memangnya salah? Bukankah itu baik, sehingga Sei bisa mempunyai teman baru?" Gadis berambut oranye-pink itu–Aoko Himawari–mengernyitkan dahinya, heran. Lalu ia melepas tangan temannya–Momoi Satsuki–dari dahinya.
"Tidak logis," Momoi memajukan bibirnya sedikit, "Akashi-kun tidak pernah tertarik untuk memiliki teman baru."
"Oh, ayolah. Kalau itu sebegitu tidak logis-nya untuk Akashi-kun, mungkin itu akan logis untuk Shin."
"Hi-chan, Akashi-kun dan Shinkai-kun tidak akan menjalin sebuah hubungan yang dinamakan 'teman'. Percayalah padaku."
"Ya, tapi 'kan, tidak ada salahnya membiarkan mereka mengenal satu sama lain," Hima masih tetap pada keinginannya. Momoi menghela nafas, menyerah. Memang sulit memiliki teman yang memiliki sifat keras kepala.
"Ya..sudahlah. Aku mau bagaimanapun kau pasti akan tetap memperkenalkan mereka berdua, 'kan?" Momoi menguum senyum kecil dijawab dengan cengiran khas dari Hima, menandakan bahwa benarlah apa yang dikatakan Momoi.
"Hima, ayo kuantar kau pulang." Suara dingin dan datar khas Akashi Seijuurou memasuki indra pendengaran kedua gadis yang ada di dalam ruangan klub.
Klub basket baru saja selesai latihan. Ini sudah waktunya mereka untuk pulang. Karena itu, Hima segera menggendong tasnya begitu mendengar suara sang surai merah yang baru beberapa minggu memiliki 'cap' sebagai kekasih Aoko Himawari.
"Aku pulang dulu kalau begitu, Satsu-chan. Mata ashita, ne." Di pintu ruangan klub yang sedikit terbuka, Hima melambaikan tangannya kepada Momoi. Hima mengeluarkan senyum lebar mendapati sosok Akashi yang sedang melipat tangan di dadanya, menunggu di luar ruangan.
"Kurasa aku sudah bilang bahwa aku tidak suka menunggu." Mata Akashi terpejam.
"Ya, kau sudah bilang. Aku minta maaf," Hima memajukan bibirnya, "Lagipula apa salahnya sih, aku hanya ngobrol sebentar dengan Satsu-chan." Detik berikutnya, iris merah itu ditampakkan, melirik tajam sang iris biru cemerlang.
"Aku tidak menerima penolakan." Akashi bertitah dengan tegas.
"Hidupku bukan untuk kau atur, meskipun kau kekasihku." Hima membalas sambil melipat tangan. Kali ini, mata Akashi penuh dengan kemarahan. Masih ada rasa tak suka yang menguasainya saat gadis ber-'cap' kekasihnya itu memberikan perlawanan.
"Aku selalu benar. Sekarang, kau ingin pulang atau aku tinggal sendiri." Akashi mulai membuat langkah pertamanya, disusul langkah-langkah berikutnya. Hima mengernyit pelan, masih belum mau kalah. Tapi akhirnya ia menyerah, jika tak mau sekolah dikunci sebelum mereka pulang dan terjadi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya ia mengikuti langkah Akashi.
"Ne, Sei," Hima memanggil nama panggilannya untuk Akashi saat berjalan pelan menyusuri koridor yang sudah gelap. Akashi hanya menggerakkan kepalanya sedikit sebagai reaksi, tidak mengeluarkan suara apapun dan memilih untuk menunggu sampai Hima melanjutkan. "Malam ini kau ada acara, tidak?"
"Tidak," seperti biasanya, jawaban singkat dari Akashi.
"Kalau aku minta kau bertemu sebentar dengan kakak kembarku, kau mau tidak?"
"Sebuah keharusan?" Akashi mengangkat sedikit alisnya, tidak tertarik untuk menarik penglihatannya dari jalan yang ada di depannya ke gadis yang berjalan di sebelahnya dengan sedikit gugup.
Mendengar jawaban Akashi atas permintaannya, membuatnya berpikir sejenak. Apa jawaban yang sebaiknya ia keluarkan?
"Kalau aku bilang ya?" Hima memilih untuk menjawab dengan pertanyaan juga.
"Aku ke rumahmu. Tapi bukan karena kau memintaku. Aku tidak suka diperintah, kau harus ingat." Mendengarnya, meski kurang puas dengan jawaban Akashi, Hima mengepalkan tangannya, bersyukur.
.
.
.
"Aku pulang." Hima membuka pintu rumahnya yang tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Walau cukup besar untuk ditinggali 3 orang. Ia membiarkan Akashi masuk terlebih dahulu, lalu melepas sepatunya, begitu juga dengan Akashi.
"Selamat datang," suara yang muncul dari dapur. Sepertinya kakak kembar Hima, Shin, sedang memasak.
"Shin, aku membawa temanku. Tadi aku sudah memberitahukanmu, 'kan?"
"Ya. Ke ruang tamu saja duluan, nanti kususul lima menit lagi." Mendengar jawaban Shin, Hima membawa Akashi ke ruang tamu. Hima membuka pintu coklat muda dengan kaca di bagian tengahnya itu lalu mempersilakan Akashi duduk di salah satu sofa. Seperti sebuah ritual, setelah mempersilakan Akashi duduk, Hima berjalan ke salah satu sudut ruang tamu. Terdapat sebuah tempat berdoa dengan foto seorang wanita ceria di tengahnya, sang ibu dari keluarga Aoko.
Hima berlutut lalu mengucap doa sebelum ia mengeluarkan senyum, "Aku pulang, Bu." Setelahnya, Hima berdiri lagi dan memberikan segelas teh kepada Akashi yang tidak berkomentar. Hanya duduk dalam diam, kadang memperhatikan sekilas pergerakan yang dibuat oleh Hima.
"Silahkan, Sei." Hima tersenyum seraya memberikan segelas teh yang masih hangat itu. Akashi hanya menerimanya, mengangguk sekilas. Sedangkan Hima juga mengambil tempat duduk, sofa yang berada di sebelah sofa yang diduduki Akashi. Tak lama kemudian, Shin memasuki ruang tamu itu, seperti yang ia janjikan sebelumnya; lima menit. Shin melepaskan celemek berwarna soft blue dari tubuhnya, lalu menggantungkannya di senderan sebuah sofa yang kemudian ia duduki.
Hima tersenyum, "Shin, ini Sei," kemudian ia berpaling ke arah Akashi, "Sei, ini Shin."
Shin mengangguk, "Shinkai Aoko." Akashi mendongakkan sedikit kepalanya, angkuh seperti biasa.
"Akashi Seijuurou." Keduanya memiliki wajah yang mirip; dingin dan datar. Sungguh tak bisa dipercaya kalau yang duduk di depan Akashi ini, laki-laki yang memiliki warna mata merah darah ini, adalah kakak kembar seorang Aoko Himawari. Secara fisik mereka juga tidak ada yang sama, hanya wajah mereka yang sedikit mirip.
"Ba-baiklah, aku mau mandi dan ganti baju dulu. Kalian berdua ngobrol dengan akrab saja ya." Hima berdiri. Ia mengambil tas yang tadi ia letakkan di sebelah tempatnya duduk, kemudian pergi keluar ruang tamu dan menuju ke kamarnya yang terletak di lantai atas.
"Aku akan to the point saja, ya, Akashi-san," Shin memulai pembicaraan, melepaskan keheningan yang tercipta beberapa menit terlebih dahulu sedangkan Akashi hanya diam menunggu, "apakah benar kau adalah kekasih adikku?" Shin menekankan sedikit kata-kata 'adikku'.
"Ya." Akashi menganggukan kepalanya sekilas.
"Jika aku boleh tahu, apa yang membuatmu tertarik dengan adikku?" Shin memiringkan sedikit kepalanya.
"Kau tidak perlu tahu."
"Kalau begitu, apa kau menyukai adikku?"
"Keharusan bagiku untuk menjawabnya?"
"Jika ya?"
"Aku ingin menjadikannya milikku."
"Oh?" Shin menaikkan sebelah alisnya, "lalu apa yang membuatmu menyukainya?"
"Karena ia menarik." Sebuah jawaban yang singkat, padat, dan sangat tidak jelas.
"Kukatakan padamu, Akashi-san, aku tidak tahu kau punya apa yang membuat Hima tertarik padamu. Namun, jika kau tidak memiliki apapun untuk melindungi Hima, aku tidak akan pernah menyerahkan Hima padamu."
"Apa yang membuatmu mengatakan hal seperti itu."
"Hima selalu pulang dalam keadaan kesal. Itu sudah menjelaskan ada sesuatu yang terjadi, apalagi sejak beberapa minggu lalu, walaupun hal itu tidak berlangsung setiap hari."
"Hari ini sepertinya tidak. Lagipula, menurutku rasa kesalnya tidak serius." Akashi menjawab. Nadanya mulai dingin. Rasa tidak suka kembali menjalar.
"Oh ya? Bisakah kau menjamin hal itu?" Shin mengangkat sebelah alisnya.
"Sekali lagi kau bertanya hal tidak penting seperti ini, gunting akan menembus dadamu."
"Gunting?" Tepat setelah Shin bertanya, pintu ruang tamu terbuka. Tekanan sudah sangat tinggi di dalamnya. Hasil 'perbincangan' Shin dan Akashi.
"Stop, Sei! Shin kukenalkan padamu bukan untuk kau lukai." Alis coklat muda sang gadis bertaut.
"Aku tidak menerima perintah." Akashi menjawab dingin.
"Shin adalah kakak kembarku. Tak akan kubiarkan kau melukainya," kali ini, Hima berdiri di depan Shin, melindungi Shin dari laki-laki yang merupakan kekasihnya itu. Alis coklat muda-nya bertaut.
"Aku tidak akan melukainya selama dia tidak menentangku." Hima mengerjapkan matanya.
"Kalian berdua ini sebenarnya melakukan apa saja sih, selama aku tinggal tadi?" Hima mengernyitkan dahinya heran. Iris biru cemerlang kemudian bertemu dengan iris merah darah. Ia yakin kakak kembarnya yang memulai pembicaraan. Tidak mungkin Akashi memulai.
"Shin, aku harap kau tidak bertanya yang aneh-aneh."
"Tidak. Aku hanya bertanya apa yang dia punya untuk melindungimu. Aku tidak ingin kau jatuh ke tangan orang yang berbahaya. Bagaimanapun, ayah telah mempercayaiku untuk melindungimu."
"Sei sudah cukup melindungiku, karena itu kau tidak perlu cemas saja kecemasanmu kepada Chi -chan." Hima mengeluarkan cengiran iseng. Sepertinya kalimat iseng itu telak mengenai Shin. Wajahnya perlahan bersemu merah. 'Chi-chan' adalah orang yang disukai oleh Shin, karena itulah.
"A-apa. Kenapa jadi bawa-bawa Chiharu!" Shin berdeham lalu mendapatkan kembali ekspresi datarnya. "Kalau begitu kenapa setiap kali kau pulang, kau selalu kesal?" Shin masih berkeras untuk tidak menyerahkan Hima.
"Kalau itu sih," Hima menoleh ke belakang, mendapati wajah Akashi yang datar dan dingin seperti biasa, "hal yang biasa. Aku ber-adu mulut dengan Sei. Tapi," Hima mengeluarkan senyuman lebar, "karena itulah, aku dan Sei bisa seperti ini." Mendengar hal itu, kecemasan di wajah Shin berangsur-angsur menghilang. Akashi juga tidak terlalu banyak bereaksi, namun reaksi yang dikeluarkannya menunjukkan kesetujuan atas kata-kata Hima, mungkin.
Akhirnya Shin menghela nafas. "Baiklah, aku merestui kalian."
.
.
.
"Ternyata benar. Sei dan Shin tidak bisa berteman." Hima memajukan bibirnya sedikit.
"Tuh, 'kan. Aku sudah duga seperti itu." Momoi mencibir.
"Yang penting, Shin sudah merestuiku, artinya ayah juga pasti merestui kami, 'kan?" Hima mengeluarkan cengiran polosnya seperti biasa.
"Selamat, ya." Momoi tersenyum kemudian mengacak rambut Hima. Sedangkan yang diselamati hanya tersenyum. Ia juga berharap demikian, mengingat ayahnya adalah seorang yang keras. Tapi, jika perantara mereka, Shin, sudah menyetujui, seharusnya ayahnya juga menyetujui, bukan? Semoga benar seperti itu.
"Hima, ayo kuantar pulang." Suara baritone memasuki indra pendengaran kedua gadis yang sedang duduk di dalam ruangan klub.
"Baiklah, aku pulang dulu, ya, Satsu-chan." Hima melambaikan tangannya di depan pintu masuk lalu melihat Sei-nya sudah berdiri di luar ruangan klub.
"Ayo, Sei." Hima menggandeng tangan Akashi yang bebas lalu berjalan berdampingan dengan Akashi.
A/N:
Duh, Akashi-nya OOC! Oh tidak..
Dan di sequel ini, author sedikit memasukkan kehidupan RP /ha
Jadi, 'Chi-chan' atau 'Chiharu' adalah salah satu OC buatan salah satu temen nge-RP author, BloomingHealer - account RP-nya as Chiharu. Boleh diliat-liat /emangnya barang?/ /dibunuh Chi/
Tenang, author sudah minta persetujuan ke orang yang bersangkutan dan dia bilang oke. Jadi author pake, yey! Thanks.
Anyway, author tiba-tiba kelewat ide ini pas lagi makan siang atau mandi pagi gitu, author lupa, dan idenya sedikit mendadak dan kelewat simple..jadilah sequel gaje ini.
Seperti sebelumnya, author mohon maklum atas typo(s) dan ke-OOC-an Akashi yang membuat author langsung dilempari se-boks gunting oleh Akashi dan fans-nya Akashi. Author minta maaf, secara author jujur lebih suka Kuroko dibanding Akashi. Maafkan author.
Terima kasih buat kalian yang sudah me-review, follow, favorite fic author. Author terharu TT_TT oke, hentikan segala curcol-an author yang menyedihkan ini
Seperti sebelumnya lagi, author mohon review-nya.
Finished by Aoko Himawari [09/04/14]
