Annyeong~~
Rei dating lagi membawa ff abal milik Rei. Rei kemaren lupa bilang kalo Kyungie lebih muda dari Kai dan Tao, magnae lah ceritanya. Hehe~~ fic ini terisnpirasi dari lagunya yang 'Beautiful Day' lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-
Ok, sekian cuap-cuap dari saya. Ca~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3
.
.
Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~
.
.
.
"Kau akan hancur Do! Akan aku pastikan itu!" seringaian mengerikan terlukis di wajah tampannya. Dia berjalan menuruni anak tangga, sedang tangan kanannya sibuk mengetik sesuatu. Seringaian kembali terlihat saat namja itu menekan tombol send pada layar gedgetnya.
^^^^vvvv^^^
Chap 3
^^^^vvvv^^^
Kyungsoo berjalan menyusuri lorong sekolah yang terlihat masih sepi. Sepi? Tentu saja. Ini masih pukul 6.15 KST, terlalu pagi untuk berangkat kesekolah. Namun inilah yang Kyungsoo harapkan, karena kemungkinan ada siswa atau siswi yang mengetahui aksinya kecil.
Bibir plum itu menyunggingkan sebuah senyum cantik, sebuah senyum yang jarang terpasang diwajah manisnya. Wajar saja, selama ini semua orang mengenal seorang Do Kyungsoo yang penyendiri, anti sosial dan jarang berbicara bahkan tersenyum. Ya, Kyungsoo merupakan orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup. Hanya jika di hadapan Baekhyun lah Kyungsoo akan terlihat seperti anak normal lainnya, ya terlihat normal. Ada beberapa alasan mengapa dia begitu menutup diri, bahkan Baekhyunpun tidak tau alasan mengapa Kyungsoo menjadi seperti ini. Yang Baekhyun tau kedua orang tua Kyungsoo sudah meninggal dan ia hanya memiliki seorang Hyung yang kini tinggal di Eropa.
"Cha~ semoga kau senang dengan ini. Aku tidak akan berhenti menjadi penggemarmu sampai saatnya tiba." Lagi, kedua sudut bibir plum itu terangkat membentuk sebiah senyum. Setelah melakukan rutinitas yang selama seminggu ini dia lakukan, kakinya kembali melangkah menuju perpustakaan. Ya, Kyungsoo menyukai perpustakaan. Dan kau tau, hampir semua buku di sana sudah pernah di bacanya. Maka jangan heran mengapa dia memiliki otak secerdas itu.
Tangan mungilnya mengambil sebuah buku dibagian rak Biologi, buku yang lumayan tebal yang menjelaskan mengenai beberapa penyakit dalam.
"Annyeong Noona, saya ingin meminjam buku ini." Ucap Kyungsoo sambil menyodorkan buku yang dipilihnya pada seorang yeoja cantik penjaga perpustakaan.
"Aigoo kau benar-benar gemar membaca ya? Tapi untuk apa kau meminjam buku sepeti ini terus Kyung?" Tanya yeoja bermarga Im itu. Sementara Kyungsoo hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Yoona, sementara yeoja cantik itu hanya menghela nafas panjang. Dia sudah biasa mendapatkan sebuah senyum tanpa jawaban, ya yeoja itu sedikit mengerti sifat Kyungsoo yang sedikit bicara.
"Cha~ ini bukumu. Kembalikan tepat waktu nae." Ucap yeoja itu sambil tersenyum manis. Kyungso hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan ruang perpustakaan menjuju kelasnya.
"Hahh~~ kapan dia akan berubah? Bahkan sudah hamper dua tahun kau berada disini!" Yoona menatap iba punggung Kyungsoo yang menghilang di balik pintu.
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Doe eyes yang terbingkai kacamata tebal itu terus bergerak mengikuti deretan tulisan yang ada didalam buku yang baru saja dipinjamnya. Sesekali ia menganggukan kepalanya, pertanda bahwa dia memahami apa yang di abaca.
"Jadi seperti itu ya? Apa aku bisa bertahan dan hidup normal kembali ya?" Tanya Kyungsoo entah pada siapa.
"Hidupmu memang tidak normal dan tidak akan pernah normal!"
DEG
Kyungsoo mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Kai. Namja itu kini tengah berdiri dengan angkuhnya di hadapan Kyungsoo.
"Kau memang tidak normal Do! Kau hanya berbicara dengan buku. Dan tidak kah ituterlihat seperti orang gila?" sungguh perkataan pedas Kai mampu melukai hati siapa saja yang mendengarnya, termasuk Kyungsoo. Namja manis itu hanya menundukkan kepala sambil memegangi dadanya, seperti sebuah pisau berkarat yang kini tengah menacap tepat di ulu hatinya. Begitu sakit dan ngilu.
"Hah ternyata selain tidak normal kau juga tuli ya!" Kai memutar bola matanya malas. Sungguh ia sangat membenci sosok namja di depannya ini.
"Kau tak mengerti apapun~ " ucap Kyungsoo hampir menyerupai sebuah bisikan.
"Untuk apa aku mengeti dirimu? Cih, jangan harap!"
Namja tan itu melangkah menuju tempat duduknya, menghiraukan sosok namja manis yang kini sedang memegangi dadanya yang berdenyut nyeri.
"Bermimpilah yang indah, sebelum kau benar-benar hancur!" batin Kai. Namja tan itu menyerigai saat mata tajamnya menatap sosok namja mungil yang makin membenamkan wajahnya pada buku yang ada di hadapannya. "Dasar namja aneh!" desis Kai.
"Oi, Kkamjong! Mengapa pagi-pagi sudah memasang wajah setan seperti itu? Apa kau tertular virus evil Appamu itu eoh?" seorang namja yang mendapatkan julukan 'tiang listrik' itu menepuk bahu Kai, membuat tang empu sedikit terlonjak kaget.
"Ck!" decak Kai sebal. Sementara namja tiang listrik itu mengikuti arah mata Kai tadi, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Jangan katakana kau akan membully anak kecil itu!" bisik namja tiang listrik itu.
Bingo! Ya, kau tepat sekali Tuan Park! Bahkan jika kau mendengarnya kau akan membunuh namja berkilit tan yang kini tengah memandang jengah dirimu detik ini juga.
"Bukan urusanmu Park!" jawab Kai dingin. Sedangkan sang Tuan Park atau Chanyeol hanya menghela nafas panjang, dia sudah sering bahkan terbiasa mendapatkan tatapan atau perkataan dingin dari Kai. Chanyeol tau sahabatnya akan seperti ini jika dia benar-benar membenci seseorang, ya Kyungsoo contohnya.
"Ku harap kau hentikan semua aksi gilamu ini Kai, sebelum kau menyesal nantinya." Nasehat Chanyeol. Namun sama seperti dugaannya, Kai tidak menggubris sedikitpun nasehat Chanyeol. Namja tan itu malah menyumpal kedua telinganya denga earphone yang tersambung dengan iPhonenya.
"Kau selalu saja seperti itu! Terserah padamu saja, aku hanya mengingatkanmu." Chanyeol beranjak menuju kursinya, menasehati Kai sama saja dengan membuang tenaga. Chanyeol hanya berharap Kai segera sadar sebelum hal yang buruk terjadi. Sungguh ia merasa kasihan pada namja yang sering ia panggil 'anak kecil' itu. Anak itu tidak tau apapun, namun mengapa Kai selalu membullynya? Bukankah Kyungsoo hanya anak kecil yang masih berusia 15 tahun. Sedangkan ia dan Kai, mereka berusia 3 tahun diatas Kyungsoo. 'Apa enaknya membully seorang anak kecil?' batin Chanyeol.
Tiba-tiba suara bel menghentikan lamunan Chanyeol tentang 'anak kecil' yang bernama Kyungsoo. Chanyeol mengedarkan matanya ke sekitar kelas, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Matanya terpaku kea rah pintu masuk, dia tertegun beberapa detik saat sosok namja mungil melintasi kelasnya. Membuat sesuatu di dalam dadanyanya bergemuruh.
"Byu—" ucapan Chanyeol terhenti saat kesadaran menguasainya. Namja tiang itu menggelengkan kepalanya kasar. 'Tidak! Aku tidak mungkin menyukainya!' tegas Chanyeol dalam hati. Chanyeol melihat kearah Kai melalui sudut matanya, betapa beruntungnya dia saat melihat namja tan itu menyembunyikan kepalanya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja.
"Hah~~ selamat!" ucap Chanyeol sambil mengelus dada. Jika perbuatannya tadi diketahiu Kai, maka habislah kau Park Chanyeol!
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Hari sudah semakin sore, namun namja bermata bulat itu mesih betah duduk disebuah bangku di tepi Sungai Han. Sesekali ia membenarkan letak kacamata yang bertengger(?) dihidungnya, mencari posisi yang nyaman untuknya membaca. Ya namja manis itu kini tengah membaca buku yang dibelinya sepulang dari sekolah. Detik berikutnya ia menghela nafas panjang dengan ditutupnya sampul belakang buku yang ia baca.
"Jadi ini efeknya ya? Tapi bagaimana caraku menutupinya?" tanyanya yang entah pada siapa. Matanya tertuju pada beberapa lebam di kedua tangannya, ia juga menggulung sedikit celananya guna melat lebam lain yang ia temukan tadi pagi.
"Sebaiknya aku pulang, hari sudah semakin sore. Udara juga terasa semakin dingin." Namja manis itu segera merapikan beberapa buku yang berserakan dibangku yang ia duduki. Ya, namja itu menhabiskan waktu 2 jam untuk membaca beberapa buku disini sendirian tentunya, karena Baekhyun kini tengah mengikuti beberapa les tambahan di sekolah.
Dalam perjalanan pulang handphonennya tiba-tiba saja berdering.
'Hyung is Calling' itulah yang tertera di display handphone Kyungsoo.
"Yeoboseo…"
'Yeoboseo. Kyungie, bagaimana kabarmu? Hyung dengar dari Baekhyun kau kemarin pingsan dan mimisan. Apa itu benar?' berondong sang Hyung. Kyungsoo hanya memijat pelan pelipisnya, berusaha memaklumi kekhawatiran Hyungnya.
"Aku hanya terlalu cape Hyung, Hyung tenang saja aku aka selalu baik-baik saja disini." Jawab Kyungsoo. Sementara di ujung line sana sang Hyung terdengar menghela nafas panjang.
'Kau ini selalu saja seperti ini! Oh ya, bagaimana hasil pemeriksaanmu kali ini?'
"Baik Hyung, semuanya berjalan sesuai harapan. Hyung tidak usah khawatir berlebih seperti itu, aku baik-baik saja Hyung dan akan selalu baik-baik saja." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum, tapi Hyungmu tidak dapat melihat senyummu Do Kyungsoo.
'Ck! Dasar dongsaeng keras kepala. Ya sudah, jika ada apa-apa cepat telpon Hyung. Apa perlu Hyung pulang untuk menemanimu?'
"Tidak usah Hyung, kau fokus saja dengan pekerjaanmu disana. Bukankah disini ada Baekhyun?"
'Ya! Panggil dia Hyung bodoh! Bagaimanapun dia 3 tahun lebih tua darimu!' teriakan dari sang Hyung memaksa Kyungsoo untuk sedikit menjauhkan hanphone dari telinganya.
"Saengmu ini pintar Hyung! Jika aku bodoh, mungkin aku akan sepertimu mengikuti kelas regular yang menurutku menghabiskan waktu!" ucap Kyungsoo sambil memicingkan matanya.
'Kau berkata seolah Hyungmu ini bodoh eoh? Ck! Dongsaeng kurang ajar kau!' Tanya sang Hyung sengit.
"Kau Hyung yang durhaka pada dongsaenganya!" jawab Kyungsoo tak mau kalah.
'Mana ada yang seperti itu eoh? Yang ada kau yang durhaka mengatakan bahwa Hyungmu ini bodoh!' namja diujung sana tampak mulai mengikuti permainan sang dongsaeng. Sementara Kyungsoo hanya terkikik geli mendengar Hyungnya berkata demikian.
"Aeku tidak mengatakannya Hyung, bukankah Hyung sendiri yang berbicara seperti itu?"
'Hah, susah memang jika berdebat dengan orang sepertimu! Jangan terlalu banyak membaca buku, atau lensa kacamatamu akan semakin tebal!' nasehat sang Hyung. Entah itu sebuah nasehat atau cibiran, yang jelas nada khawatir masih tetap ada di setiap kata yang dia ucapkan.
"Aku hanya akan membaca jika bosan Hyung! Hyung sudah dulu ya, bisnya sebentar lagi datang."
'Padahal aku masih merindukan Saeng kecilku ini.' Hyungnya berkata dengan nada kecewa.
"Aku sudah kelas 3 Senior High School Hyung!" protes Kyungsoo.
'Kkkkk~ nae, nae. Jaga dirimu baik-baik nae. Jika kau butuh apapun hubungi Hyung segera. Mengenai biaya pengobatanmu, Hyung akan mengirimnya saat kau akan cek-up! Arrasseo?' nada khawatir itu masih belum juga hilang, membuat Kyungsoo sedikit merasa bersalah.
"Nae Hyung, Annyeong~"
'Annyeong…'
PIP
Kyungsoo masih memandangi hanphonenya, ia benar-benar merasa bersalah mendengar beberapa kali nada khawatir Hyungnya yang berlebihan itu.
"Mian Hyung, aku hanya bisa membuatmu susah. Mian aku berbohong padamu selama ini mengenai keadaanku. Mian atas kesalahan Eommaku Hyung, mianhae!" sebuah kristal bening meluncur begitu saja saat kedua doe eyes itu terpejam.
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Kai menatap heran pintu loker miliknya, pasalnya sudah lebih dari sebulan ini dipintu lokernya selalu terdapat sebuah permen berbentuk hati dan secarik kertas yang berisi 'Semoga Kau menyukainya^^'. Kai tersenyum simpul saat lagi-lagi ia membaca kata-kata yang sama.
"Kau ini sungguh lucu! Setiap hari menempelkan permen di pintu lokerku!" ucap namja tan itu sambil terkekeh geli. Kemudian ia membuka lokernya, mengambil beberapa buku pelajaran yang ia butuhkan. Kai lagi-lagi tersenyum melihat permen-permen yang sama di rak bagian atas yang dia sediakan khusus untuk 'permen dari sang penggemar'. Terdengar aneh memang, namun itulah Kai.
"Cha~ kau juga tunggu disini ya. Aku akan memakan kalian semua saat aku tau siapa pengirim permen misterius itu!"
Kaki jenjangnya melangkah menuju kelasnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat mata tajamnya menatap dua namja bertubuh mungil yang sedang berdiri beberapa meter didepannya.
"Baekkie, kau mau kan menginap di apartemenku?" Tanya namja mungil bermata bulat.
"Nae, lagi pula sudah lama kita tidak tidur bersama!" jawab namja mungil lain yang bernama Baekhyun.
Kai menyerit mendengar kata 'tidur bersama', dadanya terasa meledak mendengar perkataan Baekhyun tadi. 'Apa namja itu yang beruntung memiliki hatimu Hyung? Sampai dia sering tidur bersamamu?' batin Kai. Kai tidak bisa membayangkan apa saja yang Baekhyun lakukan dengan namja bermata bulat itu. Hah… Jongin, khayalanmu terlalu berlebihan!
"Umh! Aku akan menunggumu di rumah nae. Kalau begitu aku pergi dulu Baekkie, Bye!" sosok mungil bermata bulat itu pergi meninggalkan Baekhyun, sedangkan Baekhyun berbalik dan kembali masuk menuju kelasnya.
Ya, Kai melihat pemandangan yang menurutnya -merusak mata- itu didepan kelas Baekhyun. Namja manis yang tidak seharusnya dekat dengan Do Kyungsoo, sang Rival.
"Brengsek kau Do! Lihat saja aku benar-benar akan menghabisimu saat ini juga!" geram Kai dengan kedua tangan mengepal sempurna. Namja tan itu berjalan cepat menuju kelasnya dengan rahang yang mengeras dan sorot mata tajam.
BRAKK
Pintu kelas yang dibuka kasar membuat namja mungil yang sedang tenggelam dalam buku yang ia baca itu terlonjak kaget.
SRETT
Tanpa banyak bicara Kai langsung menyeret namja mungil bermata bulat itu, sedangkan yang diseret hanya memekik terkejut dengan apa yang dilakukan Kai.
"Lepas Kai, sakit!" namja mungil itu terus meronta dalam cengkraman Kai. Menghentika langkahnya dan berbalik menghadap namja mungil yang kini tengah meringis sakit.
"Kau diamlah Do Kyungsoo! Aku tidak menerima penolakan apapun!" desis Kai tajam, membuat nyali namja mungil bernama Kyungsoo itu menciut seketika.
Kai menyeret Kyungsoo menuju parkiran sekolah, berjelan cepat tapa mempedulikan Kyungsoo yang kesulitan menyamakan langkah pendeknya dengan langkah Kai.
BUGH
Kai melempar tubuh mungil Kyungsoo kedalam mobil sport merah miliknya, kemudian menutupnya dengan kasar. Persetan dengan tatapan aneh para siswa yang baru saja datang dan melihat aksinya itu.
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Kai terus menyeret Kyungsoo menuju apertemennya. Ya, kini mereka tengah berada di apartemen mewah milik Kai. Namja mungil it uterus saja meringis kesakitan sambil terus berusaha melepaskan cengkraman kuat tangan Kai.
"Diam kau! Atau aku akan melakukan hal lebih kasar dari ini!" gertak Kai.
"T-tapi ini s-sakit Kai." Ringis Kyungsoo. Ia yakin aka nada lebam yang menghiasi di kedua pergelangan tangan Kyungsoo jika Kai melepaskan cengkramannya. Kai seolah tidak perduli dengan semua ringisan Kyungsoo, yang ada di otaknya sekarang adalah bagaimana caranya membuat anak ini jera.
BUGHH
Kai melempar tubuh kurus Kyungsoo ke atas ranjang. Kyungsoo merasakan punggungnya ngilu akibat membentur keras kepala ranjang.
"Kau harus merasakan apa yang aku rasakan Do! Aku akan menghancurkanmu detik ini juga!" desis Kai tepat di depan wajah Kyungsoo membuat wajah Kyungsoo memucat seketika.
SRETT
BUGHH
Kyungsoo semakin merasakan nyeri di punggungnya saat Kai melempar tubuhnya ke lantai.
"A-apa mak-sudmu?" Tanya Kyungsoo terbata.
"Kau—
BUGHH
BREGSEK DO!" teriak Kai setelah melayangkan sebuah pukulan ke wajah Kyungsoo, membuat setetes darah keluar dari sudut bibir Kyungsoo. Emosi Kai saat ini sudah sampai di pucuk kepala, apalagi dengan tingkah Kyungsoo saat ini.
"KAU PURA-PURA TIDAK TAU ATAO BODOH KYUNGSOO?!" Kai berbicara masih dengan cara berteriak didepan wajah Kyungsoo.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan yang kau bicarakan Kai!" bela Kyungsoo.
"Cih, selain tidak normal, kau juga murahan Kyungsoo!" desis Kai dengan menekan setiap kata yang dia ucapkan.
"Kau tidak tau siapa aku! Kau tidak berhak menghakimiku dan mengataiku murahan Kai!" jawab Kyungsoo seolah menantang. Meskipun ia sering mendapatkan kata-kata pedas dari Kai, perkataan dari Kai barusan membuat hatinya berdenyut semakin ngilu. Setelah membencinya tanpa alasan, selalu membullynya di sekolah, dan sekarang Kai mengatakan bahwa dia muarahan. Tidakkan kau akan terluka jika mengalami hal seperti itu?
"Cih! Persetan dengan siapa dan apa dirimu Kyungsoo! Bagiku kau tak sebih dari seorang slut yang mengajak namja lain untuk tidur di apartemenmu!"
"Kau mendengar percakapanku dengan Baekkie?" Kyungsoo sepertinya mulai mengerti arah pembicaraan Kai.
"JANGAN MENYEBUT NAMA BAEKHYUN SEPERTI ITU!" pekik Kai geram.
BUGHH
Kali ini tubuh mungil Kyungsoo sukses menghantam meja belajar Kai, membuat nyeri yang teamat sangat di bagian pinggangnya. Ditambah kepalanya yang berdenyut nyeri membuat Kyungsoo lemah.
"Bangun slut! Bukankah kau ingin tidur bersama dengan Baekhyun?" tanya Kai mengejek.
Sedang Kyungsoo? Jangankan untuk bangun, bernafas saja terasa sulit. Sakit. Dadanya terasa sakit melebihi sakit yang kini tengah mengujam tubuhnya.
"Apa aku serendah itu dimatamu? Mengapa kau begitu membenciku?" lirih Kyungsoo.
Kai hanya memandangi namja yang kini tengah duduk sambil memengangi dadanya dengan tatapan meremehkan.
"Karna kau merebut semua yang seharusnya menjadi milikku! Dan satu hal yang aku ingin tanyakan darimu, berapa Baekhyun membayarmu setelah kalian tidur bersama? Seberapa sering kau melakukannya?"
"…" tidak ada jawaban dari Kyungsoo, hatinya kini hancur menjadi serpihan tak berarti. Apa Kai begitu membencinya sehingga setiap perkataan yang keluar dari bibir tebal Kai selalu menorehkan luka di hatinya.
"Jawab! Kau tidak tuli kan?" Kai mencengkram kuat dagu Kyungsoo memaksa namja bermata bulat itu mendongak menatap Kai.
"Ya, aku memang sering tidur bersama Baekhyun, apa kau puas?" ucap Kyungsoo.
"Brengsek kau Do Kyungsoo! Kau benar-benar bosan hidup hah?" Kai mengangkat tubuh kurus Kyungsoo kemudian kembali melemparnya keatas ranjang.
"Kita lihat, apakah kau masih ingin hidup atau tidak setelah ini!" ucap Kai sambil mengikat kedua tangan Kyungsoo diatas kepala. Sementara Kyungsoo yang mengerti dengan apa yang akan Kai lakukan terus berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Arghh… Kai, lepas! Kau salah paham," Kyungsoo masih berusaha memberontak, berhapa Kai mau mendengarnya kali ini.
Setelah Kai mengikat kedua tangan Kyungsoo, tangan kanannya perlahan turun menyusuri lekuk tubuh Kyungsoo. Kyungsoo terus menggelengkan kepalanya kasar. Tidak, bukan ini yang ia inginkan, mengapa Kai begitu menakutkan saat dia marah seperti ini.
"ARRGGGHHH…." Kyungsoo menjerit keras saat tangan Kai meremas genitalnya keras.
"Mengapa berteriak? Bukankah kau sering melakukannya, hm?" bisik Kai tanpa melepaskan cengkramannya dari genital Kyungsoo.
Sementara tubuh Kyungsoo makin mengeliat resah. Ini terlalu menyakitkan untuknya, tidakkah kau ingat Kai bahwa Kyungsoo masih berasa dibawah umur?
"H-hen-ti arghh khan!" ucap Kyungsoo terbata. Wajahnya kini semakin memerah menahan sakit dibagian bawah tubuhnya, Kai terlalu kuat menggenggam genitalnya. Seandainya saja tangannya tidak terikat seperti ini, mungkin Kyungsoo sudah menghajar Kai dari tadi. Ah, berkhayal tidak akan menyelesaikan masalah Do Kyungsoo!
Kai merasa senang dengan keadaan Kyungsoo yang seperti ini, dengan wajah merah dan tersiksa. Hah, kau melupakan bahwa dia hanyalah seorang anak kecil Kai.
"Argh…" Kyungsoo kembali mengerang saat sesuatu yang aneh keluar dari genitalnya, membuat celana yang masih ia pakai terasa basah dan lengket. Kyungsoo masih terengah, berusaha menstabilkan nafasnya yang belum teratur.
SRAKK
Kai membuka celana Kyungsoo dalam sekali hentak, menyisakan celana dalam Kyungsoo yang bergambar pororo. Kyungsoo yang kalap langsung menendang Kai, membuatnamja berkulit tan itu tersungkur ke lantai.
"Kau berani menendangku slut? Apa kau benar-benar sudah ingin melihat malaikat pencabut nyawamu? Jawab!"
"ARRGGGHHH…." Kyungsoo kembali berteriak saat Kai mencengkram dan menarik genitalnya dengan kuat kearah bawah. Satu bulir air mata lolos begitu saja dari kedua doe eyes yang kini tengah terpejam menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dadanya terasa sesak. Bukan, dia tidak kehabisan nafas karena Kai sedang tidak menciumnya. Dadanya sesak karena luka –entah kapan akan sembuh itu— seperti ditaburi garam, begitu perih dan ngilu.
Kyungsoo kini sudah tidak peduli dengan Kai yang masih mengerjai tubuhnya, bahkan saat Kai memasukinya tanpa pemenasan atau lube sekalipun bibir Kyungsoo tak memberi reaksi yang berarti. Membiarkan namja tan itu merenggut satu-satunya hal yang Kyungsoo jaga selama ini, satu hal yang selalu ia banggakan di depan teman-temannya. Kini semua telah hilang, bersama dengan hilangnya harapan yang bahkan belum ia mulai. Hanya air matanyalah yang menjadi saksi bahwa sosok mungil itu sekarang sedang terluka.
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Kai memejamkan matanya saat genitalnya seperti diremat oleh lubang milik Kyungsoo, desahan nikmat terus saja mengalun dari bibir tebal namja berkulit tan itu, sampai—
"ARGHH…" Kai menerang keras saat ia mencapai puncaknya. Kai masih memejamkan matanya, menikmati sensasi nikmat yang membuatnya melayang ke atas awang.
Kai menarik sudut bibirnya saat melihat keadaan namja dibawahnya, begitu mengenaskan. Pikir Kai. Detik berikutnyanamja berkulit tan itu bernajak menuju kamar mandi, berniat membersihkan badannya yang terasa lengket. Menghiraukan sosok lain yang masih dalam kondisi terikat di atas ranjang. Sebelum ia menutup pintu kamar mandi, mata tajamnya melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul 4 sore. Dan itu artinya Kai dan Kyungsoo membolos hari ini.
Sementar itu namja bermata panda tengah berari tergesa menuju apartemen Kai, tanpa ia sadari ada seorang namja mungil yang sedari tadi mengikutinya. Namja mungil itu sedikit kewalahan saat mengikuti langkah panjang namja bermata panda itu.
Namja bermata panda itu berhenti di depan salah satu pintu, memencet beberapa digit password kemudian berlari tanpa menutup pintu.
"Kesempatan bagus!" desis namja mungil itu.
Namja bermata panda itu terus berlari menerobos kamar Kai, alangkah terkejutnya ia saat mendapati sosok mungil yang sedari tadi dicari Baekhyun kini terikat diatas ranjang dengan lebam dan darah bercecer di mana-mana dengan keadaan setengah telanjang. Jangan lupakan juga cairan putih kental yang mengotori seragam serta seprai disekitarnya.
"Kyungie~" lirih namja bermata panda itu. Tangannya terulur mengusap air mata yang terus mengalir di pipi chubby namja bermata bulat itu, tangannya bergerak melepas ikatan tangan Kyungsoo kemudian meletakkannya dengan hati-hati. Hatinya sedikit berdenyut nyeri saat melihat doe eyes yang dulunya menyimpan tatapan teduh kini kosong.
Tubuh Tao sedikit membungkuk, berniat mengecup kening Kyungsoo yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya sendiri, namun—
BRAKK
Seseorang tiba-tiba saja mendobrak pintu kamar Kai.
"Jadi ini yang kau lakukan pada Kyungsoo Zitao?!" ucap namja mungil itu sambil mendorong tubuh Tao menjauhi sosok yang sedari tadi di carinya.
"B-Baekhyun Hyung, ini tak seperti yang kau—
"CUKUP! Ternyata selama ini kau hanya berpura-pura baik terhadap Kyungsoo! KAU SAMA SAJA SEPERTI MEREKA!" jerit Baekhyun frustasi. Baekhyun menatap sosok Kyungsoo dengan pandangan miris, hatinya begitu terasa ngilu saat melihat Kyungsoo seperti ini.
CKLEKK
Pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka menampilkan sosok namja berkulit tan yang kini berdiri mematung dengan handuk yang masih menggantung di pundaknya. Baekhyun yang geram segera berdiri dan menghampiri sosok yang kini tengah berdiri di depan pintu kamar madi.
PLAKK
Satu tamparan keran mendarat dengan mulus di pipi Kai, membuat darah sedikit mengalir dari sudut bibirnya.
"APA YANG KAU LAKUAKN DENGAN DONGSAENGKU KAI?" teriak Baekhyun tepat di jawah Kai, membuat Kai mematung seketika.
"D-dongsaeng?" ulangnya.
"Ye, nae dongsaeng! Wae? Kau mungkin berpikir Kyungsoo adalah namja yang ku suka, benar kan Tuan Kim?" desis Baekhyun tajam.
Binggo! Kau tepat sekali Byun, namja tan itu memang mengira kau dan Kyungsoo adalah sepasang kekasih.
"…"
"Mengapa kau diam saja? Terkejut dengan apa yang aku katakana tadi? Cih! Dasar namja pengecut!" umpat Baekhyun kesal.
"Kau—
"Hyung! Bisa kau hentikan perdebatanmu dengan namja bodoh itu?" suara Tao memotong ucapan Baekhyun, membuat namja mungil itu menoleh ke arah Kyungsoo.
Mata Baekhyun membulat sempurna saat melihat darah segar mengalir deras dari hidung Kyungsoo, sementara Tao terlihat kewalahan menangani rembesan darah yang terus mengalir.
"Minggir kau!" Baekhyun mendorong Tao agar menjauh dari Kyungsoo.
"Kyungie, saengi… ini Baekkie sayang. Kau bisa mendengarku kan?" Baekhyun mengusap pipi Kyungsoo dengan sayang, sesekali ia mengecupnya berharap mendapat respon dari sang dongsaeng.
"…" tidak ada jawaban, Kyungsoo tetap tak bergeming.
"Kyungie, sadarlah! Ini Baekkie, Baekkie Hyung! Bukankah kau mengundangku untuk tidur di apartemenmu malam ini?" Baekhyun masih berusaha membuat Kyungsoo merespon perkataanya, namun nihil. Kyungsoo masih tetap tak bergeming.
"Hyung! Darahnya semakin deras keluar, apa tidak sebaiknya kita bawa Kyungsoo ke rumah sakit?" usul Tao. Saat tangannya akan membawa tubuh Kyungsoo, Baekhyun menepisnya dengan kasar. Membuat Tao segera menjauhi kedua namja mungil itu.
Baekhyun mengambil celana Kyungsoo yang tergeletak di lantai, kemudian memasangkannya dengan hati-hati. Namja mungil itu juga melepas jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Kyungsoo.
.
.
^^^^vvvv^^^
.
.
Baekhyun terus menggenggam tangan Kyungsoo yang terasa semakin dingin, sedangkan tatapan mata Kyungsoo masih sama. Kosong.
"Maaf anda tidak di perbolehkan masuk!" salah satu suster mencegat Baekhyun yang berniat untuk menemani Kyungsoo di dalam.
"Tapi saya Hyungnya suster!" protes Baekhyun.
"Maaf, tapi ini peraturan rumah sakit. Anda mohon tenang dan berdoalah, kamu dan para dokter akan berusaha untuk menyelamatkan adik anda." Sang sunster berusaha untuk menenangkan Baekhyun. Baekhyun akhirnya hanya mengangguk pasrah, ia tidak bisa memaksa.
"Tenang Hyung, Kyungsoo pasti akan baik-baik saja didalam. Kita berdoa saja nae!" Tao menepuk pundak Baekhyun, namun Baekhyun segera menepis kasar tangan Tao, membuat Tao sedikit terhuyung ke belakang.
"Jauhkan tangan kotormu itu!" desis Baekhyun tajam. "Dan kau tau, akan ku pastika Kris mengetahui apa yang kau lakukan!"
DEG
Apa baekhyun sedang mengancamnya? Bagaimana bisa Baekhyun memiliki pemikiran seperti itu? Hei, Tao tidak tau apaun mengenai hal ini, tapi mengepa ia yang mendapat imbasnya?
Mata Baekhyun melirik tajam namja yang kini tengah berdiri sambil menundukkan kepalanya, sedari tadi namja itu hanya diam tanpa berbicara sedikitpun. Ya, Kai sedari tadi hanya diam. Otaknya masih mencerna kejadian yang baru saja di alaminya. 'Jadi selama ini aku salah paham? Dan aku telah menghancurkan masa depan orang lain? Terlebih untuk anak yang baru berusia 15 tahun seperti Kyungsoo? Ya Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?' batin Kai. Ia terus merutuki kebodohannya yang hanya mempercayai apa yang ia lihat.
Perlahan wajah memelas Kyungsoo terbesit dalam ingatannya, juga bebagai tindakkan kasar yang pernah ia lakukan kepada Kyungsoo. Sungguh, bocah itu tidak berdosa Kai! Dan kau menyadarinya saat semuanya sudah terlambat!
Setelah lebih dari 3 jam menunggu, akhirnya dokter yang menangani Kyungsoo keluar dari ruang ICU.
"Dokter, bagaimana keadaan Kyungsoo saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kondisinya sekarang?" berondong Baekhyun.
"Hyung, tenanglah! Dokter Kwon akan menjelaskan semuanya Hyung!" Tao berusaha menenangkan Baekhyun, namun Baekhyun tidak mempedulikannya.
"Tadi jantung pasien sempat berhenti karena pendarahan hebat yang pasien alami, juga beberapa tulang rusuk pasien yang patah. Mungkin terbentur sesuatu." Jelas dokter Kwon.
"A-apa? Lalu bagaimana kondisinya sekarang dok?" air mata Baekhyun yang sedari tadi mengalir kini mengalir semakin deras. Terlebih saat ia melihat dokter Kwon menggeleng sambil menghembuskan nafas panjang.
"Pasien mengalami koma, dan saya tidak yakin kapan pasien akan sadar dari komanya. Dan mungkin sudah saatnya kau sebagai keluarga mengetahui hal yang selama ini pasien tutupi dari anda."
"Apa maksud dokter?" Baekhyun semakin bingung dan takut. Apa yang di sembunyikan Kyungsoo darinya? Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kyung? Batin Baekhyun.
"Sebenarnya pasien—
.
TBC
Hehe, maaf Rei postnya telat ._. ^^v #deepbow
Cha~ sekarang sudah terbukti bukan bahwa bukan Kyungsoo namja yang Baekhyun maksud. Soah ehem.. NC-nya ehem… Rei ga jago bikin ke gituan, maaf jika mengecewakan.
Next chap Rei bakal usahain pos sebelum UTS, buat yang repiu sama yang ngasih saran, makasih banget ya.
Ripiu dan sarannya masih Rei tunggu^^v
