Annyeong~~
Rei datang lagi membawa ff abal milik Rei. Rei kemaren lupa bilang kalo Kyungie lebih muda dari Kai dan Tao, magnae lah ceritanya. Hehe~~ fic ini terisnpirasi dari lagunya yang 'Beautiful Day' lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-
Ok, sekian cuap-cuap dari saya. Ca~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3
.
.
Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~
.
.
.
"Apa maksud dokter?" Baekhyun semakin bingung dan takut. Apa yang di sembunyikan Kyungsoo darinya? Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kyung? Batin Baekhyun.
"Sebenarnya pasien—
^^^^vvvv^^^
Chap 4
^^^^vvvv^^^
"Pasien mengidap leukemia akut stadium lanjut! Dan pasien baru menjalani dua kali komoterapi disini." Jelas dokter Kwon.
Baekhyun dan Tao terlihat terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan. Sedangkan Kai? Ekspresi namja tan itu tetap sama, terkesan datar dan dingin.
"Stadium lanjut ya?" lirih Kai entah pada siapa.
"Itulah yang menyebabkan pasien seperti ini. Maaf jika saya lancang, sebenarnya apa yang terjadi dengan pasien? Selain beberapa tulang yang patah saya juga menemukan luka robek dibagian anus."
Baekhyun menatap Kai yang masih diam membisu dengan tatapan membunuh, jika saja ia tidak ingat tempat ini adalah rumah sakit, Baekhyun sudah menghajar Kai dari tadi.
"Mungkin dia terjatuh Dok! Saya permisi." desis Baekhyun. Namja mungil itu melangkah dengan sedikit tergesa, liquid bening yang sudah menggumpal dipelupuk matanya sedikit membuat penglihatannya menjadi buram.
"Kau harus bertanggungjawab Kai! Dan kau tau, karna kebodohanmu hubunganku dengan Kris sekarang terancam!" Tao mendorong bahu Kai membuat punggung Kai sedikit membentur dinding.
"Aku kecewa dengan tindakanmu kali ini Jongin!" ucap Tao. Namja panda itu menyusul Baekhyun yang pergi entah kemana.
"Mianhae, karna aku kau jadi begini Kyung…"
.
^^^^vvvv^^^
.
"Hyung! Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu, itu tidak seperti yang kau lihat Hyung!" Tao mencoba menggapai tangan Baekhyun walaupun Baekhyun selalu menepsnya.
"Apa? Apa kau berkata seperti itu karena kau takut hubunganmu dengan Kris hancur? Benarkan?" Tanya Baekhyun sambil mengusap air matanya kasar.
"Hyung—
"Semua yang kulihat sudah cukup jelas Zitao! Kau tidak perlu repot-repot menjelaskan apapun padaku!" bentak Baekhyun.
"Hyung, dengarkan aku! Aku tau kau mengikutiku dari sekolah. Aku juga mendengar Kai membawa Kyungsoo dan membolos bersama dari Chanyeol! Aku sengaja memperlambat langkahku agar kau bisa mengikutiku, tapi apa Hyung? Kau malah menamparku dan menuduhku." Jelas Tao.
"Sekarang terserah jika kau mau memberi tahu Kris tentang ini, aku memang sudah lelah dengan sikap Kris yang hanya mau mendengarkanmu dan lebih mempercayaimu. Mian jika sepupuku membuat dongsaeng kesayanganmu dan Kris menjadi seperti ini." Tao membungkuk dalam, kemudian pergi meninggalkan Baekhyun yang masih mencerna semua perkataan Tao.
"Mengapa jadi serumit ini Tuhan? Wookie Hyung, mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak bisa menjaga Kyungsoo dengan baik… hiks… Mian… hiks…" bahu Baekhyun bergetar hebat. Ia menangis, menumpahkan segala sesak, rasa bersalah, dan keterkejutan yang baru saja di dapatnya. Perkataan dokter Kwon dan Tao terus berputar-putar di otaknya.
"Wae? Mengapa harus Kyungsoo yang mengalami semua ini Tuhan? Hiks… Dia masih terlalu kecil untuk Kau uji dengan hiks… dengan masalah seperti ini!"
PUKK
Baekhyun merasa sesuatu yang dingin menempel dipipinya. Baekhyun mendongak, dan melihat Chanyeol tangah tersenyum hangat padanya. Jangan lupakan juga tangan kanan Chanyeol yang kini tengah menempelkan satu cup beras ice cream strawberry dipipi kiri Baekhyun.
"Namja manis sepertimu tidak boleh menangis!" ucap Chanyeol.
"Yeollie?"
"Tadi Tao menelponku, dia bilang kau sedang dalam keadaan kacau. Maka dari itu aku datang kemari."
"Yeollie, Kyungie hiks... d-dia hiks…" Baekhyun tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hanya isakan-isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menenggelamkan wajah namja penggemar eyeliner itu ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung sempit Baekhyun, berharap dengan perlakuannya dapat sedikit menenangkan Baekhyun.
"Ini semua salahku Yeollie~ hiks… jika saja hiks… jika saja aku tidak hiks… menyembunyikan ini semua hiks… m-mungkin hiks… mungkin—"
"Ssttt~~ sudahlah, lagi pula semua ini sudah terjadi Baekkie! Ya, memang seharusnya dari awal kita tidak menyembunyikna hubungan kita." Chanyeol semakin menenggelamkan Bakhyun ke dalam pelukannya, membuat Baekhyun menangis semakin kencang.
Ya, Baekhyun dan Chanyeol memang sudah lama menjalin hubungan, jauh sebelum Kai mengenal Baekhyun. Namun saat Chanyeol akan memperkenalkan Baekhyun pada Kai, Kai malah menunjukkan foto Baekhyun dan berkata bahwa dia sangat menyukai Baekhyun. Chanyeol tidak tega melihat ekspresi Kai yang terlihat bahagia, Chanyeol jarang sekali melihat ekspresi Kai yang tersenyum bahagia seperti itu. Dan ia tidak ingin kehilangan wajah ceria Kai saat ia menceritakan tentang Baekhyun –kekasihnya—. Tak jarang ia terbakar cemburu saat ia melihat Kai bejalan bersama Kai atau saat Kai menceritakan Baekhyun padanya, ya itulah resiko yang harus ia dan Baekhyun tanggung.
.
^^^^vvvv^^^
.
Seminggu sudah Kyungsoo terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perkembangan berarti yang dia alami.
"Bagaimana ini? Sudah seminggu Kyungsoo seperti ini, hiks…" Bakhyun lagi-lagi menangis, membuat namja tiang yang berstatus sebagai namjachingunya itu kewalahan. Hei, bukankah aku sudah mengatakan jika mereka berdua memang berpacaran sebelum Kai mengenal Baekhyun, beberapa bulan yang lalu.
"Jika kau seperti ini justru itu akan membuat Kyungsoo malas untuk bangun." Ucapan Chanyeol suksek menghentikan tangis Baekhyun. Namja pecinta eyeliner itu mengerjap-ngerjapkan matanya imut, membuat Chanyeol ingin memakannya saat ini juga. Apa yang kau pikirkan Park Chanyeol? Ini rumah sakit, dan calon adik iparmu sedang sakit sekarang.
"Wae?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Karena Hyung-nya bermata sembab, apa kau tega melihat wajah sedih Kyungsoo saat dia melihatmu dengan keadaan kacau seperti ini? Hem?" ibu jari Chanyeol mengusap lebut air mata yang mengalir di kedua pipi Baekhyun, kemudian mengecup pelan puncak kepala namja yang paling berharga dalam hidupnya.
Sementara itu namja berkulit tan yang menyaksikan Chanbaek moment membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi kamar rawat Kyungsoo. Namja itu berjalan gontai menuju taman rumah sakit dan duduk dikursi tua yang berada dibawah pohon yang cukup rindang.
"Apa yang ku lakukan? Aku melukai orang yang tak bersalah demi orang yang kini menyakitiku, terlebih saat aku tau namja yang dia maksud adalah teman terbaikmu. Menggelikan!" ucapnya sambil terkekeh.
Namja tan itu mengambil permen terakhir yang ia temukan di pintu loker miliknya, setelah Kyungsoo masuk rumah sakit, tidak ada lagi 'gadis' yang mempelkan permen di pinttu lokernya. Ia sempat berpikir bahwa si pelaku penempelan itu adalah Kyungsoo, namun pemikirannya ia buang jauh-jauh dan selalu berkata bahwa Kyungsoo itu 'normal'.
"Apa yang kau lakukan disini Kkamjong?" sebuah suara menginterupsi kegiatan melamunnya. Namja tan itu menoleh dan mendengus sebal.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Kai dingin.
"Jawab dulu pertanyaanku Kai!"
"Cih, aku hanya ingin menjenguk orang yang ku bully sampai koma, puas kau!" ucapKai sambil berdiri meninggalkan namja yang baru saja menyapanya.
"Tunggu, apa kau tidak meminta penjelasan apapun tentang hubunganku dengan Baekhyun?" Tanya Chanyeol.
"Sudah cukup dengan apa yang kulihat hari ini dan kemarin! Kau tidak perlu menjelaskan apapun." Ucap Kai tanpa menoleh kearah Chanyeol sedikitpun.
Chanyeol hanya menghembuskan nafas panjang. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti dengan keadaan Kai saat ini. Namja tan itu butuh ketenangan untuk sedikit menjernihkan pikirannya.
.
^^^^vvvv^^^
.
Tao sedang berjalan gontai menuju apartemen Kris. Ya, beberapa jam lalu Kris mendapat telfon dari Kris yang meminta Tao untuk segera datang ke apartemen Kris sepulang sekolah. Dan disinilah dia sekarang, didepan pintu no.1405.
Tao menekan beberapa digit password apartemen Kris yang ia tau. Setelah pintu terbuka, kaki jenjangnya melangkah malas memasuki apartemen yang bisa dibilang cukup mewah itu. Nama pandanya menangkap sosok namja -yang seharusnya ia rindukan- kini tengah duduk disofa dan menatapnya tajam.
"Kau tau apa yang harus kau jelaskan saat ini?" desis Kis tajam.
Tao menghela nafas panjang. 'Dugaanku benar!' ucapnya dalam hati.
"Apa yang harus aku jelaskan? Bukanhah Baekhyun telah menjelaskan semuanya?" Bukan. Bukan ini yang ingin Kris dengar. Kris hanya ingin mendengar Tao yang menjelaskan semua masalah yang menimpa Kyungsoo saat ini.
"Bukan itu yang ingin ku dengar darimu Tao!" geram Kris.
Hati Tao sedikit ngilu saat Kris memanggilnya seperti itu. Tidak ada embel-bembel baby, honey, ataupun panggilan sayang lainnya yang biasa Kris ucapkan padanya. Tao memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap manik mata Kris yang kini tengah menatap tajam padanya.
"Ya, Kyungsoo memang dirumah sakit seka—
"Aku tau itu! Yang ku tanyakan apa yang kau dan sepupu bajinganmu itu lakukan ada Kyungsoo?" potong Kris. Ia mulai kesal dengan tingkah Tao yang seperti itu.
"Kai memang memperkosa Kyungsoo. Sedangkan aku? Apa kau percaya bahwa aku berniat menolong Kyungsoo dan berniat membawanya ke rumah sakit?" Tao berusaha mengontrol nada bicaranya agar tetap terdengar biasa. Berusaha tenang walaupun jauh di lubuk hatinya, ia sedang menagis saat ini.
"Berniat? Bukankah kau yang akan melanjutkan pekerjaan sepupumu itu?" decih Kris. Tao tersenyum miris.
"Sudah ku duga, percuma saja jika aku menjelaskan semuanya. Karna nyatanya kau lebih mempercayai apa yang Baekhyun katakan. Aku pulang dulu, annyeong~~" Tao memabalikkan tubuhnya dan berjalan perlahan menuju pintu apartemen Kris. Hah, bahkan Kris tak mempersilahkan Tao untuk duduk.
SRETT
Kris menarik tangan Tao, membuat namja panda itu sedikit terhuyung. Kris menyeret paksa Tao menuju kamarnya, tak mempedulikan Tao yang terus meronta dalam cengramannya. Amarah Kris sekarang sudah berada di puncaknya, yang ia inginkan penjelasan dari Tao. P-E-N-J-E-L-A-S-A-N! Bukan perkataan atau pernyataan yang Tao ucapkan barusan.
"Lepas Ge, lepaskan aku!" teriak Tao sambil terus meronta.
BUGH
Kris melempar tubuh Tao keatas ranjang, membuat punggung Tao sedikit ngilu. Namja yang mendapat julukan 'Naga' di kampusnya itu langsung menindih tubuh Tao. Sedangkan Tao? Namja panda itu terus berusaha untuk memberontak, menggeluarkan sisa tenaga yang ia punya untuk melawan Kris yang kini berusaha mengikat tangannya dengan ikat pinggang Kris.
"Lepas ge, kumohon hiks…" air mata yang sedari tadi Tao tahan akhirnya lolos.
Kris tertegun melihat Tao meneteskan air mata. Selama 2 tahun menjalin hubungan dengan Tao, baru kali ini Kris melihat Tao menangis. Bahkan saat kejadian beberapa bulan lalu, saat hubungannya dengan Tao yang berada diujung tandukpun, Kris tidak pernah melihat Tao menangis. Lama Kris menatap mata Tao yang kini basah oleh air mata.
Sakit, kecewa dan putus asa. Mungkin itulah gambaran hati Tao yang terlihat dari matanya.
"Jika kau memberikan apa yang ku minta, kau tidak akan seperti ini Baby~~" Kris mengusap air mata yang mengalir di kesua pipi tirus Tao. Tao memejamkan matanya, membiarkan Kris mengusap lembut pipinya.
"Aku sudah mengatakan semuanya ge. Aku menyayangi Kyungsoo seperti dongsaengku sendiri. Aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu padanya." Lirih Tao.
"Tapi Baek—
"Apa aku seburuk itu dimatamu sehingga kau tak mempercayaiku lagi? Apa dimatamu aku seorang pendusta yang tak bisa kau pegang perkataannya? Apa aku seburuk itu hingga kau sama sekali tidak pernah mempercayaiku lagi setelah kejadian itu? Lalu, untuk apa kau meminta penjelasan dariku jika yang kau percaya hanya Baekhyun Hyung?" Tanya Tao hampir menyerupai bisikan. Sungguh hatinya kini bernar-benar sakit melihat Kris yang lebih mempercayai Baekhyun dari dia –kekasihnya–.
Nyut~~
Hati kris berdenyut ngilu mendengar apa yang baru saja ia dengar dari mulut Tao. Entah yang membuat hatinya begitu sulit untuk mempercayai apa yang Tao katakan setelah kejadian beberapa bulan lalu.
FLASHBACK
"Ge, mianhae aku tidak bisa berkunjung ke apartemenmu. Ada tugas kelompok yang harus ku selesaikan." Ucap namja bermata panda itu dengan riang.
"Hah… Baiklah. Hati-hati nae, baby." Jawab namja yang berada diujung line dengan nada yang sedikit kecewa.
"Nae, saranghae…"
"Nado…"
PIP
Namja bermata panda itu memutus sambungan linenya. Ia segera berlari mendekati teman-temannya yang kini menunggunya didalam mobil.
"Bagaiman Tao? Apa Kris mengijinkanmu pergi bersama kami?" Tanya salah seorang dari mereka. Tao hanya mengangguk.
"Kita pergi ke bar loh!"
"Aish… sudahlah! Kris ge sudah memberiku ijin untuk keluar malam ini. Ayo cepat jalan, aku sudah tidak sabar!" pekiknya girang.
Sesampainya di bar, Tao dan teman-temannya berjalan menuju meja yang telah di pesan. Tao yang memang baru kali ini menginjakkan kakinya di bar, hanya diam sambil mengamati sekeliling. Mata pandanya menangkap segerombolan remaja yang melambaikan tangan padanya, mereka sesekali tertawa keras sambil menenggak botol wine yang tadi di pesan. Tao hanya menanggapinya dengan senyum dan lambayan tangan seolah berkata 'Aku disini saja, kalian bersenang-senanglah.'
Tak lama kemudian salah satu dari mereka kembali dan duduk disebelah Tao. Wajahnya terlihat merah, mungkin karena dia minum terlalu banyak.
"Kau tidak ingin hik. Bersenang-senang hm?" tanyanya.
"Aku cukup senang dengan ini kok!" jawab Tao sambil mengacungkan juice orang yang sedari tadi dipengangnya.
Seorang waiters datang dengan membawa sebotol cairan berwarna merah -yang entah apa isinya- sedang dituangkan kedalam gelas.
"Kau coba ini Tao, hik" ucapnya sambil menyodorkan gelas ke bibir Tao. Tao jelas saja menolak, namun namja yang berstatus temannya itu terus memaksa hingga akhirnya cairan berwarna merah itu masuk melewati tenggorokannya.
Luhan terus memberikan minuman yang bernama red wine itu pada Tao. Sedang Tao, namja panda itu merasa kepalanya berputar. Walaupun awalnya minuman itu terasa membakar tenggorokannya, namun kini yang ia rasakan adalah kebahagiaan. Penat yang beberapa hari ini menumpuk di otaknya menguap entah kemana.
CHU~~
Tao merasa ada sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh bibirnya. Tao memicingkan mata, melihat siapa pelaku yang kini membuat bibirnya basah. Luhan, ya namja itu kini tengah menciumnya. Bukan ciuman lembut, tapi ciuman ganas dan menuntut.
SRETT
Tiba-tiba seseorang datang dan menarik tangan Tao, membuat pagutan liar Luhan terlepas dari bibirnya kucingnya.
"Ikut aku!" ucap namja itu dingin. Ia menyeret Tao keluar dari bar dan menghempaskan tubuh Tao kedalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Eh!? Apa yang kau lakukan? Aku sedang bersenang-sedang dengan teman-temanku!" racau Tao. Tangannya masih berusaha menggapai pintu mobil.
PLAKK
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Tao, membuat kesadaran yang sempat hilang kembali menguasai dirinya. Tao menatap namja yang baru saja menamparnya dengan tatapan tak percaya.
"Kris~~" lirihnya.
"Ya, ini aku! Apa ini yang kau bilang mengerjakan tugas kelompok?" sindir Kris.
"…"
"Apa anak SMA sekarang mengerjakan tugas di sebuah bar dengan minuman dan ciuman?"
"…"
"JAWAB AKU ZITAO! APA INI YANG KAU SEBUT BELAJAR? HAH!?" teriak Kris sambil meengguncang bahu Tao. Sedangkan Tao hanya diam sambil menundukkan kepala. Sungguh, ia tidak berani melihat wajah Kris yang kini tengah menatapnya marah.
"Mianhae…" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Tao.
"Siapa namja yang menciumu tadi? Apa kau bermain dibelakangku?" Tanya Kris.
"Dia Xi Luhan, temanku yang berasal dari China."
"Cih, teman? Apa ada seorang teman berciuman sampai seperti itu, dan kulihat kau juga menikmatinya!" Kris melirik tajam kearah Tao.
"Demi Tuhan Kris, dia hanya temanku. Dan tadi aku tidak sadar, karena aku… aku sedang mabuk." Tao merendahkan sedikit intonasi bicaranya dikalimat terakhir.
"Mabuk? Kau bilang kau mabuk? Sejak kapan kau menjadi pemabuk seperti ini, hah?"
"A-aku tidak seperti itu." Gagap Tao.
"Untung saja tadi Baekhyun menelfonku dan mengatakan bahwa dia melihatmu ke bar bersama teman-temanmu. Jika tidak, mungkin saat ini kau sudah tidur dengan temanmu yang bernama Luhan itu!" ucap Kris tajam.
Tao menahan nafas cukup lama, berusaha menenangkan dirinya agar tidak menangis. Walaupun alcohol masih mempengaruhinya, namun ia masih bisa mencerna dengan jelas apa yang Kris ucapkan.
"Sekarang terserah padamu, aku tidak akan memaksa dan mengekangmu lagi Zitao!" Kris menghidupkan mesin mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan kota Seoul yang tidak bisa dibilang sepi.
.
^^^^vvvv^^^
.
"Seharusnya kau melepasku saat itu, seharusnya kau tidak mendengar permohonanku saat itu. Jika kau tak bisa mempercayaiku lagi, kurasa semuanya percuma. Kau hanya membuang-buang waktu berpacaran dengan bocah idiot sepertiku!" ucapan Tao menyadarkan lamunan Kris.
Namja bermata tajam itu menatap dalam manik mata Tao. Jelas. Dia bisa melihat dengan jelas rasa sakit yang dialami namjachingunya. Perlahan Kris menurunkan kepalanya, mempersempit jarak diantara mereka. Tao memejamkan matanya, membiarkan Kris melakukan apapun yang ia mau. Menolak? Tao tak yakin Kris akan mendengarkan apa yang ia ucapkan.
CHU~~
Kris mencium Tao dengan lembut dan sangat hati-hati, tidak ada lumatan ataupun gigitan. Hanya menempel. Namun itu mampu membuat satu kristal bening lagi-lagi keluar dari mata Tao yang masih terpejam. Hatinya berdesir hangat saat Kris memperlakukannya selembut ini, namun saat tangan Kris mengusap sesuatu dibawah sana, Tao langsung memalingkan wajahnya. Membuat bibir Kris menempel di pipinya.
"Lepaskan aku ge, aku ingin pulang." Ucap Tao sedikit bergetar menahan tangis. Kris menjauhkan wajahnya dan kembali mentap wajah Tao. Sedangkan Tao, namja panda itu masih memalingkan wajahnya.
"Mianhae. Mianhae, karna selama ini aku terlalu egois baby," CHU~~ Kris menciumi wajah Tao sambil terus meminta maaf.
"Aku lelah ge, aku lelah. Aku lelah jika harus terus seperti ini. Aku sakit ge, sakit kau perlakukan seperti ini. Aku tau dulu aku yang salah karna telah membohongimu, tapi apa aku juga salah jika mintamu untuk mempercayaiku lagi apa aku salah?" air mata Tao kembali mengalir deras membuat mata pandanya sedikit sembab.
"Akan aku coba baby, akan ku coba untuk mempercayaimu lagi." Ucap Kris sambil mengusap puncak kepala Tao dengan sayang.
"Jangan terlalu memaksakan ge. Jika kau memang tidak bisa percaya padaku lagi tak apa, percayalah pada orang yang memang pantas kau percaya…"
"Tap—
"Itu hanya akan menyakitimu. Dan kau tau, aku tidak ingin melihat orang yang ku cintai menderita karna aku. Jangan terlalu memikirkan perasaanku, sesakit apapun hatiku, orang lain tidak akan ada yang tau ge. Aku baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja."
Kris terdiam mendengar ucapan Tao, walau ia tidak suka dengan orang yang selalu memotong perkataannya, namun perkataan Tao barusan adalah pengecualian. Kris yang tempramen itu lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"Sesakit itukah? Sehingga kau berkata orang lain tidak akan mengetahui rasa sakit yang ada di dalam hatimu? Apa karna aku kau jadi seperti ini baby?" air mata Kris jatuh membasahi pipi Tao.
"Hapus air matamu ge. Air matamu terlalu berharga jika hanya untuk menangisi namja bodoh sepertiku, kau tenang saja. Aku tidak apa-apa." Tao berusaha tersenyum. Sebenarnya ia ingin menghapus air mata yang mengalir diwajah namja tampan yang kini masih menindihnya. Namun kedua tangannya masih terikat kuat di kepala ranjang, membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
"Saranghae baby, jeongmal saranghae. Maafkan aku baby, aku janji tidak akan menyakitimu lagi…" Kris membawa Tao kedalam dekapannya. Pergelangan tangan Tao terasa sedikit ngilu saat Kris melakukan gerakan tiba-tiba seperti ini.
"Nado. Tapi bisakah kau lepaskan ikatan ini? I-ini sakit ge." Mendengar itu, Kris langsung melepas pelukannya. Tangannya terulur untuk melepas tali yang memasung Tao. Ia tersenyum miris melihat luka lecet yang melingkar di pergelangan tangan Tao. Kris mengusapnya lembut, kemudian beranjak pergi meniggalkan Tao yang masih berada di ranjangnya.
"Istirahatlah sebentar, aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Aku tau kau belum makan siang." Ucap Kris sambil menarik selimut sampai sebatas leher, kemudian mengecup puncak kepala Tao. Tao hanya tersenyum melihat perlakuan Kris yang sedemikian lembut itu.
'Apa ini nyata? Jika ini hanya mimpi aku tidak ingin Eomma ataupun Kai membangunkanku Tuhan. Aku rela tidak bangun selamanya asalkan orang yang ku cintai kemabi bersikap lembut padaku seperti ini…'
.
^^^^vvvv^^^
.
Kai masih menatap wajah Kyungsoo yang terlihat damai, mata bulat yang biasanya ketakutan itu kini terpejam. Tangannya terulur membelai surai coklat Kyungsoo. Hati-hati, bahkan sagat hati-hati, takut gerakannya mengusik 'tidur' namja pemilik doe eyes itu. Ck! Ayolah Kai, Kyungsoo memang belum sadarkan diri sejak kejadian itu!
Mata tajam Kai melihat mata Kyungsoo yang membuka perlahan, sedikit meneyerit saat cahaya terang memaksa masuk kedalam doe eyesnya.
"Kau sudah sadar?"
Suara itu, suara berat yang tak asing bagi Kyungsoo. Kai. Ya, itu suara Kai, namja yang kemarin sering membullynya habis-habisan, namja yang—
"Arrggghhhh…." Tiba-tiba saja Kyungsoo menjerit histeris membuat Kai terlonjak kaget.
"A-ada apa denganmu?" Tanya Kai bingung.
"Pergi! Kubilang pergi! Jangan dekati aku hiks… a-aku aku tidak memiliki hubungan apapung dengan Baekkie hiks… PERGI!" Kyungsoo semakin berteriak histeris, ia terus melempari Kai dengan apapun yang bisa di raih olehnya.
Kai sedikit mundur sambil berusaha menghindari benda-benda yang di lempar Kyungsoo. Tak lema kemudian suster dan dokter Kwon datang. Dokter Kwon sedikit kesulitan saat berusaha untuk menenangkan Kyungsoo yang terus menjerit dan meronta. Namun detik berikutnya tubuh Kyungsoo terlihat melemas dan doe eyes indahnya kembali terpejam.
"Maaf, saya menyuntikkan obat tidur untuk membuatnya sedikit tenang. Dia akan tertidur selama dua jam. Saya permisi dulu, jika ada apa-apa tolong segera hubungi saya. Permisi."
Dokter Kwon berjalan keluar dari kamar Kyungsoo, sedangkan Kai, namja tan itu melihat sekeliling kamar rawat Kyungsoo yang berantakan.
"Apa aku begitu menakutkan dimatamu Kyung?" lirih Kai. Detik berikutnya namja itu mengambil sapu dan membereskan semua kekacawan yang Kyungsoo buat.
Dua jam telah berlalu, namun Kyungsoo belum juga menunjukkan tanda-tanda ia akan bangun. Setelah membereskan kamar Kyungsoo, yang Kai lakukan hanya memandangi wajah damai Kyungsoo hingga ia tertidur.
"Engh…" Kyungsoo melenguh kecil saat ia mencoba untuk membuka matanya yang terasa berat. Nyawanya belum semua terkumpul, namun saat doe eyesnya menatap sosok yang kini tengah tertidur disamping ranjangnya. Tangan namja itu menggenggam erat tangannya, membutanya sedikit kesulitan untuk bergerak.
Takut? Tentu saja, bayangan saat dia diperlakukan dengan kasar kembali terlintas didalam otaknya. Ia ingin mejerit, dan mengusir namja yang kini tengah terlelap itu. Tapi lidahnya terasa kelu, bahkan hanya untuk menggerakkan tangannya saja ia merasa kesulitan.
"Kau sudah bangun?" Tanya Kai –namja yag tertidur disamping Kyungsoo– dengan suara serak khas orang bangun tidur. Jangan lupakan juga ekspresi saat Kai menguap sambil menggosok sebelah mataya.
"…"
Tidak ada jawaban dari Kyungsoo membuat Kai menghela nafa panjang. Ia tau saat ini Kyungsoo masih trauma akan dirinya, jika tidak, tidak mungkin Kyungsoo berteriak histeris seperti tadi.
"Kau pasti lapar kan? Tadi suster kemari membawakan bubur ini untukmu, makan dulu nae!" ucap Kai sambil menyodorkan sesendok bubur kemulut Kyungsoo.
Kyungsoo hanya meliriknya sekilas, ia kembali memandang lurus kedepan. Entah apa yang ia lihat, Kai tidak tau. Yang Kai tau tatapan mata Kyungsoo kini kosong.
"Jika kau ingin marah, pukul saja aku! Kau juga boleh membu—
"Mengapa kau tak membunuhku saja saat itu?" Kyungsoo memotong perkataan Kai yang sukses membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Bukankah jika aku mati kau bisa bahagia hidup bersama Baekhyun Hyung?" Tanyanya lagi.
"A-aku—
"Kau mungkin sudah tau apa yang terjadi denganku saat ini. Dan kau mungkin juga sudah tau apa statusku dengan Baekhyun Hyung."
"Mianhae, Kyung. Apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?" Tanya Kai sambil menggenggam tangan Kyungsoo. Kyungsoo menatap manik mata Kai, mencari kesungguhan yang barusaja ia ucapkan.
"Kau tidak perlu melakukan apapun untuk orang yang sebentar lagi akan mati sepertiku, jangan membuang-buang waktumu, Hyung!" ucap Kyungsoo sambil melepas genggaman tangan Kai.
Dada Kai terasa sesak saat Kyungsoo mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan mati, di lubuk hatinya, Kai tidak rela jika Kyungsoo berkata seperti itu.
"Masih ada peluang untuk sembuh Kyung! Mengapa kau menyerah secepat ini?" Tanya Kai.
"Aku tak menginginkannya, aku sudah lelah Hyung." Lirih Kyungsoo.
"Apa yang kau katakana Kyung? Kau ingin—
"Aku tidak menginginkan banyak hal didunia ini, aku hanya ingin bahagia di saat-saat terakhir hidupku. Namun sepertinya mimpiku hancur sebelum aku memulainya" lirih namja manis itu dengan sorot mata yang sama, kosong.
DEG
Lidah Kai terasa kelu saat mendengar apa yang baru saja Kyungsoo katakan. Bahagia? Disaat-saat terakhir hidupnya? Hancur? Apa dia baru saja menghancurkan mimpi orang lain? Sejahat itukah? Berbagai pertanyaan terus berputar didalam otak Kai. Membuat kepalanya sedikit pusing.
"Apa kau tidak ingin tetap disini menjaga Baekhyun? Aku yakin kau akan sembuh Kyung…" bujuk Kai.
"Untuk apa kau berkata seperti itu Hyung? Bukankah saat itu kau berkata bahwa kau akan menghancurkanku? Sekarang aku sudah hancur, lalu apa yang harus aku pertahankan? Dan seharusnya kau membunuhku saat itu, untuk apalagi aku melanjutkan pengobatanku jika pada akhirnya aku akan tetap mati?" lirih Kyungsoo.
GREPP
"Jangan berbicara seperti itu Kyung, kumohon. Bertahanlah Kyung. Berjanjilah kau akan sembuh." Kai membawa Kyungsoo kedalam pelukannya.
"Atau kau bisa menjualku ke bar khusus gay, bukankan pamanmu memiliki banyak club malam? Kau akan—
CHU~~
Kai membungkam bibir Kyungsoo dengan bibirnya, hatiya semakin ngilu mendengar racauan Kyungsoo dengan tatapan kosong seperti itu.
"Berhentilah berkata seperti itu Kyung, aku tidak aka pernah rela jika kau pergi meninggalkanku!" Kai semakin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo, air mata yang sedari tadi ia tahan keluar begitu deras. Tidak, ia tidak akan pernah rela kehilangan namja doe eyes itu. Tidak akan.
.
^^^^vvvv^^^
.
Kai menatap Kyungsoo yang masih tertidur, sudut bibirnya sedikit terangkat. Entah mengapa setelah beberapa kali ia melihat Kyungsoo tertidur sesuatu didalam hatinya berdesir hangat.
"Sampai kapan kau akan tertidur seperti itu?" Tanya Kai. Melihat Kyungsoo tidak menunjukkan reaksi dia akan bangun, Kai menyibak tirai yang masih tertutup, membuat cahaya matahari dengan bebasnya masuk kedalam kamar rawat Kyungsoo.
"Eungh…" Kyungsoo mengeliat tidak nyaman saat cahanya matahari memaksa untuk masik kedalam matanya.
"Cih, hanya mengeliat. Ayo bangun Kyung dan habiskan sarapanmu!" ucap Kai menarik selimut Kyungsoo.
"Eungh… lima menit lagi Eomma!" jawab Kyungsoo menarik kembali selimutnya sampai atas.
DEG
"Eomma?" lirih Kai. Ya, sampai saat ini Kai tidak pernah melihat sosok 'Eomma' ataupun 'Appa' Kyungsoo datang untuk menjenguk putranya. Dia hanya melihat Baekhyun dan Kris, kedua sepupu Kyungsoo yang datang bolak-balik unuk menjenguknya.
Kai mengluarkan ponselnya dan mendial beberapa nomor yang sudah dia hafal. Baekhyun. Tentu saja, siapa lagi yang membuat Kai sampai seperti ini jika bukan namja pecinta eyeliner itu?
"Ada yang ingin aku bicarakan, jam istirahat nanti ku tunggu di kantin sekolah!"
PIP
Hanya itu yang dia ucapkan. Orang disekitar Kai akan menganggapnya aneh jika melihat kelakuan Kai yang bisa dibilang tidak sopan itu, apa lagi barusan dia menelfon Baekhyun, namja yang ia kejar selama ini.
"Aku pergi sekolah dulu nae. Kau cepat sembuh, aku rindu melihatmu memakai seragam seperti dulu. Sepulang sekolah aku akan datang lagi untuk menemanimu."
CHU~~
"Bye…" setelah mendaratkan kecupan singkat di dahi Kyungsoo, Kai segera keluar dari ruang rawat Kyungsoo. Langkahnya sedikit cepat mengingat 15 menit lagi jam pelajaran akan segera di mulai.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, Kai menyempatkan diri untuk mampir ke bagian administrasi, mengecek berapa biaya yang Kyungsoo habiskan selama berada disana. Kai mengeluarkan kartu kreditnya untuk melunasi biaya pengobatan Kyungsoo, setelah mengucapkan terimaksaih, Kai segera berlari menuju parkiran.
Tak lama setelah mobil Kai meninggalkan rumah sakit, seorang namja berambut pirang datang ke bagian administrasi, menanyakan biaya yang Kyungsoo habiskan.
"Maaf Tuan, tapi biaya atas nama Tuan Do Kyungsoo sudah lunas semua." Ucap sang suster ramah.
"Siapa yang melunasi semuanya?" Tanya namja itu heran.
"Maaf Tuan, tapi orang yang melunasi semua biaya perawatan pasien tidak menyebutkan namanya."
"Kapan orang itu melunasi semuanya?"
"Beberapa menit sebelum anda kemari."
"Baiklah, terimakasih."
"Sama-sama Tuan."
Namja itu meniggalkan bagian administrasi dengan wajah bingung.
"Siapa yang melunasi biaya pengobatan Kyungsoo?" tanyanya entah pada siapa.
CKLEK
Namja itu masuk kedalam ruang rawat Kyungsoo, senyum indah berkembang di wajah tampannya saat melihat dongsaengnya itu masih tertidur pulas walaupun dengan keadaan tirai yang tebuka.
"Hyung kira kau sudah bangun Kyungie, tapi ternyata kau masih tertidur! Jika tau seperti ini, seharusnya tadi Tao ku antar saja." Ocehnya.
"Eungh… Hyung, aku masih ngantuk!" protes Kyungsoo. Namja manis itu mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, membuat Kria terkekeh geli melihatnya.
"Apa kau tidak bosan terus berada disini Kyungie? Apa kau tidak berniat untuk kembali pergi ke sekolah bersama Baekhyun dan Tao?" Tanya Kris sambil mengusap sayang puncak kepala Kyungsoo.
"Eung… a-aku ingin sekali, Hyung." Jawab Kyungsoo sangat pelan.
"Kalau begitu ayo pulang. Dan Hyung akan mengantarmu saat jam istirahat."
"Apa dokter Kwon mengijinkan aku untuk pulang Hyung?"
"Nae, tentu saja. Sebelum Hyung kesini, Hyung menemui dokter Kwon terlebih dahulu. Dan dokter Kwon juga mengatakan jika kau boleh pulang sekarang."
"Jinja?" Tanya Kyungsoo dengan wajah riang.
"Hmm… tapi kau harus minum obat secara rutin. Kau juga bisa melanjutkan kemoterapi-mu yang sempat tertunda Kyungie."
Mendengar kata kemoterapi membuat wajah Kyungsoo langsung berubah. Ia menundukkan wajahnya.
"Aku tidak ingin melanjutkannya Hyung, biarkan Tuhan yang mentukannya."
"Hah… baiklah, Hyung hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Kyung…"
.
^^^^vvvv^^^
.
"Katakan padaku dimana orang tua Kyungsoo berada saat ini Hyung," pinta Kai. Baekhyun menatap Kai tidak suka.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau tau dimana orang tua Kyungsoo? Apa kau akan membunuhnya hah?" Tanya Baekhyun sarkatis.
"Aku tidak sekeji itu Hyung!" geram Kai.
"Aku fikir kau akan Kyungsoo saat kau tau aku dan Chanyeol sudah lama berpacaran, tapi kau malah menanyakan keberadaan orang tua Kyungsoo. Kau benar-benar aneh Jongin!"
"Untuk apa aku membunuh Kyungsoo?"
"Bukankah Kyungsoo yang selalu menjadi korban bully-mu saat aku tak menuruti keinginanmu?" ucap Baekhyun dengan penuh percaya diri.
"Ya, tapi itu dulu! Sekarang katakan padaku dimana orang tua Kyungsoo? Mengapa mereka sama sekali tidak pernah menjenguk putranya yang kini berada dirumah sakit?"
Baekhyun menghela nafas panjang. Mungkin sudah saatnya Kai mengetahui semua tentang Kyungsoo.
"Orang tuanya meninggal setahun yang lalu. Dan kau tau alasanku menyembunyikan hubunganku dengan Chanyeol padamu? Kyungsoo-lah yang memintanya, ia memintaku untuk tidak menolakmu berdekatan denganku. Karna apa? Dia menyukaimu Kai, dan orang yang setiap pagi menempelkan permen dipintu lokermu yang kau kira seorang gadis itu adalah Kyungsoo. Dan karna Kyungsoo pula kau masih bebas sampai sekarang! Aku bisa saja memberitahu Hyungnya Kyungsoo bahwa kau memperkosa Kyungsoo sampai koma selama satu minggu lebih."
"J-jadi itu—
"Ya, Kyungsoo memang menyukaimu sejak pertama kali melihatmu diacara Tahunan. Dia belajar mati-matian agar dapat loncat kelas dan bisa satu kelas denganmu, tapi kurasa semua perjuangan Kyungsoo percuma. Kau bahkan tega menghancurkan harapan hidup Kyungsoo, menghancurkan mimpinya yang bahkan belum ia mulai. Apa kau sadar betapa jahatnya dirimu Kai?" ucap Baekhyun sambil terengah menahan emosi.
"Mian Hyung, a-aku tidak tau," jawab Kai sambil menundukkan kepala.
"Maaf saja tidak mampu membuat mimpi orang yang kau hancurkan kembali Kai! Seharusnya kau mampu berfikir sebelum bertindak. Cerna ucapanku baik-baik! Aku pergi annyeong!"
Baekhyun pergi meniggalkan Kai yang masih termenung. Suasana di kantin mulai sepi megingat beberapa menit lagi bel berbunyi. Setelah membayar semua pesanannya dan Baekhyun, Kai melangkah dengan gontai menuju kelasnya. Kepalanya terasa pusing mengingat pembicaraannya dengan Baekhyun tadi, setiap perkataan yang Baekhyun lontarkan terus berputar diotaknya. Saat dia membuka pintu kelas, tubuhnya tiba-tiba saja membeku. Mata tajamnya menangkap sosok yang kini tengah duduk di pojok ruangan, sosok yang begitu dia rindukan.
~TBC~
Gyaaaa~~~ Rei update lelet, hehe mian. Rei musti bagi-bagi waktu Rei #gaya lu Rei!
Oh ya, Rei mo minta maaf di chap ini ga fokus ke Kaisoo, dan Rei juga minta maaf belon bisa bikin bebeb Kyungie bahagia. Kan Kai-nya belon menderita #ditoyor Kai.
Buat next chap kayanya bakal lebih lelet lagi deh updatenya, soalnya dua minggu kedepan Rei ujian, #emang kapan lu update cepet Rei? Ngaret mulu prasaan# hehe #nyengir Kuda#plakk
Okk dah cukup segitu aja cuap-cuap dari Rei. Mian ga bisa bales ripiu satu-satu. And ripiunya masih Rei tunggu loh… hahah~~~
