Annyeong~~

Rei datang lagi membawa ff abal milik Rei. Rei kemaren lupa bilang kalo Kyungie lebih muda dari Kai dan Tao, magnae lah ceritanya. Hehe~~ fic ini terisnpirasi dari lagunya yang'Beautiful Day'lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-

Ok, sekian cuap-cuap dari saya. Cha~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3

.

.

Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~

.

.

Dislike, don't read! Simple?! Okk..

.

"Brengsek! Kembalikan Kyungsoo!" teriak Tao saat ia lihat mobil itu mulai bergerak meninggalkan halaman sekolah.

"Sial!" umpatnya sambil berusaha mengejar mobil yang membawa Kyungsoo.

.

.

^^^^vvvv^^^^

Chap 6

^^^^vvvv^^^^

.

.

Tao terus berlari mengejar mobil yang membawa Kyungsoo. Bahkan ia tidak mempedulikan makian dari beberapa orang yang tidak sengaja ia tabrak. Dalam otaknya hanya ada satu, 'Bagaimana cara mengejar mobil itu dan menyelamatkan Kyungsoo'. Ya. Hanya itu.

"Brengsek!" umpat Tao yang entah sudah keberapa kalinya. Sebenarnya kakinya sudah mulai lelah untuk mengejar mobil yang sepertinya sengaja berjalan lambat agar bisa Tao ikuti, namun tetap saja kecepatan lari Tao tidak sebanding dengan kecepatan mobil itu.

Tapi bukan Zitao namanya jika ia menyerah begitu saja, lagi pula bukankah ia yang meminta izin pada Baekhyun untuk pulang bersama Kyungsoo? Bisa bayangkan sendiri bagaimana murkanya seorang Wu Yifan jika ia tau dongsaengnya tidak pulang bersamanya? Tao tersenyum miris saat mengingat nama namjachingunya. Apalagi dengan perlakukannya kemarin, membuat sesuatu dalam hatinya berdenyut nyeri.

Mobil itu tiba-tiba berhenti didepan sebuah bangunan yang seingat Tao bangunan itu merupakan gudang bekas yang sudah lama tidak dipakai.

Namja panda itu masih berusaha menetralkan nafasnya yang memburu, namun pandangannya tak pernah jauh dari mobil yang kini berada beberapa meter di depannya. Ia melihat beberapa orang berpakaian serba hitam yang salah satunya menggendong namja mungil yang bernama Kyungsoo.

'Apakah mereka itu ninja?' batin Tao. Ia sedikit mengerutkan keningnya, mengingat orang-orang itu juga memakai penutup wajah yang menurutnya seperti para ninja dalam anime-anime yang sering ia tonton. Hah~ ayolah Zitao, ini bukan saatnya kau mengingat hal-hal seperti itu.

Seperti teringat sesuatu, Tao merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu. Setelah itu matanya kembali mengawasi gerak-gerik 'para ninja' yang kini mulai memasukki gedung sambil tetap berusaha menstabilkan nafasnya.

Merasa nafasnya telah stabil, namja panda itu berjalan mengendap-ngenap memasuki gudang. Tidak. Dia tidak boleh ceroboh dan gegabah. Ia belum tau siapa orang-orang itu dan apa motif mereka membawa Kyungsoo kemari, dan yang terpenting adalah keselamatan Kyungsoo. Ya, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran namja panda itu.

Mata pendanya terus mengawasi keadaan sekitar. Gelap. Itulah yang ia lihat saat ini. Namun, dia melihat siulet namja yang duduk disebuah kursi dalam keadaan terikat.

"Kyung~~" lirih Tao. Tanpa babibu lagi, Tao langsung berlari kearah Kyungsoo dan berusaha untuk melepaskan tali yang menikat tubuh Kyungsoo sebelum—

BUGHH

"ARRGGHH…"

Tao memegangi tengkuknya yang terasa ngilu. Beruntung pukulannya tidak terlalu keras, tapi cukup membuat pandangannya mengabur beberapa saat. Tao membalikkan badannya, berniat melihat siapa yang berani menyerangnya dari belakang. 'Pengecut!' batin Tao.

DEG!

Tao membulatkan matanya melihat seorang namja yang kini tengah memegang tongkat baseball sambil memamerkan smirknya.

"Yixing ge~~" lirih Tao.

Namja yang bernama Yiking tersenyum remeh melihat ringisan diwajah Tao. Namja berdimple itu melangkahkan kakinya mendekati Tao yang berada beberapa langkah di depannya.

"Kau masih mengingatku ternyata?" ucapnya dengan nada sinis.

"Apa maumu?"

Yixing terkekeh mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir kucing Tao barusan, detik berikutanya Tao bisa dengan jelas melihat seringaian terpatri di wajah manis Yixing. Tidak berniat sama sekali untuk mejawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tao barusan.

"Jawab aku! Apa sebenarnya maumu?" geram Tao.

"Ck! Kau memang tidak sabaran bocah! Bisakah kita bermain-main sedikit?" Yixing memutar-mutar tongkat baseball yang berada ditangan kanannya diudara.

"Apa maumu?" ulang Tao. Sungguh jika Tao tidak mengingat Yixing sebagai seniornya, maka ia akan dengan senang hati menghabisi namja yang berdiri didepannya dengan pandangan remeh.

"Bukankah sudah ku bilang aku ingin bermain-main sedikit denganmu!" sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk sebuah seringaian yang menurut Tao sangat memuakkan.

Hah… ayolah! Seharusnya saat ini Tao sedang tertidur di Kasur empuknya yang nyaman, atau paling tidak ia akan menghabiskan waktunya di dapur bersama Kai untuk memasak makan malam mereka. Tapi kini, mengapa ia harus bertemu dengan orang menyebalkan seperti Yixing? Dan satu hal lagi, ini –mungkin— merupakan jamnya Kyungsoo untuk minum obat dan beristirahat.

Memikirkan Kyungsoo, Tao hendak melayangkan tinjunya kewajah Yixing namun—

BUGHH

Yixing yang tau Tao akan memukulnya, telah terlebih dahulu mengayunkan tongkat baseball yang berada ditangannya kearah Tao. Membuat tubuh namja panda itu kembali terhempas kebelakang. Pemuda itu meringis menahan sakit sambil memegangi tengkuknya yang terasa ngilu.

"Cih, kau fikir kau bisa melukaiku dengan pukulanmu itu? Kau lupa siapa aku Zitao?" desis Yixing tajam. "Kau boleh menghabisiku, tapi…" Yixing menggantungkan kalimatnya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ditelinga Tao dan berbisik "Langkahi dulu mayat mereka!"

Yixing melempar tongkat baseballnya dan melenggang menjauhi Tao yang masih sibuk mencerna kalimat terakhir yang Yixing katakan. Detik berikutnya, mata pandanya membulat sempurna saat melihat segerombolan namja –ninja– yang kini mengerubunginya. Entah berapa jumlah mereka. 20? 30? Atau lebih? Entahlah, Tao tidak mempunyai cukup waktu untuk menghitung mereka satu persatu. Ia hanya ingin segera menyelesaikan ini semua dan membawa Kyungsoo dengan keadaan utuh kehadapan Kris dan Baekhyun.

BUGHH

Salah satu dari mereka menendang keras rahang Tao, membuat namja panda itu terjungkal kebelakang. Tao menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Dengan geram namja panda itu membalas mereka dengan berbagai pukulan dan tendangan yang ia bisa. Meskipun kalah jumlah, tapi tidak ada sedikitpun rasa takut dalam hati Tao. Bukankah ia pernah menjabat sebagai ketua Wushu dan memenangkan berbagai perlombaan? Dan berkelahi seperti ini bukankah sudah biasa?

'Bertahanlah Kyung! Aku akan segera menyelesaikan ini semua dan membawamu pulang dengan keadaan utuh. Aku berjanji! Kai, cepatlah datang.'

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Kai tengah berusaha untuk memejamkan matanya, entah mengapa pikirannya terus melayang kepada satu sosok. Do Kyungsoo. Yeoja misterius yang selalu menempelkan permen berbagai bentuk dan sebuah note lucu. Tapi Kyungsoo bukan seorang yeoja, dia itu namja. Namja mungil bermata bulat dan berbibir tebal. Bibir? Mengingat itu, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.

'Bibir yang mungkin akan terasa manis saat dikecup' batin Kai. Sebuah senyum indah menghiasi wajah tampannya, namun senyum itu perlahan memudar mengingat berbuatannya beberapa waktu lalu kepada Kyungsoo.

'Bodoh! Kau bahkan sudah mencicipi tubuhnya dengan paksa?!' batin Kai. Senyum indah itu berganti menjadi senyum pahit. Merutuki kebodohannya yang selalu bertindak sesuka hati. Tanpa memikirkan akibat apa yang akan dia hadapi nantinya.

"Apa aku masih pantas untukmu? Apa kau masih mau menerimaku yang telah menghancurkan impianmu?" gumam Kai entah pada siapa.

"Apa yang membuatku berpaling kepadamu Kyung? Bukankah aku hanya mencintai Baekhyun? Dan bukankah aku sering bahkan sangat sering menyakiti perasaanmu? Aku sering memukulmu, mencacimu, bahkan aku mengataimu namja tidak normal. Haha.. bukankah aku ya yang tidak normal? Aku menggilai Baekhyun yang jelas-jelas ia namja. Bahkan saat Krystal menyatakan cintanya padaku tahun lalu, aku hanya pemandangnya dengan tatapan dingin tanpa ada niat untuk menjawab. Aku baru sadar jika aku terlalu angkuh, dan itu terjadi saat melihat wajah malaikatmu saat kau tak sadarkan diri dirumah sakit. Dan bodohnya itu semua juga karna diriku!" monolog Kai sambil menatap kosong langit-langit kamarnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, memaksa namja tan itu untuk bangkit mendekati meja belajarnya. Diusapnya touchscreen ponselnya, menampilkan sebuah pesan.

From: TaoTao

To: Kkamjong

Cepat datang ke jalan XXXXXXXX yang berada di sekitar komplek sekolah, ke sebuah gudang penyimpanan yang sudah tidak terpakai lagi. Cepatlah, aku membutuhkan bantuanmu!

Kai mendengus sebal, dan kembali melemparkan ponselnya keatas kasur.

"Ck! Seenaknya sekali dia, apa dia ingin menunjukkan kedekatannya dengan Kyungsoo yang jelas-jelas bahkan sangat jelas mulai menghindariku?" rutuk Kai.

Kai kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur, menutup matanya dengan punggung tangan dan bersiap untuk melakukan tidur sorenya. Sore? Kai segera bangkit dari tidurnya dengan tergesa ia berlari kearah kamar mandi untuk mencuci muka agar terlihat lebih segar. Matanya melirik sekilas jam dinding yang kini hampir menujukkan pukul 4 sore membuatnya sedikit tertegun, seharusnya Tao sudah berada dirumah. Bukankah sekolah sudah bubar dua jam yang lalu? Apa mengantar Kyungsoo menghabiskan waktu selama itu? Apa hubungannya dengan gudang dan bantuan? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Tao dan mungkin juga—

Kai segera menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Kai memeriksa kembali ponselnya, berharap Tao menghubunginya. Nihil. Tidak ada pesan ataupun panggilan tak terjawab, membuat hati namja tan itu semakin kalut.

Kai segera berlari menuju parkiran. Matanya mencari-cari dimana letak mobilnya. Setelah masuk dan memasangkan seatbelt, Kai segera menginjak dalam pedal gas. Mengemudi secepat yang ia bisa.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Namja panda itu terengah, dadanya naik turun mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Wajah manisnya kini dipenuhi oleh luka lebam dan darah segar yang masih mengalir dari pelipisnya yang robek, seragam putih bersih yang ia kenakan kini berubah warna menjadi kecoklatan dan ceceran darah yang berasal dari luka di wajah Tao.

Namun Tao bisa sedikit bernafas lega, ia berhasil menumbangkan lebih dari separuh orang-orang ninja itu. Bukankah itu hebat? Menghajar lebih dari sepuluh, atau entah berapa orang dalam waktu satu jam adalah hal yang menakjubkan?

"Wow! Ternyata kau lumayan juga ya? Aku tidak menyangka namja cengeng sepertimu mampu menghabisi lebih dari separuh anak buahku!" ucap Yixing sarkatis. Namja berdimple itu tersenyum meremehkan melihat kondisi Tao yang menurutnya ya, lumayan mengenaskan. Tapi itu bukanlah apa-apa. Ini masih pemanasan. Batin Yixing.

Tao sama sekali tidak menanggapi perkataan Yixing, membuat emosi yang sedari ia tahan keluar begitu saja.

BUGHH

"Eungghh…" lenguh Kyungsoo. Namja bermata bulat itu mengerjab-ngerjabkan matanya, menyesuaikan cahanya lampu yang mendesak masuk melalui retinanya. Membuat kepalanya sedikit pusing.

"Argghh…" Kyungsoo sedikit meringis saat ia hendak membuka mulutnya. Kyungsoo baru sadar jika sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan sedikit darah.

"APA YANG KAU LAKUKAN ZHANG YIXING?!" teriak Tao murka. Sungguh, namja berdimple di depannya ini benar-benar menguras habis kesabarannya.

"Aku? Aku hanya membangunkannya. Wae?" Tanya Yixing dengan wajah yang dibuat polos.

"Kau, breng—aakh!" salah satu dari mereka menjambak kuat surai blonde Tao dan menariknya ke belakang, membuat tubuh Tao sedikit terhuyung.

"Brengsek! Aku tidak akan memaafkanmu Zhang Yixing! Aku akan membunuhmu!" teriak Tao frustasi.

"Wae? Aku hanya ingin berkenalan dengan calon adik iparku! Dan bukankah sudah ku bilang juka kau ingin menyentuhku langkahi dulu mayat mereka!" nada dingin terdengar dari setiap kata yang Yixing ucapkan.

Kyungsoo menatap wajah Tao yang di penuhi luka lebam dan darah segar dimana-mana. Ia masih beluk mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Kepalanya semakin berdenyut nyeri, di tambah rahang nya yang terasa ngilu.

"Aku ingin bermain-main sedikit denganmu manis. Bagaimana kalu kita bermain dokter dan pasien? Kau sebagai pasien dan aku sebagai dokternya?" ucap Yixing sambil memainkan jarum suntik yang ada di tangannya.

"A-apa yang ak-kan k-kau la-kukan?" Tanya Kyungsoo terbata. Sungguh, perasaannya saat ini benar-banar tidak enak. Doe eyesnya melirik takut benda yang berada di tangan Yixing, sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna putih— yang entah apa— Kyungsoo sama sekali tidak mengenal cairan itu.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Kyungsoo, Yixing langsung mengarahkan ujung tajam jarum tadi keleher Kyungsoo. Kyungsoo terus memberontak, berusaha untuk melepaskan ikatan yang membelenggu tubuhnya. Namun sepertinya usaha Kyungsoo sia-sia, tali tu terlampau kuat mengikat tubuhnya. Dan—

"Arrgghhh…" satu pekikan lolos dari bibir plum Kyungsoo. Mata bulatnya terpejam erat, saat Yixing berhasil menusukkan jarumnya di leher Kyungsoo.

Yixing mencabutnya perlahan, kemudian menegakkan badannya guna meliahat reaksi apa yang terjadi pada dongsaeng kecil yang dia sebut sebagai adik iparnya. Ia merasa senang dengan kondisi Kyungsoo yang saat ini tengah memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.

Tidak sampai lima menit, tubuh Kyungsoo bereaksi. Tubuhnya mengeliat hebat, wajahnya memerah, dan bibirnya sedikit terbuka.

"A-arghh… p-panas! Panas!" teriak Kyungsoo. Tubuhnya terus mengeliat resah, ditambah dengan kringat dingin yang mulai membasahi seragam yang Kyungsoo kenakan.

Senyum kemenangan tercetak jelaas di wajah Yixing. Namja perdimple itu melirik sekilas kearah Tao yang sedang mengamuk. Benar-benar seperti kungfu panda! Bantin Yixing. Yixing menarik kursi yang berada tidak jauh darinya, kemudian duduk disamping Kyungsoo yang terus mengeliat dalam ikatannya. Satu tangan Yixing terulur mengelus dada Kyungsoo dengan gerakan selembut mungkin.

"Ahh…~~"

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Kai melajukan mobilnya dengan sangat pelan, mata tajamnya terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Mencari letak gudang yang dimaksud Tao. Hah, sudah hapir satu jam Kai mencari gudang yang Tao maksud. Kai terpaksa menghentikan laju mobilnya saat ponselnya berdering nyaring di jok samping. Kai menggeser tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya kemudian menempelkan ponselnye ke cuping sebelah kanan.

"Yeob—"

'Ya! Dimana kau Kkamjong? Cepat kembalikan dongsaengku!' jerit seseorang di sebrang line. Memaksa namja tan itu menjauhkan sedikit ponsel yang tadinya menempel di telinga Kai. Kai bisa saja tuli jika dia tidak melakukan hal itu.

"Aishh… Berhentilah berteriak Byunbaek! Aku juga sedang mencari saengmu dan TaoTao! Kau tau, mereka hilang!" jelas Kai.

'MWO?!' kali ini suara Baekhyun lebih tinggi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Membuat Kai mendengus sebal.

"Sebenarnya aku masih malas berbicara denganmu! Tapi sekarang aku sedang mencari gudang yang Tao katakan beberapa jam yang lalu!"

'Jika bukan karna—'

"Nanti aku akan mengirimkan alamatnya padamu!" Kai memotong perkataan Baekhyun. Membuat emosi namja penggemar eyeliner itu semakin membuncah.

'Ya—'

"Ah, ya! Ajak juga si naga itu! Bye!"

PIP

Kai memutus sambungan telponnya secara sepihak. Jujur saja, hati namja tan itu masih terasa sakit jika ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Diaman ia disuguhkan pada kenyataan yang benar-benar –menurutnya– tidak masuk akal. Kyungsoo yang merupakan sepupu Baekhyun. Sepupunya yang kini selalu mendapat masalah dengan namjachingunya –Kris– jika itu bersangkutan dengan Kyungsoo. Dan yang lebih parah, ternyata namja yang disukai– ah, ani. Lebih tepatnya namjachingu Bekhyun adalah Park Chanyeol! Sahabatnya sendiri. Orang yang selama ini ia percaya selain Tao.

Kai mengusap wajahnya kasar. Ia menatap ponselya, kemudian mengirimkan pesan yang Tao kirimkan padanya untuk Baekhyun. Ya, hanya Baekhyun. Karena Kai memang tidak memiliki nomor ponsel Kris. Untuk apa menyimpan nomor ponsel orang yang tidak penting. Pikir Kai.

Kai kembali menjalankan mobilnya, bergerak perlahan seperti tadi. Memastikan tidak ada satupun bangunan yang terlewatkan olehnya.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Tubuh Tao terlentang diatas lantai kotor. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak yang ia bisa. Tatapannya lurus kearah langit-langit gudang yang hampir tertutup oleh sarang laba-laba. Benar-benar tidak terurus. Batin Tao.

"Ngghh…"

Tao masih bisa mendengar lenguhan Kyungsoo walaupun tak sepenuhnya jelas. Entahlah, tubuhnya benar-benar terasa remuk. Menghadapi lebih dari 30 orang seorang diri membuat seluruh persendiannya terasa ngilu. Tao berusaha menoleh kearah Kyungsoo yang masih duduk dalam keadaan terikat.

Oh tidak, Kyungsoo menunjukkan bahwa ia benar-benar tersiksa. Lihat saja keringat sebesar biji jagung yang memenuhi keningnya, wajahnya memerah, tubuhnya terus mengeliat tidak terkendali dan juga bibir plumnya yang tak henti berkata panas dan appo. Tao bersumpah akan menguliti Yixing jika namja berdimple itu berani menyentuh Kyungsoo lagi.

"Hai bocah! Apa kau sudah menyerah? Sebatas itukah kemampuan sang Ketua yang selalu di bangga-banggakan oleh pelatih? Bahkan kau belum melawanku" ejek Yixing.

Namja berdimple itu berjalan mendekati tubuh Tao yang dipenuhi oleh luka. Sungguh, ia benar-benar merasa bahagia sekarang.

"Apa maumu sebenarnya?" desis Tao lemah, namun dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menusuk. Seolah tak mendengarkan perkataan Yixing, Tao justru melontarkan pertanyaan yang sama –entah untuk ke berapa kalinya–

Suara gemeretak tulang patah tersengar saat Yixing dengan sengaja menginjak jari-jari tangan Tao, rasanya begitu ngilu. Tao yakin tulangnyanya pasti patah. Tao ingin berteriak, namun ia tidak bisa mengeluarkan teriakkannya. Tao hanya membuka mulutnya sebagai ungkapan rasa sakit yang ia rasakan, hal itu saja sudah membuat rahangnya terasa semakin ngilu.

"Kenapa? Bukankah kau bertanya apa mauku Huang Zitao?" desis Yixing. "Baiklah akan aku jawab! Inilah yang aku inginkan! Melihatmu hancur adalah impianku sejak dulu. Kau tau, jika saja kau tidak pernah ada dalam kehidupanku dan Kris, mungkin sampai saat ini aku masih bersamanya! Dan karena kau juga yang telah merebut mimpiku untuk mengikuti pekan nasional dulu! APA KAU INGAT SEKARANG HAH?"

BUGHH

Yixing kembali melayangkan bogem mentah ke wajah Tao, membuat namja panda itu kembali mengeluarkan darah. Yixing menarik kerah baju Tao, memaksanya untuk bangun.

"Ayo! Sekarang saatnya kau melawanku dan lima anak buahku yang tersisa! Perlihatkan jika kau memang benar-benar seorang atlit wushu!"

"Engghh… T-Tao…" lirih Kyungsoo. Namja bermata bulat itu tidak tega melihat keadaan Tao yang seperti ini, melihat Tao yang dihajar puluhan orang di depan matanya. Dan Kyungsoo hanya menjadi seorang penonton.

Jika Kyungsoo bisa, ia ingin sekali membantu Tao. Tapi kenyataannya ia sendiri terikat kuat pada sebuah kursi dan sialnya lagi Kyungsoo sendiri tidak bisa mengendalikan rasa panas yang menjalar keseluruh tubuhnya.

"A-appohh…" Kyungsoo terus mengerang. Sekuat apapun ia menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara-suara aneh, maka tubuhnya akan semakin sakit.

Belum hilang rasa panas yang menjalari tubuhnya, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Tidak, kumohon jangan sekarang, ini hanya akan mempersulit Tao. Batin Kyungsoo. Namja bermata bulat it uterus menggigit bibir bawahnya, mencoba mengusir rasa pening dan panas yang tak kunjung pergi.

Tes

Kyungsoo bisa melihat dengan jelas darah yang menetes mengotori seragamnya. Semakin lama semakin banyak seiring dengan kepalanya yang semakin terasa berat. Pandangannya mulai mengabur, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas bagaimana Yixing dan beberapa akan buahnya yang sedang memukili Tao secara membabi buta.

"Mian~~" lirih Kyungsoo sebelum kegelapan menguasainya.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

"Bagaimana? Apakah Kyungie bersama si Hitam itu?" Tanya Kris pada Bekhyun yang baru saja menelpon Kai.

"Kai mengatakan bahwa dia juga sedang mencari Kyungsoo dan Tao. Hyung, aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Kyungsoo. Perasaanku dari tadi tidak enak!" Baekhyun menampilkan wajah cemasnya. Seharusnya tadi dia memaksa Kyungsoo untuk ikut pulang bersamanya, atau paling tidak dia menemani Kyungsoo sampai Tao datang.

"Kemana kita harus mencari mereka? Bahkan Tao tak membalas pesan atau mengangkat panggilan dariku sama sekali." Ujar Kris dingin.

Baekhyun memandangi namja yang berpaut beberapa tahun diatasnya dengan tatapan sendu. Ia tahu jika Kris berbicara seperti itu, maka ia sedang berusaha mengontrol emosinya. Tidak bisa di pungkiri, Bakhyun juga memiliki andil terhadap masalah Kyungsoo alami saat ini.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun berdering menampilkan sebuah pesan singkat dari Kai. Baekhyun segera berlari mendekati Kris yang tengah melamun menghadap jendela. Menyodorkan ponselnya kearah Kris yang langsung di sambar olehnya.

"Dimana ini?" Tanya Kris. Jujur ia benar-benar tidak mengetahui dimana gudang yang Tao maksud. Baekhyun terdiam mengingat-ngingat dimana gudang itu berada.

"Ah, aku ingat Hyung. Memang ada sebuah gudang penyimpanan yang sudah tidak terpakai lagi di daerah situ."

"Kalau begitu kajja! Kita harus cepat sebelum hal buruk terjadi pada mereka!" Kris langsung menyeret Baekhyun meninggalkan apartemennya.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Kai terus memacu mobilnya dengan lambat. Sungguh jika bukan karena mengkhawatirkan Tao dan namja yang err… spesial –mungkin–

Ah, membayangkannya saja sudah membuat pipi Kai memerah. Tunggu! Bukankah dia seorang namja? Mengapa tingkahnya mendadak jadi seperti ini? Kemana Kai yang cool? Sang Kingka sekolah bisa blushing hanya karna seorang anak dibawah umur seperti Kyungsoo. Ayolah, bukankah cinta itu tidak mengenal usia? Lagi pula Kai bukan seorang Ahjussi mesum yang akan menjadikan bocah berumur 5 tahun sebagai pacarnya. Ia masih mempunyai otak.

Kai tiba-tiba menghentikan mobilnya tepat disebuat bangunan yang terlihat seperti gudang tua yang sudah lama tidak dipakai, tapi mengapa ada beberapa mobil yang terparkir rapi didalam? Namja tan itu berpikir sebentar. Gudang dan mobil?

"Ah! Mungkin gudang ini yang dimaksud oleh Tao!" tanpa pikir panjang lagi Kai segera berlari menuju gudang.

Kai mendobrak pintu utama, langkahnya terhenti melihat pemandangan mengerikan yang tersuguh di hadapannya. Matanya membulat sempurna.

"HENTIKAN!" teriak Kai lantang.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Tubuh kurus itu kembali terlempar. Tao berusaha meraup udara sebanyak yang ia bisa dengan susah payah, tidak peduli jika luka yang ada di sudut bibirnya semakin parah. Bau anyir darah yang menguar mendesak indra penciumannya membuat perut Tao mual. Jangan ditanya lagi bagaimana kondisi Tao saat ini.

Yixing kembali menghampiri Tao yang belum bisa atau bahkan tidak sanggup lagi berdiri, tubuhnya terlalu lelah meski hanya melakukan gerakan sesederhana itu. Yixing kembali menendang perut Tao, membuat darah segar kembali keluar dari mulut Tao. Namun Tao masih sedikit beruntung bisa menghindari tendangan Yixing yang mengenai kepalanya. Meskipun pandangannya kian mengabur, namun Tao masih bisa melihat bahu Yixing yang bergerak naik turun. Tao yakin Yixing juga merasa kelelahan. Lihat saja kondisinya yang tidak jauh berbeda dengan Tao.

Dengan wajah tidak berdosanya Yixing duduk diatas perut Tao. Ia menyerigai saat mendengar satu ringisan lolos dari bibir kucing Tao. Kemudian Yiking mendekatkan bibirnya ke cuping Tao dan berbisik.

"Sekarang kau lihat teman bodohmu itu! Dia bahkan tidak bergerak sama sekali, aku sempat berfikir jika ia sudah mati. Namun ternyata dia hanya pingsan." Ucap Yixing dengan nada yang dibuat sedih.

Tao tidak menggubris perkataan Yixing. Namun ekor matanya melirik kearah Kyungsoo. Dan benar saja. Kepala Kyungsoo yang menunduk menandakan bahwa pemuda itu memang telah kehilangan kesadarannya. Yang membuat hati Tao mencelos sakit adalah darah segar yang terus mengalir dari hidung Kyungsoo.

"Apa yang kau lakukan padanya?" desis Tao tajam. Yixing terkekeh mendengar pertanyaan Tao barusan.

"Ck. Aku baru tau jika orang sekarat masih bisa memberikan tatapan membunuh sepertimu!" ucap Yixing sambil menepuk-nepuk pipi Tao. Tao hendak menepisnya, namun pergerakan lambat itu terbaca mudah oleh Yixing. Terbukti dengan Yixing yang langsung mengayunkan kedua kakinya keatas tangan Tao. Menginjaknya hingga menimbulkan suara gemeretak, mengunci pergerakan Tao. Entah tulang bagian mana lagi yang patah, karena Tao merasa seluruh badannya terasa ngilu.

"Aku hanya menyuntikkan obat perangsang dengan dosis yang ya… agak tinggi menurutku." Yixing memasang wajah berfikir. "Tadinya aku hanya ingin melihat wajah tersiksanya. Tapi, dia malah tertidur. Tak apa lah, yang penting aku masih bisa mencicipinya." Yixing beranjak meninggalkan Tao dan berjalan mendekati Kyungsoo yang sudah tak sadarkan diri.

"Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya!" ucap Tao lantang.

"Aku tidak takut diancam oleh orang sekarat sepertimu!" balas Yixing acuh.

Namja itu terus berjalan mendekati Kyungsoo. Yixing berjongkok guna menyamakan tingginya dengan Kyungsoo, sebelah tangannya mengangkat dagu Kyungsoo. Kemudian tangan yang satunya lagi merogoh sesuatu dalam saku celananya. Sebuah tisu. Membersihkan noda darah yang menurutnya mengganggu keindahan alami wajah Kyungsoo.

"Bukankah jika seperti ini kau terlihat lebih imut Kyung? Ah, wajah tidurmu benar-benar seperti seorang bayi, polos. Sebenarnya berapa usiamu saat ini?" monolog Yixing.

Jemari lentiknya menyusuri tiap jengkal wajah Kyungsoo. Saat jemarinya sampai di bibir plum Kyungsoo, Yixing terdiam sebentar. Perlahan tapi pasti, Yixing mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyungsoo. Namun—

"HENTIKAN!" seseorang berteriak lantang dibelakangnya. Membuat namja berdimple itu menolehkan kepalanya ke belakang.

Dapat ia lihat dengan jelas sososk namja berkulit tan yang kini tengah memandangnya dengan tatapan membunuh. Yixing hanya menatap namja tan itu dengan tatapan datar, kemudian kembali memunggungi Kai untuk melanjutkan niatnya yang tertunda. Merasa diabaikan Kai berjalan tergesa menghampiri namja asing yang kini akan mencium Kyungsoo.

BUGHH

Kai melayangkan pukulannya ke wajah Yixing. Membuat tubuh namja berdimple itu terlempar ke belakang. Kai yang sudah diselimuti emosi menghajanr Yixing dengan membabibuta. Tak mengindahkan teriakan lemah Tao yang menyuruhnya untuk berhenti. Memaksa Tao untuk berdiri dan menghampiri Kai. Mengabaikan rasa sakit yang menganiaya tubuhnya saat ini.

"Kai, jangan kotori tanganmu hanya untuk menghajar orang gila seperti dia. Sebaiknya kau cepat bawa Kyungsoo ke rumah sakit! Aku takut terjadi sesuatu dengannya!" ucap Tao sambil menyentuh pundak Kai.

Kai menatap Tao sejenak. Ia benar-benar heran dengan sikap Tao. Lihatlah Tao, kondisinya juga tidak kalah mengerikan. Tapi mengapa namja panda ini lebih memikirkan keadaan orang lain dari pada dirinya sendiri?

"Lalu bagaimana dengan bajingan satu ini Tao?" geram Kai.

"Biarkan aku yang mengurusnya, sekarang cepat bawa Kyungsoo kerumah sakit." Tao terus berusaha memaksa Kai untuk membawa Kyungsoo pergi dari tempat itu.

"T-tapi bagaimana denganmu?"

"Aku masih punya urusan yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan menghubungimu jika urusanku sudah selesai." Jelas Tao.

Kai menurut saja. Kai melepas semua ikatan yang mengurung Kyungsoo dan membawa namja manis itu keluar dari bangunan terkutuk itu.

"Bertahanlah Kyung, aku akan segera membawamu ke rumah sakit!" gumam Kai lemah.

Kai membaringkan Kyungsoo di jok belakang mobilnya. Kai merogoh saku celananya, mencari benda persegi panjang yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Mendial beberapa nomor, kemudian menempelkan benda itu ke telinganya.

"Yeobseo! Kau dimana? Mengapa lama sekali?" berondong Kai saat ia mendengar jawaban dari line disebrang sana.

"…"

"Cepatlah, aku juga harus menyelamatkan nyawa sepupuku!"

PIP

Kai memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Mata tajamnya menatap sosok yang kini tengah terbaring lemah di jok belakang mobilnya.

"Bersabarlah, Baekhyun akan segera datang dan membawamu ke rumah sakit. Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu. Karna nyawa sepupuku sedang terancam sekarang, aku tidak tau apa yang sedang terjadi padanya di dalam." ucap Kai sambil mengelus kepala Kyungsoo sayang.

Tak lama mobil yang di tumpangi Kris dan Baekhyun datang. Baekhyun segera berlari kearah mobil Kai disusul oleh Kris di belakangnya.

"Kai, dimana Kyungsoo? Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Baekhyun bertubi-tubi.

"Kau bisa membawa mobil, kan? Jika ya, tolong bawa Kyungsoo kerumah sakit! Aku harus kembali ke dalam untuk menolong Tao!" tanpa mendengar persetujuan dari Baekhyun, Kai sudah melesat pergi kembali kedalam gudang setelah sebelumnya menyerahkan kunci mobilnya pada Baekhyun.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Langkah Kai dan Kris terhenti di depan pintu utama. Tubuh keduanya menengang saat mendapati seseorang yang tergeletak diatas lantai kotor dengan posisi terlentang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, sebilah pisau menancap diperut bagian kanannya. Kai tidak menyangka jika hal ini akan terjadi, bukankah dia meninggalkan Tao beberapa menit yang lalu? Lalu mengapa keadaan Tao jadi seperti ini? Manusia macam apa dia? Batin Kai terus berperang melihat kondisi sang sepupu yang jauh dari kata baik.

Kris segera berlari menghampiri sosok itu, matanya menghangat melihat kondisi sosok tersebut yang ternyata adalah namjachingunya yang seperti ini.

"Baby Tao…" bisik Kris. Tangannya mengusap wajah tao yang dipenuhi luka lebam dan darah segar dengan sayang.

"…" tidak ada respon dari Tao. Namja panda itu tetap tidak bergeming.

Kris segera menggendong tubuh Tao ala Bridal dan berlari ke luar gudang itu tergesa, diikuti Kai dari belakang.

"Kau yang menyetir. Kita harus cepat sebelum Tao kehilangan lebih banyak darah."

Ingin sekali rasanya Kai memprotes perkataan Kris yang memberi perintah seenaknya. Namun mengingat kondisi Tao yang saat ini, entah masih bisa bertahan atau tidak, membuat Kai menurut saja.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit Kris tidak henti-hentinya membisikkan kata penyemangat untuk Tao, berharap namja panda itu mendengarnya.

Setelah sampai dirumah sakit, Kai segera memanggil suster untuk segera menangani Tao. Beberapa suster berlarian sambil membawa peralatan medis yang biasa mereka gunakan untuk pertolongan pertama.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Kai duduk seorang diri didepan ruang ICU dengan gelisah. Ya, seorang diri. karena setelah Tao masuk ke ruang ICU, Kris pergi entah kemana. Sudah satu jam lebih dokter yang menangani Tao belum juga keluar, membuat hati namja tan itu banar-banar tidak tenang.

"Ya Tuhan, selamatkanlah Tao."

Tak lama kemudian dokter yang menangani Tao keluar bersama beberapa suster.

"Dokter Jung, bagaimana keadaan Tao?" Tanya Kai.

"Pasien masih dalam masa kritis. Luka yang dialami pasien cukup parah. Selain kehilangan banyak darah, pasien juga mengalami patah tulang di beberapa bagian. Dan kita hanya bisa menunggu datangnya sebuah keajaiban, karena kemungkinan pasien siuman sangat kecil." Jelas Dokter Jung.

DEG

Jantung Kai seolah berhenti bekerja. Kritis? Tao tidak mungkin selemah itu. Kai tau jika tao merupakan namja yang kuat, mana mungkin ia bisa sampai seperti ini?

"Tuan Kim? Apa anda baik-baik saja?" Tanya Dokter Jung sambil melambai-lambaikan tangan didepan wajah Kai.

"A-ah, Nae. Bolehkan saya menjenguk Tao?"

"Tentu saja. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Jung menepuk pundak Kai sebelum pergi meninggalkannya.

Kai membuka pintu ruangan Tao perlahan, kemudian menutupnya kembali sehalus mungkin. Kai memandang Tao dengan tatapan sendu. Ayolah siapa yang tidak sedih melihat saudaramu dalam kondisi seperti itu? Selang oksigen, alat pendeteksi jantung, infus yang menancap di kedua tangan. Berbagai peralatan medis yang lain tertempel dimana-mana demi mempertahankan sebuah nyawa yang bisa lepas kapan saja. Tidak hanya itu, berbagai balutan perban dan gips terpasang di tangan dan kaki Tao. Bukankah itu menyakitkan?

"Tao-ie, kumohon buka matamu! Aku berjanji tidak akan merepotkanmu lagi!" ucap Kai. Setetes bulir bening turun membentuk sungai kecil di wajah tampannya.

Meskipun Tao cerewet dan sering kali membuat Kai sebal, namun jauh di lubuk hatinya ia begitu menyayangi namja panda yang hampir tiga tahun tinggal satu atap dengannya.

"Tao-ie, kumohon buka matamu. Aku datang untuk membawamu pualng ke rumah, bukan tempat mengerikan ini. Jeball~~~"

Kai mulai terisak di samping Tao, menumpahkan segala pennyesalan yang menyeruak begitu saja. Ini salahnya. Jika saja mulutnya tidak keceplosan pada Kyungsoo waktu itu, mungkin Kyungsoo tidak akan bersikeras untuk meminta pulang bersama Tao. Seharusnya dia ikut menunggu Tao dan pulang bersama, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Sementara diruangan lain, Baekhyun juga tengah menatap Kyungsoo dengan pandangan sendu. Ia teringat kata-kata dokter. Dokter mengatakan bahwa keadaan Kyungsoo semakin memburuk, ditambah dengan masuknya cairan asing yang ditolek oleh tubuh Kyungsoo yang semakin memperburuk keadaan.

Chanyeol yang berada disamping Baekhyun berusaha untuk menenangkan namjachingunya. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti dengan perasaan Baekhyun saat ini. sikap keras kepala Kyungsoo membawa dampak yang sangat besar terhadap orang-orang yang menyayanginya.

Ingin sekali Chanyeol menyeret Kyungsoo sekarang juga ke ruang kemoteraphi untuk menjalani pengobatan, namun rasanya itu semua tidak mungkin. Mengingat berbagai cobaan yang di alami namja manis itu.

Chanyeol mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok Kris yang sedari tadi tidak terlihat. Apa mungkin ia sedang berada di ruangan Tao? Menjenguk pandanya yang kata Baekhyun juga dirawat disini?

"Baekkie, dimana Kris Hyung?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol, menatap pemuda yang berstatus namjachingunya itu dengan tatapan sendu. Kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol, memenandakan bahwa ia juga tidak tahu.

"Kau jangan seperti ini terus Baek. Jika kau seperti ini terus, Kyungsoo juga akan sedih. Yakinlah Kyungsoo anak yang kuat." Ucap Chenyeol lembut. Tangannya bergerak mengusap punggung sempit Baekhyun yang kini sedang membelakanginya.

"Hikss… wae? Mengapa harus hiks… harus Kyungsoo yang menderita? Dia masih terlalu kecil, masa depannya masih panjang. Tapi mengapa hiks… mengapasepertinya Tuhan senang sekali mempermainkan Kyungsoo?" isak Baekhyun.

"Sssttt… Jangan berbicara seperti itu Baek. Tuhan menyayangi Kyungsoo, sangant menyayangi Kyungsoo. Jika Tuhan tidak menyayangi Kyungsoo, mungkin sekarang dia akan terbaring disini sendiri. Tidak aka nada orang yang peduli padanya. Tapi lihat. Kyungsoo masih memilikimu dan Kris yang sangat menyanyanginya, Hyung Kyungsoo yang kau bilang berada di Eropa juga sering menanyakan kabarnya padamu bukan? Ditambah dengan kasih sayang Tao padanya." Jelas Chanyeol panjang lebar.

"Kau benar Yeollie. T-tapi—

"Sstt… kau tidak perlu memikirkan apapun, yang terenting saat ini adalah bagaimana cara kita membahagiakan dan meyakinkan Kyungsoo untuk kembali menjalani pengobatanya. Nae?" Chanyeol mengusap lelehan di kedua pipi mulus Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang Chanyeol berikan. Berusaha menjernihkan pikirannya dari hal-hal buruk yang menggelayuti pikirannya. Mencoba menata kembali rencananya untuk membahagiakan Kyungsoo. ya, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

"Aku akan menjenguk Tao sebentar. Kau tunggu disini nae." Ucap Chanyeol.

Manja tiang itu hendak berbalik dan meninggalkan Baekhyun, namun tangan mungil Baekhyun yang tiba-tiba saja mencengkram jaket Chanyeol membuat langkah Chanyeol terhenti.

"Wae?" Tanya Chanyeol lembut.

"Eng… menurutmu apa sebaiknya aku membari tahu keadaan Kyungsoo pada Hyungnya?" pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol menyerit bingung.

"Maksudmu?"

"Sebenarnya Kyungsoo selalu melarangku dan Kris untuk mengatakan kondisi yang sebenarnya pada Hyungnya. Yang dia tau kondisi Kyungsoo baik-baik saja. Aku ingin dia yang meyakinkan Kyungsoo." Lirih Baekhyun, namun masih bisa di tangkap dengan jelas oleh Chanyeol.

"Jika hanya itu yang satu-satunya jalan bisa membantu Kyungsoo untuk sembuh, lakukan saja. Aku akan selalu mendukungmu." Seulas senyum tulus menghiasi wajah tampan Chanyeol.

"Kalau begitu, aku pergi dulu untuk menjenguk Tao. Jika kau ingin menjenguknya juga kita bisa gentian persi ke sana."

Tawaran Chanyeol hanya dijawab dengan anggukkan oleh Baekhyun.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Kris baru saja keluar dari ruang administrasi. Namja itu baru saja selesai melunasi semua biaya yang dibutuhkan oleh Kyungsoo dan Tao. Kris menyandarkan bahunya ke dinding rumah sakit, memejamkan kedua mata tajamnya sembari meghela nafas panjang. Kepalanya terasa pusing. Memang tidak terjadi apapun dengan Kyungsoo, tapi tidak dengan Tao.

Kris melangkahkan kakinya menuju ruang dokter yang menangani Tao. Ia ingin mengetahui keadaan Tao saat ini. Jujur, Kris benar-benar merasa bersalah pada Tao. Kris tidak pernah menyangka jika Tao sangat menyayangi Kyungsoo. Bahkan sampai seperti ini.

Kris kini sudah berada di ruang Dokter Jung. Dokter Jung yang sedang memunggunginya berjalan mendekati Kris. Kemudian menyodorkan sebuah map catatan kesehatan.

"Saya tidak yakin Tao bisa bertahan, luka yang dialaminya cukup serius. Meskipun tidak terjadi sesuatu pada kepalanya, namun Tao mengalami beberapa patah tulang. Luka tusuk yang ada di perutnya juga cukup dalam, dan hampir mengoyak lambungnya. Untungnya hal itu tidak sampai terjadi." Jelas Dokter Jung.

"Tapi Tao anak yang kuat Dok, saya yakin dia akan kembali siuman. Lakukan yang terbaik agar Tao bisa kembali seprti sedia kala, biar saya yang akan membayar berapapun biayanya." Lirih Kris. Kris cukup terpukul dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Anda tidak perlu mengatakan hal seperti itu Tuan, itu sudah kewajiban kami. Maaf, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya tangani." Kris hanya menganggukkan kepalanya. Dokter Jung menepuk bahu Kris lembut, berusaha memberi Kris semangat.

Setelah Dokter Jung menutup pintu ruangannya, Kris berdiri dari duduknya. Menyeret tubuhnya yang terasa lemas seperti tak memiliki tulang. Ini salahnya, jika saja ia tidak terlalu bersikap keras pada Tao saat bersama Kyungsoo, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kris terlalu protektif terhadap Kyungsoo, saat dongsaengnya kecilnya berada di samping Tao.

.

.

^^^^vvvv^^^

.

.

Setelah berpamitan pada Tao, Kai berjalan menuju ruang rawat Kyungsoo. Namja tan itu ingin mengetahui perkembangan Kyungsoo,, apakan namja berdoe eyes itu baik-baik saja atau tidak.

CKLEKK

Kai bisa melihat kamar Kyungsoo yang kosong. Tidak ada siapapun yang menemani Kyungsoo. Kai menyeret sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Kyungsoo. Ia menatap Kyungsoo yang masih terlelap, matanya yang bulat terlihat menyembul dari kelopak matanya yang terpejam. Manis. Pikir Kai.

"Mianhae Kyung~~" lirih Kai. Tangannya merapikan anak poni yang menghalangi mata Kyungsoo.

"Nghh…" lenguhan kecil yang berasal dari bibir plum Kyungsoo membuat Kai segera menarik tangannya yang sedang merapikan poni Kyungsoo.

"Kai? Sedang apa kau disini?" Tanya Kyungsoo dengan suara serak. Kai menggaruk tenggkuknya kaku.

"A-aku, aku hanya ingin melihat kondisimu Kyung." ucap Kai sambil tersenyum kaku.

~TBC~

.

.

Heheh… Rei naroh TBC disaat yang tidak tepat #duakk…

Rei mau minta maaf nih buat keleletan Rei update ni ff *bow

Sebenernya rei mau update dari minggu kemaren, tapi karena ada something yang bikin mood Rei rusak buat ngelanjutin ff ini. Rei tau ff ini jelek, banyak banget kekurangannya. Rei masih belajar buat bikin ff yang bagus.

Oh ya, buat yang nanya siapa sebenernya Hyung Kyungsoo, akan terjawab di chapter berikutnya. Dan buat yang minta Kaisoo bareng Rei ga janji.. heheh #digantung Kai ama Kyung# iya, deh Rei bakal satuin, ampun…

Nah untuk reader tercinta yang udah ripiu, Rei ngucapin banyak terimakasih*bow.

Ah, Rei ampe lupa sebagai penebus kesalahan Rei yang lelet update ni fanfic, Rei buka request buat siapa aja yang mau lewat PM. Alur ama tokohnya sesuai pesanan#dikira mesen makan#

Ripiunya masih Rei tunggu… ^^V