Annyeong~~

Rei datang lagi membawa ff abal milik Rei. Rei kemaren lupa bilang kalo Kyungie lebih muda dari Kai dan Tao, magnae lah ceritanya. Hehe~~ fic ini terisnpirasi dari lagunya yang'Beautiful Day'lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-

Ok, sekian cuap-cuap dari saya. Cha~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3

.

.

Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~

.

.

Dislike, don't read! Simple?! Okk…

.

"Kai? Sedang apa kau disini?" Tanya Kyungsoo dengan suara serak. Kai menggaruk tenggkuknya kaku.

"A-aku, aku hanya ingin melihat kondisimu Kyung." ucap Kai sambil tersenyum kaku.

^^^^vvvv^^^^

Chap 7

^^^^vvvv^^^^

Suasana canggung yang menyelimuti ruangan serba putih itu begitu terasa, namja bermata bulat yang masih terbaring diatas ranjang menatap kaku namja tan yang masih berdiri di dekat pintu.

"Masuk saja Kai, disini tidak ada siapapun selain aku." Setelah beberapa menit saling diam, akhirnya namja bermata bulat itu bersuara.

"N-nae." Kai melangkah ragu mendekati ranjang Kyungsoo.

"B-bagaimana keadaanmu Kyung?" Tanya Kai saat ia sudah duduk di samping Kyungsoo.

"Aku sudah merasa lebih baik Kai." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu."

Kedua namja berbeda usia itu kembali terdiam, mereka sama-sama bingung. Aneh memang, jika orang yang sebelumnya jarang berkomunikasi denganmu kini tiba-tiba ada di depanmu, dalam kondisi yang berbeda pula. Dan itulah yang di rasakan Kai sekarang, namja tan itu benar-benar bingung harus berbicara apa lagi. Walaupun kemarin dia sempat berbicara dengan Kyungsoo lewat telpon, namun saat berhadapan langsung dengannya Kai tetap saja merasa canggung.

"Keadaan Tao bagaimana?" suara Kyungsoo kembali terdengar, memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti mereka.

Kai tersenyum pahit mendengar Kyungsoo menanyakan keadaan sepupunya saat ini. Tapi Kai tidak mungkin mengatakan keadaan Tao yang sebenarnya pada Kyungsoo, ia tidak ingin namja bermata bulat itu khawatir dengan keadaan Tao saat ini. Terlebih namja tan itu tau jika kondisi Kyungsoo yang belum bisa di katakan baik.

"Tao baik-baik saja Kyung." Kai memaksakan sebuah senyum untuk Kyungsoo, berusaha menyakinkan namja bermata bulat itu bahwa apa yang dikatakannya benar.

"Jinja? Tapi saat digudang tadi aku melihat keadaan Tao yang tidak bisa di katakan baik-baik saja Kai, tubuhnya dipenuhi luka." Sangkal Kyungsoo.

"Dia baik-baik saja Kyung, kau tak perlu mengkhawatirkannya. Lebih baik sekarang kau pikirkan keadaanmu." Nasehat Kai.

"Aku baik-baik saja Kai, kau bisa melihatnya sendiri kan?" Kyungsoo berusaha meyakinkan Kai bahwa ia baik-baik saja.

"Dari luar kau memang terlihat baik-baik saja Kyung. apa kau tidak ingat beberapa jam yang lalu saat darah terus keluar dari hidungmu?" Kai menatap tajam namja bermata bulat yang berada dihadapannya. Sungguh, Kai baru tahu jika Kyungsoo ternyata sangat keras kepala.

"Nae, aku tau Kai. Maaf." Lirih Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya.

Kyungsoo sedikit merasa menyesal menunjukkan sifat keras kepalanya di hadapan Kai. 'Dia bukan Baekhyun atau Kris Hyung yang akan selalu mengalah padamu Kyung!' batin Kyungsoo dalam hati.

"Mian, aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut Kyung. Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu saja, Kyung."

Entah mengapa Kai bisa berbicara seperti itu pada Kyungsoo. Seorang Kim Jongin yang terkenal dengan orang yang memiliki sifat dingin dan acuh, kini justru bersikap bergitu peduli pada seorang Do Kyungsoo, namja yang sering kali menjadi sasaran kemarahan Kim Jongin.

Kai menghela nafasnya sesaat, ia tidak tega melihat Kyungsoo terus menundukkan kepalanya seperti itu.

"Sebaiknya kau istirahat Kyung." Kai beranjak dari kursinya.

Namun sebelum sempat Kai melangkahkan kakinya, Kyungsoo sudah telebih dahulu menarik ujung baju Kai.

"Wae?" Tanya Kai heran.

"E-eng, temani aku disini," cicit Kyungsoo.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Baekhyun menangis dalam dekapan Chanyeol, namja pecinta eyeliner itu masih mencerna apa yang baru saja dia dengar dari mulut Kris. Ya, kini Baekhyun, Chanyeol dan Kris tengah berada di ruang rawat Tao. Chanyeol masih sibuk menenangkan Baekhyun yang terus menangis, sesekali ia melirik Kris yang menggenggam erat tangan Tao.

"Baekkie, tenang nae. Kita berdoa saja semoga Tao cepat sadar. Sttt… uljima." Bisik Chanyeol. Tangannya masih mengelus punggung sempit Baekhyun, berusaha menenangkan namja yang kini berada di dekapannya.

"Hyung, sebaiknya kau ke ruang rawat Kyungsoo dulu. Aku takut dia mencarimu Hyung." Ucap Chanyeol pada Kris.

"Lalu siapa yang akan menjaganya?" lirih Kris.

Chanyeol menghela nafas panjang. Kepalanya benar-benar pusing. Baekhyun yang tidak mau berhenti menangis. Kyungsoo yang tetap keras kepala. Dan sekarang kondisi Tao yang entah kapan ia akan bangun. Sungguh, Chanyeol tidak pernah berfikir terjebak di dalam masalah rumit ini. Masalahnya dengan Kai saja belum selesai, kini masalah datang lagi masalah yang lain.

"Baek, apa Tao memiliki musuh disekolah?" Tanya Kris pada Baekhyun, namun pandangannya tetap tertuju pada wajah tao yang masih tertidur.

"Aku tidak tau Hyung. Aku tidak dekat dengannya, kau tanyakan saja pada Kai." Jawab Baekhyun. Ia berusaha menahan isakannya saat berbicara, karena ia tau Kris akan membentaknya jika Kris mendengar hal yang tidak perlu didengarnya.

"Baiklah, aku akan mencari namja tan itu. Kalian jaga Tao, jika terjadi apa-apa segera hubungi aku."

Kris beranjak dari duduknya. Namja yang mendapat julukan naga itu berjalan dengan aga tergesa ke ruangan Kyungsoo. Ya, tadi Chanyeol bilang dia melihat Kai berada di ruang rawat Kyungsoo.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

CLEKK

Kai menoleh kearah pintu, ia mendengus sebal saat tau siapa orang yang mengganggu kegiatannya. Kai kembali memokuskan perhatiannya pada komik yang sedang ia baca. Sedangkan Kyungsoo, namja bermata bulat itu kini tengah tertidur setelah meminum obat beberapa saat yang lalu.

Sedangkan seorang namja yang baru saja masuk keruangan itu berjalan mendekati Kai yang sedang duduk di sofa yang berada di sebrang ranjang Kyungsoo.

"Ada yang ingin aku tanyakan padamu Kim Jongin!" ucapnya dingin.

Kai mencengkram erat komik yang dibacanya, ia tidak suka orang lain menyebut nama lahirnya. Bahkan Tao saja jarang memanggil Kai dengan nama lahirnya, kecuali jika dalam keadaan tertentu.

"Apa?" Tanya Kai cuek. Namja tan itu benar-benar merasa malas jika harus berbicara pada namja yang berstatus sebagai namjachingu sepupunya itu.

"Apa Tao memiliki musuh di sekolah?" tanya Kris to the point.

"Aku tidak tau, tapi kalau tidak salah yang menyerang Tao kemarin adalah Yixing Sunbae."

Kris mengerutkan alisnya saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kai.

"Yixing? Zhang Yixing?" Tanya Kris memastikan.

"Ya, memangnya Yixing yang mana lagi jika bukan dia?" dengus Kai sebal.

"Apa alsan Yixing melakukan ini pada Tao?"

"Seharusnya aku bertanya seperti itu padamu, bukan kau. Sudahlah aku harus menemani sepupuku lagi. Annyeong!"

Kai melangkahkan kakinya lebar-lebar saat keluar dari ruang rawat Kyungso, ia bisa lepas kendali jika terus berada di ruangan itu. Bersama Kris beberapa menit saja sudah membuat emosinya naik, apa lagi jika lebih lama? Bisa bayangkan sendiri apa yang akan terjadi?

Kai melihat Baekhyun dan Chanyeol sedang berada di ruang rawat Tao. Namja tan itu bisa melihat dengan jelas Baekhyun yang berada dipelukan Chanyeol, dan tangan Chanyeol yang mengelus punggung Baekhyun. Kai tersenyum miris. Bagaimanapun dia masih mencintai Baekhyun, tentu saja ia merasa iri pada Chanyeol yang kini tengah mendekap erat tubuh mungil Baekhyun. Dan juga pengkhianatan Chanyeol yang -menurutnya – tidak akan pernah bisa dia maafkan.

Setelah menghembuskan nafas sesak, Kai memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Setelah pintu terbuka, Kai bisa melihat dengan jelas Chanyeol yang sedang berusaha menenangkan Baekhyun. Hatinya sedikit berdenyut ngilu melihat pemandangan yang seharusnya tidak pernah ia lihat itu. Kai berusaha untuk tetap memasang wajah dinginnya, dia tidak mungkin membentak apalagi menghajar Chanyeol disini. Bisa-bisa dia yang akan di tendang keluar oleh petugas keamanan rumah sakit karena membuat keributan.

"Kalian boleh meniggalkan ruangan ini, aku sudah kembali dan aku yang akan menjaga Tao disini." ucap Kai dengan nada sedingin mungkin.

Kedua namja itu menoleh kearah Kai yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Chanyeol melepaskan pelukannya. Sedangkan Baekhyun, namja pecinta eyeliner itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sembab karena terus menangis.

"Kalian pulanglah, aku tau kalian lelah." Setelah mengucapkan itu, Kai berjalan dan duduk di samping ranjang Tao tanpa sedikitpun menoleh kearah Baekhyun dan Chanyeol yang masih dalam posisis semula.

Tidak ada lagi yang bersuara, semuanya tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing. Yang terdengar hanya suara alat pendeteksi jantung yang berada di samping kepala Tao.

"Heh panda, kapan kau akan bangun? Aku merindukan omelanmu!" lirih Kai sendu.

Namja tan itu tidak lagi mempedulikan dua namja lain masih berdiri disana. Namja tan itu merasa begitu merindukan Tao. Tidak. Kai tidak pernah membayangkan jika Tao akan seperti ini, walaupun dia seringkali mengatakan jika lebih baik Tao pulang saja ke China atau Kris yang mengajak Tao untuk tinggal bersamanya saat Kai sedang marah pada Tao. Tapi Kai tidak sungguh-sungguh mengatakan semua itu. Tao yang biasanya akan mengomel jika Kai mengotori rumah atau pulang terlambat, kini sedang terbaring dengan berbagai kabel dan selang yang menempel di tubuhnya.

"Baek, sebaiknya kita keluar. Disini sudah ada Kai yang menjaga Tao."

Chanyeol menarik tangan Baekhyun keluar setelah sebelumnya berpamitan pada Kai, walaupun Kai sama sekali tidak menggubrisnya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Setelah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, namja bermata bulat yang bername tag Do Kyungsoo sedang berdiri di depan lokernya. Tangan mungilnya sibuk mebereskan beberapa buku yang berantakan didalam sana. Doe eyesnya terkadang melebar saat ia menemukan beberapa sampah yang terselip diantara tumpukan buku miliknya.

"Mengapa lokerku dipenuhi sampah seperti ini?" omel Kyungsoo entah pada siapa.

Setelah selesai membereskan loker dan mengambil beberapa buku yang ia perlukan, Kyungsoo segera menutup pintu lokernya dan pergi menuju kelasnya. Kalian bertanya apa Kyungsoo lupa mengunci lokernya? Tentu saja tidak, namja bermata bulat itu tidak pernah mengunci lokernya. Ayolah, isi loker Kyungsoo tidak ada yang menarik. Didalam sana hanya berisi barang-barang yang biasa digunakan oleh seorang pelajar, selebihnya berisi berbagai macam buku yang ya, pasti akan sangat bosan jika melihatnya.

"Mengapa kau sudah masuk sekolah Kyungie? Apa kau sudah merasa benar-benar sehat?" Tanya Baekhyun saat Kyungsoo berpapasan dengannya.

"Nae Hyung, lagi pula aku bosan jika aku harus diam terus di rumah. Lagi pula aku tidak ingin tertinggal pelajaran terlalu banyak Hyung, kan sebentar lagi ujian." Jelas Kyungsoo panjang lebar disertai sebuah senyum yang menghiasi wajah manisnya.

"Tapi kau jangan terlalu memaksakan Kyungie, jika badanmu mulai terasa tidak enak segera telpon aku nae!" gurat kecemasan terlihat jelas di wajah Baekhyun.

Bagaimanapun kondisi Kyungsoo tidak bisa di katakan baik, keadaannya bisa saja drop tiba-tiba. Lihat saja keadaannya saat ini. Kulit putih susu Kyungsoo kini terlihat begitu pucat, pipi chubbynya kini terlihat lebih tirus. Ah, dan jangan lupakan juga lingkaran hitam samar yang terdapat dibawah mata bulatnya.

"Nae Hyung, aku akan menuruti nasehatmu." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum manis. "Kalai begitu aku ke kelas dulu nae, bye Hyung."

Kyungsoo segera melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang berada tak jauh dari kelas Baekhyun.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Suasana di perpustakaan saat ini begitu tenang, entah mengapa tidak banyak siswa yang berkunjung ke sana. Tapi hal itu sepetinya tidak berpengaruh pada seorang namja yang tengah duduk di pojok perpustakaan, mata bulat yang berbingkai kacamata tebal itu bergerak lincah mengikuti deretan huruf yang tertulis rapi pada buku yang ia baca. Tangan mungilnya mencatat beberapa kalimat yang menurutnya penting sambil sesekali membenarkan letak kacamatamya.

Jam istiraha kali ini dia gunakan untuk mencatat beberapa materi yang tertinggal, Kyungsoo tidak bisa lagi membuang waktunya dan bersantai seperti dulu. Katakanlah dia pesimis, tapi memang itulah kenyataannya, kenyataan yang takkan pernah bisa diubah dengan cara apapun.

"Hah, untung saja materinya tidak terlalu sulit." Gumam Kyungsoo.

Lima menit lagi bel masuk akan segera berbunyi, Kyungsoo membereskan kembali buku-bukunya dan berjalan menuju meja Yoona sang penjaga perpustakaan.

"Annyeong Noona, saya ingin meminjam buku ini." Kyungsoo menyodorkan beberapa buku pelajaran yang akan dia pinjam.

"Ku dengar kau kemarin masuk rumah sakit, apa itu benar?" Tanya Yoona.

Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Yoona sudah terbiasa, bahkan terlalu terbiasa mendapatkan jawaban seperti itu dari Kyungsoo. Kyungsoo memang jarang bicara, dan Yoona bisa memakluminya.

"Apa kau sendirian?" Tanya yeoja itu lagi. Dan Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Yoona menghela nafas panjang, rasanya percuma saja mengajak Kyungsoo berkomunikasi. Namja mungil itu terlalu tertutup.

"Cha~ ini bukumu. Kembalikan tepat waktu nae." Yoona menyerahkan buku itu pada Kyungsoo.

Kyungsoo hanya tersenyum sebagai jawabannya. Sungguh, sebenarnya ia merasa bersalah saat melihat raut kecewa Yoona. Tapi mau bagaimana lagi, bukan kebiasaan Kyungsoo berbicara terlalu banyak pada orang asing.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Hari sudah semakin sore, namun Kyungsoo masih betah berkutat dengan beberapa buku yang kini ada di hadapannya. Namja itu masih sibuk mencatat materi pelajaran yang belum ia selesaikan tadi. Kepalanya sesekali menoleh kearah jendela kelas untuk mengistirahatkan matanya sejenak. Dari atas sini, Kyungsoo bisa melihat beberapa orang yang kini sedang bermain sepak bola di lapangan.

"Mungkin mereka anak-anak Club sepak bola." Gumam Kyungsoo.

Sebenarnya Kyungsoo bisa saja mengerjakan semuanya dirumah, namun ia merasa lebih focus jika mengerjakannya di sekolah. Kyungsoo kembali meneruskan pekerjaannya, tangannya sesekali membenarkan posisi kacamata yang bertengger dihidungnya, mencari posisi yang pas agar tidak menghalangi penglihatannya.

"Lebih baik aku mencari lensa saja, kacamata seperti ini benar-benar merepotkan." Gerutu Kyungsoo.

Semua pekerjaan Kyungsoo hari ini hampir selesai, akhirnya dia memutuskan untuk menyelesaikan semuanya di rumah. Langit sudah semakin gelap. Sepertinya akan turun hujan. Batin Kyungsoo. Setelah selesai memasukkan buku-bukunya, Kyungsoo melangkahkan kakinya lebar-lebar meninggalkan kelas yang sudah sepi sejak beberapa jam yang lalu.

Kyungsoo menghentikan langkahnya saat melewati kelas Tao, tatapan matanya berubah sendu. Masih jelas dalam ingatannya saat Tao berusaha untuk melindunginya dari orang asing yang -entahlah Kyungsoo sendiri tidak tau. Juga ucapan namja yang bernama Yixing -jika ia tidak salah- pada Tao sebelum ia kehilangan kesadarannya.

'Kris? Pekan Nasional? Atlit wushu? Apa maksud semua itu? Lantas mengapa namja itu terlihat begitu membenci Tao?' Berbagai pertanyaan berkecamuk didalam benak Kyungsoo. Apa ini ada hubungannya dengan Kris? Atau mungkin namja itu adalah musuh Kai? Eng… berbicara mengenai Kai, seharian ini Kyungsoo tidak melihat Kai di sekolah. Mungkin namja tan itu sedang menunggui Tao dirumah sakit.

"Sepertinya besok aku harus menjenguk Tao, bagaimanapun semua ini terjadi karenaku." Lirih Kyungsoo.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kai memandangi wajah pucat Tao yang hingga detik ini belum menunjukkan kemajuan apapun. Keadaan inilah yang memaksa Kai membolos beberapa kali, namja tan itu tidak tega jika meninggalkan Tao terlalu lama sendiri. Orang tua Tao yang berada di China sudah mendengar kabar tentang anaknya tadi pagi, dan mungkin mereka akan sampai disini besok pagi.

"Heh panda, bagaimana jika nanti orang tuamu membawamu pulang ke China? Siapa yang akan menemaniku disini? Siapa yang akan mengomel padaku saat aku pulang nanti?" Tanya Kai. Terdengar egois memang, mengingat selama Tao bersamanya, Kai sama sekali tidak pernah mendengarkan nasehat-nasehat Tao.

"Maafkan aku panda, karena aku kau jadi seperti ini. Aku gagal panda." Lirih Kai.

Tangan Kai mengusap puncak kepala Tao yang sebagian tertutupi perban dengan lembut, sedingin apapun Kai, namja tan itu begitu menyayangi Tao. Bagi Kai, Tao adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya, menangani kenakalannya disekolah, dan hanya dihadapan Tao lah Kai menunjukkan sisi manjanya.

"Ku mohon padamu Tao, cepatlah sadar. Aku merindukanmu, merindukan omelanmu, merindukan ocehanmu, juga merindukan kau yang akan memukulku jika aku menggunakan kamar mandimu. Bukalah matamu Tao."

Cairan bening meluncur begitu saja dari mata tajam Kai, membuat garis seperti anak sungai di kedua pipinya. Ia merasa putus asa. Ini sudah hampir satu munggu, namun Tao sama sekali tidak menunjukkan kemajuan apapun. Bahkan tidak ada satupun alat yang menempel pada tubuh Tao yang berkurang, membuat Kai seperti kehilangan harapan.

"Kau harus membuka matamu sebelum orang tuamu datang Tao, aku tak ingin kau meninggalkanku disini sendiri."

CKLEK

Pintu ruangan Tao tiba-tiba saja terbuka. Kai menghapus kasar airmata diwajahnya kemudian menoleh kearah pintu. Mengetahui siapa orang itu, Kai berdecih kecil. Namja tan itu membalikkan kembali badannya memunggungi namja yang kini tengah berdiri di ambang pintu.

"Mau apa kau datang kesini?" Tanya Kai dingin.

Namja yang masih berada di ambang pintu itu pun menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kai.

"Bagaimana keadaan Tao? Apa dia sudah siuman?" alih-alih menjawab pertanyaan Kai, namja itu malah menanyakan keadaan Tao.

"Apa pedulimu Kris? Kau mengkhawatirkannya? Bukankah seharusnya kau merasa senang dengan keadaan Tao yang seperti ini? Kau tidak perlu lagi repot-repot memarahi Tao untuk menjauhi dongsaengmu itu!" cecar Kai.

"Apa maksudmu?" Tanya Kris bingung.

"Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi! Aku sudah tau semuanya. Aku sudah tau siapa itu Zhang Yixing dan apa alasannya melakukan ini semua pada Tao!"

"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan!"

"Ck! Berhentilah berpura-pura bodoh dihadapanku Kris. Kau tau pasti siapa itu Zhang Yixing, bukankah dia juga merupakan anggota Club bela diri bukan? Dan kabar yang ku dengar Yixing merupakan mantan kekasimu." Desis Kai tajam.

"Lalu apa hubungannya Tao dengan Yixing?" Kai mendengus sebal mendengar pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut Kris.

"Ck! Kau benar-benar bodoh rupanya!" decih Kai.

Kris yang tidak terima terus dikatai bodoh seperti itu oleh Kai, segera berjalan menghampirinya dan mencengkram erat kerah baju Kai.

"Berhenti berbasa-basi denganku bocah ingusan!" geram Kris.

Kai menepis kasar tangan Kris yang mencengkram kerah bajunya hingga lepas. Namja tan itu berusaha untuk tetap terlihat dingin dihadapan Kris yang kini mulai tersulut emosi. Tidak. Kai tidak boleh terpancing begitu saja, ini rumah sakit. Terlebih kini ia sedang berada diruang rawat Tao.

"Namja gila itulah yang melakukan ini semua pada Tao! Dan kau tau apa alasan namja yang terkenal dengan wajah polosnya itu melakukan semua ini pada Tao? KAU!" jelas Kai dengan menekan kata 'Kau'.

"Yixing tidak mungkin melakukan semua itu, aku lebih mengenalnya dari pada kau Kim!" balas Kris.

"Cih, kau bahkan membela orang yang jelas-jelas hampir membunuh Tao. Pacar macam apa kau?" Kai kembali berdecih mendengar ucapan Kris barusan. Sungguh, ia tidak habis fikir mengapa Kris bisa berbicara seperti itu.

"Sebaiknya kau pergi, kehadiranmu hanya akan memperburuk keadaan Tao!" usir Kai.

Kris mengepalkan tangannya kuat hingga ruas jari-jarinya memutih. Kai berkata seolah menantang dirinya.

"Sopanlah sedikit pada orang yang lebih tua darimu Kim!" ucap Kris sambil terus berusaha mengontrol emosinya yang bisa meledak kapan saja.

"Persetan dengan itu semua! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti sepupuku lagi. Termasuk kau!" ucap Kai sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Kris. Hei, Kim Jongin kau ini benar-benar tidak sopan!

Setelah beberapa detik saling melemparkan tatapan tajam, Kai segera berjalan kearah pintu keluar dan membuka pintu itu selebar mungkin.

"Kau boleh keluar Tuan Wu!" ucap Kai tanpa ekspresi.

Kris menatap sejenak sosok yang masih terbaring diatas kasur itu dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya. Hatinya berdenyut ngilu melihat keadaan Tao yang belum juga siuman. Detik berikutnya namja yang memiliki julukan naga itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Tao.

"Dan satu hal lagi yang perlu ku tegaskan padamu, jangan pernah dekati Tao lagi atau dongsaeng kesayanganmulah yang akan menerima akibatnya!" ucap Kai sebelum menutup pintu.

Kris sama sekali tidak peduli dengan ancaman Kai, bagi Kris ancaman seperti itu hanyalah angin lalu. Kris tidak peduli, sungguh. Berbeda dengan Kai yang kini tengah menyandarkan pundaknya pada pintu, tamja tan itu memang serius dengan perkataannya, namun ia masih ragu dengan kalimat terkhir yang keluar begitu saja dari mulutnya. Entahlah.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

CKLEK

Pintu kamar Tao kembali terbuka menampilkan sosok namja tinggi yang memiliki warna rambut hampir sama dengannya. Ditangannya sudah ada setangkai mawar putih dan sebuah boneka panda berukuran besar. Namja itu berjalan mendekati ranjang Tao dan mendudukkan pantatnya dikursi yang berada disamping ranjang Tao.

"Morning Peach." Sapa namja itu.

"…" tidak ada jawaban dari Tao, yang terdengar hanyalah suara dari alat pendeteksi jantung yang masih menempel pada tubuhnya.

"Hei, sepertinya gege harus mencari panggilan yang lain untukmu Baby. Bagaimana jika putri tidur?" monolog namja itu.

"Kau terlihat semakin kurus saja Baby. Apa kau merasa kenyang dengan hanya memakan cairan infus itu Baby? Apa kau tak ingin menemani gegemu yang tampan ini makan ramen di tempat favortimu?"

"Bangunlah Baby, apa kau tidak lelah terus tidur seperti itu? Apa kau begitu benci pada gege sehingga kau tak kunjung membuka matamu? Jangan hukum gege seperti ini, Tao. Gege mohon. Kau boleh memukul gege, menghajar gege, bahkan kau boleh membunuh gege asalkan kau membuka matamu!" racau namja itu.

Namja itu -Kris- segera menarik bonekan panda yang berada di belakangnya. Memaksakan sebuah senyum saat menunjukkan boneka itu pada Tao.

"Kau lihat Baby, gege membawakan sesuatu untukmu. Lihat dia lucukan? Ayolah buka matamu Baby." Kris terus bermonolog seperti orang gila.

Kris memandagi wajah Tao yang masih terlelap. Luka lebam di wajah Tao mulai memudar, juga beberpa balutan perban yang kini sudah di ganti dengan plester yang berukuran lebih kecil. Jahitan di perutnya juga sudah di buka, hanya menunggu lukanya kering saja.

"Baby, bangunlah. Buka matamu, Baby. Gege janji akan mengabulkan semua keinginanmu jika kau membuka matamu. Ayolah Baby, gege merindukanmu." Kris menggenggam lembut tangan Tao. Kris yakin, Baby Pandanya itu mendengar apa yang dia ucapkan barusan.

"Baby, gege akan menemanimu disini. Jadi cepatlah buka matamu, nae." Ucap Kris sambil mengecup puncak kepala Tao yang kini hanya ditutupi plester.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kyungsoo mengabaikan Lee Seonsaengnim yang sedang menerangkan materi di depan kelas, pikiran namja bermata bulat itu melayang entah kemana. Sesekali ia menghela nafas resah. Matanya menatap kosong kearah jendela luar, entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.

"Do Kyungsoo, bisa ulangi lagi apa yang baru saja saya jelaskan tadi?" Tanya Lee Seonsaengnim.

"Jika unsur-unsur tersebut bereaksi dengan udara akan menghasilkan MO dan M3N2 jika di panaskan. Dalam keadaan dingin akan menghasilan MO dan M3N2 di permukaan. Sifat oksidanya berupa Amfoter atau basa. Kestabilan peroksidanya tidak dikenal atau makin stabil sesuai dengan arah panah. Kestabilan karbonat dapat mengurai pada pemanasan agak tinggi dengan suhu pemanasan antara 550◦– 1400◦ C. Dengan M adalah unsur-unsur yang terdapat pada golongan dua dalam table periodik, tapi terkadang Radium tidak termasuk dalam golongan tersebut karena sifat radioaktif yang dimilikinya." Jelas Kyungsoo panjang lebar.

Semua siswa didalam kelasnya tercengang mendengar penjelasan lengkap Kyungsoo, bahkan itu lebih lengkap dari penjelasan Saemnya tadi. Sedangkan Kyungsoo, namja bermata bulat itu menjawab dengan mata yang masih menatap kearah luar.

"Hanya itu yang aku tau." Lirih Kyungsoo. Ia menundukkan kepalanya.

"Bagus Kyungsoo, bahkan penjelasanmu lebih lengkap dari apa yang aku jelaskan tadi." Puji Lee seonsaengnim. Namja paruh baya itu kemudian melanjutkan kembali kegiatannya mencatat di papan tulis yang sudah berisi beberapa rumus Kimia.

"Kau keren Kyung. Dari mana kau mengetahui semua itu Kyung? Bukankah saem baru mengajarkannya, bahkan penjelasanmu lebih lengkap darinya Kyung!" kagum seorang yeoja yang duduk di depannya.

Kyungsoo hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya, matanya masih terfokus pada ujung sepatunya. Entah apa yang ia lihat.

"Cih, kau sombong sekali!" decih yeoja itu sebelum kembali ke posisi duduknya semula. Yeoja it uterus menggerutu sebal atas sikap Kyungsoo padanya barusan. Sedang namja tan yang duduk tak jauh dari Kyungsoo, menatapnya dengan tatapan tidak suka.

"Cih, si pencari perhatian!" desisnya tajam.

Kyungsoo yang mendengarnya hanya mampu menghela nafas panjang, dia sudah biasa. Bahkan terlalu terbiasa mendengar berbagai ucapan pedas yang tertuju untuknya. Terlebih dari namja itu, namja yang beberapa hari lalu menemaninya di rumah sakit.

"Mian,"cicit Kyungsoo.

Kai menghunuskan tatapan membunuhnya saat mendengar permintaan maaf Kyungsoo barusan. Kyungsoo melirik Kai dengan ekor matanya, walaupun agak buram tapi Kyungsoo bisa membaca raut wajah Kai yang kini tengah menatapny tajam.

'Kai memang tidak akan pernah berubah Kyung, kau jangan terlalu berharap padanya. Dan mungkin kau saat itu bermimpi Kai yang menungguimu di rumah sakit saat kau sadar.' Batin Kyungsoo.

Memikirkan keganjikan sikap Kai akhir-akhir ini membuat kepala Kyungsoo terasa berdenyut nyeri. Kyungsoo menggelengkan kepalanya kasar berusaha untuk mengusir pening yang terasa begitu menyiksanya.

Tes.

Kyungsoo membulatkan matanya saat melihat cairan berwarna erah kental yang menetes diatas mejanya, Kyungsoo mengambil saputangan yang berada di saku blazernya. Kyungsoo masih berusaha menghentikan darah segar yang terus keluar melalui hidungnya dengan cara menekan hidungnya kuat-kuat.

"S-saem, saya ingin ke toilet." Ucapkan Kyungsoo menghentikan kegiatan Seonsaenimnya yang kini tengah menjelaskan didepan.

Setelah mendapat persetujuan dari saemnya, Kyungsoo segera berlari menuju toilet. Kedua tangannya masih sibuk menekan hidungnya yang terus meneluarkan darah, kepalanya sesekali menengadah keatas berharap dengan seperti itu darah bisa berhenti keluar dari hidungnya.

Sesampainya didepan wastafel, Kyungsoo segera membasuh saputangannya dengan air kemudian menyeka lelehan darah yang berasa dari hidungnya. Setelah dirasa tidak ada lagi darah yang keluar dari hidungnya, Kyungsoo mencuci saputangan dan melemparkannya ke tempat sampah yang berada tidak jauh darinya.

"Mungkin aku harus ke rumah sakit lagi nanti." Ucap Kyungsoo pada pantulan dirinya di cermin.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kai melirik jam ditangannya dengan cemas, wajah namja tan itu sarat akan kecemasan. Bagaimana tidak? Orang tua Tao sudah datang beberapa jam yang lalu, dan kini mereka tengah berada di ruangan Dokter Jung. Mata tajamnya terus bergerak gelisah, namun tatapannya terhenti pada seuah boneka panda berukuran besar yang berada disamping Tao. Kai menyerit bingung, mengapa tiba-tiba ada benda semacam itu disini? Siapa yang membawanya?

CKLEK

Pintu ruangan Tao tiba-tiba terbuka, seorang namja mungil dengan mata bulat yang terbingkai kacamata tebal berjalan mendekat kearah Kai dan Tao. Tangan mungilnya menenteng sebuah tas kertas berukuran sedang. Kai melihat namja itu membungkuk samar saat berada dihadapannya.

"Untuk apa kau kemari?" Tanya Kai dingin.

"A-aku ingin melihat keadaan Tao-ie." Jawab namja itu lirih.

"Kau sudah melihatnya kan? Lebih baik kau pulang sebelum si naga sialan itu mengamuk disini!" titah Kai.

Kyungsoo menggeleng kasar, ia hanya ingin menjenguk Tao, tapi negapa Kai malah mengusirnya? Ia kemudian meletakkan bag itu diatas nakas dan mengeluarkan beberapa isinya. Kyungsoo tidak peduli pada Kai yang kini masih menatapnya dengan tajam.

"Untuk apa kau membawa origami paper? Kau pikir Tao itu bocah ingusan sepertimu?" Tanya Kai sarkatis.

Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Kai, tangan mungilnya terus bergerak membuat burung dari kertas warna-warni yang ia bawa sambil menyelipkan doa dan keinginannya. Cukup sulit memang, tapi Kyungsoo tidak akan menyerah begitu saja.

"Apa yang kau lakukan? Untuk apa benda sepeti itu kau bawa kesini?" Tanya Kai lagi. Namja itu kini benar-benar jengah dengan tingkah laku Kyungsoo yang menurutnya begitu kekanakan. Kau lupa ya Kai, Kyungsoo kan memang masih kecil. Ya, setidaknya Kyungsoo beberapa tahun lebih muda darimu.

"Kau pernah mendengar jika kau berhasil membuat 1000 burung, keinginanmu akan terkabul. Aku mencoba melakukannya, aku ingin Tao cepat sadar." Jawabnya dengan tangan yang tak berhenti melipat kertas-kertas itu menjadi burung.

"Itu hanya mitos? Mengapa kau percaya dengan hal-hal seperi itu? Itu mustahil, dasar bodoh!" hardik Kai.

Kyungsoo menulikan telinganya, tangannya terus melipat secepat yang ia bisa. Lebih cepat selesai lebih baik bukan? Namun pergerakan tangannya terhenti saat ia merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

From : Hyungie

To: KyungKyungie

Hyung tunggu kamu di kantin rumah sakit. Cepat kemari nae Hyung sangat merindukanmu.

Kyungsoo menyerit heran. Kantin rumah sakit? bukankah Hungnya sedang berada di Eropa? Mengapa dia bisa berkata seperti itu?

To : Hyungie

From: KyungKyungie

Apa maksudmu Hyung? Kau tidak sedang mengigau kan?

Tidak sampai lima menit, ponsel yng berada dalam genggaman Kyungsoo kembali bergetar.

From: Hyungie

To: KyungKyungie

Nae, Hyung mengigau hingga sampai di Korea Kyung. Cepatlah kemari.

Kyungsoo memiringkan kepalanya bingung, matanya mengerjap polos. Tapi pada akhirnya namja bermata bulat itu merapikan kembali origami papernya dan memasukkannya ke dalam tas. Tangan mungilnya terulur mengelus pipi Tao yang terlihat semakin tirus.

"Tao-ie, aku pergi dulu nae. Hyungku sudah menyuruhku untuk menemuinya, padahalkan dia sedang berada di Eropa. Ah, sudah lah mungkin benar dia sudah pulang. Tao-ie, aku akan menyelesaikannya di rumah, kau cepat sadar nae. Aku menyayangimu. CHU~" Kyungsoo mendaratkan sebuah kecupan di kening Tao setelah bermonlog cukup panjang.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kai diam-diam mengikuti Kyungsoo dari belakang. Perkataannya dengan Tao tadi membuat dia benar-benar penasaran, karena yang Kai tahu Hyungnya Kyungsoo adalah Baekhyun dan Kris. Sisanya entahlah, bagi Kai kehidupan Kyungsoo sama sekali tidak menarik.

Kai melihat Kyungsoo menghampiri seorang namja berwajah cantik dengan stelan santainya. Kai mendudukkan dirinya tak jauh dari meja Kyungsoo dan namja cantik tadi. Hah, kau terlihat seperti seorang penguntit Kai.

"Hyung, mengapa kau bisa ada disini?"

"Ya! Dongsaeng kurang ajar kau. Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu pada Hyungmu yang tampan ini!" cecar namja cantik itu.

"Kau memang tampan Hyung, tapi saking tampannya kau malah terlihat cantik." Celetuk Kyungsoo.

Kai terkikik geli mendengar perdebatan kecil dua orang namja yang ya, dia akui keduanya memiliki wajah yang bisa dibilang cantik.

"Ck, kau benar-benar tidak berubah Kyung! Tetap menyebalkan dan keras kepala."

Kyungsoo tersenyum mendengar penuturan Hyungnya itu.

"Baiklah kita ulangi dari awal Hyung. Ryeowook Hyungku yang tampan apa kabar? Kau tau aku merindukanmu!"

Kyungsoo segera menghambur ke dalam pelukan namja cantik yang bernama Ryeowook. Sungguh, Kyungsoo sangat merindukan dekapan hangat sang Hyung yang selama ini terpaksa pergi meninggalkannya.

"Hyung, bagaimana kabar Kibum Eomma? Apa beliau baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo. Ryeowook hanya terkekeh melihat ekspresi dongsaengnya yang mengemaskan. Bagaimana tidak? Kyungsoo terlihat seperti anak kucing yang sedang bermanja pada majikannya.

Kai yang dari tadi pendengar yang baik, kini merasa bingung dengan pertanyaan terakhir yang keluar dari bibir Kyungsoo. Setahu Kai, orang tua Kyugnsoo sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Selebihnya, namja tan itu tidak mengetahui apapun tentang Kyungsoo.

Drrrttt Drrrttt~~

Ponsel Kai yang bergetar membuatnya sedikit terlonjak kaget, ada panggilan masuk. Namja tan itu buru-buru mengangkatnya dan berjalan menjauhi dua orang namja yang kini tegah lsrut dalam pembicaraan yang, entah lah Kai sudah tidak peduli lagi.

"Yeobseo."

"…"

"Kondisi Tao?"

"…"

"Nae, Ahjumma. Saya akan segera kesana."

PIP

Kai berjalan semakin menjauh dari Kyungsoo dan namja yang mungkin berstatus sebagai Hyungnya. Jikapun namja itu adalan namjachingu Kyungsoo atau mungkin tunangannya, toh Kai tidak peduli. Ayolah Kai, imajinasimu terlalu tinggi.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

"Bagaimana dengan Tao, apa Dokter Jung memberikan kabar baik?" Tanya Kai begitu ia sampai di ruang rawat Tao.

"Tidak, Tao masih tetap sama Kai." Jawab Huang Ahjumma dengan nada sedih. Kai menautkan alisnya. Jika bukan kabar baik tentang Tao, lantas apa?

"Kami akan membawanya pulang ke China, Kai."

TBC

Yooo Minna…. Rei dateng lagi neh #treak pake toa masjid #digebukin masa…

Mian Rei lelet lagi updatenya, Rei bener-bener sibuk akhir-akhir ini. Juga Rei ngerasa mulai kehabisan ide cerita buat nih epep. Jadi mian kalo ceeritanya tambah garing dan ga masuk akal(?)

Buat ripiunya Rei ucapin makasih banget, maap ga bisa bales satu-satu, tapi Rei baca semua ko. Dan buat pensnya Lay, Rei minta maaf banget ya. Rei bikin Lay super OOC #damai bang Lay, hehe… abisnya Rei bingung mau pake siapa, jadi Rei minta maap banget buat pansnya Lay, Rei ga ada maksud buat bikin Lay sejahat itu. Lagian kalo beneran serem juga sih, hehe…

Terus yang minta Kaisoo bersatu, eng… gimana ya? Liat entar aja deh…#pisss^^V

Dan terakhir, ripiu, kritik dan saran masih Rei tunggu. Arigato, Reader-sama.. :D

.

.