Annyeong~~

Rei datang lagi membawa ff abal milik Rei. Rei kemaren lupa bilang kalo Kyungie lebih muda dari Kai dan Tao, magnae lah ceritanya. Hehe~~ fic ini terisnpirasi dari lagunya yang'Beautiful Day'lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-

Ok, sekian cuap-cuap dari saya. Cha~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3

.

.

Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~

.

.

Dislike, don't read! Simple?! Okk…

.

"Tidak, Tao masih tetap sama Kai." Jawab Huang Ahjumma dengan nada sedih. Kai menautkan alisnya. Jika bukan kabar baik tentang Tao, lantas apa?

"Kami akan membawanya pulang ke China, Kai."

^^^^vvvv^^^^

Chap 8

^^^^vvvv^^^^

Kai menatap lurus ke depan dengan tatapan mata kosong, kepalanya terasa mau pecah jika mengingat kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Semua bermula dari rasa kecewanya pada Baekhun, memperkosa Kyungsoo karena sebuah kesalah pahaman, hingga Tao yang kini masih terbaring koma karena ulah sunbaenya, juga perdebatannya kemarin sore dengan orang tua Tao yang bersikeras membawa Tao pulang ke China.

Kai mengusap wajahnya kasar, semua ini terlalu rumit untuk dia pikirkan. Juga sikapnya yang sering berubah tiba-tiba kepada Kyunsoo.

'Aku membencinya, tapi entah mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh disaat yang bersamaan. Apa yang terjadi padaku sebenarnya?' batin Kai.

Kai mengedarkan matanya, berharap dengan cara seperti itu bisa membantu menghilangkan sedikit beban pikirannya. Dia tersenyum saat melihat beberapa anak kecil bermain bola tak jauh dari tempatnya duduk. Kai bisa melihat mereka tertawa lepas sambil menendang, namun Kai terkejut saat salah satu dari mereka menagis.

"Jongso, uljima!" seorang yeoja kira-kira berusia 28 tahun menghampiri anak yang bernama Jongso itu, menggendong Jongsoo dan memghapus air mata yang membasahi pipi cubby Jungso.

"Eomma, hiks… appo… hiks…" rengek Jongsoo. Yeoja itu hanya tersenyum sambil mengelus punggung anaknya sayang.

Kai tersenyum kecil saat anak itu berhenti menangis. Entah mengapa tiba-tiba dia teringat eommanya, yeoja yang sangat cantik, lembut dan perhatian. Kai juga dulu mendapat perlakuan yang sama seperti apa yang anak kecil itu dapatkan. Tapi itu dulu, sebelum sebuah insiden menimpa keluarga mereka.

"Hah~" Kai membuang nafasnya panjang. "Sebaiknya aku pulang." Lirihnya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kyungsoo masih berkutat dengan beberapa buku di hadapannya, namja mungil itu sedang mencatat beberapa materi yang menurut dia penting. Susu vanilla yang dibuatkan oleh Ryeowook pun kini sudah mulai mendingin karena terlalu lama diabaikan.

"Kyungie, ini sudah terlalu larut untuk belajar. Cepat habiskan susumu kemudian pergi tidur." Ucap Ryeowook yang berada tak jauh dari Kyungsoo.

"Ne Hyung, sebentar lagi." Jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan buku itu.

"Kau ini mengerikan sekali Kyungie! Apa kau tidak mual melihat deretan Hangeul sebanyak itu?" celetuk Ryeowook.

"…" Kyungsoo tidak menanggapai perkataan Ryeowook, memabuat namja cantik itu mendengus sebal.

"Oh iya, Kris katanya menginap dirumah sakit. Memang siapa yang sakit Kyungie?"

Kyungsoo menghentikan pergerakan tangannya, doe eyes yang berbingkai kacamata itu tiba-tiba berubah sendu. Kyungsoo menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Ryeowook.

"Namjachingunya sedang koma, Hyung." Lirih Kyungsoo.

Ryeowook membulatkan matanya mendengar jawaban Kyungsoo. Apa pendengarannya yang sedang terganggu atau Kyungsoo yang salah kata?

"A-apa kau bilang? N-namjachingu?" Tanya Ryeowook heran.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, membuat Ryeowook semakin shock.

"J-jangan bilang k-kalau dia-"

"Tapi itulah kenyataannya Hyung, bukankah kita tidak pernah tau pada siapa kita akan jatuh cinta?" potong Kyungsoo cepat.

Dia tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara Kris dengan Ryeowook, karena dia juga mengalami hal yang sama. Ya, namja mungil ini masih mencintai Kai, namja dingin yang selalu membullynya bahkan merampas sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Katakanlah dia gila, mencintai orang yang jelas-jelas tidak menginginkan keberadaannya. Tapi Kyungsoo tidak bisa begitu saja membuang perasaannya pada Kai yang sudah lama tumbuh lama.

"Aku sudah selesai Hyung, kajja kita tidur." Kyungsoo meyeka susu yang menempel di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya yang langsung menuai protes dari Ryeowook.

"Ya! Kau ini jorok sekali! Gunakan tissue untuk membersihkannya." Omel Ryeowook. Kyungsoo hanya tersenyum mendengar omelan Ryeowook, sepertinya Hyung cantiknya err… Hyung tampannya ini melupakan percakapan setengah tegang mereka tadi.

Ryeowook menarik selimut pororo milik Kyungsoo hingga leher, merapikan sedikit anak poni Kyungsoo yang menutupi mata bulatnya. Mengecup kening dongsaengnya dengan sayang sebelum ia beranjak dari kamar yang didominasi warna hijau tosca itu.

"Jaljayo, uri saengi."

"Mungkin besok adalah waktu yang tepat." Gumam Ryeowook setelah menutup pintu kamar Kyungsoo.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kyungsoo berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah, hari ini dia berangkat agak siang karena Ryeowook memaksa untuk mengantarnya pergi kesekolah. Sebenarnya Kyungsoo kurang menrasa nyaman berada ditengah orang banyak seperti ini. Ini terlalu berisik, dan Kyungaoo tidak menyukai itu. Namja mungil itu lebih menyukai tempat-tempat yang tenang, tempat yang bisa membuatnya lebih konsentrasi saat membaca buku, seperti atap sekolah atau perpustakaan.

Perpustakaan ya? Hari ini Kyungsoo tidak bisa mengunjungi perpustakaan seperti biasanya, karena tinggal lima menit lagibel masuk akan segera berbunyi.

"Kyungie!"

Merasa namanya dipanggil, Kyungsoo menoleh kebelakang. Heart lipsnya menyunggingkan sebuah senyum saat ia melihat Baekhyun tengah melambaikan tangannya di dekat gerbang sekolah. Senyum khas yang menghiasi wajah Baekhyun menandakan bahwa hari ini namja pecinta eyeliner itu sedang dalam suasana hati yang senang.

"Ada apa denganmu? Sepertinya kau terlihat sangat senang?" Tanya Kyungsoo penasaran.

"Kau memang selalu tau Kyungie, hehe" cengir Baekhyun.

Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sepupunya ini. 'Benar-benar kekanakan.' Batin Kyungsoo. Hei, bukan Baekhyun yang kekanakan, tapi kau yang terlalu dewasa, kau memiliki sikap dewasa sebelum waktunya, Kyungsoo. Walaupun terkadang sikap keras kepalamu paling dominan.

"Pasti tentang Chanyeol, iya kan?" tebak Kyungsoo. Namja pecinta eyeliner itu mengengguk imut.

"Kejutan apa lagi yang dia berikan padamu?" Tanya Kyungsoo.

"Coba kau tebak!" bukannya menerima jawaban, Baekhyun malah menyuruh Kyungsoo untuk menebaknya.

"Memangnya aku ini peramal? Katakan saja, aku penasaran." Desak Kyungsoo.

"Arra… arra… Chanyeol memberikanku ini~" seru Baekhyun riang sambil mengeluarkan sebuah benda yang bentuknya seperti cicin dari saku celananya.

"Apa ini?"

"Ini cincin couple, kemarin saat aku dan Chanyeol pergi jalan-jalan ke Namsan Tower, aku melihat cincin itu. Dan kau tau Kyung, Chanyeol membelikannya untukku." Cerita Baekhyun. Kedua tangannya menagkup ditempelkan di depan dadanya, persis seperti seorang yeoja yang sedang jatuh cinta.

"Kau seperti yeoja jika seperti itu Baekie." ejek Kyungsoo.

Baekhyun tidak peduli dengan ejekan Kyungsoo, namja itu terus saja mengoceh tentang kencannya kemarin bersama Chanyeol sepanjang jalan menuju kelas. Heart lips Kyungsoo menyunggingkan sebuah senyum, dia senang jika sepupunya ceria dan bahagia seperti ini. Kyungsoo berharap semua orang yang dia cintai selalu mendapatkan kebagiaan seperti yang Baekhyun alami saat ini. ya, semoga saja.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Jarum jam yang melingkar ditangan mungil Kyungsoo menunjukkan pukul 2 siang, itu artinya 15 menit lagi bel pulang akan berbunyi. Pandangan mata Kyungsoo tiba-tiba mengabur, membuatnya sedikit tidak fokus. Kyungsoo membuka kacamatanya, mengucek matanya sebentar kemudian memasangnya lagi, berharap penglihatannya akan kembali normal. Namun nihil, pandangannya tetap saja buram meski dia melakukannya berulang kali.

"OMO! Kyungsoo gwaeonchana? Kau mimisan!" teriak siswi yang duduk di sebelah Kyungsoo membuat semua mata yang berada dalam ruangan itu tertuju padanya, tak terkecuali Kai.

Kyugnsoo merogoh saputangan yang ada di saku blezernya, kemudian menutup hidungnya dengan sedikit tekanan, berharap darah yang merembes dari hidungnya berhenti. Setelah mendapat izin dari Go Seonsaengnim, Kyungsoo segera berlari menuju toilet.

Mata tajam Kai menatap kearah pintu. Ada rasa penasaran juga khawatir yang menggelitik hatinya, ia ingin sekali mengetahui keadaan namja bermata bulat itu, namun rasa gengsi menghalanginya. Suah lebih dari lima menit Kyungsoo meninggalkan kelas, hal itu membuat hati Kai tidak tenang.

"Joesong Seonsangnim." Ucapan Kai menginterupsi Go Seonsangnim yang sedang menuliskan beberapa rumus di papan tulis.

"Ne, Jongin?"

"Toilet." Setelah berpikir cukup lama namja tan itu akhirnya memilih untuk menyusul Kyungsoo ke toilet.

Kai berjalan dengan sedikit tergesa, sungguh perasaannya benar-benar tidak enak saat ini. Apa kalian bertanya mengapa Kai peduli pada Kyungsoo yang notabenya adalah rival terbesar dalam hidupnya? Entahlah, Kai hanya menuruti instingnya saja. Insting untuk menyusul namja bermata bulat itu. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Kai sebenarnya pada namja bermata bulat itu, karena dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini.

BRAKK

Kai membuka pintu toilet dengan kasar, membuat Kyungsoo yang masih berdiri di depan wastafel terlonjak kaget. Kyungsoo buru-buru menutupi hidungnya dengan tissue toilet, namun Kai bisa melihat dengan jelas cairan pekat itu masih merembes dari hidung Kyungsoo.

"K-Kai, kau membuatku terkejut." Cicit Kyungsoo. Tubuh mungilnya sedikit teringsut ke belakang saat Kai berjalan mendekat ke arahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kai dingin.

"…" Kyungsoo tidak menjawab, namja bermata bulat itu hanya menundukkan kepalanya takut.

"Mengapa kau diam? Aku sedang bertanya padamu!"

"A-aku

"Kau harus segera kerumah sakit!" potong Kai.

"Tidak perlu, lagi pula sebentar lagi bel pulang akan segera berbunyi." Tolak Kyungsoo.

Kai berdecih pelan saat mendengar penolakan Kyungsoo. 'Namja ini benar-benar keras kepala!' Batin Kai. Kyungsoo membasahi saputangannnya yang sudah berwarna menjadi merah pekat. Sejujurnya tubuhnya sudah sangat lemas, ditambah kepalanya yang semakin terasa berat. Pandangannya yang masih kabur membuat Kyungsoo sedikit kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Hampir saja dia terjungkal kebelakang jika saja Kai tidak menangkapnya.

"Apa kau masih tetap keras kepala?" Tanya Kai masih dengan nada dingin.

Kyungsoo tersenyum lemah kemudian berjalan meninggalkan Kai yang masih berdiri di posisi semula. Namja tan itu memandang Kyungsoo yang mulai berjalan menjauh darinya dengan ekspresi datar, dia bisa melihat Kyungsoo yang berjalan terpogoh-pogoh menuju kelas. Namja itu membarkan Kyungsoo berjalan sendiri? Tentusaja iya. Kai terlalu malas mendapatkan penolakan dari Kyungsoo untuk yang kesekian kalinya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kai kini memasuki loby rumah sakit, berniat untuk mengunjungi sepupunya yang belum menunjukkan kemajuan apapun. Namja itu berbelok kearah kantin rumah sakit, berniat untuk membeli beberapa cemilan pengganjal perutnya yang sedari tadi terus berbunyi minta di isi. Setelah memesan makanannya, Kai duduk di salah satu meja kosong di dekat jendela. Entah menggapa tiba-tiba ia ingin duduk di sana.

"Kyungie, Hyung mohon. Kau lanjutkan pengobatanmu ne!"

Kai menghentikan tangannya yang sedang mengaduk coffee latte miliknya. Sepertinya Kai mengenali suara itu, tapi siapa?

"Tidak Hyung, mianhae."

Suara itu. Bukankah itu suara Kyungsoo? Kai mengedarkan matanya ke sekeliling kantin rumah sakit, tidak terlalu ramai memang. Mata tajamnya terpaku pada meja yang berada di pojok, berselang satu meja dari tempat Kai berada. Disana dia melihat dua orang namja yang sedang duduk berhadapan, seorang namja cantik tengah menggenggam tangan namja yang duduk meunggunginya.

"Ayolah Kyungie, Hyung mohon~" nada mengiba itu kembali terdengar oleh telinga Kai, membuat kai mengerutkan dahinya bingung.

'Bukankah itu Hyungnya Kyungsoo?' batin Kai

"Tidak Hyung." Kyungsoo lagi-lagi menolak sambil menggelengkan kepalanya.

"Wae? Give me a reason why you ding like that?" Tanya namja cantik itu.

Kyungsoo menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Ryeowook. Dia hafal betul sifat Hyungnya yang satu ini. Jika Ryeowook sedang marah, makan dia akan berbicara dalam Bahasa Inggris agar tidak terdengar kasar. Dan saat ini Hyungnya mungkin memang sedang marah.

"Hyung mianhae. Aku memang bukan dongsaeng yang baik untukmu, aku terlalu banyak memuatmu kecewa. Terlebih Kibum Eomma, aku tidak ingin Kibum Eomma merasa tersakiti karena beberadaanku Hyung~"

"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Tanya Ryeowook heran.

"Hyung, aku tau selama ini kalian menderita karena aku. Jika saja Eommaku tidak mengandungku saat itu, mungkin sampai saat ini Hyung, Appa dan Kibum Eomma masih bisa hidup bersama sampai saat ini. Dan juga jika saja aku tidak meminta hal-hal yang aneh pada Appa, mung-

"Cukup! Mengapa kau bisa memiliki pemikiran sesempit itu Kyungie?" potong Ryeowook cepat. Sungguh, namja cantik itu tidak menyangka dongsaeng yang selalu di banggakannnya berkata sekonyol itu.

"Tapi itu memang kenyataannya Hyung, aku tidak ingin merepotkanmu lebih banyak lagi. Bukankah karena aku juga kau terpaksa mengganti margamu dengan marga Kim karena bersikeras untuk ikut dengan Kibum Eomma?" alih-alih mendengarkan teguran Hyungnya, Kyungsoo malah semakin mengeluarkan alasan-alasan yang menurut Ryeowook ridak masuk akal.

Ryeowook mengusap wajahnya kasar. Apa yang dongsaengnya katakan memang sepenuhnya benar, tapi dihatinya sama sekali tidak ada rasa benci untuk dongsaeng satu Appanya ini, Ryeowook justru sangat menyayangi Kyungsoo.

"Justru dengan sifat keras kepalamu yang membuat Hyung semakin khawatir padamu Kyungie. Hyung sudah kehilangan Appa dan Eommamu, Hyung tidak ingin kehilangan orang yang Hyung sayangi lagi Kyungie. Mengertilah!" setetes air mata meluncur dari mata bening Ryeowook. Namja itu benar-benar sudah kehabisan akal untuk membujuk Kyungsoo.

Hati Kyungsoo berdenyut ngilu saat melihat Hyung yang selalu melindunginya kini terlihat begitu rapuh, sebesar itukah imbas yang terjadi pada Hyungnya saat ia menolak untuk melanjutkan kemotherapy? Lantas bagaimana jika nanti Kyungsoo benar-benar pergi?

"Hyung, jebal~ jangan seperti ini. Aku tidak suka melihatmu menangis." Ucap Kyungsoo ikut menetaskan air mata.

"Kau yang membuatku seperti ini Kyungie, kau membuatku ketakutan." Kristal bening itu terus mengalir membasahi pipi mulus Ryeowook.

"Hyung, mianhae. Tapi aku benar-benar sudah lelah Hyung, lelah dengan semua ini. Dan aku hanya ingin menikmati waktuku yang sedikit ini dengan melihat orang-orang yang ku sayangi bahagia, bukan menagis seperti ini." bujuk Kyungsoo.

Kai yang menguping pembicaraan antara Kyungsoo dengan Ryeowook membatu, otaknya masih mencerna setiap kata yang baru saja di tangkap oleh indara pendengarannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Lagi-lagi, Kai terkejut dengan kenyataan yang menimpa namja bermata bulat itu. Dia tidak pernah menyangka jika kehidupan Kyungsoo yang selama ini penuh keanehan -menurut Kai- ternyata begitu menyakitkan. Dan entah mengapa dadanya terasa sesak setelah mengetahui kenyataan yang terjadi pada Kyungsoo, namja yang selama ini selalu dia bully.

"J-jadi selama ini dia…"

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Suasana hening menyelimuti ruang rawat Tao, hanya suara pendeteksi alat jantung yang masih setia berbunyi menandakan bahwa tubuh yang terbaring itu masih hidup. Seorangg namja dengan rambut hampir sama dengan Tao mengecup puncak kepala Tao dengan sayang. Ya, didalam ruangan sunyi itu hanya ada Kris dan Tao yang masih terbaring lemah di ranjang. Kedua orang tua Tao pamit untuk kembali ke apartemen Kai berapa menit yang lalu.

"Baby, cepat sadar ne. Gege merindukanmu." Bisik Kris. Entah sudah ke berapa ribu kali Kris membisikan kata-kata itu pada Tao, berharap panda kesayangannya bersedia untuk kembali membuka matanya dan memperbaiki semua kesalahan yang ada di masa lalu.

Kris menghela nafas berat, sejenak namja tinggi itu berfikir. Apa yang di katakan Kai tempohari itu benar, bahwa dalang dari semua ini adalah Yixing? Kris masih belum mengerti mengapa Kai berkata sepeti itu. Yixing yang selama ini dia kenal addalah sosok namja yang pendiam dan terkesan lemah lembut, bahkan untuk membunuh nyamuk saja dia tidak akan tega. Ok, berlebihan memang, namun itulah kenyataan yang Kris ketahui tentang Yixing.

Sedikit sulit memang untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang tega melakukan hal seperti ini pada kekasihnya. Di karenakan tidak ada saksi mata saat peristiwa itu terjadi, bahkan Kyungsoo yang sama-sama menjadi korban pun sama sekali tidak mengenali orang yang berniat buruk padanya dan Tao. Kyungsoo hanya mengatakan jika Tao di keroyok oleh puluhan namja berpenampilan ninja.

"Apa aku harus menemui Yixing untuk menanyakan hal ini padanya?" Tanya Kris entah pada siapa.

"Bahkan pihak kepolisian pun belum mengabariku perkembangan kasus ini, mereka bekerja terlalu rapi." Lanjutnya.

Ya, saat pihak kepolisian melakukan olah TKP, mereka tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan. Bahkan noda darah Tao yang jelas-jelas membanjiri lantai kotor itu pun hilang entah kemana. Juga keterangan dari warga sekitar yang tidak mendengar atau melihat hal apapun di sekitar gudang.

"Apa yang harus ku lakukan baby?" desah Kris frustasi. "Aku tidak mungkin diam terus seperti ini."

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kai merasakan ponselnya bergetar. Namja tan itu segera merogoh saku celananya dan menekan tombol hijau yang tertera pada layar, menempelkan benda persegi itu ke cuping telinga kanannya.

"Yeobseo"

'Jongin-ah, bisakah kau menjaga Tao untuk kami?' Tanya orang yang berada di sebrang line.

"Ne Ahjumma, waeo?"

'Kami harus kembali ke China untuk dua hari kedepan, ada urusan yang harus Ahjumma dan Ahjussi selesaikan disana.'

"Baiklah."

'Sekalian kami akan mengurus kepindahan Tao dan semua kebutuhan Tao.'

"Maksud Ahjumma?" Kai mengerutkan keningnya heran. Namja tan itu tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh wanita paruh baya itu.

'Kami akan membawanya pulang Jongin.' Jelas Huang Ahjumma.

"T-tapi Ahjumma, ujian kelulusan akan di laksanakan tiga bulan lagi. Tidak kah kau menunggu sampai ujian selesai?" Tanya Kai.

'Kami sudah memikirkannya Jongin. Lagi pula kami tidak bisa terus-terusan membiarkanmu membolos sekolah hanya untuk menjaga Tao di rumah sakit, kami juga tidak bisa terus-terusan merepotkanmu.' Jelas Huang Ahjumma panjang lebar.

Kai menahan nafasnya untuk beberapa detik, berusaha mengontrol emosinya yang memang sedang dalam kondisi buruk setelah insiden 'menguping' yang di lakukannya tadi.

"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan Ahjumma." Ucap Kai selembut mungkin. "Tao sama sekali tidak menyusahkanku, justru aku yang sering membuatnya susah dengan semua kenakalanku, jadi biarkan aku menjaganya sekarang." Lanjut namja tan itu.

'Akan Ahjumma pikirkan lagi nanti, sekarang Ahjumma titip Tao ne. Ahjumma harus segera kembali ke China, juga tolong sampaikan permintaan maaf Ahjumma dan Ahjussi karena tidak bisa mampir ke rumah sakit.' ucap wanita paruhbaya itu akhirnya.

"Ne, Ahjumma. Hati-hati di jalan."

PIP

Kai memutuskan sambungan telponnya. Ia menatap layar ponselnya sejenak sebelum kembali memasukkannya ke dalam celana.

CKELK

Kai sedikit terkejut saat melihat seseorang tengah tertidur dengan posisi duduk di saming ranjang Tao. Namja itu terlihat begitu kelelahan, jangan lupakan juga matanya yang terlihat sedikit sembab seperti orang yang habis menangis. Tapi apa peduli Kai? Namja itu sama sekali tidak tertarik pada sosok yang sedang tertidur itu, Kai tidak terlalu menyukainya.

Kai kembali menutup pintu kamar Tao perlahan, dia malas jika harus satu ruangan bersama orang tak berotak seperti namja itu. Ck, kau selalu berbicara sesuka hatimu Kim Jongin, bagaimanapun namja itu lebih tua darimu, hargailah sedikit. Terlebih dia itu namjachingu sepupumu.

"Sepertinya taman rumah sakit tidak terlalu buruk." Gumamnya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kyungsoo tengah menikmati duduk disalah satu kursi yang ada di taman samping rumah sakit, ditangannya terdapat sebuah amplop putih berlogo rumah sakit yang pada bagian ujungnya telah terbuka. Hasil pemeriksaannya kali ini sungguh mengejutkan, sel-sel kanker itu ternyata kini telah berhasil menyebar keseluruh tubuhnya. Dan itu artinya, dia hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Kyungsoo tersenyum miris saat ia mengingat percakapan dengan Hyungnya saat berada di kantin rumah sakit, sejujurnya ia tidak tega melihat raut putus asa Ryeowook, tapi ia tidak bisa mundur lagi dari keputusannya. Kondisinya memang semakin parah, dan Kyungsoo juga tidak yakin ia bisa mengikuti ujian kelulusan tiga bulan lagi. Sering Kyungsoo bertanya, apakah dia mampu bertahan sampai tiga bulan kedepan? Sedang kanker yang tumbuh di dalam tubuhnya terus berkembang tiap detik.

"Mengapa kau tidak menjalani kemotherapy saja?" suara berat itu membuyarkan lamunan Kyungsoo, membuat namja bermata bulat itu menoleh kearah belakang.

"K-Kai?" mata Kyungsoo sedikit membulat melihat siapa orang itu. Apa yang namja ini lakukan di sini? Batin Kyungsoo.

Kai mendudukkan dirinya di ujung bangku, menyisakan jarak antara dia dan Kyungsoo. Mata tajamnya menatap lurus kearah segerombolan anak-anak berseragam rumah sakit yang tengah bermain bersama. Kyungsoo menatap Kai dengan seksama, meneliti setiap jengkal sosok yang memiliki tempat special di hatinya, sekaligus sosok yang membuatnya hancur.

"Aku memang tampan, kau tidak perlu memandangiku seperti itu!" tegur Kai.

Kyungsoo segera memundukkan kepalanya, ia benar-benar malu tertangkap basah tengah memandangi sosok namja yang duduk disampingnya. Ah, pipinya samar-samar berwarna merah.

"Mengapa kau begitu keras kepala?" Tanya Kai dingin.

Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar pertanyaan dingin Kai. Namja mungil itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja Kai katakan.

"Kau. Mengapa terus menolak untuk menjalani pengobatan?" Tanya Kai lagi. Kyungsoo yang mulai mengerti arah pembicaraan Kai, hanya mendesah resah.

"Untuk apa?" bukannya mendapat jawaban dari pertanyaannya, Kyungsoo malah berbalik bertanya pada Kai.

"Apa kau tidak kasihan pada Hyungmu yang cantik itu? Aku lihat dia begitu kecewa dengan keputusanmu."

"D-dari—

"Aku tau semuanya Kyung. Dan aku tidak menyangka jika ternyata kau memiliki kisah hidup yang cukup pelik."potong Kai. Kyungsoo menatap Kai dengan tatapan tidak percaya. Atas dasar apa dia bebicara seperti itu? Apa Kai mengetahui semuanya?

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Lirih Kyungsoo.

"Mianhae, aku tidak senaja mendengar percakapanmu tadi di kantin rumah sakit." ucap Kai tanpa memandang Kyungsoo.

Kyugsoo meremat surat yang ada di tangannya. Kai mendengar semua percakapannya dengan Ryeowool, itu berarti Kai juga mengetahui satu rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Tidak ada seorangpun yang tau tentang masa lalu kelam kedua orang tua Kyungsoo, termasuk Kris dan Baekhyun.

"Mianhae, jika selama ini sikapku padamu hanya memperumit segalanya." Setelah beberapa menit mereka terdiam, Kai kembali membuka suaranya.

"Nan gwaeonchana." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum tipis. "Aku juga minta maaf padamu jika selama ini selalu membuatmu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku." Lanjutnya. Kyungsoo melihat Kai menganggukkan kepalanya.

Keheningan kembali menyelimuti dua namja itu, entah mengapa suasana canggung mudah sekali tercipta diantara keduanya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kris merasakan tangan namja yang berada dalam genggamannya bergerak, segera ia mengalihkan pandangannya panda sosok yang masih terbaring diatas kasur. Mata tajamnya membulat saat melihat namja yang dia cintai kini telah membuka matanya. Kris memekan bel yang berada di atas ranjang Tao, memanggil dokter untuk segera memeriksa kondisi orang yang baru saja membuka matanya itu.

"Syukurlah Baby, akhirnya kau sadar juga. Aku benar-benar merindukanmu." Kris mengecup pucak kepala Tao sayang. Hatinya benar-benar senang melihat saat ini.

Dokter dan beberapa perawat tengah emeriksa keadaan Tao di dalam, Kris sudah menghubungi Kyungsoo dan Baekhyun mengenai kabar baik ini, dia juga meminta Baekhyun atau Kyungsoo untuk segera memberi tahu Kai bahwa Tao kini sudah siuman.

Derap langkah tergesa memenuhi lorong rumah sakit itu, dua orang namja berjalan dengan tergesa menuju ruang rawat Tao. Siapa lagi jika bukan Kai dan Kyungsoo. Doe eyes Kyungsooo yang berbingkai kacamata itu menangkap sosok Kris yang tengah berdiri gusar di depan ruangan Tao.

"Hyung, bagaimana keadaan Tao-ie?" Tanya Kyungsoo begitu sampai di hadapan Kris.

"Dokter masih memeriksa Tao Kyungie, kita tunggu sebentar ne!" ucap Kris.

Kai mengintip keadaan didalam lewat kaca kecil yang ada di pintu, dia melihat dokter Jung sedang berbicara serius pada Tao. Entah apa yang mereka bicarakan, Kai tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Namun jika dilihat dari raut wajah Tao, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi pada Tao.

CKLEK

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kai begtu dia dokter Jung keluar dari kamar Tao.

"Kondisi tubuhnya sudah mulai stabil, dia berhasil melewati masa kritisya. Hanya dengan beberapa kali pemeriksaan, pasien sudah diperbolehkan pulang." Jelas dokter Jung.

"Apa kami boleh masuk?" kali ini Kyungsoo yang bersuara.

"Tentu saja. Saya permisi, masih banyak pasien yang harus saya tangani."

Kai segera masuk kedalam disusul Kyungsoo dan Kris di belakang. Namja tan itu segera memeluk Tao begitu erat, membuat sebuah ringisan keluar dari bibir peachnya.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh kekasihku?" bentak Kris tidak terima.

"Tao, bogoshipo…" ucap Kai dengan mata yang berkaca-kaca.

"Na-do." Balas Tao. Suara terdengar serak, mungkin ini efek kerena tidur berhari-hari, piker Kai.

"Tao-ie, aku senang akhirnya kau bangun juga."

Tao menoleh kearah kanan, tempat Kyungsoo dan Kris berada. Tao menatap Kyungsoo, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan namja bermata bulat itu.

"Kau telalu lama tidur Tao-ie. Dan kau tau, kau membuatku khawatir." Jelas Kyungsoo.

Tao tersenyum hangat saat mengerti kemana arah pembicaraan namja yang berusia 3 tahun lebih muda darinya itu. Hatinya merasa sedikit lega saat melihat namja mungil itu baik-baik saja.

"Memang aku tidur berapa lama?" Tanya Tao lagi.

"Kau tidur cukup lama. Sudah lah lupakan saja berapa lama kau tertidur, yang penting sekarang kau harus segera sembuh. Aku merindukan omlete gosongmu."

Ucapan Kai membuat kedua sudut bibir Tao terangkat membentuk sebuah senyum. Ya, hanya didepan Tao-lah Kai bisa menunjukkan sisi manjanya. Dia begitu merasa nyaman jika di samping Tao, karena menurut Kai hanya sepupu pandanya lah yang bisa mengerti perasaan Kai.

"Tadi sebelum kesini, Huang Ahjumma menelponku. Ahjumma bilang dia tidak bisa menjengukmu untuk dua hari kedepan, ada urusan yang harus diselesaikan."

"Gwaeonchana, masih ada kau dan yang lainnya disini." Jawab Tao lemah.

Mata pandanya memandang sosok yang sedari tadi bungkam, namja yang berstatus sebagai namjachingunya itu hanya menatapnya dengan pandangan yang tidak biasa. Entah ini hanya perasaan Tao atau tidak, namja itu menatapnya begitu lembut. Sangat lembut.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kyungsoo tertidur di jok belakang mobil, namja mungil itu terlihat begitu lelah. Kris yang berada di kursi kemudi sesekali melihat keadaan dongsaengnya yang seadng tertidur itu dari kaca spion. Dia juga bisa melihat jika tubuh Kyungsoo sekarang semakin kurus, kulitnya yang memang seputih susu berubah menjadi semakin pucat, jangan lupakan juga lingkaran hitam yang ada di bawah matanya yang entah sejak kapan berada disana.

Kris menggendong Kyungsoo di punggungnya begitu sampai di apartemen, namja tinggi itu tidak tega membangunkan tidur Kyungsoo yang begitu lelap. Kris juga memakaikan jaketnya pada tubuh mungil itu agar tubuhnya tetap merasa hangat. Sejujurnya Kris ingin menemani Tao dirumah sakit, tapi membiarkan Kyungsoo pulang sendiri akan sangat berbahaya, mengingat kondisi Kyungsoo yang seperti sekarang ini. Menelpon Baekhyun untuk menjemput Kyungsoo? Kris rasa namja itu sedang asik pacaran pada jam-jam ini.

Saat membuka pintu apartemen, Kris melihat Baekhyun yang sedang menonton tv ditemani oleh Ryeowook dan setoples kacang yang kulitnya berserakan dimana-mana. Melihat Kris yang sedang menggendong Kyungsoo, Ryeowook segera menghampiri keduanya dengan perasaan khawatir. Disususl Baekhyun yang kini berdiri di samping Ryeowook.

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Ryeowook dengan raut gelisah.

"Dia tertidur di mobil saat pulang tadi Hyung, kau tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan begitu." Nasehat Kris.

Namja tinggi itu berjalan menuju kamar Kyungsoo dan menidurkan Kyungsoo diatas ranjangnya dengan motif spray pororo. Kris menaikkan selimut hingga sebatas leher, dia tidak membiarkan dongsaeng kecilnya itu kedinginan.

"Kris, bisakah kita bicara sebentar? Ini mengenai kondisi Kyungsoo." ucap Ryeowook.

Kris menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kris keluar dari kamar Kyungsoo setelah mengcup puncak kepala Kyungsoo –kebiasaan Kris–, namja itu memantikan lampu kamar Kyungsoo dengan lampu tidur yang sedikit temaram. Ya, Kyungsoo memang tidak menyukai gelap.

"Apa yang ingin kau bicarakan Hyung?" Tanya Kris saat bergabung bersama Baekhyun dan Ryeowook di ruang tangah.

"Ini mengenai Kyungsoo." lirih Ryeowook.

"Hyung apa kau berhasil membujuknya?" pertanyaan dari Baekhyun dengan dijawab gelengan kepala oleh Ryeowook.

Baekhyun menghela nafas panjang, mata bereyelinernya menatap lantai dengan pandangan kosong. Dia sudah berkali-kali mencoba untuk membujuk Kyungsoo, namun selalu berakhir dengan sebuah penolakan dengan Kyungsoo yang selalu berkata 'Anggap saja ini sebagai penebus sebuah dosa.' Entah apa yang dipikirkan oleh namja mungil yang kini sedang terlelap di kamarnya itu. Sifat keras kepalanya entah menurun dari siapa, karena setahu Baekhyun mendiang orang tua Kyungsoo merupakan sosok yang ramah dan lemah lembut.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Baekhyun frustasi. "Aku tidak ingin kehilangan dia secepat ini." lanjutnya.

"Aku tidak tau, kita tidak bisa memaksanya."

"Lalu kau akan membiarkannya mati begitu? Tidak Hyung, aku tidak akan melepaskannya begitu saja!" ucap Baekhyun setengah berteriak.

"Sopanlah sedikit Byun! Bagaimanapun kami lebih tua darimu!" ingat Kris.

Tanpa mereka sadari, sosok mungil yang tengah memperdebatkan dirinya. Sebulir kristal bening meluncur begitu saja dari kedua mata bulatnya, padangannya semakin terasa tidak jelas karena kacamata yang biasa bertengger di hidungnya berada di atas nakas.

"Mianhae Hyungdeul, tapi ini adalah keputusanku. Suatu saat nanti kalian akan mengerti mengapa aku memilih jalan ini." isaknya.

.

.

^^^^vvvv^^^^

.

.

Kris sedang mendorong kursi roda Tao, hari ini namja panda itu diperbolehkan untuk pergi keluar untuk menghirup udara segar. Kris membantu Tao untuk duduk di salah satu bangku yang berada di bawah pohon, merasakan segarnya udara siang dengan matahari yang tidak terlalu terik.

"Kau menyukainya?" suara berat Kris menginterupsi kegiatan Tao yang sedang melamun.

Tao menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kris merasa ada sedikit keganjilan yang trjadi pada diri 'baby pandanya' ini.

"Baby, kau kenapa hem?" Kris menarik tubuh kurus Tao kedalam pelukannya, menepelkan kepala namja itu di dada bidangnya.

"Aniya," jawabnya singkat. Kris menyerit heran, mengapa Tao begitu dingin padanya?

"Baby, ada apa denganmu?" kali ini Kris menangkup kedua pipi tirus Tao, sedikit memaksa namja panda itu untuk menatapnya.

"Aku tidak apa-apa ge, percayalah." Ucap Tao menipis kedua tangan Kris yang justru membuatnya semakin heran.

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Kris peuh selidik.

Tao menghela nafas panjang. Selalu saja seperti itu, Tao benci tatapan penuh kecurigaan Kris.

"Tidak ada yang perlu ku sembunyikan darimu, ge."

"Tapi matamu berkata lain baby," kekeuh Kris.

"Aku ingin kembali ke kamar ge, bisakah kau membantuku?" Tao berusaha mengalihkan pembicaraan. Sudah ia duga, Kris memang tidak semudah itu di bohongi.

"Jika kau ada masalah, ceritakan saja pada gege, Baby. Jangan memendamnya sendiri." Ucap Kris sambil meremat kedua tangan Tao.

"Aku tidak yakin kau akan menyetujuinya. Tapi, aku ingin kita cukup sampai disini saja, ge."

DUARR

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Kris begitu terkejut dengan perkataan Tao barusan. Apa yang dia katakan? Ia ingin mengakhiri semuanya sampai disini? Apa alasannya? Mengapa tiba-tiba dia berkata seperti itu?

Beribu pertanyaan memenuhi pikiran Kris. Dia tidak menyangka jika namja yang duduk disampinganya kini memiliki pemikiran untuk meninggalkan Kris.

"Wae?" Tanya Kris lemah.

"Karena aku memang tidak pantas untumu ge, kau terlalu sempurna untuk namja sepertiku."

"Apa yang kau bicarakan? Jangan pernah berbicara seperti itu, gege mencintaimu. Kau sempurna untukku Tao." sergah Kris.

Tao memejamkan matanya sejenak, namja itu sedang berusaha melawan gejolak yang ada dalam dirinya. Sebenarnya ia juga tidak menginginkan keputusan bodoh yang diambilnya saat ini, tapi mungkin itu lah jalan yang terbaik untuknya dan Kris.

"Aku cacat ge, apa kata orang nanti jika kau memiliki seorang kekasih cacat. Dan terlebih aku ini namja." Tao menelan ludahnya sudah payah. Ya, kakinya sebelah mengalami patah tulang parah, sehingga kecil kemungkinan untuknya dapat berjalan normal seperti dulu.

"Jangan berbicara seperti itu Peach, gege mohon." pinta Kris.

"Aku cacat ge? Apa yang kau harapkan dari pemuda cacat sepertiku?!" nada suara Tao sedikit meninggi, membuat Kris menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Apakah ini Tao-nya?

"Apa yang kau harapkan dari namja cacat sepertiku? Hiks… Untuk memenuhi kebutuhanku saja aku membutuhkan orang lain, apa yang… Hiks… kau harapkan dariku?" bahu Tao bergetar hebat. Dia menangis dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya. Tidak, seharusnya dia tidak menangis seperti ini, bukankah ini keputusan yang telah dia ambil?

"Gege mohon padamu Baby, jangan pernah berkata sepeti itu lagi." Kris kembai menarik Tao kedalam pelukannya, namja panda itu sama sekali tidak menolak. Dia membiarkan Kris mendekap tubuhnya.

"Mianhae ge, tapi tolong hargai keputusanku."

Kris mengendurkan pelukannya. Keputusan Tao sudah final, dan Kris dengan berat hati harus menerima apapun keputusan yang dipilih oleh Tao. Hei, bukankah Kris sering berjanji untuk mengabulkan semua keinginan Tao saat namja itu masih dalam keadaan koma? Dan mungkin ini saatnya bagi Kris untuk menepati janjinya.

"Ne, jika itu keinginanmu, gege tidak bisa berbuat banyak. Tapi bolehkan gege meminta satu hal darimu?"

"Apa?" Tanya Tao dengan wajah yang masih penuh dengan air mata.

"Jangan meminta gege untuk menjauh darimu."

~TBC~

Annyeong, mian Rei lagi-lagi update telat huhuhu T-T ini dikarenakan para dosen yang doyan nyiksa mahasiwanya dengan tugas seabreg yang ga nanggung-naggung :'(

Oh iya, Rei juga minta maaf atas ke-plinplanan sikap Kyungsoo dan Kai dalam ff ini. itu di karenakan Rei yang moody ditambah ya itu tadi, tugas yang segudang itu.

Rei juga minta maaf jika epep ini semakin ngawur jalan ceritanya dan semakin ga masuk akal, semakin geje deelel. Hontauni Gomenasai*deepbow

Sekarang identitas Kyung yang asli udah kebongkar #ketawa geje. Terus soal perasaan si Kkamjong, mungkin Rei bakal jelasih di chap selanjutnya beserta beberapa alasan kenapa sikapnya si Jongong bisa beruba-ubah kaya bunglon gitu… #itu kan karena elu Rei #ditoyor Jongin.

Terus buat 'Nae' itu kata temen Rei artinya 'Iya'. Gomen jika menimbulkan kesalahan persepsi :D sekian cuap-cuap dari Rei #padahal cape ngetik-_- buat next chap rei bakal usahain buat lebih cepet lagi updatenya. Dan Rei juga mau promo epepnya BaekSoo yang tinggal namatin, nyeheheh…

Nah, Ripiu dari reader-sama sekalian masih Rei tunggu. Dan buat yang udah ngasih ripiu di chap sebelumnya, Rei ucapin makasih banyak… Love You all muahhh…