Annyeong~~
Rei datang lagi membawa ff abal milik Rei. fic ini terisnpirasi dari lagunya yang 'Beautiful Day' lagunya JLEBB banget#malah curhat -_-
Ok, sekian cuap-cuap dari Rei. Cha~~ selamat membaca. Eh satu lagi tinggalkan jejak setelah membaca.. :3
.
.
Typo(s) merupakan hal yang sangat manusiawi.. :3 kkkk~~
.
.
Dislike, don't read! Simple?! Okk…
.
Tanpa mereka sadari, sosok mungil yang tengah memperdebatkan dirinya. Sebulir kristal bening meluncur begitu saja dari kedua mata bulatnya, padangannya semakin terasa tidak jelas karena kacamata yang biasa bertengger di hidungnya berada di atas nakas.
"Mianhae Hyungdeul, tapi ini adalah keputusanku. Suatu saat nanti kalian akan mengerti mengapa aku memilih jalan ini." isaknya.
^^^^vvvv^^^^
Chap 9
^^^^vvvv^^^^
Keadaan kelas pagi itu masih sepi, hanya ada beberapa orang yang kini tengah sibuk mencontek PR. Setelah menyimpan tasnya, Kyungsoo berniat untuk mengunjungi perpustakaan, yang entah mengapa menjadi agenda wajib yang harus dilakukannya setiap pagi. Namja bermata bulat itu berjalan perlahan meninggalkan beberapa orang yang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing tanpa mempedulikan kehadiran Kyungsoo, Kyungsoo hanya bisa menghela nafas panjang. Baginya keadaan seperti ini sudah biasa, bahkan selama hampir dua tahun sekolah disini, dia tidak memiliki teman kecuali Baekhyun dan Tao.
SRET
Kyungsoo hampir saja menjerit saat seseorang menariknya begitu dia sampai di ambang pintu.
"Ada yang ingin aku biacarakan denganmu." Ucap orang yang menarik tangan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya diam, mengikuti langkah lebar namja yang kini berada di depannya. Jantung Kyungsoo berdetak sangat cepat, mata bulatnya memandang lekat tangan yang menggenggam erat pergelangan mungilnya. Kai. Ini adalah kali pertamanya Kai mau menyentuhnya dalam keadaan sadar.
Kai membawanya keatap sekolah, namja tan itu membalikkan badannya tanpa melepas genggamannya. Kai menatap Kyungsood engan pandangan yang sulit diartikan, membuat namja mungil yang berdiri didepannya menunduk takut.
"Hei, tatap aku!" ucap Kai lembut.
Tangannya yang bebas mengangkat dagu Kyungsoo, sedikit memaksa Kyungsoo untuk menatapnya. Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke segala arah, kemana saja asal tidak mata Kai.
"Tatap aku," kali ini Kai menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua tangannya.
"A-apa yang—
"Mianhae, jeongmal mianhae Do Kyungsoo." Potong Kai.
Kyungsoo menyeritkan dahi, pertanda bahwa dia sedang bingung. 'Maaf? Untuk apa? Apa dia sedang mabuk?' banyak pertanyaan yang berputar di kepala Kyungsoo. Oh ayolah, ini masih terlalu pagi untuk memikirkan permintaan maaf Kai yang terkesan aneh dan … mendadak.
CHU~
Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirnya, otaknya masih mencerna apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Merasa tidak mendapatkan respon dari Kyungsoo, Kai memberanikan diri untuk menggerakan bibirnya secara perlahan.
Kyungsoo yang sadar dengan apa yang dilakukan Kai padanya, mendorong kasar bahu Kai agar menjauh. Kyungsoo menatap nyalang Kai dengan nafas yang memburu, potongan-potongan memori saat Kai memperkosanya dulu, berputar cepat seperti kaset film rusak diputar paksa di otaknya. Kyungsoo terduduk di atas lantai kotor, entah mengapa otot kakinya tiba-tiba melemas.
"M-mianhae, a-aku ti—
"Berhenti!" titah Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya.
Namja mungil itu membenamkan kepalanya diantara kedua lutut yang dia peluk. Bahunya terlihat naik turun, menandakan bahwa dia sedang menangis. Perasaan bersalah semaakin menumpuk di benak Kai, niatan awalnya hanya ingin meminta maaf kepada Kyungsoo dan meminta Kyungsoo untuk memberikannya kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya, memulai lagi dari awal.
"Mianhae Kyung. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini, sungguh." Kai berusaha meyakinkan namja mungil yang ada dihadapannya.
"…"
"Aku tau caraku ini salah, aku tidak tahu harus memulainya dari mana, Kyung"
"…"
Kyungsoo tetap tidak bergeming, namja mungil itu tetap pada posisinya semula. Sejujurnya Kyungsoo ingin sekali mengatakan bahwa dia sudah memaafkan Kai sebelum namja tan itu meminta maaf padanya. Namun perbuatan Kai tadi, trauma yang selama ini dia tahan ketika berdekatan dengan namja tan itu runtuh sudah. Hanya karena sebuah ciuman.
"Kumohon maafkan aku Kyung." namja tan itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Kyungsoo yang masih menenggelamkan wajahnya diatara kedua lututnya.
"Aku sudah memaafkanmu, bisakah sekarang kau tinggalkan aku?" jawab Kyungsoo nyaris menyeruapai bisikan, dia masih belum bisa mengontrol emosinya.
Kai memandangi Kyungsoo dengan tatapa nanar, entah mengapa dadanya terasa sesak saat melihat keadaan Kyungsoo yang seperti ini. Apakah dia mulai mencintai namja mungil itu? Jika iya, mengapa rasa itu datang disaat seperti ini? Saat waktu yang ia miliki untuk tetap bersama Kyungsoo hanya tinggal hitungan bulan. Bom waktu yang ada didalam tubuh Kyungsoo bisa meledak kapan saja, tanpa ia atau Kyungsoo ketahui.
Bulir bening perlahan turun membentuk anak sungai yang mengalir bebas di kedua pipi tan Kai tanpa dapat di cegah, tangan kekarnya mennarik Kyungsoo kedalam dekapannya. Kyungsoo meronta meminta Kai untuk melepaskan pelukannya. Namun bukannya melepaskan pelukannya, Kai justru semakin erat memeluk tubuh mungil Kyungsoo, seolah Kyungsoo akan pergi jika ia mengendurkan sedikit saja pelukannya.
'Maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku padamu Kyung.' batin Kai.
Tangan Kai mengusap lembut punggung sempit Kyungsoo, posisi mereka tidak berubah sma sekali sejak beberapa menit yang lalu. Kyungsoo yang berada dalam pelukan Kai pun sudah mulai tenang, hanya isakan-isakan kecil yang sesekali terdengar oleh telinga Kai.
Keheningan masih menyelimuti keduanya, Kyungsoo tak kunjung membuka mulutnya walaupun Kai sudah berulang kali meminta maaf padanya. Entah apa yang ada dalam pikiran namja mungil itu, semuanya terasa begitu cepat, bahkan terlalu cepat. Perubahan Kai yang berbanding 180◦ dengan Kai yang selalu berbuat kasar kepadanya.
"Ugh…" erang Kyungsoo sambil mencengkram kepalanya kuat, entah mengapa kepalanya tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
Kai yang merasakan pergerakan dari Kyungsoo sedikit melonggarkan pelukannya untuk melihat namja mungil yang ada di dekapannya. Alangkah terkejutnya Kai saat mendapati wajah pucat Kyungsoo seperti sedang menahan sakit.
"Kyung. Kyungsoo, gwaenchana?" tanya Kai panik. Kepanikan Kai semakin bertambah saat ia melihat darah segar yang merembes dari hidung Kyungsoo.
"YA! Kyungsoo, Kyungsoo gwaenchana?" tanya Kai sambil menepuk-nepuk pelan pipi Kyungsoo.
Kyungsoo masih bisa mendengar teriakan Kai yang terus memanggil namanya, namun rasa pening yang menghantam kepalanya membuat dia tidak sanggup untuk sekedar membuka mata. Kai semakin panik saat kedua mata Kyungsoo yang mulai mentup. Kyungsoo tak sadarkan diri. Kai menggendng Kyungsoo ala bridal style dan berlari secepat yang ia bisa menuju ruang kesehatan yang berada di lantai satu.
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Kai memandagi Kyungsoo yang masih terlelap diatas ranjang, namja tan itu sengaja membolos dengan alasan ingin menjaga Kyungsoo di ruang kesehatan. Kai tersenyum miris saat melihat betapa kurusnya namja mungil yang masih enggan membuka matanya. Kulitnya yang putih terlihat semakin pucat, Kai juga bisa melihat lingkaran hitam samar yang mengelilingi mata bulat Kyungsoo.
Separah itukah penyakit yang menyerang tubuh mungil itu? Apakah Kai sanggup meyakinkan Kyungsoo jika kesempatan hidup untuknya masih ada? Apakah ia benar-benar sudah terlambat untuk memulai segalanya dari awal? Apakah Tuhan masih memberikan waktu untuk Kai memperbaiki semua kesalahannya pada Kyungsoo?
Kai mengusap wajahnya kasar, ribuan pertanyaan dan kemungkinan buruk tentang Kyungsoo berputar cepat di kepalanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
CKLEKK
Kai menolehkan kepalanya kearah pintu, dilihatnya Baekhyun yang sedang memegang gagang pintu dengan nafas kacau. Sepertinya namja mungil sepupu Kyungsoo itu berlari untuk cepat sampai kesini.
"Kai… haaahh~~ hah~~ bagai—
"Benarkan dulu cara bernafasmu Hyung, baru bicara." Ingat Kai. Namja tan itu kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil yang masih terbaring di ranjang.
"Kyungsoo mimisan lagi, tapi Saem bilang dia tidak apa-apa." Ucap Kai seolah dapat membaca pikiran Baekhyun.
Bakhyun berjalan cepat mendekati Kai yang duduk di samping Kyungsoo, namja mungil pecinta eye liner itu mencengkram kuat kerah baju Kai.
"Tidak apa-apa kau bilang?" tanya Baekhyun berang.
"Aku memintamu untuk menjaganya, membantuku, meyakinkan dia untuk kembali berobat bukan membuatnya menjadi seperti ini Kim Jongin!" lanjut Baekhyun.
"Bukankah semalam kau sudah berjanji padaku bahwa kau ingin melindungi Kyungsoo? Dan sekarang apa yang kau lakukan padanya? Kau—
"Ini semua diluar rencanaku Hyung! Aku juga tidak tahu jika akan seperti ini jadinya." Bela Kai.
"Eungh…"
Lenguhan lemah Kyungsoo menghentikan perdebatan kecil yang terjadi antara Kai dan Baekhyun, membuat Baekhyun melepaskan cengkramannya dikerah baju Kai.
"Kyungie, gwaenchana? Mana yang sakit saengie, katakana padaku?" tanya baekhyun panik.
Kyungsoo mengerjapngerjapkan matanya bingung, seingatnya ia sedang berada di atap sekolah bersama Kai. Lalu mengapa sekarang dia berada di ruang kesehatan? Apakah Kai yang membawanya kemari?
"Nan Gwaenchana Hyung." Jawab Kyungsoo denga suara serak.
"Tapi tadi kau pingsan dan mimisan," kekeuh Baekhyun.
Kyungsoo menarik nafas panjang, Baekhyun akan semakin cerewet jika overprotectivenya sedang kambuh. Kyungsoo bahkan sudah kebal dengan berbagai pertanyaan dan ceramah gratis dari Baekhyun, namja pecinta eyeliner itu tidak akan berhenti mengoceh sampai Kyungsoo tertidur. Dan sepertinya Kyungsoo harus mempersiapkan ceramah pagi harinya dari Baekhyun.
"Pakai saja ini jika kau malas mendengar ocehan namja pendek ini!" seolah mengerti apa yang Kyungsoo rasakan, Kai menyodorkan ponsel serta earphone miliknya pada Kyungsoo.
"Ya! Kurang ajar kau Kim Jongin!" protes Bakhyun tidak terima. Namja pecinta eyeliner itu memukul lengan Kai dengan membabi buta.
Kyungsoo tersenyum tipis saat melihat pertengkaran kecil yang terjadi antara Baekhyun dan Kai. Walaupun pandangannya sedikit buram karena kaca mata yang biasa dia gunakan berada di atas nakas obat, namun dia bisa merasakan jika Baekhyun tidak sepenuhnya serius dengan pukulan membabi butanya pada Kai.
'Semoga apa yang kalian harapkan menjadi kenyataan Kai, Baekhyun Hyung. Walaupun nantinya aku tidak bisa lagi melihat kalian.' Batin Kyungsoo miris.
"Ya! Hyung, hentikan!" bentak Kai.
"Ya, berani kau membentakku Kim Jongin?" ucap Baekhyun dengan berkacak pinggang.
"Kalian berdua lucu, seperti anak kecil!" kekeh Kyungsoo.
"Ya! Yang anak kecil itu kau, Kyungie. Aishh… jinja!" erang Baekhyun frustasi. Baekyun mengusap wajahnya kasar, jika Kyungsoo sudah berkata seperti itu berarti sifat kekanakan Baekhyun memang sudah melampaui batas.
"Tapi itu karena aku khawatir padamu Kyung." bela Baekhyun.
"Aku tahu Hyung, gomawo."
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Sore itu hujan deras mengguyur kota Seoul, sekolah sudah mulai sepi karena bel pulang sudah berbunyi beberapa jam yang lalu. Hanya tertinggal beberapa orang yang mengikuti ekstrakulikuler yang masih berada di sana, termasuk Kyungsoo. Entah mengapa namja mungil itu merasa malas untuk pulang tepat waktu, berdiam di sekolah untuk beberapa jam kedepan tidak salah kan? Lagi pula di luar sana saat ini hujan masih deras, tidak mungkin dia memaksakan diri untuk pulang.
Langkah kecilnya terhenti di depan gerbang, ia menolehkan kepalanya ke arah papan pengumuman. Diantara banyaknya pengumuman yang tertempel di sana, hanya satu yang menarik perhatian namja bermata bulat itu. Sebuah kertas putih bertuliskan jadwal ujian yang akan di laksanakan minggu depan.
"Haahh~ minggu depan sudah ujian, berarti waktu yang ku miliki semakin menipis," ucap Kyungsoo sambil tersenyum getir.
Namja bermata bulat itu menyingkap lengan jaket abu-abu yang ia kenakan hingga sebatas siku, Kyungsoo tersenyum miris saat mata bulatnya melihat beberapa tanda kebiruan yang menghiasi kulit pucatnya. Bahkan kini jumlahnya semakin banyak.
Entah apa yang bisa membuat Kyungsoo bertahan selama ini, padahal dulu dia sempat tidak yakin akan bertahan lebih dari dua bulan. Mata bulatnya menatap sekeliling. Hujan sudah mulai reda, menyisakkan rintik-rintik air yang masih dengan senang hati membasahi bumi. Kyungsoo memutuskan untuk pulang sebelum hujan kembali deras, namja mungil itu berniat pulang menggunakan bus. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menggunakan jasa transportasi umum itu.
"Kau belum pulang?"
Sebuah suara dari belakang menghentikan langkah Kyungsoo, namja bermata bulat itu menoleh ke belakang. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum saat dia melihat Kai yang berlari kecil menghampirinya.
"Iya, kau sendiri?" tanya Kyungsoo.
"Aku habis latihan dance, lomba dance akan diadakan setelah ujian." Jawab Kai yang hanya di tanggapi anggukkan kepala oleh Kyungsoo.
"Kau pulang sendiri?" tanya Kai lagi.
"Ya, begitulah." Jawab Kyungsoo seadanya.
"Mau ku antar?" tawar Kai.
"Tidak perlu, ku bisa pulang dengan bus." Tolak Kyungsoo sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo, aku tidak menerima penolakan!"
Kai menarik tangan Kyungsoo menuju parkiran, memaksa namja bertubuh mungil itu mengikutinya dari belakang. Kyungsoo memandangi pergelangan tanganya yang sedang di genggam erat oleh Kai. Hangat. Entah mengapa Kyungsoo merasakan kehangangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Eng… Kai," cicit Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya.
"Ne, ada apa?" tanya Kai tanpa menolehkan kepalanya.
"B-bagaimana kabar Taoie? Semenjak kejadian itu aku tidak pernah melihatnya lagi."
Kai tiba-tiba menghentikan langkahnya, Kyungsoo yang sedari tadi berjalan menunduk menabrak punggung kokoh namja tan yang berada di depannya.
"Appo…" ringis Kyungsoo sambil mengusap kepalanya.
"Setelah keluar dari rumah sakit, dia kembali ke China untuk menjalani pengobatan kakinya. Entah kapan ia akan kembali ke sini, bahkan aku tak yakin jika ia mau kembali ke sini." Jelas Kai.
Raut wajah Kai berubah sendu, namja tan itu menatap tanah dengan tatapan kosong.
"Mian, aku tidak—
"Sudahlah. Sebaiknya kita segera pulang, hari sudah semakin gelap." Ucap Kai kembali menarik tangan Kyungsoo menuju mobil sport milik Kai.
'Mianhae Taoie, aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya langsung. Hah~ berikan aku kesempatan untuk itu Tuhan.' Lirih Kyungsoo.
"Ah, ya aku melupakan sesuatu." Ucap Kai tiba-tiba.
"Apa?" tanya Kyungsoo.
"Masuklah dulu, aku hanya ingin membicarakan ini berdua denganmu saja."
Deg deg deg deg
Jantung Kyungsoo berpacu dua kali lebih cepat. Apa yang akan Kai bicarakan padanya? Batin Kyungsoo.
"Masuklah, sepertinya hujan akan turun lagi." Perkataan Kai membuyarkan lamunana Kyungsoo, namja mungil itu segera duduk di kursi penumpang yang berada di samping Kai.
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
"Aku pulang!" teriak Baekhyun lemah begitu dia membuka pintu, namja pecinta eyeliner itu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Namja itu melangkah gontai menuju dapur, gurat kelelahan terlihat sekali di wajah baby facenya.
"Kau pulang sendiri? Kyungsoo dimana?" tanya seseorang dari arah belakang.
"Ne, Hyung. Kyungsoo bilang dia ada sedikit urusan." Jawab Baekhyun lemah.
"Baekhyunie, gwaenchana?" tanya Ryeowook.
Anak sulung dari keluarga Do itu berjalan mendekati Baekhyun, menempelkan sebelah tangannya di dahi Baekhyun. Berniat mengecek suhu tubuh namja mungil yang yang sudah menjaga adiknya selama hampir dua tahun.
"Apa yang kau lakukan Hyung?" tanya Baekhyun heran.
"Aku hanya mengecek suhu tubuhmu, Baek." Jawab Ryeowook sambil menurunkan tangannya.
"Aku hanya merasa lelah Hyung, mungkin setelah tidur aku akan merasa baikan."
"Tidurlah di kamar Kyungsoo, kamar tamu belum aku bereskan."
Ucapan Ryeowook hanya di tanggapi anggukkan kepala oleh Baekhyun. Entah mengapa hari ini ia merasa tubuhnya lemas, bahkan tingkah konyol Chanyeol di sekolah hanya di tanggapi oleh senyum lemah dari Baekhyun, membuat namja jangkukng itu sedikit frustasi menghadapi Baekhyun.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Ryeowook entah pada siapa.
Baekhyun menghempaskan tubuhnya kasar keatas kasur. Nyaman. Itulah yang Baekhyun rasakan saat ini. Baekhyun mencoba memejamkan kedua matanya, bersiap untuk menuju alam mimpi.
Ah, ya. Tadi siang Baekhyun mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali karena terlambat beberapa menit saat pelajaran olahraga. Salahkan saja pintu toilet yang tiba-tiba macet saat namja pecinta eyeliner itu mengganti pakaiannya di sana, atau mungkin ini memang hari sial bagi Baekhyun? Entahlah.
"Dasar saem kurang kerjaan!" umpat Baekhyun sebelum ia benar-benar terlelap.
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Keheningan masih menyelimuti kedua namja berbeda usia itu, keduanya masih tetap bungkam. Sepertinya diantara mereka tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Kai terlihat fokus di kursi kemudi, sedaang Kyungsoo, namja mungil itu lebih memlilih melihat keindahan jalanan Seoul dambil terus menerka-erka apa yang akan Kai katakan padanya.
"Hah~" namja mungil itu hanya bisa menghela nafas panjang. Kesal? Tentu saja, bukankah tadi namja tan itu bilang jika ada yang ingin dia bicarakan dengan Kyungsoo?
"Kau bosan?" tanya namja tan itu dengan sedikit menoleh kearah Kyungsoo.
"E-eh?" kaget Kyungsoo.
"Apa kau bosan?" ulang Kai.
"Eh? Aniya." Jawab Kyungsoo sambil menggelengkan kepala.
"Kau tau apa yang Tao katakan sebelum dia pergi?" perkataan Kai sukses merebut perhatian Kyungsoo sepenuhnya. Namja bermata bulat itu kini mengalihkan pandangannya pada Kai yang masih memandang lurus ke depan.
"Dia hanya ingin kau berjuang melawan penyakitmu, dia ingin kau sembuh Kyung!" ucap Kai.
"Tapi semua sudah terlambat Kai," lirih Kyungsoo.
"Kau egois Kyung! Kau hanya memikirkan perasaanmu. Tidak kah kau memikirkan perasaan orang-orang disekitarmu, mereka yang mengorbankan segalanya hanya untuk memberikan dukungan untukmu. Tidakkah kau berfikir bagaimana kecewanya mereka saat melihat kau menyerah seperti ini? Apa ini balasanmu atas semua pengorbanan yang telah mereka lalukan untukmu?" namja tan itu memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Mianhae jika akulah yang menyebabkanmu menjadi seperti ini, menghancurkan semua mimpi indah yang telah kau tata rapi. Aku telah berusaha semampuku untuk mengembalikan apa yang telah ku rebut darimu, walaupun kenyataannya aku tidak akan pernah bisa mengembalikannya."
"Kau tidak akan pernah tau apa yang ku hadapi, Kai. Semua tak sesederhana itu, ada alasan lain yang membuatku memutuskan untuk menyerah. Dan mengenai itu, bukankah kau sudah meminta maaf padaku beberapa bulan lalu di atap?" jawab Kyungsoo dengan suara lirih.
"Berada di dekatmu selama hampir tiga bulan ini ternyata belum cukup untuk mengetahui siapa dirimu, terlalu banyak rahasia yang kau simpan sendiri. Jika saja ini bukan permintaan Tao untuk menjagamu, mungkin aku sudah menyerah, kau terlalu sulit untuk ku mengerti Kyung." keluh Kai.
Kyungsoo tersenyum miris. Ya, dirinya memang bukan tipe orang yang terbuka seperti Baekhyun, atau seperti Ryeowook yang selalu bisa menyelesaikan semua masalahnya. Kyungsoo menanggungnya sendiri, dan itu memang sudah terjadi sejak lama.
"Mian, tapi aku sudah terlalu lelah Kai. Aku lelah dengan takdir yang Tuhan berikan padaku, aku lelah terus-terusan dihantui rasa bersalah. Kau tidak tau bagaimana tersiksanya aku selama ini, aku lelah Kai. Hiks…" satu isakan lolos dari heart lips Kyungsoo. Bahu namja mungil itu terlihat bergetar, dia benar-benar menangis.
Kai menepikan mobilnya di pinggir jalan. Namja tan itu meraih tubuh Kyungsoo kedalam dekapannya, tangan besarnya mengusap lebut punggung sempit Kyungsoo. Mencoba untuk menyalurkan kenyamanan pada namja mungil yang masih terisak di dalam pelukannya.
"Lepaskan semuanya jika kau lelah Kyung! Ada aku disini." bisik Kai.
"Aku lelah dengan takdirku, Kai. Jika Tuhan memberikanku pilihan, aku tidak ingin terlahir di keluarga Do. Waktu kecil aku selalu bertanya pada Eomma 'Eomma, apakah aku punya Appa?' atau 'dimana Appaku Eomma?' Hiks… Dan saat aku tau siapa Appaku, apa yang harus ku hadapi selanjutnya? Ternyata Appaku sudah memiliki istri dan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun di atasku, dia adalah Wookie Hyung. Selanjutnya pertengkaran hebat terjadi diantara Appa dengan istri pertamanya, dan itu hampir terjadi setiap hari. Hingga akhirnya, Kibum Eomma memutuskan untuk bercerai dan pergi ke Eropa bersama Ryeowook Hyung. Saat itu aku belum mengerti apa-apa, yang ku tau bahwa sekarang aku memiliki Appa dan aku bahagia."
Kai semakin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo. Entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar semua perkataan yang keluar dari heart lips Kyungsoo. Dia tidak pernah menyangka jika kehidupan namja mungil itu serumit ini.
"Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Satu setengah tahun yang lalu, Appa dan Eommaku meninggal karena kecelakaan. Dunia hancur saat itu. Appa, kebahagiaan, kasih sayang, keluarga, semuanya lenyap bersama abu kedua orang tuaku. Dan saat itu aku harus menerima kenyataan bahwa sebenarnya Eommakulah yang menjebak Appa untuk tidur bersamanya hingga hamil, dan secara tidak langsung akulah yang menghancurkan kehidupan Wookie Hyung dan Kibum Eomma. Ku pikir Wookie Hyung dan Kibum Eomma akan membenciku, tapi aku salah, mereka mengajakku untuk tinggal bersama di sana. Aku cukup tau diri, kehadiranku disana hanya akan menambah rasa sakit di hati Kibum Eomma. Hiks…" isak Kyungsoo saat ia mengakhiri ceritanya.
"Jadi anggaplah semua ini sebegai hukuman Tuhan atas dosa yang telah di lakukan oleh Eommaku." Lirih namja mungil itu, lagi.
"Mian, aku tidak tau jika hidupmu serumit itu Kyung." Bisik Kai sambil mengusap pelan punggung sempit Kyungsoo.
Keheningan kembali menyelimuti keduanya, hanya isakan kecil yang sesekali terdengar. Kai masih mendekap erat tubuh mungil Kyungsoo, seolah Kyungsoo bisa hilang jika ia melepaskan pelukannya.
'Aku tidak bisa lagi memaksamu, kau kehilangan impianmu karena aku. Tapi kumohon, berikan aku sedikit waktu untuk membahagiakanmu Kyung!'
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Kris kosong layar komputer yang masih menyala di depannya, kepulangan Tao membawa dampak besar bagi seorang Wu Yifan. Tidak ada satupun tugas kuliah yang dia kerjakan, bahkan namja yang memiliki julukan naga itu lebih sering membolos kuliah.
Kris mengusap kasar wajahnya, baying-bayang wajah Tao tak pernah hilang dari pikirannya barang sedetikpun. Zitao, Huang Zitao. Hanya nama itulah yang ada diotak Kris sekarang.
"Baby, gege mohon kembalilah. Aku merindukanmu." Lirih Kris entah pada siapa.
Drrrrttt drrrttt drrttt
Pandangannya beralih pada ponsel hitamnya yang bergetar di atas meja. Kris hanya menatap benda itu dengan tatapan kosong, tidak ada sedikitpun niatan untuk mengangkat panggilan masuk yang entah dari siapa. Kris tidak peduli.
Namja jangkung itu beranjak dari duduknya, ia merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur king sizenya. Semenjak kepergian Tao, Kris memutuskan untuk tinggal bersama Baekhyun. Tidak, Kris tidak membenci Kyungsoo. Hanya saja terlalu banyak kenangan yang terjadi antara dia dan Tao di apartemennya dan Kyungsoo, Kris hanya ingin sedikit melupakan namja panda yang kini berada di China. Meski nyatanya, dia tidak bisa.
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Kai memandangi wajah Kyungsoo yang terlelap di kursi penumpang, namja mungil itu tertidur setelah menangis hebat di pelukan Kai. Jejak air mata masih terlihat di pipi tirus Kyungsoo. Kai memperhatikan secara detail namja mungil yang sedang terlelap itu, wajah pucat dengan lingkaran hitam yang mengelilingi mata Kyungsoo semakin terlihat jelas. Pipi tirus dan tubuhnya yang semakin hari semakin kurus.
Tangan Kai bergerak dengan sendirinya membelai surai hitam Kyungsoo. Hangat. Lagi-lagi perasaan itu mungcul saat dia hanya berdua dengan Kyungsoo, ingat hanya berdua.
"Mungkin terlambat untuk mengungkapkan perasaanku padamu, Kyung. Tapi aku yakin, jika suatu hari nanti kau akan bahagia bersamaku. Itu pasti."
CHU~~
Kecupan singkat di dahi Kyyungsoo menjadi penutup pertemuan Kai dengan Kyungsoo hari ini. Namja tan itu menadangi sejenak wajah Kyungsoo yang masih terlelap, sepertinya dia sama sekali tidak terganggu oleh apa yang Kai lakukan padanya barusan. Kai turun dari mobil kemudian memutar arah menuju kursi penumpang.
"Badanmu akan sakit jika kau tidur disini. Jadi, ijinkan namja tampan ini membawamu ke kamar. Gadis permenku."
Kai terkekeh geli dengan perkataannya sendiri. Gadis permen. Panggilan sayangnya untuk mahluk yang kini tengah tertidur di pangkuannya. Tersisip sedikit rasa penyesalan di hati namja tan itu, mengapa dia tidak menyadari ketulusan dari namja yang kini berada di pangkuannya? Yang lebih membuatnya menyesal adalah sikapnya selama ini pada namja mungil itu. Tidak seharusnya dia memandang rendah Kyungsoo, menyiksa Kyungsoo dengan berbagai kejahilan yang saat itu membuatnya puas, dan tidak seharusnya dia merebut impian yang telah namja mungil bermata bulat itu susun sebelumnya.
Hah. Seandainya saja ia bisa kembali kewaktu itu, waktu dimana dia terus mengabaikan keberadaan Kyungsoo, bahkan menganggap namja mungil itu tidak ada. Seandainya saja ia mengenal Kyungsoo lebih awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin Kyungsoo masih bisa bertahan hingga beberapa tahun kedepan, atau bahkan sembuh total. Tapi semua itu telah terjadi, berandai-andai tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Namja tan itu sedikit kesusahan saat akan menekan bel apartemen Kyungsoo. Ya, mereka telah sampai di depan apartemen Kyungsoo.
"Bagaimana caranya aku bisa masuk?" tanyanya entah pada siapa.
CKLEKK
Kai mundur beberapa langkah saat pintu apartemen Kyungsoo tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok namja yang memiliki postur subuh mirip Kyungsoo.
"Eh, Kyungsoo!" ucap namja itu setengah berteriak.
"A-ah, Ne." jawa Kai kikuk.
"Kau Kim Jongin kan? Sepupunya Taoie?" tanya namja mungil itu sambil mengacungkan jarinya di depan hidung Kai. Kai hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Eung, Hyung. Bisakah kau tunjukkan dimana kamar Kyungsoo? Badannya bisa sakit jika dia bangun nanti."
"Ah, ya!" ucap namja itu sambil menepuk jidatnya. "Ayo masuk. Baringkan saja Kyungsoo di kamarku, kamarnya sedang dipakai oleh Baekhyun."
"A-ah, ne."
Kai mengekori namja yang ia yakini adalah Hyung tiri Kyungsoo.
"Maaf merepotkanmu, terimakasih telah mengantarkan Kyungsoo pulang." Ucapnya sambil membungkukkan badan.
"Tidak masalah Hyung. Yang seharusnya meminta maaf adalah aku, karena membawa Kyungsoo tanpa ijin dan membuatmu khawatir karena Kyungsoo pulang telat." Bohong Kai. Bohong? Tentu saja, manamungkin dia mengatakan jika Kyungsoo baru menangis hebat sampai dia tertidur karena kelelahan seperrti itu? Hal yang mustahil di lakukan bukan?
"Tidak apa, aku justru merasa lega saat tahu Kyungsoo bersamamu, Jongin." balas namja itu.
"Ah, aku jadi tidak enak. Err…"
"Wookie. Kau bisa memanggilku dengan nama itu, seperti Kyungsoo." potong Ryeowook seolah mengerti jalan pikiran Kai.
"Ah, ne. Wookie Hyung. Kalau bergitu aku pamit dulu, masih ada hal yang harus aku kerjakan." Balas Kai sopan. Hei, sejak kapan kau berlaku sopan kepada orang lain Kai?
"Mengapa buru-buru sekali? Duduklah dulu." Cegah Ryeowook.
"Tidak perlu Hyung, lagi pula ini sudah malam." Tolak Kai.
"Hah, ya sudah lah. Hati-hati di jalan, ne." Ryeowook akhirnya menyerah dan membiarkan Kai pergi.
"Semoga saja kau bisa sedikit memaksa Kyungsoo untuk kembali optimis seperti dulu, Kim Jongin." lirih Ryeowook sambil menatap punggung Kai yang menghilang di balik pintu.
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Kyungsoo mengerjapkan matanya perlahan, sinar matahari pagi yang menembus jendela membuatnya sedikit kekusahan untuk menyesuaikan cahaya yang berlomba masuk ke mata bulatnya. Namja mungil itu sedikit meregangkan tangannya, berdiam sejenak sebelum memutiskan untuk pergi ke kamar mandi.
Langkahnya terhenti saat ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Bukankah semalam dia bersama Kai, dan kamar ini bukanlah kamarnya. Jangan-jangan—
"Hah, syukurlah." Namja mungil itu mendesah lega setelah tahu dia masih berpakaian lengkap. Karena itu artinya Kai tidak melakukan apapun pun pada Kyungsoo saat ia tertidur.
"Sepertinya aku terlalu paranoid." Gumam Kyungsoo.
CKLEKK
Kyungsoo menolehkan kepalnya kearah pintu, mata bulatnya menangkap sosok yang sepertinya tidak asing baginya. Tapi siapa?
"Pakai kacamatamu jika kau tidak bisa melihat dengan jelas Kyung!" tegur oang itu.
"W-wookie Hyung?" tanya Kyungsoo memastikan.
"Ne, memang kau fikir siapa lagi? Jongin? namja itu sudah pulang sejak semalam." Ceplos Ryeowook.
Blushh
Kyungsoo merasakan pipinya sedikit panas. Dari mana Hyungnya tau jika dia sedang memikirkan Kai? Apa Hyungnya itu peramal? Atau—
"Jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku Kyung. Cepat mandi sana, lalu sarapan. Baekhyun sudah menunggu."
GLEKK
Lagi-lagi Hyungnya bisa tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Ah, sudahlah. Lebih baik dia mandi dan segera bergabung di meja makan dari pada mendengarkan ceramah pagi hari Hyungnya.
"Ne." jawab Kyungsoo singkat.
Ryeowook hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kyungsoo, betapa polosnya dongsaeng kecilnya itu.
"Appa, aku tidak akan pernah membiarkan Kyungsoo meninggalkanku sepertimu dan Eomma Do! Tidak akan."
.
.
^^^^vvvv^^^^
.
.
Kai menghempaskan tubuhnya kasar di atas tempat duduknya, namja tan itu memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Beberapa hari ini dia disibukkan dengan mencari berbagai info pengobatan di hampir seluruh rumah sakit yang ada di Seoul. Namun sepertinya Kai harus menelan pil pahit, karena semua rumah sakit yang dia kunjungi mengatakan jika mereka tidak sanggup dan tidak mau mengambil resiko yang terlalu berlebih.
Ah, ya. Kai sengaja melakukan itu karena Kyungsoo. Dia ingin namja mungil yang kini mengisi hatinya itu mendapatkan tempat berobat yang baik saat dia bisa membujuknya nanti, namun sepertinya Tuhan masih belum memberinya jalan untuk itu.
"Gwaenchana?"
Sapaan seseorang memaksa Kai untuk membuka matanya. Sudut bibirnya terangkat saat mata tajamnya menangkap sosok mungil yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Ne, nan gwaenchanayo." Balas Kai tanpa menghilangkan senyum diwajah tampannya.
"Kau yakin? Kau terlihat kelelahan." Lanjutnya.
"Aku tidak apa-apa, Kyung." Kai berusaha meyakinkan namja mungil yang kini duduk di hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa kau merasa lebih baik?" tanya Kai pada Kyungsoo.
"Kau seperti suster saja," kekeh Kyungsoo.
"Itu karena aku tidak ingin kehilanganmu, gadis permenku." ucap Kai sambil mengacak pelan rambut Kyungsoo.
"Ya! Aku namja." Protes Kyungsoo. "Dan berhenti menghancurkan tatanan rambutku." Lanjutnya.
"Haha, mian. Tapi aku serius Kyung, aku tidak ingin kehilangan gadis permenku. Karena itu, aku mohon bertahanlah sedikit lagi. Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu."
Kyungsoo sedikit terhenyak dengan perkataan Kai, mata bulatnya menatap lurus kearah mata tajam Kai. Mencari sebuah kebohongan disana, namun yang ia temukan hanya kesungguhan. Kali ini Kai tidak sedang berbohong.
"Tapi aku sudah lelah, Kai." Lirih Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya.
"Ku mohon jangan berkata seperti itu Kyung, jangan membuatku semakin merasa bersalah padamu." Kai menggenggap tangan Kyungsoo dengan lembut, berharap namja mungil yang kini ada di hadapannya merasakan bahwa ia tidak sendiri.
"Aku akan sangat berterima kasih jika kau berhenti mengasihaniku seperti ini."
"Apa yang kau katakan Kyung? Aku tidak sedang bercanda atau mencoba untuk mengasihanimu. A-aku… aku—
"Sudahlah Kai, menyerah saja. Aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi." Kyungsoo berdiri hendak meninggalkan Kai, namun
GREB
Tubuh Kyungsoo menegang saat dia merasakan seseorang merangkul tubuh mungilnya dari belakang. Kyungsoo berusaha untuk memberontak, namun semakin ia berontak, semakin erat juga Kai merengkuhnya.
"Ku mohon, bertahanlah Kyung. Bertahan sampai aku bisa membahagiakanmu." Bisik Kai. Namja tan itu menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Kyungsoo, menghirup aroma vanilla yang menguar dari tubuh mungil itu. Masih sama, dan Kai menyukainya.
"Kau jahat Kyung." lanjut Kai.
DEG
"M-maksudmu?" tanya Kyungsoo tergagap. Apa yang ada di otak namja tan itu? Batin Kyungsoo.
"Setelah kau mengambil hatiku, apa kau akan pergi semudah itu? Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan pada Baekhyun sekalipun. Rasa nyaman dan rasa tidak ingin kehilangan. Semua itu aku rasakan saat aku bersamamu, seperti ini."
Lagi-lagi, perkataan Kai membuat Kyungsoo bungkam. Untung saja keadaan kelas saat itu sedang kosong karena ini masih jam 6.15 pagi, masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah.
"Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, meninggalkanku seperti rang bodoh hanya karena perasaanku padamu. Bertahanlah, untukku." Kai melemahkan intonasinya di kalimat terakhir.
'Bertahanlah, untukku.'
Kalimat terakhir it uterus mengiang di telinga Kyungsoo, namja mungil itu menutup mulutnya tak percaya. Seorang Kim Jongin berkata seperti itu padanya, orang yang dulu berada di list paling atas dalam daftar orang yang di bencinya. Tuhan, jika ini mimpi. Tolong jangan biarkan siapapun membangunkannya.
"Tapi aku—
"Sttt… aku tidak ingin mendengar kata-kata putus asamu lagi Kyung. Percayakan semua padaku." Potong Kai.
Detik berikutnya Kyungsoo dapat merasakan sesuatu yang basah menempel di heart lispnya. Kyungsoo memejamkan matanya, menikmati sapuan lebut lidah Kai di bibirnya. Perlahan Kai melumat bibir Kyungsoo, hanya lumatan-lumatan kecil tanpa nafsu.
"Sekarang kau mengerti, gadis permenku?"
Kai menyeka bibir Kyungsoo yang dipenuhi oleh saliva.
"Jadilah milikku, dan jangan pernah tinggalkan aku." Kai membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Mengecup puncak kepala Kyungsoo sambil berusaha menyamankan posisi namja bermata bulat itu dalam pelukannya.
'Bertahanlah Kyung. Setelah ini aku janji hanya kebahagiaan yang akan kau dapatkan, bagaimanapun caranya. Bersabarlah, gadis permenku'
.
.
TBC
Fuih… #lap keringet
Oi… oi…. Ada yang masih inget epep ini? (Reader: gua kira lo mati Rei) /TAT\
Haa~ Rei mau minta maaf, abis Rei lagi-lagi ngaret update. Abis ga tau kenapa pas mau di lanjut feel buat ni epep tiba-tiba aja ngilang, terus pas mau baca dari awal kok Rei mual sendiri ya? Ficnya malesin, ngecewain lagi… hiks…
Sebenernya dulu Rei bingung, ini epep Kaisoo ato Taoris?! Rei minta maaf atas ke-ababilan Rei. Kebanyakan baca epep Taoris jadi kebawa suasana. Hiks…
Ah, next chap udah end. Hehe… Rei akut kalo dibikin lebih panjang lagi malah kaya sinetron yang ceritanya kagak jelas (halah, epep lu juga ia keles… #huwaaaa…. Gomen)
Buat reader semua Rei ucapin terimakasih banyak (tjivok atu-atu) udah ngikutin ni epep abal bin absurd, ngasih Rei saran ini itu, ampe setia nuggu Rei yang postnya lelet kaya Ddongkama -_-. Sekali lagi Rei ucapin terimakasih. Ah ya, buat epep Baeksoo, bentar lagi Rei post. Kali ini ciusan, kan udah janji. Dan buat yang nanya kenapa Rei updatenya tengah malem terus karena ya Rei cuma punya waktu jam segitu, soalnya kalo siang jatahnya program ama anime, nyeheheh…
Rei jugs minta maaf jika typo bertebaran di mana-mana, ga sempet ngedit soalnya, hehe. Udahan ah, ripiu saran dan kritik masih Rei tunggu, buat Ending kayanya apa ya? Tunggu besok aja deh :D
Gomawooo #deepbow
