Like A Dream—

Author: RiN

Chapter: 2/3

Disclaimer: All casts is belong to themselves.

Rated: T

Pair: YeKyu (Yesung – Kyuhyun), KaiBaek (Kai – Baekhyun), ZhouRy (Zhou Mi – Henry)

.

Warning: AU, YAOI, OOC, Crack Pair, typos, mpreg, dll. ._.

.

Genre: Romance – Family

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

For : Rachigekusa~ ._.

.

Setting saya ambil setelah ff saya yg Trust You. Anggap aja ini sekuel setelah YeKyu nikah. xD Mau dibaca atau nggak ya terserah~

.

.

Baekhyun masih belum bisa mempercayai hari ini sebenarnya, sama tidak percayanya ketika ia mendapati rumah dalam keadaan yang sepi. Tidak benar-benar sepi sih, hanya yang anehnya ia mendapati appanya ternyata sudah pulang kerja, berdiri di dapur sambil menyiapkan makan malam mereka—seperti biasanya. Ia melirik ke arah meja makan, hanya ada dua piring kosong yang tergeletak di sana.

"Selamat datang, Baekie. Kalau kau mau bertanya dimana ummamu, dia tidak ada di sini—setidaknya sampai besok siang…" Seolah bisa membaca apa isi pikiran anaknya, Yesung telah lebih dulu menjelaskan penyebab sepi yang terasa agak aneh ini.

Tunggu… tidak ada di rumah?

"Eh? Wae?"

Yesung menaikkan sebelah alisnya. "Pulang ke rumahnya, memangnya ada alasan lain lagi?"

Pulang ke rumah umma? Maksudnya ke rumah kakek dan neneknya? Kenapa mendadak? Atau jangan-jangan…

"Appa dan umma sedang bertengkar ya, makanya pisah rumah begitu?" Tanya sang anak dengan tampang innocentnya.

Yesung diam. Perlu waktu beberapa detik baginya untuk mencerna kalimat anak laki-lakinya itu, bahkan hingga membuatnya mengabaikan masakannya. "Yaak! Kau mendoakan appa dan umma cerai eoh?"

Baekhyun hanya meringis, kembali memasang wajah innocentnya—dimana Yesung hanya bisa menghela nafasnya. Ibu dan anak sama saja—sama-sama membuatnya harus punya tambahan urat kesabaran.

"Habisnya appa bilang umma pulang, tapi alasannya tidak jelas…"

Baekhyun berjalan mendekati meja makan. Duduk di salah satu kursinya, dan sedikit mencium wangi masakan yang dibuat Yesung. Sebenarnya biasa saja, tapi kalau dibandingkan dengan buatan ummanya… masih jauh lebih lumayan buatan appanya.

"Appa~"

Yesung mengerutkan alisnya—lagi. Tumben sekali anaknya itu memanggilnya dengan nada seperti itu. Ia membawa sebuah mangkuk besar yang berisi ramyeoun ke meja makan. Baekhyun menatapnya facepalm. Boleh dia tarik lagi pemikirannya tadi soal masakan appanya yang lumayan? Yesung-appa memang punya kemampuan memasak yang lumayan—hanya kalau orang itu sedang rajin. Kalau yang disajikannya hanya ramyeoun, yang lebih parahnya lagi itu instant, artinya orang ini sedang tidak ada niat untuk memasak. -_-

"Apa?" Yesung duduk di depan Baekhyun.

"Appa kenal dengan orangtuanya Kai?"

"Kai?"

Baekhyun menarik nafasnya. Ia lupa kalau tadi pacarnya itu mengenalkan dirinya dengan nama aslinya, bukan nama panggilannya. "Jongin. Pacarku."

"Oh..." Yesung diam sebentar, tangan kanannya memegang sumpit lalu mulai mengambil makanan yang terhidang di atas meja, "mungkin, kalau memang Zhou Mi yang disebutnya itu adalah orang yang pernah kukenal..."

"Dia siapa?"

Yesung menekuk wajahnya. "Perlukah menanyakan hal itu?"

Baekhyun mempoutkan bibirnya. "Yaakk, appa~! Aku kan hanya ingin tahu~"

"Aish... baiklah..."

"Jadi?"

"Ng... dia..."

"Please deh, appa... jangan tiba-tiba lamban seperti semua kura-kuramu..." -_-

Pletak.

"Aww, appo~" Baekhyun memegangi dahinya yang baru saja jadi korban keringantanganan seorang Kim Jongwoon, sementara Yesung kembali meneruskan acara makannya.

"Dia pernah menyukai ummamu. Tepatnya dulu ketika ummamu baru menginjak bangku kelas dua SMA dan appa baru saja lulus."

"Eh? Apa?"

"Hhh… sudahlah. Itu tidak penting..."

Baekhyun kembali mempoutkan bibirnya. Benar-benar irit bicara, pertanda kalau sang appa benar-benar tidak ada niat untuk bicara. Padahal biasanya—kalau appanya sedang dalam keadaan mood yang sangat baik—ia bisa berbicara nonstop, lebih parah jika dibandingkan dengan ummanya, yang agak kalem—agak. Ah, atau jangan-jangan posisi mereka terbalik? Harusnya Yesung yang jadi ummanya dan Kyuhyun yang jadi appanya? Atau bagaimana?

Aish…

Ia menggelengkan kepalanya. Itu benar-benar pikiran yang ngaco, apa ia mulai ketularan sifat appanya yang suka tidak jelas sendiri itu? Baekhyun bergidik. Tidak, tidak. Cukup hanya wajah—dan sedikit hal lainnya—yang diturunkan sang appa padanya, tapi tidak dengan sifat anehnya. Titik.

Ah, ia jadi kelihatan seperti anak yang durhaka pada appanya sekarang.

"Ng…"

"Wae?"

"Soal besok…" Baekhyun menggigit bibirnya. Sebenarnya ia agak ragu mengatakan hal ini, tapi berhubung kebetulannya sang umma—yang selalu mengkhususkan diri untuk cerewet hanya pada dirinya—sedang tidak ada, mungkin sekarang saat yang tepat. Kalau besok, ia tidak yakin bisa bertatap muka dengan sang appa dalam waktu yang cukup lama mengingat Yesung bekerja dari pagi hingga sore—yang artinya Kyuhyun sudah keburu ada di rumah lagi dan kesempatannya untuk bicara berdua dengan sang appa adalah nol persen.

"Hm?" Yesung mengerutkan alisnya. Besok? Ah, benar juga, ia kan mengundang kekasih Baekhyun untuk datang saat makan malam besok. Hampir saja ia lupa, padahal baru tadi siang ia mengatakannya. -_-

Apa jangan-jangan Baekhyun ingin memintanya untuk membatalkannya?

"Apa appa besok bisa…"

"Bisa? Ayolah, appa bukan orang yang bisa membaca pikiran jadi jangan seperti ummamu yang hobi memotong apa yang ingin diucapkannya…"

"Ng… apa appa bisa libur kerja besok lalu yadongan seharian dengan umma? Terserah berapa ronde juga, yang penting harus bisa membuat umma tidak bisa bangun dari tempat tidurnya~"

"Uhuk! Mwo!?"

.

.

.

"Aish, appa kan tidak perlu sampai memukul kepalaku dengan panci kan? Kalau kepalaku jadi membesar setelah ini aku akan doakan biar umma mogok yadongan dengan appa~"

Baekhyun memegangi kepalanya yang kembali menjadi korban KDRT—yang kali ini lebih parahnya adalah, alih-alih menggunakan tangan Yesung-appa malah menggunakan panci. Tidak terlalu besar sih, tapi tetap saja kalau dipukulkan ke kepalanya, sakitnya itu amit-amit. Ia mempoutkan bibirnya, kakinya melangkah agak cepat menuju kamarnya, berjaga-jaga takutnya sang appa berada di belakangnya dan malah membuat nasibnya hari ini jadi siaga satu.

Ingatkan ia untuk mengukur lingkar kepalanya, apakah semakin besar atau tetap ukurannya? -_-

"Aku tidak salah ngomong kan? Aku kan hanya tidak ingin nasibku atau Kai jadi tidak jelas gara-gara umma…"

Yang salah mungkin hanya topik yang ia ambil—mungkin. -_-

.

.

.

Kim Jongin—atau Kai—memasuki apartemen tempatnya tinggal bersama kedua orang tuanya dengan perasaan yang tidak menentu. Mungkin antara bingung, heran atau juga malah sedikit merasa kaget. Hari ini mungkin hanya hari biasa yang selalu ia jalani. Sekolah, bertemu dengan sang kekasih dan sederet aktivitas rutin lainnya yang sebenarnya sangat membosankan saking terlalu monotonnya tapi sayangnya justru adalah hal-hal yang sangat penting. Tapi sedikit kejutan di waktu makan siang tadi—sebenarnya itu bukan waktu makan siang, bahkan sudah lewat hampir tiga jam tapi kelihatannya appa dari kekasihnya itu tidak terlalu mempermasalahkan waktu makan siang yang terlewat sangat lama.

Ah, dan ngomong-ngomong soal itu… hal yang menjadi kejutan adalah kehadiran appa Kim Baekhyun yang…ng, bagaimana mendeskripsikannya ya? Aneh… itu sebenarnya tidak sopan. Atau… ng… unik, mungkin?

Sikapnya tidak menunjukkan rasa kaget atau apalah, ketika mengetahui dirinya adalah pacar dari anak laki-laki satu-satunya. Bahkan malah terkesan seperti senang atau… tertarik? Terlihat seperti menemukan sesuatu yang sangat menarik lalu merencanakan sesuatu yang, tidak buruk sih, tapi mungkin agak merepotkan.

Ng, baiklah, ia bisa menebak itu karena ia sering melihat raut wajah seperti itu terlihat jelas di wajah appanya tiap kali melakukan 'sesuatu' dengan ummanya.

Lalu…

Soal rasa herannya terhadap sikap ayah Baekhyun itu sebenarnya karena… selama ini ia dan Baekhyun berhubungan tanpa diketahui oleh orang tua kekasihnya itu. Alasannya… kalau tidak salah Baekhyun pernah bilang kalau kedua orang tuanya itu terlalu protektif padanya dan tiap kali ada yang dekat dengannya bisa dipastikan orang itu tidak akan bertahan lama. Kalau kedua orang tuanya… bahkan sebelum mereka resmi berpacaran, Zhou Mi—sang appa—tahu ia dekat dengannya dan kerapkali menggodanya sampai rasanya ia ingin sekali menyebarkan semua aibnya di internet. -_-

"Aku pulang…"

BRAK!

Kai membuka pintu apartemennya, hanya untuk mendapati sebuah panci melayang ke arahnya dan menabrak dinding yang berada tepat di samping kanannya—hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ia melotot, terpaku sekian detik. Kalau saja lemparan itu sedikit mengarah ke kiri bisa dipastikan wajahnya yang tampan itu akan jadi korbannya.

"Yaak, gege! Jangan sentuh aku, aku sedang memasak dan belum selesai gara-gara kau terus-terusan berusaha menyentuhku!"

Hah?

Kai kembali mengerjapkan kedua matanya, berkali-kali, sambil dalam hati merutuki siapapun yang mendesign tempat tinggalnya ini dengan posisi dapur yang yang terbuka dan menghadap ke arah pintu depan—hanya terpisah oleh meja makan. Untuk beberapa situasi, kondisi ini sebenarnya lumayan efektif, bisa mempersingkat waktu. Tapi untuk situasi lainnya ini benar-benar bisa jadi hal yang sangat berbahaya.

Dan melihat kedua orang tuanya bertengkar di dapur—dengan kedua tangan sang appa yang melingkar di pinggang sang umma dan ummanya yang meronta sambil berusaha memukuli sang appa—entah dengan apapun yang bisa ia raih, itu… benar-benar membuatnya facepalm.

Dasar appa pervert… mataku yang suci ini jadi ternoda kan?

—kalau saja Baekhyun bisa mendengar suara hatinya itu, mungkin namja manis itu akan dengan senang hati menjadi orang pertama yang menyanggahnya. -_-

Oh, ummanya kini malah menodongkan pisau pada appanya…

Apa mereka tidak bisa bertengkar dengan cara yang normal?

"Oh… Kai, kau sudah pulang?"

Henry—sang umma berwajah cute tapi sebenarnya sangar kalau sedang marah itu—sontak menurunkan tangannya yang memegang pisau, membuat Zhou Mi sedikit menghela nafas lega. Setidaknya ia selamat dari amukan sang istri.

Aku sudah pulang sejak tadi. Makanya jangan 'bermesraan' terus… Batin Kai, facepalm.

Dukk.

"Aww…"

Zhou Mi memegangi kakinya—yang baru saja diinjak oleh sang istri, lalu menatap tidak terima ke arah Henry yang memeletkan lidah padanya. Benar-benar ahjussi—err, atau ahjumma mungkin—yang tidak sadar usia dan status. -_-

"Gege duduk saja sana dan jangan melakukan hal yang aneh lagi. Protes? Tidak ada jatah selama satu bulan!"

Namja bertubuh tinggi itu langsung bungkam dan memilih untuk melakukan perintah sang istri—yang sekarang kembali melakukan aktivitas memasaknya lagi.

Kai yang sedari tadi diam di pintu depan, berjongkok mengambil panci yang tadi terlempar ke arahnya lalu berjalan ke arah meja makan dimana di sana sang appa sudah duduk manis di sana.

"Ah… appa, ada yang ingin kutanyakan…"

"Hm?" Zhou Mi mendongakkan kepalanya.

"Ng… appa tahu kan soal kekasihku itu?"

Zhou Mi mengerutkan alisnya. "Apa aku terlihat seperti orang yang mudah melupakan hal seperti itu? Ayolah, katakan saja langsung…"

"Dulu appa pernah bilang kan kalau Baekie mirip dengan seseorang yang appa kenal kan?"

"Ne, kenapa dengan itu?"

"Apa orang yang appa maksud itu… Yesung-ahjussi?"

"Uhuk…"

Zhou Mi terbatuk—atau mungkin lebih tepatnya tersedak. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, lalu menatap anak laki-lakinya dengan tatapan horror—seperti anaknya itu adalah hantu yang berwujud mengerikan atau seorang psikopat dengan pisau di tangannya yang hendak membunuh dirinya, atau yang lebih parahnya lagi adalah itu terlihat seperti Henry yang tersenyum manis ke arahnya sambil mengatakan kalau ia tidak mau lagi melakukan itu dengannya.

"Apa?"

Kai hanya bisa memasang wajah facepalm. Rasanya melelahkan punya keluarga seperti ini. Kalau diajak bicara serius, reaksi mereka kadang bisa lebih lamban dibandingkan dengan kura-kura.

"Appa jangan balikkan pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Tinggal jawab saja iya atau tidak~"

"Ah… mianhae. Memangnya ada apa dengan itu?"

"Tadi aku bertemu dengan orang yang bernama Yesung…"

"Lalu?"

"Dia appanya pacarku."

"Hah!?"

.

.

.

Baekhyun duduk di tepi jendela, menatap ke luar sambil sesekali menghela nafasnya. Ia menatap ponselnya, lalu kembali memandangi keadaan di luar sana. Ini sudah larut malam dan ia sama sekali tidak bisa tidur—sama seperti appanya yang pasti hanya bisa berguling-guling tidak jelas di kamar sebelah. Alasannya sih sudah jelas… pasti karena tidak ada ummanya yang bisa ia peluk layaknya guling—

—ah, baiklah, itu terdengar sangat kejam sebenarnya. Maksudnya yang bisa ia peluk dengan penuh cinta. (untuk bagian ini ingin sekali muntah sebenarnya)

Bedanya adalah… ya mengenai hal besok.

Ayolah, ia tidak siap—atau belum siap—kalau harus mengenalkan kekasihnya pada ummanya. Kalau appanya kelihatannya tidak ada masalah sama sekali waktu tadi bertemu dengan Kai.

Yang jadi masalah adalah Kyu-umma. Kalau ummanya itu tidak bisa tertarik dengan Kai, maka bisa dipastikan orang itu akan merencanakan banyak hal yang pastinya berujung dirinya yang harus merelakan hubungannya dengan sang kekasih—

—begitu-begitu Kyuhyun-umma itu punya banyak akal tidak jelas tapi selalu berhasil dan tepat sasaran.

Ia masih berharap dari sudut hatinya, semoga Kyuhyun besok mendadak sakit hingga mungkin Kai hanya bisa bertemu dengan appanya saja ATAU yang lebih bagusnya lagi besok Kai tidak perlu datang ke rumahnya dan pertemuan dibatalkan. Opsi terakhir lebih aman kan—err, hanya untuk Kai saja sih sebenarnya. -_-

Baekhyun kembali menatap ponselnya, berharap ada sesuatu di sana—entah itu pesan singkat atau panggilan. Apapun itu terserah. Tapi nyatanya sepi. Rasanya ingin sekali melempar benda yang tengah dipegangnya itu ke tembok atau membantingnya. Tapi mengingat ummanya cerewet soal pengeluaran uang dan sebagainya, ia masih punya otak untuk tidak melakukannya.

"Eottokhae~? Aku kan tidak mau kalau kali ini harus gagal lagi. Tahu begini aku tidak akan bilang apapun pada Sehunnie soal ini…"

Yah, ummanya pasti tahu soal ini dari anak itu. Tetangga sebelah kanan rumahnya dan lebih muda dua tahun dibandingkan dirinya—seusia dengan Kai. Sebenarnya bukan ia yang memberitahunya kalau ia berpacaran dengan namja berkulit tan itu, tapi anak itu sendiri yang melihat langsung kalau ia sedang berkencan di taman hiburan minggu lalu, dimana kebetulannya anak itu juga tengah melakukan hal yang sama di tempat yang sama dengannya pula.

—dan pastinya, dengan polosnya dia menceritakan hal itu pada ummanya.

Harusnya ia bilang saja kalau Kai itu temannya waktu itu, jadi ummanya tidak akan mengamuk tadi pagi, yang berujung sarapan paginya dihabiskan oleh sang appa tercinta. -_-

Tok tok.

"Baekie…"

"Ng…?"

Pintu kamarnya diketuk perlahan. Itu appanya. Jelas. Tidak ada siapapun di rumah selain mereka berdua saat ini, kecuali kalau hantu juga mengetuk pintu, itu bisa dimasukkan sebagai opsi.

Baekhyun melangkahkan kakinya ke arah pintu, memutar kenopnya lalu menariknya perlahan. "Wae, appa?"

"Aniya, hanya memeriksamu saja."

Ia segera memasang wajah facepalm. "Appa, aku bukan anak kecil lagi, jadi appa tidak perlu melakukan itu…"

"Appa juga tidak mau, kalau saja ummamu tidak mengirim pesan barusan dan memintaku untuk memastikan kau tidak tidur larut malam lagi."

"Aish…"

"Tidak bisa tidur, eoh?"

"Eh?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap appanya dengan tatapan tidak percaya, "kenapa bisa tahu?"

Yesung menghela nafasnya. Rasanya ia ingin sekali menjitak kepala anaknya ini berkali-kali. "Apa perlu appa menjawabnya?"

"Ng… tidak juga sih…"

"Soal besok?"

"Memangnya apa lagi?" Baekhyun mempoutkan bibirnya. Kalau sudah tahu, kenapa juga harus bertanya. Benar-benar kurang kerjaan.

Yesung menepuk kepala Baekhyun perlahan, lalu mengusapnya. "Tidak perlu sekhawatir itu. Appa yakin ummamu tidak akan melakukan apa-apa…"

"Apanya yang tidak akan melakukan apa-apa? Tadi pagi saja waktu tahu aku punya pacar, umma hampir mendobrak pintu kamarku…" Baekhyun masih setia memasang pout di wajahnya, kali ini disertai dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

"Suruh siapa kau malah kabur ke kamar, membantingnya di depan ummamu lalu menguncinya?" ujar Yesung, tangannya masih mengelus kepala Baekhyun, sedikit merasa heran kenapa tinggi badan anak ini terlihat seperti mentok di angka ini. Padahal baik tinggi badan Kyuhyun maupun dirinya bisa dikatakan lumayan waktu mereka masih sekolah dulu. Masa kurang gizi? -_-

"Habisnya umma terlalu menakutkan, jadinya kan aku refleks melakukan hal itu."

"Berdoa saja. Berharap saja kalau kekasihmu itu punya sesuatu yang bisa menarik perhatian ummamu. Sekarang tidur sana. Kau mau kalau kedua matamu itu bengkak dan malah membuatmu terlihat seperti panda?"

"Aniya~ Arraseo, aku tidur sekarang~"

Brak.

Yesung menatap pintu di depannya dengan tatapan sweatdrop. Dibanting lagi—walau tidak sekeras tadi pagi, tapi tetap saja. Harusnya ia memasang pintu besi saja sekalian.

"Yang jadi masalahnya… kenapa dari sekian banyaknya orang yang bisa jadi kekasih anak ini, harus anak laki-laki dari koala merah tiang listrik itu?"

.

To Be Continued—

.

a/n sebenernya kalau dilihat saya lebih fokus sama nuansa family dibandingin sama Sho-ai. ^^ Dan satu lagi, entah kenapa otak saya lagi rada geje, makanya chapter ini pun sama gejenya kayak otak saya~ xD

Chapter depan itu chapter terakhir ne~ Jadi… silakan aja berharap kalau saya gak akan menistakan Kai melalui Kyu-umma~ xD *plak

Oke, waktunya bales review~

Askasufa — udah lanjut, chingu. :)

Ukekyu — mian, gak bisa update kilat. Tapi ini udah lanjut. u,u

Iloyalty1 — kan emang udah tua~ xD *plak

Lovinkyu — masa kocak sih? O.o tunggu chapter depan buat suasana makan malam mereka. :D

Niraa — udah lanjut chingu~ :)

MilMilk203407 — emang sengaja ada YeKyu sama ZhouRy kok, chingu~ xD ini udah lanjut, biarpun sangat ngaret. u,u

Yesungie lover — udah lanjut~ :) soal hubungan mereka cuma diceritain sekilas aja kok~

GaemGyu92 — reaksinya tunggu chapter depan~ xD

Cloud3024 — Yesung sama Zhou Mi gak sahabatan kok, tapi saingan cinta (?) xD

Lateefa — Udah lanjut~ :D

EXOSTics — Udah lanjut, chingu~ :)

Rachigekusa — gak dimaafkan. .-. Semua cast yang muncul di sini pada sarap kok, bukan cuma Yesung aja, biar balance (?). ._. *emang akuntansi? -_-* chapter ini udah lebih panjang kok… lebih panjang sedikit maksudnya. ._.

Teddybear — wkwkwk, typo tuh~ xD Kai anaknya ZhouRy biar gak mainstream gitu, twin… .-. Udah lanjut~ gak review lagi, Addicted chapter selanjutnya gue ilangin lagi NCnya. -_-v

JejeKyu Red Saphire — Harusnya bukan surga di kaki ibu, tapi neraka di kaki Kyu~ xD *plak Berharap aja gak diapa-apain~ udah lanjut, chingu~ :D

Guest — udah lanjut~

.

.

Udah ya, semuanya udah saya bales kan. Next chap, mungkin sama ngaretnya dengan ini soalnya saya mesti fokus sama UAS tanggal 19 nanti. Doain aja ya~ ._.

Oke, see you~

.

.

BEST REGARDS

RiN—

.