Like a Dream—

Author: RiN

Chapter: 3/?

Disclaimer: All casts is belong to themselves.

Rated: T

Pair: YeKyu (Yesung – Kyuhyun), KaiBaek (Kai – Baekhyun), ZhouRy (Zhou Mi – Henry)

.

Warning: AU, YAOI, OOC, Crack Pair, typos, mpreg, dll. ._.

.

Genre: Romance – Family

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

For : Rachigekusa~ ._.

.

Setting saya ambil setelah ff saya yg Trust You. Anggap aja ini sekuel setelah YeKyu nikah. xD Mau dibaca atau nggak ya terserah~

.

.

Baekhyun terbangun keesokan harinya dengan sedikit lingkaran hitam di kedua matanya. Kantung mata yang tipis sedikit terlihat, ditambah dengan rambutnya yang terlihat berantakan—khas seseorang yang bangun di pagi hari tanpa tidur yang cukup, menjadikannya terlihat seperti penampakan hantu di pagi hari dan bukannya namja manis yang cute. Tapi ambil sisi positifnya, setidaknya ia tidak perlu menggunakan eyeliner nanti. -_-

"Kim Baekhyun! Appa tidak peduli kau mau sekolah atau tidak hari ini, tapi sekarang hampir jam 8…!" Suara Yesung terdengar dari lantai bawah. Ia baru ingat kalau ummanya sedang tidak ada di rumah, pantas saja appanya yang berteriak membangunkannya.

Err… tunggu dulu!? Jam 8!?

"Mwo!?" Baekhyun langsung bergegas menyibakkan selimutnya lalu berlari menuju kamar mandi—yang untungnya berada di dalam kamarnya. Jam 8 kurang katanya? Itu artinya hanya tinggal tersisa sekian menit sampai bel sekolahnya berbunyi dan gerbang sekolah ditutup! Yang benar saja!

Butuh waktu sekitar 10 menit sampai ia benar-benar siap untuk pergi—dengan kata lain, ia baru saja mempraktekkan teknik mandi kilat yang pernah diajarkan appanya entah kapan lalu mengenakan seragamnya asal. Yang penting semuanya terpakai dan tidak terlewat satu pun, soal rapi atau tidak itu soal nanti.

Ia langsung berlari menuruni tangga, mendapati Yesung yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, lalu berhenti sebentar—sekedar berpamitan pada sang appa. Ia masih punya sopan santun masalahnya. "Appa, aku pergi!

Sebenarnya akan lebih cepat kalau ia minta tolong Yesung untuk mengantarnya ke sekolah, tapi melihat sang appa baru setengah siap langsung ia urungkan niatnya itu.

Yesung mengerutkan alisnya. "Tidak sarapan?"

"Mana sempat! Annyeong!" Baekhyun langsung berlari menuju pintu depan, setelah sebelumnya menyambar sepotong roti panggang yang ada di atas meja—masa bodoh itu memang miliknya atau milik appanya.

Yesung menatap kepergian anak tunggalnya itu. Setelah yakin kalau anak itu sudah menghilang di balik pintu, ia langsung menoleh ke arah jam yang menggantung di atas pintu—yang sayangnya dilewatkan begitu saja oleh Baekhyun. Padahal kalau saja ia menoleh sedikit ke benda berbentuk bulat itu, mungkin ia akan menyadari—

"Ah… ternyata anak itu tidak menyadari kalau aku tadi sengaja salah menyebut waktu ya… sekarang kan masih jam 7 kurang…"

—kalau sebenarnya appanya tengah mengerjainya.

.

.

.

Baekhyun melongo, tepat di depan gerbang sekolahnya. Beruntung belum banyak siswa yang datang—tapi tetap saja ia jadi tontonan gratis di sana. Jangankan terlambat datang, ia bahkan datang terlalu pagi.

Sekarang bukan jam 8 pagi—tapi waktu masih menunjukkan kalau sekarang jam 7 pagi lewat beberapa menit saja, yang artinya masih banyak waktu sampai bel masuk berbunyi. Detik berikutnya, ia langsung mempoutkan bibirnya, menyadari satu hal.

Yesung-appa sudah mengerjainya—dan bodohnya ia dengan mudahnya terperdaya begitu saja. Salahkan ia yang bisa dikatakan hampir tidak tidur sepanjang malam dan ketika ia akhirnya bisa benar-benar tertidur, suara sang appa telah lebih dulu membuyarkan mimpi indahnya begitu saja, dan ia bahkan tidak sempat melirik jam—entah dimana pun—sedikitpun.

Awas saja, kudoakan appa tidak akan bisa meniduri umma sampai satu tahun ke depan~!

"Baekkie-hyung?"

Ia menoleh, mendapati seorang hoobaenya—sekaligus juga tetangga samping rumahnya—tengah berjalan ke arahnya. Namja berkulit putih itu dan tinggi—yang sayangnya—lebih tinggi daripada Baekhyun menatap heran ke arahnya.

"Tumben kau datang sepagi ini. Biasanya juga tiap kali aku ke rumah hyung, hyung bahkan masih belum bangun dan Kyu-ahjumma masih berusaha membangunkanmu…"

Baekhyun memutar bola matanya—kesal karena teringat kejadian itu lagi.

"Bukan urusanmu, Sehunnie~"

Ia segera beranjak dari gerbang sekolah—meninggalkan namja bernama Sehun itu. Moodnya makin buruk ketika bertemu tetangga sebelah rumahnya itu. Ia yakin kalau dia yang memberitahu ummanya soal kekasihnya. Tahu begitu, waktu itu ia sogok saja anak itu dengan bubble tea.

"Memangnya aku salah apa?" Gumam Sehun, kecil, ketika dilihatnya Baekhyun seperti terlihat kesal padanya.

.

.

.

Zhou Mi sedang berjalan di koridor apartemen miliknya sambil membawa tumpukan buku ketika ia lewat di depan pintu kamar anaknya. Alisnya berkerut, iris gelap yang terbingkai kacamata berframe hitam itu melirik ke arah jam yang tergantung tak jauh darinya. Diletakkannya barang bawaannya di atas rak pendek yang berada tepat di sebelah pintu, lalu dibukanya lebih lebar pintu kamar anaknya yang memang sedikit terbuka.

"Jongin?"

Ia melongok ke dalam, mendapati anak laki-laki satu-satunya itu sedang berdiri menatap cermin sambil agak melotot, seperti sedang menantang pantulan dirinya di cermin. Heh? Dasar kurang kerjaan… -_-

"Kau tidak sekolah?"

Jongin menoleh. Ditatapnya sang appa dengan tatapan frustasi, dan itu cukup untuk membuat Zhou Mi sontak kembali mengerutkan alisnya. "Wae?"

"Aku izin bolos hari ini ya~"

"Hah?"

"Jadi begini ya, appa… kau tahu kan kalau aku diundang oleh appanya Baekhyun untuk, ng… apa ya namanya…" Jongin memegang dagunya, seperti berpikir—biarpun Zhou Mi malah menganggap pose itu tidak ada cocok-cocoknya dengan anaknya itu.

"Semacam makan malam?" Zhou Mi masih setia dengan ekspresi yang statis di wajahnya—alis berkerut dan menatap anak laki-lakinya itu seolah ia adalah makhluk paling ajaib di dunia.

"Ah! Ya, itu!"

"Lalu yang jadi masalahnya?"

"Ng…" Jongin diam, entahlah… ia bingung, harus dibicarakan atau tidak. Masalahnya, appanya ini kadang selalu saja mencari-cari kesempatan untuk menggodanya—atau kalau tidak ya ditertawakan.

"Apa?"

"Err… aku..."

Zhou Mi masih dalam posisinya, menunggu Jongin setidaknya mengucapkan satu kalimat yang mungkin menjadi masalahnya kini. Ah, dan ngomong-ngomong soal bolos, ia tidak peduli dengan hal itu sama sekali sebenarnya—ia lebih memilih untuk membebaskan saja anaknya itu. Berbeda dengan istrinya, yang pasti akan langsung mengeluarkan deretan kalimat panjang yang benar-benar terdengar seperti pidato tak berkesudahan yang selalu ia dengar dulu tiap kali tahun ajaran baru dimulai dari kepala sekolah.

"Aku tidak tahu harus berpenampilan seperti apa!"

Detik pertama. Zhou Mi hanya bisa mengerjapkan kedua matanya.

Detik kedua. Ia yakin, kalau alisnya kini tengah bergerak saling mencari pasangannya.

Detik ketiga. Positif, alisnya kini benar-benar bertautan.

Detik keempat. Oh, ia yakin kalau saat ini ia tengah memegang sesuatu, pasti akan langsung ia jatuhkan begitu saja.

Detik kelima…

"Apa kau ini seorang gadis remaja yang sedang bingung ingin memakai gaun seperti apa ketika akan berkencan untuk pertama kalinya dengan kekasihnya?"

Trek.

"YAK! APPA! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG JUGA DAN JANGAN BICARA PADAKU LAGI SAMPAI BULAN DEPAN!"

.

.

.

Baekhyun mengakhiri seluruh kegiatannya di sekolah dengan mood yang masih sama seperti tadi pagi. Down. Dan kelihatannya semakin down, gara-gara—entah disengaja atau tidak—sepertinya semua hal di sekelilingnya sedang kompak untuk membuat moodnya benar-benar jatuh. Dimulai dari Sehun—err, sebenarnya anak itu tidak melakukan apa-apa sih, hanya saja dengan melihat wajahnya saja moodnya langsung hancur seketika. Lalu Kris, Chanyeol, Luhan, bahkan Jongin juga. Kekasihnya itu tidak apa-apa sih hanya saja melihat dia tidak ada dalam jarak pandangnya selama ia melangkahkan kedua kakinya berkeliling sekolah, jelas itu membuat moodnya makin mendekati titik nol—dan bisa saja meledak kalau benar-benar berada di angka nol.

Ia melangkahkan kedua kakinya, menyusuri jalan-jalan agak sepi yang menuju rumahnya. Ah, kelihatannya ia lupa kalau hari ini akan ada sesuatu yang terjadi di rumahnya…

Langit masih biru, karena ini masih terlalu siang baginya untuk pulang ke rumah. Jam pelajaran terakhirnya tadi sang sonsaengnim tidak bisa mengajar, jadinya kelasnya diperbolehkan pulang begitu saja. Bagus sih, jadi ia bisa menghindar bertemu muka dengan Sehun, dua tiang listrik itu, dan juga yang lainnya—untungnya di antara mereka tidak ada yang satu kelas dengannya.

Dan ngomong-ngomong soal Jongin, ia memang tidak masuk hari ini—dengan kata lain bolos, karena tidak ada sedikit pun kabar ia sakit atau sejenisnya.

Sekian waktu berjalan—ia sedang malas naik bus—kedua kakinya akhirnya menapak juga di pekarangan rumahnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun langsung bergegas masuk ke dalam—dan terhenti seketika ketika melihat sepasang sepatu yang bertengger manis tepat di depannya. Kedua matanya melotot—sayangnya tetap saja masih terlihat agak sipit, efek keturunan dari sang ayah sebenarnya.

Ya Tuhan, umma sudah pulang?

Baekhyun masih berdiri di pintu depan, ketika sebuah suara membuyarkan lamunannya yang entah berisi apa.

"Baekkie, kau sudah pulang?"

Ia mendongakkan kepalanya, mendapati sang umma yang ternyata sudah berdiri di depannya—menatapnya dengan heran dan penuh selidik. Kyuhyun menoleh ke arah jam yang tergantung tak jauh dari tempat mereka berdiri. Masih agak siang, tidak biasanya anak ini pulang jam segini…

Baekyun menatap sang umma—seolah kalau namja itu adalah semacam penampakan. Yah, secara konotasi, keberadaan Kyuhyun sekarang ini memang seperti penampakan. Padahal sejak kemarin sore ia sudah merasakan suasana rumah yang tenang dengan ketidakhadiran Kyuhyun, kenapa situasi seperti itu harus berakhir hanya dalam waktu yang sangat singkat?

—dasar anak durhaka. -_-

"Baekkie~"

Ia tersentak, dan refleks langsung mendongakkan kepalanya, mendapati sang umma tengah menatapnya intens.

"A-aku tidak bolos, umma!"

Kyuhyun mengerutkan alisnya. "Memangnya aku peduli soal itu?"

Heh?

"Aku cuma mau bertanya, tidak biasanya kau langsung pulang ke rumah seperti sekarang..."

Baekhyun mengerjapkan kedua matanya. Jadi sebenarnya kalaupun ia bolos pun sang umma tidak akan memarahinya? Lalu kenapa giliran ia punya kekasih, ummanya ini sudah kepo malah seperti ada niat untuk tidak merestuinya sedikit pun?

Ia mempoutkan bibirnya. Tunggu dulu, jadi maksudnya ia tidak boleh pulang dulu? Umma macam apa itu? Rata-rata orang tua malah lebih suka anaknya pulang cepat tanpa mampir kemana-mana dulu... dasar aneh... -_-

"Memangnya tidak boleh, umma~?"

Kyuhyun makin mengerutkan alisnya. Rasanya merinding juga melihat pout anaknya. "Jangan memasang wajah seperti itu, rasanya umma ingin muntah sekarang juga..."

Namja bertubuh tinggi itu langsung berlalu dari pintu depan, meninggalkan sang anak yang kini membatu. Secara tidak langsung, itu sama saja dengan ummanya menganggap wajahnya jelek. Ya Tuhan, rasanya kalau ini di film animasi, tubuhnya pasti sudah retak dan perlahan berubah menjadi pasir lalu diterbangkan angin begitu saja—

—pelajaran pertama untuk Baekhyun, jangan kebanyakan nonton anime aneh lagi dengan appanya... -_-

.

.

.

Waktu hampir menunjukkan pukul lima sore ketika pintu rumahnya terbuka. Baekhyun langsung melesat menuju pintu. Itu pasti appanya. Memangnya siapa lagi orang yang bisa seenaknya masuk rumah ini tanpa harus mengetuk pintu dulu—

—oh, ada. Kalau tidak salah hyung appanya yang bernama Kim Heechul itu selalu masuk begitu saja kalau pintu depan tidak dikunci.

"Appa~ JEBAL~!"

Yesung yang tengah membuka sepatunya di pintu depan sontak langsung menghentikan kegiatannya. Iris gelapnya menatap heran anak tunggalnya yang berdiri di depannya dengan wajah memelas. Sebenarnya kenapa? Jangan bilang Baekhyun sedang kerasukan?

Eh? Tapi kalau kerasukan tidak mungkin ia dipanggil appa kan?

"Wae?"

"Appa saja yang masak untuk makan malam~! Aku tidak mau kalau nantinya bukannya kenyang tapi malah trauma!"

"Hah?"

Plak.

"Aww~" Baekhyun memegangi kepalanya yang sepertinya dihantam sesuatu—tidak keras, tapi tetap saja sedikit sakit. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang umma tengah berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan sebelah tangannya yang memegang spatula. Asumsinya pasti benda berbentuk panjang itu yang sudah mendarat dengan indahnya tepat di kepalanya.

"Umma~"

Kyuhyun memeletkan lidahnya—sedikit aneh juga mengingat usianya yang sebenarnya tidak cukup muda untuk melakukan itu. Mengabaikan tatapan tajam anaknya—seolah itu akan berpengaruh untuknya saja—ia melangkahkan kedua kakinya ke arah Yesung yang masih diam di pintu depan, menyaksikan interaksi anak dan istrinya yang sedikit… ajaib. Kalau dilihat seperti itu siapapun pasti tidak akan percaya kalau mereka itu ibu dan anaknya. -_-

"Hyung, wae?"

Yesung tersentak. Ia menatap Kyuhyun yang mendekatinya sambil menatap heran ke arahnya. "Ng… aniyo…"

"Ah, Baekkie…" Yesung memanggil anaknya ketika sang aegya berbalik hendak menaiki tangga menuju kamarnya.

"Apa?" Baekhyun mempoutkan bibirnya. Selain karena ia kesal dengan sang umma, ia juga baru ingat kalau ia masih merasa kesal dengan sang appa gara-gara kejadian tadi pagi—dan ia juga kesal dengan yang lainnya.

"Jongin-ssi ke sini?"

"Heh?" Baekhyun mengerjapkan kedua matanya, menatap appa dan ummanya bergantian.

Yesung menghela nafasnya. Jangan bilang anak ini lupa dengan perjanjian kemarin… -_-

"Aku bertanya apa anak itu sudah ke sini? Jangan bilang kalau kau lupa?"

"Aahhh! Aku ada urusan di atas jangan ganggu aku sampai aku turun!" Baekhyun langsung melesat ke atas—tepatnya ke kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang kini malah saling bertatapan heran. Anaknya ini terserang virus lebay dari siapa sebenarnya?

Sungguh, Baekhyun benar-benar lupa dengan masalah makan malam itu. Gara-gara banyak hal yang membuat moodnya jelek. Dan ia bahkan belum menghubungi Jongin hari ini sama sekali!

.

.

.

Zhou Mi kembali melewati kamar anaknya itu ketika hari hampir menjelang senja. Ia tidak melihat anaknya berkeliaran di sekitarnya sejak pagi—kecuali saat-saat sarapan dan makan pagi. Ia bahkan menduga kalau anaknya itu malah pingsan di kamarnya selepas makan siang tadi. Namja bertubuh tinggi itu melongokkan kepalanya, dan mengerutkan alisnya.

Rasanya déjà vu. Ia melihat kejadian yang sama persis seperti ini itu tadi pagi—dan ajaibnya kembali terjadi lagi. Jongin pasti sedang gila.

"Apa kau masih belum juga menyelesaikan masalahmu? Ini bahkan sudah hampir jam 5…"

Jongin mendesah. "Bukannya begitu, aku ketiduran tadi dan ketika bangun sudah jam segini. Appa saja yang tidak ada kerjaan, melihatku terus di sini… kagum padaku, eoh?"

Ingin rasanya Zhou Mi melempari anaknya itu dengan sesuatu. Narsis. Padahal baru tadi pagi anak ini bilang tidak ingin bicara dengannya, sekarang malah membanggakan diri sendiri. Anak ini memang benar-benar gila…

Zhou Mi memegangi dagunya. Sedikit berpikir. Ia sedang tidak ada kerjaan sekarang—dan mungkin juga sampai nanti malam. Henry sedang pergi ke rumah orang tua Zhou Mi. Nenek tua itu sakit, dan sayangnya hanya ingin dikunjungi oleh Henry. Bahkan dirinya—yang notabene anak kandungnya—dilarang ke sana. Pilih kasih, eoh? Jadi siapa anak kandungnya sebenarnya…

"Jongin…"

"Apa?"

Jongin menyambar beberapa helai pakaian dari lemarinya. Kelihatannya ia sendiri sudah memutuskan akan mengenakan apa. Pilihannya asal pula, toh ia akan tetap terlihat tampan walaupun memakai pakaian yang biasa saja—

—jadi untuk apa ia bingung soal pakaian sejak tadi pagi dan malah berakhir dengan ia yang bolos? Modus eoh? -_-

"Appa ikut denganmu ke rumah pacarmu itu ya~" Zhou Mi mengatakan itu sambil lalu, segera beranjak dari tempat itu, lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda sama sekali.

Jongin masih sibuk menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak, ia tidak sedang ganti baju. Ia tidak cukup bodoh untuk mengganti pakaiannya ketika sang appa masih berada dalam zona yang dekat dengan kamarnya.

"Terse—hah!?"

.

.

.

Jongin merutuki dalam hatinya. Dan satu-satunya orang yang menyebabkannya seperti itu adalah namja yang sedang duduk di sampingnya, di kursi kemudi dan sedang mengendarai mobil menuju rumah kekasihnya. Memangnya untuk apa pula orang ini ikut dengannya? Ia kan bukan datang untuk melamar kekasihnya itu. Dasar orang kurang kerjaan…

Namja berkulit tan itu masih dalam aksinya tutup mulut—sebenarnya ia baru ingat kalau tadi pagi ia kan mengancam appanya untuk tidak bicara padanya, jadi sekalian saja. Sementara Zhou Mi lebih memilih sibuk dengan fokus pada kendaraannya, daripada kena resiko menabrak sesuatu hanya karena meladeni anak tunggalnya ini, toh sebentar lagi juga anak itu pasti akan mengajaknya bicara.

"Appa~"

Benar kan?

"Hm?"

"Ayolah, appa tidak perlu ikut denganku kan? Memangnya aku ini ingin melamar kekasihku itu?"

Zhou Mi menoleh ke sampingnya. Lampu merah di persimpangan dan mobil berhenti, jadi ia bisa sejenak mengalihkan perhatiannya. "Appa juga ada sedikit urusan di rumah kekasihmu itu…"

"Hah?" Jongin mendongakkan kepalanya, sorot matanya menuntut namja berambut merah itu untuk menjelaskan lebih lanjut—lebih detail, tapi sang appa telah lebih dulu mengalihkan perhatiannya pada hal lain, terlihat sekali kalau ia ingin sekali menghindar dari menjawab apapun yang akan ditanyakan oleh anaknya ini.

"Maksud appa?"

"Bertemu teman lama, hanya itu."

Lampu di persimpangan berubah hijau, dan Zhou Mi kembali melajukan mobilnya. Kalimat Zhou Mi hanya singkat, tapi Jongin tidak bodoh untuk tidak menangkap apa maksudnya, jadi ia tidak menanyakannya lebih lanjut.

.

.

.

Zhou Mi menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah. Itu rumah kekasih anaknya. Ia memperhatikan keadaan luar rumah itu yang cukup sepi. Mungkin karena penghuninya yang hanya tiga orang—sama seperti di apartemennya. Ia menoleh ke sampingnya. "Di sini?"

Jongin mengerjapkan kedua matanya. "Ng… mungkin…"

Namja berambut kemerahan itu mengerutkan alisnya. "Mungkin? Memangnya kau tidak pernah kemari?"

Anak laki-lakinya menggeleng, dan itu semakin membuat Zhou Mi merasa heran. Sebenarnya mereka itu benar-benar pacaran atau tidak? Baekhyun bahkan sering berkunjung ke rumahnya, tapi kenapa anak ini tidak pernah berkunjung ke rumah kekasihnya itu?

"Baekkie tidak pernah mengizinkanku untuk mengunjungi rumahnya, atau bahkan hanya sekedar mengantarkannya pulang, makanya aku tidak tahu dengan pasti dimana rumahnya…"

Zhou Mi hanya diam. Kyuhyun memang agak protektif, itu yang pernah didengarnya dari seseorang dan mengingat Baekhyun adalah anak tunggal mereka, jadi kemungkinan bisa saja kalau mereka berpacaran tanpa sepengetahuan kedua orang tua Baekhyun.

Namja bertubuh tinggi itu melepas seatbeltnya, lalu bergegas turun. "Yah, dicoba saja…"

Jongin mengikuti Zhou Mi. Mereka berjalan menuju pintu depan. Setelah saling berpandangan—seperti melakukan telepati apakah akan menekan belnya atau tidak, Jongin memberanikan diri untuk menekan bel. Toh kalaupun salah rumah, setidaknya mereka bisa meminta maaf.

Ting tong.

Tak lama terdengar suara derap langkah kaki, kunci yang diputar lalu pintu yang terbuka.

Cklek.

Zhou Mi tersenyum lebar melihat siapa yang tengah berdiri di depannya, dimana orang itu malah menunjukkan ekspresi horor melihat kehadirannya.

"Kau…"

"Annyeong, gege… sudah lama kita tidak bertemu~"

.

To Be Continued—

.

a/n hai~~~ adakah yang masih inget dengan ff ini? *lambai-lambai geje* Ini TBC dan saya batalin niat saya buat bikin ini cuma 3 chapter aja. Kayaknya seru aja gitu kalau misalnya Yesung sama Zhou Mi diketemuin. Tadinya scenenya itu mau langsung Jongin datang ke rumah Baekhyun, cuma biar lebih seru mending Zhou Mi juga dibawa deh… xD #plak

Thanks ya, untuk beberapa orang yang selalu nagih ff ini, filenya sempet ilang gara-gara flashdisk kena virus, tapi Alhamdulillah masih bisa direcovery QwQ

Oke, sekian dari saya… bales reviewnya entar aja deh pas udah mau tamat… xD *bilang aja males*

See You~

BEST REGARDS—

REiRiN

.