Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort

HaeHyuk and Other Cast

Broken home, selalu memainkan perasaan orang lain, bad attitude yang berlebihan, selalu meremehkan orang-orang yang tidak suka kepadanya, bertingkah menjadi penguasa, dan masih banyak lagi hal buruk yang ia jalani dalam kehidupan nya. Ia selalu beranggapan bahwa Tuhan membencinya sampai memberikan kehidupan yang kelam seperti ini. Namun seiring berjalan nya waktu, seseorang hadir dalam hidup nya. Merampas semua yang ada pada dirinya, tapi... justru itulah yang terbaik untuk hidup nya. Hanya dengan cara merampas semua yang ada pada dirinya, semua akan berubah indah. Hingga ia sadar bahwa kisah cinta dan kehidupan nya bisa ia goreskan dengan tinta guna menjadi sebuah cerita pada diary hati kecil nya.


Happy Reading


Chap 2

.

Author POV

.

Seorang namja tampan masuk ke sebuah ruangan serba putih dimana terdapat seorang namja yang terbaring tak berdaya di sebuah ranjang dengan wajah penuh luka. Namja tampan itu meletak kan kantong plastik berisikan makanan yang baru saja dibelinya tadi pagi di atas meja.

CEKLEK

Mendengar suara pintu yang terbuka sontak membuat namja tampan itu menolehkan kepalanya menatap sosok namja yang terlihat lebih muda darinya dengan pakaian pasien rumah sakit serta sebuah kruk yang menjadi tongkat penyangga tubuh nya. Namja yang terlihat lebih muda itu berjalan ke arah namja tampan yang kini duduk di sebuh sofa yang tak jauh dari ranjang pasien. Ia berjalan pelan dan sedikit kesusahan, mungkin belum terbiasa menggunakan tongkat penyangga tubuh itu.

"Tsk, kau ini anak pembangkang rupanya!" ujar namja tampan itu tepat saat namja yang terlihat lebih muda itu ikut duduk di samping nya. Namja yang terlihat lebih muda itu meletakan kruk nya di samping sofa.

"Satu hal yang harus selalu kau ingat, kau tak bisa menggunakan status keluarga ku untuk mencari masalah disekolah! Kau tak bisa terus bersenang-senang menggunakan harta appa ku! Kau tak bisa terus-terusan menganggap remeh orang-orang disekitar mu hanya karena kau merasa lebih tampan, lebih kaya, dan lebih terhormat dibandingkan orang-orang disekitar mu." Jelas namja tampan itu membuat namja yang lebih muda itu mendengus sebal.

"Lee Donghae~ sampai kapan kau akan terus menceramahi ku seperti ini?" namja tampan yang barusan dipanggil 'Lee Donghae' itu memutar bola matanya malas.

"Biar ku tebak, kau masih enggan menganggap ku sebagai adik mu kan?" Donghae hanya diam, enggan menjawab.

"Ayo mengaku saja! Tanpa kau mengatakan nya secara langsung pun aku bisa menebak dan merasakan bahwa kau enggan menganggap ku sebagai adik mu."

"Bisakah kau berhenti bicara, Im Jae Bum-sshi?"

"Na'ah~ bahkan dari cara kau menganggil namaku saja sudah terlihat jelas bahwa kau memang tak pernah menganggap ku sebagai namdongsaeng mu! Appa mu sudah menikahi eomma ku, maka marga ku bukan lagi Im, melainkan Lee! Lee Jae Bum. Dan aku adalah namdongsaeng mu, Hae Hyung!" namja yang barusan mengaku dirinya sebagai Lee Jae Bum tersenyum puas melihat raut wajah Donghae yang terlihat sangat kesal dan sedang menahan amarah.

"Kau ini cerewet sekali! Untuk apa kau datang kesini? Keberadaan mu di disini hanya bisa menyusahkan ku saja!" seru Donghae.

"Aku kesini untuk mengucapkan terima kasih pada namja itu."

"Seorang JB mengucapkan terima kasih? Cih... yang benar saja!" Donghae mendecih pelan mendengar perkataan JB barusan. Pasalnya, JB yang ia kenal selama ini adalah typical orang yang tak pernah mau mengucapkan kata maaf jika melakukan kesalahan, dan tak pernah mau mengucapkan kata terima kasih jika seseorang menolong nya.

"Disini sebenarnya siapa yang menolong mu? Namja itu? Tsk, lucu sekali jika kau beranggapan seperti itu." Donghae berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri namja yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.

"Aisshh, kau ini membuat mood ku untuk mengucapkan terima kasih hilang begitu saja!" Donghae melirik JB yang sedang berusaha berdiri menggunakan kruk nya dengan ekor matanya. Kemudian ia kembali memperhatikan sosok namja yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang.

"Dasar pembual! Memang pada dasarnya saja kau ini anak tak tau terima kasih!" seru Donghae saat melihat JB melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat ini. Mendengar seruan Donghae yang seperti itu, JB hanya tersenyum tipis dan benar-benar menghilang dari hadapan nya.

"Eomma~" igauan seseorang sukses membuat Donghae menolehkan kembali padangan nya terhadap namja yang masih tak sadarkan diri.

"Eomma~" Donghae menaikan sebelah alisnya heran. Igauan namja itu barusan benar-benar bertolak belakang dengan penampilan nya sekarang. Igauan namja itu barusan terkesan seperti rengekan anak manja, namun penampilan nya seperti seorang namja manly yang jauh dari kata manja.

Entah gerakan refleks atau apa, Donghae menyentuh rambut namja itu dan mengusap nya pelan. Perlahan, tangan nya bergerak merapihkan rambut namja itu sehingga kini namja itu menjadi berponi.

"Manis..." gumam Donghae tak sadar. Tangan nya mulai turun menyentuh kening namja itu dan mulai menelusuri rahang namja itu dengan jari telunjuknya. Kini, jari telunjuk Donghae bergeser ke arah bibir cherry namja itu. Disentuhnya bibir cherry itu, merasakan kelembutan yang terdapat pada bibir cherry itu. Tanpa Donghae sadari, seperti nya namja yang tak sadarkan diri itu mulai terganggu dari alam bawah sadarnya. Terlihat dari ekspresinya yang terlihat tak nyaman.

GREP

"Apa yang kau lakukan?" Donghae terperanjat kaget saat namja yang tadi tak sadarkan diri kini terbangun dan langsung mencengkram pergelangan tangan nya.

"Hanya ingin menyentuh bibir mu." Jawab Donghae santai dengan wajah datarnya. Namja itu menatap tak suka terhadap Donghae.

"Cih... menjijikan!" seru namja itu seraya menghempaskan tangan Donghae kasar. Donghae tersenyum tipis melihat kelakuan namja dihadapan nya. Meskipun dalam keadaan yang buruk, namun namja dihadapan nya itu bertingkah seolah-olah bahwa ia baik-baik saja. Terlihat dengan jelas saat melihat raut wajah nya yang seperti sedang menahan sakit. Donghae tersenyum meremehkan saat melihat namja itu kini tengah berusaha untuk duduk.

"Tsk, ingin berlaga menjadi seorang pahlawan tapi malah kau sendiri yang ditolong oleh pahlawan." Ujar Donghae dengan nada meremehkan. Namja itu melirik Donghae yang kini kembali terduduk di atas sofa dengan ekor matanya.

"Maksudmu?" tanya namja itu tak mengerti.

"Semalam kau berniat menolong seorang siswa SMA kan? Yah, kuakui niatan mu itu baik, sangat baik malah. Tapi, jika boleh kusarankan..." namja itu menolehkan kepalanya ke arah Donghae. Menunggu Donghae untuk melanjutkan kalimatnya.

"Jika kondisi mu tak memungkinkan untuk menyempurnakan niatan baikmu itu, lebih baik tak usah dilakukan! Korban yang seharusnya hanya satu orang kini bertambah satu menjadi dua." Namja itu mengepalkan tangan nya kuat, Donghae yang melihat kepalan tangan namja itu kini menatap nya tajam, membuat namja itu merasakan hawa dingin disekitar tubuhnya. Tak ingin terus-terus merasakan hawa dingin tersebut, namja itu memutuskan kontak matanya dengan Donghae dan beralih menatap tangan nya yang tertancap sebuah selang infus.

Namja itu membelalakan matanya kaget dan melihat keadaan sekitarnya dengan tatapan tak percaya. Ia menyibak selimut berwarna yang sedari tadi menutupi tubuhnya, hingga kini indra penglihatan nya menemukan kakinya yang dibalut tebal oleh perban. Donghae melipat kedua tangan nya di depan dada dalam diam, menyaksikan tingkah namja yang sepertinya baru sadar akan keadaan nya sekarang. Tangan namja itu terangkat, menyentuh kepalanya sendiri yang juga terdapat lilitan perban.

"Untuk ukuran orang seperti mu, tak seharusnya kau telat menyadari situasi dan kondisi yang terjadi pada tubuhmu sendiri. Kau ini—YA! YA! Apa yang kau lakukan?" Donghae terperanjat kaget saat melihat namja itu melepas selang infusnya dan melepaskan lilitap perban kepala dan kakinya. Donghae berdiri dari duduknya dan segera menghampiri namja nekat itu.

"YA! Apa kau bodoh? Tak seharusnya kau melakukan itu!" seru Donghae seraya menyentuh lengan namja itu, bermaksud untuk membantu menahan berat tubuh namja itu yang kini mulai berdiri.

"Jangan sentuh aku!" seru namja itu sambil menepis tangan Donghae dari lengan nya. Donghae hanya diam, menunggu aksi apa lagi yang akan namja itu lakukan. Namja itu mencoba melangkan kakinya menuju pintu dengan sedikit terpincang. Donghae menatap miris namja itu yang kini tengah menahan rasa sakitnya, terlihat jelas dari cara ia menggigit bibir bawahnya.

"Jika kau mau jalan-jalan aku bisa membantumu."

"Tak usah, aku ingin pulang!"

"Aku bisa mengantar mu jika kau mau." Tawar Donghae tulus. Namun namja itu tak mengubris tawaran Donghae sedikitpun. Ia malah terus mencoba berjalan menuju pintu sambil sesekali berpegangan pada barang-barang berukuran besar yang dapat membantunya menahan berat tubuhnya. Merasa dianggap tak ada, Donghae memilih duduk dipinggiran ranjang dan sudah tak peduli lagi akan keadaan namja keras kepala itu.

"Kau benar-benar akan pulang ke rumah mu?" tanya Donghae tak percaya saat namja itu berhasil memegang knop pintu.

"Apa itu masalah untuk mu? Kau mengkhawatirkan ku? Tenang saja, aku ini namja!" seru namja itu membuat Donghae tertawa geli.

"Mwo? Mengkhawatirkan mu? Yang benar saja! Kau ingin langsung pulang ke rumah tanpa mengucapkan 'terima kasih' terhadap penolong nyawa mu? Begitu? Di dunia tak-a-da-yang-gra-tis Lee Hyukjae-sshi!" Ucap Donghae dengan sedikit penekanan pada beberapa kata. Namja yang baru saja disebutkan namanya itu terbelalak kaget, namun dengan posisi masih memegang knop pintu yang secara otomatis Donghae tak dapat melihat keterkejutan nya secara langsung karena tubuh Eunhyuk yang memunggungi nya.

'Dari mana dia tau namaku?' tanya nya dalam hati.

"Catatlah aksi penolongan mu tadi malam dalam buku hutang mu, aku akan mengganti uang perawatan rumah sakit ini nanti!" seru Eunhyuk seraya membuka pintu itu dan pergi keluar meninggalkan Donghae yang kini tengah menyeringai setan menatap pintu yang baru saja ditutup kasar oleh Eunhyuk.

"Menarik!" seru Donghae senang. Ia turun dari pinggiran ranjang dan berjalan menghampiri jendela yang terbuka. Namun seketika itu pula ekor mata nya tak sengaja melihat sebuah benda yang terdapat di atas sofa. Donghae kini berjalan menghampiri sofa dan menatap benda tersebut secara intens.

"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Lee Hyukjae-sshi..." ucap nya entah pada siapa. Tangan nya bergerak mengambil sebuah tas punggung milik Eunhyuk yang tertinggal begitu saja. Seringaian mulai terlukis lagi di bibir nya. Ya! Tas punggung! Tas punggung yang akan membuat mereka mau tak mau harus menjalani sebuah cerita yang telah disusun rapih oleh Tuhan.

.

.

.

Eunhyuk berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil berpegangan pada besi yang tak terlalu menempel dengan dinding. Beberapa orang yang berpapasan dengan Eunhyuk sedikit memandang nya aneh. Ada pun yang memandang nya penuh tanya. Beberapa suster rumah sakit yang berpapasan dengan Eunhyuk menawarkan bantuan kepadanya, namun Eunhyuk tak merespon tawaran dari suster-suster itu sedikit pun, hingga para suster itu pun membiarkan Eunhyuk dan mencoba mengerti perasaan pasien yang mungkin saja tak ingin diganggu oleh siapapun. Tiupan angin sore hari menerpa wajah nya, membelai permukaan kulit wajah nya saat ia keluar dari bangunan yang memiliki aroma khas obat-obat an. Eunhyuk memejamkan matanya sesaat, mencoba menikmati angin sore yang terus membelai permukaan wajah nya dengan lembut, membuat dirinya merasa tenang dan ringan untuk sesaat. Dibukanya kembali mata itu dan menatap langit yang sedikit berwarna oranye.

'Selama inikah aku tertidur?' tanya nya pada dirinya sendiri saat menyadari bahwa ini sudah sore. Ia tak sadarkan diri saat tengah malam, dan baru terbangun sore hari. Benar-benar lama! Tidurnya kali ini adalah tidur terpanjang yang pernah ia rasakan seumur hidup nya. Tidur nya benar-benar nyaman dan nyenyak. Ia berharap bisa merasakan tidur yang enak dan nyaman seperti saat ia 'tertidur' di rumah sakit bila di rumah nanti.

Eunhyuk kembali berjalan dengan terpincang. Sebisa mungkin ia berusaha menahan rasa sakit pada kaki, pertu dan kepalanya agar tak terlalu menarik perhatian orang-orang yang ada disekitarnya. Kini ia berdiri di pinggiran jalan, masih dengan baju pasien nya untuk menunggu sebuah taxi yang akan mengantarkan nya pulang ke rumah. Merasa ada sesuatu yang kurang, Eunhyuk meraba-raba tubuh nya sendiri mencari sesuatu yang di rasa kurang.

"Tas ku!" serunya dengan mata membulat sempurna. Bagaimana ia pulang jika tas nya tertinggal begitu saja? Ia menolehkan kepalanya kebelakang, haruskah ia kembali ke ruang rawatnya? Bertemu dengan namja asing itu lagi? Haruskah? Euhnyuk terlihat sedang menimang-nimang tindakan yang akan ia lakukan. Tanpa ada atau tidak tas nya, sebenarnya itu semua tak terlalu berpengaruh pada nasib Eunhyuk untuk pulang kerumah nya dikarenakan di dalam tas nya ia tak memiliki uang seperser pun. Namun, mungkin saja jika tas nya ada di sini ia bisa membayar ongkos taxi nya dengan beberapa bungkus rokok di dalam tasnya, atau mungkin ponselnya juga bisa kan?

Eunhyuk menatap jalan raya dengan tatapan miris. Sungguh miris sekali hidup nya! Ternyata perkataan Kyuhyun saat di club malam memang benar adanya. Dunia ini tak akan pernah berbaik hati padanya, begitupun Tuhan.. si pencipta bumi ini. Tuhan membencinya! Tuhan tak akan begitu saja memberikan kemudahan dalam hidup nya! Di dunia ini tak ada orang yang memiliki hati seperti malaikat. Andai kata ada pun, pasti orang itu tetap tak akan mengaplikasikan kebaikan hatinya kepada dirinya. Dalam lubuk hatinya Eunhyuk ber do'a, jiks Tuhan hanya akan memberikan kehidupan seperti ini sepanjang hidupnya, Eunhyuk berharap Tuhan mencabut nyawa nya saja sekarang! Sebenci apapun Eunhyuk kepada Tuhan, sebenci apapun Tuhan padanya, Eunhyuk ingin Tuhan mendengarkan dan mengabulkan do'a nya yang satu ini.

"Ini!" suara seseorang sukses membuat Eunhyuk terbuyar dari lamunan nya. Ia menolehkan kepalanya kesamping dan menemukan sesosok namja yang terlihat lebih muda darinya. Eunhyuk menaikan sebelah alisnya heran saat melihat beberapa lembar won yang disodorkan oleh namja itu.

"Mwoya?" heran Eunhyuk. Namja itu tersenyum merendahkan lalu menarik paksa tangan Eunhyuk untuk menerima uang darinya.

"Ambil lah! Aku tau kau orang tak punya, kau pasti butuh uang kan untuk membayar taxi?" Eunhyuk merasa terhina mendengarnya. Harga dirinya serasa di injak-injak oleh orang asing yang bahkan tak tau tentang seluk beluk keadaan ekonomi Eunhyuk. Tapi namja itu ada benarnya, untuk saat ini mungkin Eunhyuk bisa dibilang orang tak punya. Sedetik kemudian Eunhyuk langsung mengambil uang itu secara kasar.

"Akan ku kembalikan jika kita bertemu lagi." Ucap Eunhyuk setelah mengambil uang dari namja itu.

"Tak usah, aku ini anak orang kaya! Uang sedikit seperti itu tak perlu dijadikan sebagai hutang. Lagi pula, dirumah ku uang sudah melebihi kata 'banyak', jadi aku ingin sedikit menghamburkan nya." tangan Eunhyuk mengepal kuat, jika saja kondisinya tak seperti ini mungkin saja namja dihadapan nya sudah habis dibuat babak belur oleh tangan kosong nya. Suasana seketika hening, tak ada yang berniat untuk bicara. Namja itu sibuk memperhatikan jalan raya, sedangkan Eunyhuk sibuk memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikiran nya mengenai namja yang berada di samping nya itu.

Tak beberapa lama kemudian, sebuah taxi hitam terlihat berjalan menghampiri mereka. Eunhyuk memberhentikan taxi yang kebetulan kosong itu dan membuka pintunya. Saat Eunhyuk hendak masuk ke dalam taxi itu, ia menolehkan arah pandang nya pada namja itu yang kini juga ikut memandang Eunhyuk.

"Sedikit saran dariku, jika kau memang ingin menghamburkan uang mu itu, hambur kan lah pada anak-anak jalanan, anak yatim-piatu dan pergilah ke panti jompo jika kau mau!" namja itu mendecih pelan mendengar saran yang dilontarkan Eunhyuk kepadanya. Detik berikutnya Eunhyuk langsung naik ke dalam taxi dan menutup pintu taxi nya sedikit kasar. Taxi pun berjalan begitu saja, meninggalkan Im Jae Bum yang kini tengah memegangi perut nya menahan tawa. Ya! Im Jae Bum atau yang biasa kita tau dengan panggilan JB kini tengah menertawakan ketidak pekaan Eunhyuk akan sosok dirinya.

"Ck, apa namja itu tak sadar jika aku adalah siswa yang saat tengah malam menjadi korban pengeroyokan? Pabbo!"

.

.

.

Eunhyuk duduk terdiam di dalam taxi sambil memandangi keadaan di balik kaca taxi. Refleksi dirinya di kaca taxi yang gelap ini menarik perhatian Eunhyuk untuk memandang refleksi dirinya sendiri. Eunhyuk terus menatap refleksi dirinya dengan seksama.

'Manis...' puji dirinya sendiri atas refleksi dirinya di kaca taxi. Kini Eunhyuk memilih bersandar dan menatap lurus ke jalanan.

"MWOYA?!" Eunhyuk tersentak kaget dan kembali melihat refleksi dirinya di kaca taxi. Wajah yang memang sebenarnya manis ditambah dengan rambut yang kini berponi. Masih melihat refleksi nya di kaca taxi, Eunhyuk meraba-raba wajah dan rambut nya tak percaya.

"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya sang sopir taxi yang bingung melihat tingkah Eunhyuk melalui kaca spion depan.

"A...ehm, aniya." Jawab Eunhyuk singkat.

"Arraseo, jika tuan membutuhkan sesuatu katakan saja. Siapa tau saya bisa membantu." Ujar sopir taxi itu ramah. Eunhyuk hanya mengangguk kikuk sebagai jawaban. Ia berusaha untuk menenangkan perasaan nya dan bertingkah setenang mungkin. Kembali ia sandarkan tubuh nya pada sandaran kursi taxi seperti tadi, namun tidak dengan matanya. Matanya tak menatap lurus kedepan, namun ekor matanya sekali-kali melirik kaca taxi yang terdapat refleksi wajahnya.

'Kenapa rambut ku seperti ini?!' Eunhyuk mem-pout kan bibir nya tanpa sadar sambil mencoba meluruskan poni nya ke atas. Namun sayang, poni nya kembali turun menutupi dahinya. Jelas saja! Biasanya Eunhyuk akan memakai jelly pada poni nya agar bisa di keataskan, namun sekarang? Ia belum memakai jelly. Haruskah ia bertanya apakah sopir taxi ini memiliki jelly rambut atau tidak? Hhh~ seperti nya dengan gara rambut seperti ini untuk beberapa saat tidak apa-apa. Lagi pula, tak akan ada teman-teman kampus yang melihat nya.

"Dasar namja tak punya sopan satun! Kurang ajar sekali dia!" Oh My God~ Lee Hyukjae, apakah kau tak salah berbicara barusan? Apa kau tak ingat jika dirimu sendiri tak punya sopan santun? Kau dan namja tadi sama saja, tak jauh berbeda! Sama-sama tak punya sopan santun! Bagaimana rasanya bertemu dengan namja tak punya sopan santun seperti tadi? Kesal kah? Rasa kesal mu saat bertemu namja tak sopan santun tadi tak jauh berbeda dengan rasa kesal orang-orang ketika berbicara dengan mu yang sama-sama tak punya sopan santun.

Merasa jarak menuju rumah nya sudah semakin dekat, Eunhyuk mengeluarkan berlembar-lembar won yang tadi ia terima dari namja di depan gedung rumah sakit. Seketika itu pula, bayangan akan wajah namja yang tadi ia sebut tak punya sopan santun melintas begitu saja di pikiran nya.

"Sepertinya, aku pernah bertemu namja itu..." Eunhyuk mencoba mengingat-ngingat wajah namja tak punya sopan santun itu. Dan... bingo!

'Aisshh... dia kan namja yang tadinya akan kutolong saat tengah malam! Dia kan namja yang dikeroyok oleh segorombolan siswa yang berseragam sama dengan nya!' Eunhyuk memukul kepala nya pelan, membuat sopir taxi yang melihat tingkah Eunhyuk melalui kaca spion hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Pantas saja bocah sialan itu memberikan ku uang begitu saja!' Eunhyuk merutuki ketidak pekaan nya yang memang sudah menjadi kebiasaan buruk nya dari dulu.

'Jadi seperti ini cara dia berterima kasih? Cih.. mengandalkan uang dengan sesuka hatinya. Lebih memilih menggunakan uang dari pada mengucapkan kata termia kasih dengan mulut nya. Jika aku bertemu dengan anak itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk menghajarnya!'

.

.

.

Jika biasanya ketika Eunhyuk pulang kerumah ia akan membanting pintu rumah nya kasar, maka berbeda dengan sekarang yang menutup pintu rumah nya secara perlahan. Eunhyuk melangkahkan kakinya menuju tangga yang menjadi penghubung lantai satu dan dua dimana terdapat kamarnya disana.

"Hyukkie-ah..." suara seorang yeoja mengagetkan Eunhyuk ketika kaki kanan nya menyentuh anak tangga pertama. Eunhyuk menarik kembali kakinya dan membalikan badan nya untuk melihat siapa yeoja yang telah memanggil namanya dengan sangat manis. Seingat Eunhyuk, rumah ini hanya ditinggali oleh Eunhyuk dan appa nya. Eomma nya sudah meninggal sejak ia berumur 7 tahun, dan ia pun tak memiliki kakak atau pun adik perempuan. Eunhyuk memang memiliki saudara perempuan, tapi mereka tak tinggal di Korea, melainkan di Jepang. Lantas siapa yang memanggilnya barusan?

"Siapa kau?" Eunhyuk menatap seorang yeoja asing yang tak ia kenali sama sekali. Eunhyuk menaikan sebelah alis nya heran melihat penampilan yeoja asing itu yang kini menggunaka piyama tidur.

"Apa kau tuli? Aku bertanya! Siapa kau? Sedang apa kau dirumah ku?"

"LEE HYUKJAE!" Eunhyuk memutar bola matanya malas mendengar suara seorang namja yang baru saja meneriak kan namanya. Eunhyuk membalikan badan nya dan mendapati sang appa yang sangat ia benci berjalan turun dari tangga.

"Sudah ku peringat kan berapa kali padamu eoh? JAGA SOPAN SANTUN MU!" bentak tuan Lee pada Eunhyuk.

"Untuk apa aku harus menjaga sopan santun ku pada yeoja yang bahkan tak kukenali sama sekali?! Siapa dia? Apa dia yeoja pemuas nafsu yang kau temukan di club malam, eoh?"

PLAKK

"Yeobo hentikan~" Eunhyuk menatap heran yeoja yang kini terlihat sedang memohon pada tuan Lee sambil mengusap pipi nya pelan. Yeobo? Bukan kah itu panggilan untuk sepasang 'suami-istri'.

"Yeobo?" heran Eunhyuk dengan mata membulat sempurna.

"DIA IBU MU!" bentak tuan Lee seraya menunjuk yeoja yang kini tengah menatap Eunhyuk takut.

"MWO? Kau menjadikan seorang PELACUR sebagai istri mu? Sebagai ibuku juga? Cih.. aku tak sudi menerimanya sebagai ibu ku!"

"KURANG AJAR!"

PLAKK

"Tsk, kau menamparku? Bukankah selama ini kau selalu memukul ku? Kemana sosok 'appa' yang selama ini selalu memukul wajah ku?" tantang Eunhyuk tanpa rasa takut sama sekali.

"Jadi itu yang kau ingin kan? SEBUAH PUKULAN? BAIK!"

BUAGH!

"Hentikan!" yeoja itu berteriak histeris dan langsung berlari memeluk tubuh tuan Lee. "Kumohon.. hentikan yeobo~"

"Cih.. menjijikan sekali!" Eunhyuk menatap sinis ibu tirinya itu. Mendengar itu, tuan Lee kembali mengepalkan tangan kuat dan berniat menghajar Eunhyuk. Namun yeoja itu menahan tubuh tuan Lee dan mengusap dada nya pelan. "Sudah! Jangan sakiti Hyukkie.. kasian dia! Apa kau tak lihat dia mengenakai pakaian pasien rumah sakit?!"

"Persetan dia mengenakan pakaian seperti apapun aku tak peduli!"

"Semenjak eomma pergi kau memang tak pernah peduli lagi terhadap ku!" seru Eunhyuk marah.

"ANAK SIALAN! PERGI KAU DARI RUMAH INI!"

"Arraseo! Tanpa kau menyuruk ku pergi pun aku memang akan pergi dari rumah ini! Aku tak sudi tinggal satu atap dengan pelacur yang tak jelas asal usul nya seperti dia!"

"BAJINGAN! KAU—!"

"Kendalikan emosimu!" sergah yeoja itu membuat tuan Lee mengurungkan niatnya untuk menendang tubuh Eunhyuk. Eunhyuk berdiri dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

"Pantas saja tadi anak dari bos mu menagih semua hutang mu padaku! Ternyata, kau tak masuk kantor dan malah menikah dengan pelacur tak tau diri itu! Cepatlah lunasi hutang mu! Hutang mu membuat ku tak nyaman saat kuliah!"

BRAKK

Tuan Lee menarik nafas nya dalam-dalam dan menatap marah pada pintu yang baru saja ditutup oleh putranya, Lee Hyukjae. Tanpa mereka semua sadari, seorang namja yang sedari tadi berada di dalam kamar Eunhyuk terlihat tengah mengepalkan tangan nya kuat mendengar kata-kata Eunhyuk yang semuanya adalah hinaan kepada ibunya. Ia bersumpah bahwa ia tak akan berbaik hati kepada kakak tirinya, Lee Hyukjae.

.

.

.

Untuk pertama kalinya setelah kepergian ibu nya saat ia masih berusia 7 tahun, detik ini Eunhyuk kembali merasakan seperti apa itu air mata. Ia berjalan dengan terpincang tanpa tujuan setelah sebelumnya mendatangi apartement Siwon tanpa keberadaan sang pemilik. Jadilah sekarang Eunhyuk duduk di pinggir jalan raya yang tak terlalu ramai mengingat kini sudah hari sudah malam. Eunhyuk memeluk kedua lutut nya dan membenamkan kepalanya disana. Ia menangis sejadi-jadinya di sunyinya malam. Terpaan angin malam membuat dirinya semakin terlihat menyedihkan. Euhnyuk yang sedang menangis kini terlihat seperti anak kecil yang sedang merindukan sosok ibunya, karena memang sekarang ia tengah teringat akan ibunya. Dan ia merindukan sosok yang telah lama pergi meninggalkan nya itu. Sungguh jauh berbeda dengan sosok nya saat berada di kampus bersama teman-teman nya.

Tanpa Eunhyuk sadari, sebuah audi hitam berhenti tepat dihadapan Eunhyuk. Sesosok namja tampan keluar dari audi hitam itu. Ia mengulurkan tangan nya tepat di hadapan Eunhyuk.

"Hey, menangis disini sendiri tak baik. Lebih baik kau ikut dengan ku, dan istirahatkan tubuh mu... juga hatimu." Tawar namja itu tulus. Eunhyuk yang saat ini memang membutuhkan aplikasi dari yang namanya 'istirahat' mendongkak kan kepalanya dan langsung menerima uluran dari namja itu. Penglihatan matanya yang buram karena genangan air mata membuat Eunhyuk tak dapat melihat wajah namja baik hati itu dengan jelas, ditambah lagi pencahayaan jalan raya disekitar sini yang sedikit redup. Tapi Eunhyuk tak peduli siapa namja yang menolong nya kini, karena yang terpenting sekarang adalah mencari tempat untuk istirahat tanpa harus kembali ke rumah. Karena percuma saja jika ia mengharapkan sahabat-sahabat nya untuk datang menolong nya. Ingin menelpon pun ia tak bisa karena ponsel nya berada di dalam tas punggung yang tertinggal entah dimana.

Eunhyuk duduk di dalam audi hitam itu masih denga air mata yang terus mengalih membasahi pipi nya. Sedangkan namja tampan itu mencoba focus untuk menyetir meskipun ekor matanya sesekali melirik namja yang menurut nya manis itu. Tak lama, senyuman tipis mulai terlukis indah di bibir namja tampan itu tatkala melihat Eunhyuk yang kini tengah tertidur dengan air mata yang sesekali lolos dari matanya yang kini menghentikan mobil nya sebentar dan menatap lekat wajah Eunhyuk.

.

Chu~

.

Namja tampan itu mengecup bibir Eunhyuk sekilas lalu menghapus jejak air mata di pipi Eunhyuk menggunakan ibu jarinya. Namja tampan itu mengelus-elus rambut Eunhyuk sayang seraya menatap sebuah tas punggung yang sengaja tak ia kembalikan pada pemiliknya.

"Entah mengapa tiba-tiba aku mencintai mu, Lee Hyukjae..." gumam namja itu sambil kembali mengecup bibir cherry Eunhyuk yang mulai menjadi candu baginya beberapa detik yang lalu.

.

.

.

.

TBC

.

.

Sawadeekap~ ini dia chapter 2 nya :D

Apa readers sekalian suka dengan jalan cerita seperti ini?

Kyuhyun nya ilang yah? Hahaha...

Buat yang tak tega membaca nasib Eunhyuk dalam ff ini bisa segera berhenti membacanya mulai dari sekarang. Tapi, disini Naka tekan kan bahwa Eunhyuk sang peran utama tak akan selalu merasa tersakiti kok^^ beneran deh.. di 'warning' nya juga kan udah Naka sertain 'Fluffy Angst', berarti awal nya 'gelap' tapi kedepan nya bakalan 'terang' :D ngerti dong maksud nya Naka?! ;)

Buat yang merasa aneh dengan other cast nya, terutama yang tidak termasuk member Suju, jangan bayangkan dan jangan rasakan cocok atau tidak nya mereka jika dipertemukan dalam satu fanfic. Namun, bayangkan dan rasakan lah sosok mereka saat memerankan karakter yang Naka buat dalam ff ini 0:)

yang khawatir Hyukjae seme, tenang aja~

DISINI HYUKJAE UKE ^_^

Once more time, i hope you guys like this fanfic :D

Kritik dan saran sangat Naka butuhkan untuk memperbaiki ff ini jika ff ini kurang nyaman untuk dibaca. Atau malah... kurang pantas dijadikan sebagai fanfic(maybe)?! xD

And big thanks to readers who always review my fanfic^^

.

Don't forget to Review ok guys ;)

See you in chap 3~~