Kalau dewi fortuna sedang tidak berpihak, lari adalah jalan satu-satunya. Kai nampaknya harus segera menyelamatkan dirinya. Selain polisi yang mengejarnya di belakang, Kai yakin ada beberapa musuh yang mencegatnya di sudut lain kota Seoul. Dalam dunia bisnis, sekalipun itu adalah bisni ilegal. Musuh tetaplah ada dan bahkan tampak lebih ekstrim karena acara tembak-menembak pasti tidak bisa di hindari. Apalagi ini ilegal, sudah hal wajar jika musuh yang tak lain adalah pesaing bisnis menghabisi musuhnya.
Karena sedikit lengah lengan kiri Kai tergores peluru, beruntung tidak tertembus. Karena kalau tertembus, akan lebih bahaya keadaannya jika Kai harus pergi ke rumah sakit untuk berobat. Reflek Kai dari sebuah ancaman adalah yang paling bagus tapi bukan berarti dia tidak akan mendapatkan luka apapun di tubuhnya.
Sambil memegangi lengan kirinya yang terus mengucurkan darah, Kai mempercepat larinya sambil sesekali menengok ke belakang untuk menembak polisi yang mengejarnya. Pria berkulit tan itu harus menghindari sebuah gang tikus di depannya karena ada musuh lain yang menunggunya bersembunyi disana dari kejaran polisi. Kai lebih memilih meneruskan larinya ketimbang menambah musuh, polisi tentunya tidak selalu bodoh untuk tidak tahu Kai bersembunyi di salah satu gang tikus itu.
Sial sekali malam itu Kai pergi melakukan transaksi sendirian. Biasanya dia pergi dengan Kyungsoo atau Lay. Tapi hari ini Kyungsoo sudah melakukan transaksi lain, sedangkan Lay melakukan pekerjaan tidak berguna dengan membuntuti Kyungsoo yang sedang membuntuti Baekhyun.
Grebb
Sebuah tangan menarik Kai ke dalam salah satu rumah setelah satu belokan. Si pemilik tangan menutup pintu rumahnya dan membekap mulut Kai. Kai yakin si pemilik tangan itu pendek, karena tingginya hanya sebahunya saja. dari rumah itu, Kai mendengar suara ketukan pintu yang diyakini di lakukan oleh salah satu polisi yang mengejarnya.
"Kau tunggu disini dulu" suara seorang gadis. Suasana rumah yang gelap membuat Kai tidak bisa melihat jelas wajah gadis itu, jadi dia hanya menurut saja ketika gadis itu memerintahkannya untuk menunggu.
Gadis itu memasang wajah mengantuk dan membuka pintu sambil mengucek matanya. Hanya pura-pura sebenarnya.
"Selamat malam, maaf mengganggu" kata polisi itu sopan. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan memasang wajah bingung pada polisi itu. Sungguh akting yang baik.
"Kami sedang mengejar seorang buronan. Memakai pakaian serba hitam dengan slayer yang menutupi setengah dari wajahnya"
"Pak polisi, aku mengantuk" kata gadis itu.
"Ah, kami benar-benar minta maaf. Sepertinya tidak seharusnya mengganggu tidurmu. Apa orang tuamu tidak ada?"
"Orang tuaku sudah meninggal. Aku tinggal bersama oppaku yang jarang pulang ke rumah karena bekerja" polisi itu mengangguk mengerti. Sebelum berpamitan, polisi itu mengambil sesuatu di sakunya lalu meraih tangan gadis itu untuk memberikan benda yang di ambilnya.
"Kau bisa menghubungiku jika ingin kakakmu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik agar dia bisa menjagamu" kartu nama. Dari yang tertulis namanya Lee Sungmin. Polisi muda dengan pipi yang sedikit berisi dan wajah yang imut. Tidak cocok sekali untuk menjadi seorang polisi. Tapi, mengetahui polisi itu berusaha keras mengejar Kai. Tentu saja itu membuktikan bahwa pria itu memang melakukan tugasnya sebagai polisi.
Ckleek
Gadis itu menyalakan lampu mendapati Kai yang sudah tampak pucat karena luka goresan di lengan kirinya. Malam ini suhu memang terasa sangat dingin, kejar-kejaran di malam hari membuat keadaan Kai lebih buruk. Gadis berpiyama yang menyelamatkannya itu bergegas membawa Kai untuk duduk di sofa. Gadis itu berlari menuju lantai atas dan kembali bersama seorang pria yang tampak tidak asing di mata Kai. Di tangannya terdapat kotak P3K.
Sedikit terkejut melihat sosok Kai yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Bukankah kau si bartender itu?" tanya Kai. Pria yang dimaksud Kai adalah Baekhyun, pria itu menghela nafasnya kasar. Bagaimana bisa adiknya terlibat hubungan dengan orang-orang 'bejat' di bar tempatnya bekerja? Ya, meskipun Baekhyun tahu mereka tidak benar-benar bejat seutuhnya. Karena Baekhyun sering melayani mereka dan selalu mendapat sikap baik dari mereka.
Menuruti instingnya, tanpa mempedulikan Kai yang masih menatapnya, Baekhyun langsung bertindak mengobati luka Kai. Cukup takjub melihat Kai yang tidak meringis sama sekali ketika Baekhyun membersihkan lukanya. Adiknya saja sudah meringis sendiri melihatnya. Padahal itu hanya luka goresan, tapi melihat saja sudah seperti ada peluru di dalamnya.
Selesai membersihkan lukanya, Baekhyun menyuruh Kai untuk membersihkan diri di kamar mandi. Sementara pria itu bersiap untuk keluar rumah. Tentu saja untuk kembali ke bar, memberitahukan keadaan Kai di rumahnya. Dengan mantel hitam Baekhyun keluar dari rumahnya, meninggalkan Kai dan Minhyun adiknya berdua di rumah. Dia yakin adiknya akan tetap aman.
"Jadi Kai ada di rumahmu?" Suho menyenggol lengan Kyungsoo yang duduk di sebelahnya. Kawannya itu memasang wajah datar sambil menatap Baekhyun, penuh selidik. Baekhyun jadi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kyungsoo sering bertingkah tidak wajar padanya, meskipun itu bukan tingkah yang aneh. Hanya tingkah yang tidak biasa Kyungsoo lakukan.
"Bawa kami kesana"
Ini sudah jam 3 dini hari, shif Sehun untuk bekerja di Bar sudah lagi bar jam 3 sudah tutup dan akan di buka pukul 6 pagi dengan bartender lain yang akan melayani pengunjung. Pemuda dengan warna kulit seperti albino itu memilih mengikuti ketiga orang itu dari belakang ketika melihatnya keluar dari Bar.
Terjadi percakapan diantara ketiganya, hanya saja Sehun tidak bisa mendengarnya karena jaraknya terlalu jauh untuk di bilang membuntuti.
'DOR'
Sehun berhenti di tempatnya ketika Kyungsoo menembakkan sebuah peluru dari pistol yang selalu berada di sakunya. Beruntung Kyungsoo memang hanya bermaksud membuat Sehun keluar dari persembunyiannya, jadi pria dengan mata doenya itu menembak ke arah lain di dekat Sehun. Keduanya kini saling melempar tatapan tajam seperti sebelumnya. Baekhyun sendiri mengerang tertahan. Dua bocah yang berada di sekitarnya terlihat sangat berani dengan melibatkan diri dengan geng menyeramkan milik bos pemilik bar tempatnya bekerja. Geng mereka adalah geng dengan wajah yang menipu semua. Kyungsoo dengan wajah imutnya yang seperti anak-anak, apalagi mata bulatnya yang menggemaskan. Disusul Chanyeol yang tinggi dengan cengiran lebarnya, terlihat seperti maniak daripada orang yang ahli menembak. Sama halnya dengan Lay yang memiliki dimple manis di salah satu pipinya, terlihat seperti orang baik-baik. Luhan yang memiliki wajah innoncent dan mata seperti rusa yang menggemaskan. Sikapnyapun sopan, tapi tidak mungkin ada yang dengan mudahnya percaya bahwa seorang Xi Luhan pernah menghabisi 10 preman yang masing-masing berakhir di pemakaman dengan tangan kosong hanya karena mereka menggoda Luhan sebagai uke yang cantik. Luhan masih normal untuk menyukai gadis-gadis lucu dan imut serta berwajah innoncent, tipe-tipe ideal Luhan adalah yang menggemaskan seperti anak-anak.
Terakhir ada Suho, si pemilik bar tempat Baekhyun bekerja. Pria dengan kedok wajah malaikat yang memiliki segudang bisnis ilegalnya. Tidak tahu saja, bahwa paman yang selalu membiayai segala kebutuhannya sangat mempercayai bahwa pria itu adalah pria baik-baik yang bekerja di bidang sosial. Sebut saja nama pamannya itu Choi Siwon. Wajahnya hampir mirip dengan Suho, hanya saja terlihat lebih tinggi, tegap dan tampan sekalipun usianya sekarang hampir menginjak 40 tahunan.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Kyungsoo. Kembali pada situasi saat ini, Sehun sebisa mungkin tetap memasang wajah datarnya. Pemuda tinggi itu berjalan dengan santainya mendekat kearah Kyungsoo yang masih mengacungkan pistol ke arahnya. Sehun tahu, Kyungsoo tidak akan menembaknya jika dia tidak mencari gara-gara padanya.
"Arah rumahku dan baekhyun hyung sama, aku hanya tidak ingin berjalan beriringan dengan kalian berdua saja" Kyungsoo memasukkan kembali pistolnya ke dalam saku jaketnya. Dia tidak begitu saja mudah percaya dengan alasan yang diberikan Sehun. Tapi, melihat Baekhyun yang mengangguk kearahnya seolah meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Sehun itu benar membuatnya mengamankan kembali pistolnya. Dia tetap tidak percaya bahwa itu memang alasan Sehun berjalan dengan jarak yang cukup jauh dari mereka bertiga. Pasti ada alasan lain, tapi Kyungsoo berusaha tidak mempedulikannya.
"Minhyun berulah lagi hyung?" tanya Sehun. Baekhyun menganggukkan kepalanya malas.
"Ya, dia memang tidak pernah jauh-jauh dari yang namanya masalah" mereka berempat kembali berjalan, kini dengan Sehun yang berjalan berdampingan dengan mereka. membuatnya terlihat berbohong sekarang. Tapi Sehun sudah masa bodoh dengan hal itu, lagipula memang benar bahwa 'salah satu' alasannya mengikuti mereka dengan jarak yang cukup jauh memang itu. Tapi Sehun memang masih memiliki alasan yang lebih utama lagi.
"Berhenti bergerak" keempatnya mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya mereka bertemu polisi di saat-saat yang seperti ini. Tapi keempatnya berusaha memasang wajah biasa agar polisi itu tidak curiga. Pakaian mereka yang serba hitam memang dengan mudah membuat polisi manapun yang masih berkeliaran karena pengejaran Kai curiga. Keempatnya membalikkan tubuh dan mendapati seorang polisi dengan tubuh kurus menodongkan pistol ke arah mereka.
"Darimana saja kalian malam-malam begini? Pelajar seperti kalian harusnya masih tidur di rumah karena pagi-pagi harus bersekolah" Kyungsoo, Suho dan Baekhyun memutar bola matanya malas. Sudah biasa dianggap bocah bau kencur.
"Kami baru pulang bekerja"
Polisi itu menatap mereka tajam "Berikan kartu identitas kalian"
'DOR'
Kelima orang itu menoleh ke suara tembakan, dan mendapati Chanyeol dengan pistol di tangannya sedang menyeringai. Chanyeol baru saja menembak sebuah kamera CCTV sampai rusak.
"Hi dude sekalian, missing me?" Baekhyun dan Suho ingin muntah melihat Chanyeol berbahasa inggris campuran.
"Hei anak muda, siapa kau berani memakai senjata api?"tanya polisi itu
DOR
Kali ini polisi itu menjadi korban tembakan, sebuah peluru menembus dada kirinya dan bersarang dijantungnya. Membuatnya berhenti bernafas pada saat itu juga. Terlihat Luhan yang menodongkan pistolnya dari belakang polisi itu dengan seringaiannya. Sedang bersama Lay yang memasang wajah santainya, seolah mereka telah melakukan hal heroik dengan menyelamatkan teman-temannya.
"Ups, maafkan aku Pak polisi. Tanganku licin... kau memaafkanku kan?" kata Luhan sambil memasang wajah sedih yang di buat-buat.
"Kau mengenal orang yang menjaga rekaman CCTV di sekitar sini kan Lay?" tanya Suho.
"Tentu saja, kau meragukanku? Lagipula, kalian mau kemana?"
"Kai tertembak"
"Koreksi, tergores peluru"Baekhyun mengoreksi ucapan Suho. "Dia sedang berada di rumahku sekarang" tambahnya.
"Kalau begitu kami ikut" teriak Chanyeol dengan suara beratnya. Dia terlihat tidak takut mendapat siraman air dari warga sekitar karena mengganggu mereka tidur di jam seperti ini.
Baekhyun menghela nafas. Daripada mendapatkan masalah lain, diapun memilih menurutinya. Lagipula Suho itu bosnya, dan empat orang yang sedang bersamanya itu adalah teman Suho. Meskipun sebenarnya tidak mungkin mengingat adiknya sudah melibatkan diri dengan menolong Kai.
"Aku pulang.."
"Op– huwa... D.O oppa..." Baekhyun memasang wajah jengkel. Pulang bukannya menyambutnya, adiknya itu justru lari ke arah Kyungsoo. Chanyeol dan Lay memasang cengiran mereka sambil saling merangkul.
"Kau mengingat kami little puppy?" tanya Chanyeol.
"Tidak" mereka langsung memasang wajah cemberut –yang dibuat-buat- dan seolah ingin menangis ketika Minhyun tidak mengingat nama mereka.
"Bercanda, kalian pasti Chanyeol-sshi dan Lay-sshi kan?" keduanya mengangguk kompak, wajah merekapun sudah seperti anak-anak sekarang.
"Reuninya nanti saja, sekarang dimana Kai?" tanya Suho.
"Di kamarku, sekarang dia sedang tidur. tadi wajahnya memerah, kupikir dia demam tapi dia malah mengusirku dari kamarku sendiri sambil berteriak-teriak kesal" Baekhyun menepuk jidatnya. Bagaimana bisa dia memiliki adik semacam itu? Sikap, sifat, tubuh dan kemampuan sama sekali tidak ada yang sinkron. Sehun yang sedari tadi diam seolah tidak dipedulikan berjalan maju dan berhenti di hadapan Minhyun.
PLETAKK
"Yak, appo. Kau ini kenapa Hun-ah?"
"Kau bodoh. Yang dia masuki itu kamar yeoja, mana mungkin wajahnya tidak memerah dan berteriak-teriak kesal?" Minhyun mengerucutkan bibirnya mendengar ceramah Sehun. Berbeda sekali dengan Taemin yang selalu berbicara sabar padanya dan juga mengalah padanya. Sehun itu berlaku kelewat dingin sebagai sesama teman yang saling membantu dalam hal tugas sekolah.
Kyungsoo menatap tajam kedekatan Minhyun dan Sehun, seperti cemburu? Luhan saja sampai terkekeh dibuatnya.
"Sabar saja.. jika jodoh tak akan kemana" kata Luhan sambil menepuk pundaknya. Kyungsoo langsung mendelik ke arah Luhan yang kembali terkekeh geli.
"Ayo masuk.." ajak Baekhyun.
.
.
.
"Akhirnya kau bebas juga... Kris"
TBC
