Story About Hyukjae's Love And Life
Romance, Family, Hurt/Comfort [T]
Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, Cho Kyuhyun. (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)
DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.
WARNING : AU, YAOI, TYPOS(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll
.
.
.
Happy Reading
Chap 8
Author POV
.
Donghae sedikit memundurkan tubuh nya saat pintu mobil dihadapan nya mulai terbuka dengan perlahan. Namja berwajah arrogant itu keluar dari mobil nya, begitu pun dengan namja yang duduk di samping Kyuhyun tadi. Ia hanya diam, melihat Kyuhyun dan Donghae yang kini tengah saling menatap tajam.
"Ada hubungan apa kau dengan Lee Hyukjae?" Kyuhyun bertanya dengan nada yang tak bersahabat, punggung nya ia sandarkan pada mobil ke sayangan nya.
"Haruskah aku menjawab?" Kyuhyun mendecih pelan mendengar pertanyaan konyol dari Donghae. "Hanya orang bodoh dan tuli saja yang tak akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya."
"Kekasih, aku kekasih Lee Hyukjae." Jawab Donghae dengan bangga nya. Hoya terkejut mendengar nya, matanya menatap Donghae lekat mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
'Dia bercanda! Mana mungkin dia kekasih namja jalang itu!' batin nya tak percaya. Donghae menaikan sebelah alis nya heran saat gelak tawa Kyuhyun menggema di area parkir kampus.
"Apa ada yang lucu dengan jawaban ku?"
"Ha! Hahaha... tadi kau bilang apa? Kekasih? Kekasih Lee Hyukjae?"
"Ne." Jawab Donghae disertai anggukan mantap. Sekali lagi, Kyuhyun tertawa terbahak-bahak karena nya. Tubuh nya kini tak lagi bersandar pada mobil, Kyuhyun mendekat pada Donghae seraya menepuk pundak nya. Donghae hanya melirik pergerakan Kyuhyun dengan ekor matanya.
"Siapa namamu?"
"Lee Donghae." Kyuhyun mengangguk, ia mendekatkan bibir nya tepat di telinga Donghae.
"Mmp, begini Lee Donghae-sshi... semua orang disini tau jika Lee Hyukjae yang kau akui sebagai kekasih mu itu ber-status STRAIGHT! Jadi, sungguh sesuatu yang mustahil jika kau dan Hyukjae menjadi sepasang kekasih. Dan sepertinya, aku akan menjadi orang yang paling bodoh di kampus ini jika aku benar-benar mempercayai perkataan mu tadi." Ujar Kyuhyun. Donghae terdiam, ia masih sedikit enggan untuk membalas perkataan namja yang telah membuat Eunhyuk terjerumus ke dalam permaian uang dan harga diri.
"Jika aku jadi kau, mungkin... aku lebih memilih mengeluarkan uang sebanyak ini untuk meniduri beberapa pelacur club malam dibandingkan mengeluarkan nya untuk membantu Hyukjae yang notabene adalah namja kurang ajar nan keras kepala." Ia menjauhkan tubuh nya dari Donghae dan kembali bersandar pada mobil dengan kedua tangan yang dilipat di depan kedua dada nya. Benar-benar mencerminkan bahwa Kyuhyun memang lah seorang bajingan kaya raya yang tak mempunyai hati nurani sedikit pun dimana Donghae.
"YA! Tak pernah kah kau menggunakan cermin di rumah mu dengan baik? Berkaca denga jeli seperti apa dirimu yang sebenarnya. Tadi kau bilang Hyukjae apa? Kurang ajar dan keras kepala? Lalu apa bedanya kau dengan Hyukjae? Kau dan dia sama-sama kurang ajar dan keras kepala!" seru Donghae membuat Kyuhyun mengepalkan tangan kuat. Donghae tersenyum menang melihat kepalan tangan Kyuhyun. Namja di hadapan nya kini sungguh emosional.
"Kau adalah orang paling bodoh diantara orang-orang bodoh lain nya yang pernah kutemui di kampus ini. Dengan mudah nya kau memberikan uang mu pada ku untuk melunasi hutang orang lain? Tsk, apa yang Hyukjae berikan pada mu hingga kau rela mengeluarkan uang yang tak bisa dibilang sedikit ini, eoh? Apa Hyukjae menjual seorang yeoja padamu?" kini keadaan menjadi terbaik, Kyuhyun tak lagi mengepalkan kedua tangan nya, melainkan Donghae lah yang kini mengepalkan kedua tangan nya menahan amarah. Senyum kemenangan kini beralih pada bibir Kyuhyun, bukan pada bibir Donghae lagi.
"Kenapa diam, eoh? Apa Hyukjae benar-benar menjual seorang yeoja yang memiliki perfect body kepada mu?" Donghae menarik nafas nya dalam, berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarah nya.
"Atau malah... Hyukjae menjual dirinya sendiri terhadap mu? Memuaskan hasrat sex mu dengan tubuh nya untuk jangka waktu yang lama sehingga kau dengan mudah nya melunasi hutang keluarga Hyukjae? Begitukah, Lee Donghae-sshi? Jika memang benar, berarti... Lee Hyukjae itu adalah namja MUNAFIK yang benar-benar... HINA DAN MURAHAN!"
BUAGH!
Kyuhyun jatuh tersungkur akibat pukulan keras dari Donghae yang tepat mengenai wajah nya. Hoya membelalakan matanya lebar, bukan kaget karena Kyuhyun jatuh terseungkur, namun kaget atas keberanian Donghae memukul wajah Kyuhyun. Untuk pertama kalinya, ia ikut merasa marah atas perkataan Kyuhyun yang mengatai Eunhyuk sebagai seseorang yang munafik, hina dan murahan. Meskipun ia sendiri selalu mengatai Eunhyuk dengan sebutan 'namja jalang', namun ia tak sepenuh nya mengatak kata itu dari hatinya, ia hanya terbawa emosi dan dendam belaka. Donghae marah sekarang, benar-benar marah. Kemarahan nya bukan karena terkaan Kyuhyun yang 100% benar adanya mengenai Eunhyuk yang menjual dirinya sendiri terhadap Donghae, tapi kemarahan nya benar-benar tak bisa ia tahan ketika Kyuhyun mengatai Eunhyuk dengan kata munafik, hina dan murahan. Dan ia benar-benar tak terima atas itu. Donghae mencengkram baju bagian dada Kyuhyun dan menarik paksa namja arrogant itu untuk berdiri dan kembali memukul nya hingga Kyuhyun kembali jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya.
"Kau tak berhak berkata seperti itu!" Donghae kembali menarik baju Kyuhyun, memaksa namja itu untuk kembali berdiri menghadapi kemarahan nya. Donghae hendak memukul wajah Kyuhyun untuk yang ketiga kalinya, namun sebelum semua itu terjadi Kyuhyun sudah terlebih dahulu menahan kepalan tangan Donghae. Ia tak akan membiarkan namja asing dihadapan nya dengan leluasa memukul wajah tampan nya. Kyuhyun dan Donghae menatap berang satu sama lain. Tatapan mereka saling beradu, memperlihat kan siapa yang paling kuat dan berkuasa diantara mereka berdua. Hoya yang merasa ada gerak-gerik aneh dari Kyuhyun mencoba mendekat secara perlahan. Seringai yang ditampak kan oleh Kyuhyun membuat Hoya yakin bahwa dugaan nya akan rencana licik Kyuhyun benar adanya.
"ANDWE!" Hoya berlari ke arah Donghae tatkala matanya melihat sebuah pisau lipat yang baru saja dikeluarkan oleh Kyuhyun dari saku celana nya.
SRET!
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN?" bentak Donghae terkejut atas tindakan yang Kyuhyun lakukan. Donghae dan Hoya terjatuh dengan posisi Hoya yang berada di atas tubuh nya. Kyuhyun hanya mendecih pelan seraya masuk ke dalam mobil nya. Tak lama, mobil itu bergerak pergi dari area parkir meninggalkan Donghae dan Hoya yang terluka.
"Ssshh..." Hoya mendesis sakit merasakan sesuatu yang perih pada pinggang nya tatkala Donghae tak sengaja menyentuh pinggang nya. Donghae yang merasakan cairan kental pada pinggang Hoya buru-buru mengubah posisi mereka. Donghae sedikt mendorong tubuh Hoya, ia kini duduk dan menyandarkan kepala Hoya pada dada bidang nya.
"Kenapa kau melakukan nya?" tanya Donghae bermaksud mengalihkan perhatian Hoya saat tangan nya sedikit menyingkap baju yang dikenakan Hoya sampai sebatas pinggang.
"Aku...sshhh.. h-hanya mencoba melindungi orang yang tak bersalah..." jawab Hoya susah payah menahan rasa sakit nya. Dongahe menyipitkan matanya saat melihat luka pada pinggang Hoya. Luka nya mungkin tak terlalu dalam, tapi darah nya terus mengalir membuat Donghae bergidik ngeri. Hoya memejamkan matanya rapat.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
.
.
"Hari ini kau akan menginap di mana Hyukkie?" tanya Sungmin saat mereka memasuki mobil mewah Siwon. Sang empunya mobil sedikit melirik In Guk yang duduk tepat di samping nya, sedangkan Sungmin dan Eunhyuk duduk di kursi penumpang seperti biasa.
"Mollaso.." jawab Eunhyuk seadanya. Untuk pertama kalinya suasana diantara mereka menjadi sunyi senyap. Tak ada yang mereka bicarakan seperti hari-hari yang lalu. Baik Eunhyuk, Sungmin, In Guk dan Siwon, mereka semua kini terdiam. Mulut mereka tertutup rapat, sangat enggan untuk memulai sebuah percakapan. Tubuh mereka mungkin memang berada di dalam mobil, namun tidak dengan jiwa dan pikiran mereka. Eunhyuk sibuk memikirkan bagaimana nasib nya kedepan setelah terjerumus dalam kehidupan bersama Donghae, Sungmin sibuk memikirkan tindakan yang tepat untuk bisa terbebas dari jerat Kyuhyun tanpa harus membahayakan Eunhyuk dan keluarga nya. Sedangkan In Guk dan Siwon, mereka sedang sibuk memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk mendekati Eunhyuk sesuai perjanjian mereka berdua buat saat bertemu di cafe dua hari yang lalu.
.
Flashback on
.
"Jika kau tak ada niatan untuk mengajak ku bertemu disini, lebih baik tak usah! Kau tau? Menunggu orang seperti mu sungguh membosan kan!" Siwon memutar bola matanya malas. Inilah hal yang paling ia benci dari In Guk. Tak pernah bersikap layak nya seorang hoobae yang sedang berbicara pada sunbae nya. Bukan nya Siwon ingin diperlakukan seperti seorang sunbae oleh In Guk, hanya saja ia ingin In Guk bersikap kepada nya layaknya In Guk ketika bersikap kepada Eunhyuk. In Guk selalu memanggil Eunhyuk dengan embel-embel 'hyung', pada Sungmin juga meskipun jarang. Sedangkan padanya, In Guk hanya akan memanggil nya 'kau', 'hey', 'YA!', dan panggilan-panggilan yang membuat nya merasa di sahabat tirikan.
"Kau ini! Apa tak bisa sekali saja kau memanggil ku dengan sebutan 'hyung' seperti pada Sungmin hyung dan Hyukkie hyung, eoh? Kau kira kita ini seumuran?!"
"Kita memang tak seumuran, tapi kita bersahabat!"
"Meskipun kita ini sahabat, tapi kau tak bisa dengan seenaknya seperti itu padaku!" seru Siwon tak mau kalah.
"Sudahlah, jangan banyak protes! Sudah untung aku mau bersahabat dengan mu!" balas In Guk membuat Siwon hampir saja meledak. Beruntung lah ia typical orang sabar, sehingga ia masih mampu untuk mengendalikan emosinya.
"Yang mengajak bersahabat bukan aku! Tapi Hyukkie hyung!"
"Lalu kenapa? Kau tau suka bersahabat dengan ku?"
"Lalu maksud mu apa mengatakan 'Sudah untung aku mau bersahabat dengan mu!' apa maksud seruan itu eoh?" Siwon mengikuti cara dan nada bicara In Guk.
"Sudahlah! Lupakan!" seru In Guk pada akhirnya mengehentikan perdebatan konyol yang tak akan pernah ada habis nya jika diantara mereka berdua tak ada yang mau mengalah. Siwon terlihat mengambil minuman milik In Guk dan menenggak nya sampai bersisa setengah nya.
"Tumben sekali kau mengajak ku bertemu disini! Waeyo?" tanya In Guk mengalihkan pembicaraan, ia mencoba men-stabil kan atmosfer diantara mereka. Siwon menyimpan kembali gelas milik In Guk pada tempat nya semula. Kini ia bersandar dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
"Aku mengajak mu bertemu disini... untuk membicarakan perasaan kita terhadap Eunhyuk."
"Perasaan kita terhadap Eunhyuk hyung? Apa yang perlu dibicarakan tentang hal itu?" In Guk bertanya dengan nada tak suka. Ia tak suka, amat sangat tak suka dan akan menjadi seseorang yang sensitive jika ada seseorang yang mulai membahas perasaan nya.
"Dengar, kita ini bukan lagi anak SMA yang masih terlihat seperti idiot ketika berhadapan dengan perkara cinta. Kita ini mahasiswa, sudah dewasa! Sudah sepantas nya kita membicarakan hal ini. Kita tak bisa terus-terus an mengesamping kan perasaan kita terhadap Eunhyuk. Aku juga tak mau terus-terus an berada di lingkar status sahabat yang tak pasti dan tak tentu arah ini." Jelas Siwon mencurahkan apa yang selama ini mengganjal paa hati nya.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Hyukkie hyung bukan namja gay seperti kita berdua! Dia normal! Apa yang kau harapkan dari kenormalan nya yang jelas-jelas tak akan pernah bisa membalas perasaan kita berdua?" Siwon terdiam. Apa yang dikatakan In Guk memanglah benar. Begitupun dengan In Guk. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kalau begitu..." Siwon menggantungkan kalimat nya, In Guk menatap lekat sahabat nya.
"...aku menantang mu!"
"Menantang ku? Apa yang ingin kau tantang padaku?"
"Aku ingin menantang mu untuk membuat Eunhyuk... meninggalkan status 'straight' nya, dan berubah menjadi gay seperti kita berdua. Setelah nya... kita berlomba, berlomba untuk mendapatkan hati Eunhyuk, berlomba untuk membuat nya jatuh cinta kepada ku atau kepada mu, dan berlomba untuk menjadi kan Eunhyuk sebagai pendamping hidup diantara kita berdua." In Guk tersenyum meremehkan mendengar nya.
"Kau yakin menantang ku dan mengajak ku berlomba?" tanya In Guk meyakin kan. Siwon mendecih pelan atas pertanyaan yang In Guk lontarkan.
"Tentu saja!" seru Siwon mantap.
"Jangan menangis jika pada akhirnya aku lah yang akan jadi pemenang." Ucap In Guk dengan kepercayaan diri yang kelewat batas.
"Seharus nya aku yang mengatakan itu padamu, bocah!"
Flashback off
"Hahhh... mian membuat kalian menunggu lama!" seru In Guk saat ia masuk ke dalam apartement milik nya. Hari ini Siwon, Sungmin dan Eunhyuk berencana untuk menginap di rumah In Guk. In Guk berjalan menuju dapur dengan kantung plastik yang berisikan barang-barang belanjaan. Ia menaruh kantung plastik itu di atas meja dan berjalan ke arah lemari es. Di bukanya lemari es itu, tangan nya mengambil kaleng soft drink yang isinya tinggal setengah.
"Memang nya apa yang terjadi?" tanya Eunhyuk. Ia berjalan mengikuti langkah In Guk menuju dapur. Eunhyuk terlihat mengacak-ngacak isi kantung plastik itu, seperti sedang mencari sesuatu. In Guk menenggak soft drink yang tinggal setengah nya itu lalu menjawab. "Entah mengapa hari ini mini market yang kudatangi sedikit ramai."
"Kau tak membelinya?"
"Ne?"
"Kau tak membeli rokok? Marlboro Menthol, kau tak membeli itu?" Eunhyuk menatap suram isi belanjaan yang dibeli In Guk.
"Hhh~" helaan nafas lelah keluar dari mulut In Guk. Ia tak menjawab pertanyaan Eunhyuk, melainkan mengambil kantung plastik belanjaan nya dan mulai menatap belanjaan nya pada lemari es.
"Aisshh... menyebalkan!" Eunhyuk merebut kaleng beer yang hendak dimasukan In Guk kedalam lemari es.
"YA! Itu untuk nanti malam hyung!" protes In Guk atas tindakan Eunhyuk, sedangkan Eunhyuk malah bertingkah tuli dan malah berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tv seraya membuka kaleng beer tersebut.
.
.
"Bagaimana luka mu?" Donghae masuk ke dalam kamar rawat Hoya dengan dua kantung plastik berisikan buah-buahan segar dan beberapa camilan. Donghae membawa kantung plastik itu dan menyimpan nya di meja nakas samping ranjang yang sedang ditiduri oleh Hoya.
"Masih terasa perih..." ucap Hoya lemah. Ia kehabisan banyak darah saat diperjalanan tadi dan sempat pingsan selama ±3jam. Donghae mengubah posisi Hoya dari terbaring menjadi duduk dengan bersandarkan pada sandaran ranjang. Donghae duduk di kursi pinggir ranjang Hoya, lalu mengambil sebuah apel dan mengupas nya. Hoya hanya diam melihat Donghae yang baru saja mengambil sebuah piring dan mulai memotong-motong dadu apel tersebut.
"Sepertinya kau orang yang baik, Lee Donghae-sshi. Gomawo..." ucap Hoya tulus. Donghae terdiam untuk beberapa saat, kemudian ia kembali memotong dadu apel di tangan nya.
"Sepertinya kau salah menilai."
"Ne?"
"Aku tak sebaik yang kau kira." Ujar Donghae. Ia mengganti pisau ditangan nya dengan garpu. Hoya membuka mulut nya saat Donghae menyodorkan potongan apel kepada nya.
"Benarkah?" tanya Hoya pura-pura meyakinkan, sebenarnya ia tau jika Donghae bukanlah type namja yang bisa baik begitu saja. Hanya sekedar basa-basi saja, Hoya ingin tau lebih dalam mengenai namja di depan nya kini, namja yang telah menyerahkan dua koper berisikan uang tepat di depan matanya untuk melunasi hutang keluarga namja yang dibenci nya yang kini merangkap menjadi keluarga nya juga.
"Siapa namamu?" tanya Donghae tiba-tiba. Hoya menatap Donghae sekilas, kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Lee Ho-Won, kau bisa memanggil ku Hoya." Jawab Hoya. Ia kembali membuka mulut nya, menerima dengan senang hati dan... jantung yang berdebar lebih kencang dari biasanya saat Donghae kembali menyuapi nya potongan apel. Seketika itu pula, suasana menjadi hening. Tak ada yang mereka bicarakan. Donghae enggan berbicara dengan Hoya, sedangkan Hoya ragu untuk memulai pembicaraan kembali dengan Donghae. Terlebih lagi, ia ragu untuk bertanya kepada namja di depan nya mengenai kejadian saat di area parkir kampus tadi.
Tik! Tik! Tik!
Suara jam yang terus ber-dentik, menggema di dalam ruang rawat Hoya dan menjadi backsound keterdiaman diantara mereka berdua.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Hoya tiba-tiba. Lama-kelamaan ia merasa jenuh juga jika terus-terus an berada dalam suasana seperti ini.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya balik Donghae.
"Sebenarnya, ada hubungan apa kau dengan Lee Hyukjae? Sampai-sampai kau rela mengeluarkan uang yang banyak dan rela berkelahi dengan Kyuhyun sunbae." Donghae menghentikan aktivitas nya, ia menyimpan piring di tangan nya ke atas meja. Detik berikut nya, Donghae berdiri dari duduk nya dan berjalan meraih tas punggung nya yang tergeletak di atas sofa.
"Eh? Kau mau kemana hyung?" tanya Hoya saat melihat Donghae berjalan menuju pintu.
"Pulang." Jawab Donghae singkat.
"T-tapi a—"
"Masalah administrasi sudah kuselesaikan semua, kau akan dirawat selama 3 hari disini. Jika kau butuh makanan, aku sudah membelikan nya. Dan jika kau membutuhkan yang lain nya, aku sudah menyiapkan cek disana." Ucap Donghae seraya menunjuk sebuah kertas berukuran persegi panjang dan sebuah ballpoint disamping nya. Setelah mengatakan itu, Donghae benar-benar pergi meninggalkan Hoya sendiri di ruang rawatnya.
Setelah kepergian Donghae, Hoya hanya diam. Ia menatap cek dan pintu yang tadi di tutup oleh Donghae. Ia meremas selimut yang menutupi sebagian tubuh nya.
"I think... I fell in love at first sight."
.
.
BLAM
Eunhyuk menutup pintu kamar tamu apartement In Guk dan berjalan menuju ranjang dimana terdapat Sungmin tengah berbaring dengan mata tertutup. Sungmin membuka matanya saat merasakan ranjang nya bergoyang, menandakan bahwa Eunhyuk ikut naik ke atas ranjang. Jika biasanya Eunhyuk akan tidur bersama Siwon jika sedang menginap, lain halnya dengan sekarang Eunhyuk lebih memilih Sungmin untuk dijadikan teman satu kamar mengingat tingkah menyebalkan Siwon beberapa hari yang lalu. Sungmin kembali menutup matanya, ia mencoba untuk terlelap dalam indah nya bunga mimpi.
"Sedari tadi kau hanya diam, aku tau kau sedang ada masalah hyung!" namun sepertinya Sungmin tak bisa menggapai bunga mimpi nya sekarang karena seruan Eunhyuk sukses membuat dirinya jauh dengan bunga mimpi. Sungmin merubah posisi nya menjadi duduk dengan bersandarkan pada sandaran sofa, sama seperti Eunhyuk.
"Masalah apa? Aku tak memiliki masalah apa-apa." Dusta Sungmin.
"Benarkah? Lalu kenapa hari ini kau terlihat berbeda?" tanya Eunhyuk lagi.
"Aku hanya lelah Hyuk." Jawab Sungmin.
"Aku baru sadar jika pada leher mu terdapat banyak tanda hickey hyung!" seru Eunhyuk saat melihat leher Sungmin. Eunhyuk sendiri pun tak sadar jika leher nya sama saja dengan leher Sungmin, sama-sama terdapat tanda hickey. Hanya saja, Sungmin tak sadar jika Eunhyuk pun sama dengan nya.
Deg!
Tubuh Sungmin menegang seketika, matanya membelalak lebar dan nafas nya terasa tercekat. Seruan Eunhyuk barusan benar-benar membuat Sungmin ingin menjadi bisu seketika.
"Hyung?"
"Ah ne, hickey ini? Kau baru menyadarinya?" tanya Sungmin sambil menunjuk hickey di lehernya.
"Ne."
"Kemarin aku meniduri seorang yeoja. Hehe..."
"Jinja? Pantas saja hickey nya terlihat masih baru!" seru Eunhyuk innocent. Sungmin menolehkan kepalanya ke samping, ke arah Eunhyuk.
"Yeoja itu hamil Hyuk, dan dia meminta ku untuk bertanggung jawab. Tapi aku menolak nya dan menyuruh nya untuk menggugurkan kandungan nya." skenario, skenario yang sangat tepat untuk membohongi sahabat mu sendiri Lee Sungmin!
"Ah~ jadi itu yang membuat mu menjadi diam dan agak murung sedari tadi?!" Sungmin mengangguk kikuk sebagai jawaban. Ada rasa tak enak dalam hatinya saat Eunhyuk percaya perkataan nya begitu saja.
"Calm down hyung~ masalah seperti itu jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja mereka menanggung akibat nya sendiri. Kehamilan mereka bisa dijadikan pelajaran untuk mereka sendiri agar tak menjadi yeoja murahan dan gampangan! Dirayu sedikit saja langsung terbuai, didekati 5 cm saja sudah berani untuk mengajak melakukan sex tanpa memikirkan resikonya." Jelas Eunhyuk panjang lebar, penjelasan yang benar-benar mencerminkan bahwa Eunhyuk memanglah seorang bad boy, meskipun sebagian dari penjelasan yang dikemukakan nya memang ada benarnya juga.
"Sudahlah hyung, lebih baik sekarang kau tidur! Aku mengantuk." Ujar Eunhyuk seraya membaringkan tubuh nya di atas kasur. Ia tidur membelakangi Sungmin yang masih terdiam pada posisi nya. Ia melirik ke arah Eunhyuk sekilas, kemudian ikut berbaring membelaki Eunhyuk. Sungmin benar-benar merasa bersalah dan tertekan atas apa yang terjadi padanya, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa Eunhyuk sendiri pun memiliki tanda hickey pada leher nya.
Ddrrrttt... ddrrrttt...
Baru 5 detik Sungmin memejamkan matanya mencoba untuk tidur, ia malah harus kembali membuka matanya saat ponsel nya bergetar di atas meja nakas samping ranjang.
.
From : Evil Cho
Subject : Come to me now!
Dimana kau sekarang? Cepat datang ke apartement ku sekarang juga! Jika tidak, kau tau sendiri apa akibat nya.
.
"Hhh~" helaan nafas lelah bercampur panic keluar dari mulut Sungmin. Ia melirik ke arah jam dinding, kemudian melirik Eunhyuk yang tengah tertidur pulas. Terdengar dari dengkuran halus nya yang terdengar teratur. Perlahan, Sungmin menyingkapkan selimut nya dan turun dari ranjang. Ia mengambil tas dan jacket nya di atas sofa, kemudian berjalan mengendak-endap menuju pintu dan membuka nya pelan. Sungmin keluar dari kamar dan menutup pintu nya dengan sangat pelan agar Eunhyuk tak terusik dari tidur lelap nya. Setelah nya, Sungmin kembali berjalan mengendap-endap menuju pintu, pintu keluar. Dan detik berikutnya, Sungmin membuka pintu tersebut dan benar-benar pergi dari apartement In Guk setelah sebelumnya menutup rapat pintu apartement In Guk agar tak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
.
.
"Hahh... hah..." terlihat seorang namja manis yang kini tengah berlari menaiki anak tangga. Tubuh nya bergetar, air mata sedari tadi tak henti-henti nya mengalir membasahi pipi dan juga leher nya. Kakinya terasa lemas, namun ia tak boleh berhenti berlari. Jika ia sampai berhenti, maka hancur lah semuanya.
"YA! Jangan lari seperti itu!" namja manis itu menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati seorang namja yang paling ditakuti nya sedang berlari mengejar nya. Namja itu terus berlari, hingga akhirnya ia memutus kan untuk masuk ke dalam sebuah kamar dan mengunci pintu nya rapat.
Duk! Duk! Duk!
"YA! BUKA PINTU NYA!"
"Hahh.. hahh... bagaimana ini?" tanya namja manis itu entah pada siapa.
"YA! APA KAU TULI? CEPAT BUKA PINTU NYA!" namja manis itu semakin panik saat namja yang mengejarnya tadi terus menggedor-gedor pintu nya.
"JIKA KAU TAK MAU MEMBUKA PINTUNYA, BAIKLAH... AKAN KU DOBRAK!"
DUGH!
"Eomma~ bagaimana ini?" namja manis itu semakin panik.
DUGH!
Namja manis itu menengok kan kepalanya kesana-kemari, mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
DUGH!
Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi dan lemari pakaian secara bergantian, kemudian sebuah ide muncul untuk mengamankan dirinya dari namja yang paling ditakutinya. Sedangkan diluar kamar, namja kasar namun tampan yang mengincar namja manis itu terus berusaha untuk mendobrak pintu kamar nya sendiri.
DUGH!
"Arrrgghhh!" ia menggeram kesal karena sedari tadi pintu kamar nya tak dapat ia dobrak. Kemudian ia memundurkan badan nya sedikit lebih jauh dari sebelumnya.
"Baiklah, ini untuk yang terakhir!" serunya seraya berlari dengan kekuatan penuh menuju pintu kamar dihadapan nya dan—
BRAKK!
Pintu pun berhasil terbuka, namun sosok namja manis yang menjadi incaran nya tak nampak di dalam kamar. Namja itu terdiam, ia melirik kesana-kemari untuk mencari sosok namja manis itu.
"Kau mengajak ku bermain rupanya!" serunya dengan seringai yang mengerikan. Namja itu memeriksa bawah ranjang nya, namun namja manis incaran nya tak ada di sana. Kemudian ia berjalan ke arah jendela kamar yang terbuka. Matanya melihat ke permuakaan tanah, kemudian ia menjauhi jendela dan tak sengaja matanya melirik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Di lain sisi, namja manis tadi kini tengah memeluk kedua lututnya dengan perasaan was-was. Mulutnya sengaja ia bungkam dengan tangan nya sendiri agar suara nafas nya tak dapat terdengar.
"Kau pikir aku bodoh eoh?" tubuh namja manis itu menegang seketika saat mendengar suara namja yang ditakutinya.
"Jendela kamar yang terbuka, permuakaan tanah tanpa jejak kaki, pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Sungguh teledor bagi orang yang akan bersembunyi namun malah menampak kan jejak bagi si penjahat. KAU PIKIR AKU BODOH?"
CEKLEK
"Gotcha!" namja itu berhasil menemukan namja manis incaran nya di dalam lemari pakaian miliknya.
"K-kumohon.. biarkan aku pulang hyung~" rengek nya dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipi nya.
"Pulang katamu? Tak akan! Bahkan appa mu saja menitipkan mu ke rumah ku karena tak ingin melihat mu berada di rumah nya!" seru namja itu seraya menarik pergelangan si namja manis dengan kasar.
"B-baiklah..hiikkss.. tapi kumohon, jangan lakukan itu hikss.. kumohon~" pinta namja manis itu penuh harap. Namun namja kasar itu malah tertawa, menertawakan ketakutan yang tengah dirasakan oleh namja manis di depan nya. Tanpa menjawab, namja kasar itu menarik si namja manis mendekati ranjang.
"Andwe hyung! Hikkss..." namja manis itu berusaha menahan tubuh nya agar tak tertarik oleh namja kasar itu. Namun, sekuat apapun namja manis itu menahan tubuhnya, tetap saja kekuatan namja kasar yang menarik pergelangan tangan nya jauh lebih kuat.
"Dasar pembangkang!" seru namja kasar itu seraya menghempaskan tubuh namja manis itu ke atas ranjang.
"KYAA!" namja manis itu berteriak saat namja kasar itu duduk di atas tubuhnya.
SRET!
"ANDWE HYUNG!"
.
.
"ANDWE HYUNG!" Eunhyuk terperanjat kaget dari tidur nya. Ia menarik nafas sebanyak-banyak nya seraya memegangi dada bagian jantung nya yang terasa berdetak dengan sangat cepat. Mimpi itu, mimpi yang tak pernah ia harapkan, mimpi dari kejadian buruk yang pernah dialaminya di masa lalu.
"Memimpikan namja itu lagi?" Eunhyuk menolehkan kepalanya ke samping. Seketika itu pula, matanya langsung membelalak lebar saat mendapati namja yang masih terbilang asing yang telah membuatnya kehilangan harga diri nya hanya karena uang.
"K-kau?" Eunhyuk menatap namja di depan nya tak percaya, kemudian ia menatap ke sekeliling nya. Sebuah kamar dengan dekorasi yang berbeda dengan dekorasi kamar di apartement In Guk.
"YA! Lee Donghae! Kenapa aku bisa berada di sini, eoh?" tanya Eunhyuk tak suka.
"Semalam aku menyuruh anak buah ku untuk menculik mu dari apartement sahabat mu itu!" jawab Donghae apa adanya. Ya, semalam anak buah Donghae telah menculik Eunhyuk secara diam-diam atas perintah Donghae.
"Tenang saja, aku tak melakukan sesuatu yang 'aneh' terhadap mu. Santai saja..." ucap Donghae saat melihat Eunhyuk meraba-raba tubuh nya, memastikan bahwa dirinya masih memakai baju. Eunhyuk menatap tajam ke arah Donghae. Ia benar-benar tak suka dengan tingkah Donghae.
"Bagaimana dengan hutang keluarga ku pada si bajingan Cho itu?" tanya Eunhyuk serius.
"Tak perlu khawatir, semuanya sudah ku selesaikan." Jawab Donghae seraya mengambil secangkir kopi di atas meja lalu meneguk nya. Eunhyuk turun dari ranjang nya, ia berjalan ke arah kamar mandi. Belum sempat Eunhyuk memegang knop pintunya, pertanyaan Donghae sukses menghentikan pergerakan nya.
"Siapa namja itu?" Eunhyuk membalik kan badan nya ke arah Donghae.
"Namja itu? Apa maksud mu?" tanya balik Eunhyuk.
"Jangan bertingkah bodoh seperti itu! Kutanya sekali lagi, siapa namja itu? Namja dalam mimpi buruk dari kejadian masa lalu mu, siapa dia? Dan apa yang dia lakukan terhadap mu?" jika saja Donghae bukan orang yang telah membantunya melunasi hutang kepada Kyuhyun, mungkin saja sekarang Donghae sudah babak belur karena pukulan dari Eunhyuk. Ia paling tak suka jika ada orang yang menayakan tentang privasi nya, sekali pun itu sahabat nya sendiri.
"Aku tau kau telah melunasi hutang keluarga ku pada Kyuhyun, dan aku juga tau bahwa sekarang aku dan tubuh ku adalah milik mu seutuhnya. Tapi maaf, segala rahasia dalam hidup ku, baik itu rahasia masa lalu maupun rahasia masa sekarang bukan lah milik mu. Dan kau tak berhak untuk mengetahui nya!" jelas Eunhyuk dengan tegas. Donghae hanya mampu diam sambil menatap Eunhyuk yang kini masuk ke dalam kamar mandi.
'Aku hanya memiliki tubuh nya saja, tidak dengan yang lain nya.' batin Donghae.
CEKLEK
"Ah ya! Satu lagi!" seru Eunhyuk yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Jika kau memang terlahir dari keluarga berada, tolong kembalikan diary milik ku! Aku yakin kedua orang tua mu pasti menyayangi, mengajari dan mendidik mu dengan baik, termasuk mendidik mu untuk menjadi orang yang sopan dan menghargai privasi seseorang."
BLAM
Eunhyuk kembali masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan Donghae yang kini hanya bisa diam. Ia kemudian menyandarkan punggung nya pada sandaran sofa, menatap langit-langit kamar nya dengan pandangan kosong.
"Keluarga berada? Orang tua? Menyayangi? Mengajari? Mendidik?" gumam Donghae pelan.
'Kau salah besar Hyuk, aku tak pernah mendapat kan semua itu dari orang tua ku. Aku mendapatkan semua itu hanya dari eomma kandung ku...' batin nya pilu.
.
.
.
TBC
.
.
.
mian kalo dalam setiap chap dalam ff Naka terdapat kesalahan #bow atau malah banyak kesalahan #bow
mianhae untuk sekarang-sekarang Naka ngga bisa bales review-an kalian..
tapi tetep loh review nya selalu Naka baca ^_^
Naka akan balas review readers nya nanti di chapter 13 kalo bisa :)
tapi tetep yah~ usahakan review ff Naka di setiap chapternya loh~~~ ;)
