Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort [Semi M]

Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Park Tae Jun-new cast-{Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)

DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.

WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll

.

.

.

Happy Reading


Chap 9


Author POV

.

Sungmin menatap duplikat dirinya dalam cermin. Matanya tertuju pada leher jenjang nya sendiri yang semula berwarna putih bersih kini malah ternodai hickey.

"Sudah puas memandangi hickey yang kubuat?" Sungmin masih terdiam dalam posisinya, namun sorot matanya kini tertuju pada Kyuhyun, sosok namja yang telah menodai leher jenjang nya.

"Sekarang apalagi yang kau mau?" tanya Sungmin sinis, masih dengan posisi menghadap cermin yang secara otomatis membelakangi Kyuhyun. Kyuhyun tak menjawab, ia malah berjalan mendekat ke arah Sungmin lalu menarik pergelangan tangan nya begitu saja. Tubuh Kyuhyun yang tinggi serta langkah nya yang panjang dan sedikit cepat membuat Sungmin sedikit kesulitan untuk mengimbangi langkah Kyuhyun mengingat kondisi tubuh nya saat ini masih terasa sakit akibat ulah Kyuhyun semalam.

"Kau akan membawaku kemana?" tanya Sungmin penasaran. Kyuhyun malah terus menarik pergelangan tangan nya menuju mobil mewah milik Kyuhyun.

"Masuk!" seru Kyuhyun seraya menghempaskan pergelangan tangan Sungmin secara kasar. Sungmin mendelik kesal terhadap Kyuhyun sambil mengusap pergelangan tangan nya yang terasa perih hingga akhirnya tangan nya beralih membuka pintu mobil Kyuhyun dan masuk ke dalam nya. Tak lama setelah Sungmin masuk, Kyuhyun pun ikut masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Diliriknya Kyuhyun yang kini mulai menyalakan mesin mobil. Dan tak lama setelahnya, Kyuhyun manjalankan mobilnya. Sungmin diam, ia lebih memilih menatap pada jendela mobil Kyuhyun, lebih tepatnya ke arah pinggir jalan raya dari pada harus menatap namja menyebalkan yang kini sedang focus menyetir di samping nya. Namun rasa penasaran Sungmin akan tujuan perjalan Kyuhyun kali ini membuat Sungmin mau tak mau mengalihkan arah pandang nya terhadap Kyuhyun. Karena bagaimana pun juga Sungmin kini bersama Kyuhyun yang secara otomatis tempat yang akan Kyuhyun datangi akan menjadi tempat yang didatangi oleh nya juga.

"Kau akan membawa ku kemana, Kyu?" tanya Sungmin lembut, mencoba membuat Kyuhyun menjawab pertanyaan nya.

"Jangan banyak bertanya!" jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan arah pandang nya terhadap Sungmin.

"Ta—"

"Diamlah! Jika kau banyak bertanya, kau hanya akan membuyarkan konsentrasi menyetir ku!" seru Kyuhyun membuat Sungmin kini hanya bisa diam dan menurut.

"Mianhae..." ucap Sungmin pelan, takut-takut Kyuhyun akan marah padanya. Mobil Kyuhyun terus berjalan melewati jalan yang sebelumnya belum pernah Sungmin lewati. Sungmin benar-benar penasaran kemana ia akan membawa nya, namun apa daya? Kyuhyun menyuruhnya untuk jangan bertanya. Kini, toko-toko dan bangunan besar sudah tak terlihat lagi. Yang Sungmin lihat sepanjang perjalan kini hanyalah pepohonan, padang rumput dan beberapa rumah kecil.

"Eh?" mobil Kyuhyun tiba-tiba saja berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar dari pada rumah-rumah yang tadi di lihatnya di sepanjang jalan. Matanya kini asyik menelusuri apa-apa saja yang ada di hadapan matanya, hingga ekor matanya tak sengaja membaca sebuah papan berukuran sedang.

'Park Tae Jun.' Rapal Sungmin dalam hatinya saat membaca nama dalam papan tersebut. Kyuhyun melepaskan safety belt nya, berniat untuk keluar dari dalam mobil. Namun, keterdiaman Sungmin yang sedang fokus menatap papan nama yang menempel pada dinding rumah di hadapan nya membuat Kyuhyun menatap Sungmin kesal.

"YA!" Sungmin sedikit terkejut dan beralih menatap Kyuhyun.

"Tunggu apa lagi? Cepat turun!" seru Kyuhyun membuat Sungmin hanya mampu mengangguk pelan dan keluar dari dalam mobil Kyuhyun.

Ting! Tong!

Kyuhyun dan Sungmin kini berada tepat di depan pintu rumah ber-papan nama kan 'Park Tae Jun' tersebut.

"Hyung!" seru Kyuhyun seraya menekan tombol bell rumah tersebut untuk yang ke dua kalinya. Mendengar kata 'hyung', pikiran Sungmin menjadi melayang kemana-kamana. Apa Kyuhyun memiliki hyung? Apa rumah yang sekarang ia datangi bersama Kyuhyun ada rumah hyung nya Kyuhyun? Jika memang iya, kenapa marga mereka bedua berbeda? Park dan Cho.

CEKLEK

Sungmin meninggalkan berbagai pertanyaan yang melanda pikiran nya saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya menatap lekat sosok seorang namja tampan dengan kemeja putih dan kacamata yang bertengger pada batang hidung nya.

"Hhh~ kebiasaan! Membuka pintu saja kenapa harus lama sih?!" Kyuhyun menggerutu tak karuan seraya menyelonong masuk ke dalam rumah namja tampan berkacamata tersebut.

"YA! Cho Kyuhyun! Aku ini dokter mu! Tak bisakah kau sopan kepada ku?" kesal namja berkacamata itu atas sikap Kyuhyun yang tak penah sopan kepadanya.

"Dokter?" tanya Sungmin entah pada siapa, membuat namja berkacamata itu menoleh ke arah Sungmin dan baru menyadari bahwa sedari tadi terdapat sosok namja imut yang datang ke rumah nya yang merangkap sebagai tempat prakter nya juga dalam menjalan kan profesi nya sebagai seorang dokter.

"Eh? Nugu?" tanya namja ber kacamata itu.

"Naega Le—"

"Biarkan dia masuk hyung! Dia namjachingu ku!" teriak Kyuhyun dari dalam.

BLUSH~

Entah kenapa Sungmin merasa hawa panas pada kedua pipinya. Terlebih lagi, saat namja tampan berkacamata itu menatap tubuh nya lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Lee Sungmin namanya!" teriak Kyuhyun lagi dari dalam.

.

.

.

"Nghhh... t-tak bis—sakahh k-kau akhh... me—lakukan ngghh.. ini n-nanti? Ahh..." susah payah Eunhyuk bertanya pada Donghae yang sedang asyik melumat nipple kanan nya, sedangkan tangan kanan nya kini tengah asyik memelintir nipple kiri Eunhyuk. Bukan nya menjawab, Donghae malah melumat bibir cherry Eunhyuk yang sudah memerah dan sedikit membengkak karena ulah Donghae setengah jam yang lalu. Awalnya Eunhyuk akan berangkat ke kampus, namun Donghae menahan kepergian nya dan malah menyiksanya di atas ranjang dengan keadaan full naked.

"Eummphh..." Eunhyuk kembali mendesah merasakan cumbuan yang Donghae berikan. Meskipun jujur Eunhyuk akui bahwa ia menikmati cumbuan yang Donghae berikan, namun ego dan kewarasan nya masih menguasai sebagian tubuh dan pikiran nya. Ia merasa kesal, amat sangat kesal karena sedari tadi Donghae hanya mempermainkan tubuh nya, tak benar-benar memanjakan nya. Bukan nya Eunhyuk sudah tak sabar untuk masuk ke acara 'inti' atau sebagainya, hanya saja hari ini ia ada kelas. Se-bad boy apapun dirinya, tapi ia tak bisa melupakan status nya sebagai seorang mahasiswa begitu saja. Donghae menjilat bibir atas dan bawah Eunhyuk, mengalihkan perhatian namja manis dibawah nya itu dari tangan nya yang mulai nakal bermain-main mengelus paha putih nya dengan gerakan pelan.

"Mmphh!" namun percuma saja, Eunhyuk masih mampu merasakan pergerakan tangan Donghae. Perlahan namun pasti, Donghae mulai memberanikan diri untuk membelai batang junior Eunhyuk yang sudah menegang sedari tadi. Seringai tipis mulai terlukis dengan indah nya di bibir Donghae saat merasakan 'sesuatu' yang basah pada kepala junior Eunhyuk.

"Sudah tak sabar eoh?" ejek Donghae seraya menggesek-gesek kan jari telunjuk dan ibu jari nya tepat di depan wajah Eunhyuk.

"Jangan banyak bertanya! Cepat selesaikan bodoh, akh!" Eunhyuk menjerit sakit di akhir katanya saat Donghae dengan tiba-tiba menggigit bagian tersensitive di leher Eunhyuk. Di jilatnya leher jenjang itu, kemudian ia hisap dan mengemut nya sedikit lama. Meninggalkan kissmark yang sangat kentara di leher putih Eunhyuk.

"Hurry changed, Hyukkie-ah..." lirih Donghae seraya menjilati cuping sensitive Eunhyuk.

"Eungghh.. k-kau, bicara ap—AKH!" Eunhyuk berteriak dengan sangat keras nya saat Donghae memasukan junior besar nya secara tiba-tiba. Buru-buru Donghae melumat bibir cherry Eunhyuk untuk mengalihkan perhatian namja manis dibawah nya dari rasa sakit yang menyerang hole nya.

"Ngghh.. mmpphhh!" entah gerakan refleks atau apa, Eunhyuk melingkarkan kedua tangan nya pada leher Donghae. Tangan nya ia gunakan untuk meremas rambut hitam Donghae, membuat libido sang empunya rambut semakin meningkat.

"Nhhnn.. akh!" Eunhyuk melepaskan ciuman nya secara paksa, membuat Donghae menatap nya khawatir dan heran secara bersamaan.

"Rileks Hyukkie-ah.. rileks..." ujar Donghae menenangkan.

"IDIOT! Yang seperti ini mana bisa mencoba untuk rileks?!" marah Eunhyuk pada Donghae. Eunhyuk meringis kesakitan, pinggulnya bergerak resah tanda tak nyaman.

"YA! Siapa yang kau sebut 'IDIOT' eoh?"

"Arrggghhh... sshhh..." Eunhyuk beralih meremas kedua bahu Donghae saat Donghae menyentak kan junior nya dengan keras dan secara tiba-tiba(lagi).

"YA! Appoyo~" rengek Eunhyuk dengan wajah memelas.

"Maka dari itu, cobalah untuk rileks! Ini bukan pertama kalinya kau melakukan ini dengan ku, ini adalah acara 'ber-cin-ta' kita untuk yang ke-se-ki-an ka-li-nya!" seru Donghae penuh penekanan pada beberapa kata.

"Tapi kali ini kau melakukan nya secara tiba-tiba dan i— tunggu dulu! Tadi kau bilang apa? Acara ber-cin-ta? Yang seperti ini kau bilang bercinta? Menurutku ini lebih tepat disebut sebagai acara pe—akhh! Sshhh..." Donghae kembali menyentak kan junior nya pada hole sempit Eunhyuk, sebelum namja manis itu mengeluarkan lebih banyak protesan lagi.

.

.

.

'Namja sialan! Aneh! Gila! Maniak sex! Dia bermain kasar sekali!' Dengan mengesampingkan rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya, Eunhyuk terus berjalan se-normal mungkin meskipun kini ia tetap menjadi pusat perhatian karena cara berjalan Eunhyuk yang terlihat aneh. Selain itu, raut wajah Eunhyuk yang terlihat berantakan pun menjadi daya tarik tersendiri untuk diperhatikan oleh orang-orang yang Eunhyuk lewati di koridor kampus.

BRUK

"Eh?"

"Hyung?"

"Siwonnie?" Eunhyuk menaikan sebelah alis nya heran saat melihat orang yang ditabraknya adalah Siwon. Eunhyuk membalik kan badan nya dan berjalan kembali melewati koridor kampus diikuti Siwon disampingnya.

"Pasti kelas sudah berakhir kan?!" tebak Eunhyuk yang dijawab deheman pelan oleh Siwon. Eunhyuk menepuk jidatnya cukup keras, kemudian mengusap-ngusap nya secara perlahan.

"Sudah bisa kutebak pasti aku tak bisa mengikuti kelas!"

"Memangnya kau kenapa hyung? Akhir-akhir ini ku perhatikan kau sering sekali menghilang dan terlambat berangkat ke kampus, bahkan sampai tak mengikuti kelas. Sungmin hyung juga!" ujar Siwon. Mereka berdua kini masuk ke dalam kanti dan duduk di salah satu tempat kosong yang biasa mereka tempati jika sedang waktu istirahat.

"Sungmin hyung juga? Apa maksud mu?" tanya Eunhyuk tak mengerti.

"Sungmin hyung juga sama seperti mu! Akhir-akhir ini dia selalu menghilang tiba-tiba, bakan hari ini aku belum melihat batang hidung nya sedikit pun." Jawab Siwon. Eunhyuk terdiam setelah mendengar jawaban dari Siwon. Apa tadi kata Siwon? Sungmin juga sama seperti dirinya? Suka menghilang tiba-tiba? Eunhyuk selalu menghilang tiba-tiba karena ia memiliki alibi tersendiri. Yakni Lee Donghae, namja maniak sex. Tapi Sungmin? Apa alibi nya?

"Ah ne hyung!" Eunhyuk yang sedari tadi sibuk dengan pemikiran nya sendiri kini mengalihkan perhatian nya terhadap Siwon.

"Saat malam kau dan Sungmin hyung kemana? Kenapa saat tadi pagi kau dan Sungmin hyung tak ada?"

Deg!

"eh eump, a-aku—"

"YA! Siwon! Hyuk hyung!" teriak In Guk seraya berlari ke arah Siwon dan Eunhyuk dengan tiga buah kaleng soft drink di tangan nya.

.

.

.

Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikiran nya saat tak ini sepenuhnya focus pada jalanan, namun pada sosok Eunhyuk yang tengah bercinta dengan nya. Bayangan Eunhyuk saat menahan desahan nya membuat Donghae tersenyum-senyum sendiri saat mengingat nya.

CEKIIITT—

Donghae menginjak rem mobil nya secara tiba-tiba saat segerombolan orang berlari melintasi jalanan yang biasanya tak ramai seperti ini.

"Ada apa ini?" Donghae mengesampingkan mobilnya. Ia turun dari mobil dan menahan salah satu lengan seorang yeoja paruh baya yang hendak berlari melewatinya.

"Mianhae ahjumma, ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang-orang berlarian?" Donghae melepaskan tangan yeoja paruh baya sambil sesekali melirik ke arah orang-orang

"Eoh? Anak muda, apa kau tak lihat asap itu?" yeoja paruh baya itu menunjuk ke arah langit biru yang ditutupi asap hitam yang sangat lebat.

"Ada kebakaran besar disana nak!"

.

.

.

Di dalam mobil, tepatnya di bangku belakang terlihat seorang yeoja dewasa tengah menangis tersedu-sedu dalam dekapan seorang namja yang notabene adalah suaminya sendiri. Sedangkan sang suami terus memeluk erat tubuh sang istri sambil sesekali mengelus rambutnya sayang. Lain hal nya dengan seorang namja yang duduk disamping Donghae. Kini Donghae tengah fokus pada jalanan yang dilaluinya sampai-sampai ia tak menyadari bahwa namja disamping nya kini tengah menatap wajah tampan nya dengan sangat lekat.

Tes...

Tes...

Air mata tiba-tiba saja menetes membuat namja itu dengan cepat mengalihkan pandangan nya ke arah luar jendela. Menatap Donghae hanya akan membuat pipinya menjadi basah oleh lelehan air matanya sendiri, air mata kesedihan hidupnya.

'Mulai detik ini, Lee Hyukjae dan keluarga nya sudah tak memiliki hutang apa-apa terhadap keluarga mu!'

'Kekasih, aku kekasih Lee Hyukjae.'

Dan lelehan air mata itu kini sudah tak bisa ia tahan. Setiap kali ia mengingat pertemuan awalnya dengan Donghae, mengingat kebaikan Donghae, merapalkan nama Donghae dalam hati dan beberapa detik yang lalu ia menatap wajah tampan Donghae hanya mampu membuat hatinya terasa sakit merasakan tamparan yang sangat keras dari kenyataan yang memperlihatkan bahwa Donghae mencintai Eunhyuk. Mobil Donghae tibat-tiba saja berhenti tepat di depan sebuah apartement megah yang tak lain dan tak bukan adalah apartement milik dirinya sendiri. Donghae mematikan mesin mobilnya, kemudian ia membalikan badan nya kearah sepasang suami-istri yang duduk di kursi belakang.

"Kita sudah sampai." Ucap Donghae pelan.

"Dimana ini?" tanya ahjussi yang masih sibuk menenangkan istrinya sambil sesekali melirik ke arah bangunan apartement besar yang terpampang jelas dihadapan matanya.

"Ini di pekarangan apartement." Jawab Donghae cepat.

"Apa apartement itu milikmu?" tanya ahjussi itu lagi. Donghae melirik sekilas bangunan apartement nya sendiri seraya tersenyum-simpul- dan kembali menghadap ke belakang.

"Apartement itu bukan sepenuhnya milik ku, ahjussi. Mungkin bisa dibilang itu apartement milik eomma—ehm.. milik kedua orang tua ku." Jawab Donghae sedikit kikuk. Buru-buru ia melepaskan sabuk pengaman nya kemudian keluar dari dalam mobil. Donghae membuka kan pintu untuk sepasang suami-istri itu. Donghae berniat membawa mereka masuk kedalam apartement miliknya, namun seorang namja yang masih setia duduk diam di dalam mobil membuatnya kembali menghampiri mobil. Ia membuka pintu mobilnya dan sedikit membungkuk kan badan nya agar bisa melihat wajah namja yang masih terdiam itu.

"Ada yang salah?" tanya Donghae pelan.

"Ani..."

"Gwaenchanayo?"

"Nae gwaenchana..." Donghae tersenyum meremehkan mendengarkan jawaban dari namja dihadapan nya. Sudah jelas-jelas keadaan namja dihadapan nya tak baik-baik saja, namun ia malah memaksakan dirinya untuk tetap terlihat 'baik-baik saja' yang hanya akan membuat Donghae tertawa.

"Kajja!" Donghae tak ingin ambil pusing, ia langsung memegang pergelangan tangan namja itu dan berniat menariknya. Namun namja itu malah menahan pergelangan tangan nya agar tak tertarik oleh Donghae. Dan tindakan nya itu membuat Donghae memutar bola matanya malas.

"Kenapa kau melakukan ini pada keluarga ku? Apakah ada udang dibalik batu?" penekanan pada pertanyaan atau mungkin lebih tepatnya disebut sebagai prasangka buruk yang terlontar dari mulut namja itu membuat Donghae menaikan sebelah alisnya bingung.

"Udang dibalik batu?" tanya balik Donghae. Ia melepaskan genggaman nya pada pergelangan tangan namja itu dan menarik nafas pelan.

"Jangan pernah sesali keputusan dan tindakan yang telah kau perbuat, Hae hyung..."

"Apa maksudmu, Hoya-sshi?"

"Ani, lupakan!" seru Hoya seraya keluar dari dalam mobil Donghae dan berjalan ke arah kedua orang tuanya, atau mungkin lebih tepatnya ke arah ibu kandung dan ayah tirinya.

"Appa, mungkin akan lebih baik jika kita mencari rumah sederhana untuk kita tinggali bertiga." Usul Hoya kepada Lee ahjussi, ayah tirinya.

"Mencari rumah? Kau pikir dengan 'mencari' saja kita bisa langsung mendapatkan rumah? Kita perlu uang untuk itu! Apa yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti ini, eoh?" tanya tuan Lee sedikit emosi. Melihat ayah tirinya yang seperti itu, Hoya menundukan kepalanya merasa bersalah. "Mianhae appa..."

"Kalian tak perlu khawatir, kalian bisa tinggal di apartement ku." Hoya menatap Donghae tajam. Namun Donghae tak mengindahkan tatapan tajam yang diberikan oleh Hoya. Ia terus berjalan menghampiri tuan Lee dan istrinya.

"T-tapi hikss.. apa ini tak terlalu m-merepotkan?" tanya nyonya Lee hati-hati. Hoya menatap eomma nya sedih, terlebih lagi saat mendengar suara eomma nya yang terdengar begitu memilukan.

"Tentu saja ini tak akan merepotkan! Benar kan, Donghae-sshi?" seru tuan Lee cepat. Hoya menatap appa tirinya tak suka.

"Tentu saja! Untuk apa aku membawa kalian bertiga ke apartement ku jika bukan untuk kuajak tinggal bersama? Lagi pula, aku hanya tinggal berdua di apartement ini."

.

.

.

"Berdua? Apa kau tinggal dengan kekasih mu? Hahhaa... apartement sebesar ini mana boleh hanya ditinggali oleh sepasang kekasih! Tapi, apa itu tak membuat mu merasa terganggu?" tanya tuan Lee dengan sedikit candaan. Tuan Lee tak henti-hentinya menatap kagum isi apartement Donghae. Lain halnya dengan sang istri yang hanya tersenyum dalam diam sambil sesekali melirik ke arah putranya yang terlihat tak nyaman.

"Ani ahjussi, dia bukan kekasih ku. Dia hanya teman ku..."

"Jinjayo? Tak usah berbohong padaku. Menurutku, sebagai seorang namja itu wajah-wajar saja. Hahaha..."

"Jinja, lagi pula dia seorang namja."

"Ah~ geureyo?"

"Ne! Maka dari itu aku ingin kalian tinggal disini karena aku ingin merasakan tinggal bersama sosok seorang ayah dan ibu." Ujar Donghae jujur apa adanya. Ya, alasan Donghae membawa keluarga Hoya kesini karena selain ingin menolong sebuah 'keluarga' yang sedang mendapat musibah, Donghae juga merasa lelah hidup tanpa sosok 'orang tua' bersamanya.

CEKLEK

"YA! Lee Dong—"

"Ah~ kau sudah pulang Hyukkie-ah?!" Donghae berdiri dari duduk nya dan berjalan menghampiri Eunhyuk. Semua pasang mata yang sedari tadi sibuk dengan arah pandang mereka masing-masing, kini beralih memfokuskan pandangan mereka ke arah Eunhyuk. Nyonya Lee menatap Eunhyuk tak percaya, Hoya menatap tajam yang didasari rasa dendam ke arah wajah Eunhyuk, sedangkan tuan Lee menatap datar namun menusuk ke arah Eunhyuk. Dirangkulnya bahu Eunhyuk dan berniat untuk menarik namja yang selama ini selalu memuaskan hasrat sex nya untuk mendekat, melihat dan menyapa sebuah keluar yang baru saja mendapat musibah kebakaran, keluarga yang sebenarnya adalah keluarganya sendiri. Eunhyuk melepaskan rangkulan Donghae pada bangkunya dan menatap tajam pula ke arah tiga orang dihadapan nya secara bergantian. Suara detikan jam yang terus menggema membuat Donghae tersadar secara perlahan.

'Kenapa kau melakukan ini pada keluarga ku?'

'Apakah ada udang dibalik batu?'

'Jangan pernah selali keputusan dan tindakan yang telah kau perbuat, Hae hyung...'

Ia mengerti, kini ia benar-benar mengerti apa maksud dari kalimat yang dilontarkan Hoya terhadap nya.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Eunhyuk sinis.

"Cih! Rupanya kau tak berubah, masih menjadi anak kurang ajar eoh?" ejek tuan Lee.

"Hentikan yeobo~" ujar nyonya Lee seraya mengusap-ngusap lengan sang suami. Eunhyuk yang melihat itu tiba-tiba saja tertawa merendahkan.

"Apa yang kau tertawakan, bajingan?" tanya tuan Lee tak suka. Amarahnya mulai terpancing hanya dengan sedikit tingkah kurang ajar dari Eunhyuk.

"Kau masih bersama si pelacur ini?" tuan Lee semakin geram saat Eunhyuk mulai mengeluarkan kata-kata kurang ajar nya. Hoya yang mendengar ibunya di sebut sebagai 'pelacur' ikut geram. Terlihat dari tangan nya yang kini mengepal dengan sangat kuat.

"Kudengar rumah mu kebakaran akibat kelalaian sang pemilik rumah, benar kan ahjussi?" tanya atau lebih tepatnya ejek Eunhyuk.

"Apa peduli mu tentang itu, eoh?"

"Apa pelacur itu yang membuat kau kehilangan rumah peninggalan eomma ku?"

"YA! LEE HYUK—"

"S-saya akan menggantinya." Potong nyonya Lee cepat.

"Mengganti?" Eunhyuk tertawa renyah mendengarnya. "Mengganti katamu? Apa yang bisa dilakukan oleh pelacur sepertimu, eoh? Bahkan sekarang kau tak punya apa-apa! Kalian hanya gelandangan sekarang!" seru Eunhyuk membuat tuan Lee sudah tak bisa lagi menahan amarah nya. Ia hendak berjalan menghampiri Eunhyuk untuk menghajarnya. Namun dengan cepat Hoya menahan tangan appa tirinya.

"Apa yang kau lakukan ?" tanya tuan Lee tak suka atas tindakan yang dilakukan oleh Hoya.

"Bisakah kau berhenti memanggil eomma ku dengan sebutan hina seperti itu?" tanya Hoya masih dengan tatapan tajam nya ke arah Eunhyuk.

"Mian, aku tak bisa." Jawab Eunhyuk singkat.

"Mungkin awalnya kami memang gelandangan, tapi sekarang tak lagi." Uajr Hoya dengan sebuah seringai yang mulai terlukis pada bibirnya. Seringai itu membuat Eunhyuk merasakan bahwa ada yang tak beres dengan Hoya.

"Gelandangan adalah sekumpulan orang yang cenderung tak memiliki harta dan tempat tinggal, bukan?!"

"Lalu?"

"Jangan panggil kami sebagai gelandangan!"

"Haruskah? Lalu aku harus memanggil kalian apa jika bukan gelandangan?" Eunhyuk menatap Hoya tak suka.

"Panggil kami 'keluarga'." Pada awalnya, Eunhyuk sedikit tersentak dengan perkataan namja asing yang ternyata adalah adik tirinya sendiri. Namun detik berikutnya, Eunhyuk balik menyeringai menatap Hoya.

"Atas dasar apa aku harus memanggil kalian keluarga? Aku tak punya keluarga. Lebih tepat nya, aku hanya memiliki seorang ibu." Tuan Lee merasa bahwa hatinya sedikit sakit saat Eunhyuk mengatakan kata 'ibu'.

"Begitukah?" tanya Hoya memastikan dengan nada kasihan yang dibuat-buat.

"Tapi sayangnya kita akan tinggal dalam satu atap apartement yang sama, Hyukjae hyung~ dan itu... mengharuskan kita untuk terlihat seperti satu keluarga bahagia." Ucap Hoya dengan senyuman yang dibuat-buat.

"Hajiman! Kalian? Akan tinggal disini? Yang benar saja! Aku ta—"

"Appa, eomma! Kita akan tinggal disini kan?" Hoya menatap appa dan eomma nya penuh harap. Namun ia tak kunjung mendapat jawaban dari kedua orang tuanya. Keterdiaman kedua orangtuanya membuat Hoya kembali membuka suaranya.

"Tadi kau menawarkan kami untuk tinggal disini kan Hae hyung? Tadi kau bilang kau hanya tinggal bersama seorang teman di apartement besar ini, bukan begitu hyung?"

"Ne.."

"Apa tawaran itu masih berlaku, Hae hyung?" Donghae yang sedari tadi hanya melihat pertengkaran antara ayah, anak, ibu dan saudara tiri ini kini menjadi bimbang. Di satu sisi, ia sangat ingin keluarga tuan Lee tinggal disini sebagai bayangan sosok seorang ayah dan ibu. Selain itu, ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang namja yang memiliki sebuah 'keluarga'. Namun dilain sisi ia juga merasa bersalah saat mengetahui bahwa keluarga dihadapan nya kini merupakan orang-orang yang paling dibenci Eunhyuk. Otak nya mulai berpikir, mempertimbangkan berbagai keputusan dan membayangkan berbagai kejadian buruk yang mungkin saja terjadi. Namun dengan cepat ia sadar, bahwa keadaan seperti ini sangatlah tepat. Dengan keberadaan keluarga tuan Lee dengan Eunhyuk dalam satu atap apartement yang sama mungkin akan membuat keadaan menjadi rumit, namun semua ini justru akan membuat nya sedikit terbantu untuk menjalankan keinginan awalnya, yakni mengubah Eunhyuk pada sosok yang sebenarnya. Meskipun akan terasa panjang dan rumit, namun Donghae yakin jika keputusan nya tak akan salah.

"Tentu saja, kalian boleh tinggal disini."

"MWO?"

.

.

.

TBC

.

.

.


Gaje yah?

Hehe...

New cast nya udah keluar tuh!#tunjukTaeJun

Tapi, baru satu :D#emangadaberapanewcast?! -_-

Ceritanya boring? Iya, Naka tau T_T

Hhh~ tapi mau gimana lagi?! Cerita ff ini emang kayak gini xD

Gomawo udah mau nyempatin waktunya buat Review ff ini :D

Naka sayang kalian semua~~~ 3 3 3 #lebay

Yosh! Review please ne~

See you in chap 10~^^