Gundam SEED/Destiny Disclaimer By Sunrise & Bandai (Not Mine!)

My Short Journal By Oto Ichiiyan

Rate : T

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama

Pairing : Athrun Zala & Cagalli Yula Athha [Slight CagallixKira]

Warning : OOC, AU, Typos, etc. Don't Like, Don't Read! For Twin Hibiki's Birthday! :) Three-Shoot! Cagalli's POV!


~ The Secret ~


Lagi, tanpa sadar kakiku melangkah ke taman kota hari ini. Aku terduduk di atas kursi yang sama seraya mengeratkan syal biru tuaku. Entah kenapa angin hari ini terasa dingin, atau mungkin karena tubuhku yang sedang demam? Kepalaku kembali pening untuk kesekian kalinya, reflek kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi. "Padahal ini hari pertamaku jadi siswa di SMA Archangel, tapi malah terserang demam seperti ini," keluhku dengan agak serak. Ah, tenggorokanku terasa kering sekarang.

"Terima kasih, Cagalli..."

Suara itu... Aku baru sadar, sudah tiga hari ini aku berharap bisa bertemu dengannya lagi. Bertemu dengan Athrun dan bermain tebak-tebakan seperti waktu itu. Tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi lagi, ya?

Tanpa sadar, pandanganku terus tertuju pada gerbang keluar-masuk taman.

Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Tiba-tiba seseorang menghalangi arah pandangku. "Apa yang kau lakukan?"

Sontak aku mendongak dan terlihat sosok yang sangat tidak asing bagiku. Apa ini mimpi? Kusentuh keningku yang sedikit panas. "Sepertinya... aku berhalusinasi ada Kira di depanku," ucapku dengan nada lirih seraya berdiri tanpa sedikit pun melepaskan tanganku dari kening.

Set, grep!

Mendadak tubuhku jatuh ke dalam pelukan seseorang. "Huh?"

"Bodoh. Ini nyata, Cagalli. Aku Kira, Kira Yamato."

Orang itu mengeratkan pelukannya lalu mengecup puncak kepalaku. "Kira...?" Aku bertanya lirih sambil mencoba menatap wajahnya. Benar. Ia adalah Kira Yamato, seorang laki-laki yang sudah sebulan lebih menghilang dari hadapanku. "Hiks, kau... benar Kira? Kira Yamato?" tanyaku masih tidak percaya.

Tuk. Ia menjitak kepalaku pelan dan tersenyum.

"Iya, Cagalli. Ini aku, kekasihmu, Kira Yamato."

Perlahan bibirku melengkung ke atas lalu membalas pelukannya. "K-kenapa kau baru menemuiku sekarang? Ke mana saja kau selama ini, Kira?"

Pelukannya kembali mengerat. "Maaf baru bisa menemuimu sekarang, Cagalli. Banyak hal yang terjadi dan bahkan sampai sekarang, masalah itu belum kuselesaikan," akunya. Ia melepas pelukan kami lalu duduk di kursi. Aku pun ikut duduk di sampingnya setelah menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi kananku. "Apa kau merindukanku?" tanya Kira dengan nada bercanda.

"Tentu saja," sahutku sambil menundukkan kepala.

Tangannya yang besar itu mengacak-acak rambutku sebentar.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menghilang darimu. Hanya saja... aku merasa belum siap untuk bertemu denganmu secara langsung."

"Huh? Apa maksudmu? Bicaramu aneh, Kira."

Senyum lembut dan penuh kasih sayang itu ia tunjukkan padaku.

"Bisa... kau ceritakan padaku tentang masalahmu, Kira?" Itu bukan pertanyaan, tapi lebih ke sebuah permintaan. Angin yang cukup kencang menerpa tubuhku, sontak aku sedikit bergedik karena kedinginan. Tapi aku berusaha untuk menghiraukan rasa dingin itu dan terus menatap lurus ke kedua mata Kira.

"Bagaimana... aku harus memulainya, ya?"

"Dari mana saja, dari awal pun juga tak masalah."

Ia menatapku dengan pandangan yang cukup aneh. "Kau yakin?"

Tanpa ragu aku langsung menganggukkan kepala. "Aku siap mendengarkan." Kira memandangiku sebentar lalu menatap lurus ke depan. Tangan kirinya menyentuh tangan kananku dan mengenggamnya.

"Aku rasa... kita tak bisa bersama seperti sekarang ini lagi."

"...huh?"

"Dengan kata lain... aku ingin kita akhiri hubungan terlarang ini, Cagalli."

"Hubungan... terlarang? Apa m-maksudmu, Kira?" tanyaku sambil menarik bahunya supaya aku bisa melihat wajahnya secara jelas. "Ulangi semua perkataanmu, Kira. Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa—"

"—aku baru tahu kalau ternyata kita adalah saudara kembar."

"...huh?"

"Kita adalah saudara kembar tidak identik yang terlahir dari keluarga Hibiki. Orang tua kita—Ulen dan Via Hibiki—meninggal satu tahun setelah kita lahir. Selama sebulan kita hidup di yayasan panti asuhan sebelum diadopsi oleh orang tua kita yang sekarang."

Syuuuh...

Lagi-lagi, suara angin terdengar di tengah-tengah keheningan.

"Aku... minta maaf." Kira berucap lirih dan menundukkan kepalanya.

"Tidak... mungkin..." Reflek aku menutup mulut saat tanpa sadar air mata mulai keluar dari kedua mataku. Bukan hanya aku, ia juga menangis setelah menjelaskan secara singkat. Aku berdiri di hadapan Kira lalu mengguncang-guncangkan tubuhnya. "Kira! Mana mungkin kita kembar!? Apa kau percaya begitu saja soal itu!?"

"MEMANG KAU PIKIR AKU PERCAYA!?"

Aku tersentak, untuk pertama kalinya laki-laki itu berteriak marah padaku.

"Awalnya aku sama sekali tidak percaya, tapi tidak setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau hasil DNA yang diam-diam kulakukan waktu itu 100%... positif." Ia menatapku lurus dengan ekspresi sedih yang bahkan baru pertama kali ini kulihat juga. "Kuharap, kau bisa terima kenyataan ini, Cagalli. Tidak mungkin 'kan... saudara kembar jadi sepasang kekasih?"

"Kira, tapi..." Sungguh, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

Kedua tangannya mendekap tubuhku. "Maaf."

"Hiks, t-tapi... bagaimana c-caranya?" Bagaimana caranya... aku membuang perasaan cintaku padamu, Kira? lanjutku dalam hati. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak meneriakkan semua yang kurasakan sekarang.

"Aku... juga tidak tahu," jawabnya dan bisa kurasakan air hangat merembas ke bagian bahu kanan blazer merahku.

Putus asa. Kami berdua hanya bisa pasrah saat dipermainkan oleh takdir.

.

.

.

"Nona Cagalli, apa Anda sedang tidak enak badan?"

Aku tersenyum simpul sambil menengok ke samping kanan. "Aku baik-baik saja."

"Tapi Anda belum menyentuh sarapan Anda," kata pelayan keluarga Athha itu.

Kali ini aku hanya menggelengkan kepala pelan. Dengan gerakan seolah memaksakan diri, kuambil satu porsi roti bakar berisi selai kacang favoritku lalu kugigit sedikit. Entah kenapa aku jadi malas makan sejak tempo hari, mungkin karena... masalahku dengan Kira. Satu hari setelah pertemuan itu, Kira menjemputku ke sekolah, bermaksud untuk memberikan hasil DNA dari sempel rambut kami berdua. Aku cukup kaget saat tahu ia diam-diam mengambil rambutku untuk tes DNA sewaktu kami masih SMP.

"Sepertinya kau sedang ada masalah, Cagalli."

Ayah terdengar tengah mengkhawatirkanku, walau dari ekspresinya tidak menunjukkannya sama sekali. Lagi, aku tersenyum dan mengaku. "Yaaa, sebenarnya ada satu. Ah, mungkin banyak?"

"Tentang sekolah barumu?" tanyanya, mencoba menebak.

"Bukan," jawabku cepat seraya menggigit roti lagi.

"Pacar?"

"...mungkin?"

Terlihat Ayah mengalihkan pandangannya dari koran yang tengah ia baca. "Apa dia berbuat macam-macam padamu, Cagalli?" Kini suaranya terdengar over protective, seolah-olah ia siap melakukan apapun pada pacarku untuk membalas perbuatannya. Huh? Tapi perbuatan apa? Kira sama sekali tidak berbuat jahat padaku. Hanya... takdir yang melakukannya.

"Dia tidak berbuat jahat padaku, Ayah."

Suara helaan napas lega bisa kudengar, walau secara samar-samar. "Lalu?"

Kuletakkan kembali roti bakarku ke atas piring lalu meminum sedikit susu rasa vanilla kesukaanku. "Ada yang ingin kutanyakan pada Ayah mengenai masalahku ini," kataku sambil menatapnya dengan pandangan serius. Tanaka-san—pelayan tua keluarga Athha—yang sedari tadi berdiri di sebelahku memilih pergi meninggalkan kami. Ia tahu dan sadar kalau aku hanya ingin membicarakan masalahku secara empat mata dengan Ayah. Satu menit kemudian, suara pintu tertutup menyapa telinga.

"Ayah dengar, kemarin kamu sempat demam, Cagalli. Apa itu benar?"

"Ya, tapi sekarang sudah lebih baik dari hari kemarin."

"Begitu?" Rasa ragu terselip di nada bicaranya.

Aku tersenyum tipis melihat ekspresi Ayah yang terlihat biasa saja, seolah kabar kesehatanku yang sempat menurun itu hanya angin lalu. Tapi aku tahu—sangat tahu—kalau dirinya peduli padaku, tentu aku tahu itu dari Tanaka-san. Pelayan itu cerita padaku kalau Ayah selalu meminta laporan tentang diriku setelah ia pulang dari kantor. "Sungguh, Ayah. Sekarang aku sudah baik-baik saja," ujarku.

"Apa kamu sakit karena masalahmu yang sekarang, Cagalli?"

Ia menatapku lurus ke wajah dan sengaja menghentikan kegiatan sarapannya.

"Ya... sedikit," jawabku, jujur dengan kepala tertunduk.

"Ceritakan masalahmu pada Ayah," perintahnya.

"Aku... pernah bilang ke Ayah 'kan kalau aku punya pacar?" tanyaku, hati-hati.

"Ya, lalu? Apa sekarang kalian sudah putus?"

Dengan gerakan kaku, aku pun menganggukkan kepala sekali. Namun buru-buru kujelaskan alasannya karena dari wajah, Ayah terlihat marah pada—mantan—pacarku. "T-tapi dia tidak melakukan apapun padaku, Ayah. Sungguh!" Kedua mataku menatap ke arah yang lain secara spontan, bermaksud untuk menghentikan pembicaraan ini. Rasanya aku tak ingin menyampaikan hal ini pada Ayah dan menyimpannya sendiri. Tapi kalau seperti itu, aku takkan mendapat jawaban yang jelas dan pasti tentang keluarga kandungku.

Apakah... laki-laki paruh baya bernama Uzumi Nala Athha yang ada di hadapanku ini adalah Ayah kandungku? Atau hanya Ayah adopsi?

Pertanyaan itu terus menghantuiku sejak bertemu lagi dengan Kira.

"Apa... Ayah kenal dengan... Kira Yamato?"

Ekspresi kaget terlihat jelas di wajah Ayah.

Jadi, benar? Jadi, benar kalau Kira itu... saudara kembarku?

Dengan nada gugup bercampur rasa takut, kucoba bertanya lagi. "A-Ayah kenal Kira Yamato, kan?"

"Di mana kalian bertemu, Cagalli?"

"Kami satu kelas sewaktu SMP selama dua tahun terakhir."

"Tapi sekarang kalian sudah tak ada hubungan apapun lagi, kan?"

Rasa sakit bisa kurasakan di hatiku, jantung pun seolah berhenti di detik itu juga. Aku kembali menunduk. Kedua tanganku mencengkeram rok selutut dengan motif kotak-kotak berwarna merah-hitam yang kupakai. "Kami masih berhubungan kok, Ayah," sahutku dengan nada berani sambil tersenyum. "Tapi sebagai saudara kembar. Iya, kan?" lanjutku dan tanpa sadar, suaraku terdengar seperti orang yang tengah menahan tangis. Walau sebenarnya memang begitu.

"Cagalli... Kau tahu dari—" Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi panik di wajah Ayah. Sontak aku tertawa kecil secara paksa.

"Aku sudah tahu itu dari Kira beberapa hari yang lalu," jelasku.

Srek. Kulihat Ayah berdiri dari kursi seraya berjalan menghampiriku.

"Ayah?" tanyaku, bingung saat ia sudah berada di dekatku.

Perlahan tubuhku pun limbung ke depan karena ditarik oleh Ayah. Ia membawaku ke dalam pelukannya yang hangat. "A-Ayah..." Suaraku terdengar bergetar begitu memanggilnya. Tiba-tiba air mata yang sempat menggenangi kedua mataku, turun melewati pipi dan berakhir di kemeja biru langit yang sedang Ayah pakai. "M-mataku... kenapa—"

"—menangislah jika ingin menangis. Jangan terus kamu tahan sendiri, Cagalli."

Mendengar ucapannya, tentu membuatku tak kuasa menahan tangis. "Ayah..."

Bisa kurasakan tangannya mengusap helaian rambut pirangku dengan penuh kasih sayang. Kenapa? Padahal aku hanya anak angkatnya, tapi kenapa ia memperlakukanku sebaik ini? Sekarang aku berpikir, apakah aku pantas mendapat kebahagiaan dari orang sebaik Ayah?

"Maaf, Cagalli. Maaf karena sudah menyembunyikan rahasia ini darimu."

Bahkan, ia meminta maaf padaku lebih dulu.

Aku menggeleng pelan. "U-untuk apa Ayah m-minta maaf seperti itu? A-Ayah tidak melakukan hal yang salah, kok," kataku pelan sambil menahan isak tangis yang sedari tadi tertahan di bibir. Ya, memang tak ada yang harus disalahkan di sini. Tapi...

Tapi...

"Hiks."

Isakan itu pun terdengar setelahnya, membuat pelukan dari Ayah semakin mengerat. "Maaf, Cagalli. Seharusnya Ayah ceritakan identitasmu yang sebenarnya sejak awal," kata Ayah dengan nada berbisik. Kedua tanganku mencengkeram kemejanya hingga kusut dan terus memanggil 'Ayah'. "Maaf, Cagalli."

"Ayah, k-kenapa, hiks?"

Ia melepas pelukannya lalu menghapus air mataku.

Kututup mulutku dengan punggung tangan, bermaksud untuk menahan suara isakan tangis. Sakit... Rasanya sakit... Seharusnya aku senang karena berhasil mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan Ayah sejak dulu, tapi kenapa sekarang rasanya... sangat sakit? Kenapa...? Aku menatap wajah Ayah yang terlihat mencemaskanku dengan posisi setengah berjongkok. Berulang kali kudengar kata 'maaf' dari mulutnya, tapi sama sekali tidak mengurangi rasa sakit dan sesak yang kurasakan sedari tadi.

"... Tidak mungkin 'kan... saudara kembar jadi sepasang kekasih?"

Entah kenapa tangisku semakin menjadi saat perkataan Kira kembali teringat.

"Maaf, Cagalli. Maaf."

"Ayah, hiks! Ayah, k-kenapa, hiks!?"


Share With You


Entah kenapa aku datang ke taman kota di hari Minggu pagi ini. Biasanya aku selalu mengurung diri di kamar sampai waktu makan siang, tapi tidak untuk sekarang. Aku menghela napas berat dan mengacak-acak pelan rambut pirangku. Efek dari banyak pikiran. Ya, karena masalah itu, membuatku sering sekali berpikir hal-hal yang tak masuk akal. Contohnya saja teman-teman baruku akan pergi menjauh dariku begitu tahu identitasku sebagai anak adopsi dari pebisnis terkaya nomor dua di dunia.

Tapi sepertinya itu bisa terjadi.

Bukan hal yang mustahil bila mereka menjauh.

Set! Tubuhku menegang saat benda dingin menyapa pipi kananku.

Jangan bilang kalau... "Athrun Zala," gumamku, malas sambil menengok ke samping. Sosok laki-laki berambut navy blue dengan pakaian santainya itu tengah berdiri ditemani senyum tak berdosa seperti biasa. Rasa kesal menguar seketika. "Tak bisakah kau pakai cara yang lebih menyenangkan lagi selain ini?" sindirku sambil menatapnya tajam. Oh ayolah, aku sedang tidak mood untuk berdebat, tak bisakah ia mengerti keadaanku sekarang dengan sekali melihat?

"Kau sedang ada masalah, ya? Mukamu terlihat suram?" tanyanya.

Akhirnya... sadar juga. Kugunakan tangan kiriku untuk mendorong sedikit wajahnya yang melihat wajahku terlalu dekat. "Tolong pakai cara normal saja, bisa?" sahutku dengan nada kesal. Kusandarkan punggungku ke sandaran kursi seraya menatapnya. "Tidak mau duduk?"

Athrun pun duduk tepat di sebelah kiriku. "Jadi, kali ini kau yang bermasalah?"

Kedua mataku tertuju pada ponsel yang terus kugenggam di tangan kananku.

Laki-laki itu terlihat mengikuti arah pandangku tanpa berucap lagi.

"Setiap orang pasti punya masalahnya masing-masing. Iya, kan?" lirihku. Kulihat secara sekilas, ia menatap ke arahku sebelum ikut bersandar sambil menatap lurus ke depan. Sama seperti yang kulakukan sekarang. "Tanpa masalah... hidup ini terasa hambar. Bagaikan sebuah kanvas putih tanpa goresan pensil dan cat warna. Benar-benar polos dan membuat jenuh orang-orang yang melihatnya."

"Tak apa."

"Huh?" Aku menengok pada Athrun, begitu juga sebaliknya.

"Kau bisa cerita padaku karena aku tidak pandai menebak."

"Kau bicara apa, sih?" tanyaku, bingung.

"Waktu itu, kau bisa menebak permasalahanku tanpa harus kuceritakan. Ingat?"

"Lalu?" tanyaku lagi, masih tidak mengerti. Ia menepuk keningnya pelan. "Kau itu bodoh atau pikun, Cagalli?" Mendengar pertanyaan aneh dari Athrun, tentu membuatku semakin kesal. "Kau semakin menyebalkan, Tuan Athrun Zala."

Ekspresi Athrun berubah suram. "Apa wajahku kelihatan terlalu tua, Cagalli?"

"Baru sadar?" sahutku.

"Jawabanmu sangat tidak membantu," kata laki-laki beriris mata emerald itu.

"Hmmph." Tanpa sadar aku terus menahan tawa. Melihat ekspresi wajahnya yang selalu berubah-ubah, cukup bisa membuatku tertawa lepas tanpa beban. Bahkan rasa sedih dan kesal yang sempat kurasakan, kini menghilang entah ke mana. Aku terus tertawa sampai akhirnya tersadar kalau Athrun terus memperhatikanku sambil tersenyum tipis. "A-apa?" tanyaku setelah berdeham.

"Ternyata wajahmu semakin manis saat tertawa lepas seperti tadi."

"Huh? Kau menghinaku?"

Kini ia yang tertawa pelan. "Bukan menghina, tapi memuji."

"Tapi bagiku, kau terdengar seperti tengah menghinaku tadi," kataku tidak terima. Bisa kurasakan suhu panas merambat ke kedua pipiku secara cepat. Sontak aku memilih untuk membuang muka dan menatap ke arah lain. Berharap laki-laki itu tidak bisa melihat wajahku sekarang. Huh? Tunggu, ada apa denganku?

"Kau tak mau cerita padaku?"

Aku menengok ke arahnya lalu terdiam.

"Aku takkan memaksamu jika kau tak mau, Cagalli," kata Athrun.

Dengan cepat aku menggelengkan kepala. "Sebenarnya aku ingin konsultasi juga denganmu, Athrun," akuku. Aku membuka layar ponsel flip-ku lalu menutupnya, membuka kemudian menutupnya lagi secara berulang-ulang. "Apa kau pernah merasakan yang namanya... cinta terlarang?"

"Cinta sedarah, maksudmu?" Ia bergumam sebentar. "Tidak, atau belum?"

"Jawabanmu sangat tidak membantu," kataku meng-copy paste ucapannya.

"Yaaah, mau bagaimana lagi? Kenyataannya begitu, kok."

Diam lalu menghela napas lewat mulut. Haruskah aku bercerita padanya, kalau dia saja takkan mengerti tentang apa yang kurasakan sekarang?

"Aku akan mencoba untuk mengerti, Cagalli."

Tubuhku sedikit terlonjak dan reflek bergerak ke samping kanan. "H-huh?"

Athrun tersenyum geli padaku.

"Baiklah, tapi kau harus membantuku mencari solusinya, Athrun," kataku. Melihat ia mengangguk, aku pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada kehidupanku sekarang secara singkat, padat, dan jelas. Athrun tampak menyimak dan sesekali bertanya.

"Kau... tidak menangis?" Ia bertanya dengan nada hati-hati.

Menangis? Aku mengecek kedua mataku yang tak mengeluarkan air mata.

Sebuah tangan menepuk kepalaku lalu mengacak rambutku pelan. "Syukurlah."

Pandanganku tertuju pada Athrun yang masih tersenyum sambil mengacak pelan rambutku. Hangat... Aku merasa tangan Athrun memiliki kehangatan yang sama seperti Ayah. Berbeda dengan Kira dan lainnya. "Mungkin karena ada kau, aku jadi tidak menangis," kataku seraya mengulum senyum.

"Benarkah? Tapi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya.

"Aku... tidak tahu." Kepalaku menunduk.

"Mencintai dan dicintai..., ya?" Ia menatapku sekilas sebelum memandangi langit berawan. Tangan kanannya yang semula mengacak-acak rambutku kini ia jadikan bantal. "Masalahmu ternyata cukup rumit. Aku sama sekali tak pernah berpikir kalau suatu hari nanti akan mencintai seseorang yang memiliki darah dan orang tua kandung yang sama seperti masalahmu itu," kata Athrun dengan nada bingung.

Mataku melirik ke arahnya. "Awalnya aku juga tidak percaya."

"Tapi menurutku, itu bagus."

"Maksudmu?" Athrun tersenyum lagi untuk yang kesekian kalinya. Laki-laki ini, suka sekali tersenyum, ya? Aku yakin, para gadis di luar sana banyak yang menyukainya. Ah! Apa yang kupikirkan sih, barusan!?

"Setidaknya... hubungan kalian berdua belum terlalu jauh."

"Oke, oke." Aku kembali terdiam, memikirkan apa yang diucapkan Athrun.

Dua buah tiket tiba-tiba menghalangi pandanganku yang tertuju pada pohon bunga sakura. Pohon itu berdiri tanpa sehelai pun bunga sakura karena memang sudah waktunya bunga-bunga sakura tidak tumbuh dan mekar lagi. Kepalaku mendongak, menatap sosok Athrun yang sudah berdiri di hadapanku. "Aku memang tak bisa membantumu, tapi aku ingin mendukungmu dengan caraku," katanya.

"...mendukung-...ku?"

Ia mengangguk. "Aku harap, kau mau menerima ajakanku."

Aku menatap dua tiket tersebut. Tiket ke Junius Aquarium Park. "Baiklah, kapan kita akan pergi?"

"Malam ini, bisa?"

"Oke."


~ Date With You ~


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 P.M. saat aku sampai di depan stasiun Earl. Senyum tipis tersungging di wajahku begitu melihat tiket yang diberikan Athrun pagi ini. Pantulan diriku di kaca sebuah etalase toko menarik perhatianku. Kedua mataku berkedip beberapa kali melihat betapa sederhananya diriku dengan balutan kaos putih panjang ditutupi sweater berwarna hijau muda yang dipadukan dengan celana ukuran tiga per empat berwarna krem. Sebuah syal hijau muda pemberian dari Ayah juga kupakai di leher.

"Penampilanku... seperti biasanya, kan? Tak ada yang berubah, kan?" gumamku.

Rasa cemas kembali menghantuiku dan dengan cepat kugelengkan kepala.

"Oke, tenang, Cagalli. Tenang... Ini bukan kencan. Ini bukan kencan."

"Siapa yang bilang kalau 'ini' bukan kencan, hm?"

Mendadak, sosok yang ditunggu berbisik seperti itu di telinga kiriku. Reflek badanku berbalik dan malah menabrak tubuhnya. Aku terdiam beberapa sambil menatap wajah Athrun yang tersenyum tipis seperti biasa dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan karena cukup dekat, sampai bisa membuatku merasakan nafasnya yang berbau daun mint. Berbeda sekali dengan Kira. Ah, lagi-lagi aku membeda-bedakan mereka berdua tanpa sadar.

"Sepertinya, kau mulai jatuh cinta padaku, Cagalli."

"Huh?" Mataku berkedip sekali.

"Ayo pergi, sebentar lagi keretanya akan berangkat," ajaknya.

Aku mengangguk kecil. Setelahnya tangan kananku terus ia gandeng selama di perjalanan menuju Junius Aquarium Park. Sesekali aku berniat untuk melepaskannya tapi ada saja alasan yang ia buat untuk tetap bisa menggandeng tanganku. Apa... perempuan yang dekat dengannya juga ia perlakukan seistimewa ini? Padahal aku bukan siapa-siapanya dan... kami juga baru bertemu tak lebih dari sebulan. Itu pun bisa dihitung dengan jari.

"Sampaiii!" Ia berseru tepat di depan gerbang masuk Junius Aquarium Park.

Kedua mataku berkaca-kaca melihatnya. Ini... pertama kalinya aku ke sini.

"Ayo, masuk!" ajaknya sambil menarik tanganku.

Aku hanya tertawa pelan melihat ekspresi bahagia Athrun. "Hei, jangan lari!"

Walau sudah kusuruh untuk tidak lari, tetap saja laki-laki itu mengajakku berlari kecil ke gedung utama. Setelah selesai mengurus tiket masuk, kami pun bisa menikmati betapa indahnya kehidupan bawah laut yang ada di aquarium terbesar di PLANT itu. Tak henti-hentinya aku berdecak kagum. Kami juga sempat berfoto-foto dan cukup membuatku malu karena Athrun terkadang memotretku tanpa izin lebih dulu. Saat kami foto berdua, ada beberapa pengunjung yang berbisik betapa serasinya kami sebagai sepasang kekasih.

"Panas, ya?" tanyaku sambil mengipaskan tangan ke wajah.

Athrun tersenyum geli. "Panas karena suhu atau panas karena ma—aw!"

"Hm? Kau ingin bilang apa, Athrun?" tanyaku setelah mencubit pinggangnya.

"Cubitanmu sakit juga. Ternyata perempuan tomboi suka mencubit, ya?"

Aku menatapnya dengan pandangan bingung. Tadi dia bilang aku ini tomboi? "Athrun, tadi kau bilang aku—"

"—ah! Aku lapar! Ke food court sebelah sana, ya?"

"Eh?"

Ia kembali menarik tangan kananku lalu berjalan keluar gedung utama dan mengajakku ke food court yang sempat ia tunjuk tadi. Mengalihkan pembicaraan. Tentu saja aku sadar. Sekarang yang menjadi pikiranku adalah kenapa Athrun bisa tahu kalau aku punya sikap... tomboi? Setahuku, hanya beberapa orang saja yang tahu kepribadianku itu, terutama teman-temanku di SMP Dominion. Apa jangan-jangan... Hmm, tapi aku tak pernah kenal dengan nama Athrun Zala sebelumnya.

"Mau makan apa?" tanya Athrun sambil melepas mantel coklat selututnya.

"Samakan saja dengan pesananmu," jawabku.

"Oke." Laki-laki itu pun pergi ke tempat pemesanan.

Tanpa sadar aku terus memperhatikannya sampai ia kembali duduk berhadapan denganku. Dua porsi burger ukuran medium dan dua kopi mocacinno tertata rapi di nampan yang ia bawa. Aku tersenyum padanya. "Terima kasih."

"Hm! Sama-sama," balas Athrun seraya tersenyum.

Rasa bingung sempat mengganggu pikiranku.

Ia mulai membuka bungkus burger-nya, aku pun mengikutinya.

Dalam diam kami makan burger tersebut. Aku ingin sekali bertanya tapi... sepertinya Athrun akan mengalihkan pembicaraan lagi. Sebenarnya, siapa laki-laki di hadapanku ini? Ia menatapku bingung sambil meminum kopi mocacinno-nya. "Athrun," panggilku.

"Hm?"

"Apa sebelum ini... kita pernah bertemu?"

Laki-laki yang kini memakai kemeja berlengan pendek dan berwarna biru langit itu sedikit tersedak. Sontak saja aku panik. Buru-buru ia melambaikan tangan kanan, bermaksud untuk bilang kalau dirinya tidak apa-apa.

"K-kenapa... kau bisa berpikiran s-seperti itu, Cagalli?" tanyanya.

"Kau tahu kalau aku ini perempuan tomboi. Padahal hanya teman SMP-ku saja yang tahu soal itu. Jadi, aku berpikir kalau mungkin saja kita sekolah di SMP yang sama, tapi aku sama sekali tidak tahu tentangmu, Athrun," jelasku dengan nada bingung. "Lalu, kenapa kau juga tahu kalau aku suka kopi mocacinno dan burger?"

Walau ekspresinya terlihat santai, tapi dari matanya terlihat jelas kalau laki-laki itu sedang panik. Seolah semua rahasianya sudah terbongkar.

"Athrun?" Aku memanggil namanya karena dia tak menjawab selama satu menit.

"Aa, mm, itu..."

"Athrun-kun?"

Sebuah suara yang sangat asing di telingaku tiba-tiba terdengar. Kami berdua menengok ke arah yang sama. Seorang gadis cantik berambut merah muda yang lurusnya sampai sepinggang tengah berdiri di sebelah Athrun. Ekspresinya terlihat kaget saat laki-laki yang dipanggilnya menengok.

Mm, tunggu. Apa... gadis ini... pacar Athrun?

"M-Meer. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Athrun sambil berdiri dari kursi.

"Athrun-kun sendiri, sedang apa di tempat ini dengan..."

Reflek, aku ikut berdiri dari kursi kemudian membungkukkan badan. "P-perkenalkan! Namaku Cagalli Yula Athha, teman Athrun Zala," kataku dengan nada cepat. Kuusahakan untuk tersenyum ramah padanya.

"O-oh, teman Athrun-kun." Ia ikut tersenyum. "Meer Campbell."

Aku mengangguk sedikit. "S-salam kenal."

"Jadi? Kau datang dengan siapa ke sini, Meer?" tanya Athrun.

"Dengan... Kakak," jawab gadis itu.

"Mm, itu... maaf? Boleh aku bertanya sesuatu?" pintaku entah pada siapa. Baik Athrun maupun gadis bernama Meer itu, mereka menganggukkan kepala sekali. "Apa... kalian... pacaran?" tanyaku dengan nada yang kelewat hati-hati. Kalau aku salah langkah, bisa-bisa Athrun bertengkar dengan pacarnya itu dan yang terburuknya... aku bisa jadi penyebab putusnya hubungan mereka berdua. Tidak! Aku tak mau dicap sebagai perebut pacar orang!

"Itu... sebenarnya... kami sudah bertunangan."

"Meer!"

"Eh? Tunangan?" Aku menatap kedua sejoli yang saling melempar pandangan satu sama lain. Tapi aku sama sekali tidak mengerti, kenapa atmosfernya agak tegang, ya? Kedua mataku melotot seketika begitu sadar apa yang sedang terjadi di antara mereka. "T-tunggu dulu! Tolong jangan salah paham dulu, Meer-san!"

Mereka menatapku bingung.

"Itu... awalnya kami tidak pergi berdua, kok! Ada satu temanku yang ikut!"

Kedua alis mata Athrun berkerut. "Apa mak—"

"—tapi temanku minta pulang lebih awal karena ada masalah keluarga."

"O-oh, begitu?" Ekspresi Meer terlihat lega.

"I-iya, begitu," kataku sambil tersenyum dan melirik sedikit ke arah Athrun. Laki-laki itu... bukannya berterimakasih malah menatapku tajam. Sepertinya, ia marah padaku? Tapi kenapa harus marah?

.

.

.

"Kenapa kau bilang begitu pada Meer?"

Langkahku ikut terhenti saat Athrun berhenti melangkah. "Kenapa?"

"Seharusnya kau bilang saja kalau kita sedang kencan," katanya dengan wajah tertunduk.

"A-apa maksudmu? Dia itu tunanganmu, Athrun!" sahutku.

Ia memandangiku sebentar lalu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kananku. "Kau sadar tidak, sih?"

"Soal... apa?"

"Aku menyukaimu."

"..."

"..."

"...maaf?" Aku... tidak salah dengar, kan? Aku tidak tuli, kan? Tadi apa katanya? Athrun menyukaiku? Athrun... menyukaiku? Tubuhku tak bisa bergerak saat tangan kirinya menarik tangan kananku dan membuatku jatuh ke dalam pelukannya. "A-Ath..." Pelukannya semakin erat. Samar-samar terdengar suara detak jantung yang berpacu sangat cepat. Entah suara detak jantung siapa, yang pasti... ini terasa... salah.

Ya, salah.

Ini... tidak boleh terjadi.

Tapi... kenapa?

"Itu... sebenarnya... kami sudah bertunangan."

Benar. Laki-laki ini... sudah mempunyai seorang tunangan yang sangat cantik bernama Meer Campbell. Tapi kenapa... kenapa dia malah... Aku berusaha melepas pelukan Athrun, tapi ia justru terus mengeratkannya. Seolah ia takkan membiarkanku pergi. Mataku berusaha mencari seseorang yang mungkin saja masih betah berada di taman kota walau jam sudah menunjukkan pukul 09.27 P.M.. Tapi tak ada satu pun orang yang lewat. Gerbang masuk-keluar taman juga cukup jauh dari tempatku berada. Bagaimana ini?

"A-Athrun... l-lepas..."

"Tidak. Kau pasti akan pergi tanpa menjawab perasaanku, Cagalli."

Menjawab apa? Sudah jelas 'kan, kalau aku...

"Cagalli, apa kau mulai menyukaiku sekarang?"

...kalau aku... a-apa? Apa?

"Cagalli, kau mulai menyukaiku, kan?"

Tes. Aku merasa air mataku turun dari kelopak mataku. K-kenapa... aku harus menangis? Kuusahakan untuk menghapus jejak air mataku seraya berusaha melepas pelukan Athrun. "A-apa yang kau katakan t-tadi? Kenapa k-kau bertanya seperti i-itu padaku? Bukannya... kau sudah punya M-Meer?" tanyaku dengan nada terputus-putus. Antara menahan tangis dan rasa marah yang tiba-tiba memuncak.

"Aku sudah bilang berulang kali padanya, kalau aku menolak pertunangan itu."

"Tapi Meer kelihatan sangat menyukaimu, Athrun. Seharusnya—"

"—tapi aku mencintaimu, Cagalli! Dari dulu! Dari dulu!"

Tubuhku membeku, mulutku benar-benar tak bisa mengeluarkan suara apapun sekarang. Terlalu syok dengan pengakuan dari Athrun. Ia bilang kalau dari dulu ia sudah mencintaiku. Tapi kapan kami pernah bertemu? Kapan? Kapan!?

"Kau pasti lupa kejadian itu."

"...huh?"

"Kejadian di mana seorang senior di SMP-mu yang harus dikeluarkan dari sekolah karena sudah difitnah telah melakukan hal yang tidak senonoh pada seorang adik kelas oleh teman sekelasnya sendiri."

Nyuuut.

Kepalaku... kenapa tiba-tiba terasa pening?

"Cagalli?"

"Pulang... A-aku mau pulang..." lirihku lalu meringis karena menahan rasa sakit yang muncul dari kepalaku. Kenapa? Kenapa? A-apa yang terjadi... padaku? Kapan itu... terjadi? Kapan?

"O-oke, kita pulang, ya? Naiklah ke punggungku."

Aku mengangguk. Samar-samar ia mulai berjongkok membelakangiku.

Perlahan aku mendekatinya lalu memeluk leher itu dan membiarkan tubuhku digendong olehnya. Selama perjalanan pulang, aku terus memberikan arahnya menuju rumah tanpa sedikit pun melepaskan tangan kanan untuk terus menempel pada kepalaku yang terasa akan pecah jika tidak kupegang. Kenapa? Apa aku pernah jatuh dari lantai dan membuat beberapa ingatanku hilang, sehingga aku tak mengingat apapun tentang Athrun?

To Be Continued

Seperti yang saya janjikan sebelumnya, saya akan update 3 hari berturut-turut dan ini adalah chap 2, bisa dibilang klimaksnya(?)

Thanks a lot for Naw d Blume [Ahaha, saya suka review Naw-san. Terima kasih sudah jadi reviewer pertama saya di "My Short Journal". Etoo, saya cuma sendiri lho, kenapa Naw-san manggilnya Author-tachi ya? #MukaBingung Untuk AsuCaga Moments kebanyakan di chap 2 dan 3. :) Pair utamanya AsuCaga slight nya KiraCaga, cuma slight Naw-san karena saya gak pernah kepikiran buat mereka berdua jadi bener-bener incest ._. Jawabannya ada di chap 2 ini, soal orang yang ditunggu Cagalli :D Sekali lagi, arigatou-ssu!], Alyazala [#NengokKeAtas Awalnya pacaran, tapi sayangnya kenyataan gak berpihak pada mereka ._. Ahaha, soal Athrun, saya anggap dia hanya angin lalu di chap 1 #DigetokAthrun Ini udah diupdate sesuai janji, semoga suka! :) Doumo arigatou-ssu! :D], and silents readers! :D

Ja Mata Ashita! #Kabur