Gundam SEED/Destiny Disclaimer By Sunrise & Bandai (Not Mine!)
My Short Journal By Oto Ichiiyan
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama
Pairing : Athrun Zala & Cagalli Yula Athha [Slight CagallixKira]
Warning : OOC, AU, Typos, etc. Don't Like, Don't Read! For Twin Hibiki's Birthday! :) Three-Shoot! Cagalli's POV!
~ Confession Again ~
"Cagalli? Kau serius, tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat, bahkan lebih pucat dari vampir." Miriallia Haww, teman sekelasku yang sering kupanggil dengan nama Milly itu menatapku cemas. Ia juga menjadi salah satu anggota klub basket putri, sama sepertiku. Gadis yang kini berstatus sebagai kekasih dari Dearka Elthman itu adalah sahabatku sejak kecil karena rumah kami cukup dekat.
"Aku tidak apa-apa. Maaf, ya. Gara-gara aku, kau jadi izin dari kegiatan klub," kataku dengan wajah tertunduk.
Milly memeluk leherku. "Tak masalah. Lagipula, aku juga ingin istirahat, kok!"
"Padahal sebentar lagi ada Kejuaraan Musim Gugur, lho," kataku, mengingatkan.
"Lalu?" tanyanya balik.
"Tentu saja kau harus berusaha, supaya bisa jadi pemain starter."
Ia berjalan mundur dan mengerutkan kedua alis sambil menatapku, pertanda ia sedang berpikir. "Dan kau sendiri?" tanyanya.
"Aku... tak masalah jika tidak jadi pemain starter. Aku suka basket, jadi aku takkan mempermasalahkannya. Selama aku bisa bermain dengan semuanya," lirihku seraya memegang bahu kiri Milly. Tubuhku... kenapa...
"Cagalli? H-hei! Kau tidak apa-apa?"
Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk berdiri dan berjalan sendiri.
"Ternyata benar, kau sedang tidak enak badan," kata Milly.
"Aku tidak apa-apa, hanya kurang tidur sa—"
"—CAGALLI!?"
Samar-samar bisa kulihat seseorang yang sangat tidak asing bagiku sedang memelukku. Seorang laki-laki yang akhir-akhir ini selalu muncul di benakku. Hangat. "Athrun..." Setelahnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku. Semuanya terlihat gelap dan terasa dingin.
.
.
.
"Apa yang kalian lakukan!?"
"Huh?"
"Uwaaah! Ada pahlawan kesiangan datang! Ahahaha!
"Kalian..."
"Ugh, seram sekali wajahnya. Takuuut! Ahaha!"
"Kurang ajar!"
.
.
.
Sinar matahari tiba-tiba menyinari wajahku, membuatku tak bisa membuka kedua mata karena terlalu silau. Setelah membiasakan diri dengan keadaan sekitar, aku pun mengambil posisi duduk. "Di mana... aku?" gumamku, masih setengah sadar.
"Kamu sudah sadar, Cagalli?"
Aku menengok ke arah sumber suara. "Ayah?"
Ia menaruh tangan kanannya ke atas kepalaku lalu menempelkan punggung tangannya di keningku. "Panasmu sudah turun ternyata," kata Ayah seraya mencium puncak kepalaku. Ia kembali duduk di atas kursi yang tak terlalu jauh dari tempatku duduk.
"Ayah, apa sekarang aku... sedang ada di kamar?"
"Iya, tadi Milly dan... Kira yang membawamu pulang ke rumah."
"Milly dan... Kira?" tanyaku sedikit tidak percaya.
Ckleeek. Pintu kamarku terbuka dan terlihat kedua sosok yang tengah kami bicarakan. Milly membawa sebuah nampan yang kuyakini berisi bubur, obat, serta segelas air putih untukku. Sedang Kira, laki-laki itu hanya berjalan mengikuti langkah Milly. Ugh, kepalaku terasa pening lagi. Tanpa bilang apapun, aku langsung kembali berbaring di atas kasur.
"Sepertinya, kepalamu masih pusing, Cagalli," kata Kira.
"Ya... sedikit."
Kulihat Kira berdiri di samping Ayah, lalu Milly duduk di sebelah kananku.
Milly tersenyum dan bersiap untuk menyuapiku semangkok bubur. Tentu saja aku menolak dengan menggelengkan kepala karena bagaimanapun juga, aku tidak suka makan bubur. "Cagalli, tadi siang kamu belum makan apapun lho di sekolah. Jadi, buburnya dimakan, ya?" pintanya tanpa sedikit pun menghilangkan senyumnya.
Sekali lagi, aku menggelengkan kepala.
"Cagalli." Ayah memanggil namaku.
Aku menaruh tangan kanan di atas kening. "Tidak, Ayah. Aku sedang tidak mau makan sekarang," lirihku seraya memejamkan mata, bermaksud untuk mengurangi rasa pusing. Tanpa sadar, mataku benar-benar tertutup dan membawaku ke alam bawah sadar lagi.
.
.
.
"Kau tidak apa-apa!? Apa ada yang terluka!?"
"Hiks, takut... takut... hiks."
"Tenanglah, ada aku di sini. Jadi, kau aman sekarang."
"Takut... hiks."
"Tenanglah, Cagalli. Tenanglah..."
.
.
.
Mataku terbuka secara perlahan. Kamarku terlihat gelap karena semua lampu dimatikan. Beberapa kali aku mengerjapkan mata seraya menyentuh kening. Mimpi... Mimpi... apa tadi? Siapa laki-laki yang sudah menolongku itu? Terlalu banyak hal yang kupikirkan, membuat kepalaku ingin meledak. Mataku melirik ke atas sebuah laci yang ada di sebelah kanan kasurku. Jam 02.45 P.M..
Huh? Tidurku lama juga ternyata.
Tok, tok, tok.
"Cagalli-sama? Apa Anda sudah bangun?"
Tepat waktu, kebetulan sekali perutku terasa lapar karena belum sempat makan dari semalam. "Y-ya, Tanaka-san," jawabku dengan nada serak, bahkan hampir menghilang. Kupaksakan tubuhku untuk duduk sambil bersandar pada bantal. Tanaka-san membuka pintu kamarku setelahnya.
"Maaf mengganggu tidur, Cagalli-sama. Tapi ada seorang teman Cagalli-sama yang berkunjung ke sini."
"Teman? Milly? Kira?" tanyaku.
"Bukan, Cagalli-sama. Sepertinya, ia baru pertama kali ke tempat ini."
"Oke, oke. Suruh dia tunggu di ruang tamu, dan tolong awasi gerak-geriknya."
"Baik, Cagalli-sama." Cklek. Pintu kamar kembali tertutup.
Aku menghela napas seraya menghapus beberapa jejak air mata yang entah kenapa ada di kedua pipiku. Mungkin aku bermimpi sambil menangis barusan? Perlahan aku mulai melangkah mendekati pintu lalu keluar ruangan dengan cara merambat tembok. Pandanganku masih sedikit kabur dan itu sangat menyulitkanku untuk berjalan.
Tanaka-san mencoba untuk membantu, tapi aku menolaknya. Ia pun pergi ke dapur. Baru empat langkah kakiku menuruni anak tangga, gerakanku langsung terhenti begitu tahu siapa teman yang Tanaka-san bilang padaku. "Athrun..."
Laki-laki dengan pakaian gakuran warna hitam itu menatap ke arahku.
Ya, benar. Ia adalah Athrun Zala.
Kembali kuturuni anak tangga sebelum sampai lantai dasar. "Kenapa... k-kau datang ke sini?" tanyaku seraya duduk di kursi yang biasa diduduki oleh Ayah sebagai tuan rumah. Athrun tersenyum tipis setelah terdiam beberapa saat dengan pandangan mata tertuju padaku. Agak risih memang, apalagi ketika melihat wajahnya berubah jadi menyendu. Dari matanya aku tahu, ia terlalu mengkhawatirkanku.
"Wajahmu pucat sekali, Cagalli," kata Athrun, memulai pembicaraan.
"Tidak juga," sanggahku cepat.
Hening kemudian, tak ada lagi pembicaraan saat Tanaka-san datang dengan membawa dua buah cangkir dan piring kecil sebagai alas. Sebuah teko dari bahan keramik dengan ukiran bunga sakura ia taruh di tengah-tengah kedua cangkir yang akan dipakai oleh kami berdua. "Biar aku saja yang tuangkan. Tanaka-san, tolong ambilkan kue kesukaanku di kulkas, ya?" pintaku sebelum Tanaka-san menuangkan isi dari teko tersebut ke cangkir yang disiapkan untuk Athrun.
"Baik, Cagalli-sama."
"Jadi, ada apa kau ke rumahku?"
"Aku melihatnya."
Alis sebelah kananku terangkat secara reflek. "Maksudmu?"
Ia diam sebentar lalu menatapku dengan wajah yang cukup serius. "Apa... pacarmu yang bernama Kira Yamato?"
Gerakan tanganku yang ingin mengambil secangkir teh rasa mint langsung terhenti. Ingatanku berputar kembali pada hari di mana aku bercerita masalahku dengannya. Aku tak pernah menyebut nama Kira saat itu, tapi kenapa Athrun bisa tahu namanya? Kepalaku tertunduk dan memilih untuk tidak jadi mengambil cangkir itu. "Cagalli..."
Tangan kananku bergetar tanpa kusadari. "Bagaimana..."
"Aku melihatnya tengah menggendongmu saat kau pingsan."
"...lalu?"
"Bukan apa-apa." Jawabannya terdengar gantung. Ia meminum teh tersebut lalu menaruh cangkirnya lagi ke tempat semula.
Kami sama-sama diam begitu Tanaka-san datang dengan membawa satu toples berisi stik pocky dan sebuah piring berisi beberapa potong kue. Canggung dan bingung. Aku menghela napas, "sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, Athrun? Aku tahu, ada hal lain yang sedang kau pikirkan dan itu berhubungan dengan Kira juga."
"...ya. Memang ada."
"Apa?"
"Aku ingin mengkonfirmasi dua hal padamu."
Konfirmasi? Aku hanya mengangguk dengan gerakan ragu.
"Apa hubunganmu dengan Kira... sudah berakhir?"
"Ya. Terima kasih pada takdir yang membuat hubungan kami sebagai sepasang kekasih harus berubah jadi saudara kembar," jawabku dengan nada santai. Tubuhku yang masih lemas, kusandarkan pada sandaran kursi. "Sampai sekarang, aku masih... tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Tapi... kenapa Kira masih bisa setenang itu? Kenapa... dia bisa berakting seolah... tak terjadi apa-apa dan memang harus... berjalan seperti ini?"
"Jawabanmu sangat tidak membantuku, Cagalli," sahut Athrun dengan wajah masam. Wajahku tentu langsung berubah jadi sebal.
Kusentuh kepalaku yang kembali berdenyut. "Aku masih bingung, Athrun."
"Begitu?"
"Apalagi setelah pernyataanmu waktu itu," ungkitku secara sengaja.
"Tentang balasan dari pernyataanku itulah yang ingin sekali kukonfirmasi."
Aku melirik ke arahnya dengan pandangan tidak berminat. "Apa semua laki-laki bersikap sama sepertimu, Athrun?" Ia memandangku bingung dan bergumam 'huh?'. "Selalu terburu-buru untuk mendapatkan gadis yang disukainya," jelasku.
"Bukannya ada pepatah 'siapa cepat, dia dapat'?" tanyanya balik.
"Dan memang kau mau tanding cepat-cepatan dengan siapa?"
"Entahlah."
Bruk! Kulemparkan sebuah bantal kecil yang sedari tadi ada di belakang tubuhku pada Athrun. Rasa kesalku semakin menjadi begitu mendengar jawabannya. Kenapa laki-laki ini mengharapkan jawaban dariku? Lalu mau dia ke manakan gadis bernama Meer Campbell yang berstatus sebagai tunangannya itu?
"Cagalli, apa-apaan ini? Kenapa aku dilempar bantal?" protes Athrun.
"Kau itu yang apa-apaan! Jelas-jelas kau sudah punya tunangan, kenapa masih mengharapkan jawaban dariku!? Kau tak kasihan pada Meer, hah!?"
"Sudah kubilang, kan? Aku menolak pertunangan itu, tapi dia masih saja keras kepala untuk tetap melanjutkannya. Orang tua kami juga setuju kalau pertunangan itu dibatalkan," jelas Athrun. Aku hanya menganggukkan kepala beberapa kali.
"Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan juga padamu, Athrun."
"Hm? Apa itu?" Terlihat jelas dari wajahnya kalau ia sangat antusias.
"—tapi aku mencintaimu, Cagalli! Dari dulu! Dari dulu!"
Aku menatap lurus ke arahnya, sedang ia hanya memasang sebuah senyuman simpul di wajah. "Kau serius soal... kita pernah bertemu sebelumnya? Kau pernah bilang kalau kau m-mencintaiku sejak... dulu?" Ekpresi cerahnya perlahan berubah bagaikan langit mendung. "Athrun?"
"Jadi, kau memang benar-benar tak kenal denganku?"
"Tidak... juga?"
Athrun memandangku dengan wajah malas. "Maksudnya?"
"Yaaa, kalau diingat-ingat, saat pertama kali aku dengar namamu, rasanya tidak asing lagi di telingaku. Aku juga sempat berpikir, kalau kita pernah bertemu dan seperti pernah kenalan denganmu sebelumnya. Tapi aku sama sekali tidak ingat tentangmu," jelasku seraya mengambil dua stik pocky dari toples.
Senyum tipis terlihat di wajahnya. "Katakan saja seperti itu."
"Huh?"
"Iya, anggap saja kita memang pernah bertemu dan berteman sebelumnya."
Ekspresiku kembali berubah jadi sebal. "Aku sedang serius sekarang, Athrun."
"Ya, aku juga serius, karena kita memang pernah bertemu." Ia tersenyum lebih lebar sambil menyentuh rambutku dan mengacaknya pelan. Aku hanya memiringkan kepala sedikit, pertanda masih tidak mengerti. Laki-laki itu terlihat menghela napas kecil lalu melanjutkan ucapannya. "Kita pernah satu sekolah sewaktu SMP, lebih tepatnya saat kau masih jadi siswi baru di SMP Aegle."
SMP Aegle? "Tunggu! Kau serius aku pernah masuk ke SMP Aegle?" tanyaku bingung, karena yang kutahu sejak awal masuk SMP aku terus bersekolah di SMP Dominion sampai lulus.
Aku bisa melihat wajahnya yang kebingungan. "Mm, soal itu, aku juga tidak tahu secara jelasnya. Tapi, kau memang pernah bersekolah di sana selama dua bulan."
Nyuuut. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit saat kucoba untuk mengingatnya.
"Setelah dua bulan itu, kau pergi entah ke mana," lirih Athrun.
Penglihatanku sedikit berkunang-kunang. "L-lalu... a-apa yang terjadi?"
Athrun menatapku dengan pandangan serius. "Cagalli, kau lupa ingatan?"
"Huh?" Nyuuut. Pening di kepalaku semakin terasa, bahkan aku harus bersandar pada kursi karena tiba-tiba saja tak bisa duduk dengan tegak seperti biasanya. Dan lagi, aku... lupa ingatan? Tunggu, kalau diingat-ingat lagi, aku memang sempat lupa ingatan kata Ayah. Terakhir kali yang kuingat, yaitu saat pertama kali masuk SMP Dominion sebagai murid pindahan dari luar negeri.
Tap. Tanpa kusadari, Athrun sudah berada persis di depanku sambil berjongkok.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku pelan.
Tangannya yang sedikit dingin menyentuh pipiku. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Cagalli. Di seluruh December City, tapi aku tak pernah bertemu denganmu. Lalu setahun kemudian, temanku dapat kabar kalau dia pernah melihatmu di Orb. Beruntungnya, aku bisa mendapat tawaran beasiswa ke SMA Orb Union, langsung saja kuterima," ceritanya lagi seraya tersenyum lebih cerah.
Dengan tangan kanan masih memegang kepalaku yang terasa pening, aku bertanya. "Jadi, kau datang ke Orb karena ingin bertemu denganku?"
Tanpa ragu ia mengangguk. "Ya, dan aku punya alasan khusus untuk itu."
"..." Aku tak menyahuti perkataannya karena aku sudah tahu alasan utamanya.
"Karena aku mencintaimu."
Perlahan ia memegang tangan kananku lalu menggenggamnya erat. Senyum bak pangeran dari negeri dongeng miliknya tak sedetik pun berubah sejak beberapa menit yang lalu. Kalau begini terus... bisa-bisa hatiku akan goyah juga, tapi tentu aku tak bisa. Aku tak mau terima perasaannya karena dia sudah punya tunangan. Selain itu, aku juga takut menyakiti Athrun setelah kuterima perasaannya, karena—jujur—aku masih belum sepenuhnya melepaskan perasaanku untuk Kira. Perasaan cintaku untuk saudara kembarku sendiri.
"Cagalli." Suara yang sangat tak asing di telingaku terdengar.
"Kira..."
Ya, laki-laki berambut coklat itu sudah ada di ambang pintu masuk. Ia memandangi Athrun dengan pandangan yang cukup dingin bagiku. Atmosfer juga sedikit berubah saat Kira melangkah masuk. "Apa yang kau lakukan di sini, Athrun?" tanyanya dengan pandangan tertuju pada Athrun. Kira memandangiku sebentar. "Kau juga sedang sakit, Cagalli. Lebih baik istirahat di kamar."
"Aku tidak apa-apa." Aku tersenyum tipis pada Kira. "Oh iya, kalian saling kenal?" tanyaku.
"Kami pernah jadi tetangga waktu kami masih kecil," jawab Athrun.
"Benarkah?"
"Ya, sekarang bahkan kami satu sekolah di SMA Orb Union," tambah Kira.
Aku hanya mengangguk kecil setelah sadar kalau mereka memakai gakuran yang sama. Tiba-tiba Athrun berdiri dari sofa. "Sepertinya aku harus pulang sekarang. Maaf sudah mengganggu istirahatmu, Cagalli," pamitnya sambil membungkukkan badan sedikit.
"A-a, tidak apa-apa. Terima kasih atas kunjungannya," kataku.
Athrun tersenyum padaku lalu berubah ekspresi saat menatap Kira yang berdiri di samping kursiku. Sedang yang ditatap hanya memandang datar. "Sampai bertemu besok di sekolah," kata Athrun dengan nada dingin. Aku termenung sesaat melihat bibir Athrun yang berusaha mengeluarkan beberapa kata tapi sama sekali tak terdengar suaranya.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya penting," tanya Kira setelah sosok Athrun melewati gerbang.
"Tidak terlalu penting, ia hanya datang untuk menjenguk," jawabku sekenanya.
"Sampai memegang pipimu?"
"Untuk memastikan demamku sudah turun atau belum."
"Lalu kenapa tanganmu juga ia genggam?"
Oke, sekarang aku mulai kesal dengan sikap Kira. Aku memandang kesal ke arahnya. "Berhenti mengintrogasiku, Kira. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu," sahutku seraya berdiri dari kursi. Niatnya ingin ke kamar, tapi ia malah menahan lenganku dan langsung memelukku dari belakang. Sontak, tubuhku menegang tiap kali laki-laki itu memelukku atau menciumku. "Apa yang kau lakukan, Kira?"
"Memelukmu," sahut Kira sambil mengeratkan pelukannya.
Dengan sekali sentak, aku berhasil lepas dari pelukan itu.
"Aku mohon dengan sangat. Jangan bertingkah seperti ini lagi, Kira," pintaku.
"Maaf." Setelahnya terdengar decitan antara sofa dan lantai, aku melirik ke belakang sebentar. Dari tempat berdiri sekarang, aku tak bisa melihat ekspresinya karena ia terus menundukkan kepala. "Cagalli, maaf. Aku menyerah, aku... tak bisa melakukannya," lirih Kira tanpa menatapku sama sekali. Ia masih betah menatap lantai yang cukup berdebu di bawah kakinya.
"Apa yang tak bisa kau lakukan, memangnya?" tanyaku, tetap dengan posisi membelakangi sosok Kira.
"Aku... masih tak bisa melihatmu bersama laki-laki lain sebagai seorang kakak."
Wajahku terasa panas. Bukan! Bukan karena malu, tapi karena aku ingin menahan tangis. Tanganku terkepal secara perlahan seraya menghela napas. Mencoba untuk menetralkan rasa emosi dan rasa sedih yang ada di dalam diri ini. "Kenapa? Dari awal bukannya kau yang ingin hubungan kita putus dengan alasan hubungan darah? Kukira kau sudah menerima takdir yang Tuhan berikan pada kita, tapi nyatanya?"
"Tidak semudah itu, Cagalli."
"Oh, ya?"
"Sekarang aku sadar, perasaanku padamu tidak akan berubah."
"Itu hanya kenaifan belaka, perasaan manusia pasti akan berubah suatu saat nanti. Percaya atau tidak, kenyataannya memang begitu," kataku dengan tawa memaksa di akhir. Benar, suatu saat nanti perasaanku pada Kira akan berubah menjadi perasaan yang seharusnya ditunjukkan dari seorang adik kepada kakak kandungnya sendiri. Kenyataan memang pahit, tapi aku juga tak bisa berhenti di sini. Tidak boleh.
Tak ada sahutan lagi darinya setelah itu.
"Kalau urusanmu sudah selesai, lebih baik kau pulang saja, Kira."
Lagi, mulutnya tak bersuara, bahkan saat kakiku ingin menapaki tangga.
"Kau mengecewakan, Kira. Kau sudah bilang menyerah dan membiarkanku berjuang sendirian... lagi," gumamku dengan nada yang cukup keras untuk bisa didengar oleh Kira. Sampai kedua kakiku menapaki lantai dua, ia masih tak bergeming dari sofa. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihatnya mengambil sebuah ponsel dari saku celana lalu melangkah pergi sesuai apa yang kupinta tadi sambil menelpon seseorang.
"Lacus, kau di mana?"
Tubuhku lemas seketika mendengar nama itu terucap dari bibir Kira.
Bukankah Lacus adalah nama seorang gadis?
Bruk. Kakiku yang tak kuat lagi menahan berat tubuhku langsung jatuh terduduk membelakangi pagar pengaman dari keramik yang panjangnya tak lebih dari satu meter. "Sepertinya... Kira sudah menemukan pelarian yang tepat untuknya," kataku dengan nada berbisik. Siapa? Seperti apakah gadis itu? Apa sikapnya sebaik Kira dan bisa mengerti perasaan laki-laki itu dengan baik?
"Cagalli-sama..." Tanaka-san memanggil namaku dengan nada khawatir.
Aku hanya menunduk tanpa menyahut. "Aku... masih tak tahu harus bersikap seperti apa di depan Kira. Aku... harus bagaimana? Apa tindakanku tadi sudah tepat? Tapi kenapa justru terdengar sangat menusuk?"
Kulihat Tanaka-san menggelengkan kepalanya pelan. "Tindakan Cagalli-sama sudah benar. Walau terdengar menyakitkan, tapi Cagalli-sama sudah berusaha menjauhkan perasaan itu. Uzumi-sama pasti akan senang mendengarnya."
"Benarkah?"
"Ini keputusan yang terbaik untuk masa depan Cagalli-sama dan Kira-sama."
Helaan napas terdengar dari mulutku. "Rasanya sesak sekarang."
~ Misunderstanding ~
Awan tampak bergerak dengan tenang di sore hari ini. Sinar matahari tampak meredup sejak dua jam yang lalu. Semilir angin kembali menyapa, membuatku ingin menutup mata sejenak dan pergi kea lam mimpi. Sebuah bunga melati putih terus kupegang di tangan kanan, lalu memutarnya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Sementara tangan kiri kujadikan bantal. Pandanganku terus menerawang ke atas dengan pikiran kosong. Tiba-tiba sebuah wajah terlihat dan menghalangi pandanganku yang tertuju pada pergerakan awan. "Kau..." Aku menggeram tanpa mengubah posisiku yang sedang terlentang di hamparan rumput tepi sungai.
"Oh, sekarang pindah tempat, ya?" tanya orang itu—sebut saja Athrun Zala—dengan nada mengejek.
Kupandangi sebentar wajahnya yang masih berada di atas wajahku. "Apa?"
Ia tersenyum kemudian memilih duduk di samping kananku. "Lama tak jumpa."
"Ya, lama tak jumpa," sahutku singkat.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Melihat awan, tentu saja. Seperti yang kau lihat sekarang." Keadaan jadi hening setelahnya. Kupejamkan mata sebentar lalu membukanya lagi. Bosan. Ah, aku baru sadar. Sudah lima hari ini aku selalu berbaring di tepi sungai dan menghabiskan waktu dengan melihat pergerakan awan. Bukan Cagalli banget, kata Milly saat dia menangkap basah hobi baruku kemarin. Bahkan sejak izin sekolah karena sakit, aku sudah tak pernah latihan basket lagi dengan klub basket seperti biasanya.
"Kau menghindariku, ya?"
"Huh?" Kutolehkan kepalaku pada Athrun.
Ia tak menatapku balik dan terus menatap ke depan.
"Tidak, untuk apa aku menghindarimu? Aku hanya ingin cari suasana baru, itu saja," sanggahku sambil memandangi langit.
"Benarkah? Tapi aku merasa kau sedang membohongiku."
"Terserah kau saja, aku tak peduli."
Tangan Athrun mendekati wajahku dan menaruh sesuatu di telinga kiriku.
Aku termenung melihat tindakannya, dan sekarang iris matanya yang cukup meneduhkan itu menatapku lembut. Tak lupa senyum bak pangeran di negeri dongengnya menempel pada wajah tampan Athrun. "Apa yang kau lakukan padaku?" tanyaku seraya mengambil posisi duduk dan mengambil benda yang diselipkan ke telinga kiriku. Ternyata benda itu adalah bunga mawar merah tanpa tangkai. "Mawar merah?" heranku.
Laki-laki berpakaian gakuran hitam itu tertawa pelan. "Awalnya aku ingin memberikanmu bunga matahari, tapi bunga matahari tidak cocok dengan sikapmu."
"Lalu kenapa dengan bunga mawar?"
"Menurutku, bunga mawar merah itu cantik. Identik dengan hal-hal berbau romantis. Dengan sekali melihat pun, pasti akan ada rasa semangat yang meluap-luap karena warnanya. Namun, dibalik semua keindahannya, bunga mawar juga memiliki banyak duri dan mampu merobek kulitmu.," jelas Athrun panjang lebar.
Alis sebelah kananku terangkat sedikit. "Dengan kata lain?"
"Kau cantik, Cagalli. Dilihat dari mana pun, aura misteriusmu juga selalu keluar."
Kupilih untuk diam dan terus menyimak penjelasan lebih lengkap darinya.
"Dari dulu, kau selalu tidak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan tugas-tugasmu. Parasmu boleh saja terlihat cantik dan manis, tapi ucapanmu kadang tidak sama dengan kecantikanmu. Jika mood-mu sedang turun, apapun yang keluar dari mulutmu akan terdengar pedas di telinga orang lain. Bahkan—"
"—tak jarang kau membuat orang tersinggung dan marah padamu."
"—tak jarang kau membuat orang tersinggung dan marah padamu."
Tanpa sadar, aku meneruskan sebuah kalimat yang terlintas di benakku dan—mungkin—ingin dikatakan oleh Athrun juga. Kami saling memandang selama beberapa puluh detik sebelum diriku memalingkan wajah ke arah sungai. "Kau... mengingatnya?" Aku kembali menengok lalu menatap ke arah yang lain lagi. "Tidak, aku hanya asal berucap," sanggahku, walau 100% masih tidak mengerti tentang perkataan Athrun.
Seolah memang pernah terjadi dan terdengar familiar bagiku.
"Kurasa kita masih butuh waktu cukup lama untuk mengembalikan ingatanmu."
Aku hanya terdiam setelahnya tanpa menyahuti ucapan Athrun.
"Lacus, kau di mana?"
Dengan ragu aku melirik pada laki-laki berambut navy blue itu, namun saat ia sadar kalau dirinya tengah diperhatikan, aku langsung memalingkan wajah. Entah kenapa aku jadi ingin bertanya tentang gadis bernama Lacus yang Kira sebut kemarin di telepon. Aku ingin bertanya pada Athrun, tapi hatiku bilang untuk tidak bertanya apalagi mengungkit-ungkit masalah pribadi Kira yang notabenenya adalah kakak kandungku sendiri dengan perbedaan waktu lahir hanya lima menit sebelum aku lahir.
"Hmm, pasti ada yang ingin kau tanyakan padaku, benar?" tebak Athrun.
"Mm, tidak juga." Kutekuk kedua lutut lalu memeluknya dengan kedua tangan.
"Tentang Kira?" tebaknya lagi, tidak mau menyerah.
"Yaaa, mungkin?" jawabku, ragu.
"Tanyakan saja padaku, tak perlu sungkan seperti itu." Ia tersenyum kecil. "Kau berhak tahu bagaimana kehidupan kakakmu sekarang, Cagalli."
"Kakak..." Sesaat aku termenung mendengar ucapan Athrun.
"Ya, kakak. Kira... kakakmu, kan?"
Aku mengangguk dengan mantap. "Ya. Dia hanya kakak kandungku."
"Jadi, apa kau ingin bertanya tentang gadis-gadis yang sedang dekat dengan kakakmu, kah? Atau... tentang nilainya?" tanya Athrun, memberikan dua pilihan yang pasti akan ia jawab.
"Mm, kemarin Kira menelpon seseorang bernama Lacus. Apa kau mengenalnya?"
Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulutku.
"Lacus Clyne, maksudmu?"
"Aku tak tahu nama lengkapnya. Yang pasti, Kira memanggil nama itu kemarin."
Kini Athrun yang berbaring dengan kedua tangan jadi bantal sambil tertawa pelan. "Lacus Clyne, ya? Aku memang pernah dengar kabar kalau mereka punya hubungan khusus sekarang karena ke mana-mana selalu berdua. Tapi pacaran atau tidaknya, aku masih tidak tahu. Kenapa tidak kau tanyakan saja langsung padanya?" tanya laki-laki tersebut, memberikan usul.
"Aku sudah berjanji untuk takkan bertanya macam-macam padanya."
"Huh? Maksudnya?" Kedua alis Athrun terlihat mengkerut.
"Sekarang aku sedang berjuang untuk tidak ikut campur dalam urusan Kira."
"Maksudmu, 'sedang berjuang untuk menghilangkan perasaan cintamu', kah?"
Aku menengok padanya lagi. Semakin lama, Athrun semakin lihai membaca pikiranku. "Kau semakin pintar membaca pikiranku sekarang," keluhku dengan wajah cemberut.
"Ahaha, bukan karena pintar, tapi karena ekspresimu mudah terbaca. Itu saja."
Huh? Ekspresiku?
"Ya, ekspresimu, Cagalli." Athrun menyahut pertanyaan yang terlintas di benakku.
Ia kembali dalam posisi duduk. Tangan kirinya menepuk kepalaku lalu mengacak-acaknya pelan. Kedua mataku tertutup begitu merasakan betapa lembutnya tangan Athrun. Perasaan itu lagi-lagi muncul, perasaan déjà vu. Dalam benakku, aku bisa melihat secara jelas seorang laki-laki memakai kacamata persegi panjang berbingkai hitam tengah tersenyum geli padaku. Nyuuut. Kepalaku terasa sakit lagi, bayangan itu pun ikut menghilang. Saat kubuka kembali kedua mataku, aku melihat sosok Athrun dengan senyum khasnya. Senyum serta pandangan mata yang mampu membuatku tenang di detik itu juga seperti sebuah mantra sihir.
"Cagalli, apa... kau masih belum mengingatku?"
Pertanyaan darinya cukup membuat hatiku sesak. "Belum."
Perlahan ia menarikku lalu tubuhku yang masih dalam keadaan kedua tangan memeluk kedua kaki yang ditekuk itu bertumpu sepenuhnya pada Athrun. Parfum mint yang dipakainya bisa tercium secara jelas sekarang. "Aku berharap, kau bisa cepat-cepat mengingatku, Cagalli," bisik Athrun sebelum mencium puncak kepalaku.
"Athrun..."
Ia tersenyum terkesan dipaksakan. "Aku mencintaimu, Cagalli."
.
.
.
Aku melambaikan tangan kanan saat kami berdua—aku dan Athrun—berpisah di depan taman kota. Kami sempatkan diri untuk beli es krim bentuk stik di toserba lalu memakannya selama perjalanan menuju taman. Dulu saat SMP, aku sering seperti ini dengan teman-teman sekelasku. Aku terdiam beberapa saat. Sampai sekarang, aku masih penasaran, kejadian apa saja yang sudah kulupakan.
Ya Tuhan...
Kenapa aku harus lupa ingatan?
Wajah Athrun yang tengah tersenyum paksa kembali terngiang di benakku. Bukan hanya senyum, pandangan matanya pun terlihat sedih. Aku jadi ingin mengingatnya lagi karena aku tak mau melihat orang sebaik Athrun bersedih karenaku. Kubalikkan badanku dan berjalan ke arah sebaliknya. Namun saat aku berbalik, suaraku tercekat seketika.
Kira dan... Meer.
Ya, Kira—kakakku—dengan tunangan Athrun yang itu.
Tangan kananku menutup mulut karena terlalu terkejut melihat pemandangan yang ada di depanku. Di sana, tepat di depan etalase toko kue, mereka berdua baru saja berciuman. Iya, CIUMAN! Tanpa ba-bi-bu, segera kukejar mereka yang mulai melangkah pergi dari toko kue itu. "KIRAAA!" panggilku.
Ia berhenti melangkah diikuti Meer lalu berbalik badan.
Buk! Aku meninju kakak kembaranku itu dengan tas selempangku.
"Kira!" pekik Meer lalu berjongkok di dekat Kira.
"C-Cagalli...?" Kira yang jatuh terduduk kini terperangah melihatku yang sedang menatapnya tajam.
Tanganku terkepal, mencoba menahan tubuhku untuk tidak meninjunya dengan tangan. "Kau jahat, Kira! Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau menjadikan tunangan Athrun sebagai pelarianmu! Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaannya, hah!?" Pandanganku terarah pada Meer yang memasang wajah tercengang. "Kau juga, Meer-san! Kenapa kau malah selingkuh dengan Kira!? Sejak awal kau bilang padaku kalau kau adalah tunangan Athrun, tapi kenapa sekarang kau mau saja dijadikan pelarian oleh Kira!? Mau kau ke manakan Athrun!?"
"T-tunggu, Cagalli! I-ini salah—"
"—APA!? Sudah jelas-jelas kalian baru saja ciuman, mau menjelaskan apa lagi!?"
Kira terlihat kebingungan, sementara Meer malah kalang kabut.
"Itu... Kira, ini..."
Segera aku berbalik badan, bermaksud untuk mengejar Athrun tanpa sedikit pun memberikan waktu untuk mereka menjelaskan apa yang terjadi. Tapi sudah jelas 'kan, kalau Meer selingkuh dengan Kira di belakang Athrun? Tidak! Pokoknya Athrun tidak boleh tahu soal ini. Kalau dia tahu, pasti ia akan sakit hati.
"Cagalli! Tunggu, Cagalli!"
"Cagalli-san! Tunggu dulu! Kau salah paham!"
Huh? Salah paham? Salah paham apanya? Jelas-jelas kalian mencoba selingkuh!
Berulang kali Kira dan Meer mencoba untuk mengejarku, tapi aku tidak peduli dan terus berlari mengejar Athrun yang kemungkinan masih berada di stasiun Earl. Setelah membeli tiket, segera aku berlari ke pinggir rel kereta, tempat para penumpang yang lain tengah menunggu kedatangan kereta jurusannya masing-masing. Dengan nafas terengah-engah, aku coba mencari Athrun. Ketemu! Laki-laki itu masih menunggu kedatangan kereta dan tengah duduk sambil membaca sebuah novel klasik.
Entah kenapa aku bisa bernapas lega sekarang, apalagi setelah melihat Kira dan Meer tidak lagi mengejarku. Sebelum ke tempat Athrun, aku memilih untuk membelikannya jus kalengan rasa buah naga yang sering ia berikan padaku.
Aku berjalan pelan ke arahnya, berusaha untuk tidak meninggalkan suara.
"Cagalli?"
"Huh!?" Aku terlonjak kaget saat ia setengah berbalik badan dengan posisi masih duduk. "Kau!? Bagaimana kau tahu...!?"
Athrun tersenyum. "Aku sangat mengenali parfum buah jerukmu itu, Cagalli."
"E-eh?"
[Kereta Express EA-101, sebentar lagi akan memasuki stasiun Earl. Diharapkan kepada para penumpang untuk tetap berdiri di belakang garis kuning sampai kereta berhenti.]
"Jadi, kenapa kau mengejarku? Apa karena hanya ingin memberikan jus kalengan itu padaku?" tanya Athrun sambil menunjuk jus kalengan yang ada di tanganku.
Kedua mataku mengerjap pelan.
Tunggu, benar juga. Untuk apa aku mengejar Athrun?
"Ah, sebentar lagi keretaku akan datang. Terima kasih untuk jusnya."
Tanpa izin dariku, ia sudah mengambil salah satu jus kalengan itu dari tanganku.
"CAGALLI!"
Deg! Suara Kira! Rasa panik menguasai diriku. Kulihat kereta yang sepertinya ingin ditumpangi Athrun itu sudah berhenti dan bersiap membukakan pintu untuk para penumpang. Lagi-lagi terdengar namaku dipanggil oleh Kira. "Ayo, Athrun!" Dengan paksa aku menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam gerbong.
"H-hei! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa—"
"—nanti akan kujelaskan. Sekarang, kita berdoa saja supaya Kira tak bisa mengejar kita!"
"Huh? Memang kenapa dengan kalian berdua? Bertengkar?"
"Nanti akan kujelaskan saat kereta mulai jalan." Walau kami sudah masuk ke dalam gerbong, aku terus menarik tangan Athrun dan mengajaknya untuk terus berjalan dari gerbong pertama sama ke gerbong selanjutnya supaya Kira kehilangan jejak kami. Kereta pun kembali berjalan saat kami berada di gerbong ketiga. Aku langsung mencari kursi kosong, begitu juga Athrun. Kami berdua pun duduk bersebelahan dengan Athrun berada di kananku.
Ia keliatan biasa-biasa saja, beda denganku yang nampak tersendat-sendat saat bernapas. "Sebenarnya ada apa, sih?" tanyanya, tidak sabar.
Aku memberikan isyarat untuk tunggu sampai diriku menghabiskan jus kalengan yang baru kubeli tadi dalam sekali minum. "Fuaah! Selamat!" seruku.
"Ck, jusnya tumpah ke mana-mana, tuh."
"Eh?"
Dengan gerakan yang cukup cekatan, Athrun sudah mengelap sudut-sudut bibirku dengan handuk kecil berwarna biru langit lalu memberikannya padaku. "T-terima kasih," kataku seraya mengelap beberapa air yang tumpah ke seragam sailor berwarna putih-biru tuaku. "Biar kucuci dulu handuknya ya, besok kukembalikan lagi padamu," izinku.
"Tak perlu kau cuci juga tidak apa-apa kok," sahut Athrun seraya meminum jus rasa buah naga yang kubelikan tadi. "Jadi, kenapa... kau ikut naik kereta denganku?"
"..."
"..."
"..."
"...? Kau mendengarku?"
Kepalaku yang awalnya agak menunduk, perlahan menengok pada laki-laki tersebut. "A-aku... juga... tidak... tahu..." Bisa kupastikan wajahku terlihat seperti orang kebingungan sekarang.
"Serius, Cagalli?"
Kuanggukkan kepalaku dengan gerakan patah-patah.
Aku... masih tidak percaya kalau aku ikut naik kereta dengan Athrun.
Dan lagi, kenapa juga aku mengejarnya sampai naik kereta segala!?
Tubuhku membatu dalam hitungan satu detik. Detak jantungku juga seolah berhenti mendadak. Aku menggigit ujung jari jempol tangan kananku, menunjukkan kalau diriku sedang berpikir dan tak bisa diganggu. "Mm, tadi... aku bertemu Kira lalu tiba-tiba saja aku langsung kabur dan mengejarmu sampai sini," simpulku singkat, padat, dan—tidak—jelas.
"Bohong, pasti ada alasan lain yang lebih masuk akal, Cagalli," kata Athrun, tidak terima dengan kesimpulanku barusan.
"Iya, serius!"
"Cagalli..."
Rasa gugup menyerangku secara tiba-tiba begitu mendapat tatapan mengintimidasi dari laki-laki yang duduk di sebelah kananku. "Mm, itu... aku... itu..."
"Bicara yang jelas. Bisa, kan?" tanyanya lagi dengan nada datar.
Ck! Apa-apaan sikapnya ini!? Menakutkan!
"Err, itu... tapi... aku mohon, j-jangan sakit hati. K-kalau kau ingin dia bahagia, lebih baik kau ikhlaskan saja. Dia juga keliatan lebih bahagia d-dengannya, Athrun." HUAH! Aku bicara apa ini!? Mataku melirik ke mana-mana, bermaksud mencari kata-kata yang cukup halus agar ia tak tersinggung saat kuceritakan apa yang terjadi antara aku, Kira, dan Meer.
"Iya, iya. Tidak akan. Jadi?"
"Mm, Jadi, setelah kita pisah di depan taman kota, aku bertemu dengan Kira."
"Iya, lalu?" Dari suaranya, ia coba bersabar mendengar ceritaku.
"A-aku kaget, SANGAT kaget melihatnya dengan... mm, dengan... Meer-san." Untuk bagian akhir, aku berucap dengan nada bercicit. Entah ia bisa mendengarku atau tidak, mudah-mudahan saja...
"Hmm, lalu kenapa memangnya? Mereka memang sering bertemu kok."
Alisku mengkerut. "Sering?"
Kulihat Athrun tersenyum geli. "Mereka satu kelas di kelas 1-2."
"Eh? Tapi... kau tidak c-cemburu kalau m-mereka terlalu... dekat?"
"Huh?" Ia menelengkan kepalanya sedikit.
"M-misalnya kalau mereka... c-ciuman di depanmu?" tanyaku, hati-hati. "Tidak." Aku melengos melihat ekspresi serta jawabannya. Kau pasti bercanda, kan? Bagaimana mungkin... "T-tapi dia 'kan tunanganmu, Athrun!" Kudengar ia berdecak.
"Kalau orang bicara itu didengarkan, Cagalli bodoh!"
"B-bo..."
Athrun... untuk pertama kalinya berteriak padaku dan mengataiku... bodoh?
What the—!? Reflek, aku melotot padanya. Aku tidak terima dikatai 'bodoh' olehnya! Memang apa salahku!? "H-hei! K-kenapa kau jadi membentakku, sih!? Dan aku juga tidak 'bodoh', tahu!" protesku.
Jari telunjuk dari tangan kanannya menekan keningku beberapa kali. "Sikapmu benar-benar membuatku gemas, Cagalli."
"H-hei! Apa yang kau lakukan!?"
Jari itu masih menekan keningku, lalu tangan kiri Athrun menarik daguku.
"Dengarkan aku baik-baik ya, Nona Cagalli Yula Athha."
Aura gelap dan menyeramkan keluar dari tubuh Athrun. Tentu saja membuatku merinding lalu mengambil langkah untuk memundurkan sedikit tubuhku.
"Waktu itu aku sudah bilang 'kan padamu, kalau aku menolak pertunanganku dengan Meer. Setelahnya aku juga bilang padamu kalau gadis yang selama ini kuperhatikan, kusayangi, kulindungi, dan kucintai adalah kau, Cagalli. Sekarang, apa kau masih tidak ingat? Atau kau lupa ingatan lagi?" tanyanya di akhir seraya tersenyum dan menekan keningku lebih dalam.
"U-ugh, sakit, Athrun," ringisku.
"Oh, sakit? Maaf, aku terlalu keras dan terbawa emosi."
Aku bisa bernafas lega saat kedua tangannya menjauh dari wajahku. Oh, ya ampun... Dosa apa yang sudah kuperbuat sebenarnya?
"Intinya, tadi kau melihat Kira dan Meer berciuman, lalu kau memergokinya. Kemudian tanpa sadar mengejarku sampai ke kereta dengan mereka terus mengejarmu dari belakang? Begitu?" simpul Athrun.
Dengan ragu, aku mengangguk. "Seperti itulah..."
"Tapi kenapa kau mengejarku?"
"A-a, mm, itu..." Lagi, aku diserang rasa gugup saat wajah Athrun mendekat.
Ia terus memperhatikan wajahku dengan wajah serius. Sepertinya ia mencoba untuk menebak arah pikiranku.
"A-aku... aku sendiri juga... bingung," kataku sambil memalingkan wajah.
"Kau demam lagi ya, Cagalli?"
Huh? Demam? Sontak kutempelkan punggung tangan kananku ke kening. "Tidak. Aku baik-baik saja, kok," sahutku.
"Lalu kenapa wajahmu memerah? Kau membuatku cemas," aku Athrun.
Rasa déjà vu kembali menyerangku, dan ini sudah kedua kalinya.
"Menurutmu, kenapa... aku malah mengejarmu?" tanyaku.
Athrun melirikku sebentar kemudian memandangi langit-langit gerbong kereta. "Hmm~ apa, ya? Mungkin karena kau ingin menemaniku di saat orang yang harusnya bersamaku, sekarang malah asyik berduaan dengan orang lain? Benar atau tidak, pilih yang mana?" tanyanya balik.
Sebentar, apa memang karena aku ingin menemaninya?
Mataku menatap lurus ke arah kedua mata Athrun.
Mencoba untuk mencari kebenaran yang ada di pantulan kedua mataku lewat matanya. Benarkah, begitu? Kugenggam handuk kecil yang dipinjamkannya untukku semakin erat. "Mm, a-aku... tidak tahu secara pasti, tapi... aku hanya berharap kau... tidak bersedih saat mendengar apalagi melihat mereka berdua."
"Itu berarti kau mengkhawatirkanku."
"Huh?"
Ia mengusap pipi kiriku seraya berucap, "dan itu juga berarti kalau aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintamu, Cagalli."
Deg! Tubuhku kaku, lidahku terasa kelu. Segera aku kembali duduk dengan manis dan menatap lurus ke depan. Terdengar kekehan kecil dari arah samping. Tentu saja itu dari Athrun. Benarkah? Benarkah aku... mulai menyukai laki-laki ini? Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. "Tidak, tidak boleh! Bagaimanapun juga kau—"
"—hm? Apa? Kau masih pura-pura lupa atau memang sudah lupa?"
Aku kembali bergedik saat aura gelap Athrun keluar dari tubuhnya.
Drrrt! Drrrrrttttt!
Ponsel yang ada di saku rokku bergetar. Reflek, aku mengambil ponsel tersebut dan duduk membelakangi Athrun. "Halo, dengan Cagalli Yula Athha di sini," kataku.
"CAGALLI! Kau mau ke mana dengan Athrun!?"
Kujauhkan ponselku dari telinga. K-Kira ternyata... "Err, itu..."
"Kenapa kau lari dariku, Cagalli!?"
Nada kesal jelas terdengar dari suaranya. "M-maaf, mm, a-aku juga tidak tahu."
"Hah? Kau tidak tahu?"
"I-iya! Aku tidak tahu kenapa aku lari ke tempat Athrun dan bermain kejar-kejaran denganmu juga dengan Meer-san, Kira," jelasku dengan nada pelan.
[Pemberhenti terakhir di stasiun Capricornus. Diharapkan untuk para penumpang agar memeriksa kembali barang bawaan Anda sebelum meninggalkan kereta.]
"Hah!? Kau bilang apa? Meer? Maksudmu, tunangan Athrun?"
Firasatku jadi tidak enak sekarang. "I-iya."
"BODOH! Siapa bilang kalau gadis yang bersamaku itu Meer!? Dia kakak kembarannya, Lacus Clyne, Cagalli!"
"Eeeh!?"
"Sudah kuduga." Aku menengok pada Athrun yang berucap barusan.
"Sekarang kau masih dengan Athrun?"
"Iya, keretanya juga sudah berhenti di stasiun terakhir," jawabku seraya berdiri dari kursi dan melangkah keluar gerbong. Laki-laki beriris emerald itu juga ikut melangkah berdampingan denganku.
"Oke, aku tunggu di stasiun Earl. Jangan main ke mana-mana, tunggu kereta arah balik datang, Cagalli."
Aku terdiam mendengar perintah Kira. Jantungku berdesir. Hangat, entah kenapa suaranya mirip seperti suara Ayah saat ia tengah mengkhawatirkan karena pulang larut malam. Sengaja, aku berhenti melangkah tepat setelah keluar dari gerbong kereta. Kututup mulutku dengan punggung tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang ponsel. "K-Kira..." Aku memanggil namanya dengan nada bergetar karena menahan tangis.
"Jangan nangis, Cagalli. Dulu juga bukannya kau pernah salah naik kereta, ya?"
"Hiks, i-iya, sih. Ahahaha." Secepat mungkin kuhapus air mataku yang mulai keluar dari kelopak mata.
Sebuah tangan yang cukup besar menyentuh tangan kiriku lalu membawa tanganku ke dalam genggaman kedua tangannya. Itu tangan Athrun. Laki-laki itu tersenyum padaku. Aku yakin, ia mengerti apa yang kurasakan sekarang. Begitu juga Kira yang masih mencoba untuk menghiburku dari ujung telepon. Oh ayolah, aku menangis bukan karena aku ketakutan tidak bisa pulang ke rumah seperti dulu, saat aku masih kelas 1 SMP. Tapi... aku menangis sekarang karena... aku terharu.
Jadi, seperti inikah rasanya mendapat perhatian dari seorang kakak?
Dari keluarga kandungku sendiri?
Sehangat inikah rasanya?
"Nakanai de, Imoutou-chan[1]."
Kuusahakan untuk menjawab, tanpa ada isakan tangis terdengar. "Hai, Oniisan[2]." Setelahnya, sambungan itu terputus. Aku pun menangis sambil tertawa kecil. "R-rasanya aneh mendengar Kira memanggilku dengan sebutan 'Imoutou-chan'," kataku pada Athrun. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Aku menatapnya sambil ikut tersenyum. "Terima kasih, Athrun. Maaf, kau... jadi terlibat dalam masalahku."
"Memang apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan apa-apa, kok. Itu semua hasil kerja kerasmu, Cagalli," sanggah Athrun.
Aku menyenggol lengan kanannya dengan sikut. "Memang siapa lagi yang selalu menemaniku tiap aku butuh penopang, hm?"
"Entah?"
"Kau datang tepat waktu. Selalu datang di saat aku butuh bantuan, Athrun."
"Hanya kebetulan saja, kok," kilahnya.
Kuhapus air mata yang kembali mengalir di pipiku. "Menurutku, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Yang ada hanya takdir dan sesuatu yang sudah direncanakan. Sekali lagi, terima kasih, Athrun."
Ia menunduk. "Sekarang, Kira sudah sadar tentang statusnya sebagai seorang kakak. Kau juga sama, sudah berusaha keras untuk menerima kenyataan yang ada. Aku turut senang." Aku hanya mengangguk sekali. "Tapi pada akhirnya kau tak ingat apapun tentang kita saat di SMP Aegle. Sebenarnya aku bersyukur kau sudah lupa, karena aku tak mau membuatmu trauma lagi seperti dulu."
"Boleh kutebak?" izinku.
"Ya, silahkan."
"Apa... dulu aku pernah jadi korban bully di sana, bahkan diperlakukan tidak baik oleh para senior? Sampai akhirnya aku mengalami trauma lalu lupa dengan semua kejadian itu?"
Senyum kecil nampak di wajah Athrun. "Ya, dan akulah yang dituduh melakukannya oleh teman-temanku karena pernah menyelamatkanmu sekali. Hingga akhirnya kedua orang tuaku sepakat untuk memindahkanku ke sekolah yang lain."
"Begitu..." Kepalaku tertunduk. Walau ingin, tapi jauh dalam hatiku, aku tak mau mengingatnya lagi. "Tapi, tidak masalah 'kan kalau... aku tak mengingatnya?"
"Ya, aku tak mempermasalahkannya," sahut Athrun.
"Aku punya satu pertanyaan lagi."
"Hm? Apa itu?"
Kutarik pelan lengannya untuk mendekat dan cup! Aku menciumnya di pipi sebagai ucapan terima kasihku. Ia terlihat kaget, rona merah juga terlihat di wajahnya. "Kau bilang, kau mencintaiku dan... sudah membatalkan pertunanganmu dengan Meer." Athrun nampak serius menatapku, kuberanikan diriku untuk menatapnya balik. "Aku ingin meminta izin darimu untuk... mencoba m-mencintaimu, Athrun-...senpai," ucapku seraya menundukkan kepala karena malu.
"Tentu, itu yang kuharapkan, Cagalli-chan."
"Cagalli-...chan?"
Athrun tertawa pelan. "Panggilan yang manis, bukan?"
"Aku benci panggilan itu!"
"Oh, padahal saat kita masih satu SMP, kau mau-mau saja dipanggil 'Cagalli-chan'. Panggilan itu juga terdengar imut."
"Argh! Berisik! Aku mau pulang saja!"
"H-hei! Kau salah jalan, Cagalli!"
"BERISIK!"
~ FIN ~
1 "Jangan menangis, Adik [perempuan]."
2 "Iya, Kakak [laki-laki]."
YOSH! Ini chap terakhirnya! :D Ending-nya memang gantung tapi intinya Cagalli dan Kira udah terima kenyataan yang ada, hubungan AsuCaga juga udah jadi sepasang kekasih ._. Maklumi cerita ini, karena fanfic ini diikutkan ke lomba fanfiction dan udah sampe 11.000-an kata jadi kalau diterusin bakal panjang buat kategori fanfic yang dilombakan ._.
Terima kasih banyak buat Alyazala-san [Yap! AsuCaga memang menarik, saya udah dua kali ini menangin lomba karena ngambil pair AsuCaga :D sekedar ngasih tau aja, mereka emang deket karena Athrun pernah nolongin Cagalli waktu Cagalli di-bully :) cuma Athrun senior yang deket sama Cagalli di SMP Aegle :D terima kasih buat support dan review-nya! #Bow] dan Naw d Blume-san [Ahaha, gapapa dipanggil Author-chii daripada Author-tachi deh, tapi manggil saya Ichi juga gapapa :) Yeah, gimanapun juga pair yang ambil kan AsuCaga :D jadi gomen kalau KiraCaga nya sedikit ._. waduh, mainnya boneka vodo #Merinding kalau yang dimaksud senior yang nolongin Cagalli emang Athrun, tapi kalau senior yang nge-bully Cagalli, hell no! :D Athrun gak mungkin saya buat karakter seperti itu, ahaha, sangat gak rela dan yaaah, saya juga mikir, berenti di chapter ketiga aja kayaknya gak mungkin tapi saya juga bingung kalau mau ngelanjutin ._. terima kasih buat support dan review-nya! #Bow], dan Readers semua! :)
Maaf kalau menggantung tapi kalau ada yang request untuk lanjut, saya usahakan untuk lanjut dalam bentuk sequel :)
Cukup segitu aja deh cuap-cuapnya, saya pergi dulu untuk menenangkan diri :D
JA NE~~~!
