Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort [T]

Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, JB(JJ Project), Cho Kyuhyun, Park Tae Jun-new cast-{Ulzzang}, Wong Jong Jin-new cast{Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)

DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.

WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll

.

.

.

Happy Reading


.

Last Chap

.

In Guk melajukan mobilnya dengan kecepatan lamban, sesekali matanya melirak-lirik toko-toko yang dilaluinya. Ia bermaksud membelikan makanan kesukaan Eunhyuk.

"Eh? Bukankah itu Minnie hyung?!" In Guk menepikan mobilnya di depan sebuah cafe. Matanya kini terfokus pada seorang namja imut yang ia yakini adalah Sungmin. In Guk menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatan nya pada seorang namja yang sedang duduk berhadapan dengan Sungmin.

"Bukankah itu Cho Kyuhyun?!" dengan cepat, In Guk turun dari mobilnya. Ia berniat menghampiri Sungmin dan ingin meminta penjelasan kenapa akhir-akhir ini ia selalu menghilang, selain itu ia juga ingin bertanya kenapa Sungmin dan Kyuhyun bisa berada dalam satu meja yang sama. Padahal, selama ini hubungan mereka ber-empat dengan Kyuhyun sangatlah tak baik. Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu masuk, tiba-tiba saja—

Bruk!

Seorang namja baru saja menabrak In Guk. Tabrakan nya memang tak terlalu keras, namun tabrakan tersebut mampu membuat tubuh In Guk tergeser beberapa cm hingga pintu cafe yang sempat ia buka beberapa cm kembali tertutup.


.

Chap 11

.

"M-mianhae.." seorang namja yang baru saja menabrak In Guk membungkuk kan badan nya beberapa kali. Setelahnya, namja itu berdiri tegak hingga memperlihatkan wajah sedih bercampur kesalnya.

"Bukankah kau..." In Guk tak menyelesaikan kalimatnya, ia malah langsung menarik pergelangan namja yang menabraknya itu dan memasukan nya ke dalam mobil. Dengan wajah bingung dan kesal yang bercampur menjadi satu, namja itu terus memperhatikan In Guk yang kini masuk ke dalam mobilnya.

"YA! Apa kau gila? Ada urusan apa kau dengan ku?" marah namja itu pada In Guk. In Guk tak merespon, ia malah menatap namja dihadapan nya dengan intens. In Guk ingin memastikan apakah namja di depan nya adalah namja yang selama ini ia cari atau bukan. Merasa jijik dan tak nyaman, namja yang tadi menabrak In Guk itu pun mencoba untuk keluar dari dalam mobil.

"Kau... Hoya kan?" tanya In Guk memastikan. Namja yang disangka sebagai 'Hoya' itu menaikan sebelah alisnya heran.

"Darimana kau tau namaku? Aku tak pernah bertemu dengan mu!"

"Benarkah? Coba kau ingat lagi!"

Flashback On

In Guk menyerahkan keranjang belanjaan nya pada kasir. Sambil menunggu, iseng-iseng ia mengambil ponsel nya dari saku celana nya. Mencoba menghilangkan rasa bosan nya dengan membuka situs jejaring social.

"Ne, jeongmal eomma~" In Guk mengalihkan pandangan nya ke arah belakang dan menemukan sosok seorang namja dengan sebuah keranjang yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel nya. Namja itu berjalan ke arah belakang In Guk, ikut mengantri untuk membayar barang-barang belanjaan nya. In Guk kembali focus pada kegiatan nya.

"Aku benar-benar tak menemukan Hyukkie hyung eomma! Sungguh!" merasa familiar dengan sebuah nama yang baru saja disebutkan oleh namja dibelakang nya, In Guk melirik ke arah belakang untuk beberapa saat.

"Total nya 6000 won tuan."

"Ah ne, gomawo." In Guk menyerahkan beberapa lembar won seraya mengambil kantung plastik berisikan belanjaan nya. In Guk berbalik untuk keluar dari antrian, namun entah mengapa matanya tertuju pada namja yang sedang menelepon itu.

"Ne, eomma~ Hoya pasti akan mencari Hyukkie hyung lagi besok!" namja itu menjauhkan ponsel dari telinganya. Seperinya sesi menelepon nya sudah selesai. Ia menyerahkan keranjang belanjaan nya seraya melirik ke arah In Guk yang masih setia memperhatikan nya. Namja itu menaikan sebelah alis nya heran, sedangkan In Guk kini telah mendapatkan kesadaran nya penuh dan kembali berjalan keluar dari mini market tersebut.

'Hoya?' batin nya penuh tanya.

.

Flashback Off

.

"Sudah ingat?" tanya In Guk. Namun Hoya tak merespon dan kembali mencoba untuk keluar dari dalam mobil.

Klek! Klek!

"Buka pintu mobilnya!" seru Hoya saat menyadari bahwa pintu mobil ini dikunci otomatis oleh pemiliknya. Namun sayang, In Guk tak menuruti apa yang dikatakan Hoya. Ia malah membuka sebuah box mobil didekatnya dan langsung mengeluarkan sebuah photo. Pada awalnya, namja yang terlihat kesal itu tak peduli pada apa yang In Guk lakukan dan terus berusaha membuka pintu mobilnya meskipun mustahil untuk bisa terbuka. Namun, setelah In Guk menarik paksa tubuhnya agar membalik ke arahnya, namja itu membelalakan matanya terkejut. Keterkejutan nya semakin bertambah saat In Guk tiba-tiba saja memperlihatkan sebuah tulisan yang terdapat dibelakang sebuah photo yang dipegang In Guk tepat di depan wajah nya.

'Lee Hyukjae... namja jalang!'

Flashback On

.

"Ini!" Jb menghentikan aktivitas memakan guava avocado ice nya saat Hoya tiba-tiba saja menaruh sebauh photo di atas meja. Matanya hanya melirik photo tersebut, lalu melanjutkan kembali acara memakan ice nya.

"Aku terlambat datang ke sini karena orang dalam photo itu, aku membuat janji dengan mu karena orang itu. Dan tujuan ku membuat janji dengan mu karena aku ingin kau membantu ku menemukan orang itu!" kini Jb benar-benar menghentikan aktivitas nya dan beralih mengambil photo tersebut.

"Orang itu membuat ku kesal! Otak ku rasanya mau meledak, dan gendang telinga ku terasa panas saat eomma terus-terus an meminta ku untuk menemukan namja jalang itu!" seru Hoya dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia mengambil guava avocado milik Jb dan memakan nya begitu saja. Hoya mengeryitkan alis nya heran mendapati Jb yang terlihat serius memandangi photo yang diberikan nya. Pasal nya, saat mereka masih bersama-sama di bangku SMA, Jb pasti akan memarahi nya jika dirinya mengambil sesuatu yang memang adalah milik nya. Sedikit pemberitahuan saja, tahun ini seharus nya Hoya dan Jb masih satu angkatan, berada di tingkat akhir sekolah menengah atas. Namun karena Hoya memiliki kelebihan lebih yang patut di acungi jempol, ia melangkah dua langkah lebih dulu melewati Jb. Ia bisa loncat kelas dan mendahului Jb untuk masuk ke sebuah universitas. Dan hari ini, mereka kembali dipertemukan dalam kondisi dan status yang berbeda.

"Kau terlihat serius sekali!" sindir Hoya yang merasa jengah diacuhkan oleh Jb. Sedangkan yang disindir kini mendelik kesal ke arah Hoya kemudian menyimpan photo yang tadi diberikan oleh Hoya ke tempat nya semula, ke atas meja.

"Ada urusan apa kau dengan namja itu? Eomma mu bermasalah dengan namja itu?" tanya Jb.

"Aniya, justru namja jalang itulah yang bermasalah dengan ku! Dia... hyung tiri ku." jawab Hoya disertai seringai nya. Awalnya, Jb menatap Hoya tak percaya. Namun detik berikut nya Jb menatap Hoya seperti biasa.

"Sebenarnya, aku sangat malas membantu mu karena sikap mu itu!" ujar Jb jujur. "Tapi..." Jb menggantungkan kalimat nya, Hoya menatap Jb intens. Menunggu dengan sabar apa yang akan diakatakan Jb selanjut nya.

"Jika untuk mencari namja ini, sepertinya aku bisa! Meskipun aku tak tau namja itu sekarang berada dimana, namun aku yakin bahwa aku dapat menemukan nya dalam kurun waktu yang bisa dibilang singkat."

"Seyakin itukah dirimu?" ejek Hoya ragu. Jb menyeringai sebagai jawaban seraya berdiri dari duduk nya.

"Aku yakin, amat sangat yakin! Tapi..."

"Apa yang ku dapat jika aku membantu mu?" diambil nya photo itu dan menatap sosok dalam photo itu dengan tatapan tajam.

"Apapun yang kau mau, akan ku berikan..." jawab Hoya santai. Jb mendecih pelan lalu pergi meninggalkan Hoya yang masih setia duduk di sofa dengan mangkuk ice yang kini kosong tak terisikan oleh apapun.

Jb melangkah keluar dari cafe tersebut. Ekor matanya tak sengaja melihat seorang namja yang terlihat sangat gelisah. Jb mendecih pelan, ternyata banyak sekali orang yang sedang mendapat masalah. Begitulah pikir Jb.

Lain hal nya dengan namja yang terlihat gelisah itu. Ponsel nya terus ia tempat kan di dekat telinga nya, menunggu seseorang untuk mengangkat panggilan nya.

"Aisshh... kemana si kuda itu?" In Guk menatap ponsel nya kesal. Ia sudah lelah terus-terus an melakukan panggilan yang tak mendapat jawaban dari seseorang yang dihubungi nya. Kaki nya melangkah masuk ke dalam sebuah cafe yang tadi sempat di datangi Jb. Matanya melirik ke sana ke mari, mencari sofa kosong untuk ia tempati. Setelah menemukan sofa yang kosong, In Guk pun melangkah kan kakinya kembali menuju sofa sasaran nya.

BRUKK

"Ah, mianhae aku sedang terburu-buru!" namja yang bertubrukan dengan In Guk barusan kabur begitu saja. In Guk menaikan sebelah alis nya merasa familiar dengan namja yang baru saja bertabrakan dengan nya.

'Hoya?' batin nya menerka-nerka. In Guk menghela nafas nya lelah dan berniat untuk kembali berjalan menuju sofa incaran nya. Namun gerakan nya terhenti saat kakinya tak sengaja meninjak sebuah kertas menyerupai photo. Diambil nya kertas itu dan dugaan nya 100% benar. Kertas yang diinjak nya itu adalah sebuah photo. Photo seorang namja yang sangat ia hafal karena sosok dalam photo tersebut merupakan sahabat nya, sekaligus namja yang dicintai nya secara diam-diam. In Guk membalikan photo tersebut dan mendapati sebuah tulisan yang membuat hatinya terasa panas.

'Lee Hyukjae... namja jalang!'

Flashback Off

.

"Darimana kau dapatkan itu?" Hoya kini menatap In Guk penuh emosi. Ia tak percaya jika orang yang mungkin saja akan merusak hidupnya kini bertambah satu orang.

"Aku mendapatkan nya di lantai cafe." Jawab In Guk santai seraya membalikan photo itu hingga kini wajah Eunhyuk tepat di hadapan nya.

"Kembalikan padaku!" Hoya hendak merebut photo tersebut namun In Guk lebih cepat menariknya kembali dan menyimpan photo itu ke dalam dompet nya.

"Dasar orang asing! Sebenarnya apa maumu?"

"Sebenarnya apa salah Lee Hyukjae?"

"Ne?"

"Apa salah Lee Hyukjae sampai-sampai kau benar-benar membencinya? Bahkan kau sampai berani memanggilnya jalang! Padahal dia adalah hyung tirimu, seharusnya kau menghorma—"

"Aku memanggilnya seperti itu karena dia memanggil eomma ku dengan sebutan JALANG juga!" teriak Hoya marah, ia menatap In Guk tajam. Lain halnya dengan In Guk yang menatap Hoya tak percaya.

Drrrtt... drrttt...

.

From : JB

Subject : W'A'U?

YA! Sudah jam berapa ini, eoh?!

Kau dimana? Aku menunggumu sedari tadi!

Cepatlah datang karena aku mempunyai hadiah yang special untuk menghancurkan hyung tiri mu itu!

.

"Buka pintunya!"

"Sejahat itukah Lee Hyukjae pada eomma mu?"

"Mwo? YA! Aku tak ada waktu untuk meladeni orang asing seperti mu! Buka pintunya! Aku harus pergi!" teriak Hoya tak sabar.

"Kemana kau akan pergi?"

"Tak perlu banyak bertanya, kau hanya perlu mem-bu-ka-kan pin-tu-nya!" perintah Hoya penuh penekanan, namun In Guk tak mengindahkan perintah Hoya sedikit pun.

"YA! Cepat! Buka pin—"

Drrttt.. drrrtt..

Hoya melirik layar ponsel nya sekilas, kemudian ia kembali menatap In Guk penuh amarah.

"Kemana kau akan pergi? Biar kuantar."

"Incheon Airport."

.

.

.

Sungmin menghela nafas lega, keberadaan nya bersama Kyuhyun tak benar-benar diketahui oleh In Guk. Ia menggigit bibir nya keras saat merasakan degup jantungnya yang masih berdebar lebih kencang dari biasanya. Terlebih lagi, saat Kyuhyun menatapnya dengan tatapan yang sebelumnya belum pernah Sungmin lihat.

"Gwaenchanayo?" tanya Kyuhyun dengan ekspresi dingin nya, namun tidak dengan matanya yang menunjukan tatapan khawatir terhadap Sungmin.

"Gwaenchana..." dusta Sungmin. Ia tak ingin Kyuhyun tahu bahwa baru saja ia merasa gelisah akan keberadaan In Guk yang sempat melihat keberadaan nya. Suasana kembali hening, tak ada yang mereka bicarakan semenjak datang ke cafe ini. Mereka hanya makan dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sebuah inisiatif gila tiba-tiba saja muncul dalam benak Sungmin untuk mengurangi rasa penasaran nya terhadap sosok Kyuhyun. Pada awalnya Sungmin ragu apakah ia harus melakukan nya atau tidak, namun setelah dipikir-pikir lebih matang ada baiknya Sungmin memang harus berani melakukan inisiatif tersebut.

"Kyuhyun-ah..."

"Hm?"

"Maukah kau berbagi segala beban dihati mu dengan ku?"

.

.

.


Eunhyuk POV

.

Aku membuka mataku secara perlahan, kemudian menatap keadaan sekelilingku. Suasana sepi menyapa, lagi-lagi aku hanya sendirian. Kutolehkan kepalaku ke arah belakang, sebuah rumah besar nan megah kini menyapa indra penglihatanku. Beberapa bunga tulip tumbuh bermekaran dalam sebuah petak yang tak jauh dari rumah itu. Mataku tiba-tiba saja menyipit saat melihat sebuah jendela yang berada di lantai dua terbuka menampak kan sosok seorang yeoja yang sangat aku rindukan. Eomma... dia ada disana. Dia kini memejamkan matanya dan terlihat sangat damai.

Sepoi angin menerpa wajah eomma, juga menerpa wajahku. Dan saat itu pula aku sadar bahwa aku sedang berada di halaman belakang rumah. Rumahku yang sesungguhnya. Rumah dimana terdapat banyak kenangan indah, juga kenangan buruk yang bercampur menjadi satu.

"Eomma..." Aku kembali menatap eomma, menatap wajah cantiknya lekat-lekat. Tiba-tiba saja matanya terbuka, ia menolehkan wajahnya kearah ku seraya tersenyum lembut. Entah mengapa rasanya sulit sekali bagiku untuk membalas senyuman lembut dari eomma, malah lelehan air mataku yang menjadi balasan atas senyuman tulus itu.

"Chagiya~" eomma melambai-lambaikan tangan nya kearah ku masih dengan senyuman lembutnya.

"Eomma akan sedih jika kau terus-terusan seperti ini, chagi! Kembalilah menjadi Eunhyuk yang eomma sayangi, arrachi?" aku hanya diam, tak dapat menjawab. Lidahku terasa kelu. Aku ingin menangis dan memeluk tubuh eomma. Aku menyerah eomma... aku menyerah! Mianhae...

"Uljima Eunhyuk-ah... eomma gwaenchana~ geokjeonghajima, arrachi?" eomma, apa benar kau baik-baik saja? Berat sekali rasanya untuk mengakui jika kau baik-baik saja. Bukan berarti aku tak ingin eomma baik-baik saja, hanya saja... aku masih ragu apakah eomma benar-benar tak apa setelah semua hal menyakitkan yang menimpanya?! Aku... benar-benar khawatir eomma!

"Uljima Eunhyuk-ah..." seseorang memeluk ku dari belakang. Tangan nya mungil, pelukan nya terasa hangat. Tapi suara yang dikeluarkan nya... bukan suara eomma. Dan aku merasa familiar dengan suara ini, dia...

"Uljima Eunhyuk-ah... ada eomma disini..." aku menatap eomma bingung, sedangkan eomma hanya tersenyum seraya pergi dari tempatnya berdiri. Aku menatap sedih kepergian eomma, ingin sekali rasanya aku masuk ke dalam rumah dan pergi memeluk eomma. Namun, tangan yang sedang memeluk ku ini seperti menahan ku dengan sangat erat.

"Eunhyuk-ah..."

Suara ini...

"Pandanglah aku sebagai seorang ibu Eunhyuk-ah..."

Suara ini...

"Jangan pandang aku sebagai wanita jalang..."

Eunhyuk POV end


Author POV

.

"Hyung! Hyung! Ireona!" Siwon menepuk-nepuk pipi Eunhyuk pelan, ia khawatir dengan Eunhyuk yang terus menggumamkan kata 'eomma', 'aku menyerah', 'mianhae' dan 'suara ini' berulang kali dalam tidurnya. Bukan nya Siwon bermaksud untuk mengganggu tidur Eunhyuk, hanya saja ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dalam tidur Eunhyuk.

"Hikss..." Eunhyuk terbangun dari tidurnya dengan sebuah isakan. Siwon terbelalak kaget saat Eunhyuk tiba-tiba saja memeluknya erat dengan isakan yang semakin mengeras.

"Aku menyerah.. hikss..."

.

.

.

BLAM!

Hoya membanting pintu mobil In Guk dengan kasar. Ia berjalan cepat memasuki cafe tanpa memperdulikan JB yang menatapnya heran. JB membungkuk kan sedikit badan nya saat jendela mobil In Guk terbuka.

"YA! Aku akan mengingat namamu, Seo In Guk!" seru JB seraya melangkah menjauhi mobil In Guk dan mengikuti jejak Hoya memasuki cafe. In Guk hanya mendecih pelan melihat Hoya yang pemarah dan gampang kesal. Di lain sisi, ia juga mendecih atas sikap tak sopan dan tak tahu terima kasih yang ditunjukan oleh JB terhadapnya.

"Dasar bocah!"

.

3 days later

.

"Hae-ah, apa hari ini kau akan mencari Eunhyukkie lagi?" tanya nyonya Lee penuh harap.

"Ne ahjumma. Aku tak akan berhenti mencarinya sampai aku dapat menemukan nya dan membawanya pulang ke apartement ini." Jawab Donghae mantap.

"Kau akan mencari anak itu lagi, Donghae-ah?" tuan Lee bertanya sembari sibuk memindah-mindahkan channel tv, mencari acara tv yang menarik perhatian nya.

"Ne, seperti kataku tadi ahjussi."

"Aigo~ kau tak perlu sampai seperti itu! Biarkan saja dia pergi."

"Jangan dengarkan ahjussi ne, Hae-ah. Ahjumma mohon, tolong bawa Hyukkie pulang." Pinta nyonya Lee yang dijawab anggukan mantap dari Donghae. Setelahnya, Donghae berjalan keluar dari apartement menuju mobilnya.

"YA! Howon-ah!" seru Donghae dari dalam mobil saat melihat Hoya berjalan di depan mobilnya. Merasa dipanggil, Hoya pun menghentikan langkahnya dan membalik kan badan nya ke arah Donghae.

"Wae?"

"Kau akan pergi?" tanya Donghae.

"Ne, wae?" tanya balik Hoya.

"Aniya, apa kau akan mencari Hyukjae?" pertanyaan dari Donghae sukses membuat Hoya menaikan sebelah alisnya tak suka.

"Mencari namja itu? Ani! Untuk apa aku mencarinya?! Lebih baik aku menghabiskan waktu ku untuk bersenang-senang dari pada harus mencari namja menyebalkan itu kesana-kemari." Hoya kembali melangkahkan kakinya yang sempat tertunda.

Donghae melajukan mobilnya secara perlahan, mencoba untuk mengimbangi kecepatan jalan Hoya dengan kecepatan mobilnya.

"Kajja! Kuantar kau ketempat yang sedang kau tuju!" ajak Donghae setelah jendela mobilnya terbuka sempurna.

"Apa itu tak merepotkan?!"

"Ani, itu tak membuatku repot."

"Benarkah?! Tak ada yang kau sembunyikan dariku kan?" selidik Hoya.

"Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu? Lagi pula, tak ada yang perlu kusembunyikan darimu."

"Jeongmal?"

"Jeongmalyo!" seru Donghae cepat.

"Arraseo." Ujar Hoya seraya masuk kedalam mobil Donghae.

.

Donghae menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang besar nan mewah. Pekarangan yang luas, serta berbagai macam tumbuhan bermekaran di pekarangan rumah tersebut hingga menambah kesan yang lebih dari sekedar kata indah. Meskipun mobil sudah berhenti tepat di depan rumah yang dituju Hoya, namun Hoya malah diam dalam posisinya dan belum memberikan tanda-tanda bahwa ia akan keluar dari mobil.

"Apa yang kau tunggu? Bukankah rumah ini tujuanmu?"

"Apa kau benar-benar akan mencari namja itu lagi?" pertanyaan yang paling tak disukai oleh Donghae semenjak beberapa hari yang lalu mulai keluar kembali dari mulut Hoya. Untuk sekian kalinya, Donghae menghirup nafas dalam untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya menyebalkan ini.

"Tentu saja. Aku tak akan berhenti mencarinya sampai aku dapat menemukan nya dan membawanya pulang ke apartement ku." Jawab Donghae.

"Kenapa kau sangat peduli terhadap permasalahan keluarga kami? Terutama... pada namja kurang ajar itu?" tanya Hoya pelan.

"Alasan nya mudah saja, semua ini kulakukan karena aku mencintai Hyukjae."

"Mencintai?" tanya Hoya memastikan.

"Ne, apa yang salah dengan kata itu?"

"Tarik kembali kalimatmu itu hyung! Kau hanya akan menyesal atas apa yang kau lakukan sekarang." Hoya keluar dari mobil Donghae. Kemudian ia berjalan masuk kedalam rumah besar itu dan disambut oleh beberapa security dan maid rumah itu. Tak lama setelah Hoya sudah tak terlihat lagi oleh pandangan nya, Donghae pun melajukan mobilnya untuk mencari keberadaan Eunhyuk.

.

"Kau datang?" Hoya berjalan kearah JB yang sedang duduk santai dengan kedua kaki yang disimpan di atas meja, benar-benar menunjukan bahwa dia seorang anak yang tak punya etika. Di depan JB, Hoya melihat ada sesosok namja tampan, putih dengan rambut sedikit ikal. Mungkinkah ia pemilik rumah besar ini?! Begitulah pikir Hoya.

"Annyeonghaseyo~" sapa Hoya ramah.

"Aigo~ tak perlu sopan seperti itu! Cepat duduk!" seru JB seenaknya. Hoya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban seraya ikut duduk disamping JB.

"Jadi ini Hoya yang kau maksud, JB-ah?" tanya namja yang sedari tadi hanya diam.

"Ne, hyung! Dia Hoya, namdongsaeng tiri Lee Hyukjae." Jawab JB. Hoya menatap namja di depan nya lekat-lekat, menerka-nerka siapa namja yang kini mulai ikut campur dalam masalah hidup nya.

"Annyeong, Hoya-sshi. Naega Wong Jong Jin imnida, namja yang paling ditakuti oleh Hyukjae karena aku merupakan salah satu potongan dari masa lalu kelam Hyukjae."

.

.

"Duduklah hyung..." Siwon mendudukan Eunhyuk disalah satu bangku taman. Sudah beberapa hari belakangan ini Eunhyuk terlihat murung, maka dari itu Siwon berinisiatif membawanya untuk jalan-jalan. Siwon pun ikut duduk disamping Eunhyuk yang kini hanya terdiam memandangi bunga-bunga indah di depan mereka.

"Hyung, kau ingin sesuatu?" tanya Siwon lembut, Eunhyuk hanya menggeleng sebagai jawaban. Tatapan matanya terlihat kosong, wajahnya pucat, serta matanya sembab. Akhir-akhir ini Eunhyuk sering sekali menangis dihadapan Siwon. Padahal, Eunhyuk yang biasa ia kenal dalam keseharian adalah Eunhyuk yang sangat malu jika tangisan nya diketahui oleh orang lain. Namun tidak untuk beberapa hari kebelakang, Eunhyuk menangis dihadapan Siwon. Bahkan sampai memeluk tubuh Siwon erat-erat dan menangis dalam dekapan nya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Eunhyuk, Siwon tak tau. Karena setiap ia bertanya, Eunhyuk hanya akan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Setelahnya, Siwon hanya akan mengangguk, mencoba mengerti kondisi Eunhyuk yang tak ingin digubris dulu keadaan yang sebenarnya.

"Hyung, bagaimana kalau aku belikan roti strawberry dan ice cream strawberry? Untuk yang satu ini kau jangan menolak, arra?!" Eunhyuk melirik ke arah Siwon yang pergi meninggalkan nya. Entah mengapa, menatap punggung Siwon dari tempatnya duduk ingin sekali rasanya ia mengucapkan...

"Mianhae, Siwon-ah... mianhae..." lirih Eunhyuk. Setetes air mata mulai mengalir membasahi pipinya, kemudian ia kembali menatap bunga-bunga didepan nya dengan tatapan kosong.

"Hyukkie-ah..." Eunhyuk tersadar dari lamunan nya saat merasakan tangan seseorang menyentuh pundaknya dari belakang. Suara ini... terasa familiar bagi Eunhyuk. Eunhyuk menolehkan kepalanya kebelakang, dan alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang menyentuh pundaknya.

"Lee Donghae..."

"Sudah kuduga ini kau, Hyukkie-ah..." Donghae berjalan tepat kedepan Eunhyuk. Ia menarik tubuh lemas Eunhyuk, kemudian memeluknya dengan sangat erat.

"Aku mengkhawatirkan mu Hyukkie-ah, begitupun dengan eomma mu! Selama ini kemana kau pergi eoh?" Donghae melonggarkan pelukan nya terhadap Eunhyuk dan memegang kedua lengannya dengan sangat kuat.

"Aigo~ gwaenchanayo?" panik Donghae saat menyadari bahwa wajah Eunhyuk pucat, pipinya tirus, serta matanya sembab. Donghae merasa bahwa hatinya sakit, sakit melihat Eunhyuk yang sedang tak baik-baik saja. Tatapan nya tak seperti tatapan seorang Lee Hyukjae yang ia kenal, namun tatapan yang Donghae lihat menunjukan tatapan dari sosok seorang Lee Hyukjae yang sebenarnya. Lee Hyukjae yang bukan typical namja kuat, Lee Hyukjae yang sangat rapuh, Lee Hyukjae yang kesepian, Lee Hyukjae yang membutuhkan kasih sayang seorang eomma, dan Lee Hyukjae yang rindu... pada suasana sebuah keluarga.

"Kajja Hyukkie-ah, kita pulang..." ujar Donghae seraya menuntun Eunhyuk untuk mengikuti langkahnya. Pada awalnya, Donghae mengira bahwa Eunhyuk akan menolaknya dan memakinya. Namun perkiraan nya kali ini salah, Eunhyuk hanya diam. Ia tidak berontak ataupun marah, Eunhyuk malah mengikuti perkataan nya.

Dari kejauhan, terlihat Siwon yang menatap Eunhyuk sendu. Sudah sangat sering Eunhyuk menyakiti hatinya secara tak langsung sampai-sampai kini ia tak bisa mendeskripsikan bagaimana keadaan hatinya. Entah sedih, marah atau kecewa, Siwon tak tau. Beberapa anak kecil yang berada tak jauh dari tempat Siwon berdiri menatapnya bingung. Menatap Siwon yang hanya diam meskipun ice cream yang dipegang tangan nya sudah meleleh tak tersisa.

.

.

Sungmin duduk diam dipinggir ranjang dalam diam. Kyuhyun kini sedang mandi, dan dia menyuruh Sungmin untuk menunggu.

Ddrrttt... drrttt...

Sungmin mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja yang tak jauh dari ranjang. Sebuah pesan dari seseorang yang tak dikenalnya tempampang di layar ponselnya. Sungmin membuka pesan tersebut dan membacanya dalam hati.

.

From : Unknown

Subject : Please love him!

Sungmin-ah, apa kau masih ingat dokter yang bernama Park Tae Jun?

Ini aku, Tae Jun

Begini Sungmin-ah, aku tak tau harus mulai bicara dari mana karena aku bukan typical orang yang mudah membuat sebuah percakapan. Hanya saja, aku ingin minta tolong padamu. Tentang Kyuhyun...

Tolong bantu ubah dia menjadi 'normal' dengan cara cintai dia.

.

Sungmin menaikan sebelah alisnya? Rasa bingung dan terkejut bercampur menjadi satu. 'normal'? Cintai dia? Dia siapa? Kyuhyun? Apa maksudnya ini?

Buru-buru Sungmin membalas pesan dari Taejun atas kebingungan yang melanda dirinya. Tak sampai 1 menit, ponsel Sungmin tiba-tiba saja berbunyi.

"Yeobose—"

"Jebal Sungmin-ah~" Sungmin terkejut saat perkataan nya dipotong begitu saja.

"Kyuhyun sakit, lebih tepatnya jiwanya yang sedikit sakit. Namun Kyuhyun masih memiliki sebagian akal sehatnya. Begini Sungmin-ah, mungkin bisa dikatakan Kyuhyun adalah seorang psycho tingkat awal, dan untungnya masih dapat disembuhkan." Jelas Taejun to the point.

"P-psycho?" tanya Sungmin memastikan. Ia masih ragu apa yang dikatakan Taejun benar atau tidak, yang jelas Sungmin juga merasa ada sesuatu yang janggal pada Kyuhyun.

"Ne, Kyuhyun seorang psycho! Tapi tenang saja, dia tak pernah melaukan hal kriminal karena ia masih di tingkat awal."

"Tadi... katamu masih tingkat awal kan? Bagaimana cara menyembuhkan nya?"

"Cara menyembuhkan nya hanya dengan cara perhatian lebih dari seseorang sehingga ia merasa tak sendirian, buat dia merasa bahwa masih ada orang yang mencintainya selain kedua orang tuanya. Buatlah dia berpikir bahwa ada orang lain yang peduli terhadapnya. Habiskanlah waktu sebanyak mungkin untuk saling bercerita. Seorang psycho tingkat awal biasanya hanya karena ia kesepian, bukan karena ia ingin kesunyian. Hanya itu yang bisa kau lakukan untuk saat ini, dan hanya padamu aku mempercayakan Kyuhyun. Kumohon... dia sudah kuanggap seperti namdongsaeng kandungku sendiri." Jelas Taejun panjang lebar yang diakhiri dengan kalimat penuh harap terhadap Sungmin.

"Arraseo.. aku akan mencobanya semampuku."

"Gomawo Sungmin-ah, annyeong~ —pipp"

Sungmin menyimpan kembali ponselnya di atas meja.

CEKLEK!

Kyuhyun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Handuk kecil terlihat melingkar di lehernya. Kyuhyun berjalan menuju lemari pakaian dan mulai memilih baju. Sungmin menolehkan pandangan nya kearah lain saat Kyuhyun mulai memakai pakaian nya.

"Kyu..." panggil Sungmin pelan.

"Hmm?"

"Gwaenchanayo?" Kyuhyun tak langsung menjawab. Ia malah menatap Sungmin bingung seraya berjalan ke arah Sungmin, kemudian ikut duduk dipinggir ranjang samping Sungmin.

"Kenapa kau bertanya seperti itu? Jelas-jelas kau dapat melihatku kan? Tak ada yang luka ditubuhku, tak ada bekas air mata pula di wajahku." Ujar Kyuhyun dingin.

"Ani, hanya saja..."

"Hanya saja?"

Grep!

Kyuhyun membelalakan matanya lebar, ia tak menyangka atas apa yang terjadi. Sungmin tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat. Entah kenapa Kyuhyun menjadi sedikit gelisah karena telinga Sungmin tepat menempel pada dadanya. Ia takut Sungmin dapat mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyuhyun ketus. Bukan nya langsung menjawab, Sungmin malah mempererat pelukannya.

"Aku hanya sedang ingin memelukmu. Apa itu salah?!" kini Kyuhyun yang terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Memang, tak ada yang salah dengan pelukan yang diberikan oleh Sungmin. Hanya saja, ada perasaan aneh yang melanda hatinya. Dan Kyuhyun tak tau perasaan seperti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Lain hal nya dengan Sungmin yang kini sama gelisahnya dengan Kyuhyun. Ia bingung pada dirinya sendiri yang tiba-tiba memeluk tubuh seperti ini. Yang jelas, kini Sungmin hanya dapat mendengar detak jantung Kyuhyun yang sama-sama berdetak sangat kencang dari biasanya.

"Kyu, maukah kau bertukar cerita denganku?"

"Mwo? Cerita?" tanya balik Kyuhyun.

"Um! Bisakah?" pinta Sungmin.

"Cerita apa?" tanya Kyuhyun sedikit kikuk.

"Apa saja. Mungkin, kau bisa cerita suatu hal yang sebelumnya ingin kau ceritakan pada seseorang yang dapat kau percaya." Ujar Sungmin.

"Begitukah? Apa kau orang yang bisa kupercaya?" tanya Kyuhyun menyelidik.

"Tentu saja! Kau bisa mempercayaiku Kyu..."

"Dengar Lee Sungmin, sebuah kepercayaan sama halnya dengan sebuah keperawanan. Seorang wanita, apabila ia telah kehilangan keperawanan nya, maka ia tak bisa mendapatkan keperawanan nya lagi. Begitupun dengan kepercayaan, jika kepercayaanku padamu telah hilang, maka akan sulit bagiku untuk kembali mempercayaimu. Begitupun denganmu, kau akan sulit mendapat kepercayaan dariku." Jelas Kyuhyun dengan nada yang tajam. Sungmin menelan saliva nya takuta, ia takut kepercayaan Kyuhyun terhadapnya akan hilang.

"Aku akan berusaha agar membuat kepercayaanmu padaku tetap terjaga." Balas Sungmin mantap.

"Baiklah, haruskah aku menceritakan hal yang kubenci didunia ini padamu sekarang?"

"Tentu, jika kau tak keberatan."

.

.

CEKLEK

Donghae masuk kedalam kamarnya dengan sebuah nampan di tangan nya. Ia membawakan sepiring nasi, semangkuk samgyetang panas, dan segelas susu hangat. Ia menghampiri Eunhyuk yang tengan duduk diam di atas ranjang dengan besender pada kepala ranjang.

"Buka mulutmu Hyukkie-ah..." pinta Donghae sembari menyodorkan sesuap nasi, namun Eunhyuk tak kunjung membuka mulutnya.

"Ayolah Hyukkie-ah... kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Kumohon, menurut padaku sekali saja."

"Aku sudah terlalu sering menurut padamu, Lee Donghae! Ketika kau memintaku untuk melepaskan seluruh pakaianku, aku menurut. Ketika kau memintaku untuk memanjakan kejantanan mu, aku menurut. Ketika kau ingin bersetubuh denganku, aku menurut. Aku menuruti semua keinginanmu!" seru Eunhyuk lemah.

"Tidak semua, kau bahkan tak menuruti keinginan ku saat aku memintamu untuk tinggal di apartement ku bersama keluargamu!" balas Donghae.

"Mereka bukan keluargaku!" protes Eunhyuk.

"Dengar Hyukkie-ah, kau tak bisa selamanya seperti ini. Berhentilah membenci keluargamu sendiri! Terimalah mereka... jika dipikir-pikir, tak sepenuhnya kau benar. Begitupula mereka, mereka tak sepenuhnya salah. Kau membenci mereka karena sebuah 'alasan' kan? Begitupun dengan mereka! Ayahmu pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia seperti itu terhadapmu. Eomma tirimu juga pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia menikah dengan ayahmu. Dan Hoya, namdongsaeng tirimu itu pasti memiliki alasan tersendiri kenapa ia selalu berbicara kasar padamu. Dan alasan nya karena kau selalu memaki eomma kandungnya yang merupakan eomma tirimu." Donghae menyimpan sendok yang sedari tadi dipegangnya ke atas nampan.

"Tak pernahkah kau berpikir, tak ada satupun anak yang tega dan hanya diam saja ketika melihat ibunya tersiksa dan mendengar makian yang ditujukan pada ibunya? Kau pernah merasakan itu, kan? Bagaimana rasanya? Sakit kah? Marah kah? Kuyakin jawaban nya pasti, IYA."

"Jangan bicara seolah-olah kau tau segalanya Hae! Kau bukan Tuhan!" bentak Eunhyuk marah.

"Air yang bening, jika diaduk-aduk seperti apapun tak akan keruh. Air itu hanya akan berpusar, beriak, bergelombang, dan tetap tak akan keruh. Seperti itulah seharusnya hatimu. Marah, kecewa, dan bersedihlah sebentar, tapi jangan sampai kau lupa kejernihan pandangan mu terhadap keluargamu sendiri." Donghae berdiri dari duduknya dan ikut naik keatas ranjang.

"Kajja, tidurlah... tenangkan pikiranmu sejenak. Aku lelah terus beradu mulut dengan mu." Ucap Donghae seraya menidurkan tubuh Eunhyuk. Lain halnya dengan Eunhyuk yang hanya diam, membiarkan Dongahe menidurkan tubuhnya. Ya, ia juga lelah terus beradu mulut dengan Donghae. Ia ingin istirahat sejenak.

Donghae membalikan tubuh Eunhyuk agar menghadapnya. Mereka berbaring dengan posisi berhadapan. Donghae mencium kening Eunhyuk cukup lama sebelum akhirnya bibir cherry Eunhyuk lah yang menjadi sasaran. Tangan Donghae bergerak memeluk tubuh Eunhyuk dan mengelus-ngelus punggung namja manis itu dengan sayang. Entah refleks atau apa, Eunhyuk balas memeluk tubuh Donghae.

"Tidurlah..." Eunhyuk mengangguk pelan, kemudian memejamkan matanya rapat. Begitupun dengan Donghae, ia ikut memejamkan matanya dengan wajah yang tenang.

Tanpa sepengetahuan Donghae, sedari tadi JB menguping dibalik pintu kamar Donghae. JB? Kenapa JB bisa ada disini? Jawaban nya mudah saja, ini adalah kamar dalam rumah Donghae yang secara otomatis bukan kamar apartement milik Donghae. Dan satu hal penting yang jangan kalian lupakan, JB adalah namdongsaeng tiri Dongahe sehingga mereka dapat berada dalam satu rumah yang sama.

.

.

.

TBC

.

.

.