Story About Hyukjae's Love And Life
Romance, Family, Hurt/Comfort [T]
Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, JB(JJ Project), Cho Kyuhyun, Park Tae Jun{Ulzzang}, Wong Jong Jin-new cast{Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)
DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.
WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll
.
.
.
Happy Reading
.
Chap 12
.
Donghae baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dari rambut nya yang basah serta wangi mint yang menguar dari tubuhnya menandakan bahwa ia baru saja mandi. Dengan keadaan tubuh yang hanya ditutupi oleh handuk pada bagian pinggang sampai lututnya, Donghae berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian. Setelan baju khas namja rumahan kini menutupi tubuh Donghae. Ia berjalan ke arah Eunhyuk yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Donghae duduk dipinggiran ranjang seraya mengelus-ngelus pipi tirus Eunhyuk dengan sayang. Matanya menatap Eunhyuk sendu, tangan nya beralih menyingkirkan poni rambut Eunhyuk agar tak menutupi wajah manisnya.
Tok! Tok! Tok!
"Nugu?" Donghae menolehkan pandangan nya kearah pintu kamar yang baru saja diketuk oleh seseorang dari luar, namun orang itu tak kunjung menjawab pertanyaan Donghae. Ia malah terus-terus an mengetuk pintu tanpa henti. Dari gerak-gerik seperti ini, Donghae sudah bisa menebak siapa yang tengah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Ia berjalan mendekat kearah pintu, bersiap membukakan pintu untuk memastikan bahwa tebakan nya 100% benar.
CEKLEK
"Sudah kuduga!" seru Donghae saat mengetahui bahwa tebakan nya memang benar.
"Sudah kuduga?" namja dihadapan Donghae mengulangi kalimat Donghae, namun kalimat nya ia ubah menjadi kalimat tanya yang dibuat-buat.
"Ada keperluan apa kau kesini?"
"Jangan bertanya dengan nada seperti itu hyung! Kau ini, apa masih belum bisa menerima ku sebagai namdongsaeng mu, eoh?" tanya JB dengan nada sedikit kesal. Donghae menggaruk rambut nya yang tak gatal sama sekali, ia merasa bosan untuk menjawab pertanyaan sama yang sering dilontarkan JB terhadapnya.
"Dengar Jaebum-ah, sudah kubilang berulang kali kan jika aku tak suka dengan—"
"Sikapku yang tak punya sopan santun? Begitukan, maksud mu hyung?" potong serta tanya JB memastikan.
"Aku memang tak menyukaimu karena kau tak punya sopan santu, namun ketidaksukaan ku itu bukan beararti aku tak menerima mu sebagai namdongsaeng ku kan?"
"Terserah! Yang jelas, dalam sudut pandangku, selama ini kau tak pernah menerimaku sebagai namdongsaeng mu!" seru JB kesal. Ia memasuk kan kedua tangan nya pada saku celana nya seraya sedikit menjinjitkan kakinya agar dapat melihat keadaan di dalam kamar Donghae.
"Siapa namja itu?" tanya JB pura-pura tak tau. Donghae melirik sekilas kearah Eunhyuk, kemudian kembali menatap JB dengan tatapan yang amat sangat datar.
"Kau tak perlu tau siapa dia, yang jelas... kau pernah bertemu dengan nya."
"Begitukah?"
"Ada lagi yang ingin kau katakan padaku?" tanya Donghae mencoba mengalihkan topik pembicaraan sebelum JB bertanya-tanya lebih jauh lagi mengenai Eunhyuk.
"Ah~ aku lupa jika tujuan ku yang sebenarnya kesini adalah untuk memberitahumu jika appa dan eomma akan datang sore ini. Kuharap kau tak pergi kemana-mana karena kita akan makan malam bersama." JB menjeda kalimatnya seraya kembali menjinjitkan kakinya untuk melihat keberadaan Eunhyuk di dalam kamar.
"Usahakan agar keberadaan namja itu tak merusak suasana nanti malam." JB pergi menjauh, tanpa memperdulikan Donghae yang kini tengah gelisah. Bukan, Donghae bukan gelisah karena keberadaan Eunhyuk. Kegelisahan nya juga bukan karena takut Eunhyuk akan merusak suasana nanti malam, melainkan kegelisahan akan suasana seperti apa yang harus ia berikan saat makan malam bersama ayah kandung dan ibu tirinya.
...
"Eunghh..." lenguhan pelan terdengar dari mulut Eunhyuk seiring bergeraknya tubuh manis namja itu. Perlahan, matanya mulai terbuka dengan sebelah tangan nya yang meremas rambut nya pelan.
"Kau sudah bangun?" Eunhyuk mengalihkan pandangan nya ke arah sumber suara setelah sebelumnya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk dengan bersender pada kepala ranjang.
"Hae?"
"Kau lapar?" tanya Donghae pelan. Eunhyuk hanya menjawab dengan sebuah gelengan pelan. Melihat itu, Donghae berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Eunhyuk.
"Jangan terus menyiksa tubuhmu seperti itu, kajja! Kasihan perut kosong mu." Ujar Dongahe seraya membalikan tubuhnya memunggungi Eunhyuk dan sedikit menundukan nya. Lain halnya dengan Eunhyuk yang menatap punggung Donghae bingung. Donghae yang tak kunjung mendapat reaksi dari Eunhyuk sedikit menolehkan kepalanya kebelakang.
"Kenapa diam? Kajja! Kugendong kau sampai ruang makan. Aku malas jika harus menyuruh maid membawakan makanan kesini." Ucap Donghae. Eunhyuk menyibak selimutnya dan bergeser pelahan-lahan mendekati punggung Donghae.
"Aku bisa berjalan sendiri."
"Aniya! Kau harus kugendong, kajja!"
"Shireo! Kau pikir aku ini anak kecil eoh?" tolak Eunhyuk.
"Ini adalah perintah! Kajja!" mendengar kata 'perintah', mau tak mau Eunhyuk harus menuruti nya mengingat status nya sebagai 'barang belian' Donghae. Eunhyuk memeluk leher Donghae, kakinya ia biarkan untuk Donghae angkat. Tubuhnya menempel dengan punggung Donghae. Dan pada saat itu pula, Eunhyuk tak menyadari bahwa pipinya telah merona merah.
Dongahe menggendong Eunhyuk keluar dari kamar dan membawanya turun melewati anak tangga menuju ruang makan di lantai pertama. Beberapa maid terlihat heran dengan keberadaan Eunhyuk dalam gendongan Donghae. Maid-maid itu terlihat menundukan badan mereka tatkala Donghae melewati mereka semua. Begitu pula dengan maid-maid yang ada di ruang makan. Dua orang maid langsung mempersilahkan Donghae dan Eunhyuk untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Donghae mendudukan Eunhyuk di salah satu kursi makan yang berhadapan dengan kursi makan yang biasa didudukinya.
"Makanlah makanan yang kau suka." Ucap Donghae dengan manisnya, semanis sebuah cake strawberry yang ada di hadapan Eunhyuk.
"Kau boleh memakan cake strawberry itu." ujar Donghae saat melihat Eunhyuk yang terus diam sembari memperhatikan cake strawberry itu.
"Tapi..." Euhnyuk langsung menatap Donghae penasaran. Donghae tersenyum melihat Eunhyuk-NYA yang terlihat seperti anak kecil.
"...setelah kau memakan nasi untuk perut kosong mu." Eunhyuk menatap sebuah mangkuk kecil berisikan nasi, kemudian menatap Donghae dan kembali menatap mengkuk nasi itu secara bergantian. Detik berikutnya, Eunhyuk mengambil mangkuk nasi yang tadi ditatapnya dan mengambil sebuah sendok besi. Setelahnya, Eunhyuk menatap beberapa makanan yang tersaji untuk teman nasi yang ada di tangan nya. Hingga pada akhirnya beberapa potong bulgogi yang tersaji di atas piring berbentuk persegi panjang menarik perhatian nya. Sendok besi yang dipegang nya ia ganti dengan sebuah sumpit berwarna perak dan mengambil sepotong bulgogi yang telah mencuri hatinya. Donghae yang senang melihat Eunhyuk mau makan pun akhirnya ikut makan dengan menu yang sama dengan 'barang belian' nya yang berstatus rangkap sebagai pujaan hatinya itu.
"Wah.. wah.. kau tega sekali padaku hyung!" seruan seseorang sontak membuat Eunhyuk maupun Donghae saling menghentikan aktivitas makan mereka. Donghae menatap JB yang berada tepat di belakang kursi Eunhyuk. Detik berikutnya, JB beralih duduk di samping kursi Eunhyuk. Dan saat itu pula, Eunhyuk dan JB saling menatap. Merasa familiar, Eunhyuk menatap wajah JB dengan lekat. Mencoba untuk mengingat-ngingat apakah sebelumnya mereka pernah bertemu atau tidak. Lain hal nya dengan Donghae yang memilih untuk melanjutkan acara makannya.
.
Flashback On
.
"Ini!" suara seseorang sukses membuat Eunhyuk terbuyar dari lamunan nya. Ia menolehkan kepalanya kesamping dan menemukan sesosok namja yang terlihat lebih muda darinya. Eunhyuk menaikan sebelah alisnya heran saat melihat beberapa lembar won yang disodorkan oleh namja itu.
"Mwoya?" heran Eunhyuk. Namja itu tersenyum merendahkan lalu menarik paksa tangan Eunhyuk untuk menerima uang darinya.
"Ambil lah! Aku tau kau orang tak punya, kau pasti butuh uang kan untuk membayar taxi?" Eunhyuk merasa terhina mendengarnya. Harga dirinya serasa di injak-injak oleh orang asing yang bahkan tak tau tentang seluk beluk keadaan ekonomi nya. Tapi namja itu ada benarnya, untuk saat ini mungkin Eunhyuk bisa dibilang orang tak punya. Sedetik kemudian Eunhyuk langsung mengambil uang itu secara kasar.
"Akan ku kembalikan jika kita bertemu lagi." Ucap Eunhyuk setelah mengambil uang dari namja itu.
"Tak usah, aku ini anak orang kaya! Uang sedikit seperti itu tak perlu dijadikan sebagai hutang. Lagi pula, dirumah ku uang sudah melebihi kata 'banyak', jadi aku ingin sedikit menghamburkan nya." tangan Eunhyuk mengepal kuat, jika saja kondisinya tak seperti ini mungkin saja namja dihadapan nya sudah habis dibuat babak belur oleh tangan kosong nya. Suasana seketika hening, tak ada yang berniat untuk bicara. Namja itu sibuk memperhatikan jalan raya, sedangkan Eunyhuk sibuk memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikiran nya mengenai namja yang berada di samping nya itu.
Tak beberapa lama kemudian, sebuah taxi hitam terlihat berjalan menghampiri mereka. Eunhyuk memberhentikan taxi yang kebetulan kosong itu dan membuka pintunya. Saat Eunhyuk hendak masuk ke dalam taxi itu, ia menolehkan arah pandang nya pada namja itu yang kini juga ikut memandang Eunhyuk.
"Sedikit saran dariku, jika kau memang ingin menghamburkan uang mu itu, kau bisa menghamburkan uangmu itu pada anak-anak jalanan, anak yatim-piatu dan pergilah ke panti jompo jika kau mau!" namja itu mendecih pelan mendengar saran yang dilontarkan Eunhyuk kepadanya. Detik berikutnya Eunhyuk langsung naik ke dalam taxi dan menutup pintu taxi nya sedikit kasar. Taxi pun berjalan begitu saja, meninggalkan Im Jae Bum yang kini tengah memegangi perut nya menahan tawa. Ya! Im Jae Bum atau yang biasa kita tau dengan panggilan JB kini tengah menertawakan ketidak pekaan Eunhyuk akan sosok dirinya.
"Ck, apa namja itu tak sadar jika aku adalah siswa yang saat tengah malam menjadi korban pengeroyokan? Pabbo!"
.
Flashback Off
.
"Biasanya aku duduk di kursi yang sekarang kau duduki." Ucapan JB barusan sukses menyadarkan lamunan Eunhyuk tentang pertemuan nya dengan JB saat di rumah sakit. Dan ingatan nya mengenai JB benar-benar membuat Eunhyuk sadar jika JB adalah namja korban pengeroyokan anak SMA pada suatu malam. Dan JB adalah namja tak punya sopan santun yang menurut sudut pandang nya, selalu mengekspresikan rasa terima kasihnya melalui uang.
"Ingat padaku?" tanya JB mencoba memancing Eunhyuk.
"Kau! Namja tak punya sopan santun itu kan?" tanya Eunhyuk memastikan. JB memutar bola matanya malas, ia tak membalas pertanyaan Eunhyuk dan malah ikut mengambil makanan tanpa memperdulikan tatapan kesal dari Eunhyuk.
"YA! Kau namja yang waktu di rumah sakit itu kan?" JB tetap makan dalam diam. Merasa diacuhkan, Eunhyuk menarik bahu JB dan memaksa namja itu untuk menghadap ke arahnya.
"Wae? Wae? Wae?"
"Kenapa kau bisa ada di sini, eoh?" selidik Eunhyuk.
"Kenapa? Kenapa aku bisa ada disini? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Hahaha... kau lucu sekali!" cemoohan dari JB sukses membuat Eunhyuk mengeryit heran.
"Sedang apa kau disini? Ini rumahku!" tanya dan seru JB membuat Eunhyuk terperanga kaget.
"Wae? Apa hyung ku tak menceritakan apa-apa terhadap mu, eoh?" JB melirik ke arah Donghae sekilas yang tiba-tiba saja menghentikan aktivitas makannya lagi.
"Hyung mu?"
"Tsk, bukankah kalian sudah lama tinggal bersama? Apa saja yang kalian lakukan? Apa saja yang kalian bicarakan? Uang dan sex?"
"Y—"
"YA! Im Jae Bum! Jaga bicaramu!" sebelum Hyukjae protes, Donghae sudah terlebih dulu membentak JB. Donghae tak terima atas tebakan JB meskipun 75% benar adanya.
"Kenapa kau marah hyung? Tebakan ku benarkan?"
"Lalu apa urusan nya dengan mu? Dia namjachingu ku, hargailah dia. Hargailah kami berdua. Dan jangan ikut campur kehidupan kami berdua." Ucap Donghae pelan namun tegas.
"Namjachingu? Jeongmal?"
"Kajja, kita pergi Hyukkie-ah.." Donghae menyimpan sumpitnya dan berdiri dari duduknya, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Eunhyuk yang masih betah duduk diam di kursi nya.
"Jika kau belum kenyang, kita bisa makan diluar." Donghae memegang pergelangan tangan Eunhyuk dan membawanya pergi dari ruang makan.
"Aku jadi tak sabar untuk melihat bagaimana respon appa dan eomma saat tau jika kau mempunyai seorang kekasih namja, hyung!" teriakan JB barusan sukses menginterupsi langkah mereka untuk beberapa saat. Namun detik berikutnya Donghae kembali menarik tangan Eunhyuk keluar dari rumah.
...
"Eh? Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu." Ujar Sungmin saat melihat Kyuhyun yang halfnaked duduk di salah satu kursi ruang makan. Kyuhyun duduk dalam diam sembari memperhatikan gerak-gerik Sungmin yang tak seperti biasanya dari kemarin sore.
"Apa yang Taejun hyung ucapkan padamu?" pertanyaan Kyuhyun sukses membuat Sungmin terdiam seketika. Matanya bergerak gelisah, beruntunglah ia sedang mengupas beberapa buah yang secara otomatis posisi tubuhnya kini membelakangi Kyuhyun. Sehingga Kyuhyun tak dapat mengetahui kegelisahan lewat sorotan matanya.
"Kau ini bertanya apa? Memangnya ada sesuatu yang harus dokter kemarin itu ucapkan padaku?" tanya balik Sungmin. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya dengan memotong dadu buah apel yang telah dikupas.
"Ani. Dari sikapmu kemarin sore, aku merasa bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku." Jawab Kyuhyun dengan nada datarnya. Sungmin menarik nafasnya pelan, kemudian ia membawa salad buah buatan nya kehadapan Kyuhyun. Setelahnya, ia membawa mangkuk berisikan potongan-potongan dadu buah apel, tomat, strawberry, alpukat, anggur, dan buah pir yang telah dicampur dengan mayonise dan yogurt.
"Apa yang harus kusembunyikan darimu?" Sungmin berjalan ke arah lemari es dan mengambil sekotak susu cair dan menuangkan nya pada gelas.
"Lagipula..." Sungmin menjeda kalimatnya, ia menaruh segelas susu tersebut di atas meja. Kyuhyun masih setia diam, menunggu Sungmin untuk melanjutkan kalimatnya.
"...andaikata aku memang menyembunyikan sesuatu darimu, apa hubungannya dengan dokter yang kemarin, hmp?" Sungmin mencoba menatap bola mata Kyuhyun, sebisa mungkin ia berusaha untuk lebih ahli dalam 'bertopeng' dengan Kyuhyun. Kyuhyun tak menjawab, mereka terus berpandangan untuk beberapa saat hingga pada akhirnya Kyuhyun memutuskan kontak mata diantara mereka. Dan Sungmin bernafas lega karena Kyuhyun lah yang terlebih dahulu memutuskan kontak mata diantara mereka.
"Aniya, siapa tau saja kau dan Taejun hyung membicarakan sesuatu tanpa sepengetahuanku." Kyuhyun mengambil sendok dihadapan nya dan mulai memakan salad buah yang telah Sungmin sediakan untuknya. Sungmin menatap Kyuhyun dalam dia, ia belum ada keinginan untuk ikut makan bersama Kyuhyun.
"Aigo!" Kyuhyun menatap Sungmin heran. Namja manis dihadapan nya tiba-tiba saja berdiri dengan mata yang membulat lebar. Merasa penasaran, Kyuhyun pun memutuskan untuk mengikuti arah pandang Sungmin yang ternyata sedang menatap... luka cakar pada lengan nya.
"Wae?"
"A-apa itu... ulahku?" tanya Sungmin takut-takut. Kyuhyun memutar bola matanya malas seraya kembali melanjutkan makan nya.
"Jika bukan ulahmu, lantas ulah siapa lagi? Semalam kau kasar sekali! Sekarang mungkin hanya luka cakaran, tapi besok-besok mungkin akan menjadi luka cabikan!" sindir Kyuhyun tajam.
"YA! Kau pikir besok-besok aku mau melakukan 'itu' LAGI, eoh? Tak mau! Kau melakukan 'itu' dengan sangat kasar dan tak berperasaan, jadi wajar saja jika aku mencakar lenganmu." Balas Sungmin kesal.
"Kau juga mencakar punggung ku!"
"Ne?" seketika itu pula, Sungmin langsung berlari ke arah Kyuhyun untuk memastikan apa yang diucapkan Kyuhyun benar atau tidak.
"O-omo!" Sungmin menutup mulutnya kaget saat melihat luka cakaran di punggung Kyuhyun yang terlihat sangat menyakitkan. Detik berikutnya, Sungmin langsung berlari keluar dari ruang makan. Tak lama, ia kembali dengan kotak P3K dan duduk di samping Kyuhyun.
"J-jeongmal mianhae Kyu, a-aku... aku..." Sungmin tak melanjutkan kalimatnya. Ia beralih mengambil kapas dan obat luka, kemudian ia menuangkan sedikit cairan merah itu pada kapas dan mulai mengobati punggung Kyuhyun.
"Appoyo?" tanya Sungmin pelan saat kapas dengan cairan merah itu menempel dengan luka pada punggung Kyuhyun. Sang empunya luka tak menjawab dan tetap asyik pada kegiatan memakan salad buahnya. Sungmin mengobati luka Kyuhyun dengan sangat pelan dan hati-hati. Dan tanpa Sungmin sadari, wajah Kyuhyun mulai berkeringan entah karena apa.
...
"Kau tak mau turun?" tanya Donghae lelah. Ini adalah pertanyaan sama yang kesekian kalinya ia tanyakan pada namja manis disamping nya.
"Entahlah Hae..." jawab Eunhyuk pada akhirnya. Matanya menatap ragu apartement Donghae. Lain halnya dengan sang empunya apartement yang sedari tadi pikiran nya telah cabang kesana-kemari. Perkataan JB terus saja terngiang di gendang telinganya.
"Terserah! Yang jelas, dalam sudut pandangku, selama ini kau tak pernah menerimaku sebagai namdongsaeng mu!"
"Tsk, bukankah kalian sudah lama tinggal bersama? Apa saja yang kalian lakukan? Apa saja yang kalian bicarakan? Uang dan sex?"
"Aku jadi tak sabar untuk melihat bagaimana respon appa dan eomma saat tau jika kau mempunyai seorang kekasih namja, hyung!"
"Hae..." hanya dengan suara pelan Eunhyuk, Donghae mampu tersadar dari lamunan nya.
"Wae?"
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Eunhyuk tanpa melihat wajah Donghae.
"Aku? Kenapa? Melakukan ini? Melakukan apa?" tanya Donghae tak mengerti.
"Kenapa kau ikut campur dalam kehidupan ku? Sebenarnya apa maksudmu, Hae?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya balik Donghae.
"Aku hanya ingin tau..." jawab Eunhyuk seadanya.
"Kau tau?" Eunhyuk menolehkan pandangan nya ke arah Donghae. "Aku tak suka pada seseorang yang mencampuri hidupku. Aku juga tak suka pada seseorang yang selalu berlagak seolah dia tau apa yang orang lain rasakan. Aku tak suka padamu! Aku tak suka padamu yang selalu mencampuri masalah hidupku. Aku tak suka padamu yang selalu berlagak seolah kau mengerti apa yang ku rasakan. Aku sebal padamu yang selalu berbicara seolah apa yang kau bicarakan selalu benar dan apa yang kubicarakan selalu salah."
"Kau... tak suka dan sebal padaku?"
"Ne!"
"Dengar Hyukkie-ah, ada beberapa hal yang perlu kau tau..."
"...kehidupan mu, dan kehidupan ku jika ditilik lebih baik itu tak ada bedanya. Appa mu, menikah lagi dengan seorang yeoja. Begipula dengan appa ku, dia menikahi seorang yeoja. Dan Hoya, namdongsaeng tirimu itu berstatus sama dengan JB yang merupakan namdongsaeng tiriku. Kita ini sama Hyuk, namun pelampiasan kita berbeda!"
"Tsk, kau ini bicara apa? Aku tak mengerti!" Eunhyuk membuang mukanya tak ingin menatap wajah Donghae.
"Jangan bertingkah seolah-olah kau tak mengerti Hyuk! Justru kau amat sangat mengerti apa yang ku katakan!"
"Terserah!" balas Eunhyuk singkat.
Donghae menatap Eunhyuk sendu. Kemudian ia memilih untuk menyenderkan punggung nya pada sandaran kursi dengan pandangan lurus kedepan. Mereka berdua terdiam. Donghae sibuk memikirkan bagaimana caranya agar melelehkan hati Eunhyuk yang beku.
"Kau selalu melampiaskan amarahmu pada hal-hal yang buruk, sedangkan aku selalu memendam amarahku dan menjadi orang lain." Ucap Donghae tiba-tiba. Eunhyuk hanya memutar bola matanya malas. Perkataan Donghae barusan benar-benar konyol, begitulah pikir Eunhyuk.
"Jujur saja Hyuk, aku amat sangat mengerti apa yang kau rasakan. Alasan selama ini aku memaksamu untuk mencoba berbaur dengan keluargamu karena aku tak ingin orang yang kucintai bernasib sama sepertiku." Eunhyuk memejamkan matanya rapat. Ia benar-benar tak mengerti apa yang ada di otak Donghae.
"Hhh~ apa yang kau bicarakan?! dasar orang gila!" Eunhyuk keluar dari mobil Donghae. Sebelum pintu mobil itu ia tutup, Hyukjae menatap tajam Donghae yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
"Dengar! Apapun yang akan kau katakan, aku tak peduli!"
BLAM
Eunhyuk menutup pintu mobil Donghae kasar. Detik berikutnya ia langsung berjalan masuk ke dalam apartement Donghae tanpa memikirkan apa-apa lagi. Yang jelas Eunhyuk ingin tidur dan menenangkan pikirannya yang kacau.
...
"Hyukkie-ah? Kau kembali nak?" Jiae langsung berlari kecil mengikuti langkah Eunhyuk meninggalkan lap dan kemocengnya saat melihat bayangan Eunhyuk dalam lemari kaca yang sedang di bersihkannya. Seolah tak punya telinga, Eunhyuk terus berjalan menuju sebuah kamar yang pernah di tidurinya dengan Donghae tanpa memperdulikan eomma tirinya yang senang bukan main melihat keberadaan Eunhyuk.
BLAM
Eunhyuk menutup pintu kamarnya begitu saja tepat di depan muka Jiae. Jiae hanya mampu menghela nafasnya pelan. Meskipun Eunhyuk masih mengabaikannya, Jiae tetap senang karena kedatangan Eunhyuk ke apartement ini menandakan bahwa kini Eunhyuk mau sedikit membuka hatinya untuk tinggal satu atap bersama keluarga kecilnya.
"Ahjumma?" Jiae membalikan badannya ke belakang dan langsung menemukan sosok Donghae yang sedang menatapnya heran. Jiae tersenyum seraya berjalan mendekat ke arah Donghae. Tangan kecil Jiae terangkat menyentuh kedua lengan Donghae.
"Gomawo Donghae-ah..." ujar Jiae dengan senyuman tulusnya yang mampu membuat hati Donghae menghangat.
"Untuk?" tanya Donghae penasaran.
"Membawa Eunhyuk kembali ke apartement ini." Jawab Jiae masih dengan senyuman tulusnya.
"Sekali lagi, gomawo..." ujar Jiae senang.
...
"Eumhh..." Eunhyuk menggeliat di atas ranjang masih dengan mata yang tertutup rapat. Tubuhnya berguling ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Namun sayang, ketika ia mencoba untuk kembali terlelap dalam tidurnya ia tak bisa. Eunhyuk membuka matanya seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi terduduk di atas ranjang.
18:02
"Hoam~ pantas aku tak bisa tidur lagi." Ucap Eunhyuk entah pada siapa. Yah, pantas saja ia tak bisa tidur lagi karena ia telah menghabiskan 6 jam untuk tidurnya. Ia menghela nafasnya lelah. Tenggorokannya terasa kering. Tidur selama 6 jam membuat Eunhyuk kehilangan sebagian ion dalam tubuhnya. Ingin sekali rasanya ia keluar dari kamar ini menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun apa daya, situasi dan kondisinya saat ini tak memungkinkannya untuk melakukan itu mengingat orang-orang yang meninggali apartement ini bukan hanya dirinya dan Donghae, melainkan juga dengan keluarga kecilnya. Keluarga kecil?! Tsk, Eunhyuk hampir saja tertawa konyol memikirkan hal seperti itu.
Krek! Krek!
Eunhyuk melirik kearah pintu kamar mandi dalam kamar ini. Sepertinya seseorang akan keluar dari dalam sana. Buru-buru Eunhyuk tidur kembali atau mungkin lebih tepatnya pura-pura tertidur karena ia sedang malas untuk berkomunikasi dengan orang-orang dalam apartement ini, termasuk Donghae tentunya.
CEKLEK!
Donghae keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dan yang jelas menutup area intimnya. Ia berjalan mendekati lemari pakainya sambil alih-alih melirik Eunhyuk yang masih terlelap dalam tidurnya.
Malam ini, adalah malam yang paling ingin Donghae hindari. Bertemu apalagi makan malam bersama kedua orang tuanya merupakan hal yang paling ingin Donghae abaikan. Namun ia tak bisa. Dalam hati kecilnya, ada rasa senang setiap kali mereka makan malam bersama. Tapi, di sisi hati kecilnya yang lain, ia merasa sedih. Donghae tak pernah mendapat kehangatan setiap kali mereka berkumpul dalam satu meja makan yang sama. Pasalnya, kedua orangtuanya selalu saja membicarakan mengenai pekerjaan dan perusahaan. Tak pernah sekali pun kedua orang tuanya yang sekarang menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana kesehariannya saat bergaul dengan teman dan hal-hal lainnya yang menyangkut perkembangannya.
"Hhh~" helaan nafas meluncur dengan bebasnya. Donghae menatap duplikat dirinya di cermin yang terlihat sangat tampan. Kemudian ia berbalik dan berjalan menghampiri Eunhyuk. Tangannya bergerak menyentuh pipi Eunhyuk setelah sebelumnya ia duduk di pinggiran ranjang.
"Hyukkie-ah..." lirih Donghae.
Deg!
Eunhyuk merasa bahwa jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Sebenarnya Eunhyuk sangat ingin menepis tangan Donghae yang mulai mengelus pipinya sayang. Tapi jika ia melakukan itu, maka aksi pura-pura tidurnya akan ketahuan. Eunhyuk pun memilih untuk bertahan dalam diam.
"Kau tau kenapa aku melakukan semua ini terhadapmu, hmp?"
'Tentu saja tidak! Dasar bodoh!' rutuk Eunhyuk dalam hatinya.
"Semua ini kulakukan karena aku mencintaimu..."
Deg!
'T-tsk! Dasar gila! Apa yang dia bicarakan?!'
"Aku tau, amat sangat tau apa yang selama ini kau rasakan karena aku pun merasakannya."
"Kau pasti sangat terpukul saat kau kehilangan eomma kandungmu. Aku benar kan?" tanya Donghae pada Eunhyuk yang(pura-pura) tertidur.
'Jangan sok tau!' balas Eunhyuk ketus dalam hatinya.
"Karena aku juga sangat terpukul saat kehilangan eomma kandung ku." Donghae meremas rambutnya kasar, kemudian ia kembali mengelus pipi Eunhyuk sayang.
"Aku tau bagaimana kesal, marah dan kecewanya kau saat kau tau bahwa appa mu menikahi yeoja lain. Karena aku pun merasakan hal itu..."
"Aku juga bisa bayangkan, betapa kesepiannya dirimu karena appa mu bukanlah sosok appa yang selama ini kau kenal, karena aku juga sama kesepiannya sepertimu." Ucap Donghae pelan.
"Tapi kau beruntung karena masih memiliki sahabat seperti Sungmin, Siwon dan In Guk yang mau menerima mu apa adanya, dan selalu ada bersamamu saat suka maupun duka."
'Aishh... ada apa dengan namja ini? Kenapa tak cepat pergi dari sini?!'
"Aku mohon padamu Eunhyuk-ah, berubahlah menjadi dirimu yang sebenarnya. Aku tau selama ini bukannya kau tak ingin berubah, tapi kau takut untuk berubah. Aku benar lagi kan?"
'Lee Donghae!' geram Eunhyuk dalam hatinya.
"Kau takut, amat sangat takut jika kau kembali menjadi dirimu yang sebenarnya kau akan merasakan kesedihan yang dulu. Kesedihan yang sama saat kau kehilangan eomma kandungmu ketika appa dan eomma tirimu akan pergi meninggalkan mu suatu hari nanti. Kau takut itu kan Eunhyuk-ah?" tanya Donghae untuk yang kesekian kalinya yang tak mungkin untuk Eunhyuk jawab.
"Aku tau jika kelakuan nakal mu selama ini sengaja kau lakukan untuk membuat appa mu marah dan benci terhadapmu. Dan saat appa mu telah marah dan benci terhadapmu, kau akan balas membencinya sehingga saat appa mu meninggal suatu hari nanti, kau tak akan merasa kesedihan dan kepedihan untuk yang kedua kalinya." Entah mengapa, Eunhyuk merasa hatinya sakit. Serasa di remas dengan sangat kuat. Perkataan Donghae sukses mengenai hati kecilnya. Donghae benar! Ia takut akan hal yang di ungkapkan oleh Donghae. Ia takut untuk kembali merasakan kesedihan dan kepedihan itu. Dan entah refleks atau apa, setetes air mata mengalir begitu saja dari mata Eunhyuk yang masih terpejam rapat. Melihat itu, Donghae mengusap bekas air mata Eunhyuk dengan ibu jarinya.
"Eunhyuk-ah, aku tau kau tak tidur!"
Deg!
"Malam ini, aku harus pulang ke rumah. Mian karena malam ini aku tak bisa menemani mu menangis." Meskipun aksi pura-pura tidurnya telah diketahui oleh Donghae, namun Eunhyuk masih mempertahan kan aksi pura-pura tidurnya. Melihat itu, Donghae hanya mampu tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Detik berikutnya, Donghae berdiri dari duduknya lalu berjalan untuk keluar dari kamar.
CEKLEK
"Ahjumma?" heran Donghae saat menemukan sosok Jiae yang sepertinya baru saja akan mengetuk pintu kamarnya dan Eunhyuk.
"A-eh? Kau mau kemana Donghae-ah?" tanya Jiae saat melihat penampilan Donghae yang sangat rapih.
"Aku harus pulang ke rumah. Ada acara keluarga malam ini. Mianhae karena tak bsia ikut makan malam disini." Sesal Donghae. Mendengar itu, Jiae tersenyum manis terhadap Donghae.
"Begitukah? Sayang sekali, padahal ahjumma sudah masak banyak sekali makan untuk malam ini."
"Geureyo? Ah~ sekali lagi mianhae ahjumma!" sesal Donghae untuk yang kedua kalinya.
"Gwaenchana~ tolong sampaikan salam dari ahjumma pada mereka ne!"
"Ne, akan aku sampaikan." Balas Donghae dengan senyumannya.
"Kalau begitu aku berangkat ne ahjumma! Annyeong~" Donghae berjalan melenggang pergi.
"Hati-hati di jalan~"
"Ne!" Donghae terus berjalan tanpa memperdulikan Hoya yang sedari terus menatapnya di ruang tengah.
Setelah Donghae pergi, Jiae terlihat masuk ke dalam kamar Donghae dan Eunhyuk. Di tatapnya Eunhyuk yang ia pikir masih terlelap dalam tidurnya sedari tadi siang.
"Eunhyuk-ah, ireona~" alangkah kagetnya Eunhyuk saat tangan Jiae menyentuh pipinya. Elusan tangan eomma tirinya sama persis seperti...
Plak!
"Jangan sentuh aku!" seru Eunhyuk dengan matanya yang terpejam. Detik berikutnya ia membuka matanya dan langsung menatap Jiae tajam. Sedangkan Jiae merasa bersalah atas perbuatan lancangnya.
"M-mianhae Eunhyuk-ah. E-eomm—"
"Kau mau apa?" potong Eunhyuk sebelum yeoja di hadapannya menyelesaikan kalimat yang akan membuat hatinya terasa sakit.
"A-eump, kau belum makan dari tadi siang. Bagaimana kalau kau ikut makan malam bersama?" tawar Jiae dengan sangat lembut. Eunhyuk terlihat seperti menimang-nimang tawaran Jiae. Egonya mengatakan bahwa ia harus menolaknya, namun tidak dengan kondisi perutnya. Tanpa berkata sepatah katapun, Eunhyuk bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar tanpa memperdulikan senyuman bahagia Jiae.
...
"Whoa~ benarkah itu ayah?" tanya JB tak percaya. Ia baru saja selesai mendengarkan cerita sang eomma mengenai sebuah hotel yang baru saja didirikan 1 minggu yang lalu oleh appa tirinya.
"Tentu saja JB-ah! Mana mungkin eomma mu membohongi mu." Jawab Tuan Lee seraya memakan potongan steak miliknya.
"Ayah benar-benar hebat!" seru JB jujur apa adanya.
"Aku benar-benar beruntung karena mempunyai appa yang hebat seperti ayah." Ungkap JB.
"Donghae-ah." Panggil Nyonya Lee tiba-tiba.
"Ne?"
"Kenapa kau sedari tadi hanya diam? Apa kau tak tertarik pada cerita tentang hotel baru ayahmu?" tanya Nyonya Lee penasaran pada anak tirinya yang sedari tadi hanya diam.
"Aku tertarik." Dusta Donghae.
"Benarkah?" tanya Nyonya Lee tak percaya.
"Kau sangat berbeda dengan JB, Donghae-ah." Celetuk Tuan Lee membuat Donghae memutar bola matanya malas.
"Jika kau memang tak tertarik cobalah untuk berpura-pura tertarik. Setidaknya hargailah jerih payah orang taumu." Ujar Tuan Lee.
"Ternyata kau tak berubah!" tambah Tuan Lee.
Suasana hening seketika. Tuan dan Nyonya Lee terlihat fokus pada hidangan di atas meja. Sedangkan Donghae terlihat tak baik dalam posisinya. Lain halnya dengan JB yang memanfaatkan keheningan di antara mereka dengan mengirimkan sebuah pesan singkat yang akan membuat hidup seseorang menjadi menderita.
To : Jongjin Hyung
Subject : Address
Alamat apartemen hyung ku sudah ku kirimkan lewat e-mail agar lebih aman.
Selamat bertemu dengan 'mainan' lamamu hyung~
...
Hoya menatap makanannya malas sambil sesekali melirik Eunhyuk tak suka. Jiae yang melihat putranya seperti itu menyentuh lengannya pelan. Hoya menatap eommanya dengan tatapan heran.
"Kenapa makanannya tak dimanakan, hm?" tanya atau lebih tepatnya tegur Jiae lembut. Hoya hanya membalasnya dengan senyuman kikuk, kemudian ia mulai memakan makanannya. Setelahnya memastikan Hoya makan, kini Jiae menatap Eunhyuk yang sedang asyik memakan makanan buatannya.
"Kau suka makanannya Hyukkie-ah?" Eunhyuk menghentikan makanannya tatkala Jiae bertanya kepadanya. Namun Eunhyuk sepertinya masih belum mau untuk berkomunikasi dengan eomma tirinya itu. Terbukti dari sikap Eunhyuk yang malah melanjutkan kembali aktivitas makannya.
"Eomma mu bertanya Lee Hyukae!" tegur sang appa. Namun Eunhyuk tetap diam dalam makannya.
"Lee—"
"Eomma dengar dari appa mu katanya kau suka pancake!" potong Jiae sebelum suaminya memulai pertengkaran dengan anak tirinya. Mendengar kata 'pancake', Eunhyuk kembali menghentikan makannya sebentar. Matanya melirik sang appa yang terlihat melirik ke arahnya juga. Menyadari hal itu buru-buru Eunhyuk kembali fokus pada makanannya.
'Ahjussi tua itu tau kalau aku menyukai pancake?!' batin Eunhyuk tak percaya.
Jiae tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah lemari es. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari es kemudian meletakkannya tepat di hadapan Eunhyuk.
"Setelah mendengar itu dari appa mu, eomma langsung membuatkan pancake strawberry ini untukmu." Untuk yang ketiga kalinya, Eunhyuk menghentikan makannya sejenak. Matanya terfokus pada pancake strawberry yang kini berada tepat di hadapan matanya. Sedangkan Jiae kembali duduk di kursinya.
"Tadinya eomma juga mau membuatkan strawberry caramel ice cream untukmu. Tapi, karena eomma masih belajar membuatnya, jadinya eomma belum berani memberikannya padamu. Eomma takut rasanya malah jadi aneh." Jelas Jiae. Hoya menatap eommanya tak percaya. Seperhatian itukah eomma nya pada Eunhyuk yang selalu menghujatnya?! Hoya kini beralih menatap Eunhyuk dan pancake strawberry itu dengan tatapan kesal.
"Pancake nya dimakan ne, Hyukkie-ah!"
Sret!
Eunhyuk berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan tanpa sepatah katapun setelah sebelumnya meminum segelas air untuk menghilangkan rasa hausnya.
"LEE HYUK—"
"Sssttt!" Jiae meremas lengan Tuan Lee, mengingatkan namja yang kini berstatus suaminya itu agar tak memarahi Eunhyuk lagi.
"Aishh... apa kau tak lihat betapa kurang ajarnya dia, Jiae-ya?!"
"Jika kau ingin Eunhyuk berubah, kau pun harus mengubah sikap mu padanya. Jangan menjadi seorang appa yang pemarah."
"Hhh~ kenapa kau selalu membelanya Jiae-ya?!"
"Karena dia anak ku! Aku ingin menjadi seorang ibu yang baik untuknya!" seru Jiae membuat Hoya yang mendengar itu menjerit dalam hatinya.
"Sudahlah yeobo. Jangan penah memarahinya lagi. Mungkin Eunhyuk belum terbiasa dengan situasi seperti ini." Ucap Jiae.
"Jika kita bersabar menghadapinya, pasti lama-lama Eunhyuk akan berubah dan terbiasa dengan situasi seperti ini. Yeobo, biasakan lah untuk menahan emosimu terhadapnya. Aku mohon..." Tuan Lee terdiam seketika, detik berikutnya ia mengangguk untuk menyetujuinya. Senyuman sumringah tak dapat Jiae tahan saat itu. Ia benar-benar senang karena suaminya mau diajak kerja sama untuk membuat Eunhyuk menjadi anak baik seperti apa yang di ceritakan sang suami mengenai Eunhyuk saat kecil.
Ting tong!
"Donghae?!" heran Jiae.
"Bukankah tadi di pulang ke rumahnya? Cepat sekali dia pulang." Tanya dan seru Tuan Lee.
"Biar aku saja yang bukakan pintu nya." Ujar Hoya seraya pergi meninggalkan meja makan. Ia berjalan menuju pintu utama sambil sesekali merapihkan bajunya yang sedikit berantakan.
CEKLEK
"Annyeong!" sapa seorang namja bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut hitam dan yang pastinya sangat tampan. Namja itu mengedipkan sebelah matanya pada Hoya dengan senyuman kotornya. Hoya tak membalas sapaan maupun sikap namja di hadapannya, ia hanya membalas sapaan dan sikap namja itu dengan smirk andalannya.
"Siapa yang datang chagi?" sang eomma terlihat berjalan menghampiri Hoya. Namun langkahnya terhenti begitu saja tatkala melihat orang asing di dekat putranya.
"Eomma, di—"
"KAU!" seru Tuan Lee yang kini tengah berdiri di belakang sang istri dengan ekspresi terkejutnya. Lain halnya dengan Jiae yang menatap sang suami bingung.
"Kau kenal dia yeobo?" tanya Jiae penasaran.
"K-KAU! Wong Jong Jin?!" tanya Tuan Lee memastikan.
"Annyeong ahjussi!" balas namja itu dengan senyumannya. Tuan Lee berjalan mendekati namja itu seraya melihat tubuh namja yang di panggilnya 'Wong Jong Jin' itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Dari awal ahjussi sudah bisa menebak kalau ini kau, Jongjin-ah!" seru Tuan Lee seraya merangkul tubuh jangkung Jongjin.
"Kajja! Masuklah!" Tuan Lee membawa Jongjin masuk ke dalam diikuti dengan Jiae dan Hoya di belakangnya. Tingkah nya benar-benar menunjukan seolah-olah ini adalah apartement miliknya.
"Whoa~ apartement mu bagus sekali ahjussi! Pasti harganya mahal." Ujar Jongjin terkagum-kagum atas isi apartement ini.
"Eump, s-sebenarnya..." Tuan Lee menggaruk tengkuknya pelan, merasa malu untuk mengakui bahwa ini bukanlah apartement miliknya.
"Ini bukan apartement kami." Celetuk Jiae membuat Tuan Lee menepuk jidatnya kesal.
"Silahkan duduk." Ucap Hoya mempersilahkan. Jongjin melirik ke arah Hoya seraya tersenyum geli melihat akting Hoya yang menurutnya terlihat kikuk. Tuan Lee dan Hoya pun ikut duduk di kursi yang berbeda. Sedangkan Jiae terlihat berjalan ke arah dapur untuk merapihkan bekas makan malam mereka. Dilihatnya pancake strawberry yang tidak Eunhyuk makan. Jangankan ia makan, menyentuhnya barang sedikitpun tidak. Ia pun kembali memasukan pancake itu ke dalam lemari es karena sayang jika dibuang.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada disini Jongjin-ah? Apa kau teman Donghae?" tanya Tuan Lee memulai sebuah percakapan.
"Donghae? Siapa Donghae?" tanya balik Jongjin. Hoya mendecih dalam hatinya melihat Jongjin yang benar-benar pandai berakting.
"Dia pemilik apartement ini." Jawab Tuan Lee.
"Kenapa ahjussi tinggal disini?" tanya Jongjin berbasa-basi.
"Ceritanya panjang Jongjin-ah. Yang jelas, kami sudah tak punya rumah lagi karena rumah kami habis terbakar." Jawab Tuan Lee jujur apa adanya.
"Intinya kami sebatang kara." Celetuk Hoya. Tuan Lee hanya mengangguk kikuk.
"Ini. Silahkan diminum." Jiae datang dengan segelas teh hangat dan meletakkan nya di atas meja.
"Gomawo ahjumma." Jiae tersenyum. Kemudian ia kembali berjalan menuju dapur.
"Eum, ahjussi... apa anak ini..." Jongjin menjeda kalimatnya seraya melirik Hoya. "...dan juga ahjumma tadi..." Jongjin kembali menjeda kalimatnya. Seolah mengerti arah pembicaraan Jongjin saat ini, Tuan Lee tertawa lebar membuat Hoya menaikkan sebelah alisnya heran.
"Ya! Seperti yang kau pikirkan..."
"Wah, chukkae kalau begitu!"
"Ah, ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaan ku bagaimana kau bisa ada disini!" seru Tuan Lee mengingatkan.
"Sebenarnya begini ahjussi, tadi mobilku mogok tiba-tiba. Aku menelpon anak buahku untuk mengambil mobilku dan membawanya ke tukang service. Daripada aku menunggu anak buahku datang, lebih baik aku mencari tempat untuk menginap. Yah, kau tau sendiri lah ahjussi kalau aku sedari kecil sangat tak suka menunggu. Lalu, karena disekitar sini tak ada hotel maupun penginapan, dan hanya terlihat apartement ini, akhirnya aku memutuskan untuk datang kesini. Yah, siapa tau saja aku di perbolehkan menginap disini oleh pemiliknya. Dan tau-taunya, ahjussi ada di sini juga!" jelas Jongjin panjang lebar.
"Kalau begitu menginaplah disini!" seru Tuan Lee.
"Benarkah? Apa boleh ahjussi?"
"Tentu saja! Kau kan anak teman baikku!"
"Tapi, bagaimana jika pemilik apartement ini datang dan melarangku untuk menginap disini?"
"Tenang saja, Donghae hyung adalah orang yang baik." Ujar Hoya.
"Kau bisa tidur dengan Eunhyuk, karena kamar Hoya hanya terdapat single bed."
"Ah ya! Mana Eunhyuk? Sedari tadi aku tak melihatnya!" Jongjin terlihat menengokkan kepalanya kesana-kemari.
"Dia ada di kamar itu! Kau bisa tidur dengannya disana!"
...
"Yah~ hyung, jangan pergi!" rengek JB menahan tangan Donghae seperti anak kecil.
"Eomma~" mendengar rengekan putranya yang seperti itu, Nyonya Lee pun akhirnya angkat bicara.
"Apa kau tega meninggalkan namdongsaengmu yang masih ingin bersamamu, eoh?! Tidurlah di rumahmu malam ini!"
"Ta—"
"Ayolah hyung~ aku ingin bermain playstation dengan mu!" rengek JB lagi.
"Sudahlah Hae! Turuti permintaan namdongsaeng mu!" perintah Tuan Lee.
"A—"
"Memangnya ada apa sih dengan apartement mu sampai-sampai kau tak ingin tinggal di rumah ini?" tanya Nyonya Lee sedikit kesal.
"Ta—"
"Karena namjachingu Hae hyung tinggal di apartement nya!"
"MWO?" baik Tuan dan Nyonya Lee serta Donghae membelalakan mata mereka kaget atas celetukkan JB. Donghae menatap JB yang kini sedang tersenyum meremehkan dengan tatapan tajam. Lain halnya dengan Tuan dan Nyonya Lee yang sedang menatap Donghae tak percaya.
"N-namjachingu?" tanya Tuan dan Nyonya berbarengan. JB tak menjawab, ia malah menatap Donghae yang sedang menatapnya dengan tatapan seolah-olah mengatakan 'a-ku a-kan me-nu-ru-ti per-min-ta-an-mu'. Dan JB hanya mampu tersenyum menang di atas kekalahan Donghae.
"JB-ah? Apa benar hyung mu memiliki err~ kekasih seorang namja?!" tanya Nyonya Lee memastikan.
"Ahahahaaa~" JB tertawa terbahak-bahak membuat semua yang melihatnya menatap JB heran.
"Hahahaa~ aigo~ ayah! Eomma! Aku hanya bercanda! Hahaha~ mana mungkin hyung ku yang tampan ini punya kekasih namja?! Hahaha... Hae hyung kan namja normal! Ahahaa~"
...
Jongjin terlihat masuk ke dalam kamar dengan jalan yang mengendap-ngendap. Ia menatap tubuh belakang Eunhyuk dengan tatapan lapar. Ia naik ke atas ranjang dengan sangat perlahan, takut-takut membuat Eunhyuk terbangun. Detik berikutnya, ia berbaring di atas ranjang sambil memeluk tubuh Eunhyuk yang membelakanginya. Tangannya bergerak masuk kedalam kaos yang di kenakan Eunhyuk. Di elusnya permukaan perut Eunhyuk dengan sangat kurang ajarnya. Bibirnya tak tinggal diam, leher putih Eunhyuk pun kini menjadi sasaran. Jongjin melumat leher Eunhyuk dengan sangat rakusnya.
Merasa terganggu dalam tidurnya, Eunhyuk mencoba bangun dan berniat memarahi Donghae-menurutnya- yang tengah mencumbui tubuhnya tanpa seizinnya terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya Eunhyuk saat mengetahui siapa yang tengah mencumbuinya saat ini.
"TO—HHMPH!"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Huwaaa~
Gimana chapter ini?
Hehehee
Semoga kalian suka ne!
Mian Naka baru bisa post lanjutannya sekarang karena kemaren-kemaren Naka sibuk ngurusin UN+pilih Universitas #bow
Hutang ff nya Naka cicil satu-satu ne!
Buat ff "Will You Marry Me, Again?" nya nyusul ya~
Oh ya, kalo ada yang bikin bingung di ff ini tanya aja ok ;)
Nanti Naka jawab di chapter selanjutnya :3
Mian Naka ngga bisa bales reviewnya #bow
Yang jelas, Naka amat sangat berterima kasih buat temen-temen sekalian yang udah nyempetin waktunya buat baca ff abal buatan Naka+review ff Naka...
Yosh! For this chapter, wanna REVIEW again please?! #puppyeyes
See you next chapter ^_^
