Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort

[T]

Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, JB, Cho Kyuhyun, Park Tae Jun {Ulzzang}, Wong Jong Jin {Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)

DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.

WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

Chap 13

.

.


Author POV

.

Linangan air mata terus saja mengalir membasahi pipi namja manis itu. Rasa sakit yang dideritanya beberapa menit yang lalu masih dapat ia rasakan meskipun 'benda asing' milik namja yang kini sedang memeluknya dari belakang sudah terlepas dari lubang anusnya. Sekujur tubuhnya masih bergetar, terlebih saat namja yang sedang memeluk tubuhnya menghembuskan nafasnya pada leher 'lebam' nya.

Tangannya bergerak refleks membekap mulutnya sendiri saat merasakan sesuatu yang hangat keluar dari anusnya. Namja manis itu merasa bahwa sesuatu yang bersifat cair itu kini membasahi selangkangannya. Matanya melirik namja yang sedari tadi memeluk tubuhnya kini sedang dalam keadaan terlelap. Melihat ada kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya membasahi selangkangannya, namja manis itu pun berinisiatif untuk memasukkan tangannya ke dalam selimut. Tangannya bergerak menelusuri selangkangannya sendiri. Dan ternyata benar saja! Ia merasa bahwa kini tangannya pun basah setelah memegang selangkannya. Dengan gerakan perlahan, namja manis itu kembali mengeluarkan tangannya dari balik selimut. Detik itu pula, namja manis itu terkejut bukan main. Matanya membulat sempurna, tangan kanannya yang sedari tadi diam kini tergerak menutup mulutnya rapat. Tubuhnya menegang seketika, dan isakan pun kini sudah tak dapat ia tahan.

"Hikkss..." satu isakan lolos dari mulutnya yang dipaksa untuk tertutup rapat oleh tangan kanannya sendiri. Matanya masih tak bisa terlepas dari tangan kirinya yang dilumuri oleh cairan berwarna merah. Dan ia tau pasti cairan apa itu karena ia tak bodoh. Terlebih, dengan bau amis yang menguar dan menusuk indra penciumannya membuat namja manis itu yakin bahwa cairan merah itu adalah darah.

"A-appo..." lirih namja manis itu pelan.

Merasa terganggu dalam tidurnya, namja yang sedari tadi tertidur kini mulai membuka matanya secara perlahan.

"Hikss..." namja manis itu kembali terisak membuat namja yang baru saja terbangun itu kini benar-benar sadar dari alam bawah sadarnya.

"Tsk, kau ini berisik sekali!" seru namja itu kesal. Ia mengacak-ngacak rambutnya saat melihat darah yang melumuri tangan namja manis itu. Dan ia tau betul darah apa itu.

"Hey kau! Bangun!" perintah namja kasar itu. Lain halnya dengan namja manis yang masih shock melihat darah di tangannya hanya mampu diam, tak mengindahkan perintah namja kasar itu terhadapnya.

"Aish... jinja!" namja itu menyibak selimut yang menutupi tubuh full naked mereka dengan kasar. Detik berikutnya ia bangkit dari atas ranjang dan menarik kasar tangan namja manis itu agar terbangun.

"Ayo bersihkan tubuhmu!"

"Shireo!" namja kasar itu membelalakan matanya tak percaya saat namja manis itu menghempaskan tangannya secara kasar. Di saat-saat seperti ini namja manis di hadapannya masih saja berani membangkang terhadap perintahnya.

"Dasar pembangkang! Kau mau aku melakukan 'itu' lagi, eoh?" tanya namja kasar itu penuh penekanan. Mendengar kata 'itu' namja manis itu kembali terisak hebat dengan kepala yang terus menggeleng tanda ia tak menyutujuinya.

"Ayo ikut aku!" seru namja kasar itu seraya kembali menarik tangan namja manis itu ke dalam sebuah kamar mandi.

"Andwe hyung~ appo! Jinja appoyo! Hikss..."

"Ini salahmu sendiri! Siapa yang menyuruhmu menjadi anak pembangkang, eoh?" namja manis itu terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Namja kasar itu berhasil membawanya ke dalam kamar mandi.

"Hikkss... kumohon! Jangan lakukan 'itu' lagi hyung~" pinta namja manis itu penuh harap. Seolah tuli namja kasar itu malah sibuk mengunci pintu kamar mandi kemudian ia sibuk mengisi bath up miliknya dengan air hangat.

"Shireo!" jerit namja manis itu saat namja kasar di hadapannya memaksa tubuh kecilnya masuk ke dalam bath up yang di isi air panas-menurutnya-.

"Cepat masuk!"

"SHIREO!"

.

.

"SHIREO!"

"Eunhyuk-ah?" Jiae panik bukan main saat Eunhyuk menjerit dalam tidurnya. Padahal Jiae berani bersumpah bahwa ia tak melakukan hal-hal aneh terhadap Eunhyuk. Di dalam kamar ini, Jiae hanya berniat untuk membereskan kamar Donghae dan Eunhyuk sebelum membangunkan Eunhyuk untuk sarapan bersama. Detik itu juga Jiae langsung melemparkan kemoceng nya sembarang arah kemudian ia berlari kecil menghampiri Eunhyuk seraya duduk dipinggiran ranjang dan langsung memegang kedua pipi Eunhyuk yang basah oleh keringat dingin.

"Gwaenchanayo?" tanya Jiae sambil meraba-raba wajah pucat Eunhyuk. Eunhyuk tak menolak sentuhan yang Jiae berikan karena entah mengapa Eunhyuk merasa sentuhan tangan Jiae mampu membuat perasaannya sedikit tenang. Eunhyuk tak langsung menjawab pertanyaan Jiae, ia malah menatap panik seluruh tubuhnya. Memastikan apakah tubuhnya dalam keadaan naked atau tidak. Dan Eunhyuk pun menghela nafas lega saat tau bahwa pakaiannya masih lengkap. Ia juga sedikit menggerak-gerakan tubuhnya dan merasa bahwa tak ada yang sakit sedikitpun pada seluruh tubuhnya. Terutama, bagian bokongnya.

"M-mana namja i—tu?" tanya Eunhyuk terbata. Jiae menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia menolehkan kepalanya kesana-kemari.

"Namja itu?" tanya balik Jiae masih merasa bingung siapa yang dimaksud Eunhyuk.

"J—Jo—Jongjin hyung..." jawab Eunhyuk pelan.

"Dia sudah pulang sedari tadi pagi. Sepertinya Jongjin sangat sibuk sampai-sampai ia harus pulang saat pagi buta. Padahal mobilnya belum selesai di service." Ujar Jiae mengingat-ngingat. Lain halnya dengan Eunhyuk yang menghela nafasnya lega.

Namun, detik berikutnya ia baru sadar bahwa Jiae menangkup kedua pipinya sedari tadi. Di tatapnya lengan Jiae yang menangkup kedua pipinya dengan tatapan sendu. Jiae yang menyadari Eunhyuk yang sedang menatap kedua tangannya pun akhirnya melepaskan tangannya kikuk.

"Mianhae..." sesal Jiae. Eunhyuk diam tak merespon sedikitpun. Keduanya tiba-tiba saja terdiam. Tak ada yang ingin membuat sebuah percakapan. Eunhyuk melirik Jiae yang masih setia dalam posisinya duduk di pinggiran ranjang. Jujur ia akui, keberadaan Jiae di dekatnya saat ini sama sekali tak mengganggunya. Dan anehnya, tak ada sedikitpun rasa kesal ataupun marah terhadap Jiae. Eunhyuk benar-benar bingung dengan dirinya saat ini.

"Eomma!" baik Eunhyuk maupun Jiae sama-sama menolehkan pandangan mereka ke arah sumber suara dan mendapti Hoya yang tengah menatap sang eomma dan saudara tirinya dengan tatapan malas.

"Waeyo, chagi?" tanya Jiae tanpa pergi dari tempatnya.

"Appa menunggu di ruang makan." Ujar Hoya datar. Jiae tersenyum seraya mengangguk mengerti. "Bilang pada appa, kami akan menyusul sebentar lagi." Balas Jiae. Hoya mengangguk paham. Pasti sang eomma sedang membujuk namja kurang ajar itu untuk ikut sarapan bersama. Sungguh menyusahkan! Pikir Hoya sebal. Detik berikutnya Hoya pergi meninggalkan Eunhyuk dan Jiae.

"Mmp, ada baiknya kau bersihkan tubuhmu dulu ne Eunhyuk-ah!"

Deg!

Mendengar kalimat yang dilontarkan Jiae barusan sukses membuat Eunhyuk meremas rambutnya kuat. Kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit. Selain itu, Eunhyuk juga merasa bahwa tubuhnya sedikit bergetar.

"Eunhyuk-ah? Gwaenchana?" tanya Jiae panik.

.

"Ayo bersihkan tubuhmu!"

.

"Ayo bersihkan tubuhmu!"

.

"Ayo bersihkan tubuhmu!"

.

Eunhyuk memejamkan matanya rapat. Nafasnya semakin memburu seiring terngiangnya seruan-seruan yang ingin Eunhyuk lupakan malah terus terngiang di gendang telinganya.

"Eunhyuk-ah? Jangan membuat eomma khawatir chagi!" Jiae kembali meraba-raba wajah Eunhyuk. Namun detik berikutnya, Eunhyuk kembali seperti biasa kemudian melepaskan kedua tangan Jiae dari wajahnya.

"Kau pergilah dulu! Nanti aku menyusul." Ucap Eunhyuk dengan suara yang sedikit serak.

"Ta—"

"Aku baik-baik saja." Potong Eunhyuk cepat.

"B-baiklah..." Jiae tak mampu berbuat apa-apa lagi jika Eunhyuk sudah seperti ini. Untuk sekarang, Jiae hanya bisa mengalah dan menuruti apa yang Eunhyuk katakan.

"Jika terjadi sesuatu bilang pada eom—"

"Arra!" potong Eunhyuk cepat untuk yang kedua kalinya. Awalnya, Jiae merasa enggan untuk meninggalkan Eunhyuk karena ia yakin ada yang tak beres terhadap Eunhyuk. Tapi mau bagaimana lagi? Ia hanya ingin untuk mencoba mempercayai Eunhyuk.

BLAM

Pintu pun tertutup rapat. Eunhyuk menatap pintu yang baru saja ditutup oleh ibu tirinya. Setelahnya ia turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk... entahlah... entah untuk membersihkan tubuhnya atau malah hanya untuk membersihkan wajah dan mulutnya.

.

.

"Aku ikut!" seru Jb tetap pada keinginannya. Donghae menghela nafasnya lelah. Beruntunglah appa dan eomma tirinya sudah pergi memeriksa beberapa restaurant yang dirikan di Korea, sehingga Donghae tak perlu mendapat ceramah A sampai Z dari appa dan eomma tirinya.

"Semua yang kau inginkan sudah kau dapatkan! Apalagi yang kau mau dariku?" tanya Donghae kesal.

"Oh~ ayolah hyung! Kau ini galak sekali! Pantas saja kau terlihat tua setiap harinya. Hahaha..." Donghae menatap Jb tajam, candaan yang Jb lontarkan tak membuahkan tawa sedikitpun baginya. Candaan Jb malah terdengar seperti hinaan. Meskipun Donghae tau bahwa setiap candaan Jb merupakan kata lain dari hinaan.

Tanpa berlama-lama lagi, Donghae langsung pergi meninggalkan Jb yang masih asyik dalam dunianya.

"YA! Hyung!" seru Jb saat sadar bahwa Donghae telah meninggalkannya. Jb mendecih kesal seraya berjalan menuju garasi. Ia berniat untuk menyusul Donghae menggunakan mobil sport miliknya. Baru beberapa langkah ia berjalan, getaran tiba-tiba pada ponselnya sukses membuat Jb menghentikan langkahnya.

.

From : Jongjin Hyung

Subject : Meeting

Bisakah kita bertemu di club malam milikku?

Jangan lupa ajak Howon kesini!

.

.

CEKLEK!

"Annyeong~" Donghae masuk ke dalam apartement miliknya tanpa harus menunggu seseorang di dalam apartement membukakan pintu untuknya. Ia cukup menekan beberapa angka dalam pass machine yang ada pada pintu bagian luar.

"Hae-ah? Kau sudah kembali?" Jiae menghampiri Donghae dengan senyuman tulus yang tak pernah luntur dari bibirnya.

"Ne ahjumma. Seperti yang kau lihat." Balas Donghae seadanya.

"Apa kau sudah makan?" tanya Jiae khawatir.

"Aku sudah makan."

"Apa kau makan dengan baik saat di rumah?" tanya Jiae lagi.

"Ne, aku makan sangat banyak." Dusta Donghae. Kenapa ia harus berdusta? Jawabannya mudah saja, ia hanya tak ingin membuat Jiae khawatir. Donghae juga tak ingin terlalu merepotkan Jiae.

"Hhhh~ syukurlah kalau begitu." Ujar Jiae lega.

"Pasti eomma mu sangat senang karena masakan buatannya kau makan dengan banyak." Lanjut Jiae seraya membayangkan betapa senangnya eomma Donghae saat tau bahwa anaknya memakan masakan buatannya dengan sangat banyak. Pasti eomma Donghae amat sangat gembira, pikir Jiae.

'Ahjumma salah... aku hanya makan sedikit saat di rumah. Karena masakan yang di hidangkan bukanlah buatan eommaku, bukan juga buatan eomma tiriku. Melainkan... buatan seorang chef bayaran di rumah.' Miris Donghae dalam batinnya.

"Ah ne, mana Hyukkie?"

"Dia ada di kamarnya. Entah mengapa, Eunhyuk sedikit aneh hari ini. Di satu sisi, ahjumma senang karena Eunhyuk sepertinya sudah mau sedikit menerima keadaan ahjumma. Namun, di sisi lain ahjumma khawatir terhadap Eunhyuk." Jelas Jiae. Donghae menatap Jiae penasaran. "Khawatir? Memangnya Hyukkie kenapa?"

"Tadi pagi, saat ahjumma sedang membersihkan kamarmu dengannya, tiba-tiba saja dia terbangun sambil berteriak."

"Apa yang dia teriakkan?" Jiae terlihat menggigit-gigit bibir bawahnya, mencoba mengingat-ngingat kejadian tadi pagi.

"Kalau tak salah, Eunhyuk meneriakkan..." Jiae menjeda kalimatnya, sedangkan Donghae menatap Jiae tak sabaran.

"...shireo!"

"Ne?"

"Eunhyuk meneriakkan kata shireo saat ia terbangun tadi pagi. Sepertinya ada sesuatu yang tak beres. Setiap kali ahjumma tanya, ia hanya akan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ahjumma khawatir sekali!" jelas Jiae.

"Coba kau temui dia. Siapa tau saja Eunhyuk mau bercerita padamu." Setelah Jiae menyelesaikan kalimatnya, Donghae langsung berlari menuju kamarnya tanpa memperdulikan tatapan bingung Jiae.

Di lain sisi, terlihat Hoya dan Tuan Lee yang tengah asyik menonton televisi. Acara komedi ternama di Korea kini tengah menjadi tontonan mereka berdua.

"Ahahaaa~ jangan sampai kau menjadi orang bodoh seperti itu Howon-ah! Hahaha..." seru Tuan Lee di sela tawanya.

"Hahaha.. ne appa!" balas Hoya ikut tertawa.

Ddrrrtt... ddrrtt...

Hoya melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Tangannya bergerak untuk mengambil ponsel miliknya agar ia bisa tau siapa yang telah berani mengganggu aktivitas menonton tv nya.

.

From : JB

Subject : [None]

Sebentar lagi aku akan menjemputmu di depan apartement Hae hyung!

.

'Aishh... jinja! Dasar bocah gila!' rutuk Hoya karena Jb telah mengganggu kesenangannya bersama appa tirinya.

"Appa, sepertinya aku harus pergi." Ucap Hoya. Tuan Lee melirik Hoya sekilas kemudian kembali fokus pada acara komedi di layar kaca.

"Kemana?" tanya Tuan Lee tanpa menatap Hoya.

"Mmp... ke rumah teman! Ada urusan sebentar." Dusta Hoya karena sebenarnya ia tak tau Jb akan membawanya kemana.

"Baiklah... usahakan saat jam makan malam kau sudah di rumah!"

"Ne, appa!"

.

.

Donghae masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya menutup pintunya rapat secara perlahan. Matanya menatap sendu Eunhyuk yang sedang tertidur dengan posisi miring yang secara otomatis membelakanginya. Ia melangkahkan kakinya mendekati Eunhyuk tanpa suara. Donghae naik ke atas ranjang secara perlahan, kemudian memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Tangannya tiba-tiba saja bergerak menyentuh lengan Eunhyuk. "Eunhyuk-ah?"

Eunhyuk terkejut seraya membalikkan badannya ke arah Donghae. Dan saat itu pula, kini malah Donghae yang terkejut saat melihat tatapan yang terpancar dari mata Eunhyuk. Tatapan mata yang terlihat tenang, namun ada sedikit kebingungan dan ketakutan di sela ketenangannya. Sungguh berbeda dengan tatapan mata Eunhyuk yang biasanya selalu tajam, dan selalu mencoba mengintimidasi lewat tatapannya.

"Gwaenchana?" tanya Donghae memastikan keadaan Eunhyuk yang tak kunjung mengeluarkan suaranya.

"Gwaenchana..." jawab Eunhyuk pelan. Donghae menatap Eunhyuk sendu. Bisa-bisanya Eunhyuk berbohong padanya di saat kondisinya benar-benar harus di pertanyakan.

"Jinjayo?" tanya Donghae sekali lagi. Ia tak percaya jika Eunhyuk baik-baik saja. Bukannya Donghae tak senang jika Eunhyuk baik-baik saja, hanya saja ia merasa bahwa ada sesuatu yang janggal dalam keterdiaman Eunhyuk.

Dan perkiraannya itu memang terbukti benar adanya. Terlihat dari tingkah Eunhyuk yang kini malah diam dan belum merespon pertanyaan terakhirnya. Donghae mencoba mengubah posisi tidur Eunhyuk menjadi terduduk dengan kedua tangannya. Beruntunglah Eunhyuk menurut dan tak menolak apa yang Donghae lakukan terhadap dirinya.

"Apa appa mu menyakitimu?" tanya Donghae sambil meremas kedua lengan Eunhyuk. Eunhyuk terdiam, ia tak menjawab. Dari sorot matanya, Eunhyuk terlihat kebingungan.

"Gwaenchana... ceritakan saja padaku!"

PLAK!

Donghae menatap Eunhyuk penuh tanya. Namja manis di hadapannya baru saja menepis kedua tangannya.

"Eunh—"

"Jangan sentuh aku! Jangan ganggu aku! Jangan dekati aku! Jangan bicara padaku!" Eunhyuk bangkit dari atas ranjangnya. Kemudian ia berjalan mendekati lemari.

"Kau mau kemana?" tanya Donghae panik.

"Kau tak perlu tau!" seru Eunhyuk seraya mengambil salah satu jacket dalam lemari pakaian Donghae.

"YA! Eunhyuk-ah!" Eunhyuk tak peduli pada Donghae. Ia malah berjalan mernuju pintu berniat keluar dari dalam kamar.

"Kau tak boleh pergi kemana-mana jika aku tak mengizinkan!"

"BERISIK!"

"INI ADALAH PERINTAH!"

Eunhyuk menghentikan langkahnya, namun detik berikutnya ia mendecih pelan seraya melenggang pergi dari hadapan Donghae. Meninggalkan Donghae yang kini mengacak-ngacak rambutnya kasar. Ia bingung pada Eunhyuk yang selalu berbohong padanya, ia juga bingung pada dirinya sendiri yang tak pernah bisa meluluhkan hati Eunhyuk. Jika sudah begini ia harus bagaimana?

.

.

"Mmp, tolong tunggu sebentar ne ahjussi! Aku harus mengambil uangku di dalam apartement itu. Aku bersumpah, aku tak bohong!" mohon Eunhyuk untuk yang kesekian kalinya.

"Hhh~ baiklah!" balas seorang ahjussi yang notabene seorang sopir taxi. Eunhyuk tersenyum kikuk mendengarnya.

"Gomawo ahjussi!"

"Jika kau berbohong aku akan melaporkan mu ke polisi!" ancam sopir taxi itu.

"Ne!" seru Eunhyuk mantap. Detik berikutnya, Eunhyuk langsung keluar dari dalam mobil. Dan tepat saat ia menutup pintu taxi yang di tumpanginya, teriakan seseorang membuat Eunhyuk merasa bahwa Dewi Fortuna kini berada di pihaknya.

"HYUKKIE HYUNG?!" Eunhyuk tersenyum senang melihat siapa yang tengah berdiri beberapa meter dari tempatnya ia berdiri.

"Siwon-ah!" seru Eunhyuk seraya berlari mendekati Siwon.

"Kemana saja kau selama ini hyung?" Eunhyuk membulatkan matanya terkejut. Siwon tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat. Badannya sedikit bergetar saat Siwon menghembuskan nafasnya tepat di lehernya. Eunhyuk bingung apakah ia harus membalas pelukan Siwon atau tidak.

"Bogoshipo hyung~" ada rasa tak enak di hati Eunhyuk mendengar kalimat Siwon yang menurutnya tepat mengenai hati kecilnya. Perlahan namun pasti, Eunhyuk balas memeluk Siwon.

"Mmp... n—na.. do..." balas Eunhyuk kikuk. Bukan, Eunhyuk bukan kikuk karena ia tak mau mengatakan itu. Hanya saja, ia merasa tak nyaman saat menyadari bahwa sopir taxi itu masih setia menatap pergerakannya dari kejauhan.

"Siwon-ah..." bisik Eunhyuk pelan.

"Hm?"

"Pinjami aku uang!" Siwon menaikkan sebelah alisnya bingung. Kemudian ia melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Eunhyuk.

"Ne?"

"Pinjamkan aku uang untuk membayar taxi itu." Bisik Eunhyuk sambil memberi kode pada Siwon lewat tatapan matanya untuk melihat taxi yang Eunhyuk maksud. Siwon yang mengerti langsung mengalihkan pandangannya pada taxi yang Eunhyuk maksud.

"Ah~ kalau begitu kau tak usah pinjam!"

"Lalu?"

"Aku akan bayar taxi itu untuk mu, tapi jangan di jadikan sebagai hutang. Anggap saja aku sedang mentraktirmu!"

"Baiklah..." Siwon tersenyum mendengarnya. Detik berikutnya Siwon berlari menghampiri taxi yang sepertinya kesal menunggu sedari tadi.

"Ini uang nya ahjussi!" seru Siwon seraya menyerahkan beberapa lembar won.

"Ambil saja kembaliannya. Anggap saja kembalian itu sebagai ganti rugi karena teman ku telah membuat ahjussi menunggu lama disini." Tambah Siwon.

"Ah ne.. ne.. gomawo!" seru sopir taxi itu kesenangan melihat berlembar-lembar won di tangannya.

.

.

"Bagaimana? Apa masih tak bisa dihubungi Siwoh-ah?" tanya Eunhyuk gemas. Siwon menjauhkan ponsel dari telingaya sambil menghela nafasnya lelah.

"Tetap mail box..." jawab Siwon menyerah. Ia menyimpan ponselnya di atas meja seraya memijat pelipisnya pelan.

"Aisshh... kemana anak itu?" heran Eunhyuk. Padahal, dengan kepergiannya dari apartement Donghae, Eunhyuk berharap bahwa keputusannya untuk pergi ke apartement Siwon ini bisa membuat kepenatannya berkurang dengan berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya.

CEKLEK!

"Eunhyuk hyung?!" Siwon dan Eunhyuk mengalihkan pandangan mereka ke arah In Guk yang baru saja masuk dengan sebuah kantung plastik besar di tangannya.

"Gukkie~" Eunhyuk berlari ke arah In Guk, kemudian memeluk namja itu dengan senyuman riang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Pelukan Eunhyuk terhadap In Guk berhasil membuahkan sebuah senyuman kemenangan bagi In Guk, namun berbanding terbalik dengan Siwon yang kini menatap In Guk sebal.

Entah mengapa, Eunhyuk tak ingin melepaskan pelukannya terhadap In Guk sampai-sampai ia tak menyadari kedua sahabatnya yang kini tengah berperang melalui tatapan mata mereka masing-masing.

'Ternyata selama ini In Guk memang 1 poin lebih unggul dariku...' batin Siwon miris.

Perlahan namun pasti, In Guk menggerakkan sebelah tangannya untuk membalas pelukan yang di berikan oleh Eunhyuk, sekaligus untuk memanas-manasi Siwon. Namun, saat tangan In Guk melingkar sempurna di pinggang Eunhyuk, namja manis itu malah terkejut dan refleks mendorong tubuh In Guk lalu menampar pipinya keras. Baik In Guk maupun Siwon kini sama-sama menatap Eunhyuk bingung.

"Aigo!"

"YA! Hyung! Kenapa kau menamparku? Apa salahku?" marah In Guk tak terima atas tamparan yang diterimanya. Sebenarnya In Guk tak benar-benar marah pada Eunhyuk, karena mana bisa ia marah pada orang yang dicintainya? In Guk hanya ingin tau kenapa namja manis itu tiba-tiba saja menamparnya. Pasalnya, ia tak melakukan kesalahan apa-apa terhadap Eunhyuk.

"A-eum... mianhae!" seru Eunhyuk setelah sadar apa yang telah ia lakukan terhadap In Guk. Ia juga bingung terhadap tindakannya yang tiba-tiba saja menampar In Guk. In Guk menaikkan sebelah alisnya bingung. Eunhyuk di hadapannya benar-benar aneh.

"Hah... sudahlah..." pasrah In Guk seraya berjalan menghampiri Siwon dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan Siwon. Eunhyuk masih kaget atas tindakannya. Ia menatap tangannya yang tadi ia gunakan untuk menampar pipi In Guk.

"Sudahlah hyung!" seru In Guk membuyarkan keterkejutan Eunhyuk. Namja manis itu langsung menghampiri In Guk dan ikut duduk di sofa yang sama dengan In Guk.

"A-aku... mian, Gukkie-ah... aku..."

"Sudahlah, lupakan saja~" balas In Guk membuat Eunhyuk menggelengkan kepalanya tak setuju.

"Oh ayolah~ jangan seperti itu! Aku tak sengaja, kumohon maafkan aku..." pinta Eunhyuk penuh harap. Mendengar itu, In Guk mencoba untuk mengerti. Ia menolehkan kepalanya ke arah Eunhyuk seraya menyunggingkan senyumannya.

"Hhh... Ini! Aku bawakan makanan untuk mu!" ucap In Guk mengalihkan pembicaraan agar Eunhyuk berhenti meminta maaf kepadanya. Karena jujur saja, In Guk tak benar-benar marah terhadap Eunhyuk.

In Guk meletakkan kantung plastik yang tadi di bawanya di atas meja. Dan perhatian Eunhyuk pun langsung teralihkan. Tangannya kini sibuk mengobrak-abrik isi kantung plastik itu, sedangkan matanya sibuk mencari-cari makanan ringan yang sudah lama tak ia makan.

"Apa makanan itu hanya untuk Hyukkie hyung saja?" tegur Siwon. In Guk mendelikkan matanya tanda tak suka.

"Tentu saja! Tak mungkin kan jika aku bersusah payah membeli makanan sebanyak ini hanya untukmu?!" balas In Guk pedas seperti biasa.

"YA! Tak bisakah kau berbaik hati sedikit padaku?!"

"Aniya! Wae?"

"YA! Seo In G—" Eunhyuk menyumpalkan sebuah roti ke dalam mulut Siwon, sebelum pertengkaran ini semakin jauh.

"Hyung~ kenapa kau memberikan makananmu padanya?!" tanya In Guk tak suka. Bukannya menjawab, Eunhyuk malah menyumpalkan sebuah pisang ke dalam mulut In Guk.

"Jangan ada yang bersuara saat makan ne~" ujar Eunhyuk mengingatkan keduanya agar tak membuat keributan. Namun detik berikutnya, ia baru ingat bahwa ada sesuatu yang kurang di antara mereka.

"Ah ne!" seru Eunhyuk membuat Siwon dan In Guk memfokuskan pandangan mereka ke arah Eunhyuk.

"Dimana Sungmin sebenarnya?" Eunhyuk menundukkan kepalanya sedih.

"Geokjeonghajima~"

"Ne?" Siwon dan Eunhyuk menatap In Guk tak percaya. Bisa-bisanya In Guk mengatakan 'geokjeonghajima' atas ketidakberadaan Sungmin yang entah dimana.

"Jangan menatapku seperti itu!" protes In Guk. "Semalam, aku mendapatkan e-mail dari Sungmin!"

"Aisshh.. tak bisakah kau gunakan embel-embel 'hyung' padanya, eoh? Dia itu lebih tua darimu!" sindir Siwon mengingatkan yang di balas delikan kesal oleh In Guk.

"Apa isi e-mail nya?" tanya Eunhyuk penasaran.

"Katanya dia sedang berada di Jepang sekarang. Dia berpesan bahwa kita jangan terlalu mengkhawatirkannya." Jawab In Guk.

"Jepang? Sedang apa Sungmin hyung disana?" kini giliran Siwon yang bertanya.

"Entahlah... isi e-mail nya hanya seperti itu. Saat aku bertanya sedang apa ia di Jepang, Sungmin hanya menjawab bahwa ia akan segera pulang. Setelahnya, Sungmin tak membalas lagi balasan e-mail dariku." Jelas In Guk apa adanya.

"Syukurlah kalau memang seperti itu..." ucap Siwon lega. Lain hal nya dengan Eunhyuk yang belum sepenuhnya percaya. Ia yakin bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sungmin.

"Eunhyuk hyung!" panggil In Guk.

"Hm?"

"Kemana saja kau selama ini?" tanya In Guk.

"Ah ne! Kau membuat kami khawatir hyung!" seru Siwon.

"Rencananya, jika kita berdua masih belum bisa menemukan mu, Siwon akan melaporkan kehilangan mu pada polisi!" adu In Guk.

"Mwoya?!" Eunhyuk menatap Siwon tak percaya.

"Ayo! Ceritakan pada kami kemana saja kau selama ini?" tanya In Guk tak sabaran.

"A-aku... ada saja di rumah!" dusta Eunhyuk yang dapat di tebak oleh Siwon dan In Guk.

"Rumah? Rumah yang mana?" heran Siwon.

"Bukankah rumah mu sudah habis terbakar?" celetuk In Guk membuat Eunhyuk harus kembali berpikir memikirkan jawaban atau mungkin lebih tepatnya dustaan yang tepat dan masuk akal.

"Jadi, selama beberapa hari belakangan ini, aku... dan 'yang lainnya' mencari rumah sewaan. Dan setelah dapat rumah sewaan yang murah, k—ka—kam—k—kami... menata rumah bersama-sama..." ucap Eunhyuk susah payah. Siwon dan In Guk melakukan contact eyes tanda mereka ragu.

"Benarkah?"

"Kenapa bicaramu gugup seperti itu hyung?"

"Biasanya orang gugup itu menandakan bahwa ia berbohong!"

"Y-YA! Aku tak berbohong!" bela Eunhyuk.

"Aku tak percaya!" seru Siwon pada pendiriannya.

"Ne!"

"Aish... kalian ini! Seperti tak tau aku saja. Kalian tau kan?! A-mmp, aku.. aku hanya bingung harus menjelaskan mengenai keadaan ku dan 'mereka' seperti apa..."

"Mereka?"

"Mereka siapa?"

"Kalau bicara ya—"

"APPA, EOMMA TIRI DAN NAMDONGSAENG TIRIKU!" bentak Eunhyuk sebal.

.

.

Hoya berjalan mengikuti Jb dari belakang, menelusuri bangunan club malam yang sangat sepi mengingat hari masih siang.

"Jb-ah..." panggil Hoya pelan.

"Hm?"

"Sebenarnya kita akan bertemu siapa?" tanya Hoya penasaran.

"Kau akan tau nanti." Jawab Jb seadanya. Hoya hanya mampu mendecak sebal melihat tingkah Jb yang tak pernah berubah.

Dari kejauhan, Hoya melihat dua orang namja berpakaian serba hitam lengkap dengan kaca hitam mereka tengah berdiri dalam diam di depan sebuah pintu berlapis emas. Mereka berdua berjalan menghampiri dua namja bertubuh besar itu. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dua orang namja bertubuh besar itu langsung mempersilahkan Jb untuk masuk. Namun, saat Hoya hendak masuk, salah seorang dari mereka menahan pergelangan tangannya.

"Siapa kau?" selidik namja bertubuh besar itu.

"Lepaskan dia! Dia temanku, teman Jongjin hyung juga!" seru Jb. Namja bertubuh besar itupun melepaskan tangan Hoya.

'Ah~ bertemu Jongjin hyung rupanya...' batin Hoya.

"Maafkan saya. Silahkan masuk!"

"Tuan muda sudah menunggu di dalam."

Jb langsung melenggang masuk begitu saja saat pintu terbuka tanpa mengucapkan terima kasih atau sebagainya. Lain hal nya dengan Hoya yang sedikit menundukkan badannya sebagai tanda bahwa ia menghargai apa yang telah kedua namja bertubuh besar itu lakukan.

"Akhirnya kalian datang juga!" seru Jongjin tatkala kedua namja yang sedari ia tunggu akhirnya datang juga.

"Kemarilah!" seru Jongjin mengisyaratkan Jb dan Hoya untuk ikut duduk di sofa mahal miliknya. Mereka bertiga duduk di sofa yang berbeda. Seperti biasa, Jb yang notabene tak punya sopan santun, langsung menaikkan kedua kakinya ke atas meja tanpa memperdulikan decakan mengejek Jongjin dan pelototan Hoya.

"Na'ah~ apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jb to the point. Jongjin hanya bisa tersenyum menindir atas sikap Jb yang terlalu to the point.

"Kenapa kau tak langsung menghabisi Lee Hyukjae?" tanya Hoya tiba-tiba membuat Jb menatap Hoya heran dan Jongjin tersenyum mendengarnya.

"Untuk itulah aku menyuruh kalian datang kesini!" balas Jongjin dengan riangnya.

"Ne?"

"Aku memang belum melakukan sesuatu yang ekstrim terhadap Hyukjae. Namun, keberadaan ku sepertinya cukup membuat pikirannya terganggu." Ujar Jongjin.

"Memangnya apa saja yang telah kau lakukan padanya?" tanya Jb antusias. Mendengar Jb bertanya seperti itu, Jongjin tersenyum mesum mendengarnya. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya seraya mengusap-ngusap dagunya dengan telunjuknya.

"Yah... hanya sedikit bermain-main dengan bibir cherry nya!" seru Jongjin sambil mengingat-ngingat betapa manisnya bibir Eunhyuk saat ia lumat semalam.

"Hanya itu? Aku tak yakin kau hanya melakukan itu." Sindir Jb mengingat ia tau persis seperti apa hasrat sexual Jongjin.

"Dasar peramal gadungan!"

"Tapi aku benar kan?!"

"Hmm... yah, kau benar! Selain bermain dengan bibir cherry itu..." Jongjin menjeda kalimatnya agar perbincangan ini terdengar lebih menarik.

"...aku juga sedikit bermain dengan leher jenjangnya, bahu putihnya, dan..."

"Dan?" Jb merasa gemas pada Jongjin yang selalu menjeda-jeda kalimatnya. Begitupun dengan Hoya.

"...sedikit meremas bokongnya!" seru Jongjin dengan seringaiannya membuat Hoya sedikit bergidik ngeri.

"Ahahahaa~ sudah kutebak pasti kau melakukan itu! Daebak! Daebak!" tawa Jb senang.

"Lalu apa efeknya jika kau hanya berbuat konyol seperti itu padanya?" tanya Hoya tak puas atas apa yang telah Jongjin lakukan.

"Bagaimana tingkah Hyukjae saat aku pulang?" tanya balik Jongjin. Hoya terdiam, ia mencoba mengingat-ngingat bagaimana tingkah hyung tirinya sedari tadi pagi.

"Dia... banyak diam, wajahnya terlihat murung, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar." Jawab Hoya seadanya.

"Itulah efeknya!" seru Jongjin senang.

"Bukankah biasanya ia tak seperti itu?" tanya Jongjin lagi membuat Hoya berpikir 2x lebih keras. Berbicara dengan orang seperti Jongjin memang sedikit menyusahkan. Tapi, jika dipikir-pikir apa yang di katakan Jongjin memang benar. Sejak tadi pagi Eunhyuk memang lebih banyak diam. Ia juga merasa bahwa hyung tirinya itu selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Tapi, itu bisa saja terjadi karena ketidakberadaan Donghae di apartement. Tapi ada atau tidak adanya Donghae sepertinya tidak ada hubungannya. Terbukti dari perbandingan sikap Eunhyuk saat makan malam dan saat sarapan bersama tadi pagi.

"Hey! Kenapa kau melamun?!" tegur Jongjin.

"Dia biasa seperti itu hyung!" ejek Jb membuat Hoya mendelik tak suka terhadapnya.

"Lalu kapan kau akan melakukan hal ekstrim pada namja itu?" tanya Hoya penasaran.

"Aku tak bisa sembarangan bertindak jika kalian terus tinggal di apartement itu! Terlalu berbahaya!" seru Jongjin.

"Apanya yang bahaya? Jika kau tertangkap basah, kau bisa gunakan uangmu bodoh! Bukankah kau orang kaya?!" sindir Jb.

"Untuk masalah ini berbeda! Jika aku tertangkap basah, aku bisa saja mengandalkan peran uang untuk membebaskan ku dari hukum. Tapi bagaimana nantinya dengan nama baik keluargaku? Think smart boy~" balas Jongjin.

"Begini saja, Jongjin hyung akan menyediakan sebuah rumah untuk kalian agar dia lebih mudah untuk segera melakukan hal ekstrim itu tanpa harus mencemarkan nama baik keluarganya!" usul Jb.

"Boleh juga..." respon Jongjin.

"Jongjin hyung bisa saja menyediakan beribu-ribu rumah untuk tempat tinggal kami yang baru. Tapi, apa hyung mu bisa melepaskan namja jalang itu begitu saja?" tanya Hoya mengingatkan.

"Hae hyung maksudmu?" tanya Jb memastikan.

"Jika bukan dia siapa lagi? Hae hyung tak akan melepaskan namja jalang itu begitu saja karena dia sepertinya telah jatuh cinta pada namja jalang itu!"

"Tenang saja... jangan panggil aku Wong Jong Jin jika aku tak bisa mengatasi hal kecil seperti ini!"

.

.

Hari kini berganti dari selasa menjadi rabu. Waktu memang cepat berlalu. Kini jam telah menunjukan pukul 06:30, namun sepertinya Eunhyuk masih enggan terbangun dari tidurnya. Lain halnya dengan In Guk yang tidur di samping Eunhyuk kini sudah tak bisa menahan lagi perasaannya. Ia lelah berpura-pura tidur. Genggaman tangan Eunhyuk membuatnya mau tak mau kesulitan untuk tidur.

"Nghh..." lenguhan pelan keluar dari bibir manis Eunhyuk. Badannya mulai bergerak-gerak menandakan bahwa sebentar lagi ia akan terbangun.

"Pagi hyung!" sapa In Guk saat Eunhyuk masih dalam keadaan setengah sadar. Namja manis di hadapannya kini sedang berusaha mengumpulkan nyawanya.

"Eoh? Kau sudah bangun?" tanya Eunhyuk sambil mengucek-ngucek matanya yang gatal.

"Hm.. seperti yang kau lihat." Jawab In Guk sambil tetap menatap wajah manis Eunhyuk. Eunhyuk yang merasa di perhatikan secara tak biasa oleh In Guk akhirnya pun menoleh.

"Wae?" tanya Eunhyuk risih. Namun In Guk tak menjawab, ia malah terus menatap Eunhyuk membuat namja manis itu menjadi salah tingkah. Dan detik itu pula, Eunhyuk baru sadar bahwa tangannya masih menggenggam tangan In Guk dari semalam.

.

Flashback On

.

"Hyung?" tegur In Guk saat di rasa bahwa namja manis di sampingnya belum tertidur.

"Gwaenchana?" tanya In Guk sekali lagi karena Eunhyuk tak kunjung meresponnya.

"A-aku, tak bisa tidur." Adu Eunhyuk jujur apa adanya. In Guk menaikan sebelah alisnya heran. Sepertinya, Eunhyuk yang berada di depan matanya benar-benar sudah berubah. Tapi... siapa yang membuat namja yang di cintainya berubah seperti ini?

"Setauku kau tak punya penyakit insomnia hyung!" seru In Guk mengingatkan.

"Aku memang tak insomnia!"

"Lalu?"

"A-aku..."

"Aku?"

"Aku... takut akan mimpi buruk." In Guk tersenyum tipis mendengarnya.

"Mau coba menggenggam tanganku?" tawar In Guk seraya mengulurkan tangannya. Eunhyuk diam tak merespon. Ia malah setia menatap telapak tangan In Guk.

"Setiap orang yang menggenggam tanganku sepanjang malam, kujamin ia tak akan mimpi buruk!" seru In Guk dengan bangganya.

"Tsk, konyol!" cemooh Eunhyuk.

"Kau tak akan pernah tau jika belum mencoba hyung!"

"Geure! Aku akan menggenggam tangan mu! Jika aku masih mimpi buruk, aku akan memukulmu besok!"

"Okay!" Eunhyuk menatap telapak tangan In Guk ragu. Haruskah?

"Kau mau atau tidak?" tanya In Guk tak sabaran melihat Eunhyuk yang masih terdiam. Perlahan, tangan Eunhyuk bergerak menggenggam tangan In Guk. Ada sedikit rasa aneh saat permukaan kulitnya bersentuhan dengan kulit In Guk. Pundaknya tiba-tiba saja sedikit bergidik merasakan sesuatu yang membuatnya kembali merasakan ketakutan 'itu'.

Baru satu inchi Eunhyuk mengangkat tangannya, In Guk sudah terlebih dahulu menahannya agar tangan mereka saling menggenggam.

"Semuanya akan baik-baik saja hyung~" In Guk menatap Eunhyuk yang balas menatapnya. Sebisa mungkin In Guk memberikan kenyamanan dan keamanan lewat tatapan mata dan genggaman tangannya.

.

Flashback off

.

"Bagaimana?" tanya In Guk membuyarkan lamunan Eunhyuk.

"Bagaimana apanya?" tanya balik Eunhyuk pura-pura tak mengerti. Jelas-jelas ia tau apa yang In Guk tanyakan. Namun In Guk tak menjawab dan malah menatap Eunhyuk dengan tatapan menggoda.

"Aisshh... aku mau mandi!" seru Eunhyuk sebal. Ia melepaskan tangannya dan langsung melesat pergi ke kemar mandi.

BLAM!

Pintu kamar mandi pun tertutup. In Guk hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Eunhyuk. Sebenarnya, Eunhyuk tak akan mengalami kerugian apapun jika ia mengatakan yang sesungguhnya. Namun rasa gengsinya terlalu tinggi dan masih belum bisa ia kendalikan.

CEKLEK!

Tiba-tiba saja Eunhyuk menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.

"Gukkie-ah..."

"Hm?"

"Mmp... gomawo~"

"Untuk?"

"Tanganmu..."

BLAM!

Dan akhirnya, pintu pun kembali tertutup menyisakan In Guk yang kini tengah tersenyum senang. Detik berikutnya, In Guk menolehkan kepalanya ke arah sudut kanan atas langit-lagit kamar dimana terdapat kamera cctv yang sengaja Siwon pasang disana. In Guk mengepalkan tangannya kemudian ia arahkan pada cctv di sudut kanan atas, tiba-tiba saja kepalan tangannya ia ubah menjadi ibu jari yang di hadapkan kebawah.

Dan di lain sisi, Siwon terlihat geram atas apa yang ia lihat pada monitor pengintai seluruh ruangan dalam apartementnya yang berada di dalam kamarnya.

.

.

"Whoa~ senang rasanya bisa kembali ke kampus ini!" seru Eunhyuk senang. Mereka bertiga berjalan melewati orang-orang di koridor kampus yang kini sedang membicarakan Eunhyuk.

"Jangan pedulikan mereka hyung!" bisik Siwon menenangkan.

"Memangnya siapa yang peduli?!" balas Eunhyuk ketus.

"Na'ah, aku masuk duluan ya!" seru In Guk saat sampai di kelasnya.

"Ne!/hmm!" balas Eunhyuk dan Siwon berbarengan. Mereka terus saja berjalan tanpa membuat sebuah percakapan sedikitpun. Lama mereka terdiam hingga akhirnya mereka sampai di kelas. Alangkah terkejutnya Eunhyuk saat masuk ke dalam kelasnya. Ia ingin sekali lari, namun disisi lain jika ia melakukan itu maka Siwon akan curiga terhadapnya. Lee Donghae, namja yang tak ingin ia temui saat ini malah duduk dengan tenang di bangku miliknya saat dulu. Ya! Dulu, sebelum akhirnya Donghae merebut bangku miliknya.

.

Flashback On

.

Eunhyuk masuk ke dalam kelas nya dan melangkah cepat menuju bangku nya. Langkah nya memelan seketika hingga akhir nya berhenti begitu saja tatkala mendapat kan sosok seorang namja yang tengah tertidur di bangku nya. Namja itu tertidur dengan posisi menenggalamkan wajah nya di atas meja, sehingga Eunhyuk tak dapat mengenali siapa namja yang tengah tertidur di bangku nya itu. Eunhyuk tak langsung menegur namja tersebut karena ia ingin tau terlebih dahulu siapa namja itu. Jika namja yang sedang tidur tersebut adalah teman satu kelas nya, maka ia tak segan-segan untuk membangunkan nya dengan cara yang tak bersahabat, namun jika namja tersebut bukan teman sekelas nya, maka ia akan mencoba untuk membangunkan nya dengan cara yang baik-baik(jika ia bisa). Jika dilihat dari penampilan nya, sepertinya namja yang sedang tertidur itu bukanlah teman sekelas nya. Pakaian yang dikenakan namja tersebut terlihat lebih keren, dan sepertinya harga nya mahal.

"YA! YA! Kau, yang disitu!" teriak Eunhyuk seraya menunjuk-nunjuk seorang namja yang duduk tak jauh dari bangku nya berada.

"Aku?" tanya namja itu memastikan sambil menunjuk wajah nya dengan jari telunjuk nya sendiri.

"Kau tau siapa namja ini?" tanya Eunhyuk sambil menunjuk namja yang tengah tertidur dengan dagu nya. Namja yang ditanya Eunhyuk barusan hanya diam, enggan menjawab. Air muka nya terlihat bingung serta panik. Eunhyuk yang melihat teman sekelas nya itu menaikan sebelah alis nya dan kembali menatap namja yang tengah tertidur di bangku nya.

"Ya! Ya! Ireona!" tangan nya ia gunakan untuk memukul-mukul lengan namja yang sedang tertidur itu. Pada awal nya namja itu tak memberikan respon sedikit pun, namun tak lama setelah itu namja tersebut bergerak secara perlahan hingga akhirnya Eunhyuk dapat benar-benar melihat siapa namja yang kini berada di dahadapan nya.

"K-KAU!"

"Annyeong, Hyukkie-ah~" sapa namja itu dengan rambut yang sedikit berantakan.

"YA! Apa yang kalukan disini? Menyingkir dari bangku ku!"

.

Flashback Off

.

"Hyung gwaenchana?" Eunhyuk terbuyar dari lamunannya, dan saat itupula ia baru sadar jika seisi kelas kini sedang menatap kearahnya, termasuk Donghae. Detik berikutnya, Eunhyuk berjalan kikuk menuju bangkunya yang tepat berada di antara Siwon dan Donghae. Siwon yang melihat itu hanya mampu menghela nafas lelah kemudian ikut berjalan ke arah bangkunya. Lain halnya dengan Donghae yang kini membuang wajahnya saat Eunhyuk meliriknya.

'Donghae?' heran Eunhyuk melihat Donghae yang tak seperti biasanya.

Tap! Tap! Tap!

Seorang dosen masuk ke dalam kelas dengan sebuah papan yang menjepit beberapa kertas. Ia mengambil posisi berdiri di atas podium mini seraya merapihkan kertas-kertas di tangannya. Mata tajamnya mengabsen satu per satu mahasiswa yang kini duduk dalam diam di bangku mereka masing-masing.

"Lee Hyukjae!" Eunhyuk menatap sang dosen penuh tanya.

"Ne!"

"Saya turut berduka cita atas terbakarnya rumahmu ne!" seru dosen tersebut membuat seluruh pasang mata mahasiswa kini fokus menatap Eunhyuk. Eunhyuk yang sedikit bingung mengapa dosennya berkata seperti itu hanya mampu mengangguk kikuk. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah Siwon untuk meminta penjelasan karena siapa tau saja Siwon tau apa saja yang terjadi selama ketidakhadirannya. Namun Siwon hanya membalasnya dengan kedipan mata yang tak bisa Eunhyuk mengerti sama sekali.

"Lee Hyukjae!" panggil dosen lagi.

"Ne?"

"Lain kali, tolong jangan absen terlalu lama karena team basket kampus ini tak bisa terus-terusan berlatih tanpa seorang kapten!"

"Ne! Maafkan saya, saya menyesal~" balas Eunhyuk pelan.

"Jika kau sampai absen lagi, posisimu sebagai kapten bisa saja terganti oleh anggota yang lain." Ucap sang dosen mengingatkan. Eunhyuk hanya mengangguk paham sebagai respon.

.

.

"Yah~ mau bagaimana lagi hyung?! Jika aku tak mengatakan itu, kau bisa saja di drop out dari kampus ini!" jelas Siwon untuk kesekian kalinya.

"Hhh~ terserah!" balas Eunhyuk malas.

"YA! Seo In Guk! Bantu aku menjelaskan pada Hyukkie-hyung!" pinta Siwon.

"Kau kan sudah menjelaskannya. Jika aku ikut menjelaskan, hasilnya akan tetap sama karena penjelasan yang akan ku ucapkan pada Eunhyuk hyung juga sama seperti penjelasan mu!" balas In Guk.

"Diamlah~ jangan bertengkar!" bentak Eunhyuk pada kedua sahabatnya.

"Hyu—"

"Baiklah! Baiklah! Gomawo ne~" potong Eunhyuk cepat sebelum Siwon dan In Guk kembali membuat keributan yang hanya akan membuat kepalanya penat.

"Hhhh..." helaan nafas lega keluar secara bersamaan dari mulut Siwon dan In Guk.

Eunhyuk kembali fokus pada makanannya tanpa memperdulikan Siwon dan In Guk yang kini tengah melakukan perang tatapan mata.

'Ingatlah Choi Siwon, aku lebih unggul 1 point darimu!' batin In Guk seraya menyunggingkan senyuman sinisnya.

'Hanya 1 point... itu tak terlalu berarti bagi posisiku!' batin Siwon balas menyunggingkan senyuman sinisnya.

'See?! Kali ini pun kau kalah 1 point lagi! Aku bisa duduk di samping Eunhyuk hyung!' In Guk menatap Siwon tajam.

'Tsk, bukankah posisi sepasang kekasih seharusnya saling berhadapan jika saat makan?' balas Siwon tak mau kalah.

Di lain sisi, kini Eunhyuk menatap kedua sahabatnya secara bergantian dengan tatapan heran. Apa yang terjadi selama ia tak bersama mereka? Kenapa kedua sahabatnya menjadi aneh seperti ini? Eunhyuk sedikit bergidik seraya bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan Siwon dan In Guk yang masih bertahan dalam perang tatapan dan batin mereka yang entah mengapa batin mereka satu sama lain saling bersahutan dalam satu arah pembicaraan.

.

.

Semilir angin sore berhembus menerpa wajah Eunhyuk. Hembusan-hembusan yang menerpa wajahnya seakan sedang membelai wajahnya. Sudah lama Eunhyuk tak datang ke tempat ini. Kakinya ia langkahkan menuju tembok pembatas. Perasaan rindu akan kebersamaan nya dengan ketiga sahabatnya menyergap begitu saja. Seharusnya, Siwon dan In Guk ada disini. Namun kali ini Eunhyuk sedang ingin sendiri. Ada sedikit rasa aneh dalam diri Eunhyuk. Dan ia sendiri menyadari sesuatu yang aneh itu.

'Kenapa Donghae menghindariku?' batin Eunhyuk bertanya-tanya. Ya! Seharian ini, meskipun ia dan Donghae berada dalam kelas yang sama, namun sampai detik ini Donghae belum bicara terhadapnya. Jangannya bicara, menyapa saja tak Donghae lakukan.

Donghae hanya akan melirik kearahnya, kemudian kembali membuang wajahnya. Ada apa dengan Donghae sebenarnya? Kenapa? Seharusnya ia yang seperti itu terhadap Donghae! Bukan Donghae yang seperti ini terhadapnya. Apa mungkin Donghae menghindarinya karena kemarin ia telah mengabaikan perintahnya?

"Hhh..." Eunhyuk tau bahwa ia telah menjual dirinya terhadap Donghae. Eunhyuk tau bahwa kini ia sudah tak punya hutang apa-apa lagi terhadap keluarga Cho. Tapi, apa salah jika Eunhyuk ingin sedikit menenangkan pikirannya sejenak? Apa salah? Apa tak boleh? Apa menenangkan pikiran merupakan suatu larangan?

Eunhyuk benar-benar ingin tenang. Pikiran dan jiwanya terganggu semenjak kedatangan Jongjin kemarin malam. Ia takut, amat sangat takut. Namja itu kini kembali dan mengincar tubuhnya seperti dulu. Eunhyuk ingin mengadu, namun ia tak tau harus pada siapa ia mengadu karena satu-satunya tempat ia mengadu hanyalah eomma kandungnya. Dan kini yeoja berhati malaikat itu sudah tak ada.

'Aku kembali Hyukjae-ah...'

Suara Jongjin! Tiba-tiba saja terngiang di gendang telinganya.

'Bertahun-tahun aku berusaha mencarimu, Hyukjae-ah...'

Tidak! Bayangan-bayangan buruk saat Jongjin mencumbui beberapa bagian tubuhnya kembali melintas dalam memory otaknya.

Eunhyuk meremas rambutnya kuat. Ingin sekali ia menghilangkan bayangan buruk itu. Namun ia tak bisa, bayangan-bayangan malam kemarin terus saja terputar dalam memory otaknya.

"Hikss..." Eunhyuk terisak. Jika kehidupannya sekarang akan kembali seperti dulu, ia lebih memilih untuk mati sekarang juga.

Eunhyuk menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia terus melakukan itu sampai ia pun memutuskan untuk naik ke atas tembok pembatas secara perlahan. Ia sedikit melirik ke bawah. Dan alangkah terkejutnya Eunhyuk saat menyadari bahwa tempat ini sangat tinggi. Eunhyuk kembali menarik nafasnya seraya merentangkan kedua tangannya.

.

.

Japanesse's Side

.

.

"Ahahahaa~" Sungmin terus saja tertawa sambil bergelayut manja pada lengan Kyuhyun. Kejadian yang menurutnya konyol beberapa menit yang lalu masih tergambar jelas dalam memory otaknya. Detik-detik saat Kyuhyun berjengit kaget dan langsung bersembunyi di balik tubuhnya yang lebih kecil benar-benar hiburan tersendiri bagi Sungmin saat ia dan Kyuhyun berada di dalam replika sebuah rumah sakit usang dalam film Insidious Chapter 2 yang di sediakan oleh pemilik Universal Studio Japan.

"Oh ayolah~ berhenti tertawa Lee Sungmin!" bentak Kyuhyun kesal. Namun, bukannya menurut Sungmin malah semakin terbahak-bahak. Kyuhyun yang merasa risih menghentikan langkahnya yang secara otomatis Sungmin pun ikut berhenti mengingat posisinya yang tengah bergelayut manja pada lengan Kyuhyun.

"Ahahahaa~ aigo~" Sungmin mengusap sudut matanya yang berair akibat tawanya yang benar-benar meledak.

"Aku menyesal mengajak mu kesini!" seru Kyuhyun cepat.

"Oh my Kyu~ aku benar-benar tak menyangka jika kau se-takut itu terhadap hantu! Ahahaa~ kupikir ka—"

"Sebaiknya kita pulang!" seruan Kyuhyun yang terdengar serius membuat Sungmin menelan bulat-bulat candaannya dalam sekejap. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya, namun ia tak bisa menahan perasaannya. Sebenarnya ia tak benar-benar bermaksud menertawakan Kyuhyun. Hanya saja, Sungmin hanya ingin membuat sebuah candaan sesuai saran Taejun. Namun sepertinya, candaannya salah besar.

Kyuhyun melepaskan tangan Sungmin dari lengannya, kemudian ia berjalan begitu saja membuat Sungmin makin merasa bersalah.

"Kyu~" panggil Sungmin seraya mengikuti Kyuhyun dari belakang. Sungmin berusaha untuk menyesuaikan langkah pendeknya dengan langkah panjang Kyuhyun.

"Mianhae~ aku menyesal..." sesal Sungmin. Kyuhyun tak merespon dan terus berjalan dalam diam.

"Kyu~ kumohon maafkan aku!" pinta Sungmin penuh harap. Namun Kyuhyun masih tak meresponnya.

Permintaan maaf Sungmin terus berlangsung sampai kini mereka berada di area parkir bersiap untuk pulang.

"Kyu~"

"Masuk!" perintah Kyuhyun tegas. Sungmin menundukkan kepalanya seraya masuk ke dalam mobil. Selanjutnya, Kyuhyun pun ikut masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya untuk segera pulang.

"Aku mo—"

"Jangan berisik! Aku sedang mengemudi!" potong Kyuhyun cepat. Sungmin menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Ia benar-benar menyesal atas candaan yang telah ia lontarkan terhadap Kyuhyun. Andaikata Kyuhyun tak suka candaannya pun, Sungmin tak pernah menduga bahwa Kyuhyun akan semarah ini terhadapnya.

Mungkin akan lebih baik jika ia melanjutkan penyesalannya dan ungkapan rasa bersalahnya pada Kyuhyun jika mereka sudah sampai di hotel.

Sungmin mengeluarkan ponselnya dalam saku celananya karena terasa mengganjal. Kemudian ia letakkan ponsel putih miliknya ke dalam loker kecil dalam mobil Kyuhyun. Setelahnya, ia mencoba mengurangi rasa gelisahnya dengan menatap jalanan dari balik jendela. Tanpa Sungmin sadari, Kyuhyun terus saja melirik-lirik ke arahnya yang kini mulai tertidur.

"Aku memaafkanmu... kkk~" bisik Kyuhyun seraya terkikik pelan. Ya! Kyuhyun sengaja pura-pura marah meskipun pada awalnya Kyuhyun benar-benar marah terhadap Sungmin. Kyuhyun sengaja melaukan itu agar namja manis di sampingnya tak sembarangan melontarkan candaan yang hanya akan membuatnya tersinggung.

Ddrrrtt... dddrrtt...

Kyuhyun melirik loker mobilnya yang mengeluarkan suara. Ah! Ponsel Sungmin ada di dalamnya. Ia sedikit menurunkan kecepatan mobilnya untuk melihat siapa yang telah mengirim pesan terhadap Sungmin. Siapa tau saja, ada namja lain yang sedang dekat dengan Sungmin. Karena jujur saja, selama ini ia selalu penasaran setiap kali ada yang menghubungi Sungmin. Dan saat ia bertanya pada Sungmin, namja manis itu hanya akan menjawab 'kau tak perlu tau!' atau 'bukan urusanmu!' yang akan membuat Kyuhyun semakin penasaran dan kesal di saat yang bersamaan.

Kyuhyun menepikan mobilnya di pinggir jalan. Setelahnya, ia membuka loker mobilnya dan langsung membuka kunci ponsel Sungmin.

"Taejun hyung?" heran Kyuhyun saat melihat sebuah nama dari layar ponsel Sungmin. Merasa penasaran, Kyuhyun pun memutuskan untuk membuka pesan tersebut.

.

From : Taejun Hyung

Subject : How?

Berhasilkah?

.

Kyuhyun mengeryitkan dahinya bingung. Berhasilkah? Taejun hyung? Mengirim pesan pada Sungmin? Apa maksudnya ini? Sejak kapan Taejun dan Sungmin saling bertukar pesan?

Tangannya tiba-tiba saja memutuskan untuk mengotak-ngatik inbox dan outbox dalam ponsel Sungmin. Dan detik itu juga Kyuhyun terkejut bukan main! Semua inbox dan outbox dalam ponsel ini berasal dari Taejun dan di tujukan pula untuk Taejun. Sejak kapan Taejun dan Sungmin menjadi akrab? Padahal, seingat Kyuhyun jika mereka bertiga sedang berkumpul, baik Sungmin maupun Taejun sama-sama tak menunjukan kedekatan di antara mereka. Tapi semua inbox dan outbox ini...

"K-Kyuhyun-ah...?"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.


Hhh~ akhirnya selesai juga chapter 13 nya! And W-O-W ! Naka rasa chapter ini adalah chapter terpanjang yang pernah Naka buat :3 Sengaja sih Naka bikin panjang, soalnya itung-itung sebagai tanda maaf dari Naka karena Naka ngga bisa lanjut ff ini dalam kurun waktu yang cepat T_T Mianhae ne karena Naka ngga bisa update kilat #bow

Yang penting kan ff nya masih Naka lanjut ;) Oh ya, kemaren kalau ngga salah di review ada yang bilang kalau Jongjin itu OC yah? Disini, Naka kasih tau ya~ Jongjin alias Wong Jong Jin itu bukan OC, tapi dia ulzzang ;) Yang belum tau Jongjin+Taejun, bisa di search di mpok gugel xD hehe.. Dan Naka juga mau minta maaf buat joyers yang minta buat perbanyakin scene KyuMin, Naka belum bisa menuhin itu

Soalnya, mulai sekarang ini Naka bakal fokus bahas konflik antara Eunhyuk, Donghae, Jongjin, Jb, Hoya, orang tua Donghae+orang tua Eunhyuk ;) tapi tetep kok Naka bakal masukin scene KyuMin juga meskipun ngga terlalu banyak ._. tapi Naka selalu berusaha untuk menamnbah scene KyuMin di setiap chapternya ;) Yosh! Mianhae atas segala kekurangan dalam ff ini #bow

Jeongmal gomawo bagi readers yang mau menyempatkan waktunya untuk membaca dan me-review ff abal ini :D Dan untuk "SIDERS", setiap harinya Naka selalu berdoa agar kalian mau me-review ff Naka barang sepatah atau dua patah kata. Asalkan kalian tau aja, meskipun Naka gak bales review-an kalian itu bukan berarti Naka gak baca. Naka selalu baca review dari kalian, dan Naka seneng bacanya :) Kritik dan saran Naka terima dengan senang hati ^_^

Wanna REVIEW AGAIN, please~? #puppyeyes

See U at Chap 14~