Happy Reading... ^^
"Aku tidak ingin mempunyai teman idiot sepertinya.."
Jika Kris selalu ditanya, kenapa dia selalu membenci para nerd? Maka jawaban itulah yang akan selalu kau dapatkan. Kejam. Andai dia tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda pada nerd incarannya kali ini, mungkin Kris akan memilih untuk berhenti membullynya. Tapi kalau memang Kris segila itu, dia akan meneruskan permainannya yang berakhir dengan membahayakan nyawanya.
"Ka-kata Hwang Sonsaengnim.. ming-minggu... depan, ki-kita... akan mengikuti acara camping" walau sudah seminggu bersekolah, sepertinya rasa canggung yang dimiliki Jong In masih belum bisa hilang juga.
"Tidak perlu segugup itu Jong In, kami temanmu. Ingat? Bersikaplah biasa pada kami" Baekhyun merangkul pundak Jong In yang lebih tinggi darinya, diikuti Kyungsoo yang juga merangkul pundaknya di barengi cengiran. Kedua bersahabat itu memang selalu kompak dalam keadaan apapun.
Jong In tersenyum. Belum pernah dia mendapat perlakuan sebaik yang dia dapatkan dari Baekhyun dan Kyungsoo. Ah, jangan lupakan Chanyeol, Luhan dan Chen juga. Sayangnya mereka tidak satu kelas, Chanyeol dan Chen berada di kelas XI-D. Apalagi Luhan yang sudah berada di tahun terakhir.
"Apa kita bisa satu kelompok?" tanya Jong In. Baekhyun dan Kyungsoo saling melirik. Acara camping selalu dilaksanakan pada tahun kedua highschool. Jadi sebelum-sebelumnya...
"Kami tidak tahu.."jawab mereka kompak.
Gubraakk...
Sejak tadi sebenarnya seorang Kris mendengarkan pembicaraan mereka dan sedikit kesal ketika keduanya menjawab pertanyaan Jong In dengan cara yang menurutnya menyebalkan sampai-sampai dia terjungkal ke belakang. Mereka itu seperti idiot kembar, tapi Kris melepaskan mereka karena menurutnya style mereka tidak bisa di bilang buruk. Mereka juga cukup pintar untuk mendapatkan peringkat 20 besar di sekolah ini. Kris memang kejam pada nerd, tapi selalu berjalan maju ke depan untuk memajukan sekolah yang menjadi kekuasaannya itu. Terdengar seperti ada kebaikan di balik keburukan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jong In. Kris mendengus dan segera memperbaiki posisinya.
"Menurutmu aku dalam keadaan baik?"
"Ti-tidak..." Jong In menundukkan kepalanya, tingkah seperti itu membuat Kris muak dan memilih untuk meninggalkannya keluar kelas.
Sepasang netra lain menatap datar kejadian barusan. Jong In menoleh ke arah pemilik netra yang memperhatikannya itu dan tersenyum manis kepadanya. Sehun, si pemilik netra mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika meliat pemuda tan yang manis itu tersenyum padanya. Sehun benci seseorang yang sok dekat padanya, meskipun tidak berarti dia akan menolak keberadaannya. Mengingat semua orang mempunyai sifat dan sikap yang berbeda, sama halnya seperti dirinya. Pemikiran Sehun sebenarnya sudah cukup dewasa untuk anak seusianya.
Lee sonsaengnim mengumumkan pembagian kelompok untuk camping minggu depan. Semua siswa menerima pembagian tersebut meskipun ada juga yang memprotes keputusan Lee sonsaengnim. Salah satunya adalah Kris.
"Aku tidak mau satu tim dengannya" protes Kris.
Lee sonsaengnim mengerti kedudukan keluarga Kris di sekolah ini, beliau juga mengerti kedudukan Kris di sekolah ini. Hanya saja, berbeda dari guru lain. Lee sonsaengnim selalu tegas pada keputusannya dan tidak membeda-bedakan muridnya sekalipun itu adalah seorang Kris, anak dari donatur terbesar di SHS. Toh yang menjadi donatur itu orang tuanya bukan Kris, itu artinya bukan uang Kris yang digunakan untuk memberikan dana ke SHS.
Berbicara tentang Kris yang protes, tentu pasti ada alasannya.
Jong In.
Lee sonsaengnim mengatur agar Jong In dan Kris berada dalam satu kelompok. Bukan hanya Jong In saja, tapi Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun juga. Kris sudah berpikiran yang tidak-tidak, bahwa suasana campingnya yang nyaman akan terganggu dengan keidiotan Baekhyun, Kyungsoo, dan Jong In pastinya. Sementara itu, si Oh Sehun yang paling pendiam diantara anggota kelompoknya itu tidak mungkin bisa membantunya apa-apa. Yang dia tahu, bisa saja Sehun berpihak pada Jong In dan lainnya, mengingat Sehun mau memberitahukan namanya pada Jong In. Padanya saja tidak.
"Tidak bisakah aku masuk kelompok lain?"
Lee sonsaengnim menggeleng sambil menata bukunya " Tidak, itu sudah pembagian yang cukup adil menurutku" lelaki paruh baya itu melirik ke arah muridnya yang memiliki kelebihan tinggi itu "Kupikir kau harus mulai belajar untuk menerima seseorang seperti Jong In, mereka semua tidak selamanya buruk. Kau akan tahu nanti setelah mengenal Jong In"
Setela mengatakan itu Lee sonsaengnim meninggalkan kelas untuk mengajar di kelas lain. Kris mendengus mendengar ucapan gurunya barusan.
"Cih, dia memang tidak buruk. Tapi menjijikkan"
"Hai Kris" Kris menoleh dan mendapati seorang gadis dengan tinggi sampai ketiaknya, menyengir kepadanya. Sejak gadis itu mengenal seorang Kim Jong In, dia mulai berubah. Dari yang namanya pendiam tanpa ekspresi, menjadi ramai dan sangat menyebalkan padanya. Sebelum-sebelumnya mereka belum pernah saling bicara, sekalipun itu menyapa.
"Aku penanggung jawab kelompokmu lho.." Neraka. "..aku beralasan untuk sekali-sekali mendapat tanggung jawab, bukan menjadi tanggung jawab. Dan Lee sonsaengnim menyetujuinya, kalian kan berbadan bongsor jadi tanggung jawabku tidak mungkin terlalu berat karena kalian pasti bisa menjaga diri sendiri"
Demi Suho yang selalu menjadi saingan gadis itu. Bisa-bisanya Lee sonsaengnim memberikan penanggung jawab kelompok pada gadis yang terlihat tidak bisa apa-apa selain belajar itu. Lupakan masalah prestasi non-akademisnya seperti wushu.
Gadis yang tak lain adala Minhyun itu kini beralih menyapa Jong In, Baekhyun, dan Kyungsoo di bangku mereka. Padahal sudah waktunya istirahat, biasanya mereka akan langsung meluncur ke kantin dan antri memesan makanan. Tapi kali ini sepertinya ketiga pemuda itu terlihat terlalu antusias mengenai camping yang akan dilakukan minggu depan.
"Yang penting, jika kalian membutuhkan bantuan harus lapor padaku"
Jong In mengangguk "Tentu saja, aku akan berusaha untuk tidak terlalu merepotkanmu"
"Sedangkan kami berdua akan berusaha merepotkanmu, agar kau selalu memperhatikan kami. Kuharap kau menjadi istri masa depanku Minhyun-sshi.."ujar Baekhyun penuh semangat. Kyungsoo juga tak mau kalah, dengan menyenggol Baekhyun dan menggantikan posisinya berdiri di depan Minhyun.
"Bukan dia yang akan menjadikanmu istri masa depan, tapi aku.." Baekhyun masih tak mau kalah menyenggol Kyungsoo, dan di senggol balik oleh Kyungsoo. Jadilah acara senggol-senggolan yang dilakukan oleh Baekhyun dan Kyungsoo. Minhyun sampai tertawa keras melihat aksi mereka yang terlihat kocak itu.
"Aku hanya akan menjadi istri dari tuan serigala. Kalian harus tau itu" Baekhyun dan Kyungsoo berhenti saling menyenggol dan beralih memandang bingung ke arah Minhyun. Begitu pula Sehun dan Jong In yang duduk bersebelahan.
Keempat orang itu saling terdiam dengan pikiran-pikiran aneh mereka.
"Maksudmu?"
"Aku ini si kerudung merah, minggu depan akan pergi ke rumah nenek untuk memberinya sekeranjang kue dari ibuku. Di perjalanan tuan serigala akan mengikutiku.." Keempat orang itu masih terlihat bingung mendengar penjelasan dari Minhyun, sementara gadis itu tersenyum penuh arti.
"Ikut aku" Sehun menarik tangan Minhyun keluar kelas, meninggalkan tatapan bingung pada Baekhyun, Kyungsoo, dan Jong In. Ketiganya terdiam dengan cerita yang terdengar tidak asing itu.
"Apa dia sedang bercerita tentang dongeng The Wolf and The Little Red Riding Hood?" tanya Jong In yang sepertinya mengingatnya terlebih dahulu. Baekhyun dan Kyungsoo langsung menoleh ke arahnya setelah tersadar. Mereka mendesah lega karena sepertinya Minhyun sedang sama antusiasnya seperti mereka sampai bercerita seperti itu.
Padahal, apa yang dikatakannya itu semua adalah kebenaran. Dan itulah alasan Sehun membawanya keluar dari kelas. Tidak bercerita yang macam-macam.
.
.
.
Sehun berjalan melewati lorong sekolah. Dia selalu berjalan dengan wajah datar tanpa mempedulikan tatapan aneh dari semua siswa yang dilaluinya. Aneh saja. biasanya Sehun memang tidak pernah keluar dari kelasnya kecuali guru yang memintanya. Tapi sekarang masih jam istirahat.
Setelah pemuda tinggi dengan kulit putih itu berbicara meminta penjelasan pada sepupunya tentang apa yang dikatakannya di kelas, Sehun memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi, sesuatu yang menarik membuatnya berhenti di depan pintu masuk toilet siswa.
"Kita beri pelajaran saja dia Kris"
Seperti itulah kira-kira sesuatu yang menarik Sehun untuk terus mendengarkan percakapan itu. Sudut bibir Sehun terangkat, bukan membentuk sebuah senyuman, melainkan sebuah seringaian.
"Aku sudah menemukan serigalaku Sehun, tinggal menunggu apakah dia yang akan mengikutiku atau tidak."
Sehun penasaran apa yang akan terjadi nanti. Sepertinya kali ini Kris dan kawan-kawannya menetapkan target yang salah.
TBC
