Warning : AU. Kumpulan percakapan absurd. No. 6 dimiliki sepenuhnya oleh Asano Atsuko. Begitu pula dengan Isayama Hajime yang saya selipkan di antara percakapan konyol Sasuke dan Naruto. Oke? Oke.
Anw, happy election day!
Enjoy!
Jika ada yang dapat membuktikan phi selalu bernilai konstan, maka kau lulus kelas algebra tingkat pertama. Jika ada yang menyebut amfibi hidup di dua jenis dunia, maka kau telah lulus dari kelas biologi tingkat sekolah dasar. Jika ada yang menyebut pelangi memiliki tujuh lapis warna, maka kau lulus kelas seni. Jika ada yang menyebut warna biru dan kuning adalah matahari dengan halo di sekelilingnya, maka kau akan kembali ke taman kanak-kanak.
Aku adalah secuil yang membuat deskripsi konyol mengenai matahari. Matahari tidak berwarna kuning seperti yang selalu kita lihat di pagi hari. Ia menunjukkan spektrum warna sesuai refleksi benda di sekelilingnya. Tubuh matahari sendiri tersusun dari gas helium yang dapat membakar benda dalam waktu sepersekian detik hingga hangus tak bersisa. Jika ia dimampatkan dalam ruang vakum, maka kau sukses membumihanguskan segalanya dengan bom atom. Itulah nuklir. Penghancur sekaligus alat penentu siapa yang berkuasa di bumi.
Malah, matahari itu sendiri tidak sekonyong-konyong hadir dan menyinari semua planet dalam susunan bima sakti. Ada tujuan ia diciptakan. Dan, salah satunya untuk membedakan siang dan malam.
Naasnya, aku sulit melakukan pengamatan di antara dua kesadaran. Seolah-olah, yang kulihat hanyalah matahari saja.
Yang kemudian menjadi alasan mengapa aku diam mematung seperti orang tolol.
Satu di antara penderita kanker paru stadium tiga yang membawa-bawa tabung gas ke mana-mana menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat. Secara harafiah. Ia menyebutkan namanya saat Kakashi, pemuda berusia duapuluh enam tahun—dugaanku tentang usianya salah total—mantan penderita glomus tumor yang dinyatakan sembuh sempurna melemparkan pertanyaan mengenai definisi afterlife. Pembahasan yang sudah terlalu melenceng dari tujuan semula, pikirku.
"Baiklah, Lee. Menurutmu, apa arti dari afterlife itu?"
Dengan susah payah kuamati ia bersuara. Di antara porsi ingin bernafas dan berbicara.
"Sebuah tempat di mana aku bisa menjadi Bruce Lee."
Jawaban yang tidak sepenuhnya salah.
Mereka tertawa. Tidak denganku. Aku melirik beberapa derajat dari arah kananku. Berjarak sekitar empat atau lima kursi tepat di bawah jendela. Pemuda bernama Uzumaki itu hanya tertawa kecil bukan lebar seperti yang dilakukan oleh yang lainnya. Kontras dengan awal kedatangannya.
Arah jarum jam dalam arlojiku menunjuk angka sebelas lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi dan acara mengaku-atau-kau-akan-dibayang-bayangi-oleh-ketakutan ini akan berakhir. Tahu-tahu, telunjuk Kakashi sudah teracung di depan hidungku.
"Kami belum mendengar suaramu sama sekali, Uchiha-san. Maaf jika kata-kataku berikutnya akan terkesan kasar atau menyinggung. Tetapi, kita semua di sini paham bagaimana satu detik amatlah berharga untuk dilalui. Menurutmu, mengapa kita harus melakukan pertemuan semacam ini? Ah, sebelumnya, aku lagi-lagi harus berterima kasih kepada Uchiha-san yang atas kebesaran hatinya bersedia menjadi donatur tetap yayasan peduli kanker usia remaja dan anak-anak ini. Tanpa bantuanmu, kita hanya sepotong daging yang siap dikuburkan di dalam peti mati."
Sepotong daging yang siap dikuburkan di dalam peti mati, huh? Ada benarnya juga. Bisa dikonotasikan untukku mungkin.
"Biar kuulangi lagi pertanyaan penutup ini. Nah, menurut Uchiha-san, mengapa kita harus melakukan pertemuan semacam ini?"
Apakah itu sejenis pertanyaan menjebak atau truth or dare? Kurasa, Hatake Kakashi salah memilih subjek penjawab. Baginya, aku mungkin masih berharga untuk dibiarkan hidup berlama-lama tanpa harus takut dibayangi kematian dan peti mati. Aku tak berani mengedarkan pandangan ke manapun. Tak membalas sepasang manik biru yang kutahu memasang tatapannya tanpa berkedip. Seolah menyaksikan pelaku kejahatan menerima vonis eksekusinya. Aku mendengus, seperti yang selalu dilakukan Suigetsu setiap kali ia menahan amarahnya padaku.
"Karena agar Tuhan menyaksikan dengan mata-Nya yang agung akan ciptaan-ciptaan-Nya yang berusaha mempertahankan hidup di dunia-Nya yang kejam ini."
Itu mungkin jawaban yang menampar telak. Tapi, aku tahu tak mudah menutupi kenyataan yang berusaha Kakashi hindari selama sesi itu berlangsung. Realita mati sudah tergambar jelas di wajah-wajah penderita retinoblastoma yang esok akan menjalani operasi pengangkatan bola mata, penderita CML yang tak harus repot membawa saputangan saat darah mulai menetes lagi dari hidungnya, bahkan seorang NEC yang tak berhenti mengerucutkan bibir seperti ikan pesut. Kakashi berdehem keras. Lalu, mengakhiri segalanya dengan doa.
Buru-buru aku keluar dari tempat yang disesaki aura kematian. Bukannya takut pada kematian itu sendiri, aku hanya sulit mencari celah untuk menenangkan pikiran. Mungkin, itulah tujuan si pria lucu itu dari awal. Dan, ayahku paham bagaimana cara memperbaiki batin putranya yang bobrok soal moral dan perilaku. Aku menepi dan bersandar di dinding bata belakang gedung. Mengeluarkan sebatang rokok bersama pemantiknya. Tanpa kusadari, sudah ada orang asing yang mengganggu konsentrasiku. Si pemilik aroma sitrus dan mint.
"Boleh berbagi? Err, maksudku bukan dari puntung yang sama. Haha."
Tak harus menoleh untuk sekadar tahu siapa pemilik suara ini. Yang kuamati darinya hanya sepasang crocs kain berwarna coklat dengan jeans biru. Ia nyengir kuda.
"Kau—merokok?" Pertanyaan yang mengalir begitu saja dari mulutku. Bodoh sekaligus tolol. Sudah jelas, bukan? Bedanya, aku tahu sejak awal penderita kanker adalah sekelompok orang yang bertarung mati-matian di parlemen agar tembakau dan rokok dimusnahkan saja dari muka bumi ini. Karena, berkat gas karbomonoksida serta tar di dalam tembakau itulah yang menjadi alasan bagaimana generasi muda di Jepang harus mati sia-sia akibat kanker. Anehnya, ia tetap bersikeras agar aku memberinya sebatang tapi ia menahan tanganku dari pemantik.
"Percaya atau tidak, aku benci perokok apalagi berusia muda sepertimu. Sungguh menyia-nyiakan usia." Oh, jadi ia repot-repot datang kemari hanya untuk menceramahiku soal merokok dan mati, eh? Sontak, aku menyalakan pemantik dari batang rokok yang sudah berada di sela kedua bibirku. Api dari arah pemantik belum sempat membakar ujung puntungnya akibat kata-kata yang keluar dari orang di sebelahku setelahnya. "Tapi, rokok ini takkan membunuh siapapun kecuali jika kau membakarnya, bukan?" Dan, ia menggerak-gerakkan batangan putih berbentuk silinder di antara bibirnya itu seperti seorang perokok profesional. Wajahnya sedikit terangkat ke atas, mengawasi langit. Tiba-tiba, ia menoleh ke arahku. Tersenyum lebar. "Namaku Naruto, ngomong-ngomong. Kau pasti Sasuke yang itu, 'kan? Semoga kau masih mengingatku atau tidak sama sekali. Ah, sebagai tambahan, aku NEC dari osteosarcoma. Kini, aku hanya punya satu kaki—ini rahasia antara kau dan aku, oke? Heheh."
Ia menaikkan kain celana jeansnya sebelah kanan. Benar. Protesa yang dibentuk dari gabungan kayu sintetik, karet, dan besi metalik berwujud titanium setinggi lututnya.
Cengiran itu masih di sana hingga sebuah van menepi di pinggir jalan. Ia menaikkan lengannya ke atas saat seorang pemuda berwajah pucat turun dari kemudi dan memanggil nama Naruto. Kami pun berpisah. Membiarkanku berpikir dengan jernih seorang diri.
.
.
.
-2-
Close
.
.
.
Katakan ini takdir atau ia sengaja menguntitku. Ataukah aku yang menguntitnya? Entahlah.
Aku memutuskan mengakhiri fase kebosanan yang dapat berakhir dengan bunuh diri saat ini juga. Selama mengambil libur untuk mengembalikan kondisi kepala beserta wajahku yang masih kacau balau akibat memar dan bengkak, lebih baik kugunakan untuk berjalan-jalan tak tentu arah. Berlama-lama di dalam kastil drakula itu membuat pening di kepalaku semakin bertambah. Suigetsu mengirim email dan mengajakku untuk ikut bersamanya ke sebuah tempat yang kuduga adalah kolam renang dan sebagainya. Mood-ku sedang jelek untuk berolahraga, plus dokter melarangku melakukan aktivitas ekstrem.
Karena itu, di sinilah aku menyepi. Di antara jejeran rak buku setinggi dua setengah meter.
Yang lucunya, saat beralih ke tumpukan buku mengenai sejarah galaksi dinilai dari perspektif seorang filsuf, aku tepat berpapasan dengan orang itu lagi. Si pirang yang katanya benci melihatku merokok.
Ia membuat senyum yang memenuhi wajahnya.
"Lho, tak kusangka Uchiha Sasuke ada di sini. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?"
Apakah itu semacam pertanyaan basa-basi yang harus kujawab atau ia hanya ingin memecah kesunyian yang tercipta akibat sepasang mata opal bersama ekspresi datar dariku untuknya? Ia menelengkan kepalanya ke sebelah kiri, mengganti fungsi telunjuknya agar kami berdua duduk di meja yang kosong. Sayangnya, aku berbalik dan melengos menuju kasir.
Ia mengejarku.
"Hei, yang kemarin itu terlalu singkat. Kita harus bercakap-cakap lebih lama."
"Kau mau aku berterima kasih padamu karena—" aku menelan ludah dan menunggu hingga recehan kembalian dari tangan karyawan kasir berpapan nama 'Hiroshi' itu. "—malam itu?"
Kulihat ia menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Tampak keheranan. "Umm. Tidak masalah kok. Lagipula, mana ada yang mau menghajar bocah tujuh belas tahun dengan satu kaki sepertiku? Haha."
Ada yang aneh dengan orang ini. Semakin aku ingin mengenalnya, semakin bingung pula aku dibuatnya. Ia bahkan tak harus menanggung malu ataupun mendapatkan reaksi kaget saat Hiroshi si petugas kasir sedikit bergidik dan melotot setelah mendengar pemuda pirang ini mengucapkan 'si kaki satu'. Di satu sisi, aku keluar dari toko buku itu sebelum ia benar-benar membuatku gila dengan teori bakar rokoknya maka kau akan mati. Itu bukan caraku menerima pelajaran.
Aku berkaki dua tetapi ia mampu mengejarku. Akhir kata, kami menyusuri rute pejalan kaki yang ramai berdampingan. Dengan satu tanganku yang membawa sekantung berisi buku yang baru saja kubeli. Tidak terlalu menarik, hanya penasaran saja.
"Tak kusangka kau memilih buku yang menurutku sangat aneh itu." Ia membuka suaranya seakan-akan sudah akrab denganku. Kadang pula ia terkekeh. "Kau tahu, atau kau belum tahu ini sebelumnya, How to Live With the Elephant adalah karya sastra yang ambigu. Seorang filsuf sejati bahkan nyaris menggorok sendiri lehernya karena terpengaruh dengan satu bait di dalam bab buku itu. Ini hanya saran dariku, tapi—kau masih berniat membaca buku yang kau beli barusan?"
"Aku sudah melewati satu malam dengan sesuatu yang disebut mendekati kematian. Kurasa, aku tidak terlalu takut dengan menggorok leher sendiri." ucapku ketus. Sialan. Orang yang sudah menyelamatkanku ini membuat kosakataku yang minim membuyar bagai tumpahan air.
"Oooh, ya ya. Mati itu di luar kamusmu, ya? Luar biasa."
Kulirik dari ujung mataku, ia tengah menggosok-gosok dagu dengan ibu jarinya. Kedua matanya berfokus ke atas seakan mengingat sesuatu hal.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kuberi kau saran terakhir sebelum kita berpisah di sini. Hm?"
Aku ikut-ikutan menghentikan langkah karena ia sekonyong-konyong melompat tepat di depanku. Menyisakan jarak sepersekian senti saja denganku. Cengiran bodohnya itu masih tertempel di wajahnya. Ingin sekali kutonjok.
"Untuk jaga-jaga saja sebelum kau siap membaca buku yang sudah kau beli tadi. Ini hadiah dariku untuk Uchiha Sasuke yang sudah susah payah datang ke sebuah pertemuan menyebalkan bernama save the day with soon-to-be death people with cancer. Haha. Jujur ya, aku juga benci datang ke sana. Seolah-olah mereka berubah seperti pasir hisap yang kapanpun siap menarikku jauh lebih dalam menuju kematian. Bukan begitu?" cecarnya. Ia berbalik sembari meletakkan tangan di belakang kepala, lalu melangkah seperti anak kecil. "Jaa! Dan—oh ya! Setelah kau selesai membaca buku pemberianku itu, kau harus menelponku oke? Nomorku ada di salah satu lembar dalam bab yang menurutku sangat penting."
"Tsk! Hei kau! Kenapa kau repot-repot memberiku benda ini, huh?" tanyaku dengan wajah yang dilipat.
Tak tahunya, ia menoleh dengan posisi bibir sedang bersiul.
Lalu, mengulum senyum.
"Karena kau adalah orang yang sangat menarik, Sasuke! Aku ingin kita saling mengenal."
Saling mengenal—aku ingin muntah detik itu juga. Ini bukan semacam pertemuan mengharukan antara sesosok gadis tukang pembuat rusuh yang kaya raya dengan pemuda pengumbar senyum flamboyan semacam Uzumaki Naruto. Aku laki-laki, begitu juga dengannya. Menjijikkan, pikirku. Sejurus pikiranku tidak sinkron dengan apa yang kulihat.
'No. 6?'
Novel macam apa ini? Hanya nomor saja? Jika diartikan: 'Nomor Enam'.
Saat kubalik sampulnya, aku sontak melotot tajam. Seorang pria dengan pria lainnya berciuman di atas bukit. Dengan siluet hitam yang mencolok. Sialan!
.
.
.
Makan malam kali ini berlalu dengan cepat. Biasanya, ayahku akan membalas beberapa email penting dari ponselnya selepas piring-piring kotor diletakkan ke dalam wastafel untuk dicuci oleh pelayan. Suasana hening adalah hal biasa yang selalu aku dapatkan semenjak aku diperkenankan menginjak ruang makan dan bukannya kursi bayi beroda. Aku berdiri dan ingin meninggalkan ayah ibuku di sana. Tapi, suara derit kursi dengan lantai marmer membuatku berhenti. Kuamati ayahku segera bangkit dari kursi ia terduduk. Sedangkan, ibuku menunggu. Mata letihnya tak pernah lepas dari ayahku.
"Bagaimana harimu, Sasuke?"
Aku berhenti. Untuk apapun yang kuinginkan di dunia ini, tak ada selain mendengar ayahku menanyakan keadaanku setiap harinya. Dan, hari ini ia mewujudkannya meski bernada rendah dan monoton. Kuputuskan untuk menoleh dan menarik sedikit demi sedikit sudut di bibirku.
"Baik."
"Hn." Ia berdehem pendek. Kemudian, duduk kembali. "Bagaimana pendapatmu mengenai pertemuan yang kau datangi kemarin?"
Mengudikkan bahu. Jawaban yang berarti ya ataupun tidak. Anehnya, yang kuingat dengan satu jam bersama Kakashi Hatake yang sangat pandai membawa pembicaraan menuju satu poin, yaitu peti mati hanyalah satu hal. Dan, hal itu berhubungan dengan seorang pemuda yang menyerahkan secara sukarela sebuah novel science fiction berbumbu shonen love berjudul No. 6 miliknya. Dan, aku sama sekali belum menyentuh buku apapun itu yang benar-benar membuat kepalaku terasa panas hingga ke ubun-ubun.
"Menarik. Tapi, tidak cukup menarik bagi seseorang yang melihat kematian dengan perspektif berbeda." Yang kutahu itu adalah sosok si pirang. Teori rokok dan mati darinya mengganggu logikaku.
"Souka? Apa kau berkenalan dengan salah satu dari mereka?" Sepertinya, ayahku ingin mengorek lebih banyak hal berkenaan satu hari di mana aku merasa malu sekaligus hina. Di sana, ada sekelompok remaja yang tak lebih tua dariku mempertaruhkan segalanya demi hidup. Sedangkan aku hanya si brengsek tak tahu diri yang hobi membuang-buang usia hidup. Aku mulai memahami mengapa si pirang itu ada di sana. Ataupun di sana—saat aku nyaris mati—dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Tanpa menyebutkan namanya pada Suigetsu ataupun Karin. Karena, ia ingin aku berhutang kepadanya. Licik.
"Ya."
Ibuku tersenyum puas. "Jadilah teman yang baik, oke?"
Percakapan itu pun berakhir dengan senyum tipis yang tampak di wajah ayahku. Ia sudah terlalu tua dan aku terlalu bodoh untuk tidak menyadari bahwa sudah saatnya bagiku membangun sedikit demi sedikit apa yang ingin ditinggalkan oleh ayah ibuku setelah ia tiada. Mereka berdua gagal membentuk Itachi sesuai keinginan mereka dan ibuku mempercayakan segalanya pada kakak lelakiku itu. Ayahku—ia berbeda. Ia tahu aku bisa menjadi lebih daripada itu. Bahkan, di luar batas ekspektasinya sendiri.
Maka, aku kembali ke kamar. Sebuah ruangan yang minim interior. Hanya sebuah ranjang, lemari pakaian, serta satu meja dan kursi untuk membaca. Rak kecil berisi buku dan tas ransel berada di samping ranjang. Kubiarkan novel No. 6 pemberian Naruto tertidur nyaman dan kuputuskan untuk membaca sinopsis serta resensi dari kacamata penikmat buku melalui laman di dunia maya. Karenanya, aku tertidur tepat di pukul empat.
.
.
.
"Kau—membacanya?"
Aku mendesah. Membuang wajah saat ia berusaha memelototkan mata dengan dua cup karton starbucks di genggamannya. Saat aku mengangguk, ia memekik. Lalu, membenturkan bokongnya tepat di sampingku. Saat ini kami berada di taman bermain segala usia. Termasuk lingkaran pasir dan seluncuran, lapangan basket yang dipenuhi remaja-remaja muda, dan pasangan mesra yang menikmati guguran bunga sakura di bawah pohon. Aku memilih bangku panjang mengarah ke lapangan basket. Pertemuan kali ini terkesan misterius. Ia tahu aku berada di mana.
Naruto menyerahkan gelas karton starbucks yang dibelinya entah dari mana kepadaku. Penolakan dariku berarti pemaksaan darinya.
"Thanks."
"Sama-sama!"
Suara seruput dari balik bibirnya menjadi awal pembicaraan.
"Dengar. Apakah kau sudah sampai pada bab di mana pemuda bernama Nezumi itu tinggal bersama Shion?"
Oh ya. Bagi yang belum tahu apa itu No. 6, maka detil penting yang berhasil kusimpulkan ialah suatu pembebanan distrik atau region di Jepang masa depan. Diurut sesuai angka pasca perang nuklir. Dan, No. 6 adalah kota di mana seorang bocah jenius bernama Shion tinggal dan menetap. Lalu, semuanya berubah ketika bocah lainnya yang secara arogan memaksa Shion untuk menjahit lukanya di malam penuh badai datang tanpa diminta. Beberapa tahun setelah pertemuan keduanya, ada invasi aneh dari sekelompok makhluk berbentuk mirip lebah yang akan menggigit penduduk No. 6 yang berpikir untuk membelot. Shion adalah salah satu korban selamat. Anehnya, tak ada satupun yang bisa lari dari cengkeraman pemerintah kota aneh itu. Bahkan, dari kematian itu sendiri. Hanya Shion dan rambut putih yang menggantikan identitasnya dahulu sebagai penduduk No. 6 mampu menghentikan destruksi Elyurias, si mother earth.
"Ya."
Spontan, matanya berkilat penuh.
"Sedikit bocoran, oke. Nezumi itu, dia sebenarnya—"
"Androgynous. Cantik untuk ukuran pembunuh tak berjiwa." Potongku. Naruto memanyunkan bibirnya. Aku menyesap latte berbusa dari gelas karton. Memandangi satu buah dunk ke arah ring basket. "Anehnya, ia tetap berpura-pura sebagai orang baik padahal dia bisa membunuh Shion dan memulai perang terhadap kota yang dibencinya mati-matian itu. Mudah."
Naruto terkekeh. Ia menurunkan tubuhnya dan bersandar santai. "Itu karena ia ingin terlihat sebagai pemain utama, Sasuke. Ia hidup di tengah-tengah panggung teater dan berperan sebagai wanita bersuara emas. Ya, aku sih tidak tahu bagaimana suaranya yang katanya merdu itu. Tetapi, ia tak ingin melihat kepuasaan tergambar jelas di benak orang-orang di No. 6 ataupun pembaca novel itu sendiri. Kau tahu kenapa?"
Mata opalku meneliti ekspresi wajahnya. Bukan seperti bekas penderita kanker stadium akhir yang harus merelakan sebelah kakinya dipotong agar sel-sel jahat di tubuhnya berjalan-jalan dengan bebas melalui pembuluh darahnya. Ia seperti—pemuda tujuh belas tahun pada umumnya. Normal dan berwawasan luas.
"Karena akan membuat ceritanya berakhir dengan cepat?" jawabku asal-asalan.
"Haha. Bukan, bukan. Tetapi, lebih kepada ia berharap dapat mengubah persepsi orang-orang itu termasuk kita sebagai pembaca. Membunuh hanya menyingkirkan sebagian kecil saja. Yang dibutuhkan untuk mengakhiri penderitaan ialah dengan memotong hingga ke akar-akarnya. Elyurias adalah akar dari pohon itu. Kau mengerti?"
Mungkin itu juga menjadi alasan mengapa Naruto tak diancam ketakutan walau harus hidup dengan sebelah kaki. Ataupun stigma terhadap remaja berkaki satu. Lebih baik dipotong untuk mengakhiri penderitaan.
Kami terdiam. Menikmati udara musim semi bersama segelas karton latte di tangan masing-masing. Duduk berdampingan seperti dua idiot yang lupa bagaimana caranya mengisi hari di jam-jam produktif sebagai remaja.
"Kau tidak sekolah, Sasuke?"
"Libur." Kuteguk lagi isi latte dalam gelas kartonku.
"Oh. Pasti masih sakit ya? Di wajah dan kepalamu itu?"
"Hn." Dehemku pendek. "Kau?"
"Mmm—" ia bergumam panjang. Sampai di sebuah titik saat kulihat ia menggerak-gerakkan kaki palsunya. "—satu minggu penuh dengan PET, CT-scan, X-ray, dan sebagainya. Follow up dan semacamnya. Pagi tadi, mereka memeriksa kepala dan jantungku. Uuh, melihat otak secara langsung itu menyeramkan. Jadi, secara resmi aku juga libur sama sepertimu."
Kuputar bola mataku. "Itu hanya gambaran tiga dimensi dari otakmu yang sesungguhnya."
"Tentu!" Ia kembali nyengir. Lalu, menoleh lagi.
Setelah mengaduk-aduk sesuatu dari saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih. Yang kutahu itu adalah penyebab kematian tertinggi berupa kanker paru-paru. Ia mengeluarkan satu batang dan menyelipkan di antara bibirnya. Tak ada pemantik, hanya diselipkan.
"Masih ingat dengan apa yang kukatakan dua hari lalu soal rokok dapat membunuhmu?"
"Mungkin."
Ia meregangkan kedua lengannya ke atas dan menyembunyikan tangan dalam saku jaketnya.
"Sama seperti ketika kau dihadiahi sebuah katana bermata terbalik. Benda yang secara fungsional tak dapat membunuh seseorang secara langsung, tetapi tergantung pemakainya. Jika ia mau, ia bisa menggunakannya untuk menebas kepala orang. Haha."
"Hn."
Deheman adalah bagaimana aku menghadapi seseorang yang sulit menutup mulutnya. Sikapku memang tidak terlalu menyenangkan, terlebih untuk diajak mengobrol. Satu-satunya konsep di dunia ini yang berusaha kuhindari ialah membuat perbincangan yang dapat bercabang menjadi banyak hal. Naruto memaksaku untuk berbicara banyak. Itu tidak terasa buruk. Sepertinya.
Dua anak laki-laki berlari-lari saling mengejar satu sama lain. Yang memiliki lari tercepat terjatuh karena tersandung sepatunya sendiri, begitu pula dengan cone es krim di tangannya. Ikut meleleh bersama radiasi sinar matahari. Ia berjongkok, lalu menangis. Si bocah yang berlari paling lambat duduk termenung di sebelahnya. Lalu, menawarkan es krimnya sendiri ke arah bocah yang menangis terisak-isak. Orang yang duduk di sampingku bergerak maju. Menepuk-nepuk kepala kedua bocah itu dan masing-masing memberinya dua keping permen.
Perhatian kami kemudian terpusat saat seorang remaja dengan jersey biru membuat three point shoot. Naruto memekik.
"Sugee!" teriaknya. "Dengan postur tubuh yang kecil, kurasa dia termasuk golongan pro. Berapa usianya? Aku merasa terintimidasi."
Bisa kusimpulkan ia adalah pemain basket. Dulu atau masih.
"Kau bermain?" tanyaku setelah ia kembali menjatuhkan bokongnya. Ia menyelipkan kembali batang rokok yang sempat disembunyikan ketika mendekati bocah-bocah tadi di antara bibirnya. Menoleh lalu mengangguk.
"Berhenti saat hasil PET-ku keluar tiga tahun lalu. Hanya di tingkat SMP. Selebihnya, bisa kau lihat sendiri." Tidak butuh waktu lama bagiku mencerna maksud kata-katanya. Kanker sudah merenggut sebagian kecil mimpinya dan itu menyakitkan. "Tapi, aku masih bermain sesekali. Di rumah tanpa lawan. Yah, setidaknya berguna untuk membunuh kebosanan. Ah, kapan-kapan kau boleh datang ke rumahku, kalau kau bersedia tentu. Aku punya ruang pribadi di lantai bawah. Dulu dipakai sebagai gudang. Semenjak ayahku menyadari sepertinya aku membutuhkan privasi dengan keadaan-kankerku-yang-sangat-mengenaskan ini, maka aku diperbolehkan meletakkan benda apa saja yang kusukai di sana. Salah satunya adalah trofi dan… bola basket yang khusus ditandatangani oleh Mike Jordan! Oleh-oleh liburanku ke Amerika."
"Hnn."
"Daaaaan, aku masih punya setumpuk buku sci-fic jika kau tertarik. Hahaha."
"Tsk! Aku tidak heran dengan kegemaranmu terhadap topik bacaan di luar perspektif orang normal. Menggelikan." ujarku bernada ketus. Justru, ia semakin terkekeh.
"Aku bukan peminat romantisme yang murahan, Sasuke. Sebenarnya, No. 6 membuatku menyadari sesuatu. Bagaimana jika—err—suatu hari nanti kita benar-benar akan hidup di suatu populasi semacam itu? Dengan makhluk-makhluk aneh yang akan mengendalikan otak kita? Menggerogoti sel-sel saraf kita hingga tak ada lagi yang tersisa. Menyoal kisah lain di luar itu—Nezumi dan Shion—aku angkat tangan, sobat. Bagiku, parte kisah cinta mereka digunakan oleh penulisnya untuk menarik minat kaum fujoshi. Yap."
Aku mendesah. Melipat lengan di dada. Aku terjebak di sebuah situasi bernama percakapan absurd bersama Uzumaki Naruto. Kurasa, aku sudah gila.
Melihatku terdiam. Ia mendekatkan wajahnya.
"Kau oke?"
Aku mendelik. Memerhatikan wajahnya yang tidak pucat dan tidak juga gelap. "Oke." Jawabku.
Sekarang, aku teringat. Aku berhutang sesuatu padanya dan aku ingin menyelesaikannya saat ini juga.
"Kenapa kau bisa ada di sana?"
"Huh?"
Mataku menangkap burung kecil terbang di atas sana. "Di tempat di mana kau menemukanku nyaris mati setelah dihajar tanpa ampun."
"Oooh. Itu sih—tidak sengaja. Awalnya, aku hanya berjalan-jalan sebentar untuk mendinginkan kepala setelah yah—bertengkar masalah kecil dengan ayah dan ibuku—tidak jauh dari tempatku menepi, aku mendengar suara kaleng dan teriakan. Aku tahu itu pasti bukan suaramu. Kau bahkan tidak mengeluarkan sedikitpun suara meski aku yakin kau tampak begitu kesakitan. Lalu, aku lari ke arahmu dan menemukan lima orang bertubuh raksasa dengan tato menjijikkan di tubuhnya. Setelah itu—"
"Setelah itu?" aku menyela. Ia tampak berpikir-pikir.
"—kuancam mereka dengan nomor telpon polisi dan memperlihatkan kaki palsuku. Haha."
Aku menaikkan alis. Memasang tampang ragu. "Hanya itu?"
"Ya, hanya itu. Memangnya kau mengharapkan apa, Sasuke? Aku datang seperti Spiderman lalu menghajar pria-pria menyeramkan itu dengan tangan kosong hingga mereka remuk lebur? Mm, itu sih sketsa awal yang tergambar di dalam bayanganku, tapi pupus sudah saat polisi yang sebenarnya mengejar gerombolan tukang keroyok itu. Dan aku lari membawamu."
Ia melanjutkan. "Aku menemukan ponselmu yang untungnya tidak ikut hancur seperti wajahmu itu. Dan, menelpon siapapun yang berada di daftar riwayat kontak terakhirmu. Tahu-tahu, seorang pemuda bergigi tajam bernama—err—siapa itu aku juga lupa—datang mengurusimu setelah kondisimu yang berada di antara hidup dan mati berhasil tertangani. Aku pun pulang dan kita bertemu secara mengejutkan di tengah-tengah pertemuan save the day—"
Sebelum ia berceloteh mengenai save the day atau apapun itu, aku mengernyitkan dahi. Tepat ke arahnya. Ia pun terdiam.
"Kau ada di rumah sakit di mana mereka merawatku setelah dari unit gawat darurat."
"Rumah sakit? Ngg, kapan ya?"
Menaikkan dagu dan menggosok-gosoknya adalah cara ia mengalihkan perhatian. Ia pasti tahu aku tertidur selama seminggu di sana.
"Whatever." tukasku tajam. Kemudian, aku berdiri. Beranjak dari bangku dan melangkah. Ia mengikutiku.
Dengan nada mengancam, aku berbicara. "Aku sudah menyelesaikan bukumu itu. Ini mungkin terdengar skeptis bagimu ataupun sangat konyol bagiku, tetapi Shion terlalu bodoh karena mengharapkan Nezumi akan kembali padanya. Sebagai seorang laki-laki yang menyukai laki-laki, semestinya ia tidak sedungu itu." Lalu, aku melangkah lagi. Semakin cepat.
Naruto terdiam di tempat ia berdiri. Membeku.
"Sasuke! Kalau sudah kau baca sampai selesai, kenapa kau tidak menelponku?!"
Bukankah itu sudah jelas? Akan lebih baik mendengar dan melihat langsung dari sisi narasumber buku itu sendiri tanpa perantara. Kurasa, aku tak punya hutang lagi padanya.
.
.
.
'Sasuke, ingat aku?'
Aku menyandar di punggung ranjang dengan headphone menyumbat lubang kuping. Semakin mengeraskan volume music rock 'n roll milik Gun 'n Roses setiap kali ponselku berdering. Seseorang berusaha menerorku dengan email yang kubiarkan bertumpuk hingga memori internal ponselku penuh dengan sendirinya.
'Sasukeee. Kau tahu, hari ini aku mengirim email ke Isayama Hajima lho!'
'Selain novel, aku punya banyak manga. Akan kubawakan satu untukmu besok.'
'Kau sibuk? Apa aku boleh menelponmu?'
'Sasukeeeeee!'
Berisik. Berisik. Berisik!
Aku ini bukan semacam orang yang mudah disanjung dengan pertemuan-pertemuan mengejutkan. Rupanya, ia belum menyadari dengan siapa ia berurusan. Semestinya aku menyebut namaku dengan eksplisit di depan wajahnya selagi bisa. Namaku—Uchiha Sasuke dan Uchiha adalah tipikal manusia yang tidak ingin terikat pada apapun. Termasuk pertemanan dan sebagainya. Namun, di saat yang sama, aku mengingat kata-kata ibuku beberapa hari lalu ketika ayahku akhirnya menanyakan kabarku di tengah-tengah pertemuan bersama Kakashi Hatake, bocah penikmat bacaan aneh bernama Uzumaki Naruto, dan penderita kanker stadium akhir serta NEC lainnya. Percakapan singkat, padat dan jelas antara seorang ayah dan anak di lingkungan Uchiha yang terkenal kaku.
'Jadilah teman yang baik, oke?'—maka, aku hanya membuang nafas letih.
Dan, merengut kesal. Seperti gadis remaja yang diteror oleh pesan singkat seorang anak laki-laki ingusan untuk memulai kisah cinta monyet mereka. Oh ya ampun. Berurusan dengan sosok bernama Uzumaki Naruto ini ternyata semakin membuat pening di kepalaku bertambah parah.
Kenyataan bahwa Naruto menyesaki sederet pesan berbentuk email tiap sepuluh menit sekali adalah fenomena. Ia adalah anomali. Bersama cengiran bodoh dan tawarannya terhadap buku, manga, basket, serta trofi yang dimenangkannya ketika ia masih aktif di klub empat tahun lalu padaku. Satu-satunya hal yang kulakukan adalah memijit keningku sementara berpikir harus menjawab apa. Tahu-tahu, ia membuat dering telpon masuk dari arah ponselku bergema.
Sialan. Aku mengutuk sekeras mungkin.
Hah—aku membuang nafas sekali lagi. Berpikir dengan cara yang lebih masuk akal dan logis. Pertanyaan pertama adalah untuk apa aku marah? Kenapa aku semarah ini? Menghabiskan waktu hanya untuk merutuki satu orang yang bahkan baru kukenal seminggu terakhir ini? Oh, karena dia unik dan memiliki karakter spesifik? Seperti—teori rokok dan mati miliknya itu? Atau cara ia berbicara dan mengutarakan pendapat? Ia seolah mengetahui segalanya, termasuk bagaimana mendikte Uchiha Sasuke si bocah yang tak tahu diri dan memalukan karena telah membuang sia-sia setengah dari usianya untuk hal-hal tak bermanfaat?
Bodoh. Ya. Aku tolol.
Ia hanya ingin agar aku membaca semua buku yang ditawarkannya.
Apakah itu artinya hutang karena telah menyelamatkanku harus dibayar dengan cara ini, huh? Atau, hanya aku yang memikirkan semua ini?
Kesimpulan terakhir: angkat telponnya dan bicaralah seperti Uchiha pada umumnya.
"Ya, ya. Aku mendengarmu, Naruto."
'Demi Merlin meski aku tak benar-benar yakin kalau Merlin itu eksis atau tidak. Well, kau sudah membaca email-emailku?'
Masa bodoh. "Hnn."
'Sekitar—umm—sepuluh menit lalu Isayama-san membalas emailku! Tadaa! Demi titan-titan yang benci mengenakan celana dalam! Kau harus membaca komik buatannya, Sasuke!'
Pertama, aku tidak mengenal ataupun pernah mendengar siapapun nama yang disebutkan Naruto. Kedua, aku ingin mengakhiri sesi sepihak ini secepat mungkin. Pemuda itu, apapun yang ada di dalam benak dan otaknya, berceloteh mengenai email-email yang dikirimkannya pada salah satu mangaka artist bernama Isayama Hajime. Tak lupa juga, ia menyebutkan jika pria Isayama ini telah membuka cakrawala berpikirnya terhadap spesies lain di luar bumi. Invasi alien berbentuk raksasa tak bercelana dalam dan segalanya kemudian dinding-dinding. Sosok anak laki-laki bermata hijau yang dapat bertransformasi layaknya raksasa tak bercelana dalam. Yang terakhir, ia mengataiku mirip seperti salah satu tokoh yang dinamainya Levi. Aku tidak tahu dan tidak akan pernah mau memahaminya. Kubiarkan ia bercerita hingga menelan ludah sendiri.
'Sasuke? Sasukee! Kau masih di sana?'
"Hnnnnnn. Kau sudah selesai?" tanyaku ketus.
'Mm, belum. Tapi—apa kau sudah mengantuk? Kalau iya, kita bisa lanjutkan besok.'
Siapa yang memperbolehkanmu melanjutkan percakapan absurd semacam ini, huh?
'Ne, Sasuke. Kebetulan di akhir pekan ini, sebelum aku kembali ke sekolah, sebuah festival buku dan komik akan diselenggarakan di Taman Beika. Ini bukan ajakan kencan atau semacamnya lho. Haha. Mungkin kau tertarik dengan beberapa buku diskon yang akan dijual di beberapa stand. Kalau kau berminat dengan novel terjemahan, aku tahu di mana mencarinya. Besok, di Taman Beika, pukul sembilan. Oke?'
Keningku kembali berkedut.
Ia masih melanjutkan sebelum benar-benar memutus.
'Satu hal lagi—jangan biarkan serangga-serangga Elyurias memakan isi otakmu. Selamat tidur!'
Tuut. Tuut. Tuut.
Suara lagu milik Gun 'n Roses yang bertalu-talu sedari tadi berakhir di bait : On a bed of guns and roses. Sebaliknya, yang kuinginkan saat ini adalah bersua dengan mimpi. Akhir pekan—ya?
Oke.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Author's Note:
Osteosarcoma adalah tumor ganas di tulang. Paling sering menyerang tulang-tulang panjang seperti tulang kering di betis dan juga lutut.
Retinoblastoma adalah tumor ganas di mata. CML atau Chronic Myelogenous Leukemia adalah bagian dari kanker darah. Glomus tumor termasuk dalam tumor jinak yang biasanya menyerang kuku.
