Sarapan pagi kali ini adalah semangkuk nasi dengan tempura yang kuhabiskan tiga perempatnya saja. Ayahku masih membuka-buka halaman dalam surat kabar dan berhenti tepat di tajuk grafik kurs mata uang serta inflasi yang meningkat sekian persen. Hari Minggu adalah awal dari segala aktivitas bagi Fugaku Uchiha. Ayahku dibebankan tugas untuk menilai kualitas manajemen perusahaan cabang milik keluarga yang dibangun di Shanghai. Itulah mengapa akhir pekan bagi kalender ayahku mengalami perrgeseran hari. Berpakaian rapi seolah roda perputaran bisnis tak mengenal kata akhir pekan. Sesuai pesan dalam faksimili paman Obito, pesawat atas nama Uchiha Fugaku tujuan Beijing, Cina terbang pukul delapan lewat lima puluh.
Para pelayan mulai membawa sebagian dari peralatan makan di atas meja yang kotor ke dapur untuk dicuci, sedangkan ibuku ikut membantu memilah mangkuk-mangkuk yang sudah tidak terpakai lagi. Ponsel di samping cangkir ocha ayahku bergetar tapi ia menunggu hingga dering terakhir. Lalu, mengangkatnya. Selama menjawab telpon, yang dilakukannya hanya mengangguk dua kali—begitu yang kuperhatikan dari cangkir ocha milikku. Tegukan terakhir di cangkirnya, ayahku berdiri. Memperbaiki kemejanya dan ibuku buru-buru membantunya mengenakan jas. Kapan terakhir kali aku melihat keduanya begitu akrab seperti ini? Entahlah, aku lupa.
Diakhiri dengan kecupan ringan di pipi ayahku, ia menghilang. Katakan itu adalah sebuah kemajuan, tetapi semu merah di wajah ibuku adalah tanda dari tumbuhnya kebahagiaan baru di hatinya. Lalu, aku turut beranjak. Meraih tas selempang yang kuletakkan secara menyilang di bahuku. Kukecup dahi ibuku sebelum meninggalkan rumah ini.
Hari ini, aku memutuskan untuk berjalan kaki hingga mencapai halte bis. Perjalanan yang kutempuh untuk tiba di lokasi yang dikatakan Naruto semalam hanya membutuhkan limabelas menit saja. Aku duduk di kursi terbelakang dan terus mengawasi segalanya melalui kubikel jendela. Membiarkan suara-suara ribut anak-anak kecil yang menyesaki kursi-kursi di depan. Tepat di sebuah gerbang yang terbuka lebar, aku turun.
Taman Beika. Book Fair.
Sepanjang sisi-sisi pintu masuk hingga pusat keramaian, stand-stand kecil dan berukuran besar mulai disesaki oleh pengunjung yang sebagian besar adalah remaja seumuranku. Tetapi, ada juga beberapa orang tua yang menemani anak-anaknya untuk memilih-milih buku-buku yang dibagi sesuai genre dan jenisnya. Memulai dari mana, aku hanya menghembuskan nafas panjang. Dengan langkah yang teramat santai, kuputuskan untuk sekadar menilai isi dari stand-stand yang menyediakan karya sastra berbahasa asing dan bukannya terjemahan. Seorang gadis pirang bermata akuamarin tersenyum ke arahku dari mejanya yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen berbahan kayu. Ia mengenakan pakaian tradisional negeri seribu kincir angin—Belanda—bermonokromatis yaitu oranjee.
"Bisa kubantu?"
Syukurlah. Setidaknya dia tidak menerorku dengan sebuah bahasa yang kutahu nyaris menyerupai Deutshcwell. Bahasa yang hingga mati pun membuat lidah Jepangku akan terlipat sampai kusut.
"Aku mencari—"
Mata gadis itu membulat. Ia meletakkan kedua lengan di pinggang berpose layaknya wanita pemain smackdown. Kedua alisnya bertautan. Oh, kini ia marah karena aku menjawab pertanyaannya dengan bahasa Jepang juga? Ataukah—
"Naruto!"
Gadis itu berteriak. Belum sempat aku berbalik, seseorang atau tepatnya seorang anak laki-laki berperilaku tak wajar menutupi mataku dengan telapak tangannya. Kesal, kedua sikuku yang tajam membentur perutnya. Spontan, ia merintih kesakitan sembari berjongkok. Menahan perutnya yang nyeri akibat hantaman yang diperolehnya dariku. Aturan pertama dari seorang Uchiha kepada siapapun yang tidak ingin mencari masalah: jangan sekali-sekali menipu kami dengan trik murahan. Kejahatan kecil akan dibalas sesuai harganya.
Aku melirik dari sudut mata seraya memasang ekspresi menindas. Caraku menatapnya seolah ingin mencecarinya dengan seribu kutukan sekaligus. Tapi, ia terkekeh. Berdiri tegak kembali dan meregangkan lengannya ke langit-langit. Bisa kulihat ia memakai kaos oblong abu-abu bertuliskan 'Date is Innocent' yang dilapisi rompi biru, blue jeans, sepasang sepatu snickers putih, dan wrist band hitam—peninggalan maupun kebanggaan para atlit basket profesional. Bersama pula sebuah ransel yang dipanggulnya. Cengiran di bibirnya terlihat sangat memuakkan.
"Kau sungguh tipikal cowok yang tidak asyik, Sasuke!" pekiknya. Tak peduli orang di sekitar yang berlalu lalang memelototinya. Ia melanjutkan setelah menyembunyikan tangan ke dalam saku rompinya. "Tapi aku tetap menyukaimu. Kau unik." Ia terkekeh dan aku meninju perutnya sebagai balasan. Dalam waktu yang teramat lama, ia akan kehilangan lebih dari setengah produksi darah di dalam tubuhnya jika tinju yang sama kuhantamkan ke tubuhnya berkali-kali. Yang terburuk adalah ruptur limpa. Suara si gadis berambut pirang pucat itu membuatku menoleh kecil.
"A-apa kau teman Naruto?" cicitnya bernada penuh keraguan. Asumsiku yang pertama ialah ia takut aku bertransformasi menjadi monster dan merusak seluruh stand-nya berkat amukanku pada Naruto. Kedua, ia ingin agar aku cepat-cepat angkat kaki dari pandangannya meski opsi ini terdengar tidak masuk akal.
Aku mengge—tangan Naruto sudah mendarat penuh kuasa di sisi wajahku. Ia mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dasar sialan!
"Teman baik, Yamanaka Ino. Takdir Tuhan mempertemukan kami berdua. Lucu, bukan?"
Berkat kelas judo, aku berhasil meremukkan tubuh seorang pemuda berkaki satu bernama Uzumaki Naruto. Dan, ia perlu waktu lama untuk bangkit. Si gadis yang disebutnya dengan Yamanaka Ino menutup mulut dan tertawa. Tawa kecil itu berubah menjadi tawa besar yang sulit ditahannya sebagai gadis berpenampilan layaknya lady of Kingdom of Netherlands. Dehemannya membuatku mengikuti arah matanya—tepat ke onggokan tubuh Naruto yang khidmat dalam posisi menungging.
"Hai. Seperti yang Naruto katakan tadi, namaku Yamanaka Ino. Half Nihon-jin, ngomong-ngomong." Yang disebut half nihon-jin adalah separuh berdarah asing. Disesuaikan dengan gaun gadis petani pertengahan tahun 1800-an ala Belanda yang dikenakannya, ia mungkin sangat mengenal baik budaya dan tradisi negara itu. Setengah berdarah Belanda, rupanya. Ia melanjutkan. "Kau tahu, aku tak pernah melihat bocah nakal itu membawa orang lain ke festival buku yang selalu didatanginya setiap bulan seperti ini. Ia selalu datang seorang diri. Well, tidak semenjak Sakura benar-benar meninggalkannya. Menurutku—itu adalah sebuah kemajuan besar. Meski tak kusangka ternyata anak laki-laki sepertinya. Hihi." Antara senyum kecut atau juga kelegaan, semua senyuman di wajah para gadis terkesan ambigu bagiku. Sama seperti senyuman-senyuman Karin selama aku mengenalnya. Dengan bibir yang tertarik ke atas, ia menutup percakapan kecil ini. Sebelum pergi, ia menyerahkan sebuah buku kepadaku. Seluruh teks dalam buku itu menggunakan bahasa Inggris. "Gratis untuk teman-baik- Naruto-yang-dipertemukan-oleh-takdir-Tuhan. Hihi."
Sakura—apakah ini metafora untuk simbolisasi musim semi? Karena, aku tahu musim semi di Taman Beika adalah awal dari bermekarannya bunga sakura. Ataukah itu semacam analogi untuk menunjukkan nama seseorang? Kalau iya, siapa?
Setelah membolak-balik buku pemberian gadis bergaun petani itu, aku menarik salah satu sudut bibirku. Ini bukan senyuman, melainkan seringai.
"Uchiha Sasuke." ujarku. Ia menaikkan alis. "Namaku."
"Oh. Tentu. Mampirlah lagi kemari kalau menurutmu stand terdalam sudah membuatmu bosan, Sasuke-kun!" pekiknya.
Langkah-langkah kakiku yang mulai menjauhi stand gadis itu terhenti di samping Naruto. Kuangkat buku pemberiannya ke atas sebagai pengganti rasa terima kasih. Kemudian, memerhatikan sembari memutar mata tepat ke arah Naruto. Kusodorkan lenganku untuknya dan ia meraihnya sambil terkekeh riang. Menjulurkan lidah seraya mengedipkan mata—tipikal bocah cilik yang tidak kapok melakukan kenakalan-kenakalan kecil lainnya. Timpaan sinar matahari terpantul dari benda berbahan metalik di balik blue jeans-nya. Kuletakkan tanganku di bahunya dan ia berdiri tegak setelah benar-benar berhasil mengangkat kaki prostetiknya itu. Kami jalan berdampingan seperti dua remaja konyol yang baru mengenali bagaimana hal-hal kecil semacam ini mampu membuktikan teori relativitas. Tanpa mengawasi waktu dari arloji ataupun jam menara raksasa di atas sana, langit yang berwarna merah pastel menunjukkan arah matahari yang sesungguhnya.
Pemuda bernama Uzumaki Naruto ini membuat waktu yang kugenggam berlalu lebih cepat.
.
.
.
-3-
Smile
.
.
.
Bolpoin yang berputar-putar di antara ibu jari dan telunjukku adalah pengganti rasa ngantuk akibat subjek fisika kuantum sebelum jam makan siang. Materi terberat yang akan meledakkan seisi otak siswa tingkat akhir sebelum bersua dengan pilihan hidup masing-masing. Sebagian besar dalam kelas ini mengajukan lembar applicant miliknya ke subjek-subjek bergengsi, salah satunya adalah I.T—teknologi. Jepang, seperti yang kalian sudah tahu, adalah negara penghasil pemikir yang luar biasa. Jenius, multifungsi, tahan banting, et cetera. Sayangnya, setiap kali desain proyek mereka dianggap suatu kegagalan, bukan hal biasa jika kau akan menemukan mayat manusia terbaring mengenaskan di berbagai tempat. Negara ini sangat memahami definisi dari kerja keras dan membuang-buang energi serta waktu untuk hal tak berguna sama saja dengan memasukkan diri dalam kategori sampah masyarakat.
Lembar applicant milikku teronggok seperti goretan contekan ujian akhir. Seperti nilai merah memalukan hasil tes yang gagal. Ingin dimusnahkan tetapi tak tega untuk membuangnya. Seolah menjadi pengingat betapa tololnya otak ini. Well, mungkin hal semacam itu terjadi pada sebagian besar siswa dalam kelasku. Tetapi, tidak untukku.
Fisika kuantum bagiku adalah mainan yang menyerupai jigsaw. Yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan di dalamnya adalah dengan memutarbalik angka-angka yang ada. Sehingga—meskipun kapur sudah melayang tepat di jidatku oleh lemparan dahsyat seorang guru bernama Tenzou-sensei, hanya butuh satu menit agar ia yakin aku benar-benar hidup selama duduk di kelasnya.
Bisa kulihat dari sudut mataku yang menyipit bagaimana Suigetsu sudah tertidur lelap seperti hiu di masa hibernasi. Juugo mengangguk lalu mencatat sesuatu di atas lembar kertas bukunya yang kutahu sebagian besar berisi lukisan-lukisan binatang. Karin—aku tidak mau membahas ini. Begitu pula dengan gadis-gadis lainnya. Mereka menyebalkan sekaligus menyeramkan.
Menubrukkan bokong kembali ke atas kursi dan membiarkan Tenzou-sensei menganga seperti ikan yang menggelepar di daratan. Lalu, mengamati awan-awan berbentuk permen kapas dari sebuah ruangan kelas yang baru saja mengakhiri sesi Uchiha-selalu-jenius-di-segala-hal dengan bel otomatis. Waktunya makan siang, rupanya.
"Oke. Semuanya, dengarkan aku. Sebelum kalian meninggalkan kelas ini, sensei akan memberikan satu tambahan tugas lagi untuk kalian. Kuharap dengan ini, motivasi belajar kalian akan semakin meningkat dan terus meningkat. Kelas dibubarkan."
Kami berdiri dan menunduk. Meneriakkan kata arigatou sekaligus dalam waktu bersamaan. Di balik itu, siswa yang duduk terbelakang selain diriku mulai berbisik-bisik ringan dan mengeluh tumpukan tugas yang tanpa ampun dibebani murid tingkat akhir oleh Tenzou-sensei.
Serombongan siswa berseragam hitam berbondong-bondong membentuk barisan semut keluar dari lubang pintu sempit. Keributan memecah tak peduli jika guru mereka masih mengemasi tumpukan buku-buku kembali ke dalam tas bututnya. Dengan buku-buku jari yang menahan dagu, kuamati Tenzou-sensei yang tidak terpengaruh dengan kebisingan remaja muda yang dikendalikan oleh adrenalinnya itu. Setelah meja mengajarnya rapi, barulah ia berbalik untuk menghapus sisa angka yang beberapa saat lalu kutulis dengan kapur lemparannya menggunakan penghapus kain. Kelas sudah kosong dan ia menepuk-nepuk tangan dari bubuk kapur yang mengotori.
Mata kami saling bertemu.
Sontak, aku menoleh ke arah jendela di samping kiriku. Aku tahu guru fisika berkacamata itu masih mengawasiku dari tempat ia berdiri. Kudengar ia berdehem dan melepas gagang kacamata yang menggantung di puncak hidungnya. Ia terlihat lebih muda. Setidaknya sedikit di atas kepala tiga.
"Kau tidak keluar seperti yang lainnya, Sasuke-kun?"
Akhiran kun adalah permulaan untuk bersikap ramah, tetapi bisa terhitung jari siapa saja yang memakaikan sufiks itu tepat di belakang namaku. Bahkan, tidak untuk Karin sekalipun. Kuanggap Tenzou-sensei adalah salah satu yang berhak untuk melekatkan kata 'Sasuke' dengan 'kun' sekalipun terdengar menggelikan bagiku.
Butuh waktu yang cukup lama untuk sekadar menoleh dan memejamkan mata sebagai pengganti anggukan. Itulah aku—ya seperti Uchiha pada umumnya. Entah lembaran-lembaran kertas yang sudah penuh dengan coretan-coretan aneh di atas mejaku sendiri terlihat jauh lebih menarik. Aku berdiri, mengumpulkan peralatan tulis ke dalam ransel dan keluar dari sana. Sekolah di tingkat akhir seperti membuatnya melayang bagai kapas. Dengan angin kecil saja, kau bisa terbang ke mana saja, termasuk menghindari kelas ter-membosankan sekaligus—Sastra Jepang.
"Memilih untuk bolos di subjek terakhir, eh?" celetuk Tenzou-sensei. Aku berhenti tepat di penghujung pintu geser. "Bukan masalah. Tentu. Tetapi, melewati sebuah kesempatan menikmati ilmu secara gratis itu bukan perbuatan baik lho. Siapa tahu mungkin dari kelas se-membosankan seperti Sastra Jepang misalnya, Sasuke-kun diberi petunjuk atau semacam ilham. Walau, pada akhirnya akan tertidur juga."
Memutar tubuh dengan tangan yang sembunyi di dalam saku celana. Tenzou-sensei tepat satu langkah dari wajahku.
"Kau tahu, alasan mengapa aku bersusah payah mengambil subjek Fisika Kuantum sebagai pilihan pertamaku di applicant tingkat SMU?" Ia tersenyum. Menyipitkan mata. "Karena saat aku tertidur selama kelas itu, akhirnya aku menyadari suatu hal—teori relativitas. Aku merasa telah tertidur selama lebih dari lima atau enam jam, tetapi anehnya kelas menyebalkan itu baru berlalu duapuluh menit saja. Time is relative."
Time is relative. Kaitan antara satu peristiwa yang terjadi di luar alam kesadaran kita sebagai manusia dengan intuisi primitif yang tersembunyi di alam bawah sadar akan membentuk sebuah garis lurus. Sekalipun harus menembus pintu dimensi yang berbeda. Kurasa, hal serupa berlaku juga untuk menit-menit yang kulalui bersama si pirang yang hobi nyengir kuda itu.
"Dan, ah. Senang akhirnya melihatmu kembali ke kelas, Sasuke-kun. Begitu pula dengan kabar kau akhirnya tinggal serumah lagi dengan ayah ibumu."
Mataku tak pernah berhenti mengawasi hingga Tenzou-sensei menghilang dari balik pintu keluar. Ia sempat mengecurutkan bibir untuk bersiul kecil, lalu melihat ke arahku kembali.
"Oh ya, aku hampir lupa. Kakakmu, Itachi adalah juniorku di Todai. Ia memintaku untuk mengawasimu selama di kelas dan—ia sangat lega saat tahu kau baik-baik saja meski sudah terluka parah pasca—" Sebentar ia mengangkat wajah untuk memilih-milih kata yang tepat. Tapi, ia mengatupkan bibir dan tersenyum seolah lupa dengan apa yang ingin dikatakannya. "—yang terpenting ialah kau kembali ke sekolah dan menjadi murid tingkat akhir normal seperti biasanya. Pertahankan terus semangat belajarmu, oke?"
Normal, eh?
Tepukan di pundakku adalah salam perpisahan singkat. Tepat di saat itu, ponsel dalam saku celanaku bergetar. Seolah diberi kemampuan cenayang, bisa kutebak pelaku utama yang kembali menerorku dengan email-email berisi: 'aku kesulitan memahami logaritma! Bisa kau ajari aku? Please, please, please. Ini hari pertamaku kembali ke kelas setelah meliburkan diri untuk follow up! Dan aku lupa segalanya seolah memori jangka pendekku telah dirusak oleh sekelompok serangga mutasi dari kota No. 6!'
Aku mendengus di bawah hidungku sendiri dan menganggap pesan-pesan singkatnya hanyalah dalih agar ia bisa meracuni otak milikku dengan ramuan berbentuk buku sci-fic-nya-apapun-itu hingga tiba di sebuah titik ia dapat mengendalikan apapun yang bisa dikendalikannya. Orang aneh dengan karakter yang culas. Semakin sering ia menerorku, semakin mudah pula bagiku untuk menyimpulkan suatu hal tentang dirinya.
Ia tak memiliki satu pun teman.
Maka, kuputuskan untuk tidak menemuinya hari ini.
.
.
.
"Woah, woah, easy tiger. Kau kelihatan kesal sekali hari ini, Sasuke."
Satu pukulan. Dua. Tiga. Hingga empat.
Sansak tinju yang digantung di tengah-tengah ring berubah bentuk oleh imajinasi semu di dalam kepalaku menjadi wajah Orochimaru yang dipenuhi warna-warna aneh. Gabungan antara kelabu dengan ungu, lalu merah dengan kuning. Bagaimana kedua buku-buku jemari ini ingin menghancurkan wajah seorang pria kriminal yang sangat doyan melakukan hal-hal bejad—bukan berarti aku tidak bejad—tetapi ia adalah terbejad dari semua yang bejad. Setidaknya aku masih berada dalam kategori berandal dan bukannya sosok yang memberi pengaruh buruk kepada suatu kelompok agar melakukan kejahatan serupa. Kebencianku yang teramat besar ini hanya bisa dialirkan melalui sarung tinju.
Ini bukan hobi. Bukan pula permainan kecil ala anak laki-laki. Melainkan cara menguatkan otot lengan.
Di dalam sebuah gudang bekas pelatihan tinju pro yang kemudian ditutup karena gagal mengumpulkan anggota, selain aku masih ada Suigetsu dan Juugo, tetapi si rambut merah berpostur nyaris dua meter itu sibuk dengan bacaannya di salah satu kursi penonton.
Mata abu-abu Suigetsu mengintip melalui celah-celah ring. Ia bersiul.
"Biar kutebak. Apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang sudah menjatuhkan harga dirimu atau seseorang yang sudah menjatuhkanmu? Dua pertanyaan yang membingungkan tapi aku yakin kau pasti memahaminya. Bukan begitu?"
"Tsk!" Aku mendecih setelah menolak pinggang. Menenangkan tubuh si sansak yang bergoyang-goyang layaknya rotasi bulan terhadap bumi di gantungan besinya. Perlu dicatat, hari ini aku hanya membungkus tangan dengan berlapis-lapis perban dan bukannya sarung tinju berbentuk layaknya bantal bayi itu. Nyeri, tentu, tapi lebih baik dibanding ketololan karena tak bisa berdiri kembali setelah hancur lebur diremukkan algojo suruhan si muka ular, Orchimaru. "Kau sudah tahu jawabannya, Sui."
"Hmm. Entahlah. Sebenarnya aku tidak bisa menebak jawabannya, Sasuke. Aku bahkan tak pernah tahu apa isi kepalamu walau memang tak ada satupun manusia super di dunia ini yang mampu membaca pikiran orang lain. Haha." cerocosnya. Aku masih sibuk memperbaiki buntelan perban di buku-buku jemariku. "Nah, jadi—sampai mana kita tadi? Oh, oke. Jika itu berarti kau menyebut nama seseorang dengan awalan 'O', maka aku punya informasi yang berhasil kucuridengar dari informan geng sebelah. Dan, kau pasti ingin mendengarnya."
"Apa?" tanyaku dengan mata disipitkan. Merengut seperti marmut kelaparan.
Suigetsu mendekat. Ia masuk ke arena ring dan menjaga jarak denganku sekitar lima langkah. Ia duduk di sudut ring dan bersandar di salah satu tiang. Mengelus-elus dagu untuk mengumpulkan kembali ingatannya. Juugo mulai melangkah semakin maju.
"Sepertinya orang suruhan Orochimaru yang berhasil kabur dari kejaran polisi—Jiroubo—si tambun yang kau bilang bertanggung jawab terhadap luka di pelipismu itu tertangkap basah sedang melakukan transaksi senjata dengan salah satu siswa otak udang dari SMU di prefektur Miyashita. Senjata-senjata itu tampaknya akan digunakan untuk menyerang SMU di prefektur ini. Yang jelas bukan sekolah kita, tetapi tetap saja akan membuat masalah besar. Mengapa kusebut masalah besar—pertama, kau terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan urusan anak buah Orochimaru. Kedua, aku sudah berjanji pada ibuku untuk tidak lagi melakukan hal-hal bodoh dan konyol di tahun terakhirku di SMU. Dan, ketiga—jangan lupa kalau 'Taka' dibentuk oleh Orochimaru. Tetapi, kau membelot. Itu saja informasi dariku. Sekian. Ada pertanyaan, hm?"
Sontak, aku mencibir. "Ingatkan juga bukan hanya 'aku' yang membelot. Kita memilih untuk lari."
"Tepatnya, membebaskan diri, Sasuke."
"Lalu, apa yang menjadi masalah terbesarmu dari informasi penyerangan sekelompok remaja tukang membolos itu?" Kini, aku berbicara seperti anak baik-baik yang hidup dalam sistem selamatkan sekolah kita dari para mafia dan sebagainya. Suigetsu melotot.
"Dulu dan sekarang pun, kau masih si Sasuke yang hobi membolos, terutama subjek Sastra Jepang." Ia berbicara sembari melipat lengan. Memasang tameng agar ia bebas memvonis namaku sebagai satu-satunya terdakwa bersalah. "Yang anehnya juga—kenapa Orochimaru masih bernafsu memburu dan menyingkirkanmu dari muka bumi ini, huh? Apa yang kau lakukan sehingga membuat si muka ular itu naik pitam seperti medusa transgender? Ada hal yang kau sembunyikan dari kami?"
Tidak ada adalah jawaban seorang pengecut. Sebaliknya, menjawab ya mungkin akan berimplikasi pada banyak hal. Salah satunya adalah topik perbincangan yang semakin meruncing ke arah yang irelevan semacam gangguan emosional serta psikis yang kualami berkat tekanan ayahku selama ini. Menjadi Uchiha memungkinkan untuk lahirnya pasien-pasien yang akan menetap di 'bilik renungan kejiwaan' selama entah kapan itu. Ayahku berhasil bertahan dari sekian puluh ribu serangan bom atom kakekku, Uchiha Madara yang terkenal sangat buruk dalam mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Seolah, semua Uchiha terlahirkan dengan bakat menyiksa melalui jalur abstrak bernama batin. Ibuku adalah pengecualian terbesar. Sebagai satu-satunya anak perempuan di jalur keluarga inti yang tidak begitu dikenal, ia tumbuh dengan sejuta cinta dari kedua orang tuanya. Karena itu, ia dapat membentuk pribadi kakakku seperti seseorang yang tidak terlahirkan dari darah para Uchiha. Ia berbeda dan aku tahu itu.
Lalu, apakah aku harus mengakui salah satu kesalahan terbesarku hingga di malam itu aku nyaris bersua dengan shinigami? Di mana dengan bodohnya kubiarkan satu-satunya wanita kepercayaan si muka ular itu lari dari cengkeraman berbisa miliknya? Dengan seribu satu macam kisah dari si wanita di bar malam itu dan membuatku yakin untuk membiarkannya lari? Tidak dengan uangku, tentu, tetapi dengan uang-uang rampokan bos mereka yang sukses kurebut kembali melalui transaksi palsu? Sisanya, kubakar uangnya. Akhir kata, seseorang bernama Orochimaru menaruh dendam kesumat padaku. Kisah yang heroik, sungguh. Walau, di akhir dari pelarian si wanita yang kutahu bernama Shion itu sangatlah tidak heroik—sebelum Jiroubo memukul pelipisku, ia berkata sudah membawa mayat wanita itu bersama tumpukan uang yang kubakar habis. Bagus. Mungkin aku sudah terlibat dengan dua macam kejahatan sekaligus, meski bukan aku pelaku pembunuhnya.
Ditambah kenyataan jika kesepakatan agar Taka terlepas dari tangan-tangan iblis Orochimaru harus dibayar mahal dengan pengkhianatan kecilku di belakang Suigetsu, Juugo dan Karin—aku akan memilih untuk diam. Serapat mungkin.
Kadang pula pemikiran konyol ini terbersit: kehidupan abnormal ini tidak sesuai dengan citra seorang anak SMU. Kecuali untuk remaja kurang waras sepertiku dan menyandang titel Uchiha.
"Hei, Sasuke. Kenapa kau diam, eh?"
Mengangkat wajah dan menelisik dalam-dalam melalui sepasang opal hitamku. Suigetsu menundukkan tubuhnya dan tampak cemberut.
"Jika kujawab ya, kau masih menghakimiku sebagai pemuda brengsek tak tahu diri yang harus mengakui semua kejadian ini adalah kesalahanku?" tanyaku bernada frontal.
Ia mengudikkan bahu. "Tergantung hal apa yang kau sembunyikan. Lagipula—aku tidak tahu ternyata kau hobi membaca novel. Apakah itu termasuk dalam hal yang kau sembunyikan? Karena jangan khawatir akan masalah itu, Sasuke. Aku akan tutup mulut kok." Mata keabuan bercampur ungu milik Suigetsu melirik isi tasku yang memburai di pinggir ring. Ketololanku telah mencapai tingkat teratas. "Bahasa asing? Magnificent."
"Hn." Buru-buru kubuang wajahku sejauh mungkin darinya. Menghindari tatapannya yang menyebalkan sekaligus memuakkan.
"Kanojo?" Berarti, pacar atau kekasih wanita. Spontan, aku mendelik tajam. Mengerutkan kening tipis. Ia mengangkat tangannya seperti tanda menyerah. "Oke, oke. Maaf. Jangan bunuh aku dengan kedua matamu itu. Demi Tenjin-sama, aku masih ingin melewati ujian akhir applicant-ku di universitas dengan baik."
"Kau sebaiknya tetap tutup mulut. Kalau tidak—"
"Kalau tidak—umm—kenapa?" Ia mencoba menguji kesabaranku. Usaha yang bagus.
Si gigi taring melompat cepat dan meraih bacaan pemberian gadis berpakaian petani pertengahan abad ketujuhbelas di Belanda itu. Mengibas-ngibaskan sampul dan halaman pertama di depan wajahku.
"Sui, hentikan. Jangan usik Sasuke lagi." Setuju dengan Juugo. Suigetsu akan tahu akibatnya.
"Oh yeah? Memangnya kau akan melakukan apa, Sa-su-k—"
Lenganku melilit di antara ruang yang terbentuk di antara lengannya. Berbalik dan menarik bagian atas tubuhnya ke belakang. Jemariku menyusup ke arah lehernya. Cara mudah menghabisi orang dengan tangan kosong.
"Sa—kh—"
Oh, wajahnya membiru. Respon yang mengesankan.
Dua lengan Suigetsu berusaha mencekikku balik saat sikunya berusaha menghantam dadaku. Usaha yang kurang beruntung sebab sebagian besar mereka akan melawan dengan cara seperti itu. Kakiku yang bebas menendang satu kakinya hingga ia terpeleset jatuh.
Tapi, sayangnya, aksi bergulat-gulat layaknya bocah cilik ini harus berakhir tepat saat Juugo mendekati kami berdua dengan wajah ragu-ragu. Menyerahkan sebuah benda yang kutahu adalah ponselku.
Dengan ekspresi hati-hati, ia menyodorkan benda berlayar besar itu padaku. Kedua alisku mengkerut.
"Berbunyi dari tadi. Mungkin telpon penting." ujarnya tak bernada.
Kembali benda berkulit hitam pekat itu berdering. Suigetsu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi setelah yakin aku tidak benar-benar berniat menghabisinya saat itu juga. Aku menjauh dan mengangkat telpon dari siapapun yang menghancurkan kesenanganku bersama si bodoh Suigetsu.
"Ya."
Diam. Aku mengerutkan kening.
"Ha—"
'Sa-Sasukeeeeee! Cepatlah datang kemari! A-aku membutuhkanmu!'
Keningku semakin berkedut.
'Ka-kaki palsuku tersangkut di salah satu celah pintu menuju terowongan bawah tanah!'
"Tsk! Oi, baka! Kenapa kau harus menelponku untuk hal darurat tidak berguna seperti itu, hah?!" Suaraku meninggi seperti orang kesetanan. Suigetsu melotot dan mundur beberapa langkah.
'Err—ah—i-itu karena—itu—aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar sekarang! Pokoknya datanglah ke jalan—'
Menit berikutnya, hanya ada sebilah tatapan bingung bercampur ketakutan baik di wajah Suigetsu maupun Juugo. Keduanya berusaha membuka suara, tetapi rasa frustasiku sudah mencapai ubun-ubun dan mereka menutup mulut kembali.
"Tsk. Aku pergi."
Juugo mengikuti hingga di depan pintu masuk. Suigetsu terdiam di tempatnya dan berteriak.
"Hati-hati dengan ajakan kencan dari para penguntit, Sasuke!"
Sialan.
.
.
.
Adalah sebuah jalan yang terbilang tidak terlalu ramai untuk dilalui oleh para pejalan kaki dan pengguna sepeda tua. Mungkin inilah alasan mengapa si pemilik cengiran kuda dan berkelakuan abnormal itu menelponku seolah-olah akulah satu-satunya dewa fortuna yang akan menyelamatkannya dari serangan puluhan pasang mata yang kebingungan. Tepatnya, tak tahu harus melakukan apa meski beberapa petugas kepolisian setempat yang didatangkan oleh warga untuk membantu si bodoh ini melepaskan diri dari cengkeraman celah teralis lingkaran yang digunakan sebagai pintu menuju terowongan bawah tanah itu. Entah apa yang dilakukannya dan bagaimana sehingga ia terjebak dalam situasi konyol, aku tidak butuh penjelasan apapun darinya. Sementara memandanginya dengan tatapan merendahkan, kubiarkan ia terkekeh-kekeh menahan malu. Bisik-bisik anak kecil dan orang tua yang iba dengan keadaan pemuda tujuhbelas tahun berkaki prostetik itu sudah cukup menggantikan secuil perhatian yang diharapkannya. Katakan itu aneh, tetapi di wajahnya masih ada senyuman absurd.
Dua orang pria berseragam polisi membawa alat pemotong besi dan berjongkok di masing-masing sisi Naruto. Menghitung mundur saat menyalakan mesin itu hingga besi yang nampaknya sedikit mencederai prostetik Naruto terlepas satu per satu. Butuh sekitar limabelas menit hingga ia benar-benar terbebas. Bekas gesekan besi dengan titanium terlihat di kaki palsunya itu.
Yang ajaibnya, ia tetap terkekeh sembari menggaruk-garuk tengkuk.
Beberapa orang tua menepuk-nepuk pundak si bodoh itu untuk lebih berhati-hati melangkah.
Jadi—dia membuatku susah payah datang kemari hanya untuk menjadi saksi mata aksi spektakuler berjudul menyelematkan seorang pemuda berkaki satu dari jeratan besi pintu terowongan bawah tanah. Gila.
"Err—apa kau datang kemari hanya untuk melihatku saja atau—"
Melihat caraku menatapnya, kurasa ia akan berhenti nyengir kuda ataupun terkekeh-kekeh.
"Oooke. Itu tadi—ya—kau harus percaya padaku, Sasuke! Tadi itu aku benar-benar terjepit dan—dan tidak ada satupun orang yang melihatku. Jadi, satu-satunya orang yang muncul di kepalaku dan tak berpikir lama ingin kuhubungi adalah—"
"Terserahlah."
Mungkin ia berusaha membuka mulut tapi buru-buru dikatupkannya. Seperti ikan yang tersesat di daratan. Perlahan-lahan ia menyamakan langkah denganku.
"Sorry." ujarnya kecil. Terdengar berbisik. "Aku benar-benar bingung harus meminta tolong kepada siapa. Err—"
Sudut mataku melipir ke arah kanan. Observasi detil ekspresi wajah.
Ia melanjutkan sembari menggaruk tengkuk. Kebiasaan rupanya.
"Sudah mmm sekitar tiga jam aku terjebak di sana. Dan—"
"Apa yang sebenarnya kau lakukan, huh?" tanyaku memotong. Lagi, ia terkekeh.
"Itu—pokoknya aku hanya berlari-lari untuk mengejar balon seorang anak perempuan yang terbang hingga kemari. Tahu-tahunya, ujung prostetikku tersangkut di salah satu celah besi dan saat berusaha kutarik paksa, yang terjadi malah sebaliknya. Kakiku semakin masuk dan voila tersangkut sempurna. Haha. Yah, konyol ya?"
Kulihat ia sibuk menggaruk pipi dengan telunjuknya. Menyembunyikan sesuatu di balik kekehan di wajahnya. Aku mendesah selagi berpikir ada alasan lebih masuk akal yang membuat pemuda aneh ini berlari-lari seperti orang bodoh yang tak tahu bagaimana bertindak seyogyanya orang dengan keterbatasan. Ia—mungkin aku yang terlalu banyak berpikir—hanya ingin melakukan hal-hal yang sama seperti orang normal lainnya lakukan. Termasuk saat ia berhenti melangkah secara tiba-tiba kala gadis cilik berkepang dua melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan. Dengan satu tangan yang bebas menggenggam ujung benang balon helium. Kuperhatikan lekat-lekat ekspresi di wajahnya. Yang ia katakan adalah kejujuran. Unik.
Lalu, kuikuti ia kembali. Memastikan sinar matahari yang mulai menurun beberapa derajat dari ambang batas horizon terlihat sempurna di mataku. Kami terdiam sementara ia menyenandungkan sebuah lagu.
Ia aneh. Terlalu membingungkan. Anomali. Berbeda. Kelainan—dalam definisi konotatif.
Buktinya, ia masih bisa tertawa-tawa saat melihat sekumpulan remaja SMP sibuk mengumpan bola ke arah teman timnya di pertandingan street basketball. Aku masih berdiri di tempat. Memandangi wujudnya yang mulai menggelap oleh efek bias matahari. Ia memajui salah satu pemain di pinggir lapangan dan tak lama setelahnya ia meneriakkan namaku. Terlambat untuk berbalik, pikirku. Sebab, ia sudah berlari dan berhenti tepat di hadapanku, menyisakan jarak tipis, lalu mengedipkan mata sebelah. Pergelangan tanganku adalah korban kejahilannya. Menariknya lalu membawa kedua kakiku agar berada sejajar dengan kaki prostetik miliknya.
Anehnya, aku merasa sekelompok binatang melata berusaha menelusup dari sebuah ruangan yang sulit untuk dijabarkan dalam tubuhku. Terasa menggelitik sekaligus lucu. Jika petang hari ini adalah kali pertama aku bergabung dengan pemain asing di tengah lapangan basket, maka kurasa lapangan-lapangan street basketball yang berikutnya tidak akan terasa aneh.
Uzumaki Naruto adalah anomali dari semua anomali. Sesuai kata-kata gadis berpakaian farm lady di book fair saat itu, pertemuan konyol ini adalah takdir Tuhan.
Pemuda ini membuat sudut bibirku tertarik untuk membentuk senyuman ringan.
To be Continued
A/N:
Thanks for all the humble reviewers. Though I do need some critics not only updating request. Khekhe.
