Normal adalah kata pertama yang terbersit sesaat setelah pintu dengan bel kecil di depan ujung hidungku terbuka dan menampilkan sosok seorang wanita bercelemek. Wajahnya mengkerut kasar dan jemarinya masih menggenggam grendel. Ibu siapakah itu, kurasa aku bisa menebak tanpa menanggapi. Yang cukup mencengangkan hanyalah betapa kontras gen yang terlihat antara keduanya. DNA memang unik, tetapi tidak se-unik ini sepertinya. Walau senyum kemudian mengganti raut di wajahnya secara buru-buru ketika si remaja berkaki protesa di sampingku terkekeh dan nyengir. Ia menampik keterlambatannya kembali ke rumah dengan alasan main-basket-hingga-lewat-jam-makan-malam dan bukannya menambahi adegan tiga jam bersama pemuda tujuhbelas tahun yang kakinya terjerat besi pintu terowongan air di bawah tanah karena ingin mengejar balon gadis enam tahun yang terbang terbawa angin. Aku melirik ke arahnya dan sesi pertengkaran kecil berbuntut salam merdu dari suara sang wanita membangunkanku dari lamunan.

Apakah hal tak berguna semacam inilah yang bisa disebut sebagai keluarga?

Tepat saat wanita berambut merah menjuntai itu tersenyum lebar, ia memersilakanku masuk. Tetapi tidak dengan putra tunggalnya itu. Aku masih sibuk mengganti sepatu dengan sandal rumahan dan menunggu hingga si bodoh Naruto selesai menerima omelan ibunya dengan wajah bersungut-sungut. Mungkin ada senyum kecil di wajahku, tapi masa bodohlah, aku merasa sangat nyaman ketika menginjakkan kaki di lantai kayu rumah berlantai dua ini. Tepat di ujung koridor, ada meja telpon di samping kanan dan tangga di samping kiri.

Kudengar ibu Naruto berbisik.

"Teman?"

Dengan senyum bodoh bersama kebanggaan yang entah selalu saja muncul di wajahnya itu, ia mengangguk. Seolah telah menemukan harta karun.

"Dari Support Group?"

"Yap! Dan—Kaa-chan, biarkan aku masuk dan berganti baju, ok? Kaa-chan pasti tidak mau melihat anakmu yang imut-imut ini kedinginan hingga kaki-kakinya tak bisa merasakan apapun lagi, bukan?"

Lalu, diakhiri dengan kekehan lagi. Wanita itu menggeleng-geleng. Selanjutnya, menutup pintu dan membiarkan putranya melepas sepatu untuk diganti dengan sepasang sandal rumah.

Gabungan frase tak bisa merasakan apapun lagi kurasa hanyalah metafora. Realitanya, ia dan kaki prostetiknya tak bisa merasakan apapun. Aku menunduk selagi mengalihkan perhatian ke seluruh isi koridor depan pintu rumah keluarga mungil Naruto. Setiap decitan lantai kayu bisa terdengar saat aku menginjakkan kaki. Tepat satu setengah meter dari atas kepalaku, lampu kristal menggantung dan terkadang memberikan pencahayaan berwarna-warni, mirip seperti prisma. Tembok-tembok saling membatasi ruang demi ruang tersusun oleh gabungan batu bata yang dipoles dengan pelitur tapi ada juga yang dibungkus oleh cat berwarna merah kekuningan. Rumah dengan interior desain yang menyontek gaya European.

"Tadaima."

"Dasar bodoh. Semestinya kau mengucapkan itu saat Kaa-chan membuka pintu tadi."

"Ooooke. Jadi apakah aku harus keluar lagi dan menekan bel agar Kaa-chan membukakan pintu untukku, lalu aku mengucapkan tadaima?" ocehnya dengan pose bertolak pinggang.

Kulihat ada satu kesamaan yang diturunkan wanita itu pada tampilan luar Naruto, yaitu cara keduanya mengerutkan alis dan menekuk wajah. Apakah hal yang sama juga berlaku untukku? Oke, topik tolol untuk melamun, kurasa.

"Ah! Boleh kutahu nama teman putraku yang maaf sangat menyusahkan ini?"

Sontak, kudengar Naruto merengek sambil menarikku ke arah tangga. Tapi, buru-buru kulepas.

"Hei bocah, bersikaplah sopan terhadap tamu meski itu adalah seorang teman. Mengerti?"

Bibirnya menggerutu. "Iya, aku tahu itu Kaa-chan. Aku cuma mau mengajak Sasuke melihat-lihat basecamp spesial di ruang tersembunyi di bawah kamarku. Ia sudah sangat tidak sabar untuk melihatnya."

THE HELL! Dia dan asumsi menggelikannya seolah-olah membuat dalih jika aku pulang setelah jam makan malam dengannya demi mengamati entah apa itu yang kerapkali diulang-ulanginya selama duapuluh empat jam terakhir melalui obrolan dan pesan teks tak bermutu! Sialan.

Percakapan absurd antara ibu dan anak ini tidak membuatku risih. Seolah terkadang aku mengharapkan dan membayangkan hal yang sama terjadi di antara ibu dan ayahku. Bagi keluarga Uchiha yang terkenal kaku, membuat suatu komunikasi irasional akan membuang-buang waktu. Waktu bagi Uchiha adalah sesuatu yang akan menentukan apakah kau bisa hidup hari ini dan esoknya. Aku tidak mengerti tetapi ayahku memerlihatkannya dengan bentuk abstraksi. Itachi mungkin merasa nyaris kehilangan kewarasannya jika seumur hidup dihabiskan bersama para Uchiha dan aku sangat menghargai keputusannya untuk menjauhi kompleks perumahan elit klan kaku ini. Setidaknya, ia telah terbebas. Bagaimana denganku? Di samping ingin memberontak, tindakanku dahulu dan masih berhubungan dengan mafia-mafia di luar sana menjadi salah satu cara agar pikiranku tidak menuntut mimpi-mimpi di atas langit yang selamanya takkan dapat diraih.

Anehnya, bagi beberapa orang, mimpi semacam itu bukan lagi balon-balon gas yang melayang di angkasa dan tak ada satupun makhluk bumi bisa menyentuhnya. Tetapi, tepat berada di bawah bayangannya sendiri. Bersandar bersama-sama saat mereka melangkah.

"Sasuke. Uchiha Sasuke." Aku menjawab pertanyaan ibu Naruto dengan intonasi rendah. Wanita itu menarik sudut-sudut bibirnya. Menawarkan senyum ramah yang hangat.

"Baiklah, boleh kupanggil Sasuke-kun?"

Aku tidak keberatan. Dengan senyum tipis, aku mengangguk.

"Yaah, panggil dia Einstein atau Newtonjuga tidak masalah kok, Kaa-chan. Dia itu jenius!" celetuk si pirang di pinggir teralis tangga tapi tatapan mendelik dari sang ibu membuatnya tak berkutik lalu melompat menaiki anak-anak tangga.

Wanita berambut merah itu menghela nafas. Memijit keningnya. Tapi ia mendekatiku. "Anakku itu pasti sudah memaksa Sasuke-kun untuk datang kemari, bukan?" Sejujurnya memang iya. "Mm, sebenarnya ia sangat susah bergaul dengan remaja lain seumurannya pasca—kau tahu—" Aku mengangguk mahfum. Ia semakin merendahkan suara dan menatap lantai di bawah sana. Ini adalah jenis percakapan yang mungkin tak disukainya, mengingat tak ada satupun orang tua yang rela membahas dengan cukup terbuka perihal inti kesedihan putranya. Aku paham. "—tapi, aku bersyukur Sasuke-kun bersedia menemani bocah itu. Kalau dia suka mengganggu Sasuke-kun, hiraukan saja dia, ok? Sepeninggal Sakura-chan, bocah itu hobi meneror anak-anak lain yang dilihatnya menarik untuk dijadikan teman. Yah, sebagian besar yang datang kemari akan pulang dengan wajah pucat. Pertamanya, aku melarang keras tindakan konyolnya itu. Namun, mendengar saran dokter yang merawat Naruto dari awal hingga sekarang, membiarkan bocah itu melakukan hal yang diinginkan sama berharganya dengan mengganti apa yang tak bisa diperolehnya kembali."

Sakura-chan pernah disebutkan namanya oleh gadis berpakaian petani Eropa abad pertengahan di Book Fair beberapa hari lalu. Aku memilih untuk tidak menanyakannya.

Raut pias tapi tidak seputih saat seseorang ditengahkan dengan kondisi mendesak kejiwaan. Aku mengamatinya lekat. Bukan kesedihan pula yang tergambar di sana, melainkan kekuatan yang pernah ditunjukkan ibuku ketika aku melihatnya di bilik rumah sakit aku sadar beberapa hari lalu.

Sekali lagi, aku mengangguk. Ia merasa lega.

"Jangan khawatir, Namikaze-san, aku tahu apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya berhenti melakukan hal-hal bodoh."

Ia terkejut, pada mulanya, lalu terkekeh. Oh, cara ia tertawa sama seperti putranya.

"Terima kasih, Sasuke-kun. Dan, ah, aku membuat puding teh hijau tadi. Kau mau segelas cola atau coklat hangat?"

Makanan dingin akan cocok dengan minuman panas.

"Coklat hangat. Dan, maaf merepotkan."

Menepuk-nepuk pundakku dan menghilang di pintu yang kutahu bersambung dengan ruang bersantai keluarga lalu dapur. Ibu Naruto tersenyum terakhir kali.

"Tidak akan pernah merepotkan kok. Kuharap Sasuke-kun bisa betah di sini."

Aku menoleh. Mata sehitam opal milikku bertabrakan dengan biru langit Naruto. Seutas garis melengkung terbentuk di bibirnya dan semakin melebar kala ia menyipitkan mata. Garis-garis aneh di kedua pipinya mengingatkanku pada wujud rubah salju yang memiliki raut menyerupai anjing tersenyum. Aneh tapi tidak buruk. Langkahku lurus, mengikuti anak-anak tangga menuju suatu tempat yang sangat ingin Naruto perlihatkan padaku. Entahlah. Katakan ini semacam perjumpaan enigmatis. Tidak bermula dengan sapaan hai ataupun tabrakan picisan layaknya drama opera sabun. Tidak butuh banyak drama di perkenalan ini. Yang dibutuhkan hanyalah silang pemahaman. Bahwa, masing-masing dari kami memiliki satu kekurangan dan berharap untuk saling melengkapinya. Ia dan keinginannya untuk hidup normal seutuhnya, lalu aku dan keinginanku untuk mengurangi sisa umur yang ada. Baginya yang tak lagi terbebani oleh umur dan shitty whitty lainnya, ia dan kaki prostetiknya adalah sahabat karib.

Kuikuti langkahnya.

Dan, ia menunjukkan banyak keajaiban melalui bilik kecil yang disebutnya sebagai Naruto's Lil Dream.

.

.

.

-4-

Hints

.

.

.

Hari yang terlampau menyengat menjadi titik temu dua matahari—teori yang ganjil. Ubun-ubunku terasa sangat panas seperti akan terbakar. Bukan bahasa konotatif, tetapi dalam arti yang sesungguhnya. Selain tinju, sesekali aku akan menggunakan kolam renang outdoor sekolah yang biasanya akan sepi seusai jam makan siang dan akan kembali ramai setelah bel akhir pelajaran. Sastra Jepang sudah keluar dari daftar hal-yang-membuatku-tetap-ingin-duduk-di-dalam-kelas. Secara formal, aku tak perlu menahan diri untuk berlama-lama membuat keputusan imbisil itu. Berkat dorongan Tenzou-sensei, pencerahan untuk memikirkan apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan bagiku telah mengeluarkan hasil yang mengejutkan.

Yang kulakukan hanya membiarkan tubuhku mengapung di atas permukaan kolam. Mengawasi langit. Biru yang terbentuk di atas sana adalah pantulan sinar dengan gelombang terpanjang milik matahari terhadap permukaan laut di bumi. Mengapa harus biru—aku sedang tidak ingin menjelaskannya. Aku memejamkan mata saat terpaan cahaya kuning itu tidak membebani kerja retina di balik layar mataku. Kesal, google yang semula hanya melingkar di leherku kini menempel untuk mengurangi efek pembiasan itu. Lalu, aku melayang seperti serangga air.

Langit seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Tergantung sudut pengamatan yang dilakukan. Bagiku, perspektif yang sama berkorelasi terhadap konstanta kenormalan. Sesungguhnya, sesuatu yang bisa disebut normal hanya eksis jika anomali tercipta. Begitu pula untuk langit dan air di kolam ini. Keduanya tidak akan terlihat biru bila salah satunya menghilang. Teori ini tidak membuktikan apa-apa. Berbentuk serangkaian mekanisme pembenaran setiap manusia. Sebab, pada dasarnya, manusia menginginkan efek kontradiktif di dalam dirinya. Dan, kontradiksi ada jika relevansi dinyatakan ada jua. Aku menyebut Naruto Uzumaki adalah kontradiksi itu karena ia terlihat menyerupai titik kecil di dalam lingkaran besar. Ia seolah berwujud sama seperti penderita kanker pada umumnya, yang berbeda hanya terletak pada garis batas yang memisahkan ia dan penderita lainnya—diagnosa NEC. Antara bias kenormalan dan anomali. Aku menyebut dirinya demikian.

'Kau pejuang! Seperti para kadet lainnya!'

'Difabel tak membuatmu berhenti bermimpi.'

'Hiduplah seperti seekor lebah'

'I love my life! I love my life! I love my life!'

'Anna Frank is the heroine!'

'Books could cover your weakness'

Poster motivasi. Tidak. Lebih daripada itu. Naruto berkata berkat ayahnya sang arsitek interior rumah, tak ada bagian dari ruang bersantai keluarga yang luput dari kalimat pembangkit semangat. Mulai dari seprai bantal sofa hingga lukisan-lukisan abstrak yang dipigura di sepanjang dinding. Tetapi, yang merasa diberi harapan palsu hanya mencibir dengan nada bersungut-sungut—di balik punggung ayahnya tentu. Menganggap semua kalimat-kalimat motivasi itu tak lebih dari sekeping pengingat bahwa putranya akan mati sebentar lagi.

Aku menampakkan ekspresi datar padanya. Berharap tidak membawa topik ini berlanjut lebih runyam.

Trofi turnamen kelas menengah untuk pelajar SMP berdiri tegak di deretan trofi setinggi gelas wine lainnya. Ia menamai trofi itu dengan sebutan little birdie—burung kecil—sebab berkat lompatan dunk-nya yang konon mencapai ketinggian satu setengah meter lebih, ia dinobatkan sebagai shooter terbaik sepanjang perjalanan turnamen itu. Mungkin ia memiliki sayap, entahlah. Atau setidaknya mengingatkannya pada dua buah kaki yang masih utuh. Menyakitkan tapi ia tidak peduli. Selama sesi tur sejarah trofi di deretan rak per rak, bola basket mistis dengan cap tanda tangan Michael Jordan, lalu diakhiri dengan pertarungan sengit di arena perang Game of Throne—serial ini mengeluarkan game 3D ternyata; maka, kuputuskan untuk bertolak dari rumah keluarga Namikaze itu tepat di pukul sepuluh P.M. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pulang. Hanya perasaanku atau bisa kudengar bocah pirang itu mendengus sembari mengerutkan bibir. Tetapi, saat aku berbalik, ia melambaikan lengan penuh semangat yang kubalas dengan lambaian singkat. Motorku sudah kedinginan rupanya.

Apa yang berputar-putar sejenak dalam memoriku membuktikan jika arus akibat angin sepoi menggerakkan air dalam kolam perlahan demi perlahan. Hingga kurasakan ujung tumitku sudah menyentuh tepi batu loncatan di pinggir kolam. Menggerakkan kaki ke bawah dan mencoba menghilangkan apapun yang membuat pengelihatanku terasa buram dengan cara menahan nafas dalam kubangan air jernih itu. Selama nyaris empatpuluh detik, aku muncul kembali ke permukaan. Dengan sensasi cipratan air ke segala arah. Kakiku berpijak di titian anak tangga kolam dan melangkah sembari melepaskan cap hitam yang membungkus kepalaku serta google. Aku mendapati seseorang yang menghabiskan separuh hidupnya hanya untuk mengerucutkan bibir.

Suigetsu.

"Kenapa kau kemari?" tanyaku. Ia berceloteh selama aku mengeringkan tubuh yang basah dengan handuk. Sebagian besar yang bisa kutangkap adalah rencana penyerangan geng sekolah prefektur sebelah ke sekolah di prefektur ini. Bukan tema yang menarik sebab ia mengulang-ulanginya hampir setiap saat. "Lalu, kau ingin aku berada di tengah-tengah mereka dan mencoba memediasi layaknya malaikat, begitu? Jangan konyol, Sui."

"Awalnya sih aku berpikir begitu. Soalnya… andai mereka berhasil ditangkap pihak berwajib, kau pasti tahu akibatnya, bukan? Mereka akan menyebut-nyebut organisasi laki-laki berwajah transgender itu dan tentu saja pasukan intel akan mengusut kasus itu hingga ke bawah. Dan kau tahu apa artinya itu, sobat?"

Ia berbicara dengan kilatan dari kedua matanya. Menggosok-gosok tangan seperti menemukan buruan bagus. Aku tidak terpengaruh. Lebih tertarik dengan ide hancurkan saja dua kubu sekaligus. Skeptis tapi lebih kapabel.

"Taka sudah terhapus dalam daftar kelompok ingusan mereka. Tiga remaja pembelot takkan dipusinginya lagi. Kita hanya bagian dari kerikil yang merusak sepatu mahal Orochimaru. Tidak membawa pengaruh besar." ujarku. Suigestu tampak mengelus dagu sambil berpikir. Entah apa yang ada di dalam kepalanya itu. "Walau begitu, aku yakin Orochimaru tidak akan melakukan hal itu."

"Itu? 'Itu' maksudmu apa?"

Aku berdecak. "Membeberkan semua anak organisasinya kepada polisi atau intel atau apapun itu."

"Oh." Ia semakin mengedutkan kening. "Tapi, aku masih curiga padamu. Kau selalu berkata Taka tak memiliki koneksi lebih jauh lagi dengan Orochimaru semenjak kita benar-benar lari dengan memberinya sejumlah uang—berkat ayahmu, tentu—anehnya algojo-algojonya yang siap mencincang siapapun yang tampaknya masih berurusan dengan kehidupan kecilnya nyaris sudah membuatmu kehilangan nyawa. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami dan jelas sedang menyembunyikannya di bawah hidungku. Penjelasan non verbal tiga hari lalu di atas ring tak bisa kuterima dengan mentah-mentah, Sasuke."

Kali ini, pemuda itu mengernyitkan kening seperti memelas meminta sesuatu. Apapun itu, bagiku, tak memiliki hubungan dengan Suigetsu maupun Juugo, terlebih Karin—ia hanya pemain tambahan. Ini adalah urusan personal antara aku dan Orochimaru, yang sayangnya masih akan berlanjut entah kapan. Ia mungkin sedang mencari cara dan celah untuk menyerangku seorang diri. Berurusan dengan pihak berwajib hanya memperpanjang masalah. Karena itu, lebih baik untuknya membawaku ke tempat di mana tak ada seorang pun di sekitarku. Lucunya, ada sosok remaja lain yang kini sibuk menempel kemanapun aku pergi selain ke sekolah. Haruskah aku berterima kasih lagi kepadanya?

Aku melengos menjauh. Cara terbaik menutup konversasi.

"Sasuke. Bagimu ini seperti permainan anak kecil semacam truth or dare, tetapi—" Ia menundukkan wajah. Mengepalkan tinjunya. "—Taka adalah Taka. Aku tak mungkin berdiam diri saat kutahu sahabatku terluka parah akibat perlakuan kurang ajar seseorang yang dahulu pernah menyakiti kita semua."

Langkahku terhenti sebentar. Bisa kuamati bagaimana prospek sudut pengawasan berpengaruh besar akan bayangan yang tercipta. Ia semakin memanjang dan menarik garis-garis imajiner. Tepi dalam ibu jari kakiku bertemu. Aku tidak paham bagaimana Suigetsu menatapku. Kemarahan atau keputusasaan. Keduanya sudah bercampuraduk. Aku menoleh sedikit, menengoknya di atas bahuku yang bidang. Kulihat ia menggigit bibir keras-keras kemudian menarik nafas panjang. Lalu, pandanganku kembali lurus. Melangkah lagi dan meninggalkannya berpijak bersama air mata yang memburai.

Aku—brengsek. Memang.

Berikutnya, aku tidak paham ke mana kaki-kakiku yang gontai ini melangkah kemudian. Yang kutahu setelahnya, tepat di bel akhir sekolah, intuisiku bergerak menuju suatu tempat.

Mengunjungi prefektur tetangga.

.

.

.

Aroma tembakau. Asap mengepul. Denting besi-besi karatan. Tawa sinting.

Rumah sakit jiwa mungkin akan menyumpahserapah jika dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja, bangsal-bangsal mereka dipenuhi oleh remaja tak berotak seperti mereka.

Aku tahu itu sebab salah seorang berandal yang pernah memaksa Suigetsu menyerahkan sejumlah uang padanya alias merampok remaja miskin harus berurusan dengan ruang konseling keluarga selama sebulan penuh tanpa jeda. Bukan tempat menakjubkan untuk mengakhiri musim panas. Di awal musim gugur, ia kembali dan aku melihatnya selalu memasang tampang ketakutan. Takut padaku atau takut pada dewa kematian yang setia melengket di atas bahuku? Tidak tahulah.

Gudang kosong yang berlokasi tak jauh dari sekolah prefektur sebelah. Butuh satu setengah jam untuk tiba di tempat itu menggunakan subway train. Jangan lupa ada desas-desus hantu yang mengaburkan status lokasi terbaik untuk menyembunyikan barang-barang illegal, termasuk aktivitas semacam apa yang beroperasi di dalamnya. Aku mengenali semua aroma dan bunyi berisik itu. Sebentar lagi, para berandal tak tahu malu ini akan saling menyerang. Salah satu dari mereka pastilah anggota muda geng Orochimaru.

Hipotesisku terbukti. Ketika aku tiba bersama ekspresi kusut, mereka—yang kurasa berotak udang—sudah lari terbirit-birit. Menyangka aku adalah agen S.H.I.E.L.D atau apapun itu, sang pembela kebenaran. Meninggalkan botol-botol minuman keras bersama beberapa besi pemukul lainnya. Malam akan tiba sebentar lagi—tertebak melalui kaokan para gagak di luar sana. Namun, ada yang ganjil. Seorang di antara remaja berpakaian seragam biru tua itu tetap berdiri seolah bersedia menerima kedatanganku dengan tangan terbuka. Bagai tuan rumah yang ramah.

"Wah, wah, wah. Uchiha Sasuke ya? Sungguh kehormatan bisa melihatmu—hidup—setelah apa yang kau lakukan beberapa bulan lalu pada Orochimaru-sama telah membuatnya marah besar hingga kehilangan akal. Benar-benar anak nakal, huh."

Anak nakal—seperti mencuri kelereng bocah lain hingga ia lari ke pangkuan ibunya dan menangis? Aku mendengus.

"Menyamar lagi? Bukan cara yang bagus untuk menyulut amarah bocah-bocah dungu, Kabuto."

Kabuto bekerja di bawah hidung palsu Orochimaru selama entah berapa tahun lamanya. Yang jelas, ia hobi memainkan banyak karakter dan menipu orang-orang tak berotak demi satu tujuan. Ia rela melakukan apa saja demi masa depan dan kehidupan organisasi kriminal milik Orochimaru itu. Berkat kejeniusan yang dipaksakan benar, ia pun berubah layaknya bunglon. Menjadi mata-mata sekaligus pengumbar fitnah agar sekelompok remaja penyuka rekreasi di dunia kriminal yang sudah melarikan diri tadi bersedia membeli senjata darinya. Cukup cerdas tapi terlalu beresiko. Sama sepertiku.

Bedanya, ia tak memiliki pengendalian diri. Mengaku semua yang dilakukannya adalah kebenaran atau pembenaran. Berkata tak bisa keluar dari lingkaran ini selama-lamanya. Aku pun berpikir demikian—dahulu. Tetapi, pemahaman itu kian berubah saat kutahu aku memiliki mereka yang hidup tanpa dibebani oleh realita sisi lain dari kisah masrayakat urban ini. Jika saja aku mati saat itu—berkat hujaman pukulan dan tendangan Jiroubou and the gang. Agar semuanya ikut berakhir. Sialnya, aku melihat matahari yang sangat besar. Memintaku untuk kembali hidup. Menyia-nyiakan kesempatan untuk bersua dengan shinigami. Akhir kata, aku hidup—bernafas penuh. Yang turut dibantu oleh pertemuan konyolku dengan si bodoh mantan penderita osteosarcoma ini. Menamparku keras-keras dengan kata-katanya. Atau—kisahnya.

Naruto—ia harus kujauhkan dari apapun yang berhubungan dengan bagian gelap kehidupanku. Ia tak mengerti apa-apa.

Singkatnya. Sigh. Yakushi Kabuto adalah pemuda yang hopeless, menurutku.

Lalu, aku? Hanya secuil yang berhasil membuka mata.

"Kacamatamu itu perlu dipermak, kurasa." tukasku setengah mengejek. Wajahnya menegang. Kesal, mungkin. "Hari yang berat untuk menyusun strategi penyerangan? Kudengar, salah satu anak yang bersekolah di target prefektur serangan kalian adalah putra tunggal grup mafia kecil bernama Kaze. Musuh yang tidak sebanding, Kabuto. Atau—berencana menggunakan dalih pertarungan antar sekolah lalu menculiknya untuk meminta uang agar mengaburkan kasus?"

Kabuto menarik sudut bibirnya. Biar kutebak, tebakanku benar bukan?

Ia malah bertepuk tangan. Aneh. Kuanggap itu sebagai pujian.

Kabuto melangkah mendekat. Aku tidak terintimidasi oleh gap sejauh ini. Lagipula, ia takkan mendapatkan apa-apa dengan menodongkan pisau atau pistolnya padaku. Saat ini juga. Aku tahu ia tak bodoh seperti Jiroubou. Ia mengkalkulasi segala gerakan dengan sangat hati-hati.

"Kuraha memiliki dua putra. Yang tertua, Kankurou, memimpin sebuah grup pembelot yang bisa kau asumsikan sebagai mafia sekolah. Yah, sekelompok remaja yang hobi kabur dari kelas dan melakukan apa saja yang mereka anggap selangkah lebih terdepan menuju kepopuleran."

"Kau memanfaatkan kebodohannya, bukan?" potongku. Kabuto merespon dengan senyum ala penjahat jenius dan maniak. "Anak yang bahkan tak perlu berusah payah mengisi otak bebalnya dengan ilmu sains atau sastra jika ia sudah cukup puas dengan fakta bahwa ia adalah sang penerus. Lalu, siapa putra kedua? Adiknya?"

"Gaara. Ya. Si bungsu. Yang kelahirannya tidak diakui."

Alisku meninggi.

"Bukan umpan yang bagus. Setidaknya untuk saat ini. Mengingat ia tak berada di Jepang dan memilih untuk tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan itu di Inggris."

Oh. Ini baru menarik.

"Jadi, dengan begitu, kau bisa memeras Kuraha-san lalu memintanya agar Kaze berfusi bersama kalian?" Main tebak-tebakan adalah bagian dari ilmu hipotesis. Kepandaian yang cukup rumit. Tetapi, tidak untukku.

"Tepat sekali. Bisa kuperbaiki sedikit kecurigaanmu itu, Sasuke-kun." Aku benci ia menyebut namaku dengan lidahnya yang menjijikkan. Sama seperti ketika Orochimaru melakukan hal serupa. Kusebut sebagai the venom of slithering snakes. Tahu-tahu, ia berada sejauh tigapuluh sentimeter dariku. "Sejujurnya, Orochimaru-sama hanya menginginkan agar Kaze lebih sedikit terbuka. Berbagi informasi dan sebagainya. Media penting agar eksistensi yakuza tetap diakui di komunitas kita ini. Sayangnya, hal semacam itu terlalu sulit untuk diraih dengan cara—halus. Diplomatik. Sebaliknya, memaksa dengan pengingat adalah jalan terbaik."

Keningku sontak mengernyit tajam. "Pengingat? Mengingatkan pada apa?"

"Aku tidak akan berbicara lebih daripada itu, Sasuke-kun. Kecuali jika kau tertarik untuk mencari tahu dan melihat dengan mata kepalamu itu. Rasa penasaran hanya bisa terjawab ketika semuanya terbongkar berkat usaha sendiri, bukan?" Menggeram bukanlah caraku. Lebih baik bersikap tenang dan membiarkan ia yang memutuskan sendiri untuk berbicara. "Biar kuluruskan satu hal lagi. Bagimu ini akan terdengar klise tetapi—tidak semua hal yang kau tahu mengenai ayahmu adalah penilaian valid. Kenalilah kata Uchiha yang tersemat di belakang nama kecilmu itu, Sasuke-kun. Kenalilah lebih dekat seperti kau akhirnya mengenali Hebi kemudian bertransformasi menjadi Taka.

Ia berbisik. Lebih mirip desisan. Tepat di kupingku.

"Tidakkah kau bertanya-tanya mengapa seluruh perusahaan pusat dan cabang milik klanmu itu tetap berdiri tegak seolah dapat hidup abadi selamanya meski kurs inflasi semakin meningkat tiap tahunnya? Rahasia kemakmuran klan kalian? Mulailah dari hal sederhana seperti—membaca koran, perhaps?"

Mataku mendelik. Melotot dengan ekspresi amarah. Tanganku ingin bergerak memberi kenang-kenangan bekas jotosan hingga wajahnya memar-memar, tetapi niat itu kuurungkan. Jari-jariku menahan tinju yang akan lepas dengan keras. Meremasnya hingga pucat. Di sisi lain, Kabuto semakin menyeringai. Merasa menang dan akulah yang kalah dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku mulai tidak mengerti. Apa yang diketahui Kabuto dan apa yang tidak kuketahui—dan apa hubungan ayahku bersama klan Uchiha dengan sesuatu yang kuduga memiliki koneksi erat dengan perkumpulan kriminal semacam yakuza? Kuanggap konfrontasi Kabuto hanyalah ocehan belaka. Membuat logikaku terbias oleh kemarahan. Lalu, menyuruhku membaca koran? Hell.

"'Every success has a big price behind'. Ingatkan aku siapa yang membuat quote itu di halaman depan New York Times? Surat kabar terkenal, no?"

Gigiku sukses menggeram. Dan, ia terkekeh.

"Sebaiknya kau pulang ke rumahmu yang nyaman itu, Sasuke-kun. Berlama-lama di tempat seperti ini akan membawa lebih banyak derita untukmu. Saranku pada sosok yang pernah terbebas satu kali dari kematian."

Yang dikatakannya adalah tamparan realita. Walau berkata tak peduli dengan kematian atau leher digorok, yang teringat dalam memoriku sedetik setelahnya adalah wajah ibuku. Kekesalan gagal memaksa kekerasankepalaku menyalak bagai anjing liar. Berkat itu, aku berbalik. Sebelum membuang jejak, aku berhenti di penghujung lubang besar yang memisahkanku antara kegelapan dan batas cahaya matahari.

Kabuto ikut melirik ke arahku.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Kabuto. Tapi—kalau kau atau salah satu anak buahmu yang tak becus itu menyentuh Taka, kau tahu kau berurusan dengan siapa." Ancamanku jelas. Kabuto tampak tenang meski ia bergidik. Kerutan di wajahku juga sedang jelek-jeleknya. Tapi, aku terdiam sebentar. "Memberitahuku sebuah rahasia yang sepertinya ingin ditutupi oleh Orochimaru, kau pasti memiliki alasan yang cukup kuat, bukan?"

Ia mendengus. "Taka takkan terlibat lagi, Sasuke-kun. Aku jamin. Bahkan, Orochimaru-sama sedang tidak ingin berada dekat-dekat denganmu. Begitu yang disampaikannya. Dan—informasi ini setimpal dengan apa yang kau lakukan pada Shion-san, Sasuke-kun. Gadis itu—gadis yang baik."

"Ia tak selamat, Kabuto. Aku—membuatnya terbunuh." ucapku lirih menyerupai bisikan. Langkahku mulai terbentuk. Satu per satu.

Para gagak mulai terlihat seperti gumpalan awan hitam. Sayap-sayapnya mengingatkanku pada langit hitam yang menutupi batas pengelihatanku di alam kesadaran. Namun, segaris tipis horizon yang berwarna keperak-perakan dengan terpaan si kuning besar menghapus esensi hitam itu. Seolah berbisik-bisik, apapun yang kudengar adalah rintihan.

Kubiarkan suara itu berlalu. Seperti tiupan angina menuju malam-malam yang panjang.

'Yet, you freed her.'

Sayangnya, aku tidak membebaskan siapa-siapa.

.

.

.

"Tomat atau keju?"

Mataku menyipit. Bibirku melipit. Alisku mengernyit.

Hei, itu sebuah rima, bukan? Tsk.

"Hn."

"Tidak termasuk dalam opsi. Oh, ayolah. Sebelum anak-anak rakus itu menghabisi stok yang ada." pekiknya memelas. "Tomat atau keju?"

Lidahku berdecak. Menolehkan wajah dan mengomel. "Tomat. Kau puas?"

Ia terkekeh riang. Lalu, segera melompat ke arah pusat keramaian di taman yang di tengah-tengahnya terdapat titik konsentrasi street basketball itu. Rupanya, menghabiskan waktu seperti dua remaja labil yang tidak dipusingi oleh sebuah kenyataan bahwa menggandeng seorang gadis adalah suatu kewajiban menjadi kebiasaan baruku dengannya. Terornya semalam suntuk, ditambah pula dengan iming-iming ajakannya mengisi akhir pekan dengan bertanding one to one—ia mulai terbiasa bermain dengan banyak orang di lapangan terbuka itu—adalah senjata ampuhnya. Tetapi, moodku sedang tidak bagus untuk memikirkan hal-hal suntuk. Salah satunya pengakuan Kabuto padaku beberapa hari lalu.

Oh. Aksi pertarungan sengit mereka tetap terjadi. Meski banyak yang tertangkap kecuali tentu bocah yang kurasa adalah target incaran Kabuto sejak awal, tak ada satupun yang menyebutkan nama Taka. Orang itu memegang janjinya. Suigetsu adalah orang pertama yang mencecariku dengan banyak wejangan. Seharian penuh aku harus menahan emosi agar tidak meninju wajahnyanya tanpa ampun. Disadari atau tidak, aku adalah magnet dari semua kerusuhan itu. Apa yang kutarik masih berupa pertanyaan besar.

'Every success has a big price behind'—harga setiap kesuksesan tidaklah murah. Ayahku sangat ahli dalam menyusun ungkapan motivator. Tidak. Semua Uchiha yang kukenal selalu berdiri di puncak rantai kerajaan kecil ini sehingga mereka sanggup mempertanggungjawabkan kata-kata itu. Anehnya, stimulan berbentuk quote milik ayahku itu sangat mengganggu. Seolah, memang ada rahasia besar yang tersembunyi di balik kesuksesannya—keberadaannya. Kabuto memaksaku untuk terus mengolah otak, mencari-cari segala kemungkinan hingga berniat untuk meng-hijack dokumen rahasia perusahaan ayahku—ini tidak mudah, atau sekadar bertanya—oke, ini ide konyol. Yang semuanya bertumpu pada satu konklusi—ayahku sedang menyembunyikan sesuatu.

Perjalanan bisnisnya. Kekayaan para Uchiha. Mengapa ia tak bergoyang walau ancaman inflasi dan dorongan ketidakpuasan konsumen serta investor semakin meningkat. Dan apapun yang ada hubungannya dengan mengumpulkan kepercayaan. Kepercayaan didasari oleh komitmen. Semakin banyak massa yang berhasil dicuci otaknya, maka tak perlu ada yang ditakutkan. Bahkan, untuk ukuran politikus yang duduk di parlementer membutuhkan back up dari para Mafioso—ini hanya di film (mungkin). Aku tahu pemahaman ini salah, tetapi terkadang bernilai benar. Katakan ini masih berbentuk hipotesis—lagi-lagi.

Hah. Kepalaku akan meledak begitu memikirkan hal ini lebih jauh.

Aku—tidak harus memata-matai klanku sendiri karena hal itu, bukan?

Bukan kapasistasku sebagai bocah SMU.

Letih. Leherku terasa lemas sekarang. Kusandarkan ia hingga tergulai bagai karet di atas sandaran bangku kayu ini. Suara gelak tawa anak-anak yang berlarian ke sana kemari bersama juga langkah-langkah orang mengisi sekitarku sementara aku memejamkan mata.

Hingga rasa dingin es di kening membuatku membuka mata.

"Satu crepe isi ham dan tomat bersama satu soda dingin. No sugar. Pesananmu sudah lengkap, tuan?"

Naruto meletakkan pantat gelas karton berbuih dan berisi balok es itu tepat di atas jidatku. Perbuatan iseng yang cukup manjur untuk mendinginkan kepala. Kuakui.

"Kau terlihat tegang. Urusan sekolah?" tanyanya sembari mengunyah crepe miliknya dengan santai. Ia mengambil ruang di sampingku. Aku mulai dengan menyedot pelan isi sodaku. "Atau efek musim panas yang benar-benar melumerkan otak. Haha. Kau tahu, aku pernah mencoba membuktikan teori kaca lup yang dapat memfokuskan sinar matahari hingga mampu membakar kertas. Coba tebak apa yang terjadi."

Sudut mataku melipir tapi mulutku sibuk mengunyah crepe. Kubiarkan ia mengoceh.

"Yang terjadi adalah—aku tidak harus menggunakan kertas untuk membuktikannya. Aku menggunakan teflon ibuku untuk memasak omelet. Dan wow—aku memasak sarapan pagiku sendiri!"

Ia terkekeh-kekeh. Tidak memedulikan tanggapanku atau mereka yang berjalan hilir mudik di depan kami. Seakan aku dan dia hanyalah hantu yang tidak eksis. Tak ada yang mau duduk di bangku ini karenanya.

Lengan kiriku merasakan radiasi kalor yang berbeda. Aku menoleh pelan, memerhatikan bagaimana pemuda bertampang penuh cengiran di sampingku semakin mendekat. Ia terdiam dengan mata tertuju ke depan sembari mengunyah crepe miliknya.

"Aku berkeringat, bodoh. Menjauhlah. Jangan menyentuhku."

"Ibuku bilang, skin contact bagus untuk mengurangi efek stres. Kau—sedang stres, Sasuke. Aku tahu itu."

Aku mendelik tajam. Ia memasang ekspresi skeptis. "A-apa?"

"Jangan salahartikan skin contact yang dimaksud ibumu itu."

"Maksudmu? Aku tidak mengerti. Bukankah skin contact adalah ungkapan umum? Memangnya apa yang berbeda dari perspektifmu?"

"Pertanyaan itu sama saja dengan bagaimana bayi bisa lahir."

"Oh ya? Kau yakin? Sebab, kurasa kaulah yang salah menafsirkan, Sasuke."

Tenang. Tenanglah, Sasuke. Kau sedang berurusan dengan bocah tujuhbelas tahun yang gagal paham apa itu skin contact.

"Ck." Aku memelototinya. Ia tampak sok jenius dengan apapun yang ada dalam benaknya itu. "Jadi kau ingin aku menjelaskan proses biologis kelahiran bayi ke dunia ini, huh? Atau hubungan skin contact dengan kelahiran bayi?"

Sudut-sudut bibirnya terlihat berkerut. Crepe yang dilahapnya dengan gigitan besar habis sempurna. Kini, kami saling tukar-menukar pandangan. Percakapan ini telah mencapai titik setingkat di atas idiot. Dan, tiba-tiba saja ia memicingkan mata padaku. Alisnya bergerak-gerak menunjukkan sikap kebingungan. Sontak, ia kembali meluruskan mata. Membuang wajahnya jauh-jauh. Kurasa, ia baru mencapai taraf mengerti setelah menganalisa maksud ucapanku.

"Astaga—aku bahkan tidak sempat mengecup Sakura-chan dan tampaknya kau adalah seorang expert, teme!" teriaknya sekonyong-konyong. Membuatku tersedak hebat. "Kami! Jangan bilang hanya aku satu-satunya pemuda tujuhbelas tahun yang masih bujangan di sini! Tidak—pemuda berkaki satu yang masih—masih—argh!"

"O-oi, diamlah, baka! Orang-orang bisa mendengar teriakanmu itu." tukasku seraya menutup mulut berisiknya itu. Ia tetap bergerilya seperti balita yang kehilangan mainan. Mata pejalan kaki, anak-anak kecil, sepasang star crossed lovers berbagai usia mulai memandangi kami dengan mata penuh curiga. Ada juga yang berbisik-bisik dan terkikik. Sepertinya, yang gila di sini adalah dua remaja sinting bernama Naruto dan Sasuke. Sial.

Tanganku masih menyumpal mulutnya selagi ia kejang-kejang entah mengapa. Karena capek, ia akhirnya terdiam dengan sendirinya.

"Hahh… dunia memang tidak adil. Walau kutahu dunia memang tidak pernah memuaskan semua keinginan kita."

Ia merajuk. Layaknya bayi besar. Merebahkan punggung dan menjatuhkan leher seperti yang kulakukan tadi. Aku masih mengatur nafas dan mendelik ke arahnya. Mengutuk di bawah hidungku.

"Dasar gila."

Ia menyudut. Mencicit. "Aku tidak gila. Aku hanya frustasi."

"Tsk!"

"Ngg, hahh—pada akhirnya semua memutuskan untuk menjauhiku bukan karena tumor-tumor tersayangku ini. Aku sudah menyalahkan mereka—tumor-tumor ini—dan menganggap semua akan baik-baik saja selama aku berpikir positif. Kenyataannya adalah—"

"Realitanya adalah kau terlampau lugu untuk pemuda seusiamu. Mau berdebat soal ini?"

Ekspresinya menegang. Ia semakin menyudut. Menjauhiku. Bergeser sedikit demi sedikit hingga mencapai tepi bangku. "Haha. Kurasa kau benar."

"Dan, 'Sakura-chan' atau siapapun namanya itu—kau menyebutnya beberapa kali—tidak. Mungkin hanya satu atau dua kali. Tetapi, gadis bernama Yamanaka itu juga menyebutnya. Bisa kusimpulkan bahwa 'Sakura-chan' ini adalah kekasihmu." Aku tidak bertanya. Hanya berasumsi. Keahlianku yang satu ini terkadang membuat orang-orang tak lagi bisa berkutik panjang lebar. Seperti ingin mengutukku.

Berbeda.

Si kepala kuning itu justru membeku di tempat. Otot wajahnya yang terbiasa bergerak bebas itu mematung selama beberapa sekon. Shit—aku mengorek sesuatu yang tidak pada tempatnya.

"Heh." Kudengar dengusannya. Ia bersikap santai dan menyandarkan sebelah kepala di sisi sandaran kursi. Memejamkan mata lama. Aku menunggu dan memilih diam. "Sakura-chan ya? Umm—sebenarnya dia—bukan siapa-siapa. Ya. Kami hanya kenalan yang cukup dekat. Lagipula, memaksa melakukan sesuatu yang terkesan ofensif padanya adalah hal yang tidak mungkin bisa. Tidak akan pernah."

Jika ofensif berarti physical contact, maka aku bisa paham sampai di titik ini.

Sebentar, mata birunya melirik ke arahku. Aku tidak menatapnya balik.

"Ia—Sakura-chan—adalah penderita astrocytoma. Prognosis buruk dengan stabilitas hidup yang tidak lebih dari tiga bulan saja setelah gejala klinis nyata kian bermunculan dan menggerogoti tubuhnya. Vonis yang menyakitkan. Di minggu pertama sejak pemasangan prostetikku, aku rutin melaksanakan rehabilitasi di rumah sakit. Itulah kali pertama aku bertemu dengan Sakura-chan. Gadis yang terlihat sehat dan bersemangat seolah kau tak menyangka bahwa sebongkah daging jahat tengah menggerus otaknya yang cemerlang. Boleh dikata, Sakura-chan adalah gadis yang berjasa dalam mengembalikan keinginanku untuk tetap hidup seolah keterbatasan semacam ini bukanlah akhir dari segalanya.

Ia berbicara seakan benar-benar mengenaliku. Membuka rahasia yang telah ditutupinya rapat-rapat. Menjadikanku pendengar baik yang akan tetap di sana selama ia mengoceh. Bahkan, dengan keributan yang terjadi di tempat publik seperti ini, ia tak bergeming.

"Aku menyapanya terlebih dahulu untuk sekadar membuang kebosanan. Sebagian besar akan memillih menjauh dan tak peduli. Sudah biasa, pikirku. Tetapi, tidak dengan gadis unik ini. Ia hidup seolah akan hidup selamanya. Tak lama, kami berteman. Cukup baik. Berbagai cerita konyol yang entahlah aku merasa nyaman hingga—ia tiba-tiba memintaku untuk memutus relasi tak bernama ini menjadi sesuatu yang lebih daripada itu. Kadang, aku mengajaknya keluar dari rumah sakit. Ke festival buku dan sebagainya. Ini bukan kisah percintaan yang berjalan mujur, kalau kau tahu. Malah, tidak sama sekali. Sebab, sebulan sebelum kematiannya—Sakura-chan berubah drastis.

Pemuda itu menundukkan wajahnya. Arah tatapannya kosong.

Lalu, menatapku. Tersenyum pias.

"Ia bukan lagi Sakura-chan yang kukenal. Ia kerapkali kabur dari kamar perawatan dan berteriak-teriak ke sana kemari. Menangis lalu tertawa, seperti pesakitan di bangsal kejiwaan. Nyaris—merobek-robek pakaiannya di depan umum. Aku mengunjunginya di hari itu—tepat ketika ia secara membabi buta menyerang perawat yang ingin menenangkannya dengan sedasi. Tentu, hal pertama yang kulakukan adalah membuatnya tersadar. Tapi, semua usahaku nihil. Bahkan, ia tak mengingat siapa aku. Menertawaiku bersama kenyataan bahwa ia mengingat satu hal yang tersisa mengenai diriku.

"Bahwa aku—berkaki satu. Oh yang ini, aku tak peduli. Ini meneriakkan hal ini seolah ingin membuatku malu dan sebagainya. Yang lebih parah, Sasuke—yang terparah—

Apa aku terlarut dalam kisahnya? Apa aku mendengarnya menahan airmata? Apakah aku melihat seorang pemuda tujuhbelas tahun yang selalu mengumbar cengiran tiba-tiba saja memburai cerita mengenaskan?

Sebaliknya. Aku melihat Namikaze Naruto, bocah tujuh belas tahun, remaja biasa yang memiliki problematika rumit. Seperti diriku. Bahwa, ia tak lebih dari

"Membuka aib di depan umum tanpa rasa bersalah—inilah yang paling kubenci dari semuanya. Yang pada akhirnya, aku mencapai satu kesimpulan seperti let's break up. Dan, dua hari setelahnya, kondisi kesehatannya memburuk. Lalu, tujuh hari koma, ia pun meninggal. Aku—benar-benar bodoh saat itu sebab dokter berkata perubahan tingkah laku Sakura-chan berasal dari monster jahat yang mendiami seluruh bagian pusat emosi di otaknya. Gangguan jiwa akibat penyakit kronis, katanya.

Kemudian, cengiran itu kembali terbentuk di bibirnya. Tak ada airmata di sana. Mengenai metafora Sakura dan sosoknya sudah tergambar jelas sekarang.

"Cerita selesai. Itulah yang ingin kusampaikan."

"Kau membencinya? Gadis itu."

Ia berdehem lama.

"Tidak. Aku cuma patah hati."

"Itu karena kau berharap terlalu besar padanya. Semestinya kau tahu itu lebih awal. Kau tahu bahwa gadis dalam kisahmu takkan bertahan selama dirimu, tetapi kau memaksa hal yang kontradiktif."

Ia bergerak memajukan tubuhnya. Memainkan ibu-ibu jarinya. Berdehem lagi. Kini, lebih panjang.

"Setulus apapun niatmu, mengubah konstanta akan berbuah omong kosong. Maka dari itu—"

"Hng? Kons—apa? Aku tidak mengerti, Sasu—"

"Intinya—kau dan dia terpisah oleh satu ketetapan layaknya vonis hakim pada dua tersangka. Kau akan hidup dan gadis itu—yah, kau bisa menebaknya sendiri."

Pemuda itu tertawa kecut. Kerutan di wajahku semakin jelek. "Dibilang begitu pun, masalah mati atau tidak, toh semuanya berbicara tentang waktu. Iya, 'kan?"

"Mati bukan urusanmu, baka. Kalau kau belum diizinkan mati, kau tidak akan mati saat ini juga." desisku kesal.

"Hmmmm. Jadi, itulah alasan mengapa kita bisa berteman seperti ini ya? Kau dan aku? Ingat—aku menolongmu dan kau kembali hidup. Voila!" ujarnya dengan kekehan. Kupijit keningku. "Tapi, aku menyukainya, Sasuke. Ya. Aku menyukai Sakura-chan. Apakah bagian ini salah?"

"Hn."

"'Hn' itu bukan jawaban, Sasuke. Beri aku solusi yang menjanjikan!"

Kuputar bola mataku. Melipat lengan. "Aku sudah mengatakannya padamu. Berhentilah bermimpi dan terima kenyataan. Apakah aku harus mengasihanimu terlebih dahulu agar kau bisa memahami bagian mana yang tidak kau mengerti, hm?"

"Sori. Aku hanya—yah—" Ia menggaruk tengkuknya lalu memainkan surainya. "Baik, baik. Kuanggap itu adalah saran darimu. Sebaiknya aku melupakan masa lalu yang berhubungan dengan Sakura-chan. Yap."

"Jangan kau lupakan, bodoh."

Ia mengangkat wajahnya. Melebarkan mata padaku. Arah manik opal milikku tertuju pada pasir-pasir di bawah kakiku. "Ia mengubahmu ke arah yang menurutmu lebih positif. Itu poin penting."

"Hmmm." jawabnya lesu. "Oh ya—aku bersungguh-sungguh di bagian tak memiliki riwayat kontak fisik lho."

Seringaiku muncul. Tipis. "Jadi, virgin boy, huh?"

"Haha. Lucu mendengar kau menanyakannya, Sasuke. Soalnya, mana ada yang mau berkencan dengan pemuda berkaki satu sepertiku?"

Hn. Fair enough.

"Kecuali jika kau terus-terusan memasang tampang memelas seperti kucing kecil yang butuh kehangatan."

Ia mencibir. "Aku tidak serendah itu, Sasuke-teme. Kecuali ya—umm—"

Aku tahu hukum relativitas berlaku untuk segala aspek peristiwa dan momentum waktu. Terutama ketika kau mendapatkan seseorang yang tidak begitu kau kenal dan masih mendiami lingkaran besar kebencianmu berhasil merebut zona nyaman dan aman yang kau kira berhasil dikendalikan. Salah. Justru saat kau berfokus pada satu hal, di situlah sesuatu lain yang ikut berpijak di momentum yang sama denganmu akan mengintervensi.

Gravitasi di titik nol terasa nyata oleh kehadiran bibir yang terkecap atas gabungan selai coklat dan keju itu. Mengunciku agar setia mematung di pusat paralaks dunia.


To be Continued


Glossary:

Astrocytoma adalah tumor ganas di sel astrosit yang menyerang otak. Gejala paling signifikan dan berkepanjangan ialah nyeri kepala hebat di seluruh bagian. Sulit untuk pasien menunjuk bagian mana dari kepala dengan titik konsentrasi ternyeri. Progresifitas penyakit ini terbilang cukup lama tergantung tingkat kegananasan sel tumornya dan daya tahan tubuh pasien.

Thanks for reading! Reviews are pleased. =)