Chapter 2 :
Dentum bola mengenai lantai menggema di gym. Latihan pagi sudah di mulai. Para anggota club basket Shutoku berlarian memperebutkan bola. Di sudut lapangan Takao bersandar ke tembok sambil mengusap peluhnya dengan handuk. Midorima menghampirinya.
"Takao..." panggilnya.
"Eh.. Shin chan. Ada apa? Hari ini kau terlihat kurang bersemangat. Ah, aku tahu... Hari ini Cancer ada di rangking yang buruk ya. Hahaha..." goda Takao.
"Kau..."
"Apa? Kau bertingkah aneh hari ini... Shin chan adalah kapten lho... kau tidak boleh memperlihatkan sisi lemahmu pada anggota yang lain.." ejek Takao.
"Aku tidak lemah!"
"Yap! Seperti itulah Ace sama. Hahaha."
"Takao!" Midorima mulai kesal.
"Oh, Shin chan... hari ini ada film bagus. Mau nonton bareng? Kalau kau nggak mau, aku akan mengajak orang lain lho... hehe... "
"Hmh... ya sudah." Midorima membenarkan posisi kacamatanya.
Tawa Takao tak berubah. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Seolah kejadian kemarin tidak pernah ada. Dan mereka melewati hari itu seperti biasanya.
Bunga sakura mulai mewarnai langit dengan warna merah muda yang indah. Romantis dan penuh haru. Hari ini wisuda kelas 3 SMA Shutoku. Isak tangis terdengar dari beberapa siswi yang melepas para senpainya.
"Hahahaha! Lihat Shin chan.. Kancingku juga habis diserbu.. nggak nyangka aku populer juga di antara para cewek..." tawa Takao memecah lamunan Midorima. Midorima berbalik menatap Takao dan tersenyum.
"Eh! Apa-apaan barusan itu? Kau tersenyum? Midorima the tsundere tersenyum?" Takao heboh sendiri.
"Aku bukan Tsundere!" raut wajah Midorima berubah kesal.
"Hai.. hai.. Ace sama..." Takao tersenyum tulus, menatap Midorima dengan penuh perasaan. Untuk sejenak mereka terdiam. Saling menatap setiap inci dari wajah masing-masing. Seakan-akan jika kau berkedip, makhluk di depanmu itu akan menghilang.
"Shin chan..."
"Nani?"
"Shin cha... bukan... Shintaro..." Takao memanggil Midorima dengan nama depannya secara lengkap. Dan Midorima terdiam seketika. Ia tertegun. Semburat merah terlihat di pipinya. Ia membenarkan letak kacamatanya, memberikan perhatian sepenuhnya kepada Takao. Karena ia tahu, adalah hal serius yang akan dikatakan Takao.
"Aku.. menyukaimu..." bom dijatuhkan. Wajah Takao sudah semereh tomat. Tapi ia tetap menatap Midorima. Dan dengan perasaan berkecamuk, ia menanti balasan dari partnernya itu.
"Kazunari..." Midorima juga memanggil Takao dengan nama depannya. Jantung Takao seakan melompat keluar. Ia benar-benar merasa senang juga malu. Takao menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Baru kali ini ia merasa malu di hadapan Midorima.
"Aku juga menyukaimu nodayo..." Midorima meraih wajah Takao dengan kedua tangannya dan dengan lembut mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Takao. Dari sudut mata Takao, setetes air mata meluncur turun.
"Takao? Kalau kau menangis?"
"Datte... Ureshii nodayo..." kata Takao menirukan logat Midorima.
"..."
"Hehehe. Kalau begitu ayo kita kencan untuk merayakan hari kelulusan kita!" Takao tersenyum lebar memamerkan sederet giginya yang rapi. Dengan senyum kecil, Midorima mengikutinya.
Tapi kencan itu, menjadi kencan pertama dan terakhir antara mereka berdua. Sejak hari kelulusan itu, tak ada kabar dari Takao. Takao tak bisa dihubungi. Dan kemanapun Midorima mencari, ia tak bisa menemukan Takao. Pernyataan cinta Takao di hari kelulusan di bawah pohon sakura itu menjadi kenangan terindah dan terpahit bagi Midorima.
"Takao..."
