Chapter 3.
"Aku tak ingin menghalangi jalanmu, maka aku memilih untuk pergi."
Di sudut kota ada sebuah toko bunga yang cukup ramai dikunjungi gadis-gadis remaja. Gosipnya di sana ada seorang pegawai tampan yang masih muda. Kebanyakan gadis-gadis itu hanya berkerumun tanpa membeli apa-apa hanya untuk sekedar memandangi si pegawai.
Seorang cowok berumur sekitar 20an berjalan melewati kerumunan cewek-cewek, beraksud untuk masuk ke toko itu. Tentu ia pun juga jadi pusat perhatian. Badannya yang tinggi dan penampilan yang trendy membuatnya terlihat seperti model.
"Permisi, saya mau membeli buket bunga seharga 3000 yen." Kata cowok itu.
"Silakan bunga apa yang anda ingin... " kata-kata si pegawai terputus ketika membalik badan dan melihat sosok orang yang hendak membeli bunga.
"Lho? Takao..."
"Miyaji san..."
Keduanya sama-sama heran, lalu meledak dalam tawa. Miyaji memutuskan untuk menunggu Takao habis shift kerja dan kemudian ngobrol dengannya. Mereka kini berjalan menuju sebuah kafe terdekat untuk temu kangen dan bernostalgia.
"Aku nggak menyangka kau bakal kerja di toko bunga..." kata Miyaji sambil menarik kursi untuknya duduk. Tak lama kemudian datang seorang pelayan yang menghantarkan menu. Mereka memilih pesanan lalu membiarkan si pelayan mencatatnya.
"Yah... ini Cuma kerja sambilan sih. Aku sendiri nggak menyangka Miyaji san mampir ke toko bunga. Jangan-jangan sudah punya pacar ya... hahaha akhirnya punya pacar juga. Lol." Takao tertawa ceria, diikuti timpukan dari Miyaji.
"Jangan mengejekku. Aku membeli bunga bukan untuk pacarku. Itu oleh-oleh untuk menjenguk ibuku." Kata Miyaji.
"Eh? Ibu Miyaji san sakit?"
"Hum... Ibuku sudah tua sih. Tapi dia bilang dia sakit karena aku jarang pulang."
"Hahaha."
"Tapi syukurlah bisa ketemu di sini. Ngomong-ngomong gimana keadaan Midorima?" tanya Miyaji. Takao terdiam sesaat. Lalu pelayan yang datang dengan makanan pesanan mereka memecah keheningan.
"Midorima, entahlah. Haha aku sudah tidak berhubungan dengannya sejak upacara kelulusan. Hahaha." Tawa Takao yang polos dan ringan terlihat seperti biasanya. Tapi matanya sama sekali tak tersenyum. Dari sorot matanya, Miyaji dengan mudah bisa membaca kesedihan Takao.
"Bukannya kau pacaran dengannya?" tanya Miyaji terus terang. Sepertinya pertanyaan barusan benar-benar menohok Takao. Ia terdiam, menyeruput birnya lalu menghela nafas.
"Tidak Miyaji san. Tiga tahun yang lalu... tepat saat kelulusan, aku memang menyatakan perasaanku padanya tapi..." kata-katanya terputus. Semburat sendu terlukis di wajahnya.
"Kau tahu kan Midorima sudah punya tunangan. Aku nggak ingin jadi penghalang masa depannya yang sudah tertata rapi. Aku hanya akan menjadi pengganggu hehehe." Lagi-lagi Takao memaksakan diri untuk tertawa. Ia meneguk kembali minumannya hingga ia mabuk dan semua keluh kesahnya secara sadar ataupun tidak sadar telah ia utarakan kepada Miyaji. Takao benar-benar payah dalam hal minum-minum.
"Hei, bagaimana kalau kau denganku saja." Kata Miyaji tiba-tiba.
"Eeeh? Pacaran dengan Miyaji san? Hahaha Jadi karena frustasi nggak bisa dapet cewek, akhirnya Miyaji san mbelok ke aku nih... jahatnya... hehehe."
"Aku serius." Miyaji mengecup singkat bibir Takao,lalu memegang tangan Takao erat dan menatap matanya dalam-dalam. Takao tertegun, seolah tak percaya dengan keseriusan senpainya itu. Takao menyentuh bibirnya yang barusan dikecup.
"Miyaji... san..."
"Dengar. Aku sangat mengerti kau masih menyukai Midorima. Tapi... kalau kau mengijinkanku berada di sampingmu, setidaknya kau bisa menumpahkan kesedihan dan keluh kesahmu padaku." Miyaji merengkuh Takao dalam pelukannya. Mencurahinya dengan kasih sayang. Membawanya dalam kehangatan.
"Miyaji san..." Takao balas memeluk Miyaji. Matanya berkaca-kaca. Perasaan sedihnya terhadap midorima membuncah.
"Tak apa... kau boleh menangis." Miyaji mengelus kepala Takao dengan lembut. Baru kali ini ia bersikap sebaik itu pada Takao, baru kali ini pula ia bisa memeluk sosok yang sebenarnya selama ini ia sayangi. Meski masih bertepuk sebelah tangan, tapi ia bersyukur bisa membawa Takao dalam dekapannya.
Takao menerima tawaran Miyaji dan menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala kesedihan dan rasa sakit hatinya. Menumpahkan semua cintanya terhadap Midorima. Ia bahkan tak menyangka bisa menunjukkan sisi lemahnya pada senpainya yang dulu sering sekali menghukumnya. Tapi lepas dari itu, ia merasa ringan. Ia bisa sedikit mengurangi beban di pundaknya.
Sebulan telah berlalu, Takao sering menghabiskan waktunya bersama Miyaji. Sedikit demi sedikit ia bisa move on dari sosok Midorima yang terus terpatri di ingatannya. Tawanya yang polos pun kembali. Menertawakan segala hal, berdebat dengan Miyaji membuat hari-harinya lebih ringan.
"Permisi... saya mau membeli sebuket bunga..."
"Selamat datang. Silakan pilih bunga yang anda ingin...kan..." seperti sebuah dejavu. Takao terdiam menatap pelanggan yang berdiri di depannya. Begitu pula si pelanggan itu. Ia juga terdiam dengan wajah kaget menatap lurus ke arah pemuda berapron oranye yang sedang memeluk ember penuh bunga di depannya.
"Taka..o..." kata pelanggan itu.
"Shin chan..." Takao hanya bisa menyebut nama itu. Di depannya berdiri sosok hijau yang ia rindukan. Masih sama seperti dulu, tinggi, poker face, tapi juga cantik. Jari-jari kirinya tak lagi berbalut, tapi yang ada di depannya tetap seorang penggila oha asa dengan lucky itemnya yang nyentrik. Tak berubah. Orang yang sama yang ia cintai sampai sekarang.
"Yo! Takao apa shiftmu sudah selesai? Kau janji kencan denganku hari ini..." Miyaji datang dari pintu depan toko dengan santai. Takao dan Midorima sama-sama menengok ke arah datangnya Miyaji, dan Miyaji pun ikut terdiam.
"Miyaji san..."
"Midorima...kau..."
Bersambung...
