Chapter 4 :

Miyaji yang hari ini bermaksud kencan dengan Takao, sudah bersiap dengan rapi. Ia memakai baju terbaiknya dan sudah menyiapkan tiket nonton untuk berdua. Tapi ia dikejutkan oleh kehadiran Midorima di toko bunga tempat kerja Takao. Saat memutuskan untuk mendampingi Takao yang masih menyukai Midorima, ia tahu hari ini pasti akan datang. Tapi ia tak menyangka akan terjadi secepat ini.

"Yo! Midorima, lama nggak jumpa." Sapa Miyaji santai.

"Lama tak jumpa Miyaji san..." balas Midorima dengan wajah poker facenya.

"Hahaha, seperti reuni saja... tinggal Otsubo san dan Kimura san, maka Tim terkuat Shutoku berkumpul lagi. Oh, Shin chan bunga apa yang kau inginkan untuk buket bungamu?" tanya Takao mencairkan suasana.

"Shin chan..." gumam Midorima pelan. Sudah berapa lama ia tidak mendengar nama itu. Ia terdiam sesaat. Terlena oleh nostalgianya.

"Apa mawar tidak apa-apa? Hari ini mawar sedang bagus-bagusnya."

"Tentu..." Midorima hanya menjawabnya singkat. Lalu Takao membuatkan sebuket bunga yang cantik. Dengan segera buket bunga itu berpindah tangan kepada Midorima.

"Ah, Kiyoshi san, bisa tunggu sebentar. Aku akan minta ijin ke bos untuk pulang lebih awal." Kata Takao sambil melepas apronnya. Midorima menatap Miyaji dengan tajam. Dan Miyaji bisa merasakan aura membunuh dari Midorima.

"Apa maksudnya kencan, Miyaji san?" tanya Midorima kemudian.

"Kencan? Ya sesuai arti harfiahnya."

"Maksudmu... kalian berdua pacaran?"

"Kalau tidak, kenapa kita berdua pergi kencan." Miyaji masih menjawabnya dengan santai.

"Miyaji san!" Midorima setengah berteriak. Ia masih menatap tajam ke arah Miyaji. Miyaji tahu bahwa Midorima tak bisa menerima realita Takao kini berpacaran dengannya. Dan Miyaji tahu, Midorima bersikap seperti itu karena Midorima masih menyayangi Takao.

"Miyaji san, maaf lama menunggu. Lho? Shin chan masih di sini? Maa... aku tahu ini reuni yang mendebarkan, tapi Kiyoshi san, kau ada kencan denganku lho..." Takao muncul dari toko, mengatakan hal barusan sambil menggandeng lengan Miyaji.

"Maaf Midorima. Kami harus pergi." Kata Miyaji lalu beranjak meninggalkan tempat itu dengan Takao.

"Bye, Shin chan..." Takao melambai ke arah Midorima sambil tersenyum memamerkan sederet giginya yang rapi.

"..." Midorima masih terdiam. Tangannya mengepal erat. Ia mendengus pelan lalu membenarkan posisi kacamatanya.

"Jadi seperti ini balasanmu... Takao."


Takao berjalan beriringan dengan Miyaji. Ia masih menggandeng lengan Miyaji sama seperti saat di depan Midorima tadi. Ia mencengkeram erat lengan Miyaji, menahan rasa sakit yang ia rasakan ketika meninggalkan Midorima barusan. Miyaji menyadarinya. Ia berhenti, lalu memposisikan dirinya di depan Takao. Memegang pundak Takao dan menatap lurus ke arah matanya.

"Kiyoshi san..."

"Kau menyakiti dirimu sendiri." Ujar Miyaji.

"Ini... demi kebaikan Shin chan... "

"Kau yakin? Apa kau tak ingin kembali ke sana lalu memulainya lagi dari awal?"

"Kalau aku kembali ke sana, aku akan mengkhianati kebaikan hati Kiyoshi san..." kata Takao sambil berusaha tersenyum. Mendengar kata-kata itu Miyaji sedikit senang. Semburat merah terlihat di pipinya. Tapi lepas dari semua itu, ia lebih menginginkan kebahagiaan bagi Takao.

"Bukannya dari awal sudah kubilang kalau aku bisa menerima seandainya kau mau kembali pada Midorima?" ujarnya kemudian.

"Tak apa Kiyoshi san. Aku... sudah mengundurkan diri dari toko itu. Jadi, kami tak akan bertemu lagi." Kata Takao. Entah kenapa di sela-sela kebahagiaan yang Miyaji rasakan ketika Takao memilihnya, terselip rasa pilu yang dalam. Ia tahu Takao masih mencintai Midorima sepenuh hatinya, bahkan mungkin tak ada ruang bagi Miyaji untuk masuk. Tapi karena Takao memilihnya, ia akan terus mendobrak dan memenuhi hati Takao dengan keberadaan dirinya. Melimpahinya dengan kasih sayang. Mencurahinya dengan seluruh perhatian yang ia miliki. Miyaji memeluk Takao, mengusap kepalanya dengan lembut dan membisikkan sebuah janji.

"Tenanglah Takao, apapun yang terjadi. Kau pasti akan bahagia. Aku janji. Aku sendiri yang akan memastikannya. Aku akan membuatmu bahagia." Miyaji mengecup kening Takao dengan lembut.

"Kiyoshi san..." Takao menatap wajah Miyaji yang tersenyum bahagia. Ia pun senang jika ia bisa membahagiakan senpainya itu. Tapi dibalik itu semua, Takao merasa sedih dan sakit. Ia merasa benar-benar telah berdosa karena telah memanfaatkan kebaikan hati Miyaji. Karena meskipun ia mencoba untuk mencintai Miyaji, sejak pertemuannya tadi dengan Midorima, ia tahu bahwa hatinya masih belum bisa melangkah maju. Ia tetap mencintai dan menginginkan Midorima.

"Takao... Tinggallah bersamaku..."

"Heee?!"


Keesokan harinya, Midorima yang merasa kesal karena menemukan kenyataan bahwa Takao sekarang bersama dengan Miyaji, memutuskan untuk bertemu dengan Takao kemudian membicarakan hal itu empat mata. Ia tidak bisa terima bukan hanya karena Takao berpacaran dengan Miyaji tapi juga tentang penyataan cinta Takao saat upacara kelulusan, juga alasan kenapa Takao menghilang tanpa kabar.

Dengan langkah cepat ia sudah berada di depan toko bunga tempat Takao bekerja. Tanpa basa-basi ia langsung memasuki toko itu dan berkeliling mencari Takao.

"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" seorang karyawati datang menghampiri Midorima.

"Aku ada sedikit keperluan dengan karyawan yang bernama Takao Kazunari." Jawab Midorima sopan.

"Eh... Takao kun sudah resign kemarin."

"Apa?" Midorima setengah berteriak hingga membuat karyawati itu agak takut.

"Maaf.. Apa aku bisa minta alamat tempat tinggalnya?"

"Anda ini..."

"Aku teman SMAnya. Sudah lama kami tidak bertemu dan kemarin aku bertemu dengannya di sini namun belum sempat untuk bertukar alamat. Saya mohon anda bersedia memberitahu alamatnya." Midorima menelan harga dirinya lalu membungkuk dalam kepada karyawati itu demi bisa mendapatkan alamat tempat tinggal Takao. Akhirnya sang karyawati itu memanggil managernya. Setelah menjelaskan situasinya, sang manager memberikan alamat apartemen tempat tinggal Takao selama ini. Tapi setelah pergi ke sana pun Midorima tidak bisa bertemu dengan Takao. Pemilik apartemen mengatakan bahwa Takao buru-buru pindah apartemen kemarin sore dan tidak sempat menanyakan alamat tinggalnya yang baru.

"...begitulah... nah rangking paling bawah hari ini adalah Cancer. Berhati-hatilah, hari ini kemungkinan kau akan mendapatkan kekecewaan yang cukup besar. Lucky itemmu hari ini adalah kucing..." suara acara Oha-Asa terdengar dari televisi di ruangan tamu ibu pemilik apartemen.

"Mungkin karena aku tidak bisa membawa lucky item hari ini..."


"Ki.. yoshi san..." Takao memanggil nama Miyaji dengan perlahan. Singkat cerita, sudah 2 minggu Takao tinggal bersama dengan Miyaji. Takao berpikir, mungkin dengan ia tinggal bersama dengan Miyaji, ia bisa mulai menyukai Miyaji.

"Takao.." Miyaji mengusap kepala Takao yang kini terbaring di tempat tidur. Wajahnya semerah tomat, tapi seperti biasa ia selalu tersenyum.

"Takao, daijoubu ka?" tanya Miyaji kemudian.

"Daijoubu dakara... kedo..." Takao menahan kata-katanya lalu menutup mata.

"Kiyoshi san..."

"Hm?"

"...Atsui." keluh Takao kemudian.

"Tentu saja, kau kan sedang demam!" dengan sedikit kesal Miyaji menaruh kompres ke dalam baskom air yang ada di sampingnya. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya sedari tadi menuju ke arah lemari lalu menggambil jaket.

"Kiyoshi san?"

"Cukup! Aku akan membawamu ke dokter. Demam selama 3 hari itu bukan demam biasa tahu!"

"Tapi... aku tidak bisa jalan. Hehehe..." kata Takao masih sempat tertawa.

"Diam. Aku akan menggendongmu."

Dan akhirnya, Miyaji pun menggendong Takao yang sudah setengah pingsan ke rumah sakit. Sejak kepindahan Takao ke apartemen Miyaji, Miyaji sudah merasa bahwa kesehatan Takao memburuk. Ia jadi sering sakit dan jatuh pingsan. Awalnya ia berpikir mungkin Takao kelelahan di tempat kerjanya yang baru, sampai-sampai ia membuntuti Takao ketika pergi bekerja. Tapi tak ada yang berarti. Takao bekerja dengan santai dan tertawa riang di setiap jam kerjanya.

Sampai suatu malam ketika Miyaji pulang kerja lembur, ia berpikir Takao sudah tidur di kamarnya. Ketika hendak mengetuk pintu kamar Takao, ia mendengan isakan kecil dari dalam. Ia sadar dan tahu pasti bahwa saat itu Takao sedang menangis. Tapi keesokan harinya Takao kembali ceria. Jadi kemungkinan penyebab sakitnya adalah stress yang menumpuk.

Miyaji dan Takao sudah berada di rumah sakit. Setelah mendaftar mereka menuju ruang tunggu. Cukup lama hingga nama Takao dipanggil. Dan ketika namanya dipanggil, Takao sudah jatuh tertidur di pundak Miyaji. Akhirnya Miyaji menggendongnya masuk ke ruang pemeriksaan.

"Permisi sensei... pasien berikutnya sudah tidur, jadi saya menggendongnya masuk."

"Miyaji san!" sebuah suara yang familiar terdengar di telinga Miyaji. Ia mendongak dan mendapati Midorima berdiri di depannya mengenakan jas praktek lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.

"Ah... Midorima sensei..." kata Miyaji sedikit malas. Ia agak sebal bertemu Midorima saat itu. Tapi tak ada pilihan lain karena saat ini Midorimalah yang bisa menyelamatkan Takao dari demam yang berkelanjutan.

"Silakan baringkan Takao di tempat tidur." kata Midorima dalam keigo – bahasa sopan yang biasa digunakan para dokter pada pasien –

Miyaji menurutinya, membaringkan Takao di tempat tidur di depan Midorima. Ia membuka baju Takao dan membiarkan Midorima menyentuh dada bidang Takao dengan stetoskopnya yang dingin.

"Miyaji san..."

"Apa?"

"Kau tinggal dengan Takao kan..." tanya Midorima dengan datar.

"Ya." Jawab Miyaji singkat. Ia tak mengalihkan pandangannya dari Takao yang tertidur.

"Apa Takao makan dengan teratur?"

"Setahuku iya. Aku sering kerja lembur, jadi tak begitu memperhatikan pola makannya. Tapi setiap kutanya, dia bilang dia sudah makan." Kata Miyaji.

"Miyaji san, karena selalu bersama dengan Takao, kau jadi tak menyadarinya. Tapi ia jauh lebih kurus dari terakhir kali aku bertemu dengannya." Kata Midorima menjelaskan. Ia lalu beranjak dari samping tempat tidur, menuju meja kerjanya lalu menulis resep. Miyaji sedikit tertohok dengan kata-kata Midorima barusan.

"Silakan ini resepnya."

"Oh.. ya..." Miyaji menerima resep itu dan lalu bermaksud untuk menggendong Takao pergi dari tempat itu.

"Miyaji san, kau bisa meninggalkannya di sini saat kau mengambil obatnya. Di bagian obat selalu antri, kau akan kelelahan jika menggendongnya terus-terusan. Aku akan membiarkannya tetap di sini sampai Miyaji san kembali dari mengambil obat. Miyaji san tak perlu cemas karena setelah ini aku masih ada pasien." kata Midorima tanpa menoleh ke arah Miyaji. Miyaji mengalah lalu meninggalkan Takao di ruangan Midorima. Dan sesuai perkataan Midorima, di bagian pengambilan obat, hampir di semua loket terisi antrian.

Kembali ke ruangan Midorima, setelah memeriksa beberapa pasien, ia mengambil istirahat sejenak. Miyaji belum kembali dan Takao masih tidur terbaring di sana. Midorima berjalan mendekat. Ia berdiri di samping tempat tidur di mana Takao terbaring. Wajah damai Takao yang sedikit merah karena demam terpampang jelas.

"Takao..." bisik Midorima. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat wajah Takao dengan seksama. Ia merasakan rindu yang dalam. Ia mengusap rambut Takao yang lembut yang masih sama seperti dulu hanya sedikit lebih panjang. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otak Midorima. Ia ingin sekali menanyakan berbagai hal pada Takao. Namun yang ada di depannya diam membisu dalam tidur.

Semburat merah terlihat di pipi Midorima. Ia merasakan kebahagiaan karena bisa bertemu lagi dengan sosok yang begitu ia cintai, tapi juga sakit yang mendalam ketika ia sadari kenyataan bahwa Takao bukan miliknya.

"Takao... kau benar-benar bodoh. Kenapa waktu itu kau pergi begitu saja.." Midorima meremas seprei tempat tidur putih di depannya.

"Apa kau pikir kejadian saat upacara kelulusan itu semacam lelucon?" Midorima menanti jawaban Takao, tapi Takao sama sekali tidak bangun. Midorima hanya merasa ingin mengatakannya untuk mengurangi beban di hatinya.

"Kalau itu memang leluconmu yang garing seperti biasanya, aku tidak akan memaafkanmu." Kata Midorima. Ia membungkuk ke arah Takao dan perlahan mengeliminasi jarak antara bibir mereka. Sebuah ciuman rindu penuh kasih sayang mendarat di bibir Takao. Dan dari balik pintu, Miyaji melihatnya dengan jelas. Badannya bergetar menahan emosi. Ia ingin sekali mendobrak masuk lalu menghajar Midorima hingga babak belur, tapi entah kenapa badannya tak mau bergerak.

"Midorima..."


Bersambung...