Chapter 5 :
"Ah... panas..." pikir Takao dalam tidurnya. Badannya berat dan kepalanya pusing. Ia enggan membuka matanya. Ia memilih tetap beristirahat dalam tidurnya. Sudah tiga hari ia merasakan lelah yang bertumpuk. Mungkin ia harus mengambil cuti panjang untuk refresing. Akhir-akhir ini ia memang mengalami kejadian-kejadian yang memberi beban mental padanya.
"Takao..." sebuah suara terdengar melewati telinga Takao yang setengah tertidur. Tapi Takao berpikir itu hanya ilusi. Suara Midorima yang memanggilnya dengan lembut. Sudah lama sekali ia tak mendengarnya. Jika ini adalah mimpi, maka Takao belum ingin terbangun. Takao memilih untuk tetap tertidur untuk mengobati kerinduannya pada Midorima.
"Takao... kau benar-benar bodoh. Kenapa waktu itu kau pergi begitu saja.."
"Shin chan... sebenarnya aku tidak ingin pergi meninggalkanmu..." jawab Takao dalam pikirannya. Ia benar-benar berharap bisa mengatakan keegoisannya itu langsung pada Midorima, tapi ia tak sanggup.
"Apa kau pikir kejadian saat upacara kelulusan itu semacam lelucon?"
"Tidak Shin chan. Itu bukan lelucon! Semua yang kukatakan waktu itu adalah yang sebenarnya."
"Kalau itu memang leluconmu yang garing seperti biasanya, aku tidak akan memaafkanmu."
"Shin chan..."
Takao membuka matanya ketika merasakan sesatu yang lembut di bibirnya. Dan betapa kagetnya dia ketika menyadari Midorima sedang menciumnya.
"Tidak... tidak... aku pasti masih bermimpi... lihatkan, kepalaku masih pusing." Takao mengelak dari kenyataan. Tapi jika ini memang masih bagian dari mimpinya, ia tetap menolak untuk bangun. Ia ingin tetap berada dalam mimpi mesumnya di mana ia bisa memiliki Midorima untuknya sendiri. Dan ia pun membalas ciuman Midorima.
"Takao?" Midorima melepaskan ciumannya karena kaget.
"Midorima!" Miyaji memasuki ruangan tempat Midorima dan Takao berada. Midorima mundur selangkah. Dan Takao kini benar-benar sadar sepenuhnya. Ia melihat sosok Midorima benar-benar nyata berdiri di sampingnya.
"Jadi... barusan itu bukan mimpi..." Takao menutupi bibirnya yang barusan dicium Midorima. Ia memandang Midorima dengan malu. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Miyaji yang sedang marah. Ia merasa bersalah. Dengan sisa tenaganya Takao beranjak dari tempat tidur lalu berjalan pelan-pelan menuju Miyaji.
"Takao..."
"Maaf Kiyoshi san... bisa kita pulang sekarang?" ajak Takao pada Miyaji.
"Takao!" panggil Midorima.
"Ayo Kiyoshi san..." Takao menarik lengan Miyaji tanpa menoleh.
"Maaf Midorima, kami harus pergi." Mereka lalu pergi meninggalkan Midorima yang masih tertegun disana. Ia tak mengejar mereka, dan bahkan tak bergeming dari tempatnya. Tangan kirinya bergerak menyentuh bibirnya. Yang masih tersisa sentuhan kelembutan Takao. Ia yakin dan pasti bahwa barusan Takao memang benar-benar membalas ciumannya. Sepersekian detik kemudian muka Midorima memerah. Ia merasakan sedikit kebahagiaan dan setitik harapan bahwa Takao masih mencintainya. Tapi di sisi lain pikirannya ia takut bahwa sebenarnya ciuman Takao barusan adalah untuk Miyaji. Dalam keheningannya, Midorima merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan.
Takao berjalan sempoyongan. Suhu badannya sudah turun tapi ia masih merasa pusing. Sesekali ia hampir jatuh tersungkur tapi dengan sigap Miyaji menyokongnya.
"Kau tak apa-apa Takao?" tanya Miyaji. Dengan anggukan pelan Takao menjawab. Melihat keadaan Takao, Miyaji dengan sigap memanggil taxi untuk mengantar mereka pulang.
Sesampainya di rumah, Miyaji membuatkan bubur hangat untuk Takao. Membantunya minum obat. Dan menemani di sisi Takao hingga Takao terlelap. Miyaji benar-benar mencurahkan seluruh perhatiannya pada sesosok laki-laki bermata abu-abu di depannya itu.
Malam berlalu begitu lama. Takao membuka matanya, terbangun dari tidurnya. Badannya sudah tidak panas dan terasa ringan. Kepalanya tak lagi merasa pusing. Ia bahkan sudah merasa cukup sehat untuk beranjak dari tempat tidur. Ia melirik jam duduk di meja samping tempat tidurnya.
"02.27 a.m"
Takao bangkit dari ranjangnya. Berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tapi kakinya terhenti saat melewati ruang tengah. Televisi masih menyala dengan volume minimalis. Di sofa di depannya terbaring sesosok makhluk yang tengah tertidur pulas.
"Kiyoshi san..." Takao menatap wajah Miyaji dengan perasaan bersalah atas kejadian tadi siang. Dari air muka Miyaji, terlihat jelas bahwa senpainya itu sedang kelelahan. Takao kembali ke kamar, mengambil selimut, lalu kembali ke ruang tengah untuk menyelimuti Miyaji.
"Maafkan aku Kiyoshi san..." gumam Takao. Dengan lembut ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Miyaji. Di luar dugaan, Miyaji menarik kepala Takao dan membalas ciumannya dengan lebih panas.
"Nh... mm..." Takao tak bisa melepaskan ciuman Miyaji. Dan Miyaji pun tak rela melepaskannya begitu saja. Ia membiarkan nafsu menguasai dirinya. Dengan intens ia menjelajahi mulut Takao dengan lidahnya. Beberapa menit kemudian Miyaji melepaskan ciumannya. Setetes saliva entah milik siapa meluncur turun dari sudut bibir Takao. Wajah Takao memerah. Dan dengan tatapan kebingungan dan nafas Takao yang memburu, membuat Miyaji menginginkan lebih.
"Ki.. Kiyoshi sa.. khh.." belum selesai Takao bermaksud bertanya, Miyaji telah mendaratkan sebuah gigitan diikuti isapan dan jilatan di leher Takao.
"Haah... Kiyo..shi san.. hnn... Apa yang.. terjadi.. haaah..."
"Selama kita pacaran, baru kali ini kau yang menciumku duluan. Apa ini permohonan maafmu untuk yang tadi siang?" pertanyaan Miyaji tepat sasaran. Takao hanya terdiam tak berani menjawab.
"Karena malam ini kau yang memulai, aku nggak akan melepaskanmu Takao.. bersiaplah..."
"Kiyoshi san..."
Keesokan harinya, Takao terbangun di tempat tidur. Miyaji tak ada di sampingnya. Ia segera bangkit dari tempat tidur lalu menjelajahi seluruh rumah. Ia menemukan senpainya sedang memasak di dapur.
"Kiyoshi san, Ohayou.."
"Ohayou... kau sudah bangun? Cepat ganti baju. Sarapan sebentar lagi akan siap."
"Ya.."
"Oh, Takao... gunakan pakaian terbaikmu. Hari ini akan ada tamu yang datang."
"Siapa?"
"Sudahlah.. kau akan tahu nanti." Kata Miyaji kemudian kembali berkonsentrasi pada masakannya. Takao agak bingung. Jarang-jarang Miyaji membiarkan orang lain berkunjung ke rumah itu. Dan yang membuatnya semakin terheran-heran, Miyaji sampai membersihkan ruang tamu.
Siang segera datang dan tamu yang dimaksud Miyaji pun datang tepat pada waktunya. Bell pintu depan dibunyikan beberapa kali. Miyaji meminta Takao membukakan pintu.
"Ya, sebentar..." Takao membuka pintu dan langsung terbelalak. Seolah-olah hawkeyesnya hendak melompat keluar karena kaget mendapati sosok yang berdiri di depan pintu.
"Konichiwa nodayo."
"Shi... Shin chan.."
"Oh, kau sudah datang Midorima, ayo masuk. Akan kusiapkan jus. Hari ini panas sekali." Kata Miyaji yang melongokkan kepalanya dari ruang tengah.
"Kiyoshi san?! Apa maksudnya ini?!" teriak Takao.
"Apa? Aku yang mengundangnya. Masuklah Midorima!"
"Ojamashimasu nodayo."
Untuk beberapa saat, suasana ruang tamu di apartemen Miyaji bagaikan di kutub utara. Yang duduk di sana sama-sama membeku. Sampai Miyaji mulai angkat bicara.
"Begini! Aku sengaja memanggil Midorima ke sini, untuk meluruskan masalah kita bertiga pada umumnya, dan kalian berdua pada khususnya."
"A..Apa?!" Takao setengah tak percaya pada apa yang dikatakan Miyaji barusan. Tapi tatapan tajam dari Miyaji membuat Takao diam menurut.
"Midorima, aku ingin menegaskan satu hal. Saat ini, akulah pacar Takao. Dan Aku mencintai Takao secara serius. Kau mengerti?" tanya Miyaji pada Midorima. Midorima hanya diam tanpa ekspresi sedangkan Takao, wajahnya sudah merah-semerah tomat.
"Takao..." panggil Miyaji.
"I.. Iya..."
"Kau mencintaiku?" tanya Miyaji.
"Eh? Kenapa tiba-tiba begini.. Aku... tentu saja aku mencintai Kiyoshi san."
"Lalu... kau masih mencintai Midorima kan..." tambah Miyaji. Kedua makhluk yang ada di depan Miyaji sama-sama tercengang dengan pernyataan barusan.
"Kau bicara apa sih Kiyoshi san..." Takao mulai gugup.
"Apa kau tahu kenapa aku tak pernah memanggilmu Kazunari?" tanyanya lagi.
"Eh?" Kali ini Takao benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena sebenarnya ia juga ingin tahu alasan kenapa Miyaji tidak memanggil nama depannya.
"Aku pernah bilang padamu. Aku akan membuatmu bahagia, bagaimanapun caranya. Aku berjanji akan membuatmu bahagia."
"Miyaji san..." Midorima mulai bersuara.
"Dari awal, aku tahu kau masih menyukai Midorima. Dan jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering menangis sembunyi-sembunyi. Karena itu, aku tak akan pernah memanggil nama depanmu sebagai pengingat janji bahwa aku akan membahagiakanmu."
"Maksudnya?"
"Takao... asalkan kau bahagia, apapun akan kulakukan. Termasuk membuatmu kembali bersama Midorima. Karena aku tahu, yang bisa membuatmu bahagia... hanyalah Midorima." Kata Miyaji datar. Kedua yang lainnya kembali terbelalak. Lagi-lagi mereka tak percaya pada kata-kata yang barusan diucapkan Miyaji.
"Midorima..." Miyaji mengalihkan pandangannya pada Midorima.
"Ya." Jawabnya.
"Saat ini yang jadi masalah adalah kau. Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur! Apa kau mencintai Takao?"
"Ya. Aku mencintainya." Jawab Midorima tegas. Kali ini Miyaji yang kaget. Ia tidak menyangka tsundere macam dia bisa juga berkata tegas dan lugas terhadap perasaannya. Takao sendiri, malah menunduk tak berani menatap dua orang di depannya. Ia tak ingin mereka melihat air mata yang berkubang di pelupuk matanya.
"Kalau begitu... bagaimana dengan gadis itu? Maksudku.. tunanganmu?" tanya Miyaji. Takao sontak mengangkat kepalanya. Ia bingung, bagaimana Miyaji bisa tahu mengenai tunangan Midorima. Ia segera mengelihkan pandangannya pada laki-laki berkacamata itu dan menanti jawaban apa yang akan ia keluarkan.
"Mengenai dia... aku sudah menolak dia berkali-kali. Bagiku dia tidak lebih dari seorang teman masa kecil. Dan tepat setelah hari kelulusan di Shuutoku. Secara formal, aku datang kepada keluarganya untuk membatalkan pertunangan. Sejak saat itu, aku telah resmi memutuskan tali pertunangan kami." Jawab Midorima tenang.
"Hari... kelulusan... itu..." Takao agak tergagap.
"Apa perlu kuperjelas? Hari kelulusan Shuutoku. Hari yang sama ketika kau menyatakan perasaanmu padaku, Bakao!" Midorima membenarkan letak kacamatanya. Dan tanpa aba-aba apapun, airmata Takao tumpah dengan deras membasahi kedua pipinya. Miyaji menghela nafas.
"Sekarang sudah jelas kan Takao, bahwa yang bisa membuatmu bahagia hanyalah Midorima. Karena itu, tugasku sudah selesai." Kata Miyaji lembut. Ia berusaha tersenyum untuk menenangkan Takao.
"Kiyoshi san..."
"Dengan begini, aku akan mengakhiri hubungan kita, Tapi kau harus berjanji padaku satu hal. Kau harus bahagia." Miyaji mengusap kepala Takao dengan penuh kasih sayang dan anggukan pelan Takao mengakhiri semuanya.
"Midorima!" kata Miyaji tegas. "Kau harus membahagiakan Takao. Kalau kau tak sanggup, aku akan merebutnya kembali."
"Aku berjanji!" jawab Midorima tegas. Miyaji tersenyum. Ia menepuk pundak Midorima lalu beranjak pergi.
"Aku akan membiarkan kalian berdua." Kata Miyaji kemudian berlalu.
"Terima kasih, Kiyoshi san!" teriak Takao. Tapi Miyaji hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"Takao..."
"Shin chan!" Takao menghambur ke pelukan Midorima. Midorima balas memeluknya dengan erat. Di sela-sela isak tangis Takao, terdengar ucapan maafnya atas sikapnya selama ini.
"Aku memaafkanmu nodayo."
THE END
Author note :
Yak akhirnya tamat juga! Terkesan terburu-buru ya? Gomen mina, ini karena otakku dah mentok. Oh ya, saya juga minta maaf karena lama banget gak update. Ini karena beberapa minggu yang lalu aku kecelakaan dan harus opname, jadi gak bisa nerusin nih fic. Udah gitu begitu pulang, leptopku ternyata hancur. Jadi mau gak mau ya, terlambat update. Hontou ni gomen nasai... selanjutnya aku akan bikin fic yang lebih bagus lagi.
BTW, Today is MidoTaka Day! HAPPY MIDOTAKA DAY .
Terima kasih reviewnya dan saya selalu menantikan kritik dan sarannya. Domo arigatou Gozaimasu :3
