Disclaimer: Masashi Kishimoto

AN: terimakasih buat semua pembaca yang sudah review, fave, dan alert :)

Yang menulis chap 1 (Table) adalah Barbara123.

Selamat(?) buat... NamiMirushi, Aori Rihito, Minako-chan Namikaze, Raito, can-can, han mi kyong, Shahra, Natsuyakiko32 dan readers lainnya yang nebak kalau Barbara123 yang nulis :p

berkat kalian chap 2 jadi cepat update. haha, enjoy!


Chopstick

xxx

Kushina Uzumaki tidak bisa lebih senang lagi hari itu. Bagaimana tidak senang? Liburan sudah di depan mata, dia lulus ujian Bahasa Inggrisnya sekaligus mata pelajaran yang lain. Tentu saja semua itu berkat bantuan Minato Namikaze.

"Kau janji ya!" Kushina berseru kencang.

"Iya. Iya." Minato dengan sengaja memutar bola matanya di depan Kushina, membuat gadis itu melotot. "Aku janji akan mentraktirmu ke Ichiraku!" Pemuda berambut pirang itu tertawa. Dia memang bertaruh dengan Kushina. Kalau Kushina bisa lulus semua mata pelajaran, Minato akan membelikan ramen untuknya. Habislah uang simpananku, Minato menggelengkan kepala, teringat akan porsi makanan Kushina.

Mau tidak mau, hubungannya dan Kushina menjadi lebih dari sekedar hubungan antara tutor dan murid. Mau bagaimana lagi, setiap hari mereka menghabiskan waktu di sekolah untuk belajar. Mereka bahkan makan siang bersama. Minato harus akui, meski Kushina itu cewek paling tomboy yang pernah dilihatnya, Kushina benar-benar jago memasak.

Minato tidak bohong kalau dia mengakui kalau dia sudah ketagihan akan omelet buatan Kushina.

"Yey, Ichiraku, Ichiraku, dattebane!" Kushina membopong tas ranselnya, menyeret Minato keluar dari sekolah. Gadis itu mengacuhkan pandangan tajam dari siswi-siswi di sekolahnya. Peduli amat, toh dia dan Minato hanya berteman. Lagipula, tidak ada yang berani mengganggu murid pemegang ban hitam karate sepertinya. "Aku boleh makan sepuasku kan?" Dia bertanya lagi.

"Iya." Minato menjawab lagi, dalam hati langsung menghitung uang yang ada di dompetnya.

Kushina tersenyum puas. Namun, senyum Kushina menghilang ketika dia melihat tangan kanan Minato yang dipasangi gips. Beberapa hari lalu, Minato terjatuh di festival olahraga. Tulangnya retak dan dia harus memakai gips itu selama beberapa minggu. "Tanganku baik-baik saja kok, jangan pasang muka khawatir begitu." Minato menyeringai, membuat Kushina tersentak.

"Si-siapa yang cemas padamu?!" Gadis berambut merah itu mendengus, memalingkan wajahnya yang sudah merona. "Aku malah senang! Kau kan tidak bisa pakai sumpit di tangan kiri, jadi aku bisa memakan ramenmu!" Dia menjulurkan lidah.

"Tenang Kushina, kurasa Teuchi-san punya garpu yang cukup untukku." Minato menjawab santai.

"Kenapa kau selalu bisa menjawabku dengan jawaban pintarmu itu hah?"

"Oh, terima kasih atas pujiannya." Senyuman Minato melebar, membuat Kushina mendengus. "Kau tahu, ini pertama kalinya kita berduaan di luar sekolah."

"Lalu?" Kushina meraih botol minumnya, meneguk habis air yang tersisa.

"Apakah ini dihitung sebagai kencan?"

Kushina langsung tersedak. Sebelum dia sempat mematahkan tangan Minato yang satu lagi, Minato sudah menyeretnya masuk ke dalam Ichiraku. Kushina yang sempat merah padam itu langsung melupakan kekesalannya ketika dia mencium bau sup ramen khas Ichiraku. "Paman! Aku datang lagi!" Kushina berseru dengan ceria.

"Ooohh! Pelanggan setiaku sudah datang lagi!" Teuchi tertawa, mengaduk sup ramennya. "Ayo duduk! Aku baru saja membuat sup baru!"

Tanpa disuruh dua kali, Kushina sudah duduk rapi di kursi dengan cengiran lebar. "Ramen asin ya Paman! Ekstra naruto!"

"Aku juga, Teuchi-san." Minato duduk di seberang Kushina. "Eh, Kushina, apa yang akan kau lakukan nanti liburan?"

"Apa? Tentu saja tidur seharian di rumah." Kushina menjawab tanpa ragu. "Lalu… aku mau berenang di pantai!" Dia menyeringai.

"Berenang di pantai?" Minato menaikkan sebelah alisnya. "Bersama siapa?"

"Tentu saja Mikoto."

Minato terdiam sesaat. Sosok gadis berambut raven panjang itu muncul di benaknya. "Cuma berduaan?" Bayangan Kushina didekati cowok-cowok di pantai membuat Minato mengerutkan kening.

"Tidak." Kushina menggeram. "Mikoto mau mengajak Fugaku. Si alien dari kelasmu itu."

"Fugaku?" Minato menyeringai. Fugaku Uchiha, sahabatnya, memang terkenal akan sifatnya yang dingin dan keji. "Baguslah, setidaknya dia bisa melindungi kalian dari orang-orang mesum."

"Apa maksudmu?" Kushina meraih sumpit kayu terdekat dan mematahkan sumpit itu. "Aku bisa melindungi diriku sendiri." Dia menggeram lagi.

"Aku tahu. Tapi tetap saja…" Mata Minato terpaku pada sumpit yang sudah patah itu.

"Aku menang pertandingan karate baru-baru ini. Namaku ada di koran, kau tahu itu kan?" Kushina mendesis. "Aku. Tidak. Butuh. Fugaku." Dia mematahkan sumpit yang berikutnya.

Minato hanya bisa meneguk ludah. "T-tapi di pantai ada banyak cowok mes…" Ucapan Minato terhenti ketika dia melihat sumpit baru yang kembali patah. "Cowok mesum! Seperti Jiraiya-sensei…"

Mendengar nama Jiraiya disebutkan, Kushina mulai mendelik. Dia meraih sumpit lagi, hendak mematahkan sumpit itu, namun tanpa gadis itu sadari, Teuchi sudah berdiri di depannya.

"Kushina! Apa yang kukatakan tentang mematahkan sumpit-sumpitku?!" Teuchi berseru jengkel, merebut semua sumpit yang tersisa dan hanya menyisakan dua pasang sumpit di meja.

"Salah Minato!" Kushina menunjuk ke arah Minato sambil mendengus, membuat pemuda pirang itu melongo, tidak bisa berkata-kata.

Teuchi menggelengkan kepala, meletakkan dua mangkuk ramen di meja. "Minato hanya cemas padamu, Kushina!" Lelaki setengah baya itu secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

"Aku tidak butuh rasa cemasnya itu." Kushina menyilangkan lengannya.

"Sabar ya, Minato." Teuchi menepuk bahu Minato dengan prihatin, membuat pemuda itu tertawa kaku.

"Anu… Teuchi-san? Bisa minta garpu? Aku tidak bisa menggunakan sumpit dengan tangan kiri." Minato menunjuk ke arah tangan kanannya yang dipasangi gips.

"Aku tidak ada garpu."

Minato menaikkan sebelah alis.

"Maaf ya, kau terpaksa pakai sumpit." Teuchi dengan cuek berjalan pergi. Sebelum lelaki itu kembali ke kiosnya, Minato berani bersumpah kalau Teuchi menyeringai jahil.

"Sayang sekali Minato, kau terpaksa bersusah-susah." Kushina tertawa, melahap ramen di depannya. Minato hanya mengangkat bahu, meraih sumpit di depannya. Dia mencapit ramen di depannya dengan konsentrasi tinggi. Kening Minato semakin berkerut ketika ramen itu lolos dari capitan sumpitnya. "Kau sendiri… apa yang akan kau lakukan nanti liburan?"

"Aku harus ke sekolah selama beberapa hari." Kening Minato semakin berkerut. Kushina sudah menyeruput setengah ramennya dan dia belum sempat menggigit apa-apa. "Tugas OSIS."

"Kasihan sekali sih kau."

"Kasihan karena OSIS atau karena tidak bisa memakan ramen di depanku?"

"Karena tidak bisa makan ramen." Kushina menatap Minato dengan rasa prihatin. "Tapi aku tidak akan menyuapimu. Aku masih kesal karena kau mendukung Fugaku."

Minato tidak menjawab, masih konsentrasi untuk mencapit ramen di depannya.

"Oi, Minato! Kau dengar tidak?"

"Hah? Apa?" Minato tersentak, menatap Kushina dengan bingung.

Kushina menggeram. Di detik berikutnya, dia sudah menyabet sumpit di tangan Minato, mematah sumpit itu menjadi dua.

Minato hanya bisa melongo.

"Dengan ini kau tidak usah pakai sumpit." Kushina tersenyum puas.

"Teuchi tidak akan memberi sumpit lagi, kau tahu itu?" Minato bertanya dengan nada takjub, benar-benar tidak bisa menebak Kushina.

"Tentu saja aku tahu." Dia mendengus, memindahkan kursinya sehingga dia duduk di sebelah Minato. "Aku akan menyuapimu." Wajahnya merona sesaat.

Minato menaikkan sebelah alisnya.

"Tapi! Harus ada imbalannya!" Wajahnya semakin terbakar. "Setelah selesai dari kegiatan OSIS-mu itu, kau harus menyusul kami di pantai, oke! Aku tidak mau bersama si alien itu!"

"Tentu." Minato langsung menjawab, menyeringai lebar.

"Sekali lagi kau nyengir akan kucolok matamu dengan sumpit ini."

Minato cepat-cepat memasang wajah serius.

Dia benar-benar tidak bisa menebak gadis di sampingnya ini.


Bersambung...

AN: nah, ada yang mau main tebak-tebakan lagi?

siapa yang nulis chapter ini? kalau bener 7, chap berikutnya bakalan di-update cepat (minggu depan) :)

HINT: si author suka nulis fic humor dan family :)