Disclaimer: Masashi Kishimoto
A/N: Maaf buat chapter ini benar-benar terlambat updatenya. Ada beberapa hal dan masalah yang membuat updatenya terlambat. Maaf bagi pada readers.
Makasih buat yang udah review, fave, alert dan lainnya.
Jawaban author buat Chopstik: Barbara123
Selamat buatNatsuyakiko32, Raito, Namikaze Nara, Shahra, han mi kyong, .5, can-can dan helga yang udah bener nebaknya :D
Now, enjoy! :D
Bikini
XXX
Terlambat.
Dengan wajah panik, Minato melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia sudah terlambat dua jam dari perjanjiannya dan Kushina. Apa boleh buat, rapat yang tadi dihadirinya terlambat satu jam. Salahkan saja Jiraiya, sang guru yang seharusnya bertanggung jawab justru pergi ke kolam renang dengan alasan ingin melihat para gadis berbikini.
Kalau saja Minato bukan Ketua Dewan Murid dan siswa teladan, mungkin ia sudah memukul guru paling mesum di sekolahnya itu. Kalau bukan karena Jiraiya, ia sudah bersama dengan Kushina saat ini.
Dengan tergesa, Minato berlari dari stasiun kereta. Ia tidak mau mengecewakan Kushina dengan membuat gadis itu menunggunya terlalu lama.
'Tapi… Pantai? Ah, apa Kushina memakai bikini?' Bayangan Kushina dengan bikini berwarna orange muncul di pikiran Minato.
Minato menggelengkan kepalanya.
'Tidak, tidak, kenapa aku jadi semesum ini?'
Pemuda tampan itu pun berlari lebih cepat lagi. Pandangan orang-orang, terutama para gadis, ia abaikan begitu saja. Pikirannya hanya tertuju pada gadis yang belakangan ini telah menarik perhatiannya, Kushina Uzumaki. Gadis itu sangat menarik dibandingkan gadis yang lainnya.
Dan akhirnya, Minato pun tiba di pantai. Mata biru safirnya mengamati keadaan pantai. Ia mencari sosok Kushina di tengah keramaian pantai.
"Huh?"
Mata safir Minato pun menangkap sosok dengan rambut merah panjang tengah duduk bersandar di bawah naungan pohon kelapa. Minato pun segera menghampirinya.
"Hei."
"Kau terlambat dua jam, ttebane!"
Kushina langsung berdiri begitu melihat Minato. Gadis itu melipat tangannya di depan dada. Parasnya menunjukkan bahwa ia jengkel.
"Maaf, tadi kami harus menyeret Jiraiya-sensei dulu dari kolam renang di dekat sekolah." Minato meringis. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
Kushina memutar bola matanya. Kenapa juga harus guru mesum itu yang mengganggu acaranya dan Minato?
"Harusnya ia dipecat saja," gumam Kushina.
Minato tertawa mendengar ucapan Kushina. Dalam hati, ia setuju dengan ucapan Kushina. Ia sendiri tidak tahu bagaimana guru mesum itu bisa menjadi guru di sekolahnya.
"Omong-omong, aku tidak melihat Fugaku dan Mikoto," kata Minato, mengalihkan pembicaraan.
"Mereka meninggalkanku. Fugaku sialan. Dia mengajak Mikoto pergi dengan alasan kencan. Ah, mereka menyebalkan, ttebane!"
"Sudahlah, ayo kita nikmati saja musim panas ini." Minato tersenyum lebar. "Ah, ayo ke ruang ganti."
Minato meregangkan tubuhnya. Ia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan celana renangnya. Ia tengah menunggu Kushina di depan gedung yang memang disediakan untuk berganti pakaian.
Ah, ia jadi penasaran apa pakaian renang yang akan dikenakan oleh Kushina, mengingat gadis itu penuh kejutan dan selalu melakukan hal yang berbeda.
"Yak! Siap untuk bermain, dattebane!"
Minato menoleh. Kushina sudah berada di sampingnya. Tubuhnya sudah terbalut dengan pakaian renangnya. Gadis itu tersenyum lebar pada Minato. Ia tampak antusias.
Minato memandangi Kushina dari atas sampai bawah. "Kau…"
"Apa? Tidak memakai bikini? Aku tidak suka pakai bikini!"
Kushina memang tidak mengenakan bikini, namun one piece suit berwarna yang biasanya digunakan untuk pelajaran berenang di sekolah. Sungguh di luar ekspetasi Minato.
Minato tertawa mendengar ucapan Kushina. "Kupikir semua perempuan suka memakai bikini."
Kushina memanyunkan bibirnya. "Aku tidak suka mengekspos tubuhku, ttebane. Aku benci dengan orang-orang mesum. Ah, jangan bilang kau juga suka dengan perempuan berbikini," tuduh Kushina.
"Tidak. Ah, sudahlah, ayo kita main saja," kata Minato mengalihkan pembicaraan. Bohong juga kalau ia tidak kecewa. Sedikit kecewa, sebenarnya.
"Bagaimana kalau kita membuat istana pasir, ttebane?" Kushina tersenyum lebar. "Sudah lama aku tidak membuatnya. Kalau aku pergi dengan Mikoto dan Fugaku, Fugaku pasti berkata bahwa aku seperti anak kecil."
Minato tersenyum. "Tidak masalah."
"Ayo!" Kushina nyengir, lalu berlari ke arah pantai dengan semangat. Minato tertawa pelan melihat Kushina. Kushina terlihat sangat senang, dan Minato pun ikut senang dengan hal itu. Minato pun berlari mengikuti Kushina.
Kushina menjejakkan kakinya di daerah yang cukup sepi dari keramaian. Ia menoleh ke arah Minato. Pemuda itu memperhatikan daerah di sekitarnya.
"Bagaimana kalau di sini? Kurasa cukup sepi dan jauh dari jangkauan ombak," kata Minato.
"Boleh juga."
Kushina pun melepaskan sandalnya, lalu duduk di atasnya. Minato mengikutinya, duduk di samping gadis berambut merah panjang itu. Mereka pun mulai membangun istana pasir, diselingi percakapan dan canda tawa dari keduanya.
Menikmati musim panas, bermain di pantai, membangun istana pasir, bermain air, makan semangka dan es putar, dan juga menikmati matahari terbenam bersama Kushina adalah musim panas terindah bagi Minato dan Kushina.
Ups, bisa dibilang mereka berkencan, bukan?
Bersambung...
A/N: Ada yang mau tebak-tebakan lagi?
Siapa yang nulis chapter ini? Kalau banyak yang benar, diusahakan update cepat :D
HINT: Author suka nulis fluff dan tragedy :)
