disclaimer: Masashi Kishomoto


Classmate

xxx


"Kushina!"

Mendengar namanya dipanggil, Kushina segera menoleh ke asal suara. Ia melihat kawan baiknya, Mikoto melambaikan tangan padanya. Kushina tersenyum, lalu mendekati gadis berambut biru kelam itu.

"Mikoto!"

Mikoto tersenyum. "Kau sudah lihat pembagian kelas untuk kelas tiga ini? Pembagian kelas baru."

Kushina menggeleng. "Aku baru saja sampai, Mikoto. Kau sudah melihatnya, ttebane?"

"Belum. Ayo, kita lihat."

Kedua gadis itu pun berjalan ke arah papan pengumuman yang terpasang di papan pengumuman yang ada di koridor. Tentunya di kelas yang baru, murid-murid akan diacak sehingga memiliki teman sekelas yang baru. Dua tahun ini, Kushina beruntung karena ia berada di kelas yang sama dengan Mikoto. Gadis itu berharap supaya ia bisa sekelas lagi dengan sahabatnya itu.

Ketika memasuki koridor, Mikoto dan Kushina harus berdesak-desakan dengan murid lain yang telah memenuhi koridor untuk melihat daftar kelas yang baru. Banyak sekali gumaman kecewa, senang dan sebagainya saat melihat daftar kelas yang baru.

"Ramai sekali," keluh Kushina.

"Mereka ingin melihat daftar, tentu saja ramai. Kuharap aku bisa sekelas dengan Fugakkun," balas Mikoto sambil tersenyum.

"Kuharap aku tidak sekelas dengan patung dingin tidak bisa tersenyum itu," gumam Kushina.

"Lalu, kau ingin sekelas dengan siapa, Kushina-chan? Ah, biar kutebak. Kau mau sekelas dengan Minato Namikaze, bukan?" tanya Mikoto frontal.

Semburat merah pun muncu di pipi Kushina. "A-Apa maksudmu?"

Mikoto tersenyum melihat rona merah di pipi sahabatnya. Ia memandang Kushina dengan pandangan yang misterius dan aneh bagi Kushina.

"Kemarin saat musim panas, kau berada di pantai bersama dengannya, dan ia juga mengajakmu berjalan-jalan beberapa kali, bukan?" tanya Mikoto.

"I-Itu…" Kushina tak bisa menjelaskannya.

"Ah, akhirnya sahabatku bisa menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama berstatus single. Mengaku sajalah, Kushina, kau menyukainya kan? Kau menyukai Minato, kan?" desak Mikoto.

"Aku tidak menyukainya, ttebane!"

"Ah, begitukah? Tapi, kau sangat beruntung. Hampir semua siswi di sekolah ini naksir Namikaze, dan dia hanya dekat denganmu. Bahkan dia juga mau saat kau ajak ke pantai, bukan? Sepertinya dia menyukaimu."

"Tidak mungkin, ttebane!"

Kushina tetap bersikeras membantah. Ia bukan perempuan yang mengejar-ngerjar Minato seperti siswi-siswi sekolah mereka. Ugh. Ia sama sekali tidak tertarik pada Minato layaknya siswi lainnya. Walaupun harus diakuinya, Minato adalah pria yang sempurna untuk dijadikan kekasih, bahkan suami.

"Kita lihat saja nanti."

Tanpa sadar, keduanya sudah berada di depan papan pengumuman. Baik Kushina maupun Mikoto langsung sibuk mencari nama mereka di daftar kelas. Mata violet Kushina menelusuri daftar itu dengan seksama, mencari tahu kelas barunya dan siapa saja teman-teman barunya.

"Ah! Sayang kita tidak sekelas, Kushina. Kau di kelas A dan aku di kelas B," kata Mikoto.

"Mereka pasti sengaja memisahkan kita," geram Kushina.

"Dan aku juga tidak sekelas dengan Fugakkun. Ah, kau juga tidak sekelas dengannya," kata Mikoto. Fugaku ada di kelas C.

Kushina berkacak pinggang. "Hah! Baguslah aku tidak bersama dengan Uchiha sialan itu, ttebane!"

Mikoto tersenyum misterius ketika mengamati daftar nama yang ada di kelas Kushina. "Kau akan menyukai kelas barumu, Kushina. Minato Namikaze ada di kelasmu."

"Hah?" Kushina tercengang kali ini. Ia segera melihat daftar nama kelasnya. Dan benar saja, ada nama Minato Namikaze tercantum di sana. Ia melotot, tak percaya ia berada di kelas yang sama dengan the most wanted guy in the school.

"Benar, bukan? Sepertinya kalian memang berjodoh," kata Mikoto.

"Hei, Kushina!"

Mikoto menyikut Kushina. "Lihat, dia memanggilmu."

Kushina melotot ke arah Mikoto. Semburat merah tampak di pipinya. Ia tahu Minato memanggilnya. Ia hapal dengan suara Minato, karena suara pemuda itu selalu saja berputar berulang kali di kepalanya. Bukan hanya suara, namun juga wajah dan senyumannya.

Sepertinya Kushina sama sekali tidak tahu bahwa Minato sudah memasuki relung hatinya.

"Kushina?"

"Hah? Oh…" Kushina menengokkan kepalanya ke arah Minato yang kini sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu pun memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Minato.

Minato sudah memasang seulas senyuman menawan yang biasanya membuat para siswi berteriak karena terpesona. Mata biru safirnya menatap Kushina yang nampak kikuk. Ah, gadis ini benar-benar menarik di mata Minato. Ia memiliki sesuatu yang berbeda dari gadis lainnya.

"Ah, kita sekelas bukan, Kushina?" tanya Minato. Ia sudah tahu, hanya ingin memastikan Kushina tahu bahwa mereka berdua berada di kelas yang sama untuk tahun ini.

Kushina mengangguk.

Minato tersenyum lebar. "Ah, aku senang mendengarnya! Kau mau duduk denganku di kelas?" tawar pemuda yang menjabat sebagai Ketua Dewan Murid di sekolahnya itu.

"Eh?" Kushina terkejut dengan tawaran Minato.

Minato menggaruk kepalanya. "Yah… Kupikir aku bisa membantumu dalam pelajaran-pelajaran yang tidak bisa kau kuasai. Kalau kau keberatan, tidak apa-apa," jelas Minato.

"Tenang saja, Namikaze-san, Kushina pasti mau duduk di sebelahmu. Aku jamin itu," ucap Mikoto, sebelum Kushina sempat menjawab.

Kushina melotot ke arah Mikoto. "Mikoto, kau…" geramnya.

"Ikuti saja, kau tidak akan menyesalinya, Kushina," bisik Mikoto.

"Ah, Namikaze-san, aku titipkan Kushina, ya? Aku mau menemui Fugaku. Dah, Kushina, sampai nanti pulang sekolah!" pamit Mikoto. Gadis itu tersenyum, lalu melenggang pergi menjauhi Kushina dan Minato.

"Mikotoooo!"

Kushina berdecak melihat tingkah sahabatnya yang seenaknya menjodohkannya dengan Minato. Mikoto memang terkadang sangat iseng. Tapi baru kali ini Mikoto iseng menjodohkannya dengan Minato.

"Kalian benar-benar akrab, ya?" gumam Minato, melihat bagaimana dekatnya Kushina dan Mikoto.

"Hah? Oh, aku dan Mikoto sudah saling mengenal sejak kecil, ttebane!" jelas Kushina pada Minato sambil tersenyum lebar.

"Begitu… Ah, ayo kita ke kelas. Lima menit lagi bel berbunyi," kata Minato sembari melihat ke arah arloji yang melekat di pergelangan tangannya.

"Ayo! Ah, semoga tahun ini kita tidak diajar lagi oleh Jiraiya-sensei, ttebane!"

"Kenapa?" tanya Minato.

"Dia sangat mesum dan menyebalkan!"

Minato tersenyum. "Sayangnya, Jiraiya-sensei adalah wali kelas kita, Kushina."

Kushina melotot ke arah Minato. "Benarkah?"

"Kau tidak melihatnya di daftar kelas tadi?"

"Sepertinya tidak. Ah, menyebalkan sekali, ttebane!"

Minato hanya tertawa menanggapi keluhan Kushina. Mereka pun berjalan ke kelas sambil berbincang-bincang. Tepatnya, Kushina yang bicara dan Minato yang mendengarkan. Pemandangan yang cukup membuat iri banyak pihak yang melihatnya.

Hari yang indah untuk mengawali awal semester yang baru, bukan?

Ups, semoga Kushina tidak tahu bahwa Minato meminta pada guru supaya ia dijadikan satu kelas dengan Kushina.


Bersambung...

A/N: Mohon maaf karena super terlambatnya update. Baik Meiko maupun Barbara semuanya ada kendala untuk update cepat, terlebih kalau liburan Natal, kami berdua pasti ada acara keluarga, jadi sulit untuk membuat fic dan mengupdatenya. Mohon readers sekalian bisa memaklumi, dan bulan Januari, kami sudah memasuki masa sibuk.

Chapter depan diusahakan bisa update dalam seminggu atau dua minggu. Mohon maaf ya ^^

Clue about author: She's eighteen years old this year

Thanks for read this :)

And also, Merry Christmas to readers who celebrate it, and Happy New Year to all of you