Disclaimer: Masashi Kishimoto

AN: makasih karena sudah baca chapter-chapter sebelumnya :)

bagi semua pembaca yang menebak kalau chapter sebelumnya adalah tulisan Meiko, kalian semua benar! Selamat! Berkat kalian chap ini lebih cepat updatenya :)

enjoy!


Shampoo

xxx

Kushina memang suka olahraga, tapi dia sangat suka berenang. Dia menghabiskan waktu luangnya di kolam berenang sekolah, melompat di dalam air. Baginya, berenang itu hanyalah hobi saja. Tentu saja dia melongo ketika Jiraiya menyodorkan formulir lomba renang dengan senyuman lebar di wajahnya. Awalnya Kushina nyaris saja melempar tas ranselnya di muka guru mesum itu, namun pada waktu itu Minato ada di belakang Jiraiya, menjelaskan bahwa kali ini Jiraiya tidak main-main.

Sekarang, Kushina Uzumaki secara sah adalah finalis putri perenang dari Konoha High School.

Dan tentu saja, finalis putra-nya adalah Minato Namikaze.

Siapa lagi memangnya yang bisa menandingi Minato, Kushina memutar bola matanya ketika dia melihat Minato yang terjun bebas di kolam berenang. Sekarang, mereka berdua sedang latihan. Dan tentu saja si pelatih, Jiraiya, sudah menghilang untuk menggoda Tsunade, suster sekolah itu. "Kau tahu," Kushina berusaha untuk tidak terkesan melihat rekor-rekor Minato di tangannya. "Entah kenapa, aku ingin sekali medengarmu menjerit-jerit seperti cewek."

Minato menaiki tangga kolam renang, menatap Kushina sambil menaikkan sebelah alisnya. "Kau terlalu capek latihan, Kushina?" Dia meringis, dengan sengaja mengibaskan rambut pirangnya yang mulai panjang itu, membuat air kaporit di rambutnya terbang ke Kushina. Gadis berambut merah itu mendengus kesal, balas mengibas rambutnya yang basah, membuat Minato tertawa. "Rambutmu makin panjang." Minato tersenyum, menatap Kushina yang sekarang memeras air dari rambutnya.

"Masa? Aku belum potong sih." Kushina mengerutkan kening. "Mungkin akan kupotong minggu depan…" Dia bergumam pelan.

"Jangan!" Minato cepat-cepat berseru. Pemuda pirang itu cepat-cepat mengatupkan mulutnya ketika sadar bahwa Kushina sekarang sudah menatapnya dengan tatapan 'kau-gila?'nya itu. "Maksudku…" Minato berdehem. "Aku suka dengan rambutmu. Soalnya rambutmu indah. Jadi jangan dipotong." Minato tersenyum lebar.

Kushina hanya bisa terpaku, menatap Minato dengan wajah merah padam. Dia membuka mulut, hendak mengatai Minato karena kegombalannya, namun suaranya tidak keluar. Mulutnya megap-megap, wajahnya semakin memanas. "A-aku mau mandi dulu!" Dia menjerit kencang, meraup kantong pakaiannya, meninggalkan Minato yang menaikkan sebelah alis, bingung.

Kushina tidak tahu kenapa dia bisa sampai ke ruangan shower hanya dalam waktu semenit. Oh aku lari. Pantas saja. Dia menjawab dalam hati. Gadis itu sama sekali tidak sadar kalau dia sudah berlari sejak tadi. "Dasar Minato gila…" Kushina bergumam, wajahnya memanas. Dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya, melepaskan pakaian renangnya. Kushina mengerang pelan ketika air hangat membasahi wajahnya. "Minato gila." Kushina berujar sekali lagi. Dia meraih botol kecil di dalam kantungnya. Dengan gesit gadis itu menuangkan shampoo di rambutnya. Dia tidak tahu di mana Minato sekarang, tapi dari kolam renang setidaknya butuh waktu lima menit untuk sampai ke ruangan shower.

Sebaiknya aku cepat-cepat selesai dan pergi sebelum bertemu dengan Minato lagi.

Kushina meraih sejuntai rambut yang tidak terkena shampoo dan wajahnya merona lagi ketika dia melihat warna rambutnya. Ucapan Minato terngiang-ngiang di kepalanya.

"Argghh!" Kushina menjerit. "Aku seorang pelaut!" Dia menjerit kencang, bernyanyi di puncak suaranya. "Hobiku makan bayam! Sayuran! Apa pun ituuuu asal warnanya hijaauu!"

"Hah?" Minato, yang baru saja menyalakan shower langsung melongo ketika mendengar suara melengking yang bisa menulikan telinga itu. Memang, tembok ruangan shower siswi berhadapan dengan ruangan shower siswa, tapi seumur hidupnya di Konoha High School, Minato tidak pernah mendengar suara mana pun yang keluar dari ruangan shower siswi.

"NAMAKU PEPAYA!" Jeritan Kushina terdengar lagi.

Minato langsung tertawa terbahak-bahak, langsung lupa dengan shampoo di telapak tangannya. Pepaya? Popeye maksudnya? Sejak tadi liriknya salah semua.

"I love you, you love me!"

Minato kembali tertawa, memutar bola matanya. Sekarang Kushina menyanyikan lagu Barney. "We are happy family!" Minato berseru, tertawa ketika mendengar jeritan kaget Kushina. Dia masih meringis, menggosok shampoo di tangannya, membentuk busa. "Kushina?" Dia bertanya dari balik shower. Kenapa suara Kushina tidak terdengar lagi?

"Sialan. Lupa bawa bra ganti."

Minato melongo dengan mata terbelalak. Dia langsung menepuk keningnya.

Di detik berikutnya, jeritan Minato bergema dari bilik shower.

"Ah! Rupanya bra-nya di sin…" Ucapan Kushina terputus ketika dia mendengar jeritan itu. Minato… menjerit? "Hei! Apa yang terjadi?!"

Ketika Minato menepuk keningnya, dia melakukan dua kesalahan. Pertama, shampoo itu masih ada di tangannya. Kedua, dia meleset. Bukan kening yang ditapuk tapi malah matanya yang masih terbuka lebar.

"Minato?" Kushina berseru kencang. Namun, dia tidak mendengar jawaban Minato, hanya rintihan kesakitan dari shower seberang. "Minato?!" Kushina menjadi semakin panik. Dia cepat-cepat mematikan shower, melapisi tubuhnya dengan handuk. Dengan gesit dia keluar dari ruangan shower siswi dan lari ke ruangan shower siswa. Dia tahu kalau sekarang tidak ada siapa-siapa di sekolah kecuali mereka berdua. Toh, Jiraiya yang seharusnya mengawasi mereka berdua sekarang sudah menghilang ke mana.

"Minato?!" Tanpa banyak pikir lagi Kushina menghantam pintu shower Minato dengan telapak tangannya. "Hei! Kau baik-baik saja?!"

Minato masih mengerang. Dia sama sekali tidak bisa membuka matanya. Sambil meraba-raba di dalam kegelapan, dia mematikan air dan meraih handuk. Untung saja dia ingat dimana dia menggantung handuknya. "Tidak apa-apa! Aku tidak apa-apa!" Dia cepat-cepat menjawab sebelum Kushina menendang pintu shower dan memergokinya dalam keadaan… tidak layak.

Setelah merasa kalau dia pantas untuk keluar, Minato membuka pintu, masih sempoyongan. Dia mendengar seruan kaget Kushina dan merasakan tangan hangat gadis itu yang bergegas membawanya ke kursi terdekat. "Kau apakan matamu?! Kelopak matamu merah begitu!"

"Kena shampoo…" Minato bergumam pelan, mempererat ikatan handuk di pinggangnya. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi Kushina, tadi dia tahu seruan kagetan tadi bukan hanya karena matanya yang memerah.

"Kok bisa sampai begitu parah sampai kau tidak bisa membuka matamu?" Seruan Kushina kembali terdengar, membuat Minato tertawa pelan. "Masih bisa ketawa lagi! Kau tidak bisa membuka matamu kan?!"

Pemuda berambut pirang itu mengangguk, mengusap matanya, memaksakan diri untuk membuka mata. Namun percuma saja. Rasa pedih itu kembali lagi, membuat Minato secara refleks memejamkan matanya erat-erat.

"Kau sampai nangis segala…" Kushina berujar pelan, menyentuh wajah Minato yang basah.

"Aku tidak nangis." Minato menjawab, menahan napas ketika merasakan jari-jari Kushina yang menelusuri wajahnya. "Itu refleks saja. Kalau kau merasa sakit, air mata akan mengalir tanpa kau sadari."

"Sok pintar?" Kushina dengan sengaja menjentikkan tangannya di depan mata Minato, namun mata pemuda itu bergeming. "Kau benar-benar tidak bisa membuka mata ya?" Dia mulai terdengar cemas. "Hei, apakah ini salahku? Soalnya aku tadi nyanyi keras-keras kan? Kau kaget ya?"

"Tidak, bukan salahmu." Minato cepat-cepat menjawab. Mana bisa bilang kalau dia begini karena ucapan Kushina tentang lupa bawa bra. Bisa-bisa cewek di sampingnya ini ngamuk. Minato menyenderkan kepalanya di dinding. Dia mulai sadar kalau Kushina sama sekali tidak berbicara. Apakah Kushina merasa bersalah? "Tawar."

"Hah?"

"Lanjut dong." Minato tersenyum. "Sambung kata. Tawar"

Kushina berkedip sesaat. "War… warna."

"Nama."

Kushina terdiam, memeras otaknya. Sekilas, dia melirik ke arah rambut Minato. "Matahari?"

"Risau." Minato menjawab tanpa menghabiskan waktu untuk berpikir, membuat Kushina menggeram kesal. Diam-diam, Minato tersenyum. Kushina sudah kembali seperti semua. Kushina mulai mengetuk kursi, sama sekali tidak tahu kelanjutannya. Saus. Minato menjawab dalam hati.

"Ubi!" Kushina menjerit girang, membuat Minato tertawa pelan.

"Ubi tidak boleh loh."

"Peduli amat. Kau mau main atau tidak?"

Minato, masih dengan mata terpejam, menggelengkan kepala. "Bibi." Dia memejamkan matanya sekali lagi. Setelah merasa bahwa kepedihan itu menghilang, Minato mulai membuka matanya pelan-pelan. Minato mengusap matanya. Sesaat, pandangannya buram, namun setelah dia mulai fokus, dia bisa melihat wajah Kushina. Dia hanya menggunakan handuk, membuat wajah Minato merona. Namun, raut wajah Kushina-lah yang membuat Minato menaikkan sebelah alis. "Kushina? Kenapa kau bengong?"

"Biru…"

"Hmm? Oh, jawaban dari biru tadi?" Minato tertawa. "Rumah." Dia tersenyum. "Hei, giliranmu. Hei. Kushina?"

Kushina tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya. Apa yang terjadi padanya? Ketika Minato membuka mata, dia merasa sangat lega. Dan… sejak kapan warna biru itu terlihat indah sekali? Kenapa dia tidak pernah sadar kalau Minato mempunyai mata seindah itu? Kenapa perasaannya terhadap Minato jadi aneh seperti ini? Apa yang terjadi pada dirinya?


Bersambung...

AN: seperti biasa, semakin banyak yang berhasil nebak dengan benar, semakin cepat update nya :)

hint author kali ini: si author sudah kuliah :)

Makasih sudah baca!