Disclaimer: Masashi Kishimoto

xxx


"Mama! Aku mau es krim coklat sama vanilaaa!"

"Kushina, sayang, tidak boleh serakah ya… Pilih satu saja."

"Aku mau dua-duanya! Kenapa tidak boleh, dattebane?"

Kushina membuka matanya, tersentak ketika dia merasakan air mata yang membasahi wajahnya. Dia mengerang pelan, mengusap matanya yang terasa perih. Dia jarang bermimpi, nyaris tidak pernah. Terakhir kali dia bermimpi adalah ketika ibunya meninggal karena kecelakaan. Entah sudah berapa lama dia tidak memimpikan ibunya. Dia mengedipkan mata, meraba-raba di dalam kegelapan dan mencari ponselnya.

1.56 A.M

Kushina mengusap matanya lagi ketika dia merasakan air mata yang belum berhenti mengalir itu. Dia kembali berbaring, menyabet selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Gadis berambut merah itu memejamkan mata erat-erat, berusaha untuk tidur lagi. Namun matanya lagi-lagi terbuka lebar. Mama, aku menang lomba renang kemarin. Dia berbisik di dalam hati. Sayang kau tidak bisa menontonku. Papa sendiri sibuk bekerja. Jadi…

Lagi-lagi matanya terasa perih.

"Sejak kapan aku jadi cengeng begini…" Dia bergumam pelan, memaksakan diri untuk kembali tidur. Namun lagi-lagi dia gagal. Gadis itu menyibakkan selimutnya, mendengus kesal. Ibunya meninggal ketika dia masih berusia 10 tahun. Kushina sudah tidak pernah lagi merindukan ibunya, toh sudah 8 tahun sejak ibunya meninggal. Namun entah kenapa, dia kembali teringat akan ibunya.

Kushina meraih ponsel, membuka contact list, mencari-cari nomor temannya. Dulu, ketika dia merindukan ibunya, dia akan bercerita dengan Mikoto. Jarinya berhenti ketika dia berhasil menemukan nomor Mikoto. "Dia pasti sudah tertidur lelap… kalau aku ganggu…" Kushina terdiam, kembali menelusuri daftar nomor teman-temannya. Dia terpaku ketika nama Minato muncul di sana.

Telepon Minato?

Mungkin dia masih bangun…

Sebelum Kushina menekan tombol 'call', dia teringat akan ucapan Minato kemarin.

"Maaf, tapi aku memiliki orang yang kusukai."

Kushina terdiam, terpaku sambil menatap nama Minato dengan tatapan kosong.

Tentu saja. Minato siswa poluler di sekolah. Cerdas, tampan, baik hati… siapa yang tidak suka dengannya. Dan tentu saja dari puluhan murid yang menyukai Minato, pemuda pirang itu menyukai seseorang.

Kushina menggigit bibir. Dia dan Minato sudah berteman setengah tahun. Mereka sahabat. Mereka selalu bercerita dan berbincang-bincang tentang segala hal. Dan tidak sekali pun Minato bercerita tentang orang yang dia sukai ini. Si pirang itu tidak mempercayaiku atau apa? Kushina mendengus. Dia akui kalau dia memang bermulut besar dan sulit untuk menjaga rahasia. Tapi setidaknya dia bisa jaga rahasia Minato. Toh Minato sahabatnya.

Tapi… begitu Minato mengakui cinta pada sang pujaan hati itu, dia akan kehilangan sahabatnya.

Seperti bagaimana dia kehilangan Mikoto ketika sahabatnya itu pacaran dengan Fugaku.

Kushina menghempaskan tubuhnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Peduli amat kalau Minato pacaran. Kushina yakin kalau Minato tidak akan memutuskan hubungannya sebagai sahabat begitu saja. Minato adalah orang paling setia yang pernah dia temui. Kushina mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Minato akan tetap menjadi sahabatku. Kami akan terus makan siang bersama, belajar bersama… berenang bersama… Menghabiskan sepanjang hari bersamaku…

"Apa yang kupikirkan. Kalau dia pacaran tentu saja dia tidak bisa menjadi sahabatku lagi…" Kushina bergumam di balik selimut. "Tidak apa lah. Asal Minato bahagia." Dia meringis.

Kushina, kau tidak boleh serakah.

Suara ibunya kembali muncul, membuat Kushina memejamkan mata erat-erat. Tanpa dia sadari, dia sudah terlelap, air mata membasahi wajahnya.

xxx

Minato sadar kalau ada yang aneh dengan sahabatnya.

Pertama-tama, Kushina tidak menjerit 'selamat pagi' ketika dia masuk ke dalam kelas. Dia tidak tersandung dari kursi karena terburu-buru menghampirinya. Dia tidak melompat, tidak menatapnya dengan tatapan berseri-seri.

Kushina masuk ke dalam kelas, tersenyum simpul ketika teman-temannya memberi selamat padanya karena menang lomba dan langsung duduk di kursinya. Lebih parahnya, Kushina langsung menyenderkan kepalanya di meja, memejamkan mata dan menghindari tatapan bingung semua anak-anak di kelas.

Minato hanya bisa melongo. Dia melirik di jam sekolah. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Dia cepat-cepat menghampiri gadis berambut merah itu, duduk di sampingnya. "Hei. Kau baik-baik saja?"

Kushina tidak membuka mata, hanya mengangguk pelan. "Aku capek."

Minato menaikkan sebelah alis. Capek? Ini ucapan yang keluar dari mulut gadis yang sanggup mendaki gunung melewati lembah dua kali dalam sehari? Minato menggelengkan kepala. Oke. Dia memang berlebihan. Tapi memang kenyataan kalau Kushina di depannya ini bukan Kushina yang biasanya. Minato terdiam sesaat. Apakah… karena ucapannya yang kemarin?

"Hei, Kushina? Aku mau bicara… kemarin aku ada bilang sesuatu tentang aku menyukai seseorang? Ingat?"

"Minato. Aku benar-benar capek dan tidak ada mood untuk bicara sekarang. Oke?" Kushina memalingkan wajahnya, menghadap ke arah jendela. Minato hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang merasuki gadis kesukaannya ini.

"Aku… pergi dulu…" Minato bergumam pelan, beranjak dari kursinya dan pergi dari kelas. Kushina melirik punggung Minato yang menjauh. Dia menggigit bibirnya, merasa bersalah. Dia tidak seharusnya seketus itu terhadap Minato. Pemuda itu tidak bersalah. Minato punya hak untuk menyukai cewek mana pun di sekolah ini. Sebagai sahabat dia seharusnya mendukung Minato, bukan mengusir pemuda itu. Kushina menggigit bibir, tidak mengerti kenapa dadanya terasa begini sakit.

xxx

"Hari ini… peringatan kematian ibunya."

Minato terpaku, menatap Mikoto yang menundukkan kepala.

"Aku… lupa…" Gadis berambut raven itu memucat. "Sejak bersama Fugaku aku… tidak terlalu dekat lagi dengan Kushina dan…" Dia menggigit bibir, menatap Minato dengan tatapan bersalah. "Aku harus minta maaf pada Kushina sekarang." Dia hendak bergegas ke kelas Kushina, namun Minato menahan gadis itu.

"Kushina tidak pernah bilang padaku kalau ibunya meninggal." Dia menatap Mikoto dengan tatapan pahit.

"Kushina… dia tidak suka menyangkut hal ini karena dia akan merasa lemah, kau tahu kalau dia tidak suka merasa kalau dirinya lemah…" Mikoto bergumam pelan. "Kushina tidak pernah mengajakku jika dia mengunjungi makam ibunya. Bisanya aku akan menemaninya ke pemakaman tanpa bicara apa-apa. Tapi…"

"Aku akan menemani Kushina kali ini." Minato berujar cepat. "Mikoto… bisa bilang di mana alamatnya?"

Sebelum Mikoto sempat memberikan alamat makam itu, nama Minato dipanggil oleh kepala sekolah lewat speaker, membuat pemuda berambut pirang itu mengerang.

"Kau sibuk ya?"

"Kita tahun ini lulus. Aku harus memilih calon ketua Dewan Murid yang baru…" Dia bergumam kesal. "Maaf, Mikoto! Aku akan menemui di jam istirahat nanti!"

Mikoto hanya bisa terpaku, menatap Minato yang berlari cepat menuju ruangan kepala sekolah.

xxx

Kushina merongoh kantong rok-nya, mengeluarkan medali emas yang dia menangkan dua hari lalu. "Mama. Lihat ini." Dia menyeringai, menggoyangkan medali itu di depan makam ibunya. Kushina tersenyum singkat, menggantung medali itu di nisan. Gadis berambut merah itu meraih kain, membersihkan makam ibunya yang dilapisi debu. "Hei, Mama. Aku tidak boleh serakah kan?" Kushina tertawa pelan. "Biasanya Mikoto menemaniku. Tapi dia ada acara dengan Fugaku. Apa boleh buat. Mama tahu kan keluarga Uchiha? Mereka itu super ketat. Sangat tradisional. Aku kasihan dengan dengan anak mereka nanti…"

Kushina terdiam lagi, membersihkan kuburan ibunya.

"Aku… punya sahabat lain. Nama dia Minato. Kami lumayan dekat." Senyum Kushina mengembang. "Tapi sepertinya dia akan pergi juga dariku." Dia tertawa. "Emm… mungkin aku harus mencari sahabat baru?"

"Aku tidak mau kau mencari sahabat baru."

Kushina yang sedang berjongkok itu langsung tersungkur, melotot ke arah pemuda berambut pirang yang diam-diam sejak tadi sudah ada di belakangnya. "Kau ini apa?! Ninja ya?!" Dia menjerit. Dadanya berdetak dengan sangat kencang karena terkejut.

"Kau tidak tahu. Diam-diam aku ini hokage di dunia ninja." Minato berujar santai. "Julukanku adalah yellow flash Konoha."

"Ngawur." Kushina mencibir, beranjak dan membersihkan debu dari roknya. "Kenapa kau ada di sini?"

"Mikoto cerita soal ibumu." Minato menjawab singkat. Sebelum Kushina sempat mengamuk, Minato sudah berlutut di depan makam ibunya, memejamkan mata dan berdoa.

Kushina terdiam sesaat. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Marah karena Minato tahu soal ibunya? Atau lega karena dia tidak perlu cerita soal ibunya lagi? Kushina memutuskan untuk diam saja.

"Apa maksudmu dengan tidak boleh serakah dan aku akan menjauh darimu?" Minato beranjak, dia mengerutkan kening, menatap Kushina dengan bingung.

"Bukan apa-apa sih…" Kushina menggaruk tengkuknya. "Kau kan… suka sama seseorang… Dan sudah sepastinya kau dan orang itu pacaran dan semacamnya… Yah… mungkin aku akan merasa kesepian… toh kau kan sahabatku… tapi aku tidak boleh serakah kan! Maksudku, tentu saja aku ingin kau terus bersamaku, tapi aku mengerti kalau kau mau menghabiskan waktu dengan gadis yang kau sukai dan…"

"Tunggu, tunggu!" Minato menaikkan tangannya, menatap Kushina dengan mata terbelalak. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Apa yang kau bicarakan?"

"Kau tidak mengerti juga?" Kushina menggeram, dia sudah payah menjelaskan dan otak si pirang ini malah menjadi lambat di saat-saat seperti ini? "Maksudku, aku tidak bisa serakah! Bayangkan ya, ada dua rasa es krim. Satu coklat, satu vanilla, dan aku cuma punya uang 500 yen! Cuma bisa pilih satu rasa. Tentu saja aku harus memilih satu dari mereka berdua kan? Sama saja denganmu! Aku ingin kau bahagia, tapi aku juga ingin kau terus bersamaku. Tapi tidak bisa kan? Soalnya kau mau menghabiskan waktu dengan pacarmu! Lalu…"

Minato hanya bisa melongo. Dia tidak habis pikir apa hubungan antara es krim dan semua pembicaran tentang perpisahan. Dia cepat-cepat memutar otaknya, memikirkan semua ucapan Kushina.

"… kau pasti mau ke pantai… ke kolam renang… makan ramen bersama pacarmu…"

Minato mengabaikan semua celoteh Kushina, berpikir keras. Kemarin dia baru saja memberikan hint pada Kushina kalau dia suka padanya kan? Kenapa Kushina tiba-tiba menjadi seperti ini?

"… dan kau tidak mau main denganku lagi… tadi saja kau pergi menemui cewek idamanmu… mungkin dia seperti super model, cantik, tinggi, langsing, pintar…"

Minato terpaku. "Cewek idaman seperti super model?" Dia menaikkan alisnya. "Siapa?"

"Tentu saja cewek yang kau sukai." Kushina menatapnya dengan tatapan 'kau-masih-waras-tidak'. Minato masih terpaku.

"Tapi yang aku suka kan kau, Kushina." Minato berkedip.

"Aku juga suka padamu, Minato." Kushina menghela napas. "Tapi aku mengerti kalau kau harus menjauh dariku dan…"

"Tidak, kau tidak mengerti." Minato mengerutkan kening. "Aku suka padamu." Dia menekankan kalimatnya.

"Kau yang tidak mengerti. Apakah kau mendengarku ketika aku bercerita tentang es krim tadi?" Kushina melotot, mulai tidak sabar.

Minato mengerang, menggaruk rambutnya dengan frustrasi. Kushina memang keras kepala tapi kali ini dia sudah keterlaluan. "Kushina! Ke sini!" Dia menyeret gadis itu keluar dari pemakaman. Kushina menjerit-jerit, tapi Minato mengabaikannya. Mereka berdua berhenti di toko snack dekat pemakaman. "Lihat ini ya!" Minato menunjuk ke arah kios es krim. Minato membuka kulkas kios itu, mengeluarkan dua es krim. "Vanila dan coklat. Betul?"

Kushina masih bingung tapi mengangguk saja.

"Dan aku cuma punya 500 yen. Cuma bisa pilih satu rasa. Betul?"

Kushina mengangguk lagi.

"Nah, Kushina…" Minato memasukkan kembali dua es krim itu ke dalam kulkas. "Bagaimana kalau aku beli yang ini?" Dia meraih es krim lain. Mata Kushina terbelalak ketika dia melihat es krim itu. "Lihat, di kanan rasa coklat. Di kiri rasa vanilla." Minato menunjuk ke arah es krim itu. Memang, es krim itu lebih kecil dibandingkan dengan dua es krim yang sebelumnya, namun es krim itu mempunyai dua rasa. "300 yen! Aku masih bisa dapat kembalian 200 yen! Dan aku dapat dua rasa." Minato mendengus bangga.

Kushina tidak bisa berkata-kata, hanya bisa melongo.

"Siapa bilang aku tidak bisa punya pacar sekaligus sahabat?" Minato tersenyum mengejek, membuat Kushina melongo semakin menjadi-jadi.

"Ta-tapi… tetap saja tidak mungkin!" Kushina menjerit. "Aku sahabatmu…" Dia membuka kulkas, menyabet es krim coklat. "Dan kau akan pacaran dengan cewek lain!" Dia menyabet es krim vanilla. "Dua orang sekaligus! Bagaimana kau bisa mengatur waktumu dengan kami berdua?! Kau ini serakah!"

Minato menepuk dahinya. "Kushina…" Dia tidak tahu dia harus sesabar apa terhadap gadis di depannya ini. "Sahabat dan pacarku itu… ini…" Dia menyondongkan es krim dua rasa yang dipegangnya. "Mereka itu adalah orang yang sama."

"Hah?! Jadi selama ini kau punya sahabat lain?! Kau tidak cerita padaku?!"

Minato kembali menepuk jidatnya. "Bukan! Cewek itu kau, Kushina Uzumaki!"

Sesaat, suasana di antara mereka berdua hening. Tidak ada suara apa pun kecuali napas mereka yang berderu.

"Aku?!" Akhirnya Kushina menjerit. Wajahnya merah padam. "Ja-jadi cewek yang kau sukai itu…" Mulutnya megap-megap. "Aku, dattebane?!"

"Iya." Minato menghela napas lega. Oh terima kasih kami-sama, akhirnya Kushina mengerti…

"Kenapa kau tidak bilang dari dulu?!"

Minato lagi-lagi menepuk jidatnya. Dia nyaris saja berdebat lagi, namun, suara batuk yang terdengar tiba-tiba membuat Kushina dan Minato memutar kepala mereka.

"Ehem." Si penjual es krim berdeham. "Maaf mengganggu, tapi es krim di tangan kalian semua sudah meleleh. Aku tidak tahu apakah kalian benar-benar cuma punya 500 yen, tapi total semuanya 1300 yen. Mohon dibayar sekarang."

Minato dan Kushina hanya bisa melongo.


Bersambung...

AN: bagaimana dengan nasib Minato dan Kushina? Saksikan di episode berikutnya

#plak!

sesuai tebakan para pembaca, yang menulis chap minggu lalu adalah Meiko Hoshiyori :D

Hint buat author yang menulis chap kali ini: Jumlah fic di akun dia ada 31 :)

semakin banyak yang bener tebak semakin cepat update nya :D

sampai jumpa di chap berikutnya :)