Disclaimer: Masashi Kishimoto


Message

xxx

Setiap kali ada orang yang bilang padanya kalau takdir itu kejam, Minato akan tersenyum, menggelengkan kepala dan berkata 'tidak, semua takdir itu punya arti sendiri. Sabar saja dan semuanya akan baik-baik saja.'

Dan kali ini, Minato merasa ingin menampar dirinya setiap kali dia teringat akan ucapannya sendiri.

Takdir itu memang kejam.

"Jadi, kau akhirnya mengaku pada Uzumaki kalau kau menyukainya?" Pertanyaan Fugaku membuat Minato menghela napas. "Lalu?"

"Mengaku itu bukan apa-apa, Fugaku." Minato memilin botol minum di depannya. "Meyakinkan Kushina kalau aku menyukainya itu lebih susah daripada mengaku."

"Kepalanya memang lelet. Bukankah kau sudah tahu itu sejak dulu?"

"Hei. Begitu-begitu Kushina lumayan cerdas." Minato membela sahabatnya. Pemuda berambut pirang itu memejamkan mata, menghela napas. "Takdir itu…"

Fugaku memutar bola matanya ketika melihat Minato yang menjadi 'emo' itu. Minato yang sekarang benar-benar out of character. Tapi mau bagaimana? Hanya si gadis barbar berambut merah itu yang bisa membuat Minato menjadi seperti ini. Fugaku mendengus. "Aku tidak akan menyalahkanmu karena kau menjadi seperti ini."

Minato menoleh, menatap Fugaku dengan tatapan syukur. Biasanya sahabatnya itu akan mendengus dan pergi darinya. Namun kali ini Fugaku mau mengerti. Kali ini dia memang merasa kalau takdir itu kejam. Baru saja dia mengaku cinta pada Kushina dan akhirnya Kushina sadar akan perasaannya. Tapi…

"Sialan…" Minato bergumam, menatap sawah di depannya.

"Aku tahu." Fugaku mencengkeram handuk mini di sekeliling bahunya.

Jiraiya, pelatih renang sekaligus pembimbing OSIS menyeret semua anggota OSIS dan calon anggota OSIS untuk kerja bakti di desa terpencil. Minato tidak keberatan kerja bakti. Tapi, aktivitas ini sangat dadakan, dia sama sekali belum bilang pada Kushina dan teman-teman yang lain akan hal ini. Selain itu, tempat dia bekerja sekarang tidak mempunyai sinyal. Sudah tiga hari sejak kepergiannya dan dia sama sekali belum menghubungi Kushina.

"Hei! Dua anak kota di sana!" Jeritan kakek pemilik sawah membuat Minato melompat. "Mau malas-malasan?! Dasar anak kota!"

"Maaf! Danzo-san!" Minato cepat-cepat beranjak, menyeret Fugaku. Tanpa buang waktu lagi Minato langsung meraih keranjang benih padi.

"Anak kota!" Danzo mendengus, mengayunkan tongkatnya, membuat murid-murid lain menjauh tiga langkah dari kakek tersebut.

"Kakek brengsek." Fugaku melotot, namun Minato cepat-cepat mengatupkan mulut Fugaku, membuat lumpur menempel di mulut sang Uchiha. Fugaku melotot, membuka mulut untuk protes. Namun Minato dengan kecepatan kilat menyabet handuk di bahunya dan menyumpal handuk itu di mulut Fugaku.

"Hei, telinga dia jauh lebih tajam dari telinga kita, tahu." Minato mendesis cepat. "Sudah. Ayo, bekerja lagi."

Fugaku masih mengerutkan kening, menanam benih padi tanpa banyak bicara. Pemuda berambut raven itu mengernyitkan dahi ketika merasakan sengatan tajam di punggungnya. Kalau begini caranya dia bisa encok sebelum umurnya menyentuh 20 tahun. "Sialan." Dia bergumam lagi.

xxx

Kushina dan Mikoto mengunyah makanan mereka di dalam kesunyian, menyenderkan punggung di tembok sambil menatap ke arah langit. "Kushina… maaf ya… tidak menemanimu…"

"Tidak apa-apa, Mikoto." Kushina meringis, memotong sahabatnya. Dia tahu kalau Mikoto ada rencana pada hari peringatan kematian ibunya, makan malam besar keluarga Uchiha. Sejujurnya, dia merasa iba pada Mikoto. Makan malam di rumah besar Uchiha berarti mengenakan kimono formal dan berlutut selama dua jam di atas tatami, mengunyah makanan tanpa suara. "Aku tidak tahu bagaimana caranya kakimu masih hidup." Kushina menatap Mikoto dengan tatapan prihatin.

"Sudah terbiasa." Mikoto tersenyum. "Lalu? Bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kau kemarin jadi muram?"

Kushina langsung mengatupkan bibirnya. Wajahnya merah padam.

Mikoto menaikkan sebelah alis. "Apakah ini tentang… Minato?"

Wajah Kushina menjadi semerah rambutnya.

Mikoto melongo, menjerit kencang, membuat semua murid di atas atap sekolah itu tersedak makanan mereka. "Dia akhirnya mengakui cintanya?!"

"Kau tahu darimana dia suka padaku?!" Kushina melongo, ketakutan melihat Mikoto yang melotot ke arahnya dengan wajah bersemangat seperti itu.

"Kelihatan, tahu! Kau tidak sadar?!"

Kushina dengan polos menggelengkan kepala, membuat Mikoto mengerang. "Astaga… apa yang bisa diharapkan darimu, Kushina… Tapi tentu kau sudah membalas pernyataannya kan?" Mikoto tersenyum lebar.

"Be… belum…" Kushina langsung mundur tiga langkah, jaga-jaga kalau Mikoto mengamuk dan melemparnya dari atap.

"Apa?! Masih belum mengaku?! Sekarang Minato ada di desa terpencil kan?!" Mikoto kembali melotot, membuat Kushina mundur tiga langkah lagi.

"Aku tahu! Tapi… mau bagaimana lagi?! Semuanya menjadi sangat mendadak dan…" Kushina terbungkam ketika bahunya dicengkeram Mikoto.

"Kushina. Tatap mataku." Mikoto mendelik. Kushina cepat-cepat mengangguk, wajahnya sepucat mayat. Kemana gadis anggun yang baik hati dan murah senyum itu? "Apakah kau suka dengan Minato?"

"Tentu saja." Kushina menjawab tanpa berpikir lagi. "Aku…" Dia terdiam, wajahnya memanas. "Aku tidak mau kalau Minato bersama gadis lain…"

Mikoto terdiam, mengamati sahabatnya. "Oke deh." Dia tersenyum, melepaskan cengkeramannya. "Bagus kalau begitu." Mikoto tertawa kecil, meraih bentonya dan kembali mengunyah dengan wajah anggun.

Kushina hanya bisa melongo.

xxx

Nyamuk.

Nyamuk di mana-mana.

Fugaku menggeram, menampar pipinya dan menjadi semakin frustrasi ketika nyamuk-nyamuk itu mengelak dengan tamparannya.

"Percuma, Fugaku." Minato menguap, mengayunkan lengannya, mengusir nyamuk yang berkeliaran di atas rambutnya. "Pemilik rumah ini Danzo. Semua nyamuk itu sudah terlatih. Mereka tidak akan tewas dengan mudah."

"Aku tidak bisa tidur." Fugaku menggeram.

"Aku juga."

"Tinju aku, Minato."

"Hah?"

"Aku ingin tidur."

Tanpa disuruh dua kali, Minato langsung menganyunkan tinju, membuat raven di sampingnya ini tergeletak pingsan. Sepertinya seharian di dalam sawah milik Danzo itu membuat kepribadian Minato berubah. Minato beranjak, merenggangkan tubuhnya. Dia tidak bisa tidur. Mungkin sebaiknya dia berjalan-jalan dulu di luar sampai dia kecapekan. Pemuda berambut pirang itu keluar dari kamar, meraih ponselnya. Dia duduk di luar pondok, menghela napas ketika melihat layar ponselnya. Sama sekali tidak ada sinyal.

"Apa kerja Kushina ya, sekarang…" Minato bergumam pelan. Sebenarnya lokasi desa itu dengan sekolah tidak jauh. Tapi cukup terpencil sehingga tidak mendapat sinyal.

"Anak muda. Sedang apa kau di sini?"

Minato melompat, menatap Danzo yang melotot di sebelahnya. "Susah tidur?" Kakek itu bertanya, duduk di sebelah pemuda berambut pirang tersebut. Minato mengangguk, awalnya, dia mau langsung mencari alasan dan pergi dari sisi Danzo. Namun, dia sadar akan sesuatu. Danzo tidak menganggilnya 'anak kota', melainkan 'anak muda'. "Apa yang kau cemaskan?"

"Tidak…" Minato tersenyum lemah, menatap ke arah bulan yang bersinar dengan terang.

Danzo tidak menjawab. Sesaat, mereka berdua tidak bersuara, menatap bintang dan bulan di hadapan mereka. Namun, suara pekikan yang melengking membuat Minato mengerutkan kening. Dia memicingkan mata, menatap langit. "Elang?" Minato menaikkan sebelah alis. Danzo beranjak, mengangkat lengannya. Minato langsung melongo ketika melihat elang berukuran raksasa mendarat di lengan Danzo. Danzo menghiraukan tatapan Minato. Dia membuka ikatan dari kaki sang elang. "Surat?" Minato melongo semakin menjadi-jadi.

"Dari kepala sekolah Konoha, Sarutobi." Danzo menjawab singkat. "Kami sering menulis surat."

Danzo dan Sarutobi sahabat pena? Wow.

"Nama elang ini Taka." Danzo menatap Minato sesaat. "Hanya dalam lima jam, dia bisa mengantar surat ke sekolah kalian."

Minato mengangguk-angguk, hanya bisa termangu.

"Anak muda. Adakah seseorang di sekolah itu yang ingin kau beri pesan?"

Minato terpaku, sesaat wajah Kushina muncul di benaknya. "Ada."

Danzo meringis, mengusap bulu Taka. "Dia akan terbang lagi setelah matahari terbit. Siapkan suratmu."

Minato tersenyum lebar, menganggukkan kepala. "Kalau begitu… permisi dulu."

"Tunggu."

Minato menaikkan sebelah alis.

"Di pojok pondok ada seember tumpukan tikus mati di pojok pondok. Ambil tiga ekor, untuk Taka."

Wajah Minato langsung memucat.

xxx

Kushina tidak tahu kenapa dia bisa dipanggil di kantor kepala sekolah. Dia tidak berbuat onar lagi. Nilainya juga tidak jelek berkat bantuan Minato. Kushina mengetuk pintu dengan rasa penasaran dan bingung. Ketika dia diijinkan masuk, Sarutobi menyambutnya dengan cengiran lebar, membuat Kushina menjadi semakin bingung. Namun, mata Kushina langsung terpaku pada elang terbesar yang pernah dilihatnya. Elang itu bersandar di ujung kantor, minum air yang disediakan di sana.

"Waah! Elang!" Kushina menyeringai, menghampiri elang itu.

"Kushina Uzumaki. Aku yakin kau akan lebih menyukai ini." Sarutobi tersenyum misterius, menyodorkan segulung kertas. Kushina hanya bisa menaikkan sebelah alis, mengambil kertas dari tangan Sarutobi. "Baca di luar dan tulis balasannya dalam waktu dua jam ya?" Senyuman Sarutobi melebar, membuat Kushina menjadi semakin bingung. Namun, dia keluar dan membuka kertas itu. Matanya terbelalak ketika dia melihat tulisan rapi seseorang yang sangat dikenalnya. Wajahnya merah padam ketika dia membaca tiga kata simpel di surat itu.

I miss you.

xxx

Minato mengusap peluhnya, meringis ke arah Fugaku yang masih mengayunkan cangkul dengan wajah memar sebelah. Dia yakin kalau Mikoto akan membayar berapa pun untuk melihat Fugaku yang sekarang. Dia terdiam sesaat, menatap matahari yang mulai terbenam. Dia teringat akan pesan yang ditulisnya untuk Kushina. Apakah dia melewati batas? Bagaimana kalau Kushina sebenarnya hanya menganggapnya sebagai sahabat?

Minato menggelengkan kepala, kembali mencangkul tanah.

Meski pun Kushina hanya menganggapnya sebagai sahabat, dia akan terus berada di sisi gadis itu. Mau bagaimana lagi? Dia sangat menyukai Kushina.

"Anak muda." Suara Danzo yang tajam membuat Minato mengangkat kepalanya. "Kemari." Dia langsung berjalan pergi, membuat Minato meletakkan cangkul dan berlari mengejar sang kakek. Mereka berjalan ke sebuah pohon, di mana Taka bersender di dahan terdekat. "Dia baru kembali. Ada pesan untukmu." Danzo membuka kaitan dari kaki Taka.

Minato menerima gulungan kertas itu, menaikkan sebelah alis ketika dia melihat kertas yang kosong itu. Tidak ada tulisan apa pun di sana. Dadanya terasa berat untuk sesaat.

"Terkadang, apa yang kau cari tidak ada di sana. Kau hanya perlu mencari lebih dalam lagi dan kau akan menemukan jawabannya." Danzo berjalan pergi, membuat Minato mengerutkan kening, bingung. Pemuda berambut pirang itu mengangkat kertas mungil itu ke arah matahari. Matanya terbelalak ketika dia melihat goresan-goresan di kertas itu. Minato berlari ke pondok, menyabet tasnya dan mengeluarkan pensil. Dia mewarnai kertas itu, membuat goresan di sana mulai terlihat jelas.

Jantung Minato terasa nyaris berhenti berdetak ketika dia melihat pesan kertas itu.

I miss you too.

Minato tidak bisa berkata-kata, hanya menatap kertas di depannya dengan tatapan tidak percaya. Dia menyeringai lebar, mengepalkan tangan. "Fugaku! Kemari kau!" Dia berteriak, berlari ke arah sahabatnya sambil menjerit-jerit.

Ternyata takdir tidak sekejam bayangannya.


Bersambung...

AN (Barbara123): Hai semuaa! Makasih sudah baca fic ini :)

Sesuai tebakan semua readers, aku yang nulis chap kemarin. Dan aku juga yang nulis chap ini. Semoga reader semua suka... haha

Ada berita nih... Aku dan Meiko sebentar lagi ujian, sampai pertengahan Maret. Meiko mau UN SMA :)

jadi agak sibuk. haha. Kami akan tetap update fic ini, tapi mungkin gak akan sesering sekarang. Haha, yang pasti gak bakal hiatus :)

Segitu dulu yaa

semoga chap ini membawa senyum di bibir para pembaca :)