Disclaimer: Masashi Kishimoto

xxx

Plate

Pagi yang biasa bagi Kushina Uzumaki. Ah, atau yang ada di pikiran gadis berambut merah itu. Bangun tidur, lalu mandi, bersiap ke sekolah, sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Sangat biasa, bukan?

Tapi, pagi itu menjadi tak biasa saat Kushina sedang melahap sarapannya, nasi dan sup miso, dan ia mendengar bel rumahnya dibunyikan.

TING! TONG!

"Ng? Siapa yang datang pagi-pagi begini, ttebane?"

Sambil mengunyah nasi yang terlanjur masuk ke dalam mulutnya, Kushina berjalan ke arah pintu, hendak membuka pintu rumahnya. Kushina sendiri penasaran, siapa sih yang bertandang ke rumahnya sepagi ini? Di rumah ini hanya ada Kushina sendiri, ayahnya sedang dinas ke luar kota.

"Sia-"

Kushina terkejut melihat siapa yang ada di depan pagar rumahnya. Mata violetnya melotot. Di depan pagar rumahnya, ada Minato Namikaze yang kini tengah tersenyum padanya. Ia sudah berpenampilan rapi dengan seragam sekolahnya. Oh Tuhan, ini bukan pemandangan yang biasa dilihat oleh Kushina di pagi hari!

"Minato? Ke-Kenapa kau ke sini, ttebane?" seru Kushina.

Minato menggaruk kepalanya, dengan senyum yang masih terlukis di wajah tampannya. "Aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Aku sudah mengirim pesan semalam, apa kau tidak membacanya?"

Ah. Ia belum memegang ponselnya tadi pagi dan semalam ia ketiduran, lelah sehabis bermain seharian di taman bermain bersama dengan Minato.

"Tidak." Kushina nyengir lima jari. "Tapi kenapa kau berangkat sepagi ini, ttebane?"

"Biasanya aku memang berangkat pagi," jawab Minato.

"Ah! Masuklah dulu, ttebane! Aku belum selesai sarapan." Kushina membuka pintu pagarnya dan mempersilakan Minato masuk. Setelah melepas sepatunya, Minato mengikuti Kushina masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sederhana, namun rapi dan nyaman untuk ditinggali.

"Ayahku sedang pergi dinas di luar kota," kata Kushina memberitahu Minato. "Jadi hanya ada aku di rumah."

"Kau sendirian?" tanya Minato.

"Iya. Eh, kau mau minum apa, Minato?"

Minato tersenyum pada Kushina, lalu menggeleng. "Tidak perlu. Aku akan menunggumu. Lanjutkan saja sarapanmu."

"Ehmm... Kalau begitu, duduklah dulu di situ." Kushina menunjuk ke arah sofa single yang ada di ruang tamu.

"Ah, ya." Minato pun duduk di sofa itu.

Kushina tak berkata apa-apa lagi, ia langsung pergi ke dapur untuk melanjutkan sarapannya. Ia tak menyangka Minato akan menjemputnya untuk pergi bersekolah seperti ini. Kushina malu bila mengingat kejadian kemarin. Kemarin, mereka resmi menyandang status sebagai sepasang kekasih.

Berpacaran dengan Minato.

Ah, Kushina benar-benar masih tak percaya ini terjadi. Tadinya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Minato Namikaze akan menjadi pacarnya. Ia tidak termasuk dalam kumpulan siswi yang mengidolakan cowok tampan berambut pirang ia mempertanyakan alasan mengapa ia bisa sepopuler itu. Dan sekarang? Ia sendiri menaruh hati pada Minato.

Bahkan menyatakan perasaannya di atas roller coaster.

Mungkin bila ia menikah dengan Minato dan memiliki anak, anaknya akan menertawakannya bila tahu bagaimana cara Kushina mengungkapkan perasaannya.

Kushina pun menyuapkan nasi terakhirnya, lalu mulai membereskan alat makan yang ia gunakan untuk sarapan. Dengan kedua tangannya, Kushina membawanya ke tempat cuci piring untuk mencucinya.

"Ah aku harus cepat, Minato sudah menungguku," gumam Kushina sambil buru-buru menuju ke tempat cuci piring

Namun…

Duak!

"Akh!"

KROMPYAAAAANG!

Malang nasib Kushina, ia tersandung kaki kursi dan terjauh ke lantai dengan kerasnya. Terlalu terburu-buru karena ada Minato, eh?

"Aduh, ttebane. Kenapa piringnya pecah seperti ini? Auch!"

Yap, piring yang dibawa Kushina pecah berkeping-keping. Dan tanpa Kushina sadari, salah satu pecahan piring itu melukai dirinya sendiri dan menyebabkan jari Kushina berdarah.

"Kushina!"

Kushina menoleh ke arah asal suara, tak lain tak bukan adalah Minato Namikaze. Minato tampak cemas. Mata birunya membelalak lebar melihat keadaan Kushina. Pecahan piring berceceran di sekitar Kushina yang masih duduk di lantai sambil memegangi jarinya yang berdarah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Minato sambil mendekati Kushina. Ia pun berlutut di samping Kushina.

"Ah, tidak apa-apa, ttebane! Biar aku membereskan piringnya dulu," kata Kushina.

Kushina pun beranjak, hendak berdiri untuk mengambil lap, tapi tangan Minato mencegahnya. Minato mencekal tangannya, mencegah Kushina untuk berdiri. Kushina memandang Minato dengan tanda tanya yang besar.

"Jarimu berdarah," kata Minato.

"Hanya luka kecil," sahut Kushina sambil meringis. "Bukan sesuatu yang harus di-"

Kushina terlonjak kaget saat merasakan kehangatan di sekitar jarinya yang berdarah. Mata violetnya membelalak lebar saat melihat Minato mencium –atau menghisap?– jarinya yang terluka. Rona merah pun menjalari paras ayunya, seiring dengan detakan jantung Kushina berpacu semakin gila.

Bibir Minato! Halo, yang menempel di jarinya adalah bibir Minato! Kushina harus mengakui bahwa bibir Minato terasa hangat dan lembut. Arrrgghhh! Kushina tidak bisa membayangkan bila suatu saat nanti yang dicium oleh bibir Minato itu adalah bibirnya.

"Setidaknya ini akan membantu. Kau duduk saja, Kushina. Di mana kotak P3Knya?" tanya Minato sambil tersenyum. Ia membantu Kushina berdiri dan mendudukkan gadis itu di atas kursi.

"D-Di lemari sebelah televisi," jawab Kushina.

"Tunggu sebentar ya." Minato pun bergegas ke arah ruang tamu. Rona merah samar tampak di pipinya. Oh, tentu saja Minato merasa malu dengan kejadian tadi. Mencium jari Kushina. Ah, ini pertama kali baginya untuk melakukan hal seperti itu terhadap seorang perempuan, walaupun untuk membantu proses penyembuhan luka, sih.

Minato membuka lemari di sebelah televisi dan mengambil kotak P3K dari situ. Ia pun kembali ke dapur dan menghampiri Kushina. Minato menarik kursi yang ada, meletakkan kotak P3K di atas meja, lalu duduk di depan Kushina.

Minato pun mengambil betadine, kapas dan juga plester dari kotak itu, lalu mengolesi kapas dengan betadine. Dengan lembut, Minato pun menarik tangan Kushina dan memegang jarinya yang terluka. Ia pun mulai menorehkan betadine yang ada di kapas itu di luka Kushina dengan perlahan dan hati-hati. Ia pun meniup-niup jari Kushina dan memplester lukanya.

"Selesai," kata Minato sambil tersenyum.

"Terima kasih, Minato."

Oh, ini pertama kalinya lukanya diobati seperti itu oleh seorang lelaki. Wajahnya merona merah, malu dan senang saat Minato merawat lukanya dengan lembut.

"Sama-sama. Ayo, kubantu membereskan. Di mana lapnya?" tanya Minato, masih memasang senyumnya yang menawan.

"Minato, biar aku saja yang membereskannya, aku malah jadi merepotkanmu." Kushina tak menjawab pertanyaan Minato. Ia yang sudah menjatuhkan dan memecahkan piringnya, jadi ia yang harus membereskan semuanya.

"Tidak apa-apa. Di mana lapnya?"

Kushina menghela napas. Minato bisa jadi orang yang keras kepala juga rupanya. "Di dekat kompor," jawab Kushina.

Minato pun mengambil lapnya, dan membasahi lap itu dengan air keran, lalu mulai membereskan pecahan-pecahan piring yang ada di lantai dengan telaten.

"Ah, Minato, kemarikan lapnya, biar aku saja," kata Kushina sambil berjongkok di samping Minato.

"Sebentar lagi selesai, kok," tolak Minato sambil membereskan pecahan piring yang tinggal sedikit itu.

Kushina mendengus. Apanya yang membantu? Malah Minato yang membereskan pecahan-pecahan piring itu. Dan Kushina tidak ikut sama sekali.

Minato yang sudah selesai pun membuang pecahan piring itu ke keranjang sampah yang ada di dapur. Ia pun melihat ke arah arloji yang melingkar dengan manis di pergelangan tangan kirinya.

"Er… Minato…" Kushina melirik jam dinding yang ada di tembok.

"Kita..."

"Terlambat."


A/N: Maaf telat update lagi TT Ini Meiko Hoshiyori. Karena ada beberapa acara, dan gak dapet-dapet ide juga jadinya telat banget updatenya. Untuk ke depannya, saya usahakan kalau jatah saya yang update, saya akan update secepatnya.

Hope u enjoy the fic! ^^

Habanero Yellow Flash