Chapter5
Last memories
Written by hye jin park 2013©
Disclaimers : the stories and characthers are originally from my mind but the casts in the fanfiction belong to God, their family, and themselves.
Warning : Gs|OOC|KyuMin|Typo|family_tragedy-hurt|Gaje|Bad dict| Don't like don't read|
Don't bash if you dont like this fanfiction, but you can leave a review or comment
Cast's: all coup
Genre : romance tragedy
Leght : chaptered
Rate : T
Summary :
Sungmin yang mendadak menjadi seseorang yang menderita keterbelangkangan mental karena "Kejadian" di hari pertunangannya dan harus kembali bersikap seperti anak balita. Entah apa yang dialaminya saat itu sehingga mambuatnya lupa akan semuanya dan menjadi orang yang baru, "neomu apa!"
Happy Reading
_musim gugur dua tahun lalu_
.
~lost memories~
.
.
Flash back
.
Lee Sungmin bukan, bukan Lee lagi tapi Kim Sungmin. Gadis itu sebentar lagi akan resmi menjadi nyonya Kim. Dua hari lagi pertunangannya dengan Yesung akan dilangsungkan dan hanya tinggal menunggu tiga bulan lagi sampai status Nyonya Kim resmi dimilikinya.
Sungmin gadis aegyo itu tanpa henti bergulung guling di kasur kamarnya setelah menutup sambungan line teleponnya dengan Yesung. Kuku kuku cantiknya tanpa henti menelusuri setiap detail bed cover ranjangnya.
Sembari berbaring ia menerawang ke langit langit kamarnya, bagaimana kehidupannya nanti tiga bulan ke depan. Ia tentu sudah menyusun banyak rencana untuk itu semua. Menyenangkan fikirnya, bangun dipagi hari dengan yesung oppa disampingmu,menyiapkan sarapan, membuatkannya kopi,mengurus keperluannya, membuatkannya bekal,merawat kura kuranya(?), menyiapakan keperluan mandinya, menyetrika bajunya, mendapatkan pelukan hangat darinya setiap hari, dan menjadi seorang nyonya Kim yang sempurna untuknya.
'blush'
Wajah Sungmin merona seketika, ada rasa bergejolak dalam perutnya ketika ia memikirkan sebutan nyonya kim, jelas sekali rona bahagia jelas tercetak tebal di wajahnya kini.
"ottokhae?"
"oppa, kka !pergilah dari otakku sebentar ne hanya sebentar-_-"
"ottokhae tidak mau pergi!"
Sungmin terus bermonolog ria sambil menggelengkan kepalanya, sebuah boneka kelinci pink sudah tak berbentuk karena ia remas untuk melampiaskan perasaan anehnya kini. Mungkin ia hanya merasa gugup dan kelewat bahagia saja...
.
.
.
"bagaimana kau sudah menemukannya?"
"..."
"ne, gomapta atas kerja kerasmu! Bersiap untuk langkah selanjutnya!"
"..."
"ne!"
'flip.'
Donghae, pria itu sejak tadi berdiri memperhatikan percakapan ayahnya dengan seseorang. Kangin agak terkejut ketika melihat puteranya itu sudah berdiri dibelakangnya dan memasang raut bingung.
Sebisa mungkin kangin bersikap santai untuk segala pertanyaan yang akan diterimanya dari sang putera.
"dia Tuan Bong teman lama appa Hae-ah, dia yang membantu appa meluruskan masalah pembebasahan lahan di jeju untuk proyek bulan depan"
"oh, aku kira langkah apa! Kenapa berbicaranya disini appa masuklah ini sudah malam angin malam tak bagus untuk kesehatanmu appa dan juga omma dan Sungmin menunggu kita di bawah"
"tck, lihatlah dirimu sekarang Lee Donghae berani menceramahi appa eoh! Kka omma dan uri Sungmin pasti sudah menunggu lama"
.
.
.
Yesung kini tengah berbaring menatap lurus pemandangan langit di depan balkon kamarnya. Manik matanya tanpa henti mengagumi setiap kerlip jutaan cahaya yang menggantung indah diatas kanvas hitam itu.
"ini sudah malam kenapa masih diluar?"
Seorang wanita berparas cantik dengan mengenakan gaun tidur selutut mengganggu ketenangannya sesaat. Wanita itu perlahan mendekat dan duduk disamping Yesung yang tengah berbaring.
"anni Ryeowook –ah sebentar lagi aku masih ingin disini aku masih ingin melihatnya tolong temani aku ehm!"
"ne!"
.
.
.
Ryeowook gadis berparas innocent itu dengan lembut meletakkan kepala besar Yesung di pangkuannya. Seraya mengusap dan memberi perhatian lebih padanya. Bibir plumnya dengan merdu mendendangkan lagu pengantar ridur untuk pria di pangkuannya itu.
Hingga mata sipit itu benar benar tertutup. Ada senyum puas ketika melihat melihat wajah damai yang sedang terlelap di pangkuannya sekarang. Namun tersbesit juga rasa takut mengingat pertunangan pria itu beberapa minggu lagi.
Ryeowook ia sangat mencintai Yesung melebehi apapun. Tanpa Yesung ia mungkin tidak bisa bernafas lagi. Jika saja bukan karenanya pasti rencana ini tidak akan terjadi.
Ini sudah tiga tahun, Ryeowook menjalani hidupnya tanpa orang tua , teman, dan dunia luar tapi tidak tanpa Yesung. Pria itulah yang menemukannya dan merawatnya hingga kini. Dia juga yang mengerti akan perasaanya dan berjanji akan mengembalikannya ke keadaan sebenarnya.
Ryeowook masih betah bersenandung dengan tangannya tak berehenti membelai rambut Yesung. Ini sudah terlalu larut angin malam nan dingin sudah mulai menusuk kulit. Namun jutaan cahaya indah di atas sana mampu membuat dua sejoli ini betah berlama-lama diluar.
Manik karamel itu tanpa sadar berteriak dan membangunkan Yesung...
"polaris!" serunya setengah berteriak dan membuat Yesung berjengit kaget dari pangkuannya.
Dengan mata kunyu dan kepala yanga agak berputar Yesung kembali mengambil posisinya di paha Ryeowook dan mencoba tidur kembali.
"oppa!, kau tahu dulu saat aku masih kecil orang tuaku sering mengajakku kemah"
"hn, kau sudah menceritakannya padaku seratus dua puluhh lima kali Ryeong"
"tsk, oppa!" Ryeowook mempoutkan bibirnya imut dan mengguncangkan kakinya. Yesungpun sontak terpeleset dari pangkuan Ryeowook.
"arasseo arasseo! Kau mau kita kemah baiklah , bagaimana kalau seminggu sebelum pertunanganku dengan Sungmin aku sudah libur, otthe?"
Yesung bangkit dan mengelus pucuk rambut Ryeowook yang masih digelung asal, dan membuat poninya semakin berantak karena usapan Yesung itu.
"jadi uri Ryeong, berhentilah mengerucutkan bibirmu ini eoh, kau ingin kumakan rupanya..."
Dengan cepat dua bibir itu beradu dalam kecupan manis sebagai pengantar tidur untuk keduanya malam ini.
"jumuseyo oppa/Ryeong..."
.
Flashback end
.
.
Lost memeories
.
Detak jantung Kangin sudah mulai teratur sekarang, pasalnya keadaan Sungmin sudah kembali normal meskipun demamnya belum turun sepenuhnya namun pria bertubuh besar itu lega karena Sungminnya baik baik saja sekarang.
Hanya tinggal menunggunya sadar lalu ia dapat memeriksa lebih lanjut keadaan otak Sungmin. Kangin dengan sayang memegang erat kedua tangan itu, istri dan puterinya. Kangin memang sengaja menyatukan kamar mereka agar ia dapat dengan mudah memantau keadaan keduanya.
Dengan mata terpejam ia menikmati setiap hembusan nafas yang keluar dari kedua nya. Sedangkan Donghae, ah!, ia baru ingat dengan putranya itu... hingga pintu dorong itu terbuka dan menampakkan sosok Donghae dengan yang menegang.
"oh, Hae-ah kau dari mana saja?" ucap Kangin lembut.
"appa ada yang harus aku sampaikan bisa kita ketempat yang lebih tenang"
"apa yang terjadi kenapa tiba-tiba sikapmu aneh ada apa?"
"anio appa aku hanya ingin kita bicara bisakah kau meninggalkan omma dan Sungmin sebentar saja, eh Sung-Sungmin aniya!" setu Donghae saat melihat yang dirawat disana bukan ibunya saja. Mendadak ia melupakan permintaannya barusan karena cemas pada adiknya itu.
"uri Sungmin demam Hae-ah, dan mendadak ia mengiggau memanggil nama Yesung saat kami dalam perjalanan kemari"
"mwo! Yesung!"
"yah.. kecilkan suaramu kau mau membuat ommamu bangun eoh!"
"eoh,,mianhe kkkalau begitu aku keluar saja mau cari angin segar dan soal yang tadi itu tidak jadi appa kembalilah istirahat jumuseyo!"
Kangin yang melihat tingkah aneh Donghae menggelengkann kepalanya tanpa mencurigai apa apa. Fikiran dan tubuhnya sudah terlalu letih malam ini. Dan sesuai saran Donghae , Kangin merebahkan tubuhnya disofa yang disediakan dan tertidur.
.
.
.
Tiga hari setelahnya keadaan Sungmin sudah pulih meskipun selama sakit ia sudah banyak merepotkan dan membuta perawat harus mengeluarkan tenaga extra untuknya. Dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang setelah sebelumnya sang ibu yang lebih dulu diizinkan kembali ke rumah.
Namun mungkin gadis penyuka kelinci ini belum mau meninggalkan rumah sakit yang ia anggap sebagai tempat bemain yang menyenangkan setidaknya begitu isi fikirannya sekarang.
Aneh, tidak karena anggapannya itu terlahir dari seseorang yang menemaninya dua hari ini. Sungmin yang sudah lama tidak punya teman merasa sangat senang ketika orang yang ia sebut teman itu datang mengajaknya bermain.
Orang itu Cho Kyuhyun...
Pria yang tiba tiba datang bersama dokter Choi sesaat setelah ia sadar. Saat itu ia sangat ketakutan untuk diperiksa. Bahkann tak segan kukunya menancap sempuna di tangan mulus Seohyun ketika ia akan melepas infus Sungmin dan menggantinya dengan yang baru.
Dan saat itu entah dengan jurus apa hanya Kyuhyun yang dapat menenangkan Sungmin ketika gadis itu sedang diperiksa atau akan minum obat. Kyuhyun merasa senang dan datang setiap hari untuk bermainn dengan Sungminya...
Dan seperti saat ini, tahu jika Sungmin akan keluar ia bergegas datang ke rumah sakit untuk mengantarnya pulang.
Dengan langkah riang Kyuhyun menelusuri lorong –lorong yang menghubungkan kamar kamar di Rumah sakit itu.
Dipunggung kekarnya kini bertengger sebuah ransel biru yang berisi barang- barang kebanggaanya, psp, kaset-kaset gamenya, klarinet, dompet serta lainya, dan sebuah kado yang terungkus manis untuk Sungmin.
.
.
.
"oppa, apa sebaiknya kita kembali ke Jepang saja bukankah disana juga banyak Rumah sakit yang bagus eum!"
"ani, kita sudah terlalu pergi disini juga banyak yang bagus kan!, gwanchana aku akan selalu ada bersamamu, gwanchana !"
"apakah ini karena Sungmin, pertemuanmu dengan Lee Donghea waktu itu apakah ini karena mereka? Oppa jebal jangan membuat nafasku sesak lagi kau adalah oksigen bagiku jadi jangan lanjutkan lagi aku sudah puas opp.."
'cup'
"yah! Kenapa Ryeong-ku ini semakin cerewet eoh.. jangan memikirkan yang bukan bukan cha, akau lapar ayo suapi aku!"
"oppa! "
'cup',
"yak Kim Ryeowook jangan mencuri start begitu!"
"satu sama :p!, cha ayo buka mulutmu oppa, aaaa!"
.
.
.
Lost memories
.
Donghae tampak dengan sibuk mencari sesuatu di ruang kerja ayahnya. Pria penyuka ikan itu sejak tadi sangat berhati-hati memeriksa berkas demi berkas yang yang tersimpan rapih dilaci dan lemari kayu itu.
Tangannya terampil meneliti setiap tumpukan berkas yang berjejer rapih .matanya tak berhenti bergerak mengikuti gerakan tangannya menyusuri setiap informasi yang tertera disana.
"aigo!, kenapa tidak ada dimana kau melatakkanya appa!" seru Donghae frustasi ia sudah terlalu lama disini dan mungkin ayahnya akan pulang sebentar lagi ia takut jika ayahnya sampai tahu mka habislah dia.
Sesuatu yang yang sangat berharga, sesuatu yang menjadi kunci kecelakaan Sungmin dan Yesung dua tahun lalu, sesuatu yang disembunyikan rapat oleh ayahnya. Dia harus mendapatkanya , dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"aishhh! Hyung , appa kalian membuatku gila! atau mungkinkah... ah, tidak ada juga lalu dimana?"
'trak'
Donghae berjengut kaget ketika mendengar benda jatuh itu , ia sudah pucat dan lemas bersamaan jika ternyata itu hanya Sen kucingnya Sungmin.
"hah... kau dan tuanmu sama saja suka sekali membuatku jantungan!kka keluar nanti appa keburu pulang"
"meong!"
"haahhh..."
Dan hari ini berakhir dengan helaan nafas panjang dari Donghae.
.
.
.
.
Lost memories
.
.
.
Tbc
.
Oke yang berminat silahkan mereview^^
Terimakasih sudah membaca^^
Sign
hye jin park
.
