summary: Madara yang kalah melawan Konoha, kini dibiarkan hidup namun terkunci dalam tubuhnya yang berusia 12 tahun, dan Sakura—ia harus bersabar dalam menjaga dan merawat laki-laki itu.・madara/sakura/sasuke・[ AR ]

disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

warnings: AR/OOC/Typhos/Crack Pair/abstract maybe?


Mignionette

: Chapter 2 :


Sakura masih menahan nafas kala kedua iris berwarna hitam kelam menatapnya tajam.

Perasaan takut mulai menyelimutinya seiring ia berjalan satu langkah untuk masuk ke ruangan baru itu. Jantungnya berdebar kencang, sampai-sampai ia khawatir Madara akan mendengarnya dan menganggap dirinya hanya seorang kunoichi lemah. Jelas Sakura merasakannya, coba lihatlah siapa yang akan ditemuinya, yang ada di depannya—

Itu Madara, Madara Uchiha—astaga.

Musuh terbesar Konoha…!

Dan Sakura harus merawat lelaki itu, sampai sembuh.

Ia, Haruno Sakura—harus merawat dan menjaga lelaki yang hampir saja membunuhnya sewaktu perang.

'Tarik nafas, Sakura. Tarik nafas.' Sakura menutup matanya, berusaha bersikap setenang mungkin, 'Santai saja… bersikap santailah…'

Dan ia sampai—tepat di hadapannya.

"H-Halo."

Tatapan tajam itu tergantikan menjadi pandangan malas, "Hn."

"P-Perkenalkan n-namaku—" Sakura ingin sekali memukul dirinya sendiri, kenapa kalimatnya jadi gugup seperti Hinata sih?!, "—Namaku Sakura. Haruno Saku—"

"Aku sudah tahu." Madara membalasnya datar dengan suara anak-anaknya, terasa aneh di telinga Sakura.

"Oh… begitu…?"

"Tentu saja." Matanya beralih ke dinding di sebelah kanannya, "Aku tidak mungkin lupa dengan teman-teman si bocah kyuubi, kunoichi."

Sakura mengerutkan alisnya ketika mendengar panggilan Madara terhadapnya, "Kalau sudah tahu, kenapa memanggilku dengan sebutan itu?"

Ia bertanya, "Kau seorang kunoichi?"

"Ya."

"Kalau begitu, tidak ada salahnya aku memanggilmu dengan sebutan itu." Sahutnya mendengus.

'Oh yah, aku lupa kalau tiap keturunan Uchiha memang punya otak yang pintar…' Hatinya berkata demikian, '… dan sikap yang menyebalkan.'

Karena tak tahu harus membalasnya seperti apa, Sakura mulai duduk di kursi dekat ranjang lelaki itu. Ia tak langsung memulainya, tampaknya ingin mengobrol sebentar dengan mantan musuhnya ini. Meskipun seharusnya ia mempercepat misinya ini agar Sasuke dan Naruto tidak menunggunya terlalu lama, tapi rasanya tak sopan bagi Sakura apabila tidak berbincang-bincang sebentar—kecuali kalau dalam keadaan gawat darurat tentunya.

Lalu mereka saling bertatapan kembali.

Ia membuka mulut, "Hmm, ngomong-ngomong, kau mau kupanggil apa?" Sakura pura-pura memasang pose berpikir, "Madara-jii?"

Glare.

"Madara-san?"

GLARE.

"Madara… cchi?"

DEATH GLARE.

"Madara-kun kalau begitu." Usul Sakura yang sudah lelah mendapatkan pelototan dari pasiennya, ingin tertawa juga melihat Madara yang sepertinya ingin marah namun tak bisa lantaran tubuhnya masih lemah untuk saat ini.

Sakura yang masih di tatap tajam oleh Madara kini menghela nafas, "Ayolah… ramah sedikit padaku, Madara-kun. Meskipun usiamu sudah ribuan tahun, tubuhmu sekarang masih seorang bocah. Rasanya aneh kalau aku memanggilmu dengan panggilan yang lain."

"Kau tidak berhak, kunoichi."

"Kau tidak mau memanggilku dengan namaku, bersyukurlah aku masih memanggilmu dengan namamu." Desahnya sebal.

Karena Sakura tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya ia memulai sesi pengobatannya. Ia sedikit menggeser kursi yang di dudukinya untuk lebih mendekat ke arah tubuh Madara yang berbalutkan perban. Tangannya terangkat dan kini berada di atas lengan lelaki bertampang stoic tersebut.

Perlahan, dari tangannya mengeluarkan cahaya hijau dan Madara bisa merasakan chakra gadis itu di dalam lukanya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan perih—membuktikan bahwa ia masih belum terbiasa dengan tubuh barunya. Tubuh yang ia tinggali sekarang masih lemah, ditambah dengan sebagian kekuatannya yang disita oleh para Kage.

Dari balik poni hitamnya, Madara melihat cara kerja gadis itu. Chakra-nya terasa menenangkan tubuhnya setelah sedikit rasa sakit yang mendahuluinya. Sakura terlihat sangat professional dan teliti di usia muda sepertinya. Tak heran Tsunade—cucu termuda milik Hashirama itu memilihnya untuk mengobati lukanya.

Sesaat, Sakura merasa tak nyaman terus-terusan ditatap oleh lelaki itu.

"Ada apa?"

"….?"

"… Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Madara membalasnya tanpa ekspresi seperti biasa, "Aku hanya ingin memastikan kau bekerja dengan baik."

"Kau tidak percaya padaku?"

"Kenapa harus?"

"Uh…" Ia melanjutkan kegiatannya, "… terserahlah."

"Hn."

Ada jeda cukup lama sampai Sakura menyelesaikan pengobatannya. Sakura hanya mengobati di bagian yang sudah diinstruksikan oleh Tsunade untuk hari ini. Hanya di bagian lengan dan bahu saja, dan itupun sudah mengeluarkan chakra cukup banyak.

Madara hanya sedikit merasa baikan, tapi setidaknya ia sudah dapat duduk di tempat tidurnya. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang.

"Yosh! Sudah selesai!" Sakura memasang senyum, "Maaf kalau aku tidak bisa mengobati semuanya hari ini… aku hanya mengikuti perintah Tsunade-shishou."

"… Hn."

Kata yang terakhir diucapkan Madara membuat Sakura tenggelam dalam pikirannya sendiri selagi ia membuka beberapa lilitan perban di lengannya. Ia hanya keheranan, kenapa setiap keluarga Uchiha sangat suka berkata singkat dan kata 'Hn' sepertinya sudah menjadi kalimat wajib di kamus mereka. Sasuke juga begitu—meskipun sekarang ia lebih banyak bicara daripada biasanya. Naruto yang sering mengajaknya berdebat dan Sasuke tentunya harus melayaninya karena ia memang bukan tipe lelaki yang mau mengalah.

Dan sama dengan lelaki yang sedang duduk di ranjangnya ini. Sakura mencuri pandang ke arah wajah Madara—rambut lelaki itu memang panjangnya hanya dibawah bahu, ada warna hitam samar di bawah matanya, mungkin karena kurang tidur. Rupa wajahnya sangat mirip dengan Sasuke, hanya saja terlihat lebih menyebalkanbagi Sakura. Tapi kenyataannya, Sakura berani beranggapan bahwa wajah Madara yang sekarang terlihat… lucu.

Lucu, tidak menakutkan seperti saat perang besar itu berlangsung.

Dulu wajahnya terlihat mengintimidasi dengan tawa serta seringai sombongnya, dan sekarang malah tergantikan dengan sosok kawaii dan bisa lebih menjadi lagi apabila ada senyum disana.

"Tidak sopan menatap pasienmu terlalu lama."

Sakura tersentak dan mengerjapkan matanya, "Ah, maaf…" Saking lamanya Sakura jadi tidak sadar kalau sudah selesai melepas perbannya.

Madara tidak menjawab. Sejujurnya ia tidak ingin disentuh oleh gadis itu, rasanya ada sensasi yang aneh saat jemari halus itu berdekatan dengannya. Tapi ia tidak mungkin bilang—toh gadis itu ada disini untuk mengobatinya.

"Baiklah…" Suara Sakura memecah keheningan, "Aku mau ambil sarapanmu, jadi tunggu sebentar, oke?"

"Jangan terlalu lama, aku sudah lapar, bodoh."

"Oh…? Tak bisakah kau mengatakan lebih sopan pada orang yang sudah mengobatimu?" Nada Sakura terdengar gusar.

"Jaga bicaramu di depan orang yang lebih tua darimu."

"Kau terlihat seperti bocah yang keras kepala di depanku."

"Kau saja yang tidak sabaran." Dia mendecakkan lidahnya, "Gadis sepertimu pasti cepat tua."

Sakura mengepalkan tangannya, bocah ini…

"… terserah kau mau berkata apa." Sakura berkata menahan amarahnya dan berdiri dari bangkunya. Ia lalu merapikan sisa perban dan berjalan menuju pintu untuk keluar.

Pintunya tertutup dengan suara keras, seperti dibanting. Dan lelaki itu bisa mendengar dari balik pintu rentetan kata penuh nada kesal dari mulut Sakura di telinganya.

Sudut bibirnya terangkat ke atas, 'Mari kita lihat sampai mana dia bisa bersabar merawatku…'


.

.

.


"Oi dobe."

"Ada apa teme?"

"Kenapa Sakura lama sekali?"

Naruto yang sedang melatih jutsu-nya di tengah hutan itu mengangkat alis, heran dengan sikap sahabatnya itu, "Sakura-chan kan baru pergi dua puluh menit yang lalu."

"Itu terlalu lama."

"… Lalu kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Nah, Naruto jadi bertambah bingung karena balasan Sasuke. Memangnya kenapa kalau Sakura cukup lama di kantor Hokage? Mungkin saja kan ada hal penting ataupun Tsunade ingin mengajarinya beberapa teknik pengobatan lagi.

Pria bersurai kuning itu berkata lagi, "Kalau tidak ada apa-apa, tidak mungkin kau bertanya, teme."

"Sudah kubilang, tidak apa-apa."

"Kau terlihat kesal semenjak Sakura-chan pergi. Ada apa? Apa ada yang menganggumu?" Mata kebiruan Naruto melebar sesaat saat beberapa hal melintas di kepalanya, "Oh… OOH! AKU TAHU!"

Sasuke mengerutkan alisnya, "Tahu apa?"

"… Oh yah.. AKU MENGERTI SEKARANG! HAHAHAH!" Naruto kini menunjuk-nunjuk ke arah Sasuke, tepat di depan wajahnya, "AKU MENGERTI, HAHAHAH!"

Lelaki beriris hitam itu menyipitkan matanya, "Apa maksudmu sih?"

"Kau… ternyata… hahahah!" Naruto tertawa keras, "Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih! Jadi ternyata kau itu… pfft…"

"DOBE! Berhenti menertawakanku dan jelaskan apa maksudmu!" Sasuke mulai kehabisan kesabarannya dan menarik kerah baju Naruto.

Naruto berusaha menahan tawanya, "Kau… kau khawatir dengan Sakura-chan, ya kan?!"

Mata Sasuke melebar, "A-Apa maksudmu? Aku tidak mengkhawatirkannya!"

"Ya, kau mengkhawatirkannya! Kau menyukainya kan?!"

"Aku tidak menyu—"

"Bohong! Sudah dua kali aku melihatmu merona tahu!" Tawanya semakin keras saat melihat wajah Sasuke sedikit berubah warna, "Seorang Uchiha merona? ASTAGA, HAHAHAH!"

Sasuke melotot ke arah Naruto, "Kisama…"

"Ya ampun Sasuke-teme! Tidak usah malu-malu seperti itu!" Suaranya sedikit meningkat satu oktav, "Kau tahu aku ini sahabatmu yang selalu siap sedia menolongmu! Jadi mau pendekatan seperti apa hm? Apa kau mau—AAAH! BERHENTI MELEMPAR KUNAI KE ARAHKU, TEME!"


.

.

.


"Ini… makanan apa?"

"Ini sayuran dan beberapa lauk yang bernutrisi."

"… Warnanya aneh."

"Tapi ini makanan sehat."

"Aku tidak yakin."

Sakura menghela nafas saat mulai berdebat lagi dengan Madara. Baru saja ia tiba membawakan makanan sambil membuka pintu, pasang mata onyx-nya sudah menatap malas lagi ke arahnya.

Menyebalkan, begitu kata Sakura.

Nampan yang diatasnya terdapat satu mangkok berisi makanan dan gelas berukuran sedang serta sepasang sumpit itu masih berada di atas pahanya. Ia harus bisa membuat Madara memakan makanannya.

"Jangan banyak protes, ini untuk kesehatan tubuhmu juga." Tutur Sakura.

"Bagaimana kalau kau menaruh racun disitu?"

"… Kau masih belum mempercayaiku?"

"Tentu saja." Ia berkata, "Mana mungkin aku percaya dengan sampah yang tinggal di Konoha."

Gadis itu memandang Madara dengan sorotan kemarahan. Lelaki itu belum berubah rupanya—padahal sudah kalah dari perang yang memakan waktu cukup lama tersebut.

Tapi Sakura berusaha untuk tidak memperlihatkannya, "Tidak semua shinobi yang ada di Konoha itu sampah, tahu."

Si pemilik surai hitam tak menjawab.

"Baiklah... kalau kau tidak percaya…" Ia menarik nafas cukup lama. Tangannya tergerak untuk mengambil sumpit dan mencapit sayurannya. Sakura lalu mencicipinya, membawa makanan itu ke mulutnya.

Selesai ia mengunyah, Sakura berkata, "Lihat? Apa aku terlihat keracunan sekarang?"

Madara menganggukkan kepalanya—dan lantas gadis itu membantah,

"Aku tidak keracunan! Memangnya bagian mana yang meyakinkanmu bahwa aku keracunan?!"

"Itu…"

"Ya?"

"Dadamu bertambah kecil."

Sakura menjitak kepala lelaki itu, "Kau ini mau makan atau tidak?!"

Madara menggertakkan giginya, "Beraninya kau memukulku!"

"Ya, aku berhak! Sekarang makan makananmu atau kau kupukul lagi!"

"Kunoichi macam apa kau ini, hah?! Sudah mencicipi makanan tanpa izin, lalu memukul pasiennya?!"

"Mencicipi—? Kau duluan yang tidak mempercayaiku, makanya aku mengetesnya untukmu!" Sakura mulai naik darah.

Ia mengalihkan pandangan, "Aku tak mau makan bekas sumpitmu itu."

Gadis bersurai pink itu lalu merogoh sakunya dan menaruh dengan kasar sepasang sumpit baru di atas meja kecilnya, "Makan dengan itu."

Madara berkedip sebentar, buat apa gadis itu membawa dua sumpit? Tapi yang terpikirkan olehnya sekarang adalah ingin lebih membuat gadis itu kesal.

"Kau mencicipinya tadi. Porsinya jadi berkurang." Madara menjatuhkan sumpit itu ke lantai, "Bawakan aku yang baru."

"GRRR!"


.

.

.


Acara lempar-lemparan kunai antara Naruto dan Sasuke terhenti ketika sosok sensei mereka menyapanya dari belakang.

Dan Naruto yang pertama kali menyambutnya, "Kakashi-sensei!"

"Hai Naruto, Sasuke."

"Sensei… kau sepertinya menyelesaikan misimu dengan mudah, huh?" kata Sasuke.

"Hahah, lagipula misinya memang tidak sulit kok." Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu membuka topik, "Ngomong-ngomong, kudengar dari Sakura kalau akan merayakan pesta kedatangan Sasuke?"

"Aku masih belum menyetujuinya." Sasuke menggeram, "Si dobe ini yang memaksaku."

Naruto mendelik, "Bukankah itu kesempatan besarmu untuk mendekati Sakura-chan?"

"Sudah kubilang aku tidak—"

"Hmm? Begitu? Jadi muridku sekarang sudah besar ya, ah…" Kakashi tersenyum dibalik maskernya, "Apa kau mau kubantu juga, Sasuke?"

"Aku sudah bilang kalau aku tidak—"

"Kau tahu aku punya banyak buku tentang itu." Kakashi menyarankan, yang justru malah dibalas geram oleh Sasuke.

"… Hn. Terserah." Ia sudah malas untuk berdebat tentang hal ini lagi.

Naruto menyeringai, "Itu artinya kau setuju, teme!"


.

.

.


"Aku bisa makan sendiri."

"Tanganmu belum cukup kuat untuk itu."

"Kau tidak lihat tadi aku menjatuhkan sumpitnya?" Madara berkata gusar, tak mau menatap Sakura. Makanan yang baru dibawah gadis itu kini menjadi perhatiannya.

Gadis itu mencoba bersabar menghadapi 'bocah' ini, "Aku tak mau bolak-balik membawa makanannya lagi setelah kau menyuap dirimu sendiri dan makanan itu jatuh dengan sendirinya."

Nada Madara mulai terkesan marah, "Kau menganggapku lemah?!"

"Untuk keadaanmu yang sekarang ini, ya."

Ia mengepalkan tangannya, "Brengsek!" Giginya bergesekkan kuat, "Jaga ucapanmu, kunoichi!"

"Aku tidak—"

"Kau lupa siapa aku, hah?!" Madara berteriak, "Aku Madara… Madara Uchiha! Dan aku bisa membunuhmu hanya dengan kedua mataku!"

"Hai, hai…" Sakura memutar matanya, "Baiklah, sekarang coba serang aku, Madara-kun~"

"Kau… brengsek!" Wajahnya mempertunjukkan mimik kesal, "Saat aku mendapatkan lagi kekuatanku… kau tidak akan kuam—APPH!"

Teriakan yang cukup membuat bising itu berhenti saat Sakura dengan cepat memasukkan beberapa sayuran yang sudah dicapitnya dengan sumpitnya ke dalam mulut Madara, membuat lelaki itu tersumpal dengan makanan hijau tersebut.

Ia merasa marah—ingin memuntahkannya tapi Sakura malah semakin memasukkan makanan itu lebih ke dalam, "Makan makananmu sebelum kau mau membunuhku, sialan!"

"Mmph…" Madara terpaksa menelannya. Lelaki itu sempat terbatuk-batuk karena mengunyahnya asal, "Teme…"

"Makan dengan tenang, Uchiha! Kau tak pernah diajari sopan santun, hm?!"

"Tsk." Aura berbahaya mulai berkeliaran di sekitarnya, "Awas kau, kunoichi…"

"Iya, iya, maafkan aku Madara-kun…" Sakura mulai mencapit beberapa sayuran lagi, "Sekarang makan dengan tenang, oke? Madara-kun anak baik kan?"

Sebelum Madara mulai protes lagi, suapan kedua sudah membungkam mulutnya.

.

.

.

[ to be continued ]


: 頼む / ASK :


Apa nanti Madara bakal jatuh cinta sama Sakura & jadi rival Sasuke? (Hahah, iya… tapi liat aja nanti ya) Endingnya SasuSaku atau MadaSaku? (Tergantung vote para readers pas mau chapter akhir) Kok pendek ceritanya? (Gomen, chap depan pasti panjang kok) Ini ada humornya? (Pasti ada kok, heheh :D) Rated-nya K-T aja ya? (Wah nggak yakin sih untuk rating bahasanya… Tau kan Madara ngomongnya kaya gimana :o) Nanti Madara diajakin ke pesta Sasuke, ya? (Heheh, kalau Madara udah sembuh ya XD)


A/N


APALAH YANG SAYA TULIISSS INI GAJE SEKALEEEH /Stop

Susah banget bikin karakter Madara, beneran '_'b

Oh yah, Gomen kalo saya cuma bales pertanyaan readers, nggak sempet bales reviewsnya huhuh :'[.

Tapi saya seneng baca reviews para readers! Ternyata banyak juga yang kena virus MadaSaku di fandom ini, heheh. Untuk scene SasuSaku akan diperbanyak di chap depan, mohon ditunggu ya X3. Porsi kedua pairing ini harus sama soalnya /?

#Big thanks for :

[ Yue. aoi, Hanazono Yuri, gege, NururuFauziaa, Lala Yoichi, Jeremy Liaz Toner, aitara fuyuharu, EmeraldAl, Dark Shadow, Brownchoco, sa-chan, Kiki RyuEunTeuk, p.w sasusaku (kok ide kita sama ya, heheh), Sozvezdiye, Ah Rin, Yuzuru Tenshi, Masrur Daisuki ]

Makasih banyak yang udah review/fav/follow cerita ini! /ambil tisu/

Terakhir… boleh dikoreksi, un?

Salam hangat,

E-cchi aka Euphoria