"Rooftop Love"
Pair : KaiSoo, Other EXO and SM Member.
Rate : T nyerempet M(?)
Warn : Typo(s), Yaoi, BL, OOC, Mature Content, Cerita gaje, dll.
Happy Reading, Guys!
Chapter 2
.
.
.
Jongin dan Kyungsoo masih terjebak dalam keheningan. Padahal mereka sudah lumayan lama berjalan bersama. Hanya saja, kali ini Kyungsoo lebih memilih diam dan menikmati hembusan angin yang disertai gerimis kecil.
Jongin pun begitu, ia lebih memilih diam dan memegangi payung untuk mereka berdua. Kyungsoo menolak diantarkan dengan motor, sepertinya ia trauma jika teringat cara Jongin mengendarai motor. Setan saja kalah cepat dengan motor Jongin.
"Kau naik jalur bus apa?" Jongin membuka suara ketika mereka sampai di halte.
Kyungsoo mengangkat kepalanya, "Jalur menuju pusat kota."
Jongin hanya mengangguk dan tampak malas berbicara, ia hanya melihat jadwal kedatangan bus yang ada di halte itu. Tangannya terlihat lincah mencari jadwal kedatangan bus.
"Kyungsoo-ssi, bus jalur pusat kota yang melewati halte ini hanya tersisa sekali.."
Kyungsoo membulatkan matanya, "Jinjjayo?"
"Ne, menurut jadwal akan datang sekitar 30 menit lagi.." Jongin masih sibuk membaca jadwal
"Arraseo.." Kyungsoo menarik napas dan duduk, "Jongin-ssi, jika kau ingin pulang tidak apa-apa. Aku bisa menunggu bis disini."
"Aniyo" Jongin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jadwal bus itu.
"Aku hanya akan merepotkanmu" Kyungsoo merasa tidak enak hati.
Jongin mengalihkan pandangannya dan menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan, "Tunggu disini, jangan beranjak!"
Jongin berlalu dan menghilang entah kemana.
"Jongin-ssi! Kim Jongin!" bahkan teriakan Kyungsoo tidak ia hiraukan.
Kyungsoo menghembuskan napas berat. Mungkin dia sedang ke toilet, pikir Kyungsoo. Kyungsoo menyandarkan kepalanya. Ia teringat besok harus mengikuti kelas pagi untuk latihan pada mata kuliah Paduan Suara yang akan ditampilkan di hari penyambutan Mahasiswa baru bulan depan.
Kyungsoo memejamkan matanya sejenak, berharap hal itu dapat menghilangkan sedikit kelelahan pada dirinya. Entah bagaimana, Kyungsoo merasa ada sesuatu yang hangat mengaliri setiap tubuhnya. Ada sesuatu yang hangat ditelapak tangannya. Ada tangan hangat yang sedang menggenggamnya erat.
…tunggu, tangan hangat?
Kyungsoo membuka matanya dan mendapati dirinya berada pada dekapan Jongin, lengkap dengan jaket tebal menyelimutinya dan sebuah cup hangat yang ia genggam bersama tangan Jongin. Kyungsoo tersadar dan langsung membenarkan posisinya.
Hening.
"Apa aku menganggu tidurmu?" Jongin menatap Kyungsoo
"Eh, ani.." Kyungsoo mengalihkan pandangan. Masih canggung.
Tanpa banyak bicara, Jongin menyerahkan sebah cup yang sedang mengebulkan asap. Kyungsoo menatap cup itu dan Jongin secara bergantian.
"Tenanglah, aku tidak berniat meracunimu. Ini hanyalah sebuah Coklat panas." Jongin menyerahkan satu cup untuk Kyungsoo dan yang satunya ia seduh perlahan.
"Benarkah ini untukku?" Kyungsoo masih menatap Jongin.
"Jika kau tidak mau, cukup buang itu ke tong sampah.." Jongin menjawab cuek
"Aniyo! Ne, Gamshahamnida Jongin-ssi." Kyungsoo menggenggam cup itu, rasa hangat langsung menjalari tubuhnya.
Saat itu pula suasana menjadi hening. Mereka sibuk dalam pikiran masing-masing. Sibuk memandangi keadaan sekitar. Sibuk menikmati hembusan angin malam yang bertiup. Atau mungkin, sibuk dengan halusinasi masing-masing.
Cup coklat milik Jongin masih terisi penuh. Sedangkan cup milik Kyungsoo baru saja mencapai titik terakhir. Kyungsoo memejamkan mata merasakan setiap tetes coklat tersebut menghangatkan kerongkongannya.
"Terimakasih, Jongin-ssi. Aku berutang padamu." Kyungsoo tersenyum menatap Jongin yang juga membalas tatapannya.
"Tidak perlu, anggap saja salam perkenalan dariku.." Jongin menatap Kyungsoo lekat.
Kyungsoo mengerjapkan matanya, bingung dengan tindakan Jongin sekarang. "Jongin-ssi, kenapa kau menatapku seperti itu?"
Jongin hanya tersenyum kecil, "Itu ada coklat tersisa dibibirmu.."
"Jeongmal? Dimana?"
Jongin menyingkirkan tangan Kyungsoo yang sedang bergerak mencari noda diwajahnya. Dengan sentuhan lembut, Jongin menangkupkan kedua tangannya pada pipi chubby milik Kyungsoo dan ibu jarinya mengusap sisa coklat di ujung bibir Kyungsoo.
Kyungsoo masih terdiam menatap Jongin. Hatinya mencelos melihat perlakuan Jongin pada dirinya. Otaknya sudah memerintahkannya untuk bergerak, tapi tubuhnya enggan bergerak. Matanya masih menatap lekat pada manik kecoklatan milik Jongin.
Jongin masih menatap Kyungsoo, tapi ibu jari yang awalnya terdiam kini beranjak mengusap lembut kedua pipi Kyungsoo. Dengan gerak perlahan, Jongin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo seraya menutup matanya sedikit demi sedikit. Kyungsoo pun begitu, semakin wajah Jongin mendekat. Semakin ia memejamkan matanya.
Lima senti.
Tiga senti.
Satu senti.
TIN TIN TIN.
Mereka refleks segera menjauh karena suara klakson yang membisingkan itu. Kyungsoo menghembuskan napas, ternyata itu bus yang ia tunggu sejak tadi. Bus itu berhenti tepat didepan halte. Kyungsoo telah siap dan berjalan menuju bus itu. Sebelum menaiki bus, Kyungsoo menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Jongin-ssi Gamshahamnida. Aku akan segerea mengembalikan baju dan jaketmu.." Kyungsoo menunduk lalu melambaikan tangan, "Annyeong~"
"Oh, ne. Hati-hati dijalan.." Jongin balas menunduk dan tersenyum tipis.
Kyungsoo tersenyum dan menaiki bus itu. Ia segera mencari tempat favoritnya saat sudah masuk dibus. Kursi kedua dari belakang yang dekat dengan jendela. Kyungsoo duduk dan memandang gerimis yang mengguyur Seoul dengan tatapan kosong. Ia teringat kejadian tadi. Ia dan Jongin berada pada jarak yang sangat dekat. Bahkan Kyungsoo tak pernah membayangkannya.
Kyungsoo menyandarkan kepalanya, dan ia memeluk jaket yang diberikan Jongin padanya tadi. Entah kenapa, hati Kyungsoo selalu berdebar ketika ia mengingat kejadian tadi. Kyungsoo menyentuh pipinya dan menggelengkan kepala. Sadarlah Do Kyungsoo! Batinnya.
.
.
(Satu Bulan Kemudian)
Hari pertama penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru SM University akan segera dimulai. Dekorasi sudah sempurna, banyak karangan bunga bertuliskan ucapan selamat, para mahasiswa baru yang terlihat tampan dan cantik mengenakan setelan seragam kampus, dan para pengisi acara yang tengah bersiap-siap dibelakang panggung.
Kyungsoo masih sibuk melakukan pemanasan vokal, sedangkan Baekhyun hanya duduk dan menyaksikan tingkah sahabatnya ini.
"Kau mempersiapkan semuanya secara matang bukan?" Baekhyun menepuk pundak Kyungsoo
"Tentu saja, ah aku sangat gugup." Kyungsoo menggenggam dadanya
"Kkk~ aku mengerti Kyungie.." Baekhyun mengubah mimik wajahnya ketika melihat sesuatu didepannya "Kyungie! Kyungie!"
"Ada apa?" Kyungsoo masih sibuk memejamkan mata sambil mengatur nada dasarnya
"Kyungie-ah, lihat! Dia yang tempo hari ingin aku ceritakan padamu!"
"Nugu?" Kyungsoo membalikkan badannya
Terlambat. Orang itu juga sudah membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah lain.
"Ah, kau terlambat Kyungie. Dia itu anak bungsu keluarga Kim yang kabarnya akan menjadi ketua angkatan tahun ini." Baekhyun bercerita antusias
"Siapa namanya?" Kyungsoo ogah-ogahan menanggapinya
"Oh… aku lupa. Kim… Kim… Ah, intinya dia bermaga Kim!" Baekhyun berusaha mengingat namanya.
Kyungsoo menjitak kepala Baekhyun "Pabo! Kau pikir ada berapa juta penduduk korea yang memiliki marga Kim, eoh?"
"Ck, terserah padamu Kyungie! Kau menyebalkan sekali.." Baekhyun mempoutkan bibirnya
"Perhatian tim paduan suara kelas vokal mari berkumpul. Setelah ini kita akan briefing dan tampil. Harap berkumpul." Suara lembut Choi Sungsaemnim terdengar jelas.
Semua tim paduan suara segera berkumpul, tanpa terkecuali.
.
.
Jongin sudah rapi dengan setelan Jas seragam kampusnya, ia melihat sekeliling dengan wajah datar seperti biasanya. Sedari tadi ia hanya berkeliling mengikuti eomma dan appanya yang menyapa para donatur yayasan. Sedari tadi pula, mata Jongin tidak lepas untuk mencari satu sosok yang sangat ingin ia jumpai.
Jongin tersadar, saat ini ia sedang berada didekat panggung. Jongin membulatkan matanya ketika ia melihat sosok yang sangat ia kenali. Sosok mungil yang sedang memejamkan matanya dan membuka mulutnya. Entah apa yang ia lakukan.
"Jongin sayang, kemarilah. Kenalkan ini relasi appa, namanya Cho Kyuhyun. Ah, Kyuhyun-ah, ini putra bungsuku, Kim Jongin."
Jongin membalikkan tubuhnya dan menyapa rekan appanya ini, "Senang bertemu denganmu, Jongin-ssi."
"Ne, ahjussi. Mohon bantuannya." jawab Jongin sopan sembari menunduk.
Setelah itu, Jongin hanya berdiri didekat eommanya dan melihat appanya sedang asik mengobrol bersama rekanannya. Tak lama setelah puas berbasa-basi dengan rekanan, appanya segera menghampiri ia dan eommanya.
"Dimana Jongdae?" Tanya Jongwoon pada istrinya, Taeyeon.
"Aku rasa dia tidak bisa datang, dia sedang mengurus paspornya."
Jongin mengerutkan kening, "Hyung mau kemana, eomma?"
"Ah, dia sudah diterima bekerja sebagai koordinator musikal salah satu Production House di Beijing. Mungkin dia akan bekerja disana." Jelas Taeyeon
Jongin mengangguk. Ya, kakaknya itu memang cerdas.
"Baiklah, mari kita duduk. Acara akan dimulai.." Jongwoon merangkul istri dan anaknya.
Benar saja, tepat setelah mereka duduk MC memasuki panggung dan memulai acara penerimaan mahasiswa baru kali ini. Jongin menatap tidak antusias pada penampilan-penampilan yang ada didepannya. Tidak ia hiraukan semua penampilan yang ada.
"Baiklah hadirin yang terhormat, kali ini dengan bangga kami persembahkan sebuah penampilan terakhir dari tim paduan suara. Mahasiswa-mahasiswi terbaik kelas vokal akan menyanyikan mars SM University. Dipersilahkan~"
Jongin melebarkan matanya dan menegakkan duduknya, ia tahu apa yang akan ia lihat setelah ini. Tanpa disadari senyum miring tersungging dari bibir Jongin. Satu persatu mahasiswa itu masuk dan Jongin dapat melihat sosok kecil itu berdiri dipaling depan didekat microphone. Apakah dia vokal utama? Jongin terus memandangi sosok itu dan akhirnya tatapan mereka bertemu.
.
.
Kyungsoo menelan ludah. Ia sangat ingat dan sangat mengenali sosok itu. Sosok namja berkulit tan yang…. Seketika bayangan dihalte bus itu berkelebat di pikiran Kyungsoo. Kejadian itu memang telah berlangsung sekitar satu bulan yang lalu, tapi masih terpampang jelas dibenak Kyungsoo bagaimana detail kejadian itu.
Kyungsoo mengambil napas dan mencoba tersenyum didepan adik-adik tingkatnya dan mulai membuka suara untuk menampilkan performa sebaik mungkin. Suara indahpun mengalun diseluruh Hall kampus.
Semua hadirin tampak menikmati gabungan dari suara-suara emas mahasiswa kelas vokal. Sampai pada puncaknya, diakhiri dengan nada falset Kyungsoo yang disambut tepuk tangan meriah dari hadirin serta adik-adik tingkatnya. Penutupan yang sangat manis.
Dengan tundukan serentak tim paduan suara, acara ini pun resmi selesai. Para tamu undangan telah dipersilahkan pulang, tetapi mahasiswa baru masih harus tinggal untuk menikmati pesta dan membaur dengan sunbae mereka.
"Kyungie, ayo kita keluar!" Baekhyun terlihat antusias dengan acara diluar.
"Eung, aku…. Disini saja, Baek." Jawab Kyungsoo tertunduk
"Ah, kau ini. Ayolah, apa kau tidak ingin mengenal hoobae kita?"
Malas mendengar celotehan Baekhyun yang tidak akan ada habisnya, Kyungsoo hanya menuruti apa keinginan Baekhyun yang menariknya menuju pusat Hall. Pusat acara sekaligus pusat berkumpul semua orang.
Seperti yang bisa ditebak, Baekhyun telah sibuk bercakap dengan yang lain sehingga meninggalkan Kyungsoo sendirian. Kyungsoo memilih duduk di tepi hall dan mengamati euphoria pesta kecil itu. Ia menyadarkan kepalanya ada dinding dan mengambil napas dalam-dalam.
"Sebuah kebetulan bukan bertemu denganmu disini?"
Suara itu memecahkan keheningan yang ada dipikiran Kyungsoo. Sontak ia membuka mata dan menegakkan duduknya ketika melihat siapa yang duduk disebelahnya. Tepat seperti dugaannya, siapa lagi kalau bukan Jongin?
"Ah, J-Jongin-ssi annyeong.." Kyungsoo menundukkan kepalanya
"Annyeong…. Hyung." Jongin menyebutkan kalimat itu dengan lembut.
"H-hyung?" Kyungsoo mengulang kata itu.
"Atau haruskah aku memanggilmu, Kyungsoo Sunbaenim?"
"A..aniya. Hyung terdengar lebih baik.." Kyungsoo menunduk
"Mulai sekarang berhenti bicara formal padaku, hyung." Pinta Jongin
"Oh.. ne, Jongin-ah" Kyungsoo membuang pandangannya
"Itu terdengar lebih baik, hyung."
Melihat Kyungsoo yang tidak fokus, Jongin menjentikkan jarinya didepan wajah Kyungsoo "Apa yang sedang kau lihat, Hyung?"
"Aniyo." Sergah Kyungsoo.
Hening tecipta.
"Oh, Jongin-ah. Aku lupa baju, celana, serta jaketmu masih ada dirumahku." Kyungsoo mencoba mencari topik
"Benarkah? Aku bahkan sudah melupakannya." Jongin menjawab enteng.
"Haruskah aku mengantarnya?" Tanya Kyungsoo
"Tidak perlu, sudah kubilang ambilah pakaian itu.."
"Tapi aku berutang padamu, Jongin-ah.."
Jongin tersenyum dan mengacak rambut Kyungsoo, "Jika kau benar-benar merasa berutang padaku, datanglah besok di atap kampus pukul 5 sore. Setelah kuliah berakhir.."
Kyungsoo mengerutkan kening, "Untuk?"
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, hyung. Ini tentang–"
"Ya Kim Jongin! Kemarilah!"
Kata-kata Jongin menggantung dan terputus ketika ada pria jangkung yang memanggilnya dari jauh. Jongin hanya memberikan isyarat ia akan segera kesana.
"Hyung, aku harus pergi." Jongin menatap Kyungsoo
"T-tapi Jong–"
"Aku tunggu kau besok ya, kumohon jangan mengecewakanku.." Jongin tersenyum.
Dengan secepat kilat ia mencium kening Kyungsoo dan berlalu meninggalkan namja kecil itu dengan sejuta gejolak yang membuat jantungnya hampir copot.
Jongin datang menghampiri pria jangkung yang tadi memanggilnya. Pria itu tidak lain adalah Park Chanyeol, sahabatnya sejak SMA. Kini mereka kembali diterima dalam universitas yang sama hanya saja beda kelas.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" Chanyeol menepuk pundak Jongin
"Sangat mudah mendapatkannya." Jongin mengeluarkan evil smirknya.
Chanyeol mengerutkan keningnya, "Maksudmu?"
Jongin berdecak, "Jangan berpura-pura bodoh, Park Chanyeol. Kau seperti baru mengenalku saja." Jongin kesal lalu berjalan mendahului Chanyeol.
Chanyeol mengejar Jongin berusaha menyejajarkan langkah, "Jangan bilang kau hanya akan mempermainkannya seperti mantan-mantanmu dulu?"
Jongin mendengus kesal, "Ya, Park Chanyeol. Kau pikir aku gila? Aku ini masih normal, aku masih menyukai yeoja." Jongin melipat tangannya. "Ya, aku hanya penasaran saja bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan namja."
Chanyeol memutar bola matanya, "Sampai kapan kau akan terus begini? Apa kau tidak kasihan dengannya? Dia seperti malaikat tak berdosa."
Jongin tersenyum meremehkan, "Aku? Sejak kapan aku peduli pada orang lain? Aku ini masih normal, N-O-R-M-A-L! Aku masih menyukai yeoja!"
"Dengarkan aku, Jongin-ah.." Chanyeol menatap Jongin serius, nada bicaranya berubah. "Tidakkah kau tahu, terkadang cinta bisa membuat kita gila? Membuat kita jatuh cinta kepada orang yang salah mungkin. Atau melawan takdir tuhan?"
Jongin masih melipat tangannya dan membuang pandangan. Tidak peduli.
"Baiklah, Kim Jongin. Aku lelah menasihatimu, sekarang semua terserah padamu.." Chanyeol berjalan meninggalkan Jongin.
Baru beberapa langkah, Chanyeol berhenti dan membalikkan badannya. "Oh iya, satu hal lagi. Kau tidak akan pernah merasakan cinta yang tulus jika kau tidak pernah mencintai secara tulus."
"Tapi aku bukan gay, Park Chanyeol!" Jongin meninggikan suaranya
"Terserah apa katamu! Tapi ingat, jika suatu saat kau merasakan hal itu menggetarkan hatimu, tak peduli dia namja ataupun yeoja. Aku berharap kau tidak menyangkalnya. Jangan sampai kau menyesal!"
Chanyeol meninggalkan Jongin disana. Sendirian. Dengan sisa suaranya yang menggema di pikiran Jongin. Jika suatu saat kau merasakan hal itu menggetarkan hatimu, tak peduli dia namja ataupun yeoja. Aku berharap kau tidak menyangkalnya. Jangan sampai kau menyesal!
Ah persetan dengan cinta sejati! Rusuh Jongin dalam hati.
.
.
Hari ini Kyungsoo tidak fokus menerima materi kuliah. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia hanya menatap kosong pada pemandangan diluar. Menatap awan jingga kemerahan yang menghiasi senja sore ini. Ini adalah kelas terakhir Kyungsoo, yang akan berakhir tepat pukul 5. Kyungsoo sedang tidak berminat mendengarkan materi kuliah, yang ada dipikirannya kali ini hanya satu hal. Jongin. Jongin. Dan, Jongin.
"Baiklah anak-anak, sekian dulu kelas untuk hari ini. Jangan lupa untuk membaca ulang materi dirumah. Selamat petang." Ucap Choi Sungsaemnim membuyarkan lamunan Kyungsoo.
"Kyungie, mari pulang bersama!" Baekhyun membawa bukunya dan menepuk bahu Kyungsoo
"Eum, Baekki-ah.." Kyungsoo mengigit bibirnya
"Hm?"
"Sepertinya kau pulang sendiri ya hari ini? Aku ada beberapa urusan.."
"Mwoya? Kau tidak biasanya memiliki urusan diluar kuliah.." Baekhyun menatap menyelidik
Kyungsoo hanya tersenyum kecil dan memegang lehernya, "Kumohon Baek.."
Baekhyun memutar bola matanya, "Baiklah Kyungie. Jangan pulang terlalu larut. Annyeong~" Baekhyun berlalu dari hadapan Kyungsoo.
Kyungsoo menghembuskan napas lega, ia membawa tasnya dan berjalan menuju atap gedung dengan perasaan yang sulit diartikan. Entah kenapa, kini ia seperti orang lesu yang berjalan dengan pikiran kosong.
Kyungsoo menaiki tangga demi tangga yang membawanya ke atap gedung utama kampus. Ketika ia telah berada pada ujung anak tangga, ia mengambil napas dalam-dalam. Semuanya akan baik-baik saja, pikirnya dalam hati.
Kyungsoo melangkah memasuki atap. Dilihatnya sesosok namja yang posturnya sangat dikenal oleh Kyungsoo. Ia tinggi, atletis, dan berkulit tan. Siapa lagi kalo bukan Jongin? Dia sedang menatap ke arah awan ketika Kyungsoo datang mendekatinya.
"J-Jongin.." Kyungsoo membuka suaranya.
Sosok itu membalikkan badannya, "Aku kira kau tidak akan datang, hyung."
"Aku bukan tipe orang yang suka mengingkari janji."
Jongin tersenyum dan berjalan mendekati Kyungsoo, "Aku senang mendengarnya.."
Hening.
"Hyung.." Jongin membuka suara
Kyungsoo mengangkat dagunya, menatap manik indah itu lagi. Pemilik manik indah itu berjalan makin mendekat.
Makin dekat.
Dan semakin dekat.
Kyungsoo terdiam, kaku. Dia tidak bisa bebuat apapun, ingatannya melayang pada kejadian satu bulan yang lalu. Tepat satu bulan yang lalu.
Kali ini Jongin mendekatkan wajahnya. Keduanya memejamkan mata.
CHU.
Bibir Jongin mendarat dengan manis diatas bibir plum milik Kyungsoo. Tangan Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo dan mengelusnya lembut.
Kyungsoo yang medapat perlakuan itu masih terdiam. Masih enggan untuk membalas. Terlalu kaget. Ya, dia terlalu keget.
"Uhh~" desah Kyungsoo disaat Jongin mulai memeluk pinggang rampingnya.
DYAR.
TIK. TIK. TIK.
BRESSS.
Jongin dengan spontan melepas tautan mereka dan berlari menuju bagian atap gedung yang terlindungi kanopi ketika hujan deras tiba-tiba mengguyur Seoul. Kyungsoo yang masih mencerna hal itu hanya pasrah saja ketika Jongin menariknya kebawah kanopi.
Mereka berlindung dalam suasana hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tanpa sengaja, Jongin dan Kyungsoo menatap satu sama lain.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
GREP.
Mereka saling memeluk, menautkan kembali bibir mereka dan merasakan kehangatan dibawah guyuran hujan kota Seoul. Jongin kali ini memeluk pinggang ramping milik Kyungsoo sedangkan Kyungsoo sudah melingkarkan tangannya dileher Jongin.
Mereka berdua saling memeluk erat. Saling melumat hangat bibir satu sama lain. Dan menyalurkan kehangatan dialiran darah yang mengalir di nadi mereka.
"J-Jongin-ah.. Hmmm.." Kyungsoo meremas pelan rambut Jongin ketika Jongin tiba-tiba mendudukan ia dalam pangkuannya.
Ya, Kyungsoo duduk dipangkuan Jongin. Mereka saling berhadapan dan masih berciuman dengan mesra.
"Jongin ahh~" suara lembut Kyungsoo terdengar tepat ditelinga Jongin.
Sejenak, sesuatu dalam diri Jongin bergetar. Ia tak tahu pasti itu apa, karena ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Suara Kyungsoo, Sentuhan Kyungsoo. Argh! Semuanya membuat Jongin tak ingin berhenti mendengar dan merasakannya.
Ini aneh. Sangat aneh.
Jongin masih terus merangsang Kyungsoo untuk mengeluarkan suara indahnya. Ia memeluk Kyungsoo erat, mengelus pinggang kecilnya, dan juga ciumannya makin menuntut.
"Ahh… Jongin… Umhh.."
Lagi….. suara Kyungsoo yang menyebut namanya membuatnya gila!
Jongin berbisik pada Kyungsoo, "Teruslah menyebut namaku, hyung.."
"Jongin-ahhh~" suara Kyungsoo terdengar makin manja
Ah, Jongin begitu menyukai suara ini. Entah bagaimana, suara ini membuat hatinya bergetar.
Tunggu dulu….. Apa? Hatinya bergetar?
Tidak, ini tidak mungkin terjadi! Sergah Jongin dalam hati.
-to be continued-
ANNYEONG!^^
Chapter 2 Up! Horee! :3
Hayo kalian pasti greget ya gak author lanjutin adegannya? Hayo? Hayo? Ketahuan nih ye #plak wkwk. Yah, tenang saja. Sebenarnya author memang mau melanjutkan adegan itu. Tapi besok ya, biar konfliknya berkembang(?) dulu. Biar KaiSoo momentnya jatuh disaat yang roooomantis. Gimana readers? Kalo banyak review yang positif, author bakal semangat nulis dan lanjutin ficnya xD
Mohon review nya yang berisi krik dan saran membangun(?) Chapter 3 ditunggu ^^
Gomawo~ /bow/
