"Rooftop Love"

Pair : KaiSoo, Other EXO and SM Member.

Rate : M(?)

Warn : Typo(s), Yaoi, BL, OOC, Mature Content, Cerita gaje, dll.

Happy Reading, Guys!

Chapter 4

.

.

.

"H..Hyung.."

Jongin mengucek matanya ketika ia mendapati dirinya sendirian diranjang. Ia duduk dan sejenak mengumpulkan nyawanya yang hilang entah kemana. Kepalanya sedikit pusing. Ia menundukkan kepalanya, melihat diriya yang masih dalam keadaan naked tertutupi selimut.

Pikiran Jongin melayang, ia bangkit dan mengambil boxernya yang tergeletak tepat disebelah ranjangnya. Ia membasuh wajah dan menyikat gigi. Mungkin ini akan menenangkan pikiranku, batinnya. Ketika Jongin keluar dari kamar mandi, ia mencium wangi aroma masakan yang memaksanya untuk mendekat. Apakah Kyungsoo Hyung sedang memasak?

Jongin berjalan menuju dapur. Benar saja ia menangkap bayangan disana.

Kyungsoo. Dengan mengenakan kemeja Jongin –yang tentu saja kebesaran baginya hingga dapat menutup setengah pahanya, sedang bergerak gesit didepan kompor.

Jongin tersenyum dan mendekatinya.

GREP. Ia memeluk Kyungsoo dari belakang.

"Selamat pagi, Hyung.." Jongin berbisik

"Eungh, kau sudah bangun Jongie?" Kyungsoo menoleh menatap wajah sayu Jongin

"Kenapa kau meninggalkanku sendirian di ranjang, hyung?" nada Jongin terkesan merengek

Kyungsoo gemas dan mencium pipi Jongin sekilas, "Mianhae, aku tadinya ingin menyiapkan sarapan lalu membangunkanmu.."

"Gwaenchana, kau masak apa Hyung?"

"Spaghetti. Apa kau menyukainya?" Kyungsoo bertanya ragu

"Aku sudah lama tidak memakan spaghetti.."

"Kau dapatkan sekarang Jongie, duduklah akan aku siapkan.."

Jongin mengangguk tapi masih tidak melepas tubuh mungil dalam pelukannya ini. Ia masih saja memeluk dan menghirup aroma dileher Kyungsoo.

"Jongin-ah.." Kyungsoo menengokkan kepalanya

"Sebentar hyung. Sebentar saja.."

Kyungsoo tersenyum, ia membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya di leher Jongin. Menatap manik kecoklatan milik Jongin, dan mengecup bibirnya perlahan.

Jongin tersentak. Ia kaget tapi benar-benar menikmatinya. Sweetest Morning Kiss, pikirnya.

"Duduklah Jongie, aku akan menyiapkan sarapanmu." Kyungsoo mengelus pelan pipi Jongin

Jongin mengangguk dan duduk dibelakang meja bar sembari melihat Kyungsoo dihadapannya. Sungguh Jongin merasa dirinya menjadi pribadi yang berbeda saat bersama Kyungsoo. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, dan ia juga bisa merasakan kehangatan. Mungkin Jongin harus berterimakasih kepada Moonkyu.

DEG. Moonkyu?

Aih! Paboya! Harusnya aku tidak menerima tawaran itu! Jongin merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa begitu mudahnya menerima tawaran Moonkyu? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sepupunya itu memang selalu membuat Jongin terjebak banyak masalah.

"Jongie, ini sarapanmu.."

"Eoh?" Jongin tersadar, mendapati Kyungsoo datang dengan nampan berisi sepiring spaghetti dan segelas susu hangat.

"Kau kenapa?" Kyungsoo duduk dan meletakkan makanan itu didepan Jongin.

Jongin tersenyum, "Bukan apa-apa. Terimakasih Hyung.."

"Makanlah sebelum dingin.."

"Ne, Hyungie."

Jongin mengambil garpu disebelahnya, melilit mie itu dan memasukkannya kedalam mulut. Mata Jongin melebar, menatap Kyungsoo.

Kyungsoo menggigit bibirnya, "W-wae?"

Jongin menutup matanya dan menelan makanannya, "Demi Tuhan, Hyung ini enak sekali!"

Kyungsoo membulatkan matanya, "Benarkah?"

Jongin mengangguk dan menghabiskan makannya, membuat Kyungsoo tersenyum bahagia karena itu.

"Ah Hyung.." Jongin yang telah selesai makan menatap Kyungsoo

"Ne?"

"Eum, setelah ini kau aku antar pulang ya? Aku… ada urusan dengan temanku." Jongin tersenyum sebiasa mungkin.

Kyungsoo tersenyum, "Arraseo.."

Setelah Kyungsoo pergi mencuci piring, Jongin kembali menuju kamar dan mengambil ponselnya.

To: Kim Moonkyu

Jam 12 siang ini. Di Nature Café. Jangan terlambat!

Send.

Jongin menghembuskan napasnya. Sepertinya ini akan menjadi hari yang berat.

.

.

Jongin memarkir mobilnya dengan terburu-buru. Ya, dia tau dia sudah terlambat 30 menit. Jalanan Seoul pada akhir pekan sungguh tidak manusiawi. Macet dan Padat. Baru saja Jongin membuka pintu, suara menggelegar sudah menyapa telinganya.

"Ya! sudah jam berapa ini? Kau selalu terlambat ketika memiliki janji denganku, Kkamjong-ah.." omel Moonkyu ketika Jongin tiba di cafe yang mereka tentukan.

Jongin tidak banyak berbicara, dia masih tetap terdiam dengan pandangan acuh seolah malas menanggapi obrolan Moonkyu.

"Ya, Kkamjong!"

"Berhenti memanggilku Kkamjong dan cepat katakan apa yang kau inginkan!"

Melihat sikap Jongin, Moonkyu hanya tersenyum sinis dan menepuk bahu Jongin, "Kau tentu datang kemari untuk menepati janjimu bukan?"

"Janji?" Jongin mengangkat sebelah alisnya

"Jangan berpura-pura lupa, Jongin. Kau yang menantangku dan sekarang aku menagih janji dan keberanianmu." Moonkyu menatap Jongin dengan mata membara.

Jongin berdecak, "Ck, baiklah. Katakan apa yang kau mau!"

"Jadi... kau masih ingat apa yang kita pertaruhkan? Atau harus kita ulang cerita dari awal?"

Flashback.

"Kkamjong kemarilah!" Moonkyu melambaikan tangannya pada Pria tinggi yang sedang menikmati acara ditengah hall kampus yang tidak lain tidak bukan adalah Kim Jongin. Adik kelas sekaligus sepupunya yang paling dekat dengannya.

Moonkyu sudah satu tahun lebih dulu memasuki SM University dan kini sepupunya itu menjadi adik kelasnya.

"Ada apa?" Jongin menanggapi dengan malas seperti biasa

"Lihat dia..."

"Nugu?"

"Itu itu.. namja kecil yang sedang ditarik oleh temannya."

Jongin menyipitkan matanya, "Namja yang sedang berjalan menuju ujung hall?"

"Nah! Iya dia. Lihatlah.."

"Kenapa aku harus melihatnya?" tanggap Jongin malas.

"Aku baru melihat ada namja yang tampak cantik. Apa kau setuju denganku?" Moonkyu memiringkan kepalanya dan menatap Jongin.

Jongin masih menatap sosok namja kecil yang bermata bulat itu. Wajahnya tidak asing, hanya saja terlalu jauh.

Sebentar. Tunggu sebentar.

Bukankah itu Do Kyungsoo? Iya! Pria yang waktu itu hampir diciumnya di halte bus dekat rumahnya. Sekaligus, pria yang semenjak tadi dia tatap selama grup paduan suara tampil.

"Apa kau mengenalnya?" Moonkyu mengerutkan kening ketika melihat perubahan pada raut wajah Jongin.

"Hah? Oh, tidak." Jawab Jongin setenang mungkin.

Moonkyu hanya mengangguk dan tampak tidak percaya dengan perkataan Jongin. "Apa kau menyukainya, Kkamjong?"

Jongin membulatkan matanya. "Apa?"

Moonkyu mengangkat kedua bahunya, "Siapa tahu kan? Aku hanya bertanya.."

"Aku masih normal Moonkyu-ya! Mana mungkin aku menyukai namja!" Jongin menghentak Moonkyu yang sekarang hanya tertawa melihat sikapnya.

"Apa kau yakin?" Moonkyu menaikkan kedua alisnya, menggoda Jongin.

"Tentu saja!"

"Jika aku tidak percaya?" Jawab Moonkyu enteng.

"Ya. Moonkyu-ya! Jangan mempermainkanku!"

"Aku memang sulit memercayai orang tanpa bukti.."

"Maksudmu?"

Moonkyu ber-Smirk-ria yang tidak jauh berbeda dengan senyum setan Jongin, "Berikan aku bukti.."

"Apa yang kau inginkan?" Mata Jongin tampak panas mendengar perkataan Moonkyu.

"Bertaruhlah padaku. Kau jika kau mendekatinya dan kau tidak akan jatuh cinta padanya. Selama... yah, hingga sampai awal bulan depan."

"Kau gila?" Jongin menatap Jongin tidak percaya

"Ya atau Tidak?"

"Apa konsekuensinya?" Jongin menantang balik Moonkyu

"Jika kau tidak suka dengannya, kau harus pergi dan mendekati yeoja. mengenalkan Kyungsoo padaku dan statusmu akan aman didepan umum. Dan jika kau menyukainya, maka kau harus menjadi kekasihnya dan tidak malu mengakuinya sebagi kekasih didepan siapapun. Dengan resiko, kau anak pemilik Universitas ini, namamu mungkin akan sedikit tercoreng. Bagaimana?"

Jongin terdiam sejenak,"Apa kau menyukainya?" matanya Menyelidik Moonkyu.

yang ditatap hanya menyunggingkan senyum, "Memangnya kenapa?"

Jongin menatap Moonkyu dengan tidak percaya, "Aku tidak menyangka kau seorang Gay."

"Dulunya aku tidak berniat."

Jongin masih terdiam.

"Aku sudah satu tahun mengamatinya. Dia mahasiswa kelas vokal, suaranya seperti malaikat." Moonkyu menatap sosok itu lekat. "Dulunya aku juga sama sepertimu, meyakinkan diri sendiri bahwa aku bukan penyuka sesama Jenis."

Jongin diam menatap Moonkyu yang menepuk bahunya, "Kudengar kau seorang playboy ya di SMA?"

Jongin tidak menjawab. masih menatap Moonkyu dengan lekat.

"Aku tidak akan percaya sebelum kok membuktikannya. Kau straight kan? buktikanlah kau tidak akan jatuh cinta padanya, Jongin-ah.."

"Kau sudah gila, Kim Moonkyu!" Jongin menggeleng tidak percaya

Moonkyu mengangkat bahunya, "Jadi bagaimana dengan tawaranku hmm?"

Lagi-lagi Jongin terdiam. Kosong.

"Kau tidak berani menerimanya? Baiklah aku tau jika kau memang penge–"

"Aku terima!"

"Benarkah?" Moonkyu menatap tidak percaya

"Iya, akan aku buktikan bahwa aku bukan Gay sepertimu!"

"Deal! Perjanjian ini resmi dilaksanakan."

Tanpa mereka sadari, sosok namja tinggi lain yang sedari tadi menyimak percakapan mereka hanya menggeleng kepalanya. Park Chanyeol. Ya, Chanyeol seolah tak percaya dengan kelakuan sepupu Kim itu.

"Ya Tuhan, maafkanlah mereka yang telah bermain-main dengan hati makhluk ciptaanmu."

Flashback ends.

"Aku tidak butuh ceritamu lagi. Sekarang apa yang kau inginkan?" Jongin duduk dan melepas jaketnya.

"Tiga hari lagi adalah hari dimana perjanjian kita berakhir. Bagaimana perasaanmu Kkamjong?"

"Biasa saja." Jongin merampas Lemon Tea milik Moonkyu.

"Sungguh?" Moonkyu menaikkan sebelah alisnya

"Jangan bersikap sok ganteng, Moonkyu."

Moonkyu tertawa renyah, "Baiklah aku akan menunjukkan sesuatu.."

Jongin tidak menjawab. Hanya terdiam menatap Moonkyu dan menunggu apa yang akan dia lakukan berikutnya.

"Ini.."

Moonkyu mengeluarkan sebuah foto. Jongin mengambil foto itu dan mengerutkan keningnya. Difoto itu terlukis seorang yeoja cantik yang memakai gaun merah darah yang kontras dengan warna kulitnya yang putih. Yeoja itu membawa satu bucket bunga merah, rambutnya tertata rapi sekali. Dan pada background fotonya tertulis "White House Senior High School Promnite".

"Siapa dia?" Jongin bertanya polos

"Apakah dia cantik?" Moonkyu membalikkan pertanyaannya

Jongin mengangguk sekilas, "Cantik tentu saja.."

Moonkyu tersenyum licik, "Namanya Jung Soojung. Mahasiswi kelas Female Dance yang seangkatan denganmu."

Jongin membulatkan matanya, "Jinjja? Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.."

"Mungkin kau hanya belum berpapasan dengannya. Dia adalah lulusan dari Amerika. Dia melanjutkan studi disini karena kakaknya, Jung Sooyeon juga lulusan universitas kita."

"Jung Sooyeon? Bukankah dia seorang Model?"

"Tepat sekali!"

"Wah aku tidak menyangka.." Jongin masih menatap foto itu. Setelah beberapa lama, ia menyadari ada sesuatu yang aneh. "Lalu kenapa kau memberitahukannya padaku?"

"Ah tidak.. " Moonkyu menegakkan posisi duduknya, "Aku hanya ingin mengenalkanmu dengannya. Ya, jika kau kalah dalam perjanjian kita.."

DEG. Jantung Jongin seketika berhenti.

"Banyak kakak angkatan yang mengejarnya. Aku hanya tidak ingin kau kalah dua kali.." Moonkyu tertawa. Jongin terdiam. Menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Ah iya, aku ada janji untuk latihan dengan teman-temanku. Sampai jumpa tiga hari lagi Jongin-ah. Annyeong.."

Moonkyu pergi. Melesat begitu saja dari pandangannya. Tanpa sadar Jongin meremas foto yang ada digenggamannya dan membantingnya.

"ARGH SIALAN!" rutuknya dalam hati.

.

.

Jongin berjalan gontai disepanjang taman kota yang tidak jauh dari café dimana dia dan Moonkyu tadi bertemu. Jongin berjalan tertunduk, malas dengan apa yang ada disekitarnya. Baginya itu semua tidak akan membantu membangkitkan semangatnya.

BRUK.

"Ya! Perhatikan langkahmu jika…"

"Ah, eotteokhae…"

Suara lembut itu membuyarkan fokus Jongin. Ia menatap yeoja yang sedang jatuh tertunduk. Jongin membulatkan matanya ketika melihat benda yang pecah didepan yeoja itu.

"Eomma hiks…. Kameraku…." Yeoja itu menangis melihat lensa kameranya yang pecah karena terdorong badan Jongin dan membuatnya terjatuh mulus.

Jongin ikut menunduk, "Eoh, mianhae mianhae.. maaf aku tidak tahu jika.."

Yeoja itu masih tertunduk dalam, bahunya bergetar dan Jongin dapat melihat airmata jatuh tepat pada kamera itu, "Hiks, Eonni mianhae.."

Jongin tak sanggup mendengar yeoja itu menangis, "Mianhae, aku tidak tahu jika kameramu pecah.."

Jongin mengambil kamera itu serta bagian-bagiannya yang pecah, "Didekat sini sepertinya ada toko elektronik yang bisa mereparasi kameramu. Tunggu disini aku akan–"

"A-aniya.." Yeoja itu menarik kameranya "A-akan aku benarkan ini sendiri.."

Saat yeoja itu berdiri, Jongin menarik tangannya.

"Ayolah, jangan membuatku mer–"

Kata-kata Jongin tercekat ketika yeoja itu mendongakkan kepalanya mentap Jongin. Bukankah dia…..

"Tidak apa-apa, aku rasa ini masih bisa diper–"

"Jung… Soojung?" kata-kata itu melesat begitu saja dari mulut Jongin

"Ne? Darimana kau tahu namaku?" Soojung menatap Jongin dengan tatapan aneh.

"Ah… aku…. Mahasiswa SM." Jawab Jongin enteng

"Oh Jinjja?" nada bicara Soojung berubah menjadi gembira, "Senang bertemu denganmu….."

"Jongin. Kim Jongin." Jongin mengulurkan tangannya dan melayangkan senyumnya.

Soojung menyambutnya dengan senang hati.

"Semoga kita dapat berteman baik, Jongin-ssi.."

Jongin tetap tersenyum. Ya, semoga saja.

.

.

Baekhyun mengerutkan keningnya melihat dua orang yang sedang berjalan diseberang jalan. Bukankah itu anak dari keluarga Kim? Pikirnya dalam hati. Lalu siapa wanita yang berjalan disebelahnya?

Baekhyun terus mengamati mereka berdua, sekilas Baekhyun teringat dengan iklan komersial sebuah kosmetik yang…. Tunggu sebentar, kenapa yeoja itu mirip dengan bintang iklan itu?

BRUK.

Baekhyun memegang kepalanya, "Ya! Kau menghalangi jalanku!"

Baekhyun mendongakkan kepala dan mendapati sosok namja yang sangat tinggi dihadapannya. Meringis kesakitan dan memperlihatan sederetan gigi putih yang… beraapa jumlahnya? Kenapa banyak sekali?

"Kau yang berjalan tidak hati-hati.." namja itu berbicara dengan nada kesakitan

"Ya! Minggirlah!" Baekhyun tak menghiraukan namja itu.

"Ya! Kau seharusnya meminta maaf, paboya!" Namja tinggi itu membuntuti dibelakang Baekhyun.

Baekhyun yang tidak sadar diikuti, terus berjalan hingga bayangan yang diikutinya lenyap memasuki sebuah toko elektronik.

"Ah sial!" rutuknya dalam hati.

"Sudah tidak minta maaf, menguntit orang pula.." Namja tinggi itu tertawa terbahak

Baekhyun membalikkan tubuhnya "YAK KAU RAKSASA KENAPA MENGIKUTIKU!"

Namja tinggi itu menutup telinganya, "Bisakah kau berbicara dengan pelan?"

"Bagaimana aku bisa berbicara dengan pelan jika kau terus menggangguku?"

Namja itu mengusap telinga lebarnya, "Bagaimana aku tidak mengikutimu jika kau mengikuti temanku?"

Baekhyun membulatkan matanya, "Siapa temanmu?"

"Itu, namja berbaju biru yang tadi kau untit. Dia temanku, aku baru saja akan menyapanya dan kau menabrakku.." Namja tinggi itu mengacak rambutnya.

"Berarti… kau mahasiswa SM?" Tanya Baekhyun ragu-ragu.

"Tentu saja!"

"Aku juga mahasiswa sana!"

Namja tinggi itu mengerutkan keningnya, "Kenapa aku tidak melihatmu diacara pembukaan?"

"Tentu saja, aku ini mahasiswa tingkat dua." Baekhyun melipat tangannya didada.

"Jinjja? Aku kenal dengan Do Kyungsoo?"

"Ne! Dia sahabatku, waeyo?"

Namja tinggi itu terdiam sejenak, "Lalu siapa namamu?"

Baekhyun mengulurkan tangan, "Baekhyun. Byun Baekhyun."

Namja tinggi itu menyambut uluran tangan Baekhyun, "Chanyeol. Park Chanyeol."

.

.

TOK TOK TOK.

Siapa yang mengetuk pintu sekeras itu? Pikir Kyungsoo dalam hati. Segera Kyungsoo mengalihkan pandangan dari novelnya dan berjalan menghampiri pintu.

Pintu terbuka.

"KYUNGSOO-YA~" Baekhyun masuk dan memeluk Kyungsoo

Kyungsoo tersentak, "Yak! Lepaskan, pabo!"

Kyungsoo mendorong tubuh Baekhyun. Baekhyun yang tidak peduli terus saja berjalan masuk kedalam dorm Kyungsoo dan duduk disofa.

"Kyungsoo-ya, aku sangat senang~"

"Wae?" Kyungsoo duduk disebelah Baekhyun.

"Aku tadi baru saja bertemu dengan anak dari tuan dan nyonya kim. Dan apa kau juga tahu? Aku dapat banyak info tentang dia." Wajah Baekhyun berseri-seri.

"Kau menyukainya?" Kyungsoo terekeh melihat tingkah Baekhyun

"Ani, hihi. Aku hanya senang melihatnya, seperti kagum begitu. Dia berbeda dari namja-namja korea pada umumnya. Lagipula dia tadi bersama wanita juga."

"Jinjja? Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan info tentangnya?" Kyungsoo semakin penasaran.

"Ah aku tadi bertemu dengan teman dengan teman dekatnya, kami banyak mengobrol dan dia bercerita banyak tentangnya.." Baekhyun bercerita dengan antusias.

"Lalu? Kau tau juga siapa yeoja yang bersamanya?"

Baekhyun tampak berpikir, "Aku tidak yakin dia siapa, tapi kurasa dia juga mahasiswi kampus kita. Tadi mereka mengobrol sangat akrab dan aku rasa, mereka pasangan yang cocok."

"Arra.." Kyungsoo menanggapi seadanya.

"Ne ne.. Ah Jongin, kau sangat mengagumkan.

DEG. Kyungsoo tercekat.

"J-Jongin?" Kyungsoo menatap Baekhyun meminta kejelasan.

"Iya, Oh.. aku lupa memberitahumu. Aku sudah tau, ternyata anak bungsu keluarga Kim itu adalah Kim Jongin!" Baekhyun tersenyum lebar.

"Dia… bersama seorang yeoja?" Kyungsoo menahan sakit didadanya.

"Ne, yeoja itu sangat cantik, Kyung. Mereka terlihat serasi. Aku rasa mereka akan segera berpacaran! Ah aku senang membayangkannya.."

Kyungsoo terdiam, ia menunduk dalam-dalam. Matanya panas dan ia tidak dapat menahannya. Jongin? Bersama yeoja lain? Entah bagaimana dia bisa menahan rasa sakitnya. Lama kelamaan napas Kyungsoo menjadi sesak. Ia memegangi dadanya kuat-kuat.

"Hhhh…. B-Bhaek…" Kyungsoo meremas tangan Baekhyun

"Kyungie? KYUNGIE!" Baekhyun panik seketika mengetahui keadaan Kyungsoo.

Kyungsoo tidak dapat berbicara. Napasnya terlalu sesak.

"Kyung! Kyungsoo! Bertahanlah.."

Baekhyun berjalan menuju kotak obat dan mencari obat untuk Kyungsoo.

"Bh..Bhaekhh.."

Terlambat. Pandangan Kyungsoo sudah memutih dan ia tidak sadarkan diri.

-to be continued-

HAI READERS! *dilempar readers pake batu(?)*

AKHIRNYA CHAPTER 4 UP!

Mianhae lama yang update. Kalian harus mengerti kalo Author habis ternggelam dalam lautan tugas dan ujian sehingga tidak tahu arah jalan pulang/?

MAAF KALO BANYAK TYPO YA~ Author terlalu sibuk buat ngedit dan males juga sih sebenarnya *ditimpuk readers(?)* hehe.

Maaf juga kalo ceritanya jadi ngebut atau aneh. Ini hasil nulis disela-sela waktu kosong, insyaAllah di chapter berikutnya akan Author buat lebih greget cetar dan membahana~ *berubah jadi syahrini(?)*

Mau Chapter 5 cepet update? Mau? Mau? Mau? Review dulu dong *wink(?)*

Kalo masih banyak tanggapan positif Author bakalan lanjut, tapi kalo banyak yang mencekal Author bakal pensiun/?

Terimakasih buat readers setia. Salam Cipok dari Author ^3^

Chap berikutnya ditunggu aja ya ^^