"Rooftop Love"
Pair : KaiSoo, Other EXO and SM Member.
Rate : M(?)
Warn : Typo(s), Yaoi, BL, OOC, Mature Content, Cerita gaje, dll.
Happy Reading, Guys!
Chapter 5
.
.
.
Kyungsoo masih terbaring lemas ditempat tidurnya. Matanya terlalu berat untuk membuka secara sempurna. Aroma khas obat-obatan menyambar indra penciumannya ketika ia membuka matanya. Ia melihat sekitar dan ia mendapati semuanya berwarna putih.
"Eunghh.." Erang Kyungsoo yg menahan sakit dikepalanya.
"Kyungie?" Baekhyun yang sedang mengupas apel terkagetkan
"Baek, nan eoddiga (aku dimana)?"
"Rumah sakit, Kyung. Penyakitmu kambuh lagi.."
Kyungsoo melengos pelan. Sudah sekitar enam bulan penyakit ini tidak datang kenapa sekarang dia datang lagi?
"Ja, aku kupaskan apel untukmu.." Ucap Baekhyun seraya meletakkan piring berisi potongan apel segar. Buah kesukaan Kyungsoo.
"Gomawo.." Kyungsoo hanya menatap piring itu. Kosong.
Baekhyun yang memperhatikan adegan itu hanya menggeleng pelan. Bertahanlah Kyungsoo, sepertinya jalan hidupmu akan semakin terjal.
Flashback
Baekhyun terduduk lemas. Menanti orang yang tadi ditelponnya datang. Pikirannya jauh melayang entah kemana, Kyungsoo didalam sedang berjuang melawan penyakitnya.
"Baekhyun?"
Suara berat itu berhasil membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya.
"Chanyeol-ah! Kau benar-benar datang?"
Baekhyun seketika memeluk Chanyeol. Entah apa yang kini dilakukan Chanyeol benar atau tidak, dia hanya membalas pelukan Baekhyun dan mengelus punggungnya perlahan.
"Ada yang ingin kau ceritakan?" Chanyeol berbisik pada Baekhyun
Baekhyun sekilas melepas pelukannya dan menatap Chanyeol dengan mata memicing, "Kau sahabat Kim Jongin kan?"
"Ne, waeyo?" Wajah Chanyeol tampak bingung.
"Bisakah aku mempercayaimu?"
"Apa yang kau inginkan, Byun Baekhyun?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, "Sebenarnya ada apa dengan Kyungsoo dan Jongin?"
GREP.
Chanyeol terdiam mematung. Apakah kambuhnya penyakit Kyungsoo ini ada hubungannya dengan Jongin?
"Me-memangnya kenapa?"
Baekhyun melepas pelukannya dari Chanyeol. Duduk di kursi dingin rumah sakit dan mengangkat bahunya.
"Mollayo. Justru itu yang ingin aku tanyakan padamu.."
Chanyeol duduk disebelah Baekhyun. Menatapnya, siap untuk menjawab pertanyaan.
"Apakah peristiwa ini ada hubungannya dengan Jongin?" Tanya Chanyeol
Baekhyun menghembuskan napas, "Entahlah. Aku hanya…"
Chanyeol masih mendengarkan. Baekhyun lagi-lagi nampak gusar.
"Tadi, aku hanya bercerita bahwa aku melihat Jongin dengan seorang wanita. Dan entah kenapa, setelah mendengar nama Jongin wajahnya memucat dan–"
"Sepertinya, lebih baik kau tidak menyebut nama Jongin dulu." Putus Chanyeol
"W-Wae?" Baekhyun nampak kebingungan.
Chanyeol menghembuskan napas berat. Dan dia menceritakan semuanya pada Baekhyun. Semuanya tanpa kecuali.
Cerita selesai.
Hening.
Baekhyun dan Chanyeol sama-sama bungkam.
Flashback end.
"Baekki, aku ingin jalan-jalan." Kyungsoo mulai bosan.
"Andwae, kau harus istirahat disini. Bahkan beberapa hari kedepan kau tidak boleh kuliah oleh dokter."
"MWOYA? TIDAK KULIAH?" nada Kyungsoo naik sangat tinggi. Itu membuat kepalanya sedikit pusing, "Ah…"
Baekhyun berdecak, "Sudah kubilang, kau butuh istirahat.." Baekhyun mendekati Kyungsoo dan membantunya berbaring. Ia tahu, Kyungsoo selalu berpura-pura tegar disaat dia sakit.
.
.
Senin datang kembali. Terlihat kampus dipenuhi oleh ribuan mahasiswa dan berbagai macam aktifitas yang mereka lakukan. Di sudut lapangan basket, tampak seorang berkulit tan sedang duduk sendiran dan memainkan batu dengan kakinya.
Kim Jongin. Ya, dia adalah Kim Jongin. Hari ini dalam hidupnya seperti ada yang kurang. Seolah-olah ada jiwa yang hilang dari dirinya.
Do Kyungsoo. Hyungnya yang satu itu tidak nampak disepanjang kampus. Bahkan teman-temannya juga tidak ada yang tahu dimana dia.
"Jongin-ah!" Suara serak itu menyambut telinga Jongin
"Eoh? Chanyeol-ah!" Jongin menyapa balik.
Chanyeol tersenyum dan duduk disamping Jongin. "Tidak Kuliah?"
"Aku membolos." Jawab Jongin enteng.
"Kau kenapa?" Chanyeol merangkul Jongin dan menepuk pundaknya.
"Yeol.." Jongin memalingkan pandangannya dari lapangan basket menuju Chanyeol.
"Apa kau pernah merasakan kehilangan jiwamu?"
Chanyeol mengerutkan kening, "Seperti apa rasanya?"
"Hampa.. Kosong.." Jongin kembali menerawang lapangan basket.
"Ah, seperti gejala merindu?" Chanyeol menatap Jongin.
Merindu? Apa itu?
Chanyeol tertawa seolah bisa membaca pikiran Jongin "Merindu itu adalah saat dimana kau merindukan seseorang dan jika kau belum bertemu dengannya hatimu akan terasa kosong."
Jongin masih menerawang lapangan basket, "Apa kau pernah merasakannya?"
"Tentu saja! Aku selalu merasakan hal itu saat aku sedang jatuh cinta."
TING TONG. Bel kampus yang menandakan pergantian jam kuliah telah terdengar.
"Eoh, mianhae Jongin-ah, aku ada kuliah. Sampai ketemu nanti!"
Chanyeol menepuk pundak Jongin dan berlari meninggalkan Jongin sendirian ditemani hembusan angin yang terus meniupkan kata-kata "Aku selalu merasakan hal itu saat aku sedang jatuh cinta."
Jongin mengembuskan napas berat. Jatuh cinta?
Apakah aku sedang Jatuh Cinta?
Jongin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Jangan gila, Kim Jongin. Kau hanya sedang bertaruh dengan sepupu brengsekmu itu. Kau ini normal, bukan seorang Gay.
Jongin dengan gontai berjalan menuju Kantin, berniat menyegarkan otak dengan segelas kopi hangat. Mungkin dapat menenangkan pikirannya.
"Jongin!" suara tak asing itu hinggap ditelinganya, membuatnya berpaling kearah suara.
"Jongin-ah! Senang sekali bertemu denganmu!"
Soojung. Dugaan yang tepat sekali.
"Eoh? Soojung kau disini?" Jongin menyapa Soojung dengan senyum tipisnya
Soojung mengangguk, "Kelasku sudah selesai. Apa kau sibuk?"
Jongin menggeleng pelan, "Tidak. Aku membolos kuliah jam terakhir.."
"Aigo, nakal sekali…" Soojung tertawa renyah, "Eum, kebetulan aku belum makan siang. Maukah kau menemaniku makan siang di S Mall? Aku dengar ada mie ramen enak disana!"
Jongin menggaruk kepalanya, "B-Boleh.."
Tidak bisa dihindari, senyum ceria Soojung mengembang. "Baiklah, dari kampus kita bisa naik bus melalui–"
"Aniya, kita pakai mobilku saja. Kajja!" Jongin segera memotong tawaran Soojung.
"Jeongmalyo (benarkah)?"
Jongin mengangguk.
"Ah! Neomu Choaeyo (suka sekali). Kajja!"
Jongin berjalan berdampingan dengan Soojung menuju basement kampus dimana mobilnya diparkirkan. Ia lebih banyak diam, menjadi pendengar yang baik untuk Soojung yang ternyata mudah sekali bergaul dengan orang.
Sampai di Mobil pun, Soojung tidak segan untuk banyak bercerita dengan Jongin. Tanpa disadari, Jongin merasa bahwa Soojung adalah gadis yang menarik. Tapi entah kenapa, Jongin tidak bisa merasa apapun selain teman padanya.
"Kau tau, Jongin-ah? Mie ramen disini sangat terkenal seantero Seoul!" Soojung masih antusias dengan makanan disini.
"Kau menyukai ramen?" Jongin bertanya setelah mereka memesan
Soojung mengangguk mantap, "Aku suka sekali segala makanan dalam bentuk mie."
"Ah, ada kalo hanya ramen hyung saja bisa memasak lebih enak.." Tanpa sadar Jongin teringat mie ramen yang pernah dibuatkan Kyungsoo untuknya.
"Hyung?" Soojung mengerutkan kening
"Eoh?" Jongin tersadar dan menggeleng pelan, "Iya hyung, temanku.."
Soojung tersenyum, "Ah, arrayo.."
Makanan mereka datang. Mata Soojung tampak berbinar melihat makanan itu. Tanpa butuh waktu lama, Soojung sudah mulai memakan ramennya. Jongin menatap mangkuknya dengan tatapan kosong, ia hanya mengambil sendok dan sedikit menyeduh kuahnya. Ini yang kau bilang enak? Ah, inipun tidak seberapanya dengan masakan Kyungie Hyung. Lagi-lagi Jongin teringat Kyungsoo, sepertinya ia benar-benar merindukannya bahkan ketika ia bersama Soojung.
Jongin memarkirkan mobilnya diparkiran rumah besarnya. Ia menghembuskan napas pelan, sudah beberapa hari dia tidak menyambangi rumahnya. Ia memilih pulang kerumah, apartemennya hanya akan membuatnya semakin merindu pada Kyungsoo.
"Jongin-ah.." suara lembut eommanya menyapa lembut telinganya.
"Eomma?" Jongin mendekati eommanya yang sedang duduk di sofa ruang tengah
"Jongin-ah, sudah beberapa hari kau tidur diapartemen. Apa aku tidak merindukan eomma, sayang?" Taeyeon, eommanya mengelus lembut rambutnya.
Jongin tersenyum, eommanya ini memang sangat lembut. Jongin yang memiliki naluri sebagai anak bungsu langsung memeluk eommanya, "Tentu saja Jongin merindukan eomma.."
Taeyeon hanya tersenyum melihat anak bungsunya ini, "Walaupun kau sebentar lagi 20 tahun, kau masih saja seperti baby bagi eomma."
Jongin terdiam, "Eomma.."
"Iya sayang?" Taeyeon mengelus pelan rambut Jongin
"Apa yang eomma pikirkan tentang seorang Gay?" Suara Jongin bergetar
"Gay? Pria dan Pria saling mencintai?"
Jongin mengangguk, "Bagaimana menurut eomma?"
"Ya kalau sudah terlanjur cinta bisa apa?" Suara itu sontak membuat Jongin dan Taeyeon membalikan badan.
"Jongdae Hyung?" Jongin menatap kaget
"Kau sudah bangun, sayang?" Taeyeon tersenyum
"Hyung kapan kau pulang dari Beijing?" Jongin masih menatap tidak percaya
"Sudah satu minggu aku di Seoul." Jongdae datang dan duduk disebelah adiknya itu, "Tapi aku tidak melihatmu dirumah. Kemana saja kau?"
Jongin melepaskan pelukannya dari Taeyeon dan langsung memeluk kakaknya, "Ah hyung aku kangen!"
Jongdae yang merasa risih langsung saja menabok pantat Jongin, "YA! Kau sudah bukan bayi lagi, Jongin-ah!"
Taeyeon hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, "Yasudah, eomma buatkan camilan ya? Kalian mau apa, hmm?"
"Ddokbokki!" Jongin dan Jongdae berseru bersama
Taeyeon hanya menggeleng pelan dan segera berjalan menuju dapur.
Jongdae menatap adiknya, "Apa yang tadi kau tanyakan pada eomma?"
Jongin tertegun, "Eoh, aku hanya… menanyakan pendapat eomma tentang Gay."
"Gay? Kenapa kau tiba-tiba berpikir tentang itu? Jongdae menatap adiknya tajam.
Jongin mengangkat bahunya, "Entah. Bagaimana menurutmu, Hyung?"
Jongdae terdiam dan sekilas tersenyum manis, "Mereka tidak salah.."
"Maksudnya?"
"Yah, cinta sesama jenis. Memang itu melawan Kodrat, Jongin. Tapi kita bisa apa? Mereka juga tidak bisa disalahkan karena…"
Jongdae memutus kalimatnya dan membuat Jongin terus menatapnya.
"Karena cinta seringkali datang kepada orang yang tidak kita ketahui." Jongdae tersenyum
Jongin terdiam.
"Jongin-ah, jika saja suatu saat kau merasakan hal yang sama… Jangan pernah kau ingkari itu, Tuhan tidak suka melihat hambanya yang mengingkari cinta dalam bentuk apapun."
Jongdae mengacak rambut Jongin dan Jongin masih terdiam.
Kyungsoo memasang earphone di telinganya, menatap langit Jingga diluar yang menenangkan hatinya. Membiarkan semua pikirannya melayang, ia merindukan Jongin. Berharap menatap langit senja dapat menghilangkan rindunya.
Baekhyun yang menatap Kyungsoo dari ambang pintu hanya dapat menggeleng pelan dan berdecak, seolah ia dapat membaca pikiran Kyungsoo bahwa anak ini benar-benar jatuh cinta kepada Jongin.
"Kyungie, aku belikan Kimbab kesukaanmu di kedai biasa." Baekhyun berjalan mendekati Kyungsoo yang lamunannya terbuyarkan.
"Eoh? Kau jauh-jauh membelikan ini hanya untuk aku?" Kyungsoo menatap Kimbab itu dengan mata berbinar, makanan kesukaannya.
Baekhyun tersenyum, "Jika kau hanya mengandalkan makanan rumah sakit, aku yakin kau tidak akan pernah menghabiskannya." Baekhyun membuka bungkusan dan memotong kimbab itu lalu meletakkannya di piring, "Ja, habiskan ya?"
Kyungsoo mengangguk dan memakannya lahap, "Wah, jinjja mashita (enak sekali)!"
"Aku senang jika kau menyukainya.."
Kyungsoo yang awalnya ceria tiba-tiba terdiam, "Jongin juga suka dengan Kimbab ini.."
Baekhyun menghembuskan napas, "Sebenarnya ada apa antara kau dan Jongin, Kyung?"
"Eoh?" Kyungsoo menatap Baekhyun
"Kau bahkan tidak ingin menceritakannya pada sahabatmu?" Baekhyun menatap sedih
"Aniyo, bukan begitu! Hanya saja.."
"Wae? Ceritalah.." Baekhyun mengambil kursi dan duduk disebelah ranjang Kyungsoo.
Kyungsoo hanya bisa mengembuskan napas dan menceritakan semuanya kepada Baekhyun. Mulai dari awal pertemuan mereka, bagaimana mereka saling merasa nyaman, Kyungsoo jatuh cinta, hingga cerita tentang malamnya bersama Jongin di apartemennya.
Baekhyun mengerjapkan mata seolah tidak percaya, bahkan cerita dari Chanyeol tidak selengkap cerita dari Kyungsoo.
"Maafkan aku…" Kyungsoo menunduk dalam-dalam.
Baekhyun mengelus pundak Kyungsoo, "Gwaenchana, aku bahkan tidak tahu bahwa hubunganmu dan Jongin sudah sangat jauh.."
"Dan, sepertinya dia hanya mempermainkanku. Dia bahkan pergi bersama wanita lain ketika aku sedang sakit. Aku disini membutuhkannya tapi–"
"Sudahlah Kyung, mungkin dia tidak tahu masalah ini." Baekhyun menenangkan Kyungsoo.
"Aku berharap dia kesini. Aku merindukannya." Mata belo Kyungsoo mulai berkaca-kaca.
"Kyungie…" Baekhyun menatap miris
Kyungsoo hanya diam menatap kosong pada piringnya, napsu makannya menghilang. "Baekki, aku sudah tidak selera makan.."
Baekhyun mendengus, "Baiklah, beristirahatlah.."
Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya menatap langit jingga itu. Jongin, apakah kau merindukanku?
"Uhuk.." Jongin tersedak ketika ia melahap ddokbokki buatan eommanya.
Sontak Taeyeon langsung mengelus pundak Jongin dan memberinya segelas air, "Pelan-pelan sayang.."
Jongdae hanya memasang wajah datar, "Dia kan memang ceroboh, eomma."
"Sampai kapan kau akan terus menyalahkan adikmu, Jongdae?" Taeyeon men-deathglare anaknya.
Jongdae hanya memasang wajah trollnya sambil asik melahap makanannya.
Jongin yang baru saja tenang dari tersedaknya mulai mengelus dadanya.
"Gwaenchana, Jongin?" Tanya Taeyeon
"Ne, eomma. Nan Gwaenchana.." Jongin tersenyum
"Mungkin ada orang yang sedang memikirkanmu, Jongin." Jongdae menaruh mangkuknya dimeja makan
"Apa hubungannya tersedak dengan orang yang memikirkanku, Hyung?" Jongin mengerutkan keningnya ketika mendengar kalimat hyungnya.
"Bisa saja, aku pernah mendengar cerita ten–"
"Ah, itu hanya mitos." Taeyeon tersenyum sembari membereskan piringnya.
"Eomma-ya, kenapa kau selalu membela Jongin?"
Taeyeon hanya tersenyum dan mengusap rambut putranya, berlalu membawa tumpukan piring kotor ke dapur.
"Apa hyung?" Jongin masih penasaran dengan apa yang dikatakan hyungnya.
"Ah jadi–"
Dering handphone Jongin memecahkan obrolan mereka, Jongin mengerutkan kening melihat nama yang ada dilayar handphonenya.
"Yeoboseyo?"
"Ah, rupanya kau Chanyeol. Ada apa?"
"Ah aku sangat malas, kenapa kau tidak mengajak yang lain?"
"Iya memang tidak jauh, tapi–"
"Arraso! Aku akan datang, tunggu didekat air mancur."
Jongin menutup handphone nya dan segera beranjak.
"Jongin-ah, mau kemana?" Taeyeon yang baru saja selesai mencuci piring langsung melihat Jongin yang tampak terburu-buru.
"Eoh? Mianhae eomma, aku ada janji dengan Chanyeol di taman kota. Bolehkah aku pergi membawa motor?" Pinta Jongin
"Baiklah, tapi berhati-hatilah. Kabari eomma jika kau pulang terlambat.."
Jongin hanya mengangguk dan bergegas memakai jaket dan mengganti celana rumahnya dengan celana jeans santai.
Cuaca diluar memang sedang cerah, tapi Jongin paling malas jika disuruh pergi menemani Chanyeol untuk memenuhi hasrat fotografinya. Chanyeol selain mahasiswa instrument yang berbakat, dia juga tergila-gila oleh fotografi dan kali ini Jongin yang harus menemaninya.
Sesampainya ditaman kota, Jongin mendapati sosok Chanyeol telah sibuk berlutut mencoba mengambil beberapa fokus foto dengan kameranya itu.
"Ya!" Jongin menepuk pundak Chanyeol
"Aigo! Kau mengagetkanku saja." Chanyeol mengelus dadanya
"Apalagi yang kau inginkan dari aku?" Jongin duduk di kursi taman, Chanyeol menyusul disebelahnya.
"Aniyo, aku suka sekali taman kota disore hari. Aku ingat kau pulang kerumah, berhubung rumahmu dan taman kota tidak jauh aku suruh saja kau kesini." Senyum 100 Gigi khas Park Chanyeol terpampang didepan wajah Jongin
"Tapi aku–"
"Tenang saja aku akan mentraktirmu kopi." Potong Chanyeol yang kembali lagi pada aktifitasnya bersama kameranya.
Jongin mendengus, membiarkan Chanyeol asik bersama kameranya. Jongin melihat sekitar, berbagai variasi aktifitas orang-orang ditaman sedikit membuatnya rileks. Ada anak-anak kecil sedang bermain di ayunan, ada remaja sedang bersendau gurau, ada penjual eksrim yang sedang berkeliling, dan ada…. tunggu dulu, siapa itu?
"Hyung?"
Tanpa disadari, Jongin beranjak dari kursi taman dan berlari kearah dimana matanya terfokus.
Mungkin Baekhyun akan semakin gila jika ia melihat Kyungsoo terus saja memandang langit dengan tatapan kosong. Kyungsoo yang sekarang bukan Kyungsoo yang dia kenal seperti biasanya. Ia tampak lemas, tidak bergairah, dan seolah tidak ada hari esok.
"Kyungie, seandainya aku bisa melakukan sesuatu agar setidaknya kau mau tersenyum.." Baekhyun menggenggam tangan Kyungsoo'
Kyungsoo tersadar dan menatap Baekhyun, "Baekki~"
"Eum?"
Kyungsoo menunjuk taman yang tidak jauh dari rumah sakit, taman yang selalu ia lihat ketika ia merasa kesepian, "Aku ingin kesana.."
Baekhyun mengerutkan kening lalu menengok kearah tangan Kyungsoo, "Taman Kota?"
Kyungsoo mengangguk, "Boleh?"
"Arraso, tapi pakai jaket ya?" Baekhyun tersenyum dan mengambilkan Jaket kesayangan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya tersenyum melihat bagaimana sahabat terbaiknya ini menyayanginya seperti layaknya seorang ibu menyayangi anaknya. Baekhyun tidak hanya memakaikan jaket, tapi ia juga memakaikan sepatu dan menyiapkan kursi roda untuk Kyungsoo.
Sebuah senyuman merekah dari bibir Kyungsoo ketika Baekhyun mendorong kursi roda Kyungsoo memasuki gerbang Taman Kota. Senyuman Kyungsoo bagaikan sebuah emas bagi Baekhyun, suatu hal yang sangat berharga yang sulit ditemui pada Kyungsoo akhir-akhir ini.
Tapi tidak lama senyuman di bibir Kyungsoo sedikit demi sedikit memudar, Baekhyun menyadari itu. Ia menundukkan kepalanya dan menatap Kyungsoo.
"Wae Kyungie?"
Manik bulat kecoklataan Kyungsoo mulai berkaca-kaca ketika menatap lurus kedepan. Baekhyun mengerutkan kening ketika melihat arah pandangan Kyungsoo.
"Hyung!"
Baekhyun tersentak. Air mata Kyungsoo tidak dapat ia bendung.
"Kyungsoo Hyung!" Jongin datang menghampiri Kyungsoo
"J-Jongin.." Air mata Kyungsoo terus menetes.
Mata Jongin mulai berkaca-kaca, "Hyung, kau kemana saja?"
Jongin mengelus pipi Kyungsoo dengan lembut dan menghapuskan air mata di pipi chubby Kyungsoo, "Tidakkah kau merindukanku, hyung? Aku hampir mati karena sangat merindukanmu.."
Jongin mengecup kening Kyungsoo, membuat air mata Kyungsoo terus mengalir. "Hyung lalu kenapa kau dengan pakaian rumah sakit ini? Kau sakit apa hyung?"
Kyungsoo hanya dapat menangis. Hatinya terlalu merindukan Jongin, hingga kini entah ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bertemu Jongin.
Baekhyun yang menjadi penonton mereka hanya dapat menutup mulutnya dan menunduk, ia sendiri tidak tega jika ia harus memisahkan mereka.
"Hyung kenapa kau tidak menjawab?" Jongin memeluk Kyungsoo, "Naega Neomu Bogoshippoyo.. (Aku sangat merindukanmu)."
"Jong–" Chanyeol yang datang langsung ditahan Baekhyun dengan segera. Setelah Chanyeol melihat keadaan didepannya, ia langsung mengerti dan memilih diam.
Kyungsoo hanya tersenyum tipis, melepaskan pelukan Jongin dan menggenggam tangannya erat. "Jongin-ah, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.."
Wajah Jongin memucat, "T-tapi kenapa Hyung?"
Kyungsoo menggeleng pelan, "Aku rasa, kau lebih bahagia jika bersama wanita itu.."
"Wanita itu? Siapa hyung? Wanita yang mana?" Nada Jongin mulai meninggi
"Tolong tinggalkan aku sendirian.." Kyungsoo hanya menunduk dan mendorong kursi rodanya sendiri tanpa bantuan Baekhyun.
"Hyung!"
Jongin berusaha mengejar Kyungsoo tapi ditahan oleh Chanyeol dan Baekhyun. Jongin mulai memberontak, "Lepaskan aku!"
"Biarkan dia tenang, dia butuh waktu sendirian!" Chanyeol membentak Jongin
"Dia sedang terguncang, biarkan ia sendiri dulu.." tambah Baekhyun
Jongin masih memberontak, "LEPASKAN AKU DASAR KALIAN SEMUA BAJINGAN! LEPASKAN!"
Semua orang ditaman melihat kearah Jongin, tapi Jongin tidak peduli karena yang ada dipikirannya hanyalah Kyungsoo.
"Hyung! Berhenti!"
Dengan segenap kekuatan yang Jongin miliki, ia berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman Chanyeol dan Baekhyun. Ia langsung berlari mengejar Kyungsoo yang sedang mendorong kursi rodanya menuju jalan raya.
Chanyeol dan Baekhyun tidak berhenti begitu saja, mereka juga berlari mengejar Jongin. Sayangnya tidak dapat secepat Jongin.
Kyungsoo yang masih menangis terus saja mendorong kursi rodanya tanpa memperhatikan sekitar. Hatinya terasa sangat nyeri menatap mata Jongin. Hatinya juga seperti tergores jutaan pisau tajam. Kyungsoo tidak menyadari dimana ia berada, yang terpenting baginya adalah melarikan diri dari Jongin, secepatnya.
"Hyung awas!" teriakan Jongin membuat Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menyadari dimana ia berada, ditengah jalan raya.
"HYUNG AWAAAAS!"
Jongin dengan kecepatan secepat yang ia bisa, menarik kursi roda Kyungsoo dan mendorongnya ke tepi jalan raya. Baekhyun dan Chanyeol yang tepat berada ditepi jalan raya langsung menahan kursi roda Kyungsoo agar ia tidak terjatuh.
Tin. Tin. Tin.
Criiit. Bruk.
Truk besar itu terlalu cepat dan dengan telak menabrak tubuh naas Jongin yang belum sempat beranjak dari tempatnya setelah ia menyelamatkan Kyungsoo.
"JONGIN!" Kyungsoo berteriak histeris sebelum akhirnya pandangannya kabur karena air matanya.
-to be continued-
.
.
Annyeong Readers! ^^
Sebelumnya, author mau ngucapin #HappyJonginDay hari ini, #HappyKaiSooDay kemarin, dan #HappyKyungsooDay dua hari yang lalu xD fic ini special dipost pada hari ulangtahun Jongin hehe.
Author kembali dengan chapter ini. Mian updatenya lama, author kemarin sibuk tugas dan UAS jadi belum sempat nyelesaiin fic ini. Karena Author sangat menyesal atas keterlambatan fic ini, author memanjangkan ceritanya sesuai kaya yang diminta readers semuanya :D
Maafkan kalo fic ini makin lama makin geje atau gimana ._. ya semoga aja chapter kali ini ga mengecewakan kalian ya? .
NAH REVIEW KALIAN SANGAT MEMBANTU SEMAGAT AUTHOR DALAM MENULIS DAN MENGEMBANGKAN CERITA LHO~ So, jangan jadi silent readers oke? Author masih terbuka dan sangat senang hati menerima review dari kalian (bukan bash ya).
Oh iya numpang promo/? wkwk. Kalo kalian kebetulan ada yang suka sama Couple KrisLay (Kris x Lay) jangan lupa baca fic KrisLay author yang judulnya "I'm Yours" ya? Mungkin kalian bisa bantu bikinin ide buat author hihi. Gomawo yang mau sempetin RnR fic itu .
Chapter berikutnya ditunggu ya? Gamshahamnida ^^
