"tuanku yang mulia, apa otakmu masih waras pagi indahku kau renggut dengan membawaku kesini hah?"
seorang bersurai raven itu tiada hentinya mengeluh. melewati tiap tebal rerumputan dan semak belukar dibelakang rajanya
"diamlah Hanamiya!"
dan dihadiahi dengan sebuah sentakan nada tinggi tanpa harus memutar arah pandang lawan bicaranya
"haaah.. tadi harusnya aku bermanja dengan baginda ratu di kolam susunya. aku sungguh tak beruntung hari ini fuuh.."
"tidak akan kubiarkan kau melakukannya bodoh! jalanmu lambat sekali!"
sejenak si rambut raven berhenti melangkah
"aku bersumpah akan memenggal kepalamu jika kau bukan peramal Hanamiya"
dan sepasang iris biru itu langsung menatapnya tajam. ia menyeringai keji
"dan aku bersumpah kau akan merasakannya terlebih dahulu daripada aku Aomine Daiki"
.
.
.
.
.
.
"The Curse and The Revelation"
side story of drabble begitu salah begitu benar
Warning Yaoi MalexMale, Mpreg and Absurdness
Character here doesn't belong to me
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
Raja Aomine Daiki sudah hampir mencampai batas kesabarannya.
Semak belukar menjadi sasaran amuk sebuah mata pedang yang sudah menebas puluhan ribu kepala yang digenggamnya. Helaian daun berjatuhan di tanah seiring empat kaki bertapak diatasnya. Ditemani dengan seorang abdi istana dia memasuki hutan lama itu. hutan yang sudah senyap bahkan untuk teriakan seekor gagakpun.
"cih! Dimana bisa kutemukan hewan itu disini! Ini hutan tanpa kehidupan, Ryota sudah kelewatan!"
Ia melangkah dengan kepalanya yang sudah mendidih. Baru saja sejenak lalu ia menyambut indahnya panorama terbaik dari ujung istananya dan kini ia harus menyelesaikan janjinya pada hutan gelap yang tak dapatkan secercakpun sinar surya.
"haa.. rupanya yang mulia sudah tak kuat lagi. kau tak seharusnya menyeretku dalam masalah ini raja bodoh"
Diakhiri dengan cekikikan kecil pria yang seumuran dengan Daiki itu masih sempat bercanda dengan seseorang yang sudah mencapai garis batas sabarnya. Akhirnya mata pedang itu secepat kilat hendak menyambar leher putih dan surai ravennya
"diam dan tunjukkan aku jalannya. Aku bersumpah jika kau bukan peramal akan kupenggal kepalamu sekarang juga Hanamiya"
"fufufu.. kau takkan melakukannya untuk sekarang Daiki sayang"
Sebuah telunjuk lentik dengan kuku hitam panjang nan tajam mendorong jauh pedang sang raja dari leher jenjang itu. lagi, cekikikan nista itu hanya bisa membuat Daiki mendecih dan melanjutkan perjalanannya.
GRRRRRRHHHHHHHH
Suara auman samar membuat langkah sang raja dan pengawalnya berhenti sesaat. Daiki memasang telinganya tajam-tajam dan Hanamiya sudah bersiap dengan pisaunya.
"dari arah sana" Daiki membelokkan langkahnya kearah timur dengan percaya diri. Hanamiya mengekor dibelakangnya. Beberapa jarak kemudian mereka mendengar auman samar itu lagi. Daiki sangat berhati-hati dengan langkahnya. Ia belah perlahan semak belukar didepannya dan memasukkan pedang kembali ke sarungnya.
GRRRRHHHH
Sepasang bola mata merah sayup didapat oleh kedua iris biru Daiki. corak hitam panjang disekujur tubuh oranye yang tengah berbaring lemah. Sesaat setelahnya Hanamiya datang dan kedua irisnya membulat sempurna kala hewan itu menatapnya tajam. Sebuah kiasan takdir terlintas di pengelihatannya sebagai peramal.
[Pengelihatan Hanamiya]
[Di masa lalu]
"aku kutuk kau emperor tak beradab! Kau akan dibunuh oleh keturunanmu sendiri!"
Seorang pendeta tua yang tengah meratapi kuil yang tengah terbakar itu bersimpuh dihadapan kuda putih berbaju perak juga seorang panglima terhebat yang bermahkota raja yang menunggang diatasnya. Ia sumpahkan hal itu sebelum akhirnya nafas terakhir ia hembuskan. Sepasang iris heterochrome menatapnya keji. Kemudian beralih pada peristiwa lainnya,
"wahai dewa, telah kuabdikan diriku menjadi sinar paling terang di langit surgamu. Kumohon anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk memberikan orang yang kucintai seorang keturunan"
Sebuah lambaian tangan dan senyum menaungi diri seorang laki-laki secerah matahari yang tengah bersimpuh dihadapan dewanya. Ia rasakan cahaya terang menyambar bagian abdominalnya dan bisa ia rasakan sesuatu yang ia inginkan kini sudah berada ditangannya. Lalu peristiwa lain terjadi,
"dengarkan aku istriku. Aku telah dikutuk, dan demi menjaga hidupku tetap aman aku harus membunuh tiap bayi yang lahir dari garis keluargaku"
Ia merapatkan celananya sembari bergumam meninggalkan ranjang yang masih hangat itu. sang ratu matahari kemudian bangkit dan menatap suaminya tak percaya. Lihat dirinya, beberapa saat lalu baru saja bercumbu hebat dengan si kepala merah. Dan kini, iris madu itu harus mendapat tatapan keji dari manic heterochrome yang sudah meninggalkan dirinya telanjang bulat diatas ranjang megah itu.
Dua bulan setelahnya,
"aku harus kembali Ke Kaijou, ayahku sedang sakit"
"baiklah. Kapan kau akan kembali?"
"tujuh bulan lagi"
Tujuh bulan kemudian
"maafkan aku nak, maafkan aku..hiks…hiks.."
Ia daratkan bibir pucat yang masih gemetaran itu diatas dahi seorang bayi yang berkulit kontras dengannya. Ia hanyutkan keranjang emas itu diatas aliran sungai yang tadinya bening. Bersamaan dengan terbawanya keranjang itu aliran merah segar menodai beningnya sang sungai.
"apa yang kau lakukan ?! kau telah membuang putra yang kuanugerahkan!"
"maafkan aku…"
"kau, aku mengutuk tubuhmu, jiwamu, kecantikan dan seluruh anugerahmu akan hilang kala putra yang kau lahirkan menemui ajalnya! Kau akan terikat selamanya pada putramu!"
[di masa depan]
"aku ingin mati!"
Ia melihat sang maharatunya menghantam cermin megah dihadapannya dengan bilahan pisau. Namun tak sedikitpun cermin itu hancur.
"kau sudah seperti ibuku sendiri. Kenapa hal seperti ini terjadi padaku?"
Kemudian ia melihat suatu peristiwa ironis pada ratunya yang lain. Bulir airmata menghujam deras dari pipi pucat itu. kedua bola mata coklat terang kini ditemani kantung hitam dibawah kelopak matanya. Kedua tangannya mencengkram erat selembar kain terakhir yang melapisi tubuhnya. Beberapa tangan asing tengah mencoba menariknya
"aku tahu siapa sebenarnya sang ratu. Aku tahu kenapa dia menyuruh rajanya menikahiku. Dia sengaja melakukannya, dia ingin menyeretku pula dalam ketidaksuciannya. Dia adalah adikku, aku adalah langit dan dia mataharinya. Dia tak ingin melihatku bahagia, dia ingin aku merasakan yang sama"
Sepasang manik secerah langit bersuara lewat tubuh kecilnya. Yang dikatakannya sungguh adalah kebenaran
"aku abadi ! aku tak akan pernah mati! Takkan kubiarkan ayah merebut anugerahku!" dengan angkuhnya sisi lain dari sang ratu matahari menodongkan pisau tajam kearah leher jenjang seseorang yang lebih rendah darinya. namun lebih tua usianya
"dewa, ampunilah anakku. Telah kau turunkan dia kemari untuk menjadi surya terang bagi bumi, jangan biarkan dia terjerumus dalam dosa dan kutukannya. Selamatkanlah dia dari kegilaan akan kecantikan dan keabadiannya"
Seorang kakek tua dengan tongkat yang menyanggahnya tengah bersimpuh diujung menara tertinggi kerajaan Kaijou. Kilatan mentari kemudian membuka kelopak matanya
"kuberkati doamu. Namun aku tak bisa menarik kutukannya. Aku akan menunjukkan padamu jalan menuju kesuciannya. Dengan begitu dia akan diterima kembali di surga."
"jalan apa itu tuan? Beritahukanlah hambamu ini"
"seorang tiran hanya bisa dikalahkan oleh sesama tirannya. Akan kukirimkan titisan lain dari emperor yang akan lahir sekali lagi dari tubuh maharatu. Dialah yang akan membebaskan ratu matahari dan akan menikahi putra langit nanti. Kedamaian dan perlindunganku akan menyertainya"
Mata Hanamiya beralih ke peristiwa lain lagi
"Hanamiya cepat tumbukkan ramuan penggugurnya!"
Ia melihat dirinya tengah berhadapan dengan sang ratu matahari yang tengah menitahnya untuk membuatkan ramuan penggugur. Ia melihat dirinya menburkan bubuk-bubuk itu diatas minuman sang ratu dan ..
Grrrrgghhhhhhhhhhh
Pengelihatannya telah usai. Kembali lagi pada sepasang mata sayup seekor harimau dihadapannya. Hanamiya bisa merasakan aliran keringat dingin berjatuh deras mengalir di pelipisnya.
"ini yang diinginkan Ryota. Aku hanya perlu mengulitinya sekarang" sang raja sudah menghunuskan pedang dihadapan Harimau lemah itu. Hanamiya yang baru saja diberi pengelihatan takdir mencegah pergelangan tangan tuannya.
"tidak tuanku!"
"ada apa Hanamiya? Kenapa kau mencegahku?!"
Hanamiya sekali lagi menatap iris sang Harimau. Keraguan masih merutuki hatinya namun,
'jika benar harimau ini yang nantinya membunuh Aomine, aku harus menjaganya'
ia bergumam dalam hati kala mengingat dendamnya akan sang raja dengan menjadikan negeri damai seperti Touo berubah total. Sebenarnya dialah yang berhak menjadi raja. Dialah keturunan asli dari Touo. Namun takdir terpaut kejam karena ayahnya mendiang raja Imayoshi lebih terpaku dengan kemampuan Aomine Daiki sebagai ksatria tangguh tiada dua.
"tunggu..hehehe.." seringaian nista itu muncul merekah di wajah Hanamiya
"apa lagi!" sentak Daiki
"bukannya aku melawanmu, tapi bukankah ini sangat tidak layak bagi kstaria sepertimu? Membunuh harimau selemah ini bukankah melawan kodratmu sendiri? Fufufu ironis sekali~" dengan nada seduktif dan meyakinkan akhirnya sang raja memasukkan kembali pedangnya. Ia kemudian mengangkat Harimau besar itu dan membawanya pulang ke kerajaan
'kau akan segera berakhir Aomine Daiki…'
thanks buat yang udah review di CH 1 maaf ya telat updatenya, CH 2 panjang bingit *sigh* tapi seenggaknya minna-san enjoy bentar sama teaser CH 2 ini *bows* jalan ceritanya gak ngerti? tanya aja lewat review okeh? :* #ditabok
#22
