Sebuah cermin megah tengah berhadapan dengan seseorang yang tak dibalut sehelai kain apapun. Cermin itu begitu besar hingga mampu memantulkan segala isi ruangan `yang menampungnya. Cermin itu dilingkari kayu mahoni terbaik dengan pahatan berbentuk matahari yang indah.
Tapi sayang, cermin itu tak pernah mendapat seseorang
yang berkaca sembari tersenyum secerah matahari kepadanya
Dulu, dulu sekali senyum itu pernah ada
.
.
.
.
.
.
Begitu Salah Begitu Benar
CH II
[Character here doesn't belong to me]
[Warning yaoi , some lot Absurdness]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TOKTOKTOK
"masuklah"
Ia mengambil selimut diatas ranjangnya ketika sang dayang masuk dalam ruangannya.
"ada apa pelayan?"
"sudah saya beritahukan pada yang mulia raja dan kolam susu permandian anda sudah siap"
"baguslah terima kasih. Aku akan segera kesana"
Dayang tersebut kemudian membungkuk dan pergi. Sementara sebuah cermin tadi ditolehnya lagi. kali ini sepasang iris madu itu memandangnya sedih. Lalu ia mendekat, meraba permukaan cermin itu dan tiba-tiba sebuah tangan pucat keluar dari dalam sana menggapainya
"haha…sayangku…suamiku…"
Sebuah wajah yang sangat berbeda dengannya muncul dari cermin itu.
"Istriku Ryota"
Suara agak berat dengan nada penuh intimidasi menusuk telinga sang ratu matahari. Terasa begitu sesak dalam hati sang ratu hingga tangis pun pecah kala itu juga
"Jangan menangis Ryota"
Sebuah titah dengan nada absolute yang sangat ia kenali, Sangat ia rindukan
"hiks…maaf…maafkan aku…hiks…"
Seusainya sang ratu diterjang air mata, ilusi dalam cermin itu menjadi semakin nyata. Tangan pucat dari dalamnya bahkan mampu meraih helaian surai sang ratu dan membelainya pelan. Dirasakan seketika oleh sang ratu jangkitan dingin kulit lelaki itu.
"aku ingin mati! Aku ingin mati! Hiks..hiks.." ia menepis tangan pucat yang keluar dari cermin megah itu. seketikanya matanya mendapati sebuah belati tengah tergeletak menggoda nafsunya. Ia mengambilnya dan kemudian menghadap cermin besar itu lagi. ia layangkan tinggi menghadap abdominalnya dan
"Hentikan Istriku"
Sepasang iris madu itu membelalak lebar kala sebuah tangan mencegahnya. Tangan pucat yang keluar dari perut cermin megah itu.
"kenapa? Kenapa tak kau biarkan aku mati! Aku ingin membuktikan kesetiaanku kepadamu! Biarkan aku mati…hiks….hiks…"
Tangan pucat itu meraih pisau yang digenggam Ryota kemudian ia pun terlahir dalam wujud yang lebih nyata dari cermin tersebut
"ingatlah kau itu abadi Ryota"
Tiba-tiba saja lutut sang ratu terasa dipukul gada besar hingga ia jatuh membentur ubin dingin ruangannya. Ia dongakkan kepalanya
Iris madu itu berbentur nanar dengan sepasang iris merah emas dari atasnya
Setelahnya ia merasa dirinya tengah dinaungi sebuah tubuh dingin
Lalu ia pejamkan matanya
"aku sudah bersumpah untuk melindungimu bagaimanapun caranya. Maka dari itu kau harus tetap hidup"
"tapi lihat aku! Buka matamu lebar-lebar! Aku menukar tubuhku! Aku menukar segalanya! aku hidup dalam kekelaman abadi! Aku…"
"aku mencintaimu. Katakan kau merasakan yang sama"
"tidak…tidak…hiks…hiks…aku…tidak mencintaimu…"
"aku senang mendengarnya"
Sebuah senyum pahit terlukis di wajah pucat serta dibarengi oleh redupnya tatapan mata dwiwarnanya. Tubuh itu mengucap kata terakhirnya dan kembali terseret dalam cermin megah sang ratu. Sepasang iris mata madu itu hanya menatap kosong cermin didepannya.
"haha..hahahhaa…ahahaha…"
Ia memekik dan tertawa frustasi dengan alasannya sendiri. Entah apa, terasa sangat buruk mendengar tawa seseorang yang melirik sebuah belati tajam mengkilat didekatnya. Sang ratu kemudian bangkit dan mengambil pakaiannya. Seketika itu ia keluar dari ruangannya,
"ah, yang mulia ratu"
Seseorang membuat dirinya menoleh tajam kearah kanan dan mendapati salah satu istri rajanya, Sakurai berdiri di koridor megah yang sama dengannya.
"oh, hai Sakurai. Tidak perlu memanggilku yang mulia hehe panggil saja Ryota" Ujar Ryota. Matanya tertuju pada sehelai handuk yang tengah dibopong Sakurai
"m-mmaaf , aku tidak bermaksud.." belum selesai Sakurai melanjutkan sang ratu terlebih dahulu menyela sekaligus mengalungkan satu lengannya di leher pemuda berambut coklat terang itu
"aah sudahlah jangan dipikirkan hehe. mau mandi kan? Ikut aku saja, kita mandi di kolamku!" ucap Ryota
"ta-tapi.."
"tidak ada tapi-tapian! Ayo !"
Dua istri Daiki itu melangkah menuju kolam sang permaisuri. Namun mereka tak menyadari,
Seseorang lagi tengah berada tak jauh dari mereka
Sepasang iris biru cerahnya menatap nanar sang ratu dan selir kedua
Yang kemudian membuat kepalanya tertunduk dan kembali memutar kokang pintu ruangannya
Memasukkan diri kecilnya yang hampir kalah dari sumpahnya untuk tak menunjukkan
Sedikitpun raut ekspresi di wajahnya
Di kolam susu..
Sekolam cairan Putih kental dan berbau legit menyengat tengah diceburi oleh dua orang yang merupakan istri Daiki. beberapa dayang tengah menuangkan berguci-guci madu juga tak lupa aroma dari ribuan kelopak mawar merah menambah kesan relaksasi yang nyaman.
"Emm.. maaf sebelumnya. Aku tidak melihat baginda raja di istana pagi ini. apakah anda tahu?" tanya Sakurai
"ha? Hmm dia sedang pergi ke hutan hitam" balas Ryota sambil mencium setumpuk kelopak mawar di telapak tangannya
"eh? ke hutan..hitam? maaf sebelumnya tapi kenapa dia kesana?" tanya Sakurai
"aku yang menyuruhnya Hehe. baru-baru ini aku ingin karpetku diganti dengan kulit harimau asli" Ujar Ryota
"H-harimau..? tapi, maaf bukankah Hutan disana itu tak ada kehidupan sama sekali?" tanya Sakurai
"hoo..benarkah? tapi aku rasa dia akan menemukan setidaknya satu disana. Oh ya, selama tiga tahun terakhir aku tak pernah mendengar dirimu meminta Daiki melakukan sesuatu. Kenapa? Kau takut?" Tanya Ryota.
"ti-tidak. Maaf, bukannya lancang. Aku memang tidak ingin Daiki repot-repot untukku" balas Sakurai
"waaah kau ini, jangan seperti itu." gumam Ryota
"m..maaf!maaf!" balas Sakurai sambil menundukkan kepalanya.
"eh..ahaha Sakurai lucu sekali. Oh ya boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ryota
"eh? em! Silahkan"
Seulas senyum tipis merekah di wajah sang ratu matahari. Kecap bibirnya mengutarakan pertanyaan sesaat membuat iris sakurai mengecil. Raut wajah Sakurai seketika menunjukkan ketidakpercayaan dan kegundahan.
Sementara itu didalam ruangan yang letaknya bersebelahan dengan kamar sang ratu, seseorang tengah duduk manis ditengah jendelanya. Ia peluk lututnya seraya kedua iris birunya menatap nanar bentangan langit biru. Beberapa angin menggoda surainya yang warnanya senada, sebuah pikiran terlintas di kepalanya
"Aku bahagia dengar kata cintamu"
[Kuroko POV]
Nama asliku adalah Kuroko Tetsuya. Dari sejak dua tahun lalu menjadi Aomine Tetsuya. Kalian bisa melihatku sebagai perwujudan manusia dari langit megah yang tengah membentang diatas sana. Sebelum aku mengalami semua ini, aku dulunya adalah bidadara yang selalu tersenyum diatas tahta surga sana. Banyak orang memujaku,
Sebelum semua ini terjadi
Aku adalah orang yang umurnya paling tua diantara para istri sang raja. Terpaut sepuluh tahun lebih tua dari adikku sang ratu matahari, Ryota-kun. Entah bagaimana tuhan begitu cepat memutar poros kehidupan ini hingga pasir waktu terperosok lebih cepat dari biasanya. Hari-hariku terasa kosong,
Aku memang kosong
Sudah lama kekosongan menjadi senjata utamaku sejak semua musibah ini menimpaku. Raut wajahku tak semerekah adikku sang ratu matahari, atau juga tak sebaik Sakurai-kun. Tak pernah kutunjukkan sedikitpun perubahan ekspresi
Atau bahkan sebuah rekahan senyum kecil
Bagiku semua ekspresi itu sama saja dengan menunjukkan betapa lemahnya aku
Ku layangkan telapak tanganku di awan-awan, kulihat biru cerah yang indah disela-sela jemariku. Indah, sangat indah sekali. Namun sayang, keindahan langit itu hanya bisa mengingatkanku nestapa realita yang sesungguhnya
Realita bahwa diriku bukanlah lagi penghuni angkasa biru megah itu
Aku telah ditendang, diusir bak anjing tak bertuan
Dari yang dipuja menjadi budak terendah yang pernah ada
Terpenjara dibalik bangunan megah , terikat rantai pemuas nafsu dan dahaga
Anugerah yang sama akan kecantikan ada pada diriku. Buktinya, tak kudapati keriput di wajah atau bahkan kenduran kulit ditubuhku. Aku lebih tampak seperti anak kecil umur lima belas tahunan. Namun tak sekalipun segala anugerah ini membuatku bahagia. Yang ada hanya lawan kata, sebaliknya.
Menjatuhkan hatiku sendiri untuk seorang Aomine Daiki merupakan satu kesalahan tanpa jalan keluar yang pernah kubuat. Aku sudah melihat dari sejak kelahirannya, ia bertumbuh, juga saat kutukan mewujudkan dia menjadi algojo yang memenggal kepala sang emperor ksatria perak yang merupakan ayahnya sendiri.
Atau bahkan ironisnya lagi, mendapati dirinya mencumbu ibu kandungnya sendiri
Ryota-kun dulu tinggal diatas tahta surga sana bersamaku. Aku menyayanginya, begitu pula ia menyayangiku. Semuanya masih baik-baik saja sebelum akhirnya ia terpana dengan seorang Emperor dan turun ke bumi untuk menjadi istrinya. Namun,
Pasir waktu terlampau cepat untuk memberikan Ryota-kun kesempatan berbahagia
Bermula dari satu kutukan maut seorang pendeta terhadap suaminya yang membakar sebuah tempat ibadah hingga menjalar sampai saat ini dan akan terus berlanjut. Dulunya aku masih menatapnya dari langit, dulunya aku masih berusaha terbitkan senyum agar dia ikut tersenyum pula.
Namun kegilaan sudah merenggut Ryota-kun
Dia berubah, tak lagi tersenyum kala aku datang mengunjunginya. Yang ada , yang kulihat hanya tawa sinisnya, perkataan kasarnya, dan segala usahanya untuk mengakhiri nyawanya sendiri.
Aku bahkan tak tahu siapa dirinya kala itu
Hingga suatu saat kala aku turun langsung dari langit untuk menghiburnya sesaat, dia menipuku. Saat itu mata ini melihat betapa getir takdir yang dijalani oleh adikku sendiri. Berada dibalik tirai transparan beratap langit malam
Seseorang mencengkram tubuhnya dari atas, merenggut hak-hak suci darinya
Aku tahu siapa orang yang mencumbunya kala itu. aku lah yang menjaganya sejak dari ia dihanyutkan Ryota-kun ke sungai. Aku lah yang melindungi dirinya agar Ryota-kun juga bertahan hidup. Aku lah kakak yang menyaksikan ironi dari kutukan adiknya , dan tak bisa berbuat apapun
"kakak… kau menyayangiku bukan?"
"kakak…kau tak akan berbahagia tanpaku bukan?"
"kakak…kau harus merasakan sakit yang sama denganku…"
Masih jelas memori mengerikan itu teringat dan terulang tiap hari dalam mimpiku. Ketika aku menyerah dan bertekuk lutut dihadapan pemandangan yang meluluh lantakkan hatiku. Setelahnya aku tak pernah menjumpai gerbang langit terbuka untukku.
Atau bahkan bersuara hanya untuk menjawab ketukan lemah tak berdaya dariku.
Kujinjing sisa kain biru yang membalut tubuhku. Kaki yang dulunya selalu beralaskan awan putih kini harus menapak keras tanah terjal rumah baru, sang bumi. Kuputuskan untuk mengatur arah langkahku menuju sungai yang tak jauh dari Kerajaan Touo. Menjadi seorang abdi disana,
Atau mungkin lebih menuruti rinduku semata
Karena sungai yang kini berada dekat denganku berasa seperti rumah yang sangat kurindukan
Pantulan langit biru dari atasnya memuaskan segala penat dan sakit yang kurasa
Berselang empat tahun aku menjajak bumi karena Ryota-kun menyeretku untuk merasakan pedih yang sama seperti yang ia rasakan. Berhari-hari di tiap penghujung pertapaanku selalu kuharap adikku akan muncul dihadapan mataku
Dan tersenyum cerah seperti dulu ia membangunkan aku
Namun tak satupun kudapat semua harapanku terwujudkan. Hingga tiba saatnya kala seseorang datang berlutut dihadapanku. Aku tahu dia, aku tahu persis siapa dirinya. Aku tahu bahwa dirinyalah yang membuat aku tak diterima lagi di tahta langit. Dialah kutukan bagi adikku
Dialah orang yang tengah bersimpuh memohon diriku agar mau menerima dirinya
Mengetuk pelan pintu hatiku tanpa mendobrak pintunya
Berkali-kali, tak terhitung berapa kali ia mendatangiku ditiap hari. Tak ragu pula dia menungguku bahkan harus tidur beralas semak belukar tanpa sedikitpun penghangat bagi tubuh kekarnya. Tiap hari ia merapal permohonan itu
Kala itulah baru kudapati diriku,
Hati dan wajahku membiarkan kuncup senyuman mekar indah
Dan sebuah anggukan tanda setuju membawaku pulang ke istananya
"Tapi aku sedih menerima kenyataan"
Aku tidak turun dari kereta kencana. Sedari dia sudah mendapatkanku, aku menunggang didepannya. Bisa kurasakan punuk kuda hitam menopang tubuh kecilku. Kulihat sebuah tangan yang kulitnya kontras denganku memegang kendali
Dan satunya lagi melingkar penuh protektif didepanku
Bagai aku sebuah kaca rapuh
Kuteguk ludahku keras kala itu. kenapa setelah semua yang terjadi, setelah segala peristiwa mengerikan yang kusaksikan hidup-hidup dan membuatku tak lagi menjadi penghuni surga. Kenapa,
Kenapa lengannya terasa begitu hangat
Kenapa tuhan?
Kenapa setelah kau berikan aku takdir untuk melihat lelaki yang tengah membawaku ini, lelaki yang tak lain adalah darah daging Ryota-kun sendiri,
Kenapa kau biarkan aku jatuh cinta kepadanya?
Sudah jelas memori mengenaskan itu yang selalu kulihat tiap sepasang kelopak mata ini menutup. Rekaman keji dimana aku melihat lelaki ini bercumbu dengan ibunya sendiri. Apa mungkin dia tak tahu bahwa Ryota-kun adalah adikku? Kenapa pula Ryota-kun bisa menyerahkan dirinya pada lelaki ini?
Atau lebih mirisnya tidakkah dia sadar bahwa yang selama ini ditidurinya adalah ibunya sendiri?
Tidak, aku tidak bisa memberitahunya. Entah bagaimana harus kujelaskan betapa egois hati ini untuk membungkam kebenaran yang terpendam. Jika aku memberitahu yang sebenarnya pada lelaki ini, jika aku menunjukkannya siapa Ryota-kun selama ini
Aku takkan mungkin bisa merasakan hangat pelukannya lagi
"Bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu"
Sesampainya disana kala gerbang besar dari baja berwarna hitam terbuka, aku melihat sebuah negeri baru dengan sebuah istana yang menjulang tinggi dari kejauhan sana. Sebuah kilatan cahaya emas menyilau sebentar, Aku tahu itu pasti Ryota-kun.
Sempat aku hampir bersyukur untuk bisa bersama dengan adikku lagi
Namun,
"selamat datang tuanku"
Seseorang berambut coklat terang dengan mata berwarna senada tengah membungkuk kala aku dan sang raja menuruni kuda hitam yang sedari tadi kami tunggangi kemari.
"ah, ya. Kenalkan, ini adalah saudara baru bagimu dan selir baru untukku"
Satu detik kala itu rasanya ada sebilah pedang tajam menusuk dadaku tanpa ada orang yang mengetahuinya. Lelaki itu mendekat, kemudian ia tunjukkan telapak tangannya
Sebuah cincin emas melingkar indah di jari manisnya
"selamat datang, maaf, namaku Aomine Sakurai. Mari menjadi keluarga yang hangat bersama"
"i-iya. namaku Kuroko Tetsuya. salam kenal Sakurai-kun"
Dia membungkuk dihadapanku. Demi menghormatinya kulakukan hal yang sama walau tubuh ini berasa seperti engsel pintu yang berkarat tanpa pelumas. Sungguh kala itu diriku masih tak percaya, ku kira semua ini akan menjadi akhir dari penantianku untuk membangun keluarga baru bersama adikku Ryota-kun.
"hey kau"
Suara berat lelaki dibelakangku tengah mendongakkan kepalanya keatas. Ia tersenyum lebar dan dengan penasarannya kuikuti arah pandangnya. Ku lakukan hal yang sama hingga ku dapati
Seseorang dalam balutan gaun emas dan penutup wajah tipis dengan warna senada
Tengah menatap dari lantai teramat atas
Sekilas senyum kulihat samar menembus kain tipis yang mentutup wajahnya
"emm..maaf sebelumnya tuanku. Ratu tak mau turun kebawah. Maaf sekali lagi, aku sudah berusaha merayunya"
"Tak apa. Jangan khawatirkan itu Sakurai. Dia memang selalu begitu. oh ya, kau bawa Tetsu kedalam dahulu. Suruh para pelayan dan dayang menyiapkan pesta kecil untuk menyambut selir baruku"
Dengan sebuah tepukan ringan diatas surai biruku kurasakan tangan beratnya berpindah meninggalkanku pergi. Aku masih tak terlalu paham keadaannya. Kemudian seseorang lagi datang dari balik Sakurai-kun
"selamat datang di Touo. Perkenalkan namaku Hanamiya. Aku adalah pelayan istana disini"
Lelaki dengan surai raven itu mendekat dan menjabatkan tangannya padaku. Entah kenapa rasanya tatap matanya begitu terasa aneh untuk kupandang. Namun dengan segera kusingkirkan semua itu.
Ingatlah menunjukkan raut wajahmu sama saja dengan membunuh dirimu perlahan
Dia memapahku memasuki pintu megah istana. Kemilau langit penuh batu permata yang menghias lilin-lilin penerang menyambutku. Sederet pelayan berbaris rapi pun turut serta membungkuk kearahku
"ah.. jangan sungkan-sungkan yang mulia. Mulai sekarang kau akan tinggal disini. Maaf ya Ratu kami tak bisa ikut menyambutmu tadi"
Ia mengatakannya dengan nada yang aneh pula. Lebih terdengar seperti nada godaan.
"sayang sekali ya, padahal dulu yang mulia Sakurai mendapat pelukan hangat diambang pintu dari sang ratu. Bukan begitu~?"
Apa lagi ini?
Kenapa harus kudengar perkataan menyiksa seperti ini
Aku berusaha untuk sekeras mungkin tak menghentikan langkahku hanya karena perkataan dari Hanamiya-kun yang memang kuakui rasanya menusuk tajam hatiku. Tak kubiarkan pula lekuk wajahku membeberkan isi hatiku
Kala itulah aku bersumpah demi nama dewa yang berkuasa
Seburuk apapun orang memperlakukanku, sebaik apapun orang memperlakukanku
Takkan kubiarkan diri ini mendendam dalam raut wajah
Takkan kubiarkan diri ini tenggelam bahagia dalam raut wajah
Karena aku tahu,
Menunjukkan semua itu sama saja dengan menunjukkan lawanmu cara termudah untuk menumbangkanmu
[Author POV]
Seusainya Tetsuya mengingat kembali masa lalu bagaimana ia bisa membiarkan hatinya menyeretnya pada semua kekelaman ini, dua saudara sesama istrinya tengah membincangkan sesuatu dalam kubangan susu dan madu.
Sesuatu yang entah bagaimana hingga sang ratu matahari menyuruh para dayang untuk berhenti menaburkan mawar dan meninggalkan dia berdua dengan selir yang satunya
Sesuatu yang tadi terucap dari bibir sang ratu, terucap dengan iringan senyum sinis
Sesuatu yang bahkan selama tiga tahun tak pernah terpikirkan bagi seorang Aomine Sakurai
TO BE CONTINUED
Doumooooo~
puanjang banget ya? Gomen(T_T). Di chapter ini saya ulang lagi liriknya. Thanks buat semua yang udah review di side story. Mohon maapkan saya masih belum mengerti betul dunia fanfic dan UUD nya (?) , mohon bantuannya. Khusus buat onizuka-chan Saya udah kirim penjelasan lewat PM. Hontoni arigato gozaimasu. Kira-kira sesudah chapter ini dikasih side story lagi gakya ? *ditabok*. Plus CH 3 enaknya Uncensored atau egak? *evilsmirk* Angkat usul anda di review. Arigatoo *chuu~ #Digampar
#22
