Doumo minna!

Maaf ya sudah lama saya nggak update, banyak urusan Negara #slap. ini flashback waktu Kise membuang putranya, Aomine Daiki. [sapa suruh dakian] #plak. Disini saya terinspirasi oleh Mahabharata. Kunti nyanyi buat Karna kalo disini Kise nyanyi buat Aomine. [mereka kan mau duet, YEAH] #Tabok

Happy Reading minna~

.

.

.

.

GOODBYE LULLABY

[AoKise]

[slight crossover Mahabharata]

[Warning Mpreg and Absurdness]

[Hope you like it]

.

.

.

.

Saat itu, Sungai Kanagawa menjadi saksinya.

Saat dimana bentangan langit malam tanpa bintang dan hanya berselimut awan.

Saat – saat yang dinantikannya setelah Sembilan bulan yang panjang.

"maafkan aku nak..hiks..hiks.."

Berada diatas ranjang rerumputan dan semak belukar yang warnanya kini ternoda merah gelap juga bau anyir menyengat, ia memeluk seorang makhluk kecil berkulit tan yang baru saja ia lahirkan ke dunia. Berambut biru gelap dengan iris mata senada, seorang bayi laki-laki telah keluar dari rahimnya.

Melawan kodratnya sendiri, tak pedulikan lagi derajat,ibarat,julukan dan tidak pula harga dirinya sendiri. Bahkan kalung perak berhias permata merah tanda ia ratu dari Kerajaan Rakuzan bagai mainan tak punya arti.

"aku tidak bisa membiarkan Akashi membunuhmu sayang.. aku tidak bisa.. hiks..hiks.. aku ingin kau tetap hidup..hiks..hiks..tapi aku tak bisa mendampingimu putraku.."

Sembari ia membasuh sisa-sisa darah segar pada tubuh sang bayi dengan air suci sungai Kanagawa, ia tak kunjung berhenti meratapi pedihnya rencana yang ia buat sendiri.

Tak pedulikan sakit yang menjalar dibagian bawah tubuhnya. Tak peduli pula pada aliran sungai bening yang kini hanyut membawa air merah segar. Ia menangis, dalam hatinya sungguh menyesali kenapa semua ini harus terjadi. ia merobek sebagian kain emasnya dan menelangkupkannya pada sang bayi. Ia letakkan makhluk mungil itu dalam sebuah keranjang dan bersiap menghanyutkannya.

"KISE RYOTA…!"

Tiba-tiba sebuah suara datang menyambar telinga sang ratu dan membuatnya mendongak seketika. Sebuah wajah murka terpampang pada bentangan langit biru. Disana lah Dewa kelahiran menunjukkan wujud murkanya pada sang ratu.

"hiks…hiks.. maaf..maafkan aku…"

"KAU PIKIR ANUGRAHKU BISA SEENAKNYA KAU NODAI ?! INGATLAH SIAPA DIRIMU SEBENARNYA!"

"tapi aku tak bisa menyerahkan anakku pada suamiku wahai dewa…hiks..hiks.."

"KAU DIPERBUDAK NAFSU HINGGA BAYI YANG KAU LAHIRKAN MENJADI KORBAN BUSUKMU!"

"aku tak pernah bermaksud seperti itu..hiks…hiks…ku mohon… ampunilah ..hiks…aku…"

"AKU MENGUTUKMU, RATU MATAHARI. SELURUH HIDUPMU, JIWA DAN RAGAMU AKAN TERIKAT PADA ANAKMU! KAU AKAN SELALU TERIKAT PADANYA, HIDUP MATIMU AKAN TERGANTUNG PADA DIA!"

Sebuah petir menggelegar keras di langit kala kutukan itu terucap. Kedua iris sang ratu terbelalak seketika. Tubuhnya makin bergemetaran hebat, ia hampir menjatuhkan keranjang berisi bayi yang baru saja ia lahirkan. Ia gerakkan engsel lehernya pelan menatap bayi dalam keranjang dibawahnya. Sekali lagi, ia angkat tubuh mungil yang berkulit kontras dengannya itu dan merekatkannya dalam pelukan.

Tangis yang lebih hebat pun pecah, sesal atas permohonan ampun yang tak dapatkan jawaban menjalar keseluruh tubuhnya. Ia pandang bayinya, lalu ia belai pelan surai biru gelap anaknya, melewati pelipis hingga pipi kenyalnya.

"Maafkan aku putraku..hiks..hiks…"

Tak ada satupun kata dalam bahasa manapun bisa ceritakan betapa ia sangat menyesali semua ini. bayi yang harusnya kini disambut bahagia oleh Akashi, bayi yang seharusnya kini disorak-sorakkan namanya, yang dinanti-nantikan kehadirannya.

Namun tangan takdir terlalu kuat untuk merobek alur cerita

Sekali lagi ia daratkan ciuman hangat di ujung dahi sang bayi, lalu meletakkannya kembali pada keranjang yang sempat kosong tadi. Dimulailah bibir mungil sang ratu matahari nyanyikan lagu tidur untuk anaknya. Dalam bahasa peri yang dulu sering dinyanyikan oleh orangtuanya ketika ia masih berada di kayangan, kini ia putar lagi lirik sendu pembawa tidur

Senandung lagu nestapa perpisahan itu

Suryadev so gaye, Chayya Andhera

[Matahari telah tidur, dan sekarang sudah gelap]

Chup-chaap ye gagan so gyi dhara..

[diam-diam sang langit tidur, begitu pula dengan dunia]

Tu bhi so jaa, Laal mere

[tidurlah sayangku]

Kehna na maa ka, tu taal de

[Jangan biarkan perkataanku ini pergi]

So jaa mere..laaal..re…

[Tidurlah sayangku, Tidurlah..]

So ja mere laaal re…

[Tidurlah anakku, Tidurlah..]

Tu Hriday ka mere, Tukraah

[kau adalah bagian dari hatiku]

Mere naina ka h tu taara…

[Juga bintang bagi mataku]

Meri bhul kshama tu taara..

[Dan maafkanlah perbuatanku]

Mera pyaar, tu mera dulaara..

[sayangku, kau adalah anakku]

Godi mere, mamtaa tarpe..

[Dalam pangkuanku, cintaku mati]

Kuchh bhi nhi, baas laachaari h..

[Tak ada apapun disana, hanyalah keadaan]

Perlahan wajah mungil dalam timangannya meredupkan kedua kelopak mata. Kise masih terisak, berusaha menahan sebisanya agar ia tak mengganggu jalan sang bayi menuju ladang mimpi indah. Ia merapatkan dekapannya,

Suryadev so gaye, Chayya Andhera

[Matahari telah tidur, dan sekarang sudah gelap]

So jaa mere laaal reee..

[tidurlah anakku, tidurlah]

So ja mere laaal reee…

[Tidurlah anakku, Tidurlah]

Ketika bait terakhir telah habis, sang bayi telah tertidur pulas dalam balutan selimutnya. Tapi tangis sang ratu masih belum berhenti juga.

"semoga para dewa melindungimu anakku, hiduplah, temukan jalanmu sendiri kembali padaku suatu nanti…hiks…"

Tak pernah ia bermaksud lakukan semua ini. putra yang seharusnya ia timang bahagia bersama dengan sang emperor, putra yang seharusnya menjadi kebanggan Rakuzan, putra yang nantinya akan meneruskan tahta sang emperor.

Kise melangkah pelan sambil mengisak sedih mengikuti arah sungai membawa keranjang bayinya. Sekali lagi ia tak pedulikan nyeri di perut atau bahkan kucuran darah segar yang masih mengalir diantara kedua kakinya. Tangis pedihnya tak bisa dilukiskan oleh apapun, kecewanya lebih dalam dari palung laut.

Hingga akhirnya ia sampai di ujung arah sungai yang membelah menjadi dua arah dan ia tahu ia tak dapat meneruskan lagi langkahnya. Tersungkur diatas tanah bertatap beratnya beban melepas buah hatinya. Keranjang tempat putranya berada telah menjauh darinya. sakitnya mulai terasa, dari hati dan dada merambat hingga sakit di tubuhnya karena baru saja melahirkan.

Ia berusaha bangkit dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Melangkah tertatih menuju sebuah gubuk kecil yang tak jauh dari sisi sungai tempatnya bersembunyi selama masih mengandung. Disana ia membuka guci kecil tempatnya menyimpan gandum. Ia merogohnya dalm-dalam dan ketika mengangkat tangannya keluar, sebuah kilatan cahaya menyilaukan matanya sesaat.

Sebuah sasak rambut yang dulu selalu ia kenakan,

Sasak rambut keperakan dengan permata merah terindah ditengahnya.

Lalu Kise melepas pakaiannya. Melucuti habis dirinya dari kain yang berlumuran darah. Ia kemudian mengambil sebuah pakaian dari dalam lemari kecilnya, sebuah gaun emas indah yang terlipat rapi dan terlihat masih indah walau Sembilan bulan lamanya ia tak memakainya.

Ia kenakan gaun itu, lengkap dengan kerudung tipis transparan berwarna emas

Di ujung kepalanya ia tancapkan sasak rambut tanda ia seorang ratu

Ia basuh habis sisa-sisa air matanya, mengelabui wajahnya dengan bedak-bedak

Merapatkan tali pengikat gaunnya,

Dan dari gubuk reot pengasingan, sang ratu matahari muncul

Diiringi purnama yang mengintip dilalu awan yang terangi jalannya, waktu telah tiba untuknya berpulang

Kise Ryota menitih langkah kembali ke istana,

Sang Emperor dan Rakuzan sudah menantinya.

.

.

.


Tidak semua perbuatan buruk serupa dengan niatnya. Tidak pula semua kebaikan baik setulus niatnya.


Maaf ya ini bikinnya ngawur, maap kalo jelek T_T

mind to RnR?

#22