2 chapter sekaligus dalam sekali buka panpik.

Maaak #plak

SEKALIAN BUAT SASUKE'S BIRTHDAY! –tapitelat- *ngakak* *keselek sendal*

Staaaart!

CHAPTER 3 – WHO THE HECK IS SHE?

'Kau tidak akan pernah bisa menduga tentang hidupku, sayang. Aku dulunya adalah pacar kesayangan Sasuke-kun. Kau tahu? Ia pernah melihatmu saat kami sedang bermasalah. Melihatmu dengan teman-temanmu. Dan di saat yang salah. Kau terlihat cantik, anggun, manis, ramah, dan segalanya bagi Sasuke-kun. Seketika itu juga, Sasuke-kun langsung jatuh cinta padamu. And that... Pissed me off!'

Sialan kau, Karin! Ini memang dimensimu, tapi―!

'But what? Sasuke-kun itu hanya mencintaiku! Aku bisa merasakannya. Selalu. Tapi sekarang ada kau! Dasar pengganggu! Tapi apa kau tahu? Sasuke-kun hanya memikirkanku saat melihatmu. Itu karena sifatku yang sama denganmu, sama-sama periang! Memikirkanku! Hahahahahahahaha!'

Shut the hell up, Karin! Ini pikiranku... Itu dia! Karena ini pikiranku, aku dapat berpikir apapun! Bahkan membunuhmu, Karin! Heh. Ini pikiranku. Itu artinya semuanya yang terjadi di sini hanya tipuan, benar kan?

'Oh, jadi kau sudah tahu rahasia dimensiku, ya? Hm... Kalau begitu kau akan kulepaskan. Aku akan tetap berada di kehidupanmu dan kupastikan kau akan menderita. Lihat saja, Sakura'

Setelah Karin berkata seperti itu, aku siuman.

"Sakura!"

Ah... Salah. Sepertinya aku masih pingsan. Mana mungkin Sasuke-kun memanggilku? Tapi kenapa... Naruto, Ino, dan Sasuke-kun ada di sini? Dan Hinata masih sudah bersama Naruto? Oh iya. Baka. Aku meminta tolong Ino memanggil 'bala bantuan' saat aku menuju sekolah. Dasar baka Sakura.

"Sadar, Jidat"

"Apa katamu? Dasar―"

"Hn"

Ugh! Dasar patung hidup! Hn mulu! Sabar, Saku... Hinata first.

"Hinata...?"

"Dia sudah aman, Sakura... Arigatou sudah menghubungiku" kata Ino.

"Yosh! Ino benar! Dan kau berani sekali kesini sendirian, Sakura-chan! Padahal banyak hantu yang... yaah... Kau tahu sendiri.." kata Naruto, bergidik ngeri melihat 'itu'

"Hn"

Ugh. Dia 'hn' lagi. Dan itu (sangat) membuatku kesal.

o0o

(SKIP TIME)

KRRRIIIIIINGGGGG

Huaaaah... Jam wekerku memang tidak bisa diajak kompromi. Padahal sudah di set jam 05.00, tapi selalu berdering jam 04.45.

"Huaahmmm... Ohayou Kaa-san, Tou-san" kataku sambil menoleh ke foto orang tuaku. Sejujurnya aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Kejadian yang kemarin sangat membuatku percaya pepatah. Never judge someone by its cover.

Dulu, kupikir itu hanya pepatah semata, tapi ternyata itu benar. Ah, mungkin aku terlalu terbuka. Langsung percaya saja kalau orang yang tidak kukenal dekat itu orang baik. Ah, sudahlah. Sudah pukul 05.15.

o0o

Hari ini aku tidak memakai seragam. Baju bebas, maka segalanya bebas kecuali pelajarannya. Aish, aku benar-benar malas dengan kata-kata kecuali. Eh, aku belum bilang, ya? Setiap hari Rabu, sekolahku memperbolehkan memakai baju bebas. Jadi, hari ini aku akan memakai kemeja putih berlengan pendek dengan ujung kemeja diikat, rok pink selutut, dan sepatu sneakers. Poniku kusisir menutupi mata kiriku. Rambut kubiarkan tergerai, dan memakai bando ikat berwarna putih.

Lalu setelah itu aku segera membuat sarapan. Meski tidak terlalu berbakat, paling tidak aku bisa masak. Seperti biasa, aku sarapan sendiri. Setelah selesai, aku mencuci piring dan merapikan pakaian.

Segera aku meraih tas, dan segera pergi ke sekolah. Namun saat aku berbalik setelah mengunci pintu rumah, yang kulihat adalah...

"Lama sekali, pink"

...Sasuke, di mobilnya, menungguku.

"A-apa? Kenapa.. Bagaimana... Kapan... Tahu?" kataku sembari melongo. Kapan, ya, aku memberi alamatku kepada Sasuke-kun dan yang paling penting, kapan aku minta diantar?

"Ino" sahutnya singkat. "Sudah cepat naik" lanjutnya.

"Hah? Kenapa? Ada apa?"

"Naik"

"Iya, iya"

Aku segera naik ke mobilnya. Yah, lumayan lah, tumpangan gratis. Tidak buang tenaga sendiri. Setelah mobil mulai jalan, barulah aku bersuara.

"Ada ap―"

"Hn"

Apa? Disela hanya untuk menjawab 'hn'? Apa-apaan?

"Aku hanya―"

"Rumahku dekat sini"

"Ummm... Jadi?"

"Sekalian"

"Oh... Ternyata peduli juga. Kupikir kau benar-benar menyebalkan" kataku asal, agak kesal.

"Hn"

Selalu 'hn'. Pasti.

"Hei"

"A-ah? Apa?"

"Soal pertarungan itu, tenang saja. Kami akan membantumu"

Ah. 'Kami'. Bukannya 'aku dan...' Aish. Namanya juga Sasuke. Eh, kenapa hening lagi?

"Hei, Sasuke" panggilku memecah keheningan.

"Hn"

"Kenapa kau tahu aku akan bertanya seperti tadi?"

"Kau mudah ditebak"

"Hah?"

"Sifatmu ceria dan tsundere. Rata-rata orang akan begitu kalau tiba-tiba mobil kenalannya ada di depan rumah tanpa diberitahu"

"Tumben 2 kalimat"

"Hn"

"Sasuke, boleh tidak, aku tanya sesuatu?"

"Hn?"

"Kau menyukaiku ya?" tanyaku sambil mati-matian memasang muka datar. Padahal hampir blushing. Untunglah berhasil. Aku sempat melihat semburat merah tipis dan ekspresi terkejutnya. Namun ia segera memasang wajah datar lagi.

"Hn"

"Hah? Itu artinya iya?"

"Tidak"

"Oh. Jadi beg―"

"Tahu dari mana?"

"Apa? Tadi kau bil―" Ia memandangku tajam. Waduh, sepertunya setiap dia bertanya, aku harus menjawab. Tidak cuma harus. Wajib, kudu, mesti. "Oke, oke. Tapi bukankah itu tidak penting? Aku hanya membutuhkan jawabanmu. Bukan pertanyaanmu, Sasuke"

Dia menghela napas.

"Ya, lalu?"

"Tidak. Aku hanya bertanya saja" jawabku. Aku mengalihkan pandanganku ke jalan. Aku menghela napasku. Aku senang, memang. Serius. Tapi kenapa aku merasa seperti ini? Sedih, entah mengapa. Ugh, sial.

"Ah, sudah sampai. Terima kasih, Sasuke"

Hanya itu yang dapat kusampaikan. Ya, hanya itu. Memangnya aku harus bilang apa lagi? Ah, mungkin otakku sudah agak error sedikit.

Aku berjalan menuju kelasku, dan yang kulihat adalah―

"Halo, Saki" sapanya. Bersama Hinata.

―Karin bersama Hinata.

"A-apa yang―"

"Yosh! Doushita, Sakura-chan?" potong Naruto.

"A.. D-daijoubu... Eh, ohayou minna!" sapaku ceria. Tapi... sekarang jauh berbeda. Hanya Ino dan Naruto yang membalas sapaanku.

"E-eh, kok...?"

"Sabar ya, Pink"

Apa-apaan ini?! Karin mulai membuatku seperti ini dan Sasuke cuma bilang 'sabar, ya'. DUNIAKU SEPERTINYA TERTUKAR DENGAN DUNIA ORANG LAIN!

Ah... Tiba-tiba kepalaku pusing. Aneh, biasanya aku selalu sehat-sehat saja. Eh, ini bukan karena aku dicuekkin!

Dengan segera aku menuju tempatku duduk. Dan sialnya lagi, Sasuke sedang ingin mencari masalah denganku.

"Sasuke, tolong pindahkan tasmu" pintaku.

"Hn"

"Sasuke, aku serius" aku berkata sambil memasang tampang malas. Sudah pusing, diberi masalah, lagi. Indahnya hidupku.

"Hn"

"Sasuke..." Ugh, sial. Kepalaku benar-benar terasa sakit.

"Mukamu pucat" katanya, akhirnya memindahkan tasnya.

"Ya. Apapun. Terserah. Biarkan saja" kataku asal. Benar-benar malas berbicara.

Karena Iruka-sensei sudah datang, aku segera menaruh tasku dan segera duduk sambil menutup mataku dengan telapak tanganku. Sial. Pandanganku mulai berputar. Aku juga mulai batuk-batuk, seperti orang gugup. Sekilas kulihat Sasuke menatapku khawatir.

"Haruno, kau yakin bisa ikut pelajaran?" tanya Iruka-sensei. Sepertinya dia melihatku.

"A-ah? Aku akan berusaha" kataku menepis rasa sakit.

Kupikir aku bisa bertahan, tapi nyatanya tidak.

"Hei" panggil Sasuke menyadarkanku.

"Ya? Gomen ne Sasuke, kepalaku sakit. Aku―"

Semuanya gelap.

Author's Crazy Area

Moshi-moshi para readers.

Gomen ya. Ciput udah PHP-in bilang apdet, ternyata apdetannya udah beda penname-nya, aneh banget lagi. Gomen, Ciput lupa password account Ciput.

Jeh, ini Ciput nulis cerita sama Author Crazy Area aja sambil ngelawan ngantuk.

JADI... GOMEN CERITA JELEK!

Ya udah, Ciput apdet 2 chap sekaligus. Maunya case ini diselesaikan di chap 4. Jadi, chapter 5 ada yang mau req? Pokoknya haruus masuk akal.

Jaa~ Ciput ngantuk bgt. Mau tidur. Jaa~ Oyasumi~