Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso,
Kuroko no basuke punya Tadatoshi Fujimaki,
Free! (Anime) bukan punya saya. Yang paling jelas fanfc ini adalah punya saya.
Terimakasih yang sudah merivew dan menyukai fanfic gaje nan aneh ini:D *bow
Perkenalan Karakter Utama
Akane adalah Ciel Phantomhive yang terlahir kembali. Tapi bukanlah menjadi seorang lelaki, tapi menjadi seorang wanita. Awalnya Ciel tidak ingat dan bingung akan mimpi buruk yang selalu dialaminya. Lalu ketika Sebastian mengukir kontrak lagi di matanya, barulah Ciel bangun dan ingatan yang hilang kembali lagi.
Renshi adalah sahabat Akane. Renshi mengenalnya ketika kelas 3 SMP dulu. Renshi merupakan seorang gadis berambut hitam yang mempunya mata pink soft. Renshi gadis yang periang dan pemberani. Dia kadang suka anggun tanpa dia sadari. Terkadang juga kelewat konyol jika sedang bercanda. Tapi jika marah begitu menyeramkan.
Kira adalah sahabat Renshi dan Akane. Sama seperti Renshi, Kira mengenal Akane dan Renshi ketika kelas 3 SMP dulu. Kira merupakan seorang gadis berambut coklat yang mempunyai mata coklat keemasan. Kira gadis yang biasa-biasa aja alias normal. Tetapi kadang diluar dugaan, Kira suka asal ceplos. Bukan asal ceplos ngeselin tapi asal ceplos yang bikin orang ketawa. Jika Kira marah dia hanya diam saja.
Chapter 3
Same As The Previous Time
xxxxxxxxxxx
Akane kini berada di atas atap gedung sekolah. Kotak yang dipegangnya itu bukanlah kotak sembarangan. Kotak itu merupakan kotak dari Kerajaan Inggris. Akane adalah watchdog Ratu Inggris. Dia ditugaskan sang ratu untuk pindah ke Jepang sementara. Karena belakangan ini, banyak para kiriminal Inggris yang lari ke Jepang dan menyembunyikan identitas mereka.
Akane membuka kotak itu. Sepucuk surat terdapat di dalamnya. Akane membuka surat itu dan mulai membacanya
Untuk Ciela
Halo sayangku, bagaimana tinggal di sana? Sudah setahun kamu di Jepang ya. Cielaku yang tersayang, ada salah satu buronan polisi di sini melakukan aksi pembunuhan brutal di sana. Dia disebut-sebut sebagai psikopat gila dan tertangkap di rumah sakit jiwa. Sekarang dia berhasil kabur. Aku takut Negara ini tercoreng nama baik, jadi aku harap kau segera mengeksekusinya. Jangan biarkan dia mencoreng nama baik negara kita.
Sivilia.
xxxxxxxx
Renshi menunggu Makoto di pintu gerbang. Kira sudah duluan daritadi bersama Nanase. Nagisa bareng sama Rei karena rumah mereka satu arah. Gou dan Rin juga sudah pulang bersama. Sedangkan Akane sudah pulang daritadi sebelum mereka semua.
"Makoto-san kok lama ya?, apa aku susul aja ya?" gumam Renshi bingung
"Are? Renshi?" ujar beler khas Murasakibara yang kebetulan baru pulang juga.
Murasakibara pulang bersama Akashi, Midorima dan Kise
"Murasakibara-san!" ujar Renshi senang
"Kau kenapa belum pulang?" tanya beler khas Murasakibara
"Iya, aku lagi nungguin Makoto-san. Murasakibara-san juga kenapa baru pulang?" tanya Renshi
"Aku habis latihan. Rumahmu dimana?" tanya beler khas Murasakibara
"Aku di (Renshi menyebutkan alamatnya), Murasakibara-san dimana?" tanya balik Renshi
"Aku di (Murasakibara menyebutkan alamatnya)" ujar beler khas Murasakibara
"Gimana kalo bareng aja? Kami mau makan diluar, sekalian kau gabung" ujar beler khas Murasakibara
"Maaf, tapi aku nggak bisa Murasakibara-san. Aku sudah janji sama Makoto-san" ujar sedih menyesal Renshi
Murasakibara diam. Wajahnya datar tapi beler tapi ada kesel di sorot matanya. Kemudian Murasakibara main pergi
"Hey! Murasakibaracchi! Chotto matte yo!" ujar Kise sambil menyusul
"Renshicchi, duluan ya!" ujar ramah Kise
"Hm" ujar Renshi yang menganggukan kepala
Akashi memperhatikan Renshi. Renshi yang tersadar akan diperhatikan, Renshi balik memperhatikan Akashi
"Akashicchi! Ayo cepaat!" teriak Kise yang sudah jauh
"Iya aku datang!" balas Akashi
'Perasaan aku aja apa emang tadi Murasakibara terlihat marah ya?' pikir bingung Renshi
"Renshi!" panggil Makoto kemudian
"Makoto-san!" ujar senang Renshi
Makoto berlari terburu-buru menghampiri Renshi
"Ha..hah...maaf Renshi aku terlambat. Tadi kunci lokerku ilang, maaf ya telah membuatmu menunggumu lama" ujar menyesal khas Makoto
"Iya nggak papa kok, emangnya gimana ceritanya kunci loker bisa ilang?" tanya ramah nan lembut Renshi
"Tadi gara-gara dapet berita ini semuanya langsung panik buru-buru pulang. Terus kayanya aku lupa menaruh kunciku gara-gara panik, maaf ya" ujar menyesal nan sedih khas Makoto
"Iya nggak papa kok" ujar lembut Renshi sambil tersenyum lembut
Makoto tersenyum khasnya
xxxxxxxxxxxx
Akane tengah meminum tehnya di ruangan Akane. Seperti biasa, Sebastian setia berdiri di samping Akane.
"Ojou, hari ini akan ada tamu Tuan Grend Traucia dari Perusahaan Traucia nanti malam" ujar Sebastian
"Tuan Grend?" tanya Akane tanpa melihat Sebastian
"Dia bermaksud untuk membuka dunia bermain anak-anak. Dan dia membutuhkan produk Centanaria untuk dijual kepada anak-anak " ujar Sebastian
"Souka" ujar Akane sambil beranjak dari bangkunya
"Beri dia sambutan yang hangat" ujar Akane sambil tersenyum khasnya dan berjalan ke luar ruangan
"Yes, my lord" ujar khas Sebastian dengan gaya khasnya dan tersenyum khasnya
xxxxxxxx
Di kamar Kira, Kira mager mengerjakan PRnya. Kira malah asik dengan ponselnya sambil tiduran di kasur. Tiba-tiba Akashi menelpon Kira
"Ada apa Akashi-san?" tanya Kira
"Kira, rumahnya Akane dimana?" tanya Akashi di seberang sana
Kira memasang muka dingin, tapi dia berusaha berucap seperti biasa
"Emangnya kenapa Akashi-san?" tanya balik Kira
"Ada sesuatu yang harus kubicarakan padanya"
Kira diam sejenak
"Nggak tau" ujarnya kemudian
"Kok nggak tau?"
"Akane itu tertutup. Dari dulu tak ada yang tau dimana rumahnya" ujar Kira
"Aneh, bukankah kalian bertiga bersahabat?"
"Iya emang tapi kita nggak pernah sekalipun ke rumah Akane. Meskipun kami bersahabat tapi Akane nggak terbuka sama kita sedikitpun" jelas Kira
"Oh yaudah makasih."
"Ya"
Kira dan Akashi saling menutup ponsel masing-masing
xxxxxxxxxxxxxx
Di rumah Akashi, Akashi sedang menghadap ayahnya di ruang kerja sang ayah
"Bagaimana Akashi? Kau tau dimana rumahnya?" tanya sang ayah
"Tidak. Tidak ada seorangpun yang tahu rumah Akane yah" ujar Akashi
"Aneh, kok bisa?" tanya heran sang ayah
"Aku juga nggak tau. Kira bilang gitu tadi" jelas Akashi
"Yaudah, besok kamu ajak dia ke sini. Aku yakin dia pasti ada paman atau bibinya ataupun keluarganya yang lain" perintah sang ayah
"Baik yah" patuh Akashi
xxxxxxxxxxxx
Renshi sampai di rumahnya.
"Makoto-san makasih banyak ya sudah nganter aku pulang, maaf ngerepotin" ujar ramah nan lembut Renshi
"Iya nggak papa kok, kan kita searah juga" ujar lembut khas Makoto
"Makoto-san ayo masuk dulu, kita makan dulu" ajak ramah nan lembut Renshi
"Ah nggak usah, aku tunggu di sini aja, aku mau langsung pulang" tolak halus Makoto
"Ayolaaah, mau ya Makoto-saan" bujuk Renshi
"Nggak usah, nggak papa kok. Aku langsung pulang aja" tolak Makoto yang semakin halus
"Makoto-saaaan" rengek Renshi yang menarik-narik jaket Makoto
Baru Makoto mau ngomong, udah di sela oleh Renshi
"Makoto-saaaaaaaaan" rengek bujuk Renshi
Renshi mengeluarkan kitty eyes. Makoto sweatdrop. Kitty eyes Renshi semakin lama semakin memalas. Makoto semakin terdesak. Semakin memelas, memelas, memelas
"Hah, baiklah" ujar mengalah khas Makoto yang tidak tahan lagi melihat kitty eyes Renshi
"Yey!" ujar senang Renshi sambil mengangkat kedua tangannya
"Tadaimaaa. Ibuuuu!" panggil Renshi yang masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Makoto di belakangnya
"Okarinasai, loh itu siapa Renshi" tanya heran sang ibu yang datang menghampiri Renshi
"Bu, ini kakak kelasku. Dia ketua klub renang, namanya Makoto" ujar Renshi
"Selamat sore tante" ujar ramah khas Makoto
"Ooh temannya Renshi ya, masuk-masuk. Renshi kamu ganti baju dulu sana, minum dan cemilan biar ibu siapkan" ujar ramah nan lembut sang ibu
"Bu, sekalian makan malam bersama kita nggak papa kan bu? Makoto-san udah nganter aku pulang soalnya" pinta Renshi
"Tentu, kebetulan ayah nanti nggak pulang malam ini. Dia lembur" ujar ramah nan lembut sang ibu
"Yey! Makasih bu!" ujar senang Renshi
"Iya sayang" ujar lembut sang ibu
At Evening
xxxxxxxxxxxxxx
Mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan sebuah mansion luas dan besar. Mansion ini bergaya seperti tahun 1800-san. Seorang pria berumur 28 tahun berambut coklat yang memiliki mata coklat juga keluar dari mobil.
"Selamat datang Tuan Grend Traucia" sapa ramah khas Sebastian yang menyambut kedatangan pemuda itu
"Ooh jadi ini ya rumahnya. Kuno sih tapi ada nilai antiknya tersendiri" ujar Grend yang menilai mansion itu
"Mari Tuan Grend, lewat sini" ujar ramah khas Sebastian sambil bergaya menunjukan jalan khas Sebastian
Grend dan Sebastian masuk ke dalam mansion.
'Desainnya ala Orang Eropa 1800-an, huh?' pikir Grend
Kemudian, Grend dan Sebastian berjalan menuju halaman belakang
Meja panjang sudah tertata rapi yang berhiaskan vas bunga cantik di tengahnya. Hanya ada 2 kursi, dan itu juga sama-sama di ujung. Di salah satu ujung, duduk seorang wanita manis bergaun sangat manis. Matanya yang bulat sempurna dengan warna biru sapphire begitu indah. Rambut greyishnya yang super lurus terkucir dua membuat dia tampak semakin manis.
"Anda...Lady Ciela...?" tebak Grend terkejut melihat Akane
"Iya. Senang bertemu dengan Anda, Tuan Grend" ujar ramah Akane
"Tidak saya sangka, Anda begitu muda Nona Ciela" puji Grend
"Tuan Grend, silahkan" ujar ramah khas Sebastian sambil menarik kursi untuk Grend
"Ah ya, terimakasih" ujar Grend yang duduk.
Sebastian menghidangkan makanan yang sudah siap di troli. Sebastian memberikan jatah Grend
"Silahkan" ujar ramah khas Sebastian sambil menyerahkan jatah Grend
"Dekorasi makan malam yang begitu menakjubkan Lady Akane, apa ini semua pelayan Anda yang membuatnya?" tanya kagum Grend
"Ya, semua ini adalah kerjaan pelayanku" ujar bangga Akane
"Tapi saya tidak melihat pelayan yang lain? Apa mereka sedang ada di dapur?" tanya Grend
"Mereka semua ada di sini" ujar ramah Akane
"Dimana? Saya hanya melihat butler Anda" ujar bingung Grend
Akane hanya tersenyum
"Masaka...?! Dia..."
"Tepat sekali, Tuan Grend. Butlerku adalah satu-satunya pelayan di sini" ujar berwibawa Akane
"Majikan saya tidak membawa pelayan yang lainnya. Jadi hanya saya saja yang berada di sini" ujar ramah khas Sebastian
"Haha, Anda mempunyai butler yang hebat Lady. Mansion ini sangat luas dan butler Anda itu bisa mengerjakan semua tugas" puji Grend
"Dia adalah pelayanku. Sudah sewajarnya dia bisa melakukan hal kecil ini" ujar bangga Akane
"Saya sangat kagum pada butler Anda" puji Grend
"Saya hanya melakukan apa yang majikan saya perintahkan, Tuan Grend" ujar ramah khas Sebastian
"Mari kita makan, Tuan Grend" ajak Akane
"Ah ya, selamat makan Lady Akane"
Setelah makan malam, Akane dan Grend pergi ke ruangan biliyar
"Tuan Grend, Anda pasti bisa bermain permainan mudah ini kan?" tanya Akane yang nadanya sedikit merendahkan Grend sambil diberikan tongkat oleh Sebastian
"Tentu saja, mana mungkin aku tak bisa memainkan permainan ini" ujar bangga Grend sambil menerima tongkat dari Sebastian
"Kalau begitu, saya ingin melihat Anda bermain, Tuan Grend" ujar Akane sambil tersenyum sombong khasnya
"Jangan meremehkanku, Nona Ciela" ujar Grend agak kesal terhadap sikap Akane
Akane tersenyum smirk secara diam-diam di bibirnya. Grend mengambil bola putih dan bersiap-siap untuk membuat semua bola yang terbentuk segitiga itu masuk ke dalam lubang yang tersedia.
TAK
Bola putih itu menggelinding setelah disundul oleh ujung tongkat Grend. Kemudian menabrak kumpuan bola di depannya. Semuanya menyebar. Bola yang masuk hanya 2 buah saja.
"Bagaimana, sudah kubilang jangan meremehkanku" ujar bangga Grend
"Memangnya siapa yang meremehkanmu, Tuan Grend?" tanya Akane dengan nada mengejek
"Cih!. Kalo gitu, bagaimana jika Anda sendiri yang mencobanya?" tanya Grend
"Tidak. Aku lewat saja, tamu adalah raja. Tuan Grend." ujar Akane dengan nada khasnya
"Memang, makanya aku perintahkan kau untuk menggunakan biliyarmu itu Nona Ciela" ujar sombong Grend ambil menunjuk wajah Akane dengan tongkat
Akane menundukan kepala sambil smirk
"Baik, jika itu yang ingin kau inginkan" ujar sombong Akane
Akane duduk menyamping di lapangan biliyarnya. Kemudian Akane bersiap-siap menyundul bola putih dengan tongkatnya
TAK
Bola putih itu tersundul. Bola putih itu menabrak bola-bola lainnya.
TUK
TUK
TUK
Semua bola masuk ke dalam lubang.
"Haah inilah mengapa permainan yang mudah membuatku bosan" ujar lelah Akane
'Cuman beruntung aja kau!' gerutu kesal Grend dalam hati
"Nona, bagaimana jika kita bermain skor?" tawar Grend
"Skor gimana?" tanya Akane
"Siapa yang dapet skor terbanyak dialah yang menang. 1 skor berarti semua bola masuk. Bagaimana kau setuju?" tawar licik Grend
"Kau yakin?" ujar smirk Akane sambil memiringkan kepala
"Tentu" tantang licik Grend
"Baik. Yang kalah maka dia akan mati, setuju?" ujar smirk Akane yang kepala sudah tegap kembali
"Ide yang bagus" ujar Grend dengan senyuman evil
xxxxxxxxxxxxxxxx
Makan malam Renshi dan Makoto berjalan lancar. Mereka kini telah selesai makan malam. Makoto izin pamit pulang
"Makasih ya Renshi, masakan ibumu tadi enak" ujar lembut Makoto sambil tersenyum lembut khasnya
"Masakanku jauh lebih enak! Nanti aku masakin Makoto-san!" ujar senang nan semangat Renshi
Makoto sempat terhenyak, kemudian dia tersenyum lembut khasnya lagi
"Renshi, boleh aku minta nomor ponselmu? Kau kan sekarang anggota klub. Sebagai kapten aku harus mempunyai nomor ponsel anggotaku" ujar lembut Makoto
"Hmm! nomornya (Renshi menyebutkan nomor ponselnya)"
"Baiklah, nanti aku SMS. Aku pulang ya, sampai jumpa" ujar lembut khas Makoto
"Hm! Sampai jumpa Makoto-san!" ujar senang nan selamat Renshi
Makoto tersenyum khasnya. Kemudian Makoto pulang.
Renshi masuk, menutup pintu dan...
"Yes! Akhiirnya aku bisa deket sama Makoto-san!" ujar senang Renshi sambil melakukan gerakan "Yes!"
KRIIING
KRIING
KRIING
Telpon rumah Renshi berdering
"Halo?" jawab Renshi yang mengangkat telpon
"Maaf, bisa bicara dengan Renshi?" tanya seorang cewek dari seberang sana
"Ini siapa?" tanya Renshi
"Kira"
"Oh Kira, ini aku. Ada apa?" tanya Renshi
"Aku nanti boleh ke rumahmu nggak?"
"Emangnya kenapa?"
"Orang tuaku mau pergi. Aku nggak mau sendirian di sini, kau tau kan psikopat sedang berkeliaran di daerahku. Aku mau nginep"
"Ooh boleh boleh! Aku ke sana sekarang ya!" ujar Renshi
"Nggak usah, aku bisa sendiri, lagipula orangtuaku masih siap-siap"
"Nggak papa! Sekalian aku mau cerita hehe, aku jemput pokoknya!" Renshi maksa
"Yaudah. Aku tunggu ya Renshi"
"Oke!" ujar senang dan semangat Renshi
xxxxxxxxxxxxxxxx
Sudah pukul 10 malam. Akane dan Grend masih bermain biliyar. Akane tampak senang bagaikan iblis yang berhasil menghasut manusia. Sedangkan Grend tampak kesal
"Tuan Grend, aku sudah mendapat skor 100 sedangkan kau baru 10. Padahal aku sudah sengaja melewatkan giliranku" ujar remeh Akane
"Cih! Aku mau ke toilet" gerutu kesal Grend
Akane smirk
Di toilet Grend menggerutu terus sambil membasuh tangannya
"Dasar gadis kecil sialan! Apa-apaan sikap bicaranya itu! Mentang-mentang bangsawan dia malah seenaknya denganku. Brengsek!"
Grend mengelap tangannya dengan sapu tangan Grend yang dia rogoh sari saku celana
"Akhirnya waktunya tiba" ujar senang Grend yang melihat jam tangannya menunjukan pukul 10 malam.
Grend keluar dari toilet. Dia berjalan mengendap-ngendap dengan merapatkan tubuh ke tembok. Grend berjalan menuju dapur. Lalu dia mengambil pisau.
Grend kembali mengendap-ngendap. Grend mengintip di balik tembok
'Itu dia' gumam Grend dalam hati melihat sosok Sebastian dari belakang yang sedang berjalan
"Hey kau!" panggil Grend yang menyembunyikan sebelah tangannya ke belakang karena sedang memegang pisau
Sebastian berhenti dan menengok. Lalu berbalik badan
"Tuan Grend? Ada apa?" tanya Sebastian
Grend mendekati Sebastian. Lalu...
JLEB!
Grend menusuk jantung Sebastian dengan pisau tadi
"Ugh!" Sebastian mengeluarkan darah dari dada dan mulutnya
Grend mendorong pisau itu untuk menperdalam luka tusukannya. Bahkan sampai ujung pisau itu menembus dada Sebastian.
"Tu...an...Grend..." lirih Sebastian
Darah Sebastian mengalir. Dari mulutnya juga mengalir darah. Begitu banyak darah yang mengalir. Grend memundurkan langkahnya. Dia tetap membiarkan pisau itu menancap di dada Sebastian. Grend menatap Sebastian dengan tatapan dingin.
"Kuh!" Sebastian memuncratkan darah dari dalam mulutnya.
Sebastian jatuh terlentang dan Sebastian memejamkan matanya.
Grend masih menatap dingin Sebastian.
Di ruangan biliyar, Akane duduk di bangku antik merahnya. Akane bersandar dengan gaya angkuh. Kakinya tersilang. Dengan gaya angkuhnya Akane memainkan ponsel layar sentuhnya
"Sebastian" panggil Akane
Tapi Sebastian tidak datang
"Sebastian!" panggil Akane yang sekali lagi yang sedikit mengeraskan suaranya
Sebastian tetap tidak datang
"Sebastian!" panggil Akane yang kali ini benar-benar mengeraskan suaranya
"Cih, dia itu kemana sih?!" gerutu kesal Akane
Akane bangkit dari duduknya. Dia keluar untuk mencari sosok Sebastian.
Akane terus mencari sosok Sebastian. Ketika ketemu, mata bulat Akane semakin bulat melihat sosok yang dicarinya tiduran di karpet dengan pisau yang menancap di dadanya.
"Sebastian!" teriak panik Akane sambil menghampiri Sebastian
"Sebastian! Sebastian! Bangun Sebastian!" teriak panik Akane mengguncangkan tubuh Sebastian
Sebastian tetap tidak bergeming
"Sebastian! Bangun kubilang Sebastian! Sebastian!" teriak panik Akane lagi
Sebastian masih tidak bergeming
"Cih!" Akane berdecih lalu Akane duduk di perut Sebastian
"BANGUN KUBILANG SEBASTIAN!" teriak keras Akane sambil menampar keras pipi Sebastian
"BANGUN! BANGUN! BANGUN! KUBILANG BANGUN SEBASTIAN!" Akane terus-terusan berteriak keras membangunkan Sebastian sambil menamparnya yang semakin lama semakin keras
"Dia mati" ujar dingin Grend
"BANGUN SEBASTIAN! BERANINYA KAU MENINGGALKANKU! CEPAT BANGUN SEBASTIAN! KUBILANG BANGUN KAU!"
Sebastian masih memejamkan matanya
"KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU SEBASTIAN! BANGUN KUBILANG! KAULAH SATU-SATUNYA ORANG YANG KUPUNYA DI DUNIA INI SEBASTIAN! BANGUN KATAKU!BANGUN!"
Akane semakin lama semakin keras teriakannya dan juga tamparannya.
"Bangun...bangun Sebastian...bangun...jangan tinggalkan aku...bangun..." lirih pedih Akane yang kini mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sebastian.
"PFFTTT...WUAHAHAHAHAHAAHAHAH!" gelak keras tawa Grend
Akane masih diam dalam posisinya
"Ahahhahahahaa! Betapa menyedihkannya dirimu Cielaaaaa...!" ledek kejam Grend
Akane masih diam dalam posisinya
"Kasihan kau, kau ditinggal oleh butler kesayanganmu itu" ujar kejam Grend dengan ekspresi muka bahagia
"Kau yang melakukan semua ini?" bisik Akane yang masih dalam posisinya
"Tentu saja. Aku yang membunuh butlermu. Karena butlermu itu akan menghalangi jalanku untuk menyingkirkanmu dari dunia ini" ujar kejam Grend
Akane tidak merespon
"Dengan lenyapnya dirimu, maka tak ada lagi namanya Anjing Penjaga Ratu!. Aku akan bergerak sesuka hatiku dalam dunia bawah" ujar kejam nan bangga Grend
Akane berdiri dan menghadap Grend dengan tenangnya.
"Aku sudah tau kau memang berniat membunuhku dari awal" gumam tenang Akane yang kepalanya tertunduk
"Tapi aku tidak akan terbunuh siapapun" ujar tenang Akane yang melihat wajah Grend penuh dengan kepercayaan sekaligus menantang
"Ha?" tanya dingin Grend yang melihat Akane super dingin
"Tikus got seperti dirimu mana mungkin bisa membunuhku" ujar angkuh Akane dengan senyuman angkuhnya
"Brengsek, beraninya kau!"
PLAK
Grend menampar keras Akane sampai Akane tersungkur.
"Dasar bocah kurang ajar!"
PLAK
PLAK
PLAK
PLAK
PLAK
Grend kembali menampar keras Akane 3 kali lipat. Akane terus-terusan di tampar hingga ujung bibirnya berdarah. Pipi Akane juga ada baret-baret dari cincin Grend.
Akane diam tidak bergeming. Grend menjambak poni Akane hingga kepala Akane terangkat ke atas
"Wajah yang manis, jika kita seumuran aku pasti akan menikahimu, apalagi jika sebelah matamu ini tidak cacat" puji Grend sambil melepaskan eyepatch Akane
"Maaf saja, Aku tidak akan pernah mau menikahi tikus got seperti dirimu" uja tenang Akane
"Brengsek!, sudah babak belur masih aja kurang ajar. Dasar bocah keparat!" ujar Grend
Grend kembali menampar Akane. Akane kembali tersungkur. Grend menjambak poni Akane lagi
"Kau akan kujadikan budakku, Ciela Centanarian" ujar bangga Grend
"Hey, berapa lama kau akan membereskan ini?" tanya tenang Akane
"Huh?" Grend bingung
"Berapa lama kau akan pura-pura tidur?" tanya tenang Akane
"Yare yare." ujar khas Sebastian yang mulai menggerakan jemarinya
"Ti...tidak mungkin...! Mustahil!" ujar terkejut ketakutan Grend
Sebastian sambil menggerakan tubuhnya untuk bangun dia berkata khasnya, "Lagi-lagi diperlakukan kaya gini. Menyebalkan"
Kemudian Sebastian mencabut dengan tenangnya pisau itu.
"Padahal aku baru saja mencucinya, dan sekarang pisau ini kotor lagi. Haah, karpetnya juga jadi kotor. Baju ini juga, padahal ojou baru saja membelikannya seminggu yang lalu" ujar khas Sebastian yang sok-sok sedih melihat karpet, pisau dan bajunya
"Itu karena kau lengah, bodoh." ujar Akane yang poninya masih terjambak ke atas oleh Grend
" Maaf, habisnya aku baru saja menyiapkan seprai baru untuk ojou, tapi malah tertusuk gini" ujar ledek khas Sebastian
"Mo...monster...kau...kau monster!" ujar ketakutan Grend
tersenyum evilnya yang khas
"Tidak tuan Grend, saya bukan monster. Watashi wa akuma de shitsuji deskara (Aku hanyalah iblis pelayan)" ujar khas Sebastian dengan senyuman khasnya
"A...akuma...?!" Grend masih ketakutan
Sebastian tersenyum khas.
TAP
TAP
TAP
Secara perlahan Sebastian melangkah mendekati Grend. Pisau itu juga masih Sebastian pegang. Grend dengan panik dan buru-buru melepas dasinya
"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhnya!" ancam panik Grend yang melilitkan dasinya ke leher Akane
"Beraninya menyiksa anak kecil. Yaampun. Memang benar ya kata Anda, sifat manusia tidak berubah meskipun zaman sudah berubah." ujar khas Sebastian
"Cepatlah, aku mau istirahat" ujar tenang Akane
"Tapi jika saya mendekat, Anda akan dibunuh" ujar ledek goda khas Sebastian
"Kisama!Kau mau melanggar kontrak?" ujar Akane yang mulai kesal
"Aku ini adalah pelayan Anda yang paling setia" ujar khas Sebastian
Grend makin ketakutan dan panik
"Ojou, sudah kuberitahu apa yang harus kau lakukan jika aku menolak perintahmu" ujar khas Sebastian
Sambil membuka mata kanannya, Akane berkata, "Ini perintah! Cepat selamatkan aku!" lambang kontraknya menyala
"A-apa itu?!" ujar kaget Grend yang melihat lambang pentagram bersinar di mata kanan Akane
"Yes, my lord" ujar patuh khas Sebastian dengan gaya patuh khasnya
Hanya dalam hitungan 1 detik,
TUK
Pisau yang berlumuran darah itu jatuh ke atas karpet. Sebelah tangan Grend buntung dengan darah yang mengalir sangat deras
"AAAAAAAHHHHH!" Grend menjerit kesakitan
Sebastian membantu Akane berdiri.
"Yaampun, luka Anda parah juga ya" ujar sedih khas Sebastian sambil memegang pipi Akane
Akane berdecih pelan sambil menepis kasar tangan Sebastian
Akane melihat Grend penuh dengan ekspresi dingin nan angkuh.
"Permainan yang membosankan" ujar dingin nan angkuh Akane
"Hey kau, iblis! Jadilah pelindungku! Bekerja samalah denganku! Akan kuberikan persembahan sebanyak apapun yang kau minta! Jadi tolonglah...kerja sama denganku...!" pinta Grend yang kesakitan
"Maaf Tuan Grend. Aku tidak suka dengan persembahan yang rendah seperti itu." ujar ramah khas Sebastian dengan senyuman ramah khasnya
"H-haa...?" Grend makin ketakutan
Sesuatu yang hitam milik khas Sebastian mulai muncul. Sedikit demi sedikit sesuatu khas milik Sebastian itu dalam tempo cepat, berubah menjadi hitam.
"Dengan kontrak yang tuan mudaku pegang, aku hanyalah pelayan setianya." ujar khas Sebastian
Sebastian menarik sarung tangannya dengan giginya. Sekarang sesuatu yang hitam itu menjalar ke seluruh ruangan
"Memenuhi segala keinginan dan perintahnya, aku terikat oleh kontrak antara aku dengan tuan mudaku. Sebagai ganti jiwanya.
Dan jiwanya bukanlah jiwa sembarangan. Jiwanya adalah jiwa istimewa yang tidak pernah dimiliki oleh siapapun. Jiwa yang begitu berharga dan tak dapat dinilai oleh apapun" ujar khas Sebastian
"Grend, masih ingat dengan taruhan kita? Yang kalah akan mati?" tanya angkuh Akane
"Ti-tidak..." Grend makin ketakutan
"Maaf, tapi permainan ini sudah selesai" ujar angkuh Akane yang mengangkat dagunya
Kemudian angin kencang datang. Mata Sebastian menyala merah dengan senyuman smirk devil khasnya. Sesuatu hitam khas milik Sebastian semakin lama semakin mendekat dan menggerubungi Grend
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Grend berteriak keras ketakutan
xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Renshi sudah berada di Rumah Kira. Kira menyambutnya dan langsung mengajak Renshi ke kamarnya. Renshi merebahkan tubuhnya di kasur Kira. Kira duduk di bangku belajarnya
"Renshi" panggil Kira
"Apa?" tanya Renshi sambil bangun duduk
"Menurutmu apa yang harus dilakukan jika kita menyukai seseorang tapi seseorang itu menyukai sahabat kita sendiri?" tanya Kira
"Hmmmm apa ya?" Renshi berpikir
Kira menantikan jawaban
"Kalo aku sih palingan jujur sama sahabat aku" ujar Renshi
"Jujur gimana?" tanya Kira
"Jujur kalo cowok yang disukainya itu sama. Nah terus nanti bersaing sehat deh" ujar Renshi
"Tapi sahabat kita nggak suka, gimana?" tanya Kira
"Kalo itu sih terserah dianya suka apa nggak. Asal saling jujur pasti bisa bersaing sehat, terus palingan kalo berantem nggak parah-parah banget" ujar Renshi
"Gitu" gumam Kira
"Emangnya Akashi-san beneran suka sama Akane?" tanya Renshi
"He?"
"Udah jangan ditutup-tutupin. Aku tau kok kamu suka sama Akashi-san kan?, terus katanya Kise-san Akashi-san suka sama Akane kan? Tapi Akane sendiri nggak suka sama Akashi-san kan?" tebak Renshi
Kira diam, dia memalingkan pandangannya ke arah jendelanya
"Kira, aku tau kok kamu itu suka sama Akashi-san dan Nanase-san. Tapi Akane itu sahabat kita, kamu jangan benci Akane. Kalian berdua bisa kok bersaing secara sehat, siapapun yang terpilih nanti berarti itulah yang paling cocok" ujar bijak Renshi
Kira masih dalam posisi yang sama
"Kira, ayolah. Masa cuman gara-gara cowok aja kalian berantem. Kan kita udah sahabatan lama. Apa kau mau aku introgasi Akane siapa orang yang dia suka sebenarnya?" tanya Renshi
"Nggak usah, percuma kan. Dia itu nggak pernah suka sama siapapun. Di tembak aja langsung di tolak mentah-mentah" ujar cuek Kira
"Tapi kamu jangan marah gitu dooong, ayolah Kira. Kalo Akashi-san nggak dapet, kan kamu bisa sama Nanase-san" ujar bijak Renshi
"Aku nggak marah, cuman nggak suka terhadap perilakunya" ujar Kira
"Dia itu nggak punya perasaan. Kalo dia nolak ya nolak. Aku nggak mau Akashi-san sakit hati cuman gara-gara Akane nolak dia" ujar Kira lagi
"Tiap orang itu beda-beda Kira. Mungkin memang sifat Akane itu keras dan sekali A ya A nggak mau yang lain. Aku yakin Akane nggak bermaksud gitu kok di hatinya" ujar Renshi
"Lusa Akashi-san ulang tahun, apa kita juga harus kasih tau Akane?" tanya Kira
"Iya dong!. Akane kan sahabat kita, dia juga anggota klub basket kan?. Udahlah, jangan terlalu dipikirin. Kan kita baru masuk, jangan ngundang hal-hal ribet" ujar Renshi
"Terus kamu mau cerita apa?" tanya Kira
"Oh iya! Tadi aku makan malem sama Makoto-san! Hehhehe" ujar senang Renshi
"Dimana?" tanya Kira
"Di rumah aku! Tadi papa aku kebetulan lembur hari ini kata ibu, jadi nggak papa Makoto-san makan malem bareng" ujar senang Renshi
"Terus?" tanya Kira
"Makoto-san minta nomor ponsel aku! Hehehehe aku seneng banget! Kalo Makoto-san punya nomor aku, aku bisa SMSan, terus bisa PDKT, terus jadian deh! Hehehehehe" ujar senang Renshi
"Dih, Murasakibara-san mau dikemain?" tanya Kira
"Jadi pacarku juga!" ujar senang Renshi
"Lah? Pilih salah satu lah! Yakali pacaran sama dua orang sekaligus" ujar ledek Kira
"Kalo mereka nggak keberatan, kenapa nggak?" tanya senang Renshi seakan ucapannya itu tak ada salahnya
Kira sweatdrop
sAt Midnight
xxxxxxxxxxxxxx
Kedua orang tua Kira udah pergi. Kira juga udah di rumah Renshi. Mereka belum tidur, mereka masih mengobrol satu sama lain. Renshi tidur di ranjangnya, sedangkan Kira tidur di bawah dengan Futon yang dia pinjam dari keluarga Renshi.
"Renshi, besok aku duduk di belakang Akane ya, kamu depannya Akane. Tukeran tempat" pinta Kira
"Emangnya kenapa?" tanya Renshi
"Aku mau di belakangnya aja. Mau nggak?" tanya Kira
"Hmmm yaudah" ujar Renshi setuju
"Renshi, kenapa ya kok Akane nggak mau kasih tau rumahnya dimana?" tanya heran Kira
"Entahlah aku juga bingung. Akane juga sikapnya kaya anak cowok. Dingin terus bawaannya terus gampang judes juga" ujar Renshi yang ikut-ikutan heran
"Apa gara-gara dia kehilangan orangtuanya ya?" tebak Kira
"Mungkin juga sih. Soalnya Akane baru 10 tahun kan dia? Masih kecil udah ditinggal sama orangtuanya gitu" ujar Renshi
"Iya juga sih. Tapi aku kok ngerasa Akane itu kayak anak bangsawan ya?" tebak Kira
"Ha? Maksudnya?"
"Dari cara berjalan, sikap, sifat, tingkah laku sampai cara bicaranya itu kayak anak bangsawan. Apalagi cara dia makan, benar-benar mirip bangsawan" tebak Kira
"Apa mungkin Akane itu anak bangsawan?" tebak Renshi
"Aku pikir sih gitu. Soalnya kalo dibandingin sama kita, Akane itu beda banget sama kita" ujar Kira
"Hmmm. Tapi kalo Akane memang bangsawan, kenapa dia milih tinggal di Jepang? Kan tinggal di Inggris bukannya lebih nyaman?" tebak Renshi
"Nggak tau juga deh kalo masalah itu. Akane juga jarang masuk, sering izin, tapi nilainya tetep aja bagus" ujar heran Kira
"Iya ya, besok kita introgasi aja gimana?" ujar semangat Renshi
"Yakin? Dia nanti malah marah lagi, dia kan nggak suka ditanya-tanya tentang masalah pribadinya" ujar Kira
"Paksa! Aku yakin dia nggak bakal marah! Aku punya trik khusus!" ujar Renshi
"Trik apaan?" tanya Kira
"Pokoknya liat aja besok! Akane akan kita introgasi!" ujar semangat Renshi
"Besok kita harus izin, kita harus ke klub renang" ujar Kira
"Iya, haaah padahal hari ini kan latihan tanding sama anak kelas 1. Aku mau lawan Murasakibara-san" ujar sedih Renshi
"Udahlah, itu bisa kapan-kapan. Klub renang lagi dapet masalah, kita udah jadi anggota mereka. Daripada kena marah Gou-san terus dikeluarin" ujar Kira
"Haaaaah. Tapi nggak papa deh! Ada Makoto-san! Hihihi aku bisa ngeliat Makoto-san deh tanpa ada penghalang!" ujar semangat Renshi
Kira hanya senyum-senyum melihat tingkah Renshi yang tergila-gila dengan Makoto
"Renshi, kamu jangan bilang-bilang Akane ya" pinta Kira
"Iya aku janji" ujar Renshi
"Akane itu mencurigakan ya?" tanya innocent Kira
"Ha?"Renshi melongo
"Akane kaya berumur 13 tahun" ujar Kira
"Aku nggak ngerti kamu maksudnya apa" ujar bingung Renshi
"Dia nggak terlihat 16 tahun. Sekurus apapun, pasti masih punya dada karena sudah lebih dari 14 tahun meskipun kecil. Ini dia datar. Aku ragu dia umurnya 16 tahun" ujar ragu Kira
Renshi melempar bantal ke wajah Kira
"Ngomong gitu lagi, kamu aku kelitikin" ancam kesal Renshi
"Emang bener kok" ujar Kira dengan bentuk bibir angka 3
"Udah ah, jangan dibahas! Aku nggak suka kamu jelek-jelekin Akane! Dia itu sahabat kita! Aku mau tidur!" ujar cuek kesal Renshi yang membelakangi Kira sambil menarik selimutnya
xxxxxxxxxxxx
Akane sudah ganti baju dengan kemeja putih polos yang kebesaran dan sedang duduk di samping ranjangnya. Sebastian sedang mengobati luka Akane
"Aduh sakit! Pelan-pelan dong!" omel Akane
"Kan saya tadi sudah bilang, tahan sedikit ini agak sakit" ujar Sebastian
Akane bergumam pelan, "Cih."
Sebastian kemudian memperban luka goresan di pipinya.
"Nah sudah selesai" ujar ramah khas Sebastian yang kembali menegapkan tubuhnya
Akane tersenyum bangga angkuh
"Ada apa, ojou?" tanya Sebastian
"Menamparmu tadi benar-benar menyenangkan. Rasanya mau ngulang waktu" ujar angkuh nan bangga Akane yang berlagak angkuh
"Tamparan ojou tadi memang sangat sakit tapi saya tetap menganggap itu adalah belaian lembut dari Anda" ujar ledek goda khas Sebastian
"Nani?!" ujar Akane yang kesal terhadap ledekan Sebastian
Sebastian tersenyum innocent khasnya sampai bola matanya hilang
"Ojou, saya akan buatkan susu dulu" ujar ramah khas Sebastian
"Tak perlu, aku mau langsung tidur" ujar cuek Akane sambil merangkak ke ranjangnya
"Baiklah. Besok, lebih baik Anda libur. Lukanya lumayan parah" pinta khas Sebastian
Akane membenarkan posisinya dulu, duduk bersandar
"Aku juga males untuk masuk. Besok kau cari tau info tentang semua psikopat yang tertangkap dan info tentang orang yang menghilang dan terbunuh secara misterius" perintah Akane
"Baik" ujar patuh khas Sebastian dengan gaya khasnya
Akane mulai memerosoti tubuhnya, Sebastian mengurusi selimut untuk menyelimuti Akane. Akane tidur membelakangi Sebastian.
"Selamat malam, my lord" ujar ramah khas Sebastian sambil sedikit membungkuk khasnya
Ketika Sebastian hampir dekat dengan pintu...
"Sebastian" panggil pelan Akane masih dalam posisinya
Sebastian menghentikan langkahnya
"Tetaplah di sini sampai aku tertidur" gumam pelan Akane masih dalam posisinya
"Yaampun. lagi-lagi kau mau aku temani. Apa kau mau menunjukan sisi lemahmu?" tanya goda khas Sebastian yang membalikan badan di kalimat terakhir
"Ini hanya perintah kecil" gumam pelan Akane masih dalam posisinya
Sebastian smirk dengan mulut terbuka khasnya
Sebastian mendekati Akane. Sebastian merendahkan tubuhnya sambil berkata pelan, "Aku akan di sisimu, dimanapun, kapanpun, sampai saat terakhir"
Setelah Akane tertidur, Sebastian menaruh lilin di meja samping ranjang Akane, lalu mendekatkan dirinya untuk melihat wajah Akane.
'Berwujud wanita membuatnya semakin manis' pikir senang Sebastian sambil tersenyum gentle khasnya
Kemudian, Sebastian mencium lembut pipi Akane.
