Hana Sekar
Present
Kim Family Drabble
Cast: Kim Joonmyeon, Do Kyungsoo and Kim Jongin
Rate: K+-T
Warn: Yaoi, mpreg, Crack pairing, typo(s), bahasa campur aduk karena authornya mulai kehilangan kosakata kebahasaannya (?), aneh, gaje dsb dll
Pair: KyungMyeon/Sudo with Jongin as their baby boy
Don't like don't read please!
Kim Family Drabble
Umma's show
Jongin dengan asyik menyeruput susu pisang kesukaannya. Kedua kakinya yang belum bisa mencapai lantai ia ayun-ayunkan.
Sementara itu, Joonmyeon yang baru saja menyelesaikan teleponya segera duduk di samping putra kecilnya itu.
"Jongin-ah?" mendengar namanya di panggil, Jongin pun lantas menolehkan kepalanya ke arah Appanya yang kini tersenyum padanya.
"Kau ingatkan apa saja yang Appa katakana tadi?" Tanya Joonmyeon pada putranya yang masih asyik menyeruput susu pisangnya.
Jongin menganggukkan kepalanya antusias.
"Yep! Jongin ingat semu~anya. Tidak boleh bicara terlalu keras, tidak boleh banyak bergerak yang bisa mengganggu orang lain dan kalau Jongin ingin sesuatu, Jongin harus bicara pelan atau berbisik pada Appa. Benar, kan?" Jongin berucap dengan nada antusias. Mengulang ucapan Appanya tadi di perjalanan mereka ke teater Universitas tempat Ummanya berkerja.
Kenapa mereka ada di sana? Hari ini universitas tempat Kyungsoo bekerja –sekaligus tempat ia belajar dulu- ada pertunjukkan drama musikal tahunan, dimana Kyungsoo menjadi salah satu pemeran utamanya. Mereka berdua datang untuk memberikan dukungan mereka pada dosen muda itu.
Joonmyeon tersenyum mendengar jawaban putranya yang baru saja genap berusia 6 tahun itu. Tangannya pun terulur untuk mengacak rambut hitam putranya.
"Benar. Pintar sekali! Kalau kau bisa melakukannya, Appa dan Umma akan masing-masing memberikanmu satu bunga dan satu pita." Mendengar 'bayaran' yang akan dia dapatkan jika ia bisa bersikap baik dari Appanya, senyum Jongin pun langsung berkembang dan matanya kini berbinar.
"Jinja?" Joonmyeon mengangguk. Jongin pun lantas melompat ke lantai dan mulai melakukan 'happy dance'-nya –yang ia pelajari dari Wu brothers. Membuat Joonmyeon tertawa kecil.
Sementara putranya masih melakukan 'happy dance'-nya, Joonmyeon melirik ke arah arloji ditangan kirinya. Pukul 7.20 malam, 10 menit sebelum pertunjukkan dimulai.
"Ayo jagoan, kita berangkat." Ujar Joonmyeon seraya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian mengambil buket bunga yang sudah ia persiapkan sejak tadi.
Jongin sendiri menganggukkan kepalanya antusias. Iapun meraih tasnya yang berisi snack yang sebelumnya sudah Ummanya persiapkan sebelum ia berangkat untuk gladi resik –atau apalah itu Jongin tidak begitu mengerti-, mengenakannya, kemudian meraih tangan Appanya yang sudah terulur untuk menggandengnya.
Setelah itu, kedua ayah dan anak itu pun kemudian berjalan menuju pintu utara gedung teater Universitas kenamaan di Korea itu.
Begitu keduanya masuk, mereka langsung di sambut oleh salah satu mahasiswa yang ber-name tag 'Panitia' yang meminta undangan padanya. Iapun menyerahkan undangan mereka dan keduanya langsung di arahkan ke kursi VIP yang ada di depan.
Setelah keduanya sudah duduk di tempat masing-masing, Jongin mengeluarkan ponselnya –yang Joonmyeon berikan hanya boleh digunakan ketika ia mendapat izin atau perlu saja- dan mulai memotret sekelilingnya. Membuat Joonmyeon tertawa kecil.
"Kau suka tempatnya, Jongin?" Joonmyeon bertanya pada putranya yang cukup mahir dalam mengambil gambar itu –membuat Joonmyeon terpikirkan untuk menghadiahkan putranya ini kamera. Jongin mengangguk.
"Kalau sudah besar, Jongin ingin sekolah di sini, Appa." Ujar bocah berusia 6 tahun itu dengan mata berbinar. Tangan mungilnya tak henti-hentinya mengarahkan ponselnya ke segala arah, mencoba mengabadikan setiap sudut ruangan besar itu.
Joonmyeon tersenyum kecil mendengarnya, kemudian mengelus rambut putranya.
"Kalau begitu, Jongin harus belajar dengan baik. Masuk ke sini bukan hal mudah, loh." Ujar Joonmyeon. Jongin menghentikan gerakannya dan langsung menatap Appanya.
"Jinja?" suara Jongin tampak terkejut sekaligus sedikit kecewa. Joonmyeon tersenyum kecil, sebelum kemudian mengangguk. Gerakan mengelus rambut putranya masih ia lakukan.
"Tentu saja. Coba lihat Umma, dia pintar, kan? Appa juga lumayan. Lalu Immo dan Samchumu, mereka semua orang-orang pintar, makanya bisa masuk sini." Jelas Joonmyeon. "Asal kau belajar dengan baik, mengembangkan apa yang kau suka –"
"–Menari!"
"-Ya, menari, kalau kau mengembangkan bakat tarimu dengan baik dan melakukan yang terbaik di sekolah, kau bisa masuk di sini. Dan mungkin bisa berdiri di panggu itu, seperti Umma dan Appa." Jelas Joonmyeon lagi. Ia mengakhiri penjelasannya dengan menunjuk panggung besar yang ada di hadapannya.
Jongin yang mendengar penjelasan Appanya langsung berbinar lagi. Ia pun kemudian memandang panggung besar yang ada di hadapannya.
"Jongin akan berkerja keras. Hwaiting!" ujar Jongin seraya meninju udara. Membuat Joonmyeon terkikik kecil.
Kemudian, suara pemberitahuan bahwa pertunjukkan akan dimulai mulai memenuhi ruang teater yang penuh itu.
Jongin pun memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Kemudian ia pun memasukkan kotak susu pisangnya yang sudah habis ke dalam tas bagian depannya –nanti setelah ia keluar akan ia buang ke tempat sampah- dan mengambil yang baru.
Seiring dengan Jongin mulai menyeruput susu pisangnya, tirai besar yang tadi sempat menutupi panggung saat pemberitahuan pertunjukkan akan dimulai, mulai terbuka.
.
.
.
Setelah kurang lebih 2 jam berada di dalam, menikmati pertunjukkan yang menakjubkan, Joonmyeon dan Jongin keluar dari teater dengan wajah yang tampak begitu senang bangga. Terutama Joonmyeon, sepertinya perasaan bangga namja 30 tahun itu berlipat 2 kali.
Tentu saja. Kyungsoo melakukan perannya dengan sangat bagus –bahkan lebih bagus dari apa yang ia latih selama ini- dan itu membuatnya begitu bangga pada istrinya yang lebih muda 2 tahun darinya itu.
Lalu yang kedua, ia bangga akan putranya yang benar-benar besikap dengan baik malam ini.
Bocah 6 tahun yang biasanya tidak bisa diam dan cerewet itu benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dengan tenang, pangeran kecilnya itu memakan snacknya. Sesekali ia bertanya tentang beberapa hal yang tidak ia mengerti, dengan suara kecil dan tenang.
Bahkan ia, yang biasanya super pemalu di depan banyak orang, memberanikan diri untuk memberikan Ummanya karangan bunga yang mereka beli tadi. Sukses membuat baik Joonmyeon maupun Kyungsoo terkejut, tapi bangga bukan main pada pangeran kecil mereka.
Ah... melihat semua ini, Joonmyeon jadi ingin menghadiahkan putranya itu 5 buah pita, agar kumpulan pita miliknya bisa lengkap 25. Sayangnya, maksimal ia hanya bisa memberikan 3 dan itulah jumlah yang akan ia berikan pada pangeran kecilnya yang sejak tadi tak bisa berhenti melompat-lompat senang.
"Kau benar-benar melakukan apa yang Appa katakan, Jongin. Appa sangat bangga padamu." Joonmyeon berucap seraya menggendong putra kecilnya yang kini tertawa kecil di pelukkannya.
"Benarkah? Berarti Jongin jadi anak baik hari ini?" Jongin bertanya dengan mata yang tak pernah kehilangan binarnya sejak tadi. Joonmyeon mengangguk. Jongin pun bertepuk tangan senang. Membuat Joonmyeon tersenyum.
"Putra Appa Jjang!" ujar Joonmyeon seraya mendudukkan dirinya di kursi tempat mereka menunggu tadi –tempat mereka akan bertemu dengan Kyungsoo nanti. Tangannya mengepal dan senyum bangga terpampang di wajahnya. Membuat Jongin tertawa.
"Appa juga Jjang! Umma juga Jjang!" ujar bocah kecil itu disela-sela tawanya. Membuat Joonmyeon tersenyum.
Memang tidak ada hal yang paling membahagiakan selain melihat tawa anak sendiri.
Kemudian, setela tawanya mereda, Jongin pun mulai mengoceh tentang apa saja yang ia lihat saat di teater tadi. Bercerita seolah-olah Joonmyeon tidak ada di sana bersamanya. Membuat Joonmyeon tertawa kecil.
Setelah 15 menit berlalu –yang tidak terasa sama sekali karena Jongin terus saja mengoceh dengan senangnya- Kyungsoo datang ke tempat keduanya dengan wajah yang masih penuh dengan riasan.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Ujar Kyungsoo. Suaranya sedikit terdengar serak karena terlalu banyak bernyanyi.
Mendengar suara Ummanya, Jongin pun lantas berbalik. Mendapati Ummanya ada di dekatnya, Jongin pun lantas langsung melompat dari pangkuan Joonmyeon dan langsung berlari menerjang Ummanya.
"Umma~!"
Kyungsoo tertawa kecil, kemudian berjongkok dan menerima terjangan putranya yang entah perasaannya saja atau memang benar berkembang cepat sekali ini.
"Umma Jjang! Umma Jongin memang Jjang! Jongin bangga punya Umma seperti Umma!" seru Jongin dengan begitu semangat seraya memeluk leher Ummanya yang tertawa kecil.
"Gomawo sudah menonton Umma dan bersikap dengan baik, Jongin. Umma juga bangga karena kau berani memberikan bunga itu untuk Umma. Jongin Jjang!" ujar Kyungsoo seraya bangkit berdiri seraya menggendong putra kecilnya itu. Kemudian, ia mengecup kening Jongin. Membuat bocah itu kembali tertawa kecil.
Joonmyeon sendiri sekarang tengah tersenyum. Melihat kejadian yang barusan terjadi membuat hatinya hangat dan tentram sekali.
Ia pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju Kyungsoo yang juga berjalan ke arahnya. Di peluknya istrinya dan anak semata wayangnya itu dengan penuh sayang.
"Aku bangga dengan kalian berdua." Ujarnya seraya mengecup kening Jongin, kemudian kening Kyungsoo.
"Aku juga bangga padamu, Hyung. Kau mengajarkan Jongin dengan baik." Ujar Kyungsoo seraya mengecup pipi kanan namja yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
"Um! Appa jjang!" kali ini Jongin yang berucap. Bocak kecil itu kemudian mengecup pipi kiri Joonmyeon. Membuat namja itu tersenyum bahagia.
.End.
aku nggak tau kalau banyak orang yang bakal suka. Soalnya setauku SuDo/KyungMyeon itu gak mainstream #pundung meratapi kenyataan.
oh ya, cerita ini kumpulan one shoot tentang keluarga Kim. Terus, umur mereka bisa beda-beda di setiap chapternya. Jadi, jangan bingung, ya!
Yang sudah riview terima kasih banyak, ya! Aku senang ada yang menyukai cerita aneh ini #pundung lagi.
Yosh! Sekian a/n ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Pye-pye!
#byong~
