Title: Sinful Requiem

Disclaimer "Naruto": Kishimoto Masashi

This story belongs to KyuuRiu

Genre: Hurt/ Comfort

Family

Pair : SasuNaru (incest)

Rated: M

Warning: SUPER OOC! (especially Sasuke)

typo(s), mis-typo(s)

alur cerita rumit (maybe)

banyak kata-kata kasar dan tindakan yang tidak patut ditiru

Naruto's point of view

.

.

Third Sin: Intoxicating Words, Intoxicated Act

.

.

"Nii-chan.. apa aku harus melakukannya?" gumam Sasuke yang berdiri berhadapan denganku. Ia memakai setelan kemeja buntung yang dibalut dengan jas hitam yang tidak dikancingkan. Celana dan sepatu yang dipakainya pun memiliki warna senada.

"Tidak masalah jika kau tidak bisa." Gumamku memberi tekanan pada kata 'tidak bisa'. Tangan kiriku mengepal erat didalam saku, sementara kugunakan tangan kananku untuk mengambil segelas minuman soda di meja.

Sasuke diam. Wajah datar yang ditunjukkannya membuatku kesal. Matanya jelas menyorotkan kebimbangan besar, bagaimana bisa wajahnya masih sedatar itu? Bibirnya mulai kembali bergerak, membuatku ingin menambah guratan kemerahan untuk menemani bekas luka di pelipisnya.

"Bagaimana kalau diganti yang lain?"

Aku tidak menjawab. Sasuke bilang dia mau melakukannya, dan sekarang ia jadi ragu? Aku paling benci sikap plin-plan seperti itu.

"Tapi aku masih di bawah umur, belum boleh mi –"

"Jadi hanya sampai disitu?" potongku tegas. Mengambil nafas dalam, aku mulai mengucapkan kalimat panjangku. "Maaf Sasuke, aku salah menilaimu. Ternyata kau memang hanya bocah manja, dan perasaan seorang 'bocah' akan berubah dengan cepat. Jadi mungkin, perasaanmu padaku juga..."

"Bukan begitu, Nii-chan. Aku –"

"Aku salah karena telah percaya pada kata-kata bohongmu itu." sahutku cepat mengambil langkah pertama meninggalkan Sasuke di tengah keramaian.

"Nii-chan aku tidak bohong. Nii-chan!"

Kuabaikan teriakan tertahan Sasuke dan terus berjalan menjauh. Ini tidak menyenangkan. Sasuke tidak berguna dan sangat membosankan! Kalau saja dia melakukan yang kuperintahkan…

.

.

Flashback. One week earlier

"Dengar.. Berjanjilah, hanya aku yang boleh melukaimu." Gumamku membelai pipi Sasuke sambil tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Sasuke balas tersenyum, wajahnya terlihat senang. Dipegangnya tangan kiriku, lalu menariknya mendekati bibirnya sendiri.

Sasuke yang masih tersenyum mengangguk singkat. Dengan nada yang terdengar bahagia, dia mengatakan sesuatu saat mencium telapak tanganku.

"Aku menyukaimu, Nii-chan…"

'degh'

Perutku mendadak mual. Aku seolah tersadar dari mimpi indah, lalu dihadapkan dengan kenyataan yang menjijikkan.

"Nii-chan.." gumamnya menjulurkan sebelah tangannya untuk meraihku. Sasuke mendudukkan diri lalu menarikku ke dalam sebuah pelukan erat.

Melihatnya yang masih menciumi telapak kiriku berkali-kali menyadarkanku dari lamunan kosong. "Sasuke.. lepaskan."

"Tidak!" tegasnya. Ia melepas tangan kiriku, namun kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menenggelamkan wajahku ke dadanya, memelukku lebih kuat.

Saat itulah kudengar detak jantungnya yang begitu cepat tidak beraturan, seolah ia baru saja menyelesaikan empat qurter pertandingan basket tanpa jeda istirahat sama sekali. Ditambah, aku bisa merasakan sesuatu yang keras di selangkangan Sasuke, menekan pantatku yang mendudukinya.

"Ngghh.. Nii-chan…" gumamnya mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.

'degh'

Sasuke menyentuh daun telingaku dengan bibirnya yang terasa dingin, nafasnya terdengar berat namun pendek. "Nii-chan.."

Tangan kanannya mulai menelusup kaosku, lalu menyentuh kulit perutku. Jemari Sasuke bergerak canggung menelusur ke atas, lalu menyentuh nipple kiriku.

"Nnhh.. Hentikan, Sasuke.." gumamku setengah hati. Ujung jari Sasuke yang juga terasa dingin seolah mencari kehangatan agar ia bisa bertahan melewati malam yang kejam.

Aku bisa merasakan hidungnya yang menghirup kuat aroma leherku, sebelum akhirnya sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh leherku. "Aallhh.. Nii-cwmmhh…"

Pemuda yang lebih muda dariku ini melumat leherku, seolah ia sedang berciuman dengannya. Tangan kanannya memelintir lembut nipple-ku, pinggangnya bergerak seolah sedang bersetubuh denganku.

"Ngghh~ Berhenti Sa –nnhhh…"

Bibirku berkali-kali mengucapkan kalimat penolakan, namun tubuhku seolah menjadi pengkhianat utama yang malah menikmati sentuhan-sentuhan adik kandungku.

Sasuke menghisap leherku kuat-kuat, lalu menjilat bekas hisapannya sendiri. Berulang-ulang dia melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya ia membuka bibirnya lebar..

"Nii-chaaaawnnmm.. Mmnmmm~~"

'degh'

Kulit leherku rasanya seperti terbakar!

Sasuke menggigitku, lalu menggesek-gesekkan giginya beberapa kali..

"Sasu-khh! Sakit.. Sasuke.." aku mulai merengek. Ini benar-benar sakit. Bagaimana bisa bocah ini menggigitku?

"Nnghh.." responnya seolah tidak mendengarku. Kedua tangannya kini membelai tubuhku, bergerak liar ingin melucuti semua pakaianku.

Hentikan!

Aku harus menghentikannya atau semua akan terlambat!

"Sasuke –khhh!" ia semakin brutal saat aku mencoba memberontak. Tidak! Bagaimanapun juga aku harus menghentikannya!

"Mwwhhh… Niichan.. aaahh.. Nii-chann…" bibirnya bergumam di sela kegiatannya. Gerakan pinggangnya berubah makin cepat.

"Hantikan Teme~ Sasu –"

"Nnnhhh!"

"SASUKE!" bentakku sekuat tenaga pada akhirnya. Sontak Sasuke menghentikan seluruh kegiatannya. Jantungku berdetak cepat, namun terselip perasaan lega karena berhasil lepas dari mulut serigala.

"Ma –maaf Nii –"

"Tch! Brengsek." Umpatku mati-matian mencoba berdiri dengan tenang. Kalau boleh jujur, kakiku saat ini bergetar hebat, jantungku masih belum mau berdetak normal.

"Aku tidak sengaja, maaf.." ucapnya panic. Sasuke berdiri, kemudian mengikutiku yang berjalan menuju almari besar di sebelah kanan. Kupandangi pantulan diriku dengan bekas gigitan berwarna merah gelap di leherku.

"Tch!" umpatku lagi. Dalam hati aku bersyukur. Terlambat sedetik saja, mungkin seluruh tubuhku akan dipenuhi tanda seperti ini.

"Nii-chan.. katakan sesuatu.." rengeknya kuabaikan. Aku lalu berjalan menuju tempat tidurku, lalu berbaring di atasnya.

"Nii-chan, kubilang aku tidak sengaja.. maafkan a –"

"Tidak sengaja?" ucapku sinis, "Yang begini kau bilang tidak sengaja?"

Tangan kananku memegang tanda yang baru saja diberikannya. Mata biruku menatap obsidiannya dalam, lalu berpindah ke selangkangannya yang terlihat sesak. Tak lama kemudian, aku kembali terfokus pada matanya. "Jadi yang seperti ini kau bilang tidak sengaja? Apa kau melakukannya kepada semua orang yang kau temui?"

"Tidak!" pekiknya merespon ucapanku yang terdengar seperti seorang gadis yang sedang cemburu. Brengsek! Bagaimana bisa kalimat memuakkan itu kelaur dari bibirku?

"Aku hanya melakukannya kepada Nii-chan.."

Aku mendengus sebelum akhirnya menarik selimutku memunggunginya. Aku sangat lelah dan mengantuk sehingga lebih memilih mengabaikan ucapan menjijikkannya barusan. Ingin segera tidur dan memasuki dunia indah di dalam mimpiku…

"Maksudku, awalnya aku hanya ingin memeluk Nii-chan, tapi saat kita berpelukan, aku seolah mencium aroma citrus memabukkan yang berasal dari tubuh Nii-chan. Aku benar-benar mabuk dan kehilangan kendali atas diriku. Maaf, Nii-chan…"

Ini adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Sasuke. Aku mual saat dia bilang 'berpelukan'. Percaya diri sekali sampai-sampai ia menganggap pemberontakanku sebagai sebuah pelukan balasan untuknya.

Dan lagi, dia bilang aroma citrus dari tubuhku membuatnya mabuk? Memangnya tubuhku bau wine atau sake? Pembohong! Dia hanya mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya..

Tunggu dulu. Katanya tadi 'mabuk'? Memangnya dia pernah mabuk? Bocah ingusan itu tahu arti kata mabuk?

Baiklah.. akan kubuat adik kandungku ini benar-benar mabuk.

"Sasuke.."

"Ya?" sahutnya cepat. Walaupun memunggungi dan tidak bisa melihat wajah Sasuke, aku yakin saat ini dia sedang kegirangan. Nada bicaranya terdengar bahagia.

"Kau menyukaiku?" tanyaku basa basi. Aku tahu apa yang akan diucapkannya..

"Tentu saja! Sangat.. sangat menyukai Nii-chan!"

"Seminggu lagi kita akan datang ke pesta pernikahan sepupu kita kan?" kudengar gumaman tidak jelas Sasuke sebagai peng-iya-an atas pertanyaanku.

"Minumlah dua atau tiga gelas wine. Kuberikan hadiah jika kau mau melakukannya."

Sasuke tidak merespon. Aku tahu dia bingung. Wine yang disajikan di pesta bukanlah minuman dengan kadar alcohol tinggi, namun bagi orang yang belum pernah minum liquor, sedikit wine saja bisa membuat mereka mabuk.

Aku ingin lihat Sasuke mabuk, lalu dimarahi Tou-san. Pasti akan sangat menyenangkan. Citra adikku di mata Tou-san perlahan-lahan akan berubah. Dan aku akan mendapatkan kembali posisiku.

"Tapi Nii-chan…" gumamnya setelah sekian lama diam. Dari nada bicaranya, aku tahu dia akan menolak. Tch! Jadi tidak seru kalau dia menolak.

"Hadiahnya…" gumamku membalikkan badan. Kini aku berbaring menghadapnya yang menunjukkan raut wajah bingung.

" –ini." bisikku saat mata kami saling menatap. Telunjuk kiriku menelusur bibir bawahku, menunjukkan pada Sasuke bahwa aku akan menciumnya jika dia melakukan yang kuminta.

Aku hanya akan mencium keningnya. Tentu saja, aku tidak mengatakan apapun tentang bagian yang satu ini.

"Sekarang tidurlah, aku tidak mau kau sakit." ucapku singkat kembali memunggunginya. Kusisakan space di tempat tidur single-ku untuk dia tempati malam ini.

Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak ingin suhu dingin malam ini membuatnya sakit. Kalaupun ada yang boleh membuatnya sakit dan terluka, orang itu adalah aku!

"Bo –boleh aku tidur dengan Nii-chan?"

Suaranya bergetar. Terdengar sekali kalau Sasuke sedang over excited. Aku menghela nafas mendengarnya, jangan sampai Sasuke salah paham dan mengira aku mengizinkan ia melakukan hal-hal aneh.

"Hanya tidur disampingku. Tidak boleh ada kontak fisik. Kuhitung sampai tiga sebelum aku berubah pi –"

"Oyasumi! Aku akan tidur di samping Nii-chan!" potongnya cepat. Ia langsung berbaring disamping tubuhku yang memunggungunya. Saat itu aku bisa merasakan hangat tubuhnya melalui punggungku, seolah ia sedang memelukku. Saat itu aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang menggebu, seolah telingaku menempel di dada kirinya.

Tidak..

Aku yakin tidak ada kontak fisik malam itu…

End of Flashback

.

.

Keesokan harinya saat aku bangun, Sasuke sudah menghilang dari kamarku. Terima kasih padanya, aku harus menggunakan plester luka untuk menutupi bekas gigitannya di leherku. Dan hari-hari kami selanjutnya berjalan seperti biasa. Lupakan fakta bahwa Tou-san jadi jarang berkomentar padaku. Mungkin karena aku membentaknya malam itu, dia jadi sedikit 'menghormati'ku. Yah.. begini lebih baik ketimbang mendengarkan komentar pedasnya.

Menghela nafas berat, aku menatap Sasuke dari jauh. Dia masih berdiri di depan meja berisi puluhan gelas wine. Matanya menatap nyalang ke arah gelas-gelas Kristal itu, namun ia belum juga memutuskan ingin mengambil yang mana.

Sesekali Sasuke membalas sapaan saudara jauh kami, atau ucapan basa-basi para gadis yang ingin berkenalan dengannya.

Aku benci pesta seperti ini.

Kalau saja bukan karena Sasuke yang bilang akan melakukan permintaanku untuk minum wine, aku malas datang kemari. Suasanya pesta pernikahan seperti ini sangat tidak cocok untukku. Ditambah keberadaan adikku yang menjadi pusat perhatian semua orang.

Ironis. Aku berdiri di balkon yang sepi, memandangi adikku yang sangat populer dan dikelilingi gadis-gadis cantik. Harusnya aku yang berada di tempatnya..

Kalau saja dia tidak ada disini…

Kalau saja Sasuke tidak pernah ada…

Kalau saja dulu aku tidak menyayanginya…

"Brengsek!" hardikku entah kepada siapa. Kulempar ke taman gelas yang kubawa tadi. Aku tidak peduli jika gelas itu pecah, lalu terinjak oleh seseorang. Jika memang itu terjadi, kuharap yang menginjaknya adalah Sasuke.

Kelihatannya percuma aku datang ke tempat ini. tidak ada tanda bahwa Sasuke akan melakukan yang kuminta. Tadi saja dia bilang kalau dia masih di bawah umur dan lain sebagainya. Ini sangat membosankan.

Terlihat olehku Sasuke yang mengedarkan pandangannya seolah dia sedang mencari sesuatu. Saat matanya tertuju kepadaku, Sasuke mematung sejenak. Tubuhnya berbalik sebentar, lalu mulai berjalan ke balkon.

Bibirku terangkat. Aku tahu ini hanya perasaanku saja, tapi aku bisa merasakan mataku yang berkilat tajam saat mendapati dua gelas wine yang masing-masing bertengger manis di kedua tangan Sasuke.

Indah..

Sangat indah.

Pemuda itu berjalan ke arahku dengan topeng stoic terpasang sempurna di wajahnya. Dia sama sekali tidak menggubris sapaan orang-orang yang dilewati. Mata gelapnya menatapku dalam, kakinya melangkah mantab.

Sasuke sudah memutuskan akan melakukannya. Aku tahu itu.

Tenang.. Tenangkan dirimu Naruto! Jangan tunjukkan padanya betapa senangnya kau saat ini!

"Nii-chan.." sapanya setiba ia dihadapanku. Bibirnya sedikit terangkat, aku tidak tahu apa maksudnya.

"Kau lama sekali. Aku hampir mati karena terlalu bosan."

Sasuke tidak menjawab. Diulurkannya gelas wine di tangan kanan, seolah mempersilakanku untuk meminumnya. Alisku mengeryit heran.

"Kubilang kau yang minum."

Kali ini raut wajahnya berubah. Aku tahu dia terlihat seperti pemuda arogan yang tidak peduli pada hal-hal di sekitarnya. Walau begitu, sebenarnya ia adalah anak yang patuh. Aku yang paling memahami hal ini.

Pemerintah melarang penduduk yang berusia di bawah 20 tahun untuk minum minuman beralkohol, dan keluarga kami sangat menjaga tradisi yang satu ini. Jadi, wajar kalau Sasuke sempat ragu.

"Nii-chan temani aku.." gumamnya datar membuat dadaku bergemuruh.

Jadi dia ingin aku menemaninya melakukan hal terlarang? Brengsek sekali dia menyeretku dalam kesialan! Aku menyuruhnya minum wine agar Tou-san memarahi dan menganggapnya sebagai anak yang tidak patuh, dan sekarang dia malah menyeretku?

Sasuke bodoh ya?

Apa jadinya kalau aku juga ikut minum?

"Dengar." Ucapku dengan nada meninggi. Akan kubuat dia benar-benar mabuk dan terlihat buruk di mata Tou-san!

"Kau bilang kau menyukaiku, tapi hanya minum wine saja kau tidak bisa? Jadi perasaan sukamu itu bisa dikalahkan oleh segelas wine? Rendah sekali! Menjijikkan!"

Obsidiannya kembali menunjukkan sorot terluka, sorot yang sama seperti malam itu…

"Kau benar-benar menjijikkan!"

Bibirnya mencoba bergerak, namun tidak sedikitpun kata yang terucap. Membosankan! Tau begini aku pergi sejak tadi.

Aku benci Sasuke. Sangat membencinya!

"Aku kecewa padamu, Sasuke…" gumamku dengan nada rendah. Kurasa aku memang harus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, bahwa aku membencinya. Dengan begini, aku sudah tidak perlu pura-pura baik lagi padanya.

"Benci.." bisikku hampir tanpa suara, namun sepertinya Sasuke bisa mendengarnya dengan jelas. "Aku membe –"

"Hentikan!" pekiknya cukup keras. Beberapa orang di sekitar kami sempat melihat ke arah Sasuke, lalu mulai berbisik.

"Tidak boleh.. Nii-chan tidak boleh benci padaku."

'degh'

Sorot matanya berubah drastis. Obsidian gelap yang tadinya menunjukkan kebimbangan, lalu sorot terluka yang sempat kulihat, dan sekarang… frustasi? Putus asa?

Matanya berkaca-kaca seolah ingin... menangis?

Tidak.. Sasuke tidak mungkin menangis!

"Aku akan minum, tapi Nii-chan jangan membenciku, yaa?" bibirnya tersenyum canggung. Sasuke mengangkat gelas di tangan kanannya, menghabiskan liquor bening itu sekali teguk.

"Aku menyukai Nii-chan. Aku akan melakukan apapun yang kau mau." Gumamnya dengan nafas menderu. Seakan tak puas dengan gelas pertama, Sasuke meneguk gelas kedua.

"Pwahh!" lenguhnya keras usai menghabiskan dua gelas wine. Tingkah lakunya seolah seperti bocah yang tidak pernah diajari sopan santun.

Bibirku terangkat..

Sebentar lagi ia akan membuat keributan, lalu Tou-san akan datang dan semua akan berjalan sesuai rencanaku. Sempurna!

"Nii-chan… Aku akan melakukan apapun untukmu…"

Jantungku seakan berhenti berdetak. Sasuke manatapku sambil tersenyum, namun sorot matanya seolah penuh dengan luka. Aku bisa merasakan keputusasaan yang teramat sangat saat mata kami bertemu pandang. Ini tidak seperti yang kurencanakan.

Dan entah apa yang terjadi, tubuhku membeku.

"Hei.. kemari!" seru Sasuke saat ia melihat seorang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas wine untuk diberikan kepada tamu.

Jangan bilang Sasuke berniat untuk menghabiskan semuanya!

"Kau.. disini sampai kuhabiskan semuanya." Sasuke berbicara seolah dia sedang mabuk. Sorot mata dan tindakannya seakan menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah kehilangan kendali atas dirinya.

Bohong! Aku tahu ia masih sangat sadar. Kenapa Sasuke melakukan hal ini?

Si pelayan hanya mengangguk meng-iya-kan saat Sasuke mulai mengambil gelas pertama, lalu meneguknya. Ia terlihat seperti serigala yang sudah berhari-hari tidak minum. Dan aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Sesekali ia melirikku, seakan berkata bahwa ia melakukan ini semua untukku,

Tiba-tiba saja aku merasakan nyeri di ulu hatiku. "Sasuke.."

Sasuke terlihat menyedihkan. Sangat menyedihkan. Seharusnya aku senang karena adik kandungku yang sangat kubenci ini terlihat seperti manusia rendahan, namun entah kenapa dadaku rasanya sesak dan nyeri. Sangat menyakitkan.

Aku berjalan mendekati Sasuke yang masih saja meneguk gelas demi gelas cairan memabukkan itu.

Tidak!

Tidak boleh ada yang melihat wajah Sasuke yang seperti ini. Sasuke yang mulai mabuk… Orang-orang tidak boleh melihatnya. Hanya aku yang boleh menikmati wajah menyedihkan Sasuke. Mata itu.. hanya boleh tertuju padaku! Bukan pada gelas-gelas Kristal itu ataupun pada orang-orang disini.

"Sasuke.. hentikan!" ucapku dengan nada meninggi, kutarik gelas setengah penuh yang diteguknya. Tentu saja isinya langsung tumpah membasahi pakaian Sasuke. Orang-orang mulai berkerumun mendekat.

"Nii-chan.. kau mengganggu. Aku ingin lagi…"

Sasuke benar-benar mabuk!

Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia bilang kepada orang-orang bahwa aku yang menyuruhnya minum?

Tidak! Aku harus menghentikannya!

"Sasuke!" kali ini aku menarik tubuhnya menjauh, kutepis kuat tangannya yang mencoba meraih gelas lain.

'prang!'

Beberapa gelas yang terkena unjung jemari Sasuke terjatuh dari nampan hingga pecah. Saat itulah kerumunan orang yang melihat kami bertambah ramai, mereka mulai berbisik membicarakan Sasuke yang terlihat menyedihkan.

Tidak! Aku harus mencongkel mata mereka.. mereka tidak boleh melihat Sasuke-KU!

"Kau mabuk!" bentakku saat ia mencoba kembali mendekati si pelayan. Kuberikan isyarat mata kepada pria berseragam putih-hitam itu agar pergi. Dia mengangguk dan segera meninggalkan kami. Semua orang yang mengerubungi kami juga harus pergi… ke Neraka!

"Hei.. tunggu! Aku masih mau minum… Nii-chan, lepas!"

Aku mencekal kuat lengannya, menatap tajam mata Sasuke, mencoba menyuruhnya berhenti tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Aku ingin dia berhenti atau aku harus benar-benar membunuh para manusia disini satu per satu.

Kenapa Sasuke tidak juga sadar kalau ia yang menyedihkan menjadi pusat perhatian semua orang? Ia yang menyedihkan hanya milikku seorang! Harusnya orang lain tidak boleh tahu eksistensi sisi lain dari Sasuke yang menjijikkan seperti anjing rendahan!

Hanya aku yang boleh tahu! Hanya aku yang boleh lihat!

Sasuke berdecak sebal. Wajah datarnya terlihat kesal di mataku. "Dengar, Nii-chan. Aku harus minum wine yang banyak. Makin banyak aku minum, kau akan makin menyu –"

"Sasuke!"

Sasuke terbelalak mendengar teriakan kerasku. Seakan tersadar kalau lanjutan kalimatnya tidak boleh diucapkan, Sasuke menunduk. Matanya tidak berani menatapku, tangannya balas menggenggam pergelangan tanganku.

"Nii-chan.. banyak orang.. maaf.. Nii-chan.." bisiknya hampir tanpa suara. Kalimatnya yang tidak jelas maknanya itu menunjukkan bahwa Sasuke sedang mencoba mendapatkan kembali kesadarannya.

"Kita pergi dari sini…" gumamku menariknya keluar dari kerumunan yang membuatku gerah.

"Naruto, Sasuke.. ada apa ini?"

'degh'

Orang tua sialan ini tidak pernah datang di saat yang tepat. Kalau saja ia datang sejak tadi, semua tidak akan jadi begini…

"Sasuke membuat keributan kecil. Aku akan membawanya masuk." Gumamku datar meninggalkan Tou-san dan Kaa-san yang terlihat panic.

Samar-samar aku mendengar suara berat Tou-san yang meminta maaf kepada para tamu. Perasaanku tidak enak. Mata Tou-san yang menatapku tadi seolah ingin mengambil retinaku, lalu mencabiknya agar dia bisa melihat sendiri akar dari kejadian 'memalukan' ini.

"Nnn.. Nii-chan.. maaf…" gumam Sasuke lagi. Kelihatannya ia sempat menyadari tatapan tajam orang-orang tadi, juga raut khawatir di wajahku. Aku yang khawatir kalau Sasuke mengatakan yang aneh-aneh…

"Nii-chan?"

Ia menatapku dengan mata yang memerah saat aku mendudukkannya di kursi ruang keluarga rumah bibiku.

Pesta pernikahan sepupuku memang diadakan di rumah yang sangat besar ini, rumah 'orang kaya'. Dan Tou-san sepertinya terobsesi membuat rumah yang sebesar ini juga, makanya ia banyak menabung dan 'memaksa' aku, juga Sasuke untuk menjadi sosok yang 'sempurna'.

"Kau marah padaku ya…" bisiknya terisak sekali. Jemari alabasternya menarik ujung jasku, menyadarkanku dari lamunan.

Aku harusnya tersenyum puas karena Sasuke saat ini benar-benar terlihat putus asa. Hanya saja.. ingatan tentang wajah orang-orang yang sempat melihat adikku tadi membuatku marah.

"Tunggu disini, kuambilkan air.." gumamku melepas tangannya, lalu mengambil langkah ke arah dapur. Aku harus menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.

"Disini saja.." gumamnya pelan. Tabuhnya bersandar lemas di kursi, namun entah bagaimana tangannya bisa mencekal pergelanganku kuat.

"Kubilang, aku akan mengambilkan air. Lepaskan!" nada bicaraku naik. Rasa kesal membuat amarahku mudah terpancing. Aku tidak ingin lepas kendali di depan Sasuke,

Menyebalkan!

Kalau saja tadi Tou-san datang lebih cepat, saat Sasuke mulai berulah, pasti sekarang bocah manja itu sudah dimaki habis-habisan. Kemana saja sih orang tua sialan itu tadi? Brengsek!

"Aku tidak butuh air, aku butuh Nii-chan di sini." Tangannya menarikku yang masih berdiri. Dengan posisinya yang masih duduk di sofa, Sasuke memelukku. Kepalanya yang bersandar pada perutku terasa hangat.

"Nii-chan.. aku pusing." Keluhnya lemah. Apa efek mabuknya bertambah kuat? Bagaimana bisa?

"Naruto… Sasuke.." gumam suara berat yang sangat kubenci. Aku langsung mendorong tubuh adikku menjauh hingga ia kembali bersandar.

Tou-san berjalan ke arah kami, diikuti Kaa-san yang menatapku cemas. Yakin seratus persen, sorot mata Kaa-san menunjukkan bahwa ia mencemaskanku, bukan mencemaskan Sasuke.

"Naruto, bagaimana keadaan adikmu?" tanya Kaa-san lembut setibanya mereka di hadapanku. Tangan kirinya membelai sayang kepala Sasuke yang kini memejamkan matanya.

"Dia sudah mulai tenang." jawabku singkat. Aku senang Kaa-san bertanya padaku. Nada bicaranya yang lembut membuatku –juga- sedikit tenang.

"Aku pusing, Kaa-san.." gumam Sasuke mencoba membuka matanya. Kelihatannya sulit sekali bagi adikku untuk menunjukkan bola mata hitamnya.

"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Sasuke melakukan hal memalukan seperti itu?"

Tch! Kalau saja adik bodohku tidak sedang kehilangan kesadarannya, harusnya dia yang menjawab pertanyaan menyebalkan ini. Kalau begini, kesannya Tou-san menyalahkanku.

Atau… memang benar ia menyalahkanku atas kejadian ini?

"Dia minum banyak wine." Jawabku singkat. Kuharap pertanyaannya segera berakhir.

"Wine? Kalian kan masih belum boleh minum wine. Kenapa kau biarkan Sasuke meminumnya?"

Dia bilang 'kalian masih belum boleh', lalu seenaknya saja mengubahnya dengan 'kenapa KAU biarkan SASUKE meminumnya'.

Jadi tidak masalah jika aku yang minum dan membuat keributan? Jadi, kalau aku yang melakukan hal-hal memalukan, dia akan diam saja?

Bohong!

Kalau aku berada di posisi Sasuke saat ini, pasti Tou-san sudah menghajarku.

Kenapa… Kenapa semuanya harus tentang Sasuke? Apa aku tidak penting disini? Apa aku tidak dianggap? Apa Tou-san lupa kalau dulu aku sempat menjadi putra kebanggaannya?

Hanya karena Sasuke ini.. Sasuke itu… Eksistensi diriku di matanya seolah langsung menghilang begitu saja.

"Tch!" decihku tanpa sadar. Tentu saja Tou-san yang mendengarnya beranggapan bahwa tindakan ini kutujukan padanya. Memang.. aku berdecih untuknya. Mungkin, aku harus meludahi wajahnya juga.

"Kenapa kau diam, Naruto?"

"Dia membawa minuman itu dari dalam ruangan. Mana kutahu kalau dia bawa wine!" suaraku mulai meninggi. Aku tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.

"Kau tidak tahu? Dari baunya saja, harusnya kau ta –"

"Memangnya aku pernah minum wine?" potongku cepat. Kenapa dia menuntutku untuk tahu segala sesuatu tentang Sasuke? Memangnya aku anjing penjaganya? Brengsek!

Baru saja ia akan membuka mulutnya, aku langsung menyerangnya lagi. "Kalau kau tidak ingin Sasuke melakukan hal-hal yang tidak kau sukai, ikuti dia kemanapun dia pergi!"

Ada yang salah dari ucapanku, aku tahu itu…

"Kalau kau tidak ingin dia melakukan hal-hal aneh, jangan biarkan dia pergi dari runah. Kunci dia di kamar atau semacamnya!" kesannya aku jadi seperti… membela Sasuke?

Tapi, selama ini Tou-san memang menuntut banyak hal dari kami berdua. Dan aku paling benci saat Tou-san menyalahkanku atas hal-hal yang bahkan tidak kuketahui apa itu.

"Kau berani membantah Tou-san?"

De javu.

Matanya menatapku tajam seperti saat itu. Mungkin, dia akan memukulku lagi…

"Kalau kau tidak mau mengikutinya dan tidak mau mengurungnya di dalam kamar…" Aku menyeringai, Tou-san akan memukulku, aku tahu itu. "Pasang saja rantai di lehernya, buatkan papan nama kecil untuknya. Bagus kan? Dia jadi seperti binatang peliharaan."

Benar saja, tanpa berkata-kata Tou-san mengangkat tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke arahku.

"Tou-san.. hentikan!" pekik Kaa-san. Ia yang masih duduk di samping Sasuke mencoba berdiri dan meraih tangan besar suaminya. Terlambat..

Apa kali ini, Sasuke akan menolongku lagi?

Kenapa aku jadi mengharapkan bocah manja itu..

Kali ini, tidak ada punggung lebarnya yang menghalangi pandanganku. Kali ini, tidak ada rasa bingung karena bayangannya menghalau cahaya dan membuat semuanya menjadi gelap. Kali ini aku melihatnya dengan jelas. Wajah marah Tou-san yang tertuju hanya untukku. Mata penuh kekecewaan karena ia menganggapku tidak bisa memenuhi keinginannya.

Tangan yang dulu sering mengacak rambutku..

Tangan yang dulu sering menggendongku.. Kini terayun kuat ke arah wajahku, bertabrakan langsung dengan pipi kiriku.

'slaaappp!'

Aku menyeringai.

Brengsek! Rasanya sakit sekali!

Sesuatu yang keras mengenai sudut bibirku hingga berdarah. Cincin Tou-san membuatku berdarah.

"Pwuhh!"

Aku meludahkan sedikit darah di mulutku, mengenai sepatu Tou-san yang terlihat mengkilap itu.

"Kau.." pria itu terlihat makin geram. Tangannya mengepal erat.

"Mau memukulku lagi?" Aku menantangnya angkuh. Kaa-san berdiri di belakang Tou-san, memeluk kuat lengan pria sialan itu.

"Sudah merasa jadi orangtua yang hebat karena berhasil memukul kakak yang tidak bisa menjaga adiknya yang manja?"

"Nii-chan…" gumam sebuah suara yang sangat kukenal.

"Apa yang terjadi, Nii-chan." Sasuke yang masih setengah sadar mencoba meraihku. Mati-matian ia menyeimbangkan tubuhnya yang lemas.

Tou-san marah padaku. Dia membenciku. Dan aku… akan membuat Sasuke membencinya!

Aku memilih diam. Kalau aku tidak menjawab, Sasuke pasti akan bertanya kepada orang itu.

"Tou-san, kenapa Nii-chan terluka?"

Pria sialan itu juga diam, lebih tepatnya, tidak bisa menjawab. Sasuke pernah terkena tamparannya saat menolongku, dan Tou-san tahu betul kalau Sasuke sebenarnya sudah paham dengan apa yang terjadi. Dia takut.. takut dibenci oleh putra kesayangannya.

"Kau.. tidak memukulnya kan?" tanya Sasuke menuntut jawaban. Nada bicaranya meninggi, sorot matanya berubah.

"Tou-san tidak memukul Nii-chan kan?" Sasuke mencoba mendekati Tou-san, namun tubuhnya yang masih lemas membuatnya kembali terduduk.

"Kau tidak boleh memukulnya!" teriak Sasuke seolah dia sedang frustasi. "Nii-chan.. Nii-chan!"

Sasuke memelukku erat. Ditenggelamkannya kepalanya yang terasa hangat ke perutku. Aku hanya bisa –berusaha untuk- membelai kepalanya lembut. Tou-san harus melihat bahwa putra kesayangannya menghormatiku lebih dari ia menghormati siapapun!

"Tenanglah.. aku tidak apa-ap –"

"Bohong!" teriaknya memotong kalimatku. Kalau dia tidak mabuk, Sasuke tidak akan berani membentakku. Ada bagusnya juga dia mabuk di saat seperti ini.

"Sasuke, tenanglah. Nii-chan tidak apa-apa."

Perutku mual. Bukan karena Sasuke menggelangkan kepalanya berulang-ulang di perutku, menolak untuk mendengarkanku. Tapi karena aku memanggil diriku sendiri 'nii-chan' untuk Sasuke. Rasanya ingin muntah.

"Sasuke.. bukan begitu. Tou-san hanya berbincang dengan Naruto."

"Kau pembohong!" masih memelukku, Sasuke bmenatap tajam Tou-san yang kini berdiri di sampingku. "Kalau hanya berbincang, Nii-chan tidak akan terluka! Kau memukulnya.. waktu itu kau juga memukulnya!"

Aku menyeringai dalam hati melihat wajah marahnya. Ini bagus…

"Aku tidak akan memaafkanmu!" Sasuke mencoba berdiri, lalu meneretku pergi. Lebih tepatnya, memohon padaku agar aku membantunya pergi.

"Nii-chan, ayo kita pergi!" aku tidak menjawab. Yang kulakukan hanyalah menhurutinya untuk pergi dari sini, karena sedikit saja aku menggerakkan bibirku, yang akan keluar adalah seringaian, atau tawa terbahak.

"Naruto…" panggil Kaa-san saat kami mulai berjalan menjauh. Suaranya terdengar sedih. Aku.. tidak ingin membuatnya sedih.

"Aku akan membujuk Sasuke…" gumamku sebelum mengambil nafas dalam. Aku tidak boleh tertawa!

"Kaa-san tunggulah sampai dia tenang." ucapku sebelum kembali melangkah bersama Sasuke.

Bibirku terangkat, tubuhku bergetar hebat menahan gejolak kemenangan dalam diriku. Aku bisa membayangkan wajah kecewa Tou-san saat ini.

Aku memang!

Aku mengalahkan Tou-san!

Sudah kuputuskan, kalau aku tidak bisa memiliki kata 'bangga' dari Tou-san.. maka akan kuhancurkan seluruh kebanggaan yang dia miliki!

"Nii-chan.. maaf…" gumam Sasuke saat kami berjalan keluar menuju gerbang belakang. Kalau dipikir-pikir, sejak tadi ia terus saja menunduk.

"Kalau memang ingin minta maaf, cobalah untuk berjalan sendiri. Kau berat." Sasuke tidak merespon. Sampai kami keluar dari gerbang pun dia masih saja diam..

"Hk.. Maaf. Nii-chan terluka gara-gara aku… Maaf…" gumamnya bertambah keras. Aku bisa mendengar isakan-isakan lemah di sela ucapannya.

Jangan-jangan Sasuke…

"Maafkan aku Nii-chan!"

Tiba-tiba saja ia memelukku etar. Ditenggelamkannya wajah Sasuke ke perpotongan leher dan bahu kananku.

"Kumohon… jangan benci aku. Maafkan aku… Aku akan melakukan apapun asal Nii-chan tidak membenciku.. Aku.. Aku..";

Dan Sasuke terus saja mengatakan bahwa ia menyesal dan lain sebagainya. Tidak ingin aku membencinya dan lain sebagainya. Sasuke terus saja terisak dan aku bisa merasakan sesuatu yang hangat membasahi pundakku.

Sasuke.. menangis karena aku terluka?

Sasuke menangis untukku?

Dia… benar-benar menyukaiku ya..?

Kenapa tubuhku membeku?

Kenapa rasanya ada sesuatu yang meleleh di mataku..

Apa..

Apa yang terjadi padaku?

"Sasuke.."

"Nii-chan.. maafkan aku. tolong.. jangan membenciku."

.

.

Tbc

.

.

Laa laa laaa~~

*dilempar sandal sama readers*

Kyuu harap readers-sama tidak kecewa dengan chap ini *bows*

Ohh ya.. Kyuu ingat ada pertanyaan ini:

Siapakah orangtua Sasuke and Naruto? –untuk yang ini Kyuu bserahkan ke readers-sama. Maksudnya, Kyuu benar-benar fokus ke rasa sakit hatinya Naruto sama bokapnya, dan rasa irinya ke si adek manis Sasuke. Jadi siapapun yang jadi ortunya, menurut Kyuu ga akan ngaruh *dilempar gamakichi*

Untuk sifat Naruto, mungkin ada yang merasa aneh karena kadang berubah-ubah. Jujur, Kyuu pengen Naruto sifatnya berubah-ubah, sampai-sampai Narutonya sendiri juga merasa bingung dengan sikapnya (termasuk readers-sama.. juga Kyuu *duagh*)

Tapi serius! Kyuu lagi seneng baca-baca buku psikologi tentang kondisi kejiwaan seseorang. Disini kondisi Naruto campur-campur, dan bisa dibilang dia udah gabisa ngendaliin alter egonya.

Well… semoga readers-sama suka ya :3

Thanks banget udah mau baca.

Untuk Sorry I'm GAY masih dalam proses penulisan ya… Kyuu ga ngerjain bebarengan, takutnya tar karakter sasuke disana nyelip disini :D

Terima kasih banyak…

Maaf karena keabalan Kyuu, jadi gabisa bales review satu-satu. Kyuu udah baca semua dan Kyuu senang :*

Yang nunggu lemon, tunggu ya… jangan kaget aja kalau tiba-tiba nongol *ehh*

.

.

Akhir Kata

Review please :3