Ribuan kelopak sakura yang merekah serentak menyambut tahun ajaran baru seperti biasa. Perpisahanku dengannya datang begitu cepat. Walau hampir tidak mungkin, bolehkah aku berharap keberuntungan akan memihak padaku?
.
.
.
Dear Diary
By 狐氏例(Kitsuneshi Rei)
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki-sensei
Warning : Gaje, missed typo(s), OOC, dll.
.
.
.
Enjoy!
14 April
Aku masih memikirkan kata-kata Akashi-kun saat terakhir kami bertemu waktu itu tanpa menyadari bahwa tahun ajaran baru sudah membukakan gerbang permulaannya lebar-lebar. Aku tetap menjalani hari-hariku sebagai siswa baru seperti biasa tanpa ada sesuatu yang spesial di depan mata. Entah kenapa kali ini aku tidak terlalu bersemangat menyambutnya. Hanya saja...
... sepertinya aku mulai meragukan penglihatanku begitu melihat sebuah nama yang tercetak di daftar siswa baru SMA tujuanku.
Kuroko Tetsuya memandangi pantulan dirinya di cermin yang dibalut gakuran berwarna raven. Surai azure yang menyaingi langit musim semi itu masih terlihat acak-acakan. Pemuda bermanik senada dengan surainya itu mengerling pada pohon sakura yang rimbun di pekarangan depan tetangga seberang rumahnya. Seharusnya melihat rimbunan sakura bisa membuatnya lebih baik, tapi tidak untuk kali ini. Ia menghembuskan napas pelan.
Tatapannya beralih ke jam yang menggantung di dinding. Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Sebentar lagi Ogiwara akan menjemputnya. Teman masa kecil Kuroko itu memang selalu berangkat bersamanya mengingat mereka bertetangga dan selalu satu sekolah. Tipe calon istri—suami, mengingat Ogiwara itu laki-laki—yang ideal. Sayangnya Kuroko hanya menganggap Ogiwara sebagai kakaknya, tidak lebih. Ia hanya menyukai satu orang yang sekarang sudah tidak bersamanya lagi. Sosok pemuda bersurai crimson dan pemilik manik heterokrom yang indah...
Kuroko menggelengkan kepalanya pelan. Ia mulai melantur, dan itu membuang empat menit waktunya yang berharga. Bukan karena istilah 'waktu adalah uang', hanya saja Kuroko tidak mau terlambat di upacara penerimaan siswa baru yang dilaksanakan pukul delapan nanti. Tangan rampingnya meraih sisir yang tergeletak di atas meja dan merapikan bedhair-nya yang berantakan. Tak sampai tiga menit, surai azure-nya itu kembali rapi. Tepat setelah itu terdengar seruan ibunya yang memberitahukan bahwa pemuda bernama Ogiwara Shigehiro itu sudah menunggunya di bawah. Pemilik surai azure itu mengambil tasnya yang tergeletak di kursi. Setelah memastikan kerapian diri, Kuroko pun membawa kaki-kakinya meninggalkan kamar.
"Ohayou, Kuroko!" sapa Ogiwara dengan semangat siswa tahun ajaran baru.
Kuroko hanya tersenyum simpul. "Ohayou gozaimasu, Ogiwara-kun," balasnya sambil menunduk. "Kita berangkat sekarang?"
Ogiwara mengangguk. "Kise dan Aomine pasti sudah menunggu kita."
"Baiklah kalau begitu." Kuroko melempar senyum pada wanita yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum itu. "Ittekimasu, Okaasama."
Ibu Kuroko tersenyum lebar dan melambaikan sebelah tangannya. "Itterashai, Tecchan, Ogiwara-kun! Hati-hati di jalan!"
.
.
Kedua siswa baru itu terus mengobrol di sepanjang jalan. Atau, sepertinya hanya Ogiwara yang mengoceh panjang-lebar. Kuroko hanya tersenyum menanggapi dan menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Ogiwara padanya secukupnya saja. Ogiwara sudah maklum. Teman masa kecilnya ini memang tidak banyak bicara, namun ia tahu Kuroko mendengarkan apa yang ia katakan sepenuhnya. Hanya saja Ogiwara tidak sadar telah mengoceh terlalu lama sampai mereka sudah sampai di persimpangan tempat Kise dan Aomine menunggu.
"Kurokocchi!" pekik Kise yang langsung menubruk Kuroko tanpa ampun. Ah, tampaknya pemuda—bocah—ini terlalu berlebihan seperti biasa. Atau mungkin lebih parah dari sebelumnya?
"Kise-kun, sesak," erang Kuroko dalam pelukan Kise. Jujur saja, jika pemuda pirang itu tidak melepaskannya saat itu juga, bisa dipastikan Kuroko akan mati di tempat. Oke, itu berlebihan.
"Oi, Kise! Kuroko bisa mati jika kau memeluknya seperti itu!" bentak Aomine, menyuarakan pikiran Kuroko saat itu. Terima kasih, Aomine Daiki. Setelah ini mungkin Kuroko akan mentraktirmu makan di Majiba—itupun kalau si pemuda azure tidak lupa.
Kise mengerucutkan bibirnya. "Mou, bilang saja kalau Aominecchi juga mau memeluk Kurokocchi!" sahut pemuda pirang itu tak mau kalah.
"Cih!" Aomine memalingkan mukanya. "Yo, Tetsu! Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya pada pemuda ramping di depannya itu. Walau Kise sudah melepaskan pelukannya, sebelah tangan pemuda itu masih melingkar di leher Kuroko. Aomine hanya mendesah pasrah melihat apa yang ada di depan matanya.
"Cukup baik?" jawab—tanya—Kuroko yang dibalas sweatdrop oleh Aomine.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang jika kita tidak mau ketinggalan upacara penerimaan siswa baru," ujar Ogiwara menengahi.
Aomine memutar sepasang manik navy-nya. "Tch, membosankan." Ia mengikuti Ogiwara yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
"Ayo, Kurokocchi!" Pemuda pirang itu melambaikan tangannya sambil memasang senyum seribu watt andalan milik seorang Kise Ryota.
"Berisik, Kise!"
"Hidoi-ssu, Aominecchi!"
"Sudahlah, kalian berdua. Lebih baik kalian menggerakkan kaki-kaki itu lebih cepat agar kita tidak terlambat."
Kuroko hanya tersenyum simpul menatap ketiga temannya dari belakang. Ia menengadah. Teman-teman yang sama, percakapan yang sama, dan langit yang sama kembali menyambut Kuroko di tahun ajaran baru kali ini. Hanya satu yang berbeda. Sang pemilik surai crimson itu pasti sudah berada di bawah langit Kyoto hari ini. Lagi-lagi Kuroko mendesah. Sepertinya mood si pemuda azure itu terpengaruhi oleh ketidakhadiran seorang Akashi Seijuurou. Kuroko tahu ini tidak baik, hanya saja... Ah, itu tidak mungkin. Tapi, Kuroko boleh berharap agar ia bisa bertemu kembali dengan Akashi, bukan?
"Kuroko, cepatlah!"
Seruan Ogiwara membawa Kuroko kembali dari lamunannya. Ia menggeleng pelan, mencoba melupakan hal-hal yang berhubungan dengan pemuda bernama Akashi Seijuurou untuk sementara. Astaga, sejak kapan ia menjadi seperti seorang gadis yang sedang dilema begini?
Akhirnya Kuroko menggerakkan kaki-kaki rampingnya untuk menyusul ketiga pemuda yang sudah berada jauh di depan Kuroko, mengabaikan semua yang sedang ia pikirkan di kepalanya saat itu.
.
.
Sudah banyak siswa baru yang berada di sekolah saat Kuroko dan kawan-kawan tiba di sana. SMA yang kelak akan menjadi tempat belajar Kuroko, Kise, Aomine, dan Ogiwara ini terbagi dalam tiga macam. Kelas asrama yang terdiri dari kelas X, XI, XII kelompok satu sampai tiga dikhususkan untuk siswa-siswi yang tinggal di asrama. Biasanya kegiatan belajar-mengajar dimulai pukul setengah sembilan dan berakhir pada pukul lima. Kelas unggulan yang terdiri dari kelas X, XI, XII kelompok empat dan lima hanya bisa ditempati oleh siswa-siswi yang telah lolos dalam suatu seleksi lisan maupun tertulis yang diadakan setelah golden week. Kegiatan belajar-mengajar mereka berupa pemadatan materi, dimulai pada pukul setengah sembilan dan berakhir pada pukul empat. Sedangkan yang terakhir adalah kelas reguler yang terdiri dari kelas X, XI, XII kelompok enam dan tujuh yang kegiatan belajar-mengajarnya tidak terlalu padat. Dimulai pada pukul setengah sembilan dan berakhir pada pukul tiga, namun biasanya diadakan pelajaran tambahan dua kali seminggu.
Sebelum golden week, para calon penghuni kelas asrama, unggulan, maupun reguler ditempatkan dalam satu kelas sementara sebelum mereka memulai kegiatan belajar-mengajar di kelas mereka yang sebenarnya. Pembagian kelas sementara tersebut sudah tertera di lembaran yang tertempel di papan pengumuman. Terlihat beberapa murid baru yang berkerumun di sana, penasaran dimanakah kelas yang akan mereka tempati sampai golden week tiba. Sama seperti siswa-siswi lainnya, rombongan yang dipimpin oleh Ogiwara Shigehiro itu juga berjalan menuju papan pengumuman yang terletak di samping aula utama.
"Sepertinya kita harus menunggu kerumunan ini bubar," keluh Ogiwara. "Terlalu banyak orang yang berkerumun di sini."
Aomine menyeringai bangga. Pemuda itu menyingsingkan lengan seragamnya seperti bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. "Kalau urusan ini, kalian serahkan saja pada Aomine Daiki!" Ia pun menerobos kerumunan itu tanpa menghiraukan Ogiwara yang memintanya untuk menunggu. Aomine tidak suka menunggu, dan inilah saatnya ia beraksi!
Ketiga pasang manik berbeda warna itu—dua pasang, Kuroko hanya menatap Aomine dengan tatapan datarnya seperti biasa—hanya bisa melongo melihat aksi Aomine yang menerobos kerumunan itu tanpa ampun. Posturnya yang tergolong besar itu berhasil menempatkan diri tepat di depan papan pengumuman. Ia pun segera mencari namanya dan ketiga temannya di kertas yang berjumlah tujuh lembar itu.
Cukup lama untuk menunggu Aomine keluar dari kerumunan. Ketiga sahabat itu memilih untuk mencari tempat duduk mengingat mereka sudah lama berdiri di sana—ditambah dengan setengah berlari saat berangkat tadi. Kuroko duduk di samping Ogiwara, sedangkan Kise langsung menempatkan dirinya di sebelah Kuroko. Sepertinya pemuda pirang itu sedikit terobsesi dengan Kuroko. Mungkinkah Kise adalah salah satu penggemar rahasia Kuroko?
"Nee, menurut Kurokocchi, apakah kita berempat akan sekelas lagi?" tanya Kise sambil memainkan pipi Kuroko dengan telunjuknya.
Kuroko menghela napas pelan. "Aku tidak tahu, Kise-kun," jawab pemuda itu, datar seperti biasa. "Dan tolong jauhkan telunjukmu dari pipiku. Kuku-kukumu itu membuat pipiku sakit," tambahnya, sukses menohok seorang Kise Ryota.
"Hidoi-ssu, Kurokocchi!" rengek Kise berlebihan. Kuroko tetap memasang wajah datarnya, sedangkan Ogiwara hanya ber-sweatdrop ria.
"Hah?!"
Suara Aomine yang menggelegar dan membahana bagai gemuruh badai—cukup, ini berlebihan—membuat Kuroko dan kawan-kawan—serta orang-orang yang berada di sana—menatapnya heran. Ogiwara segera berjalan menuju tempat Aomine, disusul dengan Kise dan Kuroko di belakangnya. Mereka bertanya-tanya apa yang membuat Aomine mengeluarkan suara nista seperti kaleng berjatuhan itu.
"Kau kenapa?" tanya Ogiwara begitu berdiri di samping Aomine. Wajah pemuda tan itu tampak pucat, walau tidak terlalu kentara—tolong jangan tanya apa alasannya.
Aomine menatap teman-temannya horor. "Sepertinya kita akan memasuki kelas neraka..."
"Oi, apa maksudmu?" Ogiwara mengguncang bahu Aomine yang mulai lemas.
"Lihat saja sendiri..." Aomine menunjuk salah satu kertas di papan pengumuman. "Sepertinya aku perlu menenangkan diri dulu. Sampai jumpa, teman-teman..."
"O-oi, Aomine..."
"Eh?! Maji?!"
Kuroko dan Ogiwara kompak menoleh ke arah Kise yang tampak terguncang, sama seperti Aomine. Ogiwara ikut menelusuri nama demi nama yang tercetak di kertas itu. Ia terkesiap pelan. "Eh? Kenapa bisa? Bukannya..."
"Ada apa, Ogiwara-kun?" tanya Kuroko sambil berjalan mendekati kedua temannya itu. Tolong jangan tanyakan kabar Kise karena pemuda pirang itu sedang membatu di tempatnya sekarang. Mungkin ia bisa menjadi kandidat patung yang digunakan untuk menjaga gerbang sekolah.
Ogiwara menarik tangan Kuroko dan menunjuk salah satu nama yang tertera di sana. "Sepertinya keberuntungan berpihak padamu, Tetsuya-chan." Pemuda itu tersenyum lebar.
Manik Kuroko menyipit. Sepertinya otaknya tidak bisa diajak bekerja sama saat ini. Pemuda azure itu terkesiap pelan begitu berhasil mencerna susunan kanji yang tercetak di sana. "Akashi... Seijuurou..." gumamnya. Tunggu, ia tidak salah baca, 'kan? Seharusnya Akashi berada di Kyoto sekarang, tapi kenapa...
Ah, inikah maksud perkataan Akashi saat itu?
Kuroko mengangkat wajahnya, mempertemukan manik azure-nya dengan manik milik Ogiwara. "Shigehiro-nii..."
Tangan Ogiwara terangkat ke puncak kepala Kuroko, mengacak-acak helaian azure itu lembut sambil tersenyum simpul. Kuroko menyukai Akashi sejak pertemuan pertama mereka. Ogiwara memang tahu perasaan pemuda yang sudah ia anggap adik itu pada mantan kapten tim basketnya. Bahkan, mungkin jauh sebelum pemuda bersurai azure itu bercerita padanya tentang perasaannya pada Akashi. Kuroko memang lemah dalam menyimpan memori masa kecilnya, berbeda dengan Ogiwara. Ogiwara masih ingat semuanya. Tentang dirinya, tentang Kuroko, maupun tentang pemuda bernama Akashi Seijuurou itu. Kuroko memang sudah tidak ingat, namun Ogiwara yakin 'adiknya' itu pasti akan mengingatnya suatu saat nanti. Karena itulah pemuda itu selalu menyemangati Kuroko agar tidak menyerah dalam mempertahankan perasaannya pada Akashi. Ogiwara sangat menyayangi Kuroko, karenanya ia tidak mau pemuda bermanik azure itu sedih.
"Huwaaaa! Kenapa harus Akashicchiiii?!" ratap Kise pada dirinya sendiri. Oke, Kise terlalu berlebihan sampai-sampai ia tidak menyadari ada aura negatif yang berada di belakangnya.
"Ada apa denganku, Ryota?"
Kise terlonjak. Suara rendah nan dalam dan aura menakutkan yang begitu dikenalinya ini... Kise memutar kepalanya perlahan sambil memanjatkan doa dalam hati. Maniknya tak berani menunjukkan diri. Pikirannya kosong seketika, hanya dipenuhi oleh harapan agar ia selamat sampai pulang nanti. Sungguh ia tidak ingin mati sekarang, setidaknya sampai ia menemukan pendamping hidupnya dan meraih cita-citanya sebagai seorang pilot...
"A-akashicchi! Ba-bagaimana k-kabarmu-ssu?" tanya Kise takut-takut. Ia pernah merasakan terjangan gunting Akashi dan itu sama sekali bukan hal baik.
Akashi masih memasang wajah datarnya, namun aura yang ditimbulkannya benar-benar bisa bersaing dengan psikopat tingkat akut. "Sepertinya obrolan kalian begitu menarik. Keberatan berbagi denganku?"
"A-ano, sepertinya Aomine memanggilku dan Kise." Ogiwara kembali menengahi. Saat itu Kise sangat ingin bersujud syukur—jika Akashi tidak berada di sana tentunya—karena Ogiwara Shigehiro sudah menyelamatkan hidupnya yang sudah berada di ambang kematian—Kau berlebihan, Kise. "Kalau begitu kami pergi dulu. Jaa nee, Akashi! Sampai jumpa nanti, Kuroko!" Pemuda penengah itu kemudian menyeret Kise pergi dari sana dan memberikan tatapan semoga-kau-berhasil pada Kuroko.
Kuroko hanya menatap datar Ogiwara yang mulai menghilang di kerumunan. Pandangannya kemudian beralih ke arah Akashi yang memakai seragam yang sama seperti milik Kuroko. Sepertinya Akashi benar-benar bersekolah di sini, entah itu akan berlanjut sampai tiga tahun ke depan atau tidak.
"Kita bertemu lagi, Tetsuya," ucap pemuda bersurai crimson itu, memecah keheningan di antara mereka berdua.
Si surai azure menatap lurus manik dwiwarna Akashi. "Jadi ini maksud perkataan Akashi-kun waktu itu?" tanyanya pada yang bersangkutan.
Akashi hanya terkekeh pelan. "Kau baru sadar, eh? Sekalut itukah dirimu ketika tahu kalau aku mendapat beasiswa ke Kyoto?" Alih-alih menjawab, pemuda crimson itu malah bertanya balik.
"Sayang sekali aku tidak seperti itu, Akashi-kun," jawab sang pemilik manik azure, berlawanan dengan apa yang telah dialaminya akhir-akhir ini. Ia tidak mau blak-blakan mengatakan perasaannya pada Akashi, setidaknya untuk saat ini. "Lalu, kenapa Akashi-kun tidak menerimanya? Kudengar mereka mempunyai klub basket yang tangguh."
"Sepertinya kau sangat tertarik dengan kehidupanku ini, Tetsuya." Akashi menyeringai lebar.
Kuroko mengangkat bahunya. "Tidak ada salahnya untuk tahu, bukan?" ucapnya membela diri. "Lagipula tidak masalah bagiku jika Akashi-kun tidak mau memberitahukannya."
"Hei, aku hanya bercanda," katanya, menahan Kuroko yang tadinya ingin melangkah pergi. "Yah, mungkin aku ingin mencoba hidup mandiri di sini—walau aku sudah terbiasa mengurus semua keperluanku sendiri. Kurikulum di sini dan di Kyoto juga tidak berbeda, bukan?" tanyanya, kemudian dibalas anggukan oleh Kuroko.
"Lagipula," Akashi memperlihatkan senyum hangatnya. Senyuman, bukan seringaian menakutkan seperti biasa, "masih ada yang harus kulakukan di sini," lanjutnya, dengan kurva yang kini membentuk senyum misterius.
Kali ini Kuroko membalas perkataan Akashi dengan tatapan heran. Ini mencurigakan, dan rasa penasaran Kuroko kembali terusik. Baru saja ia akan membuka mulut untuk bertanya ketika niatnya itu terputus oleh dentang bel yang menandakan dimulainya kegiatan sekolah pagi itu.
"Karena Shigehiro dan yang lainnya tidak kemari lagi, bagaimana kalau kau pergi ke aula bersamaku?" tawar Akashi, membuat Kuroko kembali mengumpulkan kesadarannya. Oh, ini terdengar seperti ajakan kencan. Hanya saja Kuroko tidak sadar bahwa dirinya kembali melantur. Dan sayangnya lanturan Kuroko itu harus pergi jauh-jauh karena tepukan pelan Akashi di bahunya. "Kau baik-baik saja, Tetsuya?"
Lagi-lagi Kuroko terseret kembali ke dunia nyata. Pemuda bersurai azure itu mengerjap pelan. "Hai, aku baik-baik saja," jawabnya.
Akashi kembali tersenyum dan mengacak-acak surai Kuroko lembut. "Kalau begitu sebaiknya kita bergegas. Sudah banyak siswa yang berada di sana dan aku tidak mau kita dimarahi karena terlambat."
Kuroko hanya mengikuti langkah Akashi di sampingnya. Diam-diam pemuda azure itu tersenyum. Sepertinya ia telah membuang waktu, tenaga, dan pikirannya untuk ber-galau ria akhir-akhir ini. Pada kenyataannya Akashi Seijuurou kini ada di sini. Tidak ada yang perlu Kuroko khawatirkan. Hanya saja...
Masih ada yang harus kulakukan di sini.
... sepertinya seorang Akashi Seijuurou kembali berhasil mengusik rasa penasarannya.
.
.
To be continued
.
.
A/N :
Huwaaaa! Apaan ini?! Sepertinya tambah gaje bin abal fic saya yang ini *pundung di pojokan* Apakah karena saya memaksakan diri untuk menulis? Atau karena efek pusing mengurusi persiapan perkemahan? Yang jelas hanya Tuhan YME yang tahu, karena saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada saya saat ini *dibacok*
Oke, terima kasih buat yang sudah me-review dan mem-fav karya gaje saya ini. Fic ini memang saya buat multichap, rencananya sampai delapan atau sepuluh chapter. Mengingat kondisi pikiran saya yang masih labil, mungkin bisa kurang dari itu atau bahkan lebih. Ditunggu saja, ya~
Yak, cukup sekian cuap-cuap saya di fic gaje nan abal saya ini. Saya mohon maaf jika ada typo(s), OOC, atau yang lainnya di fic saya tersebut. Akhir kata, mind to review?
